Normal Cut

exo-m xoxo

by Liana D. S.

casts EXO-M OT6 (Lu Han, Chen, Lay, Kris, Tao, Xiumin) // genre Friendship, Comedy, College Life, AnakKos!AU // length Vignette (1,4K+ words) // rating Teen

.

[Warning] Bahasa tidak baku, istilah-istilah statistik.

.

“3-6-5, aku selalu di sampingmu.” (EXO – 3.6.5)

***

Minseok baru saja kembali dari mengambil makanan ringan ketika mendapati Lu Han, rekan sekamarnya, sudah tepar di depan meja belajar. Layar komputer menampakkan sel-sel berisi angka dan koma, data kasar penelitian tugas akhir Lu Han. Di atas sel-sel itu, terdapat kotak output hasil uji ANOVA yang nilai p-nya membuat Minseok terbelalak.

“Nilai error-nya besar betul.”

“Itulah. Aku sudah mentransformasi datanya berkali-kali dan hasilnya tetap saja jelek,” Lu Han memijat-mijat pangkal hidungnya lelah, “Bagaimana nanti aku menjelaskan itu di sidang tugas akhir?”

“Bilang saja itu karena penelitianmu observasional, jadi banyak faktor yang mengintervensi,” Suara Minseok sedikit tak jelas karena teredam snack bar kedelai, jemarinya menggeser-geser touchpad untuk mengeksplorasi halaman data Lu Han, “Wah, variasi nilainya saja seperti ini, bagaimana mau signifikan?”

“Jangan bikin aku tambah down, Min. Mana colaku?”

“Minseok-ah, boleh pinjam flashdisk, tidak?” Tahu-tahu, kepala Kris, pemuda jangkung penghuni kamar sebelah, menyembul dari balik pintu, “Bab 7-ku belum dicetak, nihNanggung.

Dengan dagunya, Minseok menunjuk tas di atas ranjang. Hapal di mana kawan tembamnya meletakkan benda kecil penyimpan dokumen berharga itu, Kris melangkahkan kaki panjangnya ke dalam kamar dan langsung menelusuri saku depan ransel Minseok.

Sementara itu, Lu Han ternganga.

“SERIUS KAU SUDAH BAB 7, KRIS?! SIALAN, AKU KEDULUAN!!!”

Bitch-face Kris tidak berubah sedikit juga waktu berpaling ke arah sahabat seperjuangannya. Variabel bebas penelitian mereka berdua memang sama, tetapi variabel tergantungnya yang berbeda, karenanya hingga seluruh data terkumpul, mereka bekerja bareng. Simbiosis mutualisme, mahasiswa biologi menyebut.

Atau tidak?

“Salahmu. Kuajak konsultasi ke Profesor Kim, kau tidak gerak-gerak, malah pergi pacaran sama cewek di kos sebelah. Jangan kira aku tidak tahu kau jalan-jalan ke mana saja dengan Chorong selagi aku bingung mengurus statistik.”

Setengah mati Minseok menahan tawa, berusaha mempraktikkan ilmu yang didapat waktu menggarap penelitiannya sendiri (yang laporannya sudah tuntas sebulan lalu) untuk mengutak-atik data Lu Han, tetapi gagal. Ia terpingkal-pingkal saat Lu Han balik menuduh Kris.

“Kau memata-mataiku?!”

No. What for?” Logat Kanada-Cina Kris terdengar amat mengejek, “Tapi ada yang memberitahuku tanpa kuminta. Orang dalam.”

Minseok makin terpingkal-pingkal dan Lu Han jadi tambah curiga, tetapi kemudian…

“Kris-hyung, Tao tadi… huwaaa!!!”

Bocah pendek yang barusan masuk memang malang. Meskipun biasanya jahil, kali ini dia jadi pihak yang dihabisi. Dengan suara cemprengnya, Chen memohon-mohon minta dilepaskan dari pitingan Lu Han.

“Kau! Pacarmu adiknya Chorong, ‘kan? Luna pasti cerita-cerita soal kencanku padamu, lalu kau meneruskannya pada Kris, ‘kan? Ayo mengaku!”

“Uhuk, uhuk, Lu Han-hyung, aku ke sini cuma mau mencari tahu di mana Tao! Tidak ada maksud… hoek… lain… Staplesku tadi dia pinjam soalnya… Le-lepaskan aku!”

“Mengaku, tidak?!”

“Lu, kolom ini isinya nol. Ada juga isinya kurang angka satu. Coba masukkan lagi yang benar, terus uji lagi normalitas dan homogenitasnya dari awal. Kalau masih tidak normal juga, pakai Kruskall-Wallis.”

Baru setelah Minseok menginterupsi, Lu Han melepaskan adik tingkatnya yang ceking. Ia melompat girang ke sisi Minseok, wajahnya mencerah.

“Mana, mana yang salah?”

Di belakang, Chen menirukan ekspresi ceria Lu Han dengan mulut menceng-menceng, kesal karena datang-datang langsung dicekik. Dasar bayi tua, tidak berperikemanusiaan pula. Satu-satunya yang mampu menimbulkan senyum Chen adalah ibu jari Minseok yang teracung di balik punggung Lu Han. Isyarat itu kurang lebih berarti: ‘pengalihan yang bagus, Chen-ah; aku jadi tidak ketahuan. Biarkan saja si playboy ini tertangkap basah.’

Bayi tua satu itu juga sama saja, kikik Chen.

“Memangnya Tao tidak di kamarnya?” Kris bertanya. Chen menggeleng. “Kamarnya dan Lay-hyung terkunci. Mereka berdua sepertinya pergi tanpa pamit. Kukira Hyung tahu; kau ‘kan selalu dipamiti sama kami semua di sini.”

Itu aneh. Kris masih melihat Lay tadi sebelum mulai mengerjakan bab 7 dan daftar pustaka.

“Aku pulang!”

Lho?

“Tao-ya!” Chen setengah berlari ke ruang depan, “Kau dari mana saja?! Kembalikan staplesku… tteokbokiiiii!!!”

Seruan hi-pitch Chen mencapai rungu tiga pemuda semester tinggi di kamar belakang. Perut yang bagai didera krisis global pada tanggal-tanggal tua memang paling cepat merespon kehadiran makanan. Walaupun lapar dan merindu hangat kue beras pedas, Minseok dan Kris masih bisa bersikap ‘anggun’, berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Lu Han yang tidak bisa begitu. File statistiknya seketika terlupakan setelah mencium aroma kuah merah.

“Aku duluan, aku duluan!”

Perebutan jatah tteokboki antara Chen dan Tao memasuki tahap baru di mana Lu Han ikut bergumul. Minseok menggeleng-geleng heran; mereka anak SMA atau apa?, sedangkan Kris mengambil kresek hitam yang memicu perang dunia ketiga itu dan memisahkan tiga penjarah tteokboki dengan kaki panjang legendarisnya.

“Terima kasih atas tteokbokinya, Tao-ya, tetapi kau sendiri tidak akan dapat jatah kalau ikut berisik.”

“Tapi Chen-hyung yang mulai! Aslinya aku memang beli buat kita berenam, eh, malah si kerempeng itu mau menghabiskannya sendiri!”

“Tidak, aku mau mengambilkan buat Lay-hyung juga! Han-hyung tuh…”

“Apa, aku barusan datang!”

Pertempuran bagian kedua hampir dilanjutkan lagi ketika Kris menjulurkan kaki panjangnya di antara mereka, menghalangi ketiganya berdebat lagi sekaligus mengalihkan perhatian. “Tao-ya, Chen-ah, kalian masih punya tugas makalah untuk diselesaikan, sedangkan kau, Rusa Gigi Maju, uji normalitasmu masih menunggu di atas. Ambil mangkuk sekarang dan kita santap ini bersama atau tidak sama sekali.”

Setengah menggerutu, Tao, Chen, dan Lu Han bangkit untuk mengambil mangkuk.

“Omong-omong, nih, staplesmu,” Tao melesakkan barang yang dipinjamnya ke saku celana Chen, “Tadi aku buru-buru ke tempat fotokopi untuk membuat salinan makalahku, jadinya terbawa, deh. Punya Hyung juga sudah kufotokopi, kok, sekalian sama punya Lay-hyung.”

“Terima kasih. Ada yang baru dapat kiriman?” Mendadak Chen lunak, nada bercandanya memancing senyum Tao, “Oh ya, semalaman ini Lay-hyung tidak kedengaran suaranya sama sekali sehabis mengerjakan makalah.”

“Dia tidur. Kecapekan mengurus laporan aktivitas himpunan mahasiswa, kelihatannya.”

“Anak itu capeknya cuma sebentar… Kalau mencium wangi tteokboki juga pasti bangun.”

Denting mangkuk yang bersentuhan dengan gelas dan sendok di rak menutupi nada cemas Lu Han. Secepatnya ia menumpuk enam mangkuk dekat siku, Chen mengambil alih setengahnya, dan Tao menghitung jumlah sendok di tangannya. Pas enam, termasuk punya Lay.

Hyung tidak usah khawatir. Aku akan bangunkan Lay-hyung sebentar lagi.”

“Jangan. Biar aku, Chen-hyung. Kau bawa saja mangkuknya ke depan biar Bakpao-hyung dan Bos Besar tidak ngomel-ngomel.” ujar Tao setelah meletakkan sendok-sendok ke dalam mangkuk, dan ketiganya tertawa. Siapapun di kos cowok kalau urusan makan pasti sensitif.

Anehnya, tumben sekali Lay tidak sensitif.

“Sepi benar kamarnya.” Chen mengerjap heran, berhenti sejenak di depan kamar Lay, tetapi Lu Han berkacak pinggang dan menarik Chen pergi. “Buruan, aku masih ada tugas, nih. Lay biar Tao saja yang membangunkan.”

“Oke, oke. Tao-ya, kau juga cepat sebelum porsimu disikat Bakpao-hyung!”

“Aku mendengarmu, Chen!!!”

Ups.

Chen mendorong-dorong Lu Han maju sambil ngumpet di belakang kakak tingkatnya itu, takut digulat Minseok, sementara Tao mulai mengetuk pintu kamarnya bersama Lay.

Hyung, ada tteokboki. Ayo makan bareng.”

Tidak ada jawaban.

Hyung?”

Tao memutar gagang pintu, tetapi seperti yang Chen katakan sebelumnya, kamar itu terkunci. Seingat Tao, ia tadi tidak mengunci kamar. Mungkinkah Lay yang menguncinya dari dalam?

“Tao-ya…

Suara dalam kamar begitu lirih, tanpa alasan jelas membuat Tao bergidik. Itu suara Lay, memang, tetapi kok… lemas betul… Jangan-jangan…

Sialan, bisa-bisanya hantu melintasi pikiran Tao di saat sedang sendirian di lorong.

“L-Lay-hyung?”

Sekali lagi, Tao mencoba memutar gagang pintu. Barangkali barusan ia kurang kuat membuka–

Klek.

Tao terbelalak.

***

“Tao-ya, gagang pintunya lepas juga di luar?”

***

“Satu, dua, tiga!”

Dikomandani Kris, laskar penjebol pintu: Kris, Tao, dan Minseok, memusatkan seluruh tenaga mereka di lengan bagian atas. Secara serentak, mereka menumbukkan tubuh mereka ke pintu setan yang sudah mencegah mereka makan tteokboki, mengerjakan makalah, menuntaskan analisis statistik, dan yang terpenting: mengurung teman mereka selama sekitar satu jam! Tidak ada yang menyadari Lay terkunci di dalam; Tao sibuk mengerjakan makalah di kamar Chen dan Trio Lestari sedang meributkan statistik non-parametrik di kamar Minseok. Plus, suara Lay itu pelan, teriakannya akan kalah oleh suara berisik di luar, apalagi kalau melawan suara cempreng Chen yang tengah dicekik Lu Han.

Bruak!

Biarlah pintu itu roboh dan mereka berenam kena semprot Bapak Kos. Lay mereka sudah bisa menghirup udara bebas sekarang!

“Hoo… kupikir aku bakal mati,” –Enam porsi tteokboki di atas meja sejenak terbengkalai karena para penikmatnya masih fokus pada pengalaman ‘hidup kembali setelah terkunci’– “Lumayan lama juga kalian responnya. Aku sudah menggedor pintu, lho, padahal.”

“Kau menggedor pintunya sambil melindur, mana kuat?” komentar Kris. Lay menggeleng mantap. “Aku sungguhan sadar, makanya aku tahu gagang pintunya lepas. Aku juga tahu kalian tadi berantem soal kencannya Lu Han-hyung. Kalian gaduh dan susah berhentinya kalau sudah begitu, suaraku jelas tidak akan sampai. Lagian aku pun capek menggedor-gedor pintu, sehingga aku tidur lagi.”

Siapa tadi yang bilang mau mati, sekarang dengan santainya bilang ‘aku tidur lagi’, batin lima penyimak kisah Lay di saat bersamaan.

“Ya sudah, mestinya kau tidur lagi saja dan tidak usah panik.” ujar Minseok geli.

“Semula itu rencanaku, tapi mana mungkin aku membiarkan kalian senang-senang dengan kue beras yang enak ini sendirian?” Lay menyendok sesuap tteok dan meniup-niupnya untuk melenyapkan panas, “Sudahlah, pintu jebol itu diurus belakangan saja. Yuk makan, keburu dingin nanti tidak enak.”

“Setuju!” –Sesuai dugaan, Lu Han, Chen, dan Tao yang paling cepat mengangkat sendok– “Selamat makan!”

***

PET!

***

“Huwaa, tteokbokinya tidak kelihatan!”

“Pasti korsleting. Ish, harus ya di waktu kita akan makan?”

“Kris, kau menginjakku!”

Hyung, aku takut gelaaap!!!”

“…mati lampu, ya?”

“Siaaal, dokumen statistikku belum tersimpan!!!”

TAMAT

Iklan

3 thoughts on “Normal Cut

  1. bayangin Chen tereak tteobokki itu lucuuuuuuuuuuu banget. aku ampe ngikik dih. ini bagus, lucu, feel banget anak kost nya. haha… buat Rusa Gigi Maju, sabar ya ama tugasnya. idup emang pedih kok. haha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s