What Are We? (Chapter 3)

Title       :               What Are We? (3)

Author  :               @afnfsy

Genre   :               Romance, angst (mostly)

Length  :               Multi-chapters

Rating   :               PG-15 (Some scene are not suitable for children under 15 years old.)

Casts     :               EXO’s Baekhyun, OC, many more to come.

Notes    :               Enjoy this story, buds!

===========================================================================

“Makan, Tar.” ujar Baekhyun yang kedengarannya lebih seperti memerintah membuat Attara yang masih celingukan tersentak kaget. Dipandangnya lelaki di depannya itu yang sedang mencuil-cuil daging ayam di tangannya menjadi potongan kecil-kecil. Karena gadis di hadapannya masih belum menyentuh piring plastik berwarna oranye depan matanya, Baekhyun mendorong piring itu menggunakan jari kelingkingnya agar posisinya lebih dekat ke Attara.

Attara pun semakin menatap Baekhyun dengan tatapannya bingungnya yang semenjak dari kampus sampai ke restoran—well, Attara sendiri tidak bisa menyebutnya sebagai restoran—tidak pernah meninggalkan wajahnya sekalipun. Ini adalah tempat makan lesehan yang tidak jauh dari kampusnya, membuat Attara merasa lega dan tidak percaya.

Dikiranya Baekhyunakan mengajaknya makan malam di tempat yang biasa lelaki itu kunjungi bersama teman-temannya. Setelah mengetahui bahwa mereka ternyata makan di tempat ini, Attara merasa beban di dalam pikirannya sedikit terangkat.

“I-iya, kak…” sahut Attara gugup, dibukanya daun pisang hijau yang membungkus bongkahan nasi putih di piringnya, jari-jari kecilnya mulai memijit-mijit sisi nasi yang terbentuk kotak itu agar menjadi lembek kembali. Tetapi tiba-tiba gadis itu menarik tangannya lagi, wajahnya seketika panik.

Baekhyun yang kala itu sedang mengunyah makanannya menatap gadis yang duduk di hadapannya bingung, lalu mendesah sedikit jengkel, “Kenapa lagi?” tanyanya gusar.

Attara mengangkat wajahnya dan di tangan kirinya sudah ada hand-sanitizer.

Baekhyun pun sekonyong-konyong berdecak.

“Cuma gara-gara itu?” Attara mengangguk polos.

“Maaf, kak,” kata Attara sambil nyengir tidak bersalah.

Kalau saja Baekhyun tidak kenal dengan gadis ini, mungkin ia sudah mengumpat saat ini. Tetapi begitu melihat cengiran Attara, Baekhyun melunak. Dan lagi-lagi, diusirnya perasaan itu jauh-jauh, lelaki itu berusaha agar tetap menunjukkan wajah datarnya di depan gadis itu. “Yaudah, makan lagi.” Baekhyun pun kembali memfokuskan perhatiannya ke piring yang isinya sudah setengah habis itu.

Dilihatnya lelaki di seberangnya mulai fokus dengan hidangannya lagi, Attara tidak bisa menahan senyumnya. Kebingungan yang memenuhi pikirannya sedari tadi perlahan-lahan mulai memudar, Attara tidak boleh melewatkan momen ini. Momen dimana Baekhyun—tidak secara harfiah—mengajaknya makan malam bersama (walaupun sedikit mengancam, sih.), momen dimana Baekhyun makan dengan lahap; tetapi tidak berantakan seperti cowok kebanyakan, dan momen dimana keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing seperti saat ini; diam tanpa suara, fokus dengan hidangannya masing-masing.

Attara menyuapkan nasi yang berada di genggaman jari-jarinya yang kecil, perlahan tapi pasti gadis itu juga mulai menikmati makanannya.

Sementara itu Baekhyun memerhatikan gerak-gerik Attara yang mulai menyantap makanannya dengan lahap lewat sudut matanya, senyumnya pun mau tak mau merekah, tetapi ia menyembunyikannya dengan menutupi bagian bawah wajahnya senatural mungkin agar Attara tidak melihatnya. Keduanya pun larut dalam senyuman mereka sendiri.

Malam semakin larut dan pengunjung yang datang semakin ramai, Attara dan Baekhyun yang sudah selesai makan memutuskan untuk tidak langsung pulang. Mereka perlahan-lahan mulai membuka diri masing-masing kepada lawan bicaranya, menertawakan pengunjung lain yang menurut mereka ada-ada saja kelakuannya atau menertawakan pengunjung yang memakai baju dengan motif atau model yang aneh. Pada saat itu Attara baru tahu dengan sifat asli Baekhyun yang periang—walaupun beberapa kali lelaki itu terlihat jutek dengan tampang sassy-nya. Pada malam itu, Baekhyun lah yang paling banyak tertawa.

Attara beberapa kali terhenti saat berbicara karena Baekhyun selalu menatapnya dengan sangat intens, seakan-akan ia tertarik dengan topik tersebut. Beberapa kali juga, mereka saling terdiam dan hanya menatap satu sama lain sampai salah satu dari mereka mengalihkan pandangannya.

Untuk kali ini, Baekhyun lah yang mengalihkan pandangannya.

“Pulang, yuk, Tar?”

——————————————————————-

Mazda hitam milik Baekhyun berhenti persis di depan rumah Attara. Rumah minimalis bercat abu-abu dengan pagar besi hitam yang tingginya mungkin hanya sampai dada Baekhyun. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terang. Lampu yang berbentuk seperti bola diletakkan di kedua ujung pagar, ada juga lampu yang berdiri di tengah-tengah taman kecil di sebelah kiri garasi, dan lampu berjalar dengan sinar-sinar kuning kecil yang digantung di sepanjang teras.

Baekhyuntilts his head to see the front door jikalau ada yang sudah membukakan pintu untuk Attara. Tetapi saat ia mendengar bunyi kerincingan kunci yang dikeluarkan Attara dari dalam tasnya, barulah ia menyadari bahwa tidak ada siapa-siapa di dalam rumah itu.

“Nggak ada orang di rumah?” tanyaBaekhyun dengan nada cuek—seperti seolah-olah memang dia tidak peduli sama sekali. Sementara itu Attara tidak menyadari intonasi Baekhyun, ia juga tidak menengok sama sekali kearahnya saat mengangguk.

Dahi lelaki itu berkerut, “Tar?”

“Mhm?” sahutnya dan kali ini, ia mengangkat wajahnya, tangannya masih mengacak-acak isi tas ransel kecilnya.

Baekhyun mendekatkan wajahnya pada gadis itu hingga jarak mereka kurang dari sepuluh sentimeter, matanya pun mendarat di bibir merah dan mungil milik Attara. Karena bingung dan panik di saat yang bersamaan, Attara secara refleks menggigit bibirnya. “Kak—“

Attara termangu begitu Baekhyun tiba-tiba menjauhkan kepalanya dan duduk bersandar seperti biasa lagi sebelumnya. Otaknya masih memproses kejadian yang sangat cepat tadi. Dirasakannya dorongan kecil di pelipisnya—Baekhyun menjitak gadis itu pelan.

“Kalo orang nanya dijawab, Tar.”

Lagi-lagi.

Wajah gadis itu memanas, pikirannya melayang ke beberapa menit sebelumnya—berusaha mengingat-ingat pertanyaan apa yang dilontarkan oleh Baekhyun sebelumnya; sampai akhirnya ia mengingatnya.

“Iya, nggak ada orang, kak.” Entah mengapa intonasi yang dikeluarkan oleh Attara terdengar tegas dan seolah-olah mengundangBaekhyun. Baekhyun pun langsung melayangkan pandangannya kearah gadis yang duduk di sebelahnya—gadis yang sekarang tengah melihatnya dengan tatapan polosnya. Attara mengalihkan pandangannya ke depan, sebelum melihat lagi kearah rumahnya. Gadis itu mendengus dengan keheningan yang memekakkan telinga.

Well… I- I should really get inside—“ ujar Attara terburu-buru sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas kecilnya, dan membawa sisanya dengan tangannya sendiri. Begitu gadis itu membuka pintu mobil, Baekhyun hanya menatap kepergian Attara dengan tatapan kosong. Saat pintu mobilnya ditutup, lelaki itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak biasanya Baekhyun melakukan hal bodoh seperti ini.

Dengan hal bodoh, maksudnya, Baekhyun biasanya mengantar gadis-gadis yang pergi dengannya sampai rumahnya, lalu ikut turun dengan mereka. Sebagian besar gadis-gadis yang diantarnya meminta Baekhyun untuk masuk kedalam rumahnya—sekadar untuk memberikan minum. Dan beberapa diantara mereka berakhir dengan Baekhyun keluar dari rumah mereka jam 4 pagi.

Baekhyun sedikit berharap kalau Attara akan menoleh ke belakang dan menawarkan lelaki itu untuk masuk ke dalam rumahnya untuk minum atau apalah. Tetapi detik-detik berlalu dan Attara tidak menoleh ke belakang sama sekali. Dan kesabaran Baekhyun sudah habis.

“Attara,” panggil Baekhyun tidak terlalu keras saat gadis itu mulai berjalan kearah pintu depan rumahnya. Attara memutar tubuhnya untuk melihat kearah lelaki yang memanggilnya, dan Baekhyun terdiam. Keduanya hanya terdiam memandangi satu sama lain selama beberapa saat.

Baekhyun membuka mulutnya untuk berbicara tetapi tidak ada suara yang keluar, entah mengapa. Attara hanya menunggu sementara tangannya membeku di gagang pintu.

“Hape lo.” ucap Baekhyun seraya menggoyang-goyangkan ponsel Attara yang berada di genggamannya.

Gadis itu pun menepuk dahinya sendiri, “Ah! Iya!” segera Attara menuruni tangga teras dan berlari kecil kearah pagar rumahnya. Diulurkan tangannya untuk menerima ponselnya sambil menunggu Baekhyun untuk menghampirinya.

Lelaki itu berjalan pelan—sengaja untuk melihat ketidaksabaran Attara. Tetapi Attara tetap berdiri menunggu dengan sabar sambil sesekali cengengesan melihat Baekhyun sengaja melambat-lambatkan langkahnya. “Kaaak,” rengek Attara sambil memanyunkan bibirnya. Baekhyun pun tak bisa menahan tawanya dan akhirnya berjalan dengan lebih cepat.

“Nih.” kata lelaki itu sebelum meletakkan ponsel itu di telapak tangan Attara. Attara pun tertawa kecil dan langsung melambaikan tangannya.

“Dah, kak Baekhyun,” ujarnya malu-malu. Attara sendiri bingung mengapa ia harus selalu merasa malu jika ingin berpisah dengan Baekhyun.

Baekhyun menatap Attara dengan tatapan tidak percaya. Jadi tidak ada tawaran untuk masuk?pikirBaekhyun merasa kecewa. Tidak ada yang tidak pernah mengajak Baekhyun untuk masuk ke dalam rumahnya!

Kali ini Attara yang menatap bingung kearah Baekhyun yang masih berdiri terpaku di depan rumahnya. Apa kak Baekhyun lupa dimana rumahnya?

Attara melipat kedua tangannya sambil masih memandang kearah Baekhyun sementara lelaki itu mengharapkan kepekaan dari gadis itu. Attara hanya menghela napas begitu berbagai kemungkinan terbesit di dalam pikirannya. Dan semuanya tidak ada yang tidak mungkin.

“Kak,”

Kedua mata Baekhyun sontak berbinar begitu Attara memanggilnya, tetapi ia mengedipkan matanya sekali untuk mengubah sorot matanya saat menyadari kecerobohannya. Ia langsung menatap Attara dengan tatapan menunggu jawaban, persis dengan tatapan yang selalu Attara berikan padanya.

Attara menggigit bibir bawahnya, ibu jarinya menunjuk kearah belakangnya—ke dalam rumahnya. “Ehm, mau masuk dulu…?”

Gadis itu terdengar ragu-ragu, tetapi bagi Baekhyun, itu sudah segalanya.

Baekhyun mengangguk pelan, masih berusaha keras untuk menyembunyikan rasa kemenangannya. Begitu melihat respon lelaki itu, Attara langsung membukakan pintu pagarnya kembali, membiarkan Baekhyun masuk.

2-0, Tar. 2-0.With that, Baekhyunsmirks.

====================================================================================

All hail part 3 is here! Finally ; ~ ; sobs.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s