When we met again (Bagian II)

Author                 : Azaway

Genre                   : friendship, romance (sedikit)

Length                 : short story

Rating                  : PG-15

Main cast            : Kai EXO, Rachel Park, Member EXO dll

 

Anyeonghaseyo.. ini ff pertama saya 🙂 maaf jika typo bertebaran.

Terima kasih untuk reader yang memberikan komentar dibagian I. Gomawo. keep reading ^^

 

“hey! kau tidak dengar? helloooo… ” tangannya yang melambai berkali-kali tepat didepan wajahku..

“tunggu..” kuangkat salah satu tanganku menarik nafas perlahan dan memnghembuskannya, aku tidak peduli dengan sorot matannya yang kelihatan sudah tidak sabaran. dia tidak berubah.. aku tersenyum tanpa kusadari.

“hey.. aku ulangi, kau siapa berkeliaran disini. area parkiran ini khusu untuk pegawai dan aku belum pernah meliatmu. kau.. penguntit atau wartawan?” dia terdiam sejenak, mengamatiku. ” tapi dari pakaianmu sepertinya bukan…”

aku tidak bisa menahan senyumku dan itu membuatnya semakin tidak sabaran dan juga takut?. bisa melihatnya, berdiri didepannya bahkan berbicara seperti ini yeah walau ini bukan pembicaraan yang sebenarnya itu sudah cukup untuk membuatku tersenyum. Aku bahagia.

“ehemm.. aku..” seseorang menyentuh pundakku lagi sontak aku berbalik “paman lee?”

“paman???” tanyanya setengah memekik tidak percaya, orang yang dikiranya penguntit adalah keponakan dari seseorang yang berdiri dihadapan kami sekarang.

“ohh jongin-ah kau dari mana saja, rapatnya sudah selesai dan kami sudah mau pulang sekarang” ujar paman sambil mengenggerakkan kepalanya kearah belakang sedikit. dibelakang paman hanya ada beberapa orang dan langsung mengangguk dan aku tersenyum sambil membungkuk sedikit.

“rachel-ah kenapa kau masih disini? ujianmu dibatalkan?”

“Oh Tuhan…” aku tidak sempat berkata apa-apa lagi aku langsung melirik jam tanganku dan memekik tertahan. kubuka pintu mobil paman dengan cepat oh aku hampir lupa..

“hey kau.. sampai ketemu lagi”

aku tidak bisa menahan senyumanku itu sebabnya dia (jongin) hanya memandangku dengan tatapan aneh. diantara perasaan bahagia ini terselip sedikit rasa sedih yang tak bisa kuindahkan, dia tidak mengenaliku dengan kata lain dia sudah melupakanku. mungkinkah?

1 minggu kemudian.

“hmm.. eenghh.. jam berapa sekarang?”

mataku sepertinya menolak untuk terbuka tapi aku harus bangun sekarang untuk menyiapkan sarapan untuk paman dan tentunya untukku juga. aku tidak sempat makan apa-apa tadi malam. kuraba jam disamping tempat tidurku, ah ini dia!

“rachel-ah.. turunlah, kita sarapan sama-sama”

itu suara paman! sontak mataku langsung terbuka lebar, sudah jam 9. aku kesiangan. aku langsung melompat dari tempat tidur dan mencuci muka seadanya.

“paman? seharusnya aku yang masak kenapa tidak membangunkanku saja?” tanyaku sambil menarik salah satu kursi diruang makan yang juga menyatu dengan dapur.

“ini bukan apa-apa. sudah seminggu ini kau treus belajar sepanjang malam jadi hari ini kau berhak bangun kesiangan dan makan masakan paman yang lezat ini. kau akan terkejut dengan rasanya. hmm.. dan juga….”

paman berhenti bicara seakan berpikir tentang suatu hal yang terlihat sangat serius. ini tidak bagus.

“ada yang ingin paman katakan hmm?” tanyaku sambil meletakkan mangkuk besar berisi sup kacang merah ditengah meja makan aromanya membuat perutku bergemuruh hebat. paman melirikku dengan tatapan tidak percaya lalu kemudian salah satu sudut bibirnya tertarik sedikit dan akhirnya kami tergelak bersama sambil duduk dikursi masing-masing.

setelah selesai makan entah kenapa hal ini bisa terjadi aku dan paman mencuci semua peralatan makan tadi bersama. paman bagian sabun sedangkan aku membilas dan merapikannya dilemari. setelah memastikan semua bersih aku berbalik menghadap paman yang tengah memunggungiku sembari mengambil sesuatu dari lemari pendingin.

“jadi.. apa yang paman ingin bicarakan tadi?”

“hmm.. yang mana? tentang apa?” paman tengah berjalan menuju ruang tengah lalu duduk disalah satu sofa aku mengikutinya dari belakang dan juga duduk disalah satu sofa yang lain.

“itu.. yang tadi sebelum kita makan sepertinya sesuatu yang penting”

lagi. paman terlihat berpikir sebelum mngatakan hal itu. aku mulai berpikir jangan-jangan ayahku atau kakakku menelpon paman dan memintaku kembali ke Amerika! NO!

“rara-ya”

sudah lama sekali paman memanggilku dengan nama itu terakhir kali mungkin saat kecelakaan itu. aku menatap paman memintanya melanjutkan.

“begini.. apakah kau sudah melupakan musik? apa.. apakah kau ingin mencobanya lagi?”

beberapa saat tidak ada diantara kami yang berbicara hanya suara hujan rintik-rintik menampar ranting pohon kering dihalaman rumah dan suara petir menggelegar mendramatisir suasana pagi itu. aku jadi bertanya-tanya sejak kapan hujannya mulai turun.

“haha apa yang pamanmu ini katakan. paman harus mandi sekarang yang tadi kau lupakan saja”

apa? paman memintaku melupakan musik lagi? tidak. aku tidak pernah sekalipun berniat melakukannya itu sama saja melupkan ibuku. alasanku selama ini ‘melupakannya’ adalah ayahku. paman hendak bangkit dari kursinya karena aku tidak bereasi sejak tadi. tidak, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.

“tidak!”

aku meremas sofa berusaha menemukan kekuatan disitu. musik adalah impianku, hidupku, mengalir dalam darahku tapi sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ibuku. aku tidak pernah bisa lagi bersentuhan dengan musik semua itu adalah keinginan ayahku. setiap ayah mendengar ataupun melihat sesuatu tentang musik ia teringat ibu dan hal itu membuat penyakit jantungnya semakin parah bahkan suati hari saat kami sudah pindah ke Amerika aku tidak sengaja menemukan sebuah gitar tua digudang tua milik tetangga kami aku membersihkan dan membawanya kerumah. Sore itu aku ingin memainkan lagu yang biasa ibu mainkan saat dikorea aku sudah memastikan terlebih dahulu bahwa ayah belum pulang dari kantornya. aku mulai bernyanyi awalnya aku agak waspada dengan pintu depan jika seseorang datang tapi aku semakin larut dan suaraku semakin lantang senar gitar itu kupteik keras-keras melepas rinduku dengan musik dan juga untuk melepas rinduku kepada ibu tapi tidak dengan ayah saat kudengar beberapa barang berjatuhan dilantai dan seseorang telah memegang salah satu tiang rumah mencoba bernafas dengan susah payah. Ayah!

“aku akan melakukanya. aku akan mencobanya lagi kalau paman bersedia membantuku.” ujarku mantap seraya menatap mata paman menuggu jawaban. paman tersenyum cerah.

“keputsan yang bagus rachel park! selamat datang kembali”

paman merentangkan tangannya lebar-lebar sambil tersenyum penuh haru. aku hampir tergelak melihat tingkah paman tapi aku sangat berterima kasih padanya memberi kesempatan lagi dan aku lebih berterima kasih lagi soal ayahku.

“jadi.. hmm dimana aku harus mulai?” tanyaku

“besok. kau ikut paman kekantor nanti akan paman jelaskan disana semuanya. paman harus berangkat kerja sekarang”

“kenapa besok? hari ini juga aku bisa. ujianku seudah selesai”

“tidak bisa. kau akan punya banyak pekerjaan disana jadi hari ini kau libur saja. paman harus pergi sekarang. nikmati harimu rachel-ah”

paman mengambil jaket dan tasnya lalu berjalan menuju pintu depan. apa? libur? aku tidak butuh libur, aku ingin segera memulainya! tapi sudah terlambat untuk protes paman sudah pergi. kuharap waktu bisa bergerak lebih cepat hari ini.

keesokan harinya..

“rachel-ah kau sudah mengerti?”

“tentu. ini tidak sulit sama sekali, menjadi asisten pribadi paman selama liburan dan pekerjaan tambahan lain dan sebagai gantinya aku bisa menggunakan fasilits apapun yang ada ditempat ini. deal?” aku julurkan tanganku kedepan sambil tersenyum cerah menghadap paman yang juga tersenyum padaku.

“hey seharusnya paman yang mengatakan hal itu. tapi.. deal!” ujar paman sambil berpura-pura marah hingga kami tertawa bersama.

“mohon bantuannya, sajangnim” seruku sambil berdiri dan membungkuk dalam dan akhirnya paman terus tertawa melihat tingkahku. sepertinya liburanku akan sangat menyenangkan. ah.. aku hampir lupa, dengan pekerjan ini mungkin aku akan sering bertemu dengannya mulai sekarang. so excited ^^

TBC

 

Iklan

One thought on “When we met again (Bagian II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s