Jisoo

Jisoo

A fiction by bebhmuach (@bebh_muach)

 

[EXO] Kim Jongdae & [OC] Kwon Jisoo

 

Ficlet || AU, Angst, Friendship || PG

 

I OWN THE PLOT!

Maaf untuk typo, enjoy chingudeul^^

 

Setelah ini Jongdae memiliki pekerjaan rumah; mana yang lebih dulu harus dihubungi rumah sakit jiwa atau kantor polisi?

 

©2016 bebhmuach


 

“Aku ingin bertemu, ada yang ingin kubicarakan. Penting! Kamu bisa datang ke tempatku?”

 

Jongdae berlari tanpa jeda setelah mendapat pesan singkat, hingga tiba di depan sebuah pintu bercat merah muda–warna favorit si gadis pemilik bangunan. Kwon Jisoo, gadis yang sudah dikenalnya sejak bangku sekolah menengah pertama. Bisa dikatakan mereka adalah sahabat, ups, lebih tepatnya Jongdae satu-satunya wadah untuk Jisoo menumpahkan keluh kesahnya.

Pikiran pemuda bersurai cokelat terang itu mulai bermain-main dengan ide-ide liar. Mengingat, insiden dua bulan lalu yang sedikit merubah tabiat sang karib. Terbukti dengan kondisi rumah Jisoo yang saat ini bisa dibilang tak terawat–berbanding terbalik dengan kondisi terakhir kali ia datang. Ilalang yang mulai meninggi memenuhi perkarangan, belum lagi botol bir dan kaleng bekas yang terlihat berserakan di sudut-sudut. Serta lampu depan rumah yang mati–entah sudah berapa lama tak diganti.

 

Ck, dasar pemalas,” Jongdae merutuk tabiat baru–yang bisa dibilang buruk–dari sang karib.

 

Jongdae lekas mengetuk pintu. Tanpa menunggu lama, daun pintu terbuka dan sosok Jisoo muncul di balik pintu.

 

“Hai, Jong. Kupikir, kamu tidak mau datang.”

 

“Kamu tidak apa-apa, Soo?”

 

Tak paham akan pertanyaan Jongdae, tercetak kerutan-kerutan pada dahi putih Jisoo. Namun kala netranya menangkap sinar khawatir di manik kelam sang pemuda, ia mengerti apa kiranya yang mendasari pertanyaan itu.

 

Jisoo sempat membagi seulas senyum sebelum buka suara. “Aku baik-baik saja.”

 

Meski rasa tak percaya terbersit dalam benaknya, pemuda bermata bulat itu diam memilih percaya pada perkataan karibnya.

 

“Ayo, masuk.”

 

Jongdae mengekori Jisoo masuk ke dalam rumah. Masih sama, hanya saja udara di dalam terasa lembap. Dekorasi layaknya rumah Barbie–seperti angan sang gadis sejak dulu–tak ada yang berubah. Nuansa merah muda mendominasi. Biar diperjelas, selain obsesi semata membuat hunian pribadinya menjadi unik, Jisoo juga pengrajin boneka.

Berawal dari ketertarikannya pada Barbie hingga ke seluruh aksesorisnya, Jisoo jadi terpacu ingin membuat boneka beserta rumahnya.

 

“Jadi, sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Jongdae dengan nada datar, setelah sebelumnya menghenyakkan diri di atas sofa. Bicara jujur, sesungguhnya bukan kalimat itu yang ingin Jongdae tanyakan sebagai pembuka konversasi. Namun melihat raut wajah dan gesture Jisoo, ia urungkan.

 

“Apa kamu buru-buru?” Jisoo menatap lamat-lamat ke arah Jongdae, seiring menempatkan dirinya duduk di samping sang pemuda.

 

“Tidak juga, sih. Wajar saja aku langsung bertanya seperti itu pada seseorang yang sok-sokan tidak ada angin tidak ada hujan dua bulan lalu bicara tak ingin diganggu hingga sulit dihubungi, dan tiba-tiba saja mengirim SMS padaku kemarin.”

 

Akhirnya, Jongdae menyuarakan ganjalan hatinya yang beberapa waktu ini berhasil mengusik ketenangannya. Lagipula, Jongdae sebenarnya adalah tipikal orang yang ingin mengetahui tiap perkara secara langsung tanpa perlu basa-basi.

Melihat wajah geram Jongdae, yang dikomentari malah membagi senyum kecilnya.

 

“Kamu kangen, ya?”

 

Dasar menyebalkan. Jongdae mendengus, tapi memutuskan untuk tidak mendebat. Lalu, mengalihkan pandangan pada lemari kaca tempat penyimpanan sebagian koleksi boneka Jisoo. Satu hal yang amat menyebalkan bukan? Ketika Jongdae dibanjiri rasa khawatir, namun dengan santai temannya itu tak menunjukkan reaksi yang–setidaknya–membuatnya tenang.

 

“Maaf, Jong. Saat itu aku benar-benar ingin sendirian.”

 

Sebenarnya, jawaban itu tidak menenangkan sama sekali. Jongdae tahu, Jisoo berkilah alih-alih menutupi sesuatu darinya. Ia kehabisan kata-kata untuk menyela pernyataan Jisoo, mendadak otaknya beku.

 

Jisoo berdeham kecil. “Lebih baik, kamu minum tehnya dulu.” Gadis berkuncir satu itu menyodorkan secangkir teh pada Jongdae.

 

Lantas, keduanya menikmati teh dan diselingi canda dari Jisoo. Kendati, keceriaan yang ada terkesan kamuflase. Tetapi tak ada salahnya, apalagi Jongdae juga merindukan senyum itu–cukup membuat pemuda itu diam-diam merasa hangat karenanya. Jadi yang Jongdae lakukan hanyalah duduk bersebelahan dan mendengarkan cicit sang karib.

 

“Aku mau menunjukkan sesuatu, Jong. Karena kamu adalah sahabatku, jadi kamu orang pertama yang harus tahu ini.”

 

Sejenak, ucapan Jisoo berhasil menginterupsi kegiatan Jongdae. Ia menjungkitkan sebelah alis selagi maniknya bergerak mengamati sang gadis.

 

“Ini maha karya.”

 

“Maha … hm, maksudmu ….” Jeda sejenak, Jongdae menghirup oksigen banyak-banyak. Lantaran, ia sendiri sangsi dengan hipotesis yang mendadak muncul di dalam kepalanya. “Kamu berhasil membuat boneka ukuran manusia? Benar begitu?”

 

Yeah, kamu benar-benar sahabatku.” Jisoo meninju kecil lengan Jongdae, tanda puasnya.

 

Benarkah? Ya Tuhan, gadis ini gila.

 

Tapi tunggu, setidaknya kegiatan seperti itu terlihat positif untuk seorang yang mengalami depresi akut seperti Jisoo. Sudut bibir Jongdae menjungkit sebagai respon.

 

“Ayo, kutunjukkan.”

 

Jongdae pun membiarkan dirinya mengikuti langkah kaki Jisoo menuju tangga yang mengarah ke suatu ruangan di bawah tanah. Satu per satu, tungkainya menuruni anak tangga dengan pikirannya yang berkelana liar. Jujur saja, Jongdae selalu enggan bila sudah diajak ke ruangan itu.

Ruangan berbentuk persegi panjang dan terasa lebih dingin itu lebih terlihat seperti tempat penyekapan daripada sebuah bengkel, baginya. Apalagi, banyak pajangan boneka yang tak layak jual berserakan di beberapa bagian. Dengan tubuh yang tak lengkap, kepalanya yang botak, bahkan terkadang Jongdae pernah membayangkan bagaimana jika mata boneka itu berkedip. Gerun mulai merambati benaknya.

 

Tadaaa.” Jisoo merentangkan kedua tangannya, menyuguhkan maha karya yang diagungkannya itu.

 

Lagi-lagi, Jongdae hanya bisa diam melihat polah unik sang karib. Entahlah, bibirnya masih tak mau terbuka. Meskipun jika bicara jujur, dipikir-pikir sebenarnya Jisoo memiliki keterampilan yang patut dipuji. Jangan lupakan kondisinya yang hidup sendirian tanpa orang tua–yang sudah meninggal beberapa tahun lalu–gadis itu hidup mandiri. Jadi secara keseluruhan, Jisoo bukan gadis yang buruk.

 

Beberapa jenak, mendadak ada rasa aneh yang menggelitik batinnya.

 

“Sepertinya, aku seperti pernah melihat wajah itu.” Lamat-lamat, Jongdae mengamati boneka wanita dengan mini dress merah dan riasan lengkap yang menghiasi wajahnya.

 

Sementara itu, Jisoo mengulum senyum di balik bibir plum-nya.

 

“Yona. Ya, dia mirip dengan Yona.”

 

“Barbie butuh Ken sebagai pasangan, kan? Jadi, kuberikan ia pasangan.” Bersamaan dengan itu, plastik besar yang berada di samping boneka wanita itu ditarik Jisoo.

 

Damn! Jisoo benar-benar gila.

 

Kali ini, Jongdae merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak sepersekian detik. Napasnya tercekat.

 

“Yona akan kesepian jika sendirian, maka itu Jongin menemaninya. Mereka serasi, bukan? Mereka selalu tampak serasi dan aku terlihat pecundang. Jongin memutuskan hubungan begitu saja demi mendapatkan Yona, cih.” Jisoo perlahan melangkah dan lantas menghadap ke arah kedua boneka itu. “Karena aku orang baik, jadi kukabulkan keinginan mereka yang selalu ingin bersama.” Jisoo berbalik menghadap Jongdae yang tengah membeku di posisinya.

 

“Meski aku cukup kesulitan mengeluarkan isi tubuh mereka dan menggantinya dengan gumpalan-gumpalan kapas, ngomong-ngomong. Bagaimana menurutmu dengan maha karyaku ini, Jong?”

 

Setelah ini Jongdae memiliki pekerjaan rumah; mana yang lebih dulu harus dihubungi rumah sakit jiwa atau kantor polisi?

 

 

End.

 

 

Jangan tanya ini apa. Karena ini hasil random semata.

Kutunggu kalian di kolom komentar^^

ppyong~

4 thoughts on “Jisoo

  1. kak dellaaa tanggung jawab kirain ini bakal ngefluff ujungnya ternyata masih saiko aja. udah dibela2in sambil ngerajut juga bcanya, bolak-balik benang-laptop-benang-laptop ini mata :p
    tapi seperti biasa aku suka, ga ketebak blas plotnya, trs entah kenapa aku mbayangin rumah si jisoo ini rada serem ya, barangkali krn aku ga suka boneka. kirain itu pertamanya mau bikin boneka jongdae, eh ternyata ‘boneka’ jongin sama yona… oh gosh.
    apa pula itu yg katanya ngganti isi tubuh jadi kapas, speechless saya.
    oh ya saran aja sih kak, boleh dianggap boleh tidak berhubung saya juga amatir. kakak kadang masang kata2 kyk ‘lantaran’, ‘kendati’, ‘lalu’, itu didahului titik dan diikuti koma ya? kalo menurutku enakan ga pake koma sih, dan digabung dgn kalimat sebelumnya.
    keep writing!😄 makasih udah bikinin fic jongdae anyway

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s