The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 3)

 

poster 3&4

Tittle            : The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 3)

Author       : Dwi Lestari
Genre         : Romance, Marriage Life

Length        : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Yenni Wilson / Hwang Yen Ni (Yenni) | Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Support Cast :

Hwang Re Ni (Reni), Byun Seo Hyun (Seohyun), Song Hen Na (Henna), Do Kyung Soo (Kyungsoo), Park Chan Yeol (Chanyeol), Xi Lu Han (Luhan)

 

Disclaimer           : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note       : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning                : Typo bertebaran      

 

The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 3)

Baekhyun dan Yenni kini menuju pelabuhan. Mereka diantar oleh orang tua Baekhyun. Tepat seperti pembicaraan mereka kemarin, hari ini mereka berangkat ke Jeju. Orang tua Baekhyun mengira mereka akan berbulan madu disana. Karena itu mereka sangat senang mengantar mereka ke pelabuhan.

“Sayang, hati-hati ya. Kau harus menjaga istrimu baik-baik. Satu lagi, jangan lupa kau harus bawakan cucu untuk kami”, kata eomma Baekhyun. “Iya, benar. Kalian harus membawakan cucu untuk kami”, tambah appa Baekhyun. Mendengar itu, Yenni hanya diam. Baekhyun mulai jengkel dengan kedua orang tuanya. Mereka sudah mulai minta sesuatu yang aneh. Sebenarnya itu bukan hal yang aneh, namun apa yang bisa dibuat oleh Baekhyun. Dia tidak berharap lebih dari hubungannya dengan Yenni. Jauh di dasar hatinya dia masih mencintai Reni, meski yeoja itu telah menghianatinya. Dia segera membantah perkataan orang tuanya.

“Kalian ini bicara apa? Kami hanya 3 hari disana, mana mungkin dalam tiga hari kami bisa mendapatkan anak. Kecuali jika kami memungut anak. Dan itupun pasti tidak kalian sutujui. Lagipula kami juga belum ingin memiliki anak. Benarkan sayang”, kata Baekhyun sambil memeluk Yenni. Yenni hanya bisa tersenyum yang dipaksakan. Baekhyun paham, dia lalu berbisik pada Yenni, “Jangan dipikirkan perkataan mereka”. Kapal yang mereka tumpangi akan lepas landas, mereka segera pamit pada orang tua mereka. Dan bersiap menaiki kapal yang akan membawa mereka ke Jeju.

——————-

Mereka kini telah sampai di Jeju. Mereka turun dari kapal dan membawa barang bawaah mereka. Mereka tidak terlalu banyak membawa barang, karena sesuai kesepakatan mereka hanya 3 hari di pulau itu.

“Apa ada yang menjemput kita?”, tanya Yenni.

Ne, dia suruhan temanku”, kata Baekhyun.

Mereka sibuk mencari orang yang dimaksud Baekhyun. Mereka memperhatikan sekitar, sambil terus berjalan. Disana banyak orang yang berlalu lalang untuk berangkat maupun yang sudah turun dari kapal. Cukup lama mereka mencari orang itu, akhirnya mereka menemukannya.

“Itu dia, ayo kita kesana”, ajak Baekhyun.

Mereka segera menemui orang itu. Setelah itu mereka diajak naik mobil dan diantarkan ke tempat penginapan mereka. Mereka diantar ke sebuah hotel. Sampai di hotel itu, orang yang menjemput mereka membantu membawakan barang-barang mereka sampai di depan resepsionis hotel itu.

Mereka lalu bertanya tentang kamar pesanan atas nama Baekhyun pada resepsionis. Lalu mereka diberi password dan diantarkan ke kamar mereka. “Ini kamar anda tuan, silahkan beristirahat. Jika anda butuh apa-apa, panggilah kami”, kata pelayan hotel itu dengan Baekhyunh. “Ne, gamshamnida”, kata Baekhyun. “Sama-sama tuan. Semoga hari kalian menyenangkan”, kata pelayan itu lalu pamit pergi kembali bekerja.

Setelah menekan password mereka segera masuk ke kamar mereka. Kesan pertama masuk kamar itu adalah luas, bersih, dan nyaman, yah itu adalah kamar VVIP. Kamar itu berukuran sekitar 7 x 7 meter, bercat dinding cream kekuningan yang cukup kalem. Berlaintai marmer yang berwarna senada dengan warna dinding. Dengan ranjang tempat tidur yang cukup luas berada di tengah ruangan namun sisi yang lain merapat tembok di depannya ada TV, yang dapat ditonton dari atas ranjang, yang merapat dengan dinding yang lain. Disampingnya kananya ada meja rias dan lemari pakaian, disamping kiri agak sedikit jauh ada pintu kamar mandi. Disamping meja TV itu ada sofa dengan motif bunga dan meja bundar ditengahnya.

Mereka meletakkan barang mereka di atas sofa. Yenni lalu membuka gorden kamar itu, karena merasa gelap. Dari situ langsung terlihat pemandangn pantai yang indah dengan pasir putih yang menambah kecantikan pantai itu.

Oh my God. It’s very beautiful”, kata Yenni.

“Indah bukan”, kata Baekhyun.

Yes”.

“Kau mau kesana?”.

Sure”.

Kajja”.

Mereka berdua segera menuju pantai pasir putih tersebut. Mereka berjalan-jalan sepanjang pantai itu. Hembusan angin pada pantai itu cukup kencang, hingga menerbangkan rambut kecoklatan Yenni. Dia berhenti berjalan dan mengahadap langsung ke laut. Dia menutup matanya sambil membentangkan tangannya  dan membiarkan hembusan angin menerpa wajah manisnya. Dia sangat menikmati suasana di pantai itu.

“Kau menyukainya?”, tanya Baekhyun.

Yes, Mr Baekhyun. It’s very very beautiful”, kata Yenni.

Untuk beberapa lama mereka saling diam. Mereka menikmati suasana di pantai itu dengan hayalan masing-masing. Setelah merasa puas dan lelah, mereka kembali ke penginapan mereka. Setelah itu, mereka memesan makanan pada resepsionis. Setelah makan mereka beristirahat, karena sang surya hampir ditelan langit di ufuk barat.

Saat menonton TV, Baekhyun mendapat telfon dari temannya. Dia berpamitan pada Yenni untuk menemui temannya itu. Sesuai pembicaraan di telfon, Baekhyun kini telah bertemu temannya di tempat yang sudah dijanjikan yakni di restoran hotel itu. Dia disambut baik oleh temannya dengan disuguhi secangkir kopi mokka kesukaannya.

“Hai Baekhyun. Apa kabar?”, kata temannya sambil memeluknya.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri”, kata Baekhyun lalu melepaskan pelukan temannya.

“Aku juga baik. Mana istrimu?”, tanya temannya.

Namun Baekhyun tidak menjawab, dia malah melamun.

“Hai”, kata temannya sambil melambai-lambaikan tangannya didepan muka Baekhyun. Ia heran mengapa Baekhyun malah diam, “Gwenchana?”.

“Ah, ne. Gwenchana”, jawab Baekhyun.

Wae? Ada masalah?”, tanya temannya.

Baekhyun lalu menceritakan kejadian pada pernikahannya itu pada temannya. Kejadian tentang pernikahannya yang gagal karena calon istrinya yang kabur. Dan pada akhirnya digantikan oleh calon adik iparnya. Yang bahkan baru ia kenal sesaat sebelum acara pernikahannya dimulai.

“Jadi begitu ceritanya, mian karena aku tidak bisa datang pada hari pernikahanmu. Aku juga turut bersedih. Lalu apa sudah ada kabar tentang Reni”, tanya temannya Baekhyun.

Ne, arra. Kau pasti sangat sibuk. Gomapta Chanyeol. Sampai sekarang belum ada kabar tentangnya. Sulit rasanya mengetahui keberadaanya, apalagi dia tidak membawa ponselnya. Aku juga sudah menyuruh orang untuk mencarinya, namun belum ada hasil sampai sekarang”, kata Baekhyun.

“Yang sabar Baekhyun. Dia pasti akan menerima akibatnya. Bukankah dulu dia juga pernah menghianatimu?”, tanya orang yang dipanggil Chanyeol oleh Baekhyun.

Ne, itu saat kami masih sama-sama di bangku kuliah. Ku kira dia akan berubah setelah aku memberi dia kesempatan lagi, tapi ku rasa dia tidak berubah. Kau tahu aku sudah lelah dengan sikapnya. Mungkin memang sebaiknya dia tidak kembali”, kata Baekhyun.

“Kau yakin!” kata Chanyeol.

“Entahlah!”, kata Baekhyun.

“Tapi aku tidak yakin dengan hal itu. Aku tahu siapa kau, Baekhyun. Tidak semudah itu kau bisa melupakan yeoja itu. Bukankah kalian sudah membina hubungan itu selama sepuluh tahun lebih, benarkan?”, kata Chanyeol.

Baekhyun menghela nafas berat. “Ne, kalau dihitung memang kami telah membina hubungan kami sekitar sepuluh tahun lebih”.

“Aku yakin dia pasti telah terukir sangat dalam dihatimu”.

Ne, mungkin kau benar”.

Mereka diam untuk beberapa saat. Mereka terhanyut dengan pikiran masing-masing sambil menikmati minuman mereka.

“Lalu bagaimana istrimu yang sekarang?”, tanya Chanyeol.

“Maksudmu?”, tanya Baekhyun tidah paham.

“Bagaimana orangnya?”, tanya Chanyeol lagi.

“Wajahnya sangat mirip dengan Reni, namun dia memiliki rambut yang panjang dan sedikit kecoklatan. Saat dia bernyanyi pada acara pernikahanku kemarin, kukira dia Reni, tapi ternyata bukan”.

“Dia bisa bernyanyi?”.

“Iya, begitulah. Suaranya juga merdu, selain itu dia juga pandai bermain piano. Dia sangat berbakti pada orang tuanya. Apa kau tahu sesaat setelah acara selesai, sebenarnya dia menolak ikut denganku, namun setelah dibujuk orang tua angkatnya dia akhirnya mau ikut denganku. Dia juga pandai memasak, kemarin dia memasak untukku”.

Charming! Terus!”.

“Apanya yang terus!”.

“Berapa umurnya? Apa dia masih sekolah?”.

“Astaga, aku bahkan tidak tahu soal itu?”.

Pabbo! Kenapa kau tidak bertanya padanya? Apa Reni juga tidak pernah menceritakannya padamu”.

“Dia tidak pernah bilang hal itu. Dia hanya bilang kalau dia punya adik perempuan yang diadopsi oleh teman papanya yang tidak memiliki anak. Yang kemudian dibesarkan di New York.  Hanya itu dia tidak pernah menceritakan apapun tentang adiknya itu”.

“Bagaimana menurutmu! Lebih cantik Reni atau dia? Oh ya, siapa namanya?”.

“Namanya Yenni. Yenni Wilson. Entahlah! Aku tidak pernah membandingkannya”.

“Sudah kuduga. Apa hanya nenek sihir itu yang kau pedulikan?”.

“Berhenti memanggilnya dengan sebutan nenek sihir. Dia bukan nenek sihir, dari dulu kau selalu menyebutnya begitu”.

“Dia memang nenek sihir. Buktinya, kau bahkan dulu setengah mati membencinya tapi sekarang kau tergila-gila setengah mati padanya. Bukankah aku benar?”.

“Ah, sudahlah. Jangan bahas itu lagi”.

Ne, ne. Tapi setidaknya kau harus menjaganya mulai sekarang. Bagaimanapun juga dia sudah menjadi istrimu yang sah. Lupakan saja tentang Reni, dan belajarlah mencintainya. Reni terlalu jahat untuk kau pikirkan. Aku tidak mau melihatmu sedih lagi sama seperti saat dia menghianatimu pertama kali. Ini sudah yang kedua Baekhyun, apa kau masih mengharapkannya?”.

“Entahlah! Ini terlalu menyakitkan untukku”.

“Terserah padamu. Tapi ku harap kau tidak menyakiti hati istrimu”.

Ne, aku juga tidak berniat menyakitinya. Dia terlalu baik untuk disakiti”, kata Baekhyun sambil meneguk kopi mokkanya.

“Apa kau tidak ingin memperkenalkan istrimu padaku?”.

“Jangan sekarang, dia pasti lelah. Besok kalau kau tidak sibuk”.

“Baiklah! Oh ya, bagaimana hotelku, bagus bukan!”.

Ne, untuk ukuran kamar VVIP itu memang bagus. Sepertinya aku harus kembali ke kamar, aku sudah meninggalkannya terlalu lama”.

“Ok, selamat beristirahat”.

“Oh ya, satu lagi. Kapan kau menikah?”.

Chanyeol hanya menggaruk-garuk kepalanya yang aslinya tidak gatal.

Wae? Jangan bilang kau belum punya pacar sampai sekarang”.

Chanyeol lalu tersenyum.

“Chanyeol, apalagi yang kau tunggu, kau sudah menjadi pemilik hotel ini. Karirmu sudah cukup bagus, kau juga sudah berusia 27 tahun, sudah saatnya untuk mencari pasangan hidup. Lagipula hidup bukan untuk mencari harta saja, cobalah untuk memikirkannya mulai sekarang”.

“Kau benar, aku terlalu fokus pada karirku. Baiklah, akan kuikuti saranmu”.

“OK, selamat malam Park Chan Yeol sajangnim. Aku harus kembali ke kamarku”.

“Ku ini bisa saja, selamat malam juga tuan Byun Baek Hyun. Selamat beristirahat”.

Baekhyun lalu kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Saat masuk kamar, lampunya sudah padam, namun masih ada cahaya bulan yang masuk melalui jendela kaca yang gordennya belum ditutup. Dia melihat Yenni masih terjaga, pandangannya menatap ke arah jendela yang gordennya masih terbuka. Dia lalu menoleh setelah mendengar pintu kamarnya terbuka. Baekhyun lalu menyalakan lampu dan menyapa Yenni.

“Kau belum tidur”, tanya Baekhyun. Yenni hanya menggeleng. Baekhyun segera duduk di sebelahnya. “Wae! Apa kau tidak bisa tidur?”, tanya Baekhyun Lagi.

Yenni menggelengkan kepalanya, “Mr Baekhyun”.

Ne, mworago?”.

“I want talking you?”.

“Oh, bicaralah”.

“I know, I would be your wife. But, I don’t give something from me for you. I hope you understand about it”.

“Ne, aku mengerti apa yang kau maksudkan”.

“I know, you just love Reni. And you not love me. It’s true?”.

“Iya, kau benar. Seburuk apapun tingkahnya aku tidak bisa membencinya. Aku tidak bisa membohongi hatiku. Ini bukan pertama kalinya dia menghianatiku. Tapi hatiku tetap memilih dia. Kadang aku benci diriku, mengapa aku masih mencintainya”, saat berkata itu air mata Baekhyun jatuh, entah mengapa dia bisa menangis dihadapan Yenni, padahal saat bertemu Chanyeol dia tidak sampai menangis.

“Calm, Mr Baekhyun”, kata Yenni menenangkan dia juga memeluk Baekhyun. “I know, you sure really really love she. But, we can be friend. If you have some problems, you can tell me. I will always hear your problems”.

“Ne, gowawo Yenni”, kata Baekhyun. Dia lalu melepaskan pelukan Yenni.

“Yes, you’re welcome”.

“Sekarang aku yang akan bertanya padamu”.

“Yes, what?”.

“Berapa umurmu?”.

“Age?”.

“Ne?”.

“I’m 21 year old”.

“Mwo! 21 tahun”, tanya Baekhyun memastikan. Yenni mengangguk.

“Kau bahkan masih sangat muda. Apa kau masih sekolah?”.

“Sure. I’m last student in Oxford University”.

“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?”.

“Calm, Mr Baekhyun. It’s holiday. Next moth is my last exams”.

“Oh, syukurlah”.

“How about you?”.

“Aku 6 tahun lebih tua dari kamu. Ayah mempercayakan perusahaannya padaku setelah aku menyelesaikan S2 ku, itu sekitar 3 tahun yang lalu”.

Yenni mengangguk paham,”Oh, when you begin love she?”.

“Sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Saat aku masih duduk dibangku sekolah menengah atas”.

“Wow, wonderful”. Baekhyun hanya tersenyum. “Can you tell me, about your love story?”.

“Bagaimana kalau aku menolak?”, goda Baekhyun.

“I fell disappointed”, kata Yenni. Raut wajahnya kecewa mendengar jawaban Baekhyun. Baekhyun tersenyum melihat perubahan raut wajah Yenni.

“Aku hanya bercanda”, kata Baekhyun.

“Mr Baekhyun”, kata Yenni kesal.

“Baiklah aku akan menceritakannya padamu. Kau harus mendengarkan baik-baik”.

“Yes, sure”.

“Aku dan Reni teman sekelas sejak kami masuk pertama sekolah menengah atas. Dulu kami tidak pernah akur, kami sering sekali bertengkar. Entah apa sebabnya, tapi kami memang tidak bisa menjadi teman. Bahkan aku membencinya. Namun seiring berjalannya waktu, kami saling menyukai. Saat salah satu diantara kami tidak masuk sekolah rasanya seperti ada yang kurang. Mungkin pepatah ini benar, jangan terlalu saat kau membenci seseorang lama-lama akan jadi cinta atau lebih tepatnya benci jadi cinta. Mulai saat itulah dia menjadi kekasihku. Kau tahu, bahkan teman-temanku sering mengejeknya sebagai nenek sihir yang menyihir musuhnya menjadi kekasihnya”, Baekhyun tersenyum mengingat kejadian itu. Dia lalu melanjutkan ceritanya.

“Ini bukan pertama kalinya dia menghianatiku. Dulu saat masih kuliah dia juga pernah menghianatiku. Dia berselingkuh dengan teman sekelasku. Saat itu, aku benar-benar marah padanya, bahkan kami sudah mengakhiri hubungan kami. Namun aku tidak bisa melupakannya. Dia kemudian menyesali perbuatannya, lalu dia meminta maaf padaku. Karena aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku pun memaafkannya. Lalu kami menjalin hubungan lagi sampai kami memutuskan untuk menikah. Tak kusangka dia akan menghianatiku lagi”.

Tak disangka Yenni menjatuhkan air matanya mendengar cerita Baekhyun. “Kau menangis? Wae?”, tanya Baekhyun. Dia panik melihat Yenni menangis, dia takut telah menyakiti perasaan istrinya. “I’m only impress about your story. You’re faithful man”, kata Yenni. Baekhyun menghapus air mata Yenni. “Thank you”, kata Yenni. “Sekarang sudah malam, tidurlah”, kata Baekhyun. “You must sleep too, Mr Baekhyun”, Yenni lalu menenggelamkan dirinya dalam selimut.

Baekhyun masih terjaga, dia masih memandang pemandangan pantai dari balik jendela kamarnya. Entah apa yang difikirkannya. Dia hanya diam dan membiarkan wajahnya diterpa angin malam lewat celah dari jendela yang masih dibiarkan terbuka. Malam itu bulan purnama, pemandangan pantai itu semakin indah disinari terangnya bulan. Nampaknya dia tidak tergoda oleh pemandangan pantai itu. Dia masih terdiam untuk beberapa saat, memastikan istrinya benar-benar telah terlelap. Setelah cukup lama dalam diam, dia membuang nafas panjangnya. Dia memutuskan untuk menutup jendela itu, dia tahu angin malam tidaklah baik untuk kesehatannya. Dia juga menutup gorden jendela itu.

Baekhyun lalu menjumpai istrinya di ranjang. Dia membenarkan posisi selimut yang membungkus tubuh istrinya. Dia lalu duduk disamping istrinya, dia mengusap puncak kepala istrinya. “Mianhae Yenni. Mian karena telah membuatmu terjebak dalam kehidupanku. Gomawo untuk semua”. Baekhyun lalu mencium kening Yenni. Dia akhirnya ikut terlelap disamping istrinya.

 

§§§TBC§§§

Gimana ceritanya? Tetap tinggalkan jejak ya. Thanks.

Terima kasih banyak buat yang dah kasih masukan, sarannya sangat membangun. Terima kasih banyak.

Iklan

5 thoughts on “The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 3)

  1. Ya ampun ternyata Yenni yang menikah dengan Baekhyun. Kasihan juga Baekhyun karena di khianati oleh Reni yang kabur bersama Luhan. Padahal Baekhyun tulus mencintainya. Semoga saja Yenni bisa menggantikan Reni di hati Baekhyun dan menjalani rumah tangga dengan bahagia dan harmonis. Serta membangun kepercayaan satu sama lain

  2. kak author kalimatnya yenni pake bhs indonesia aja kak. soalnya englishnya belepotan *mian^^
    secara keseluruhan sih oke banget.

  3. FF ini menurutku beda dari yang lain, mungkin itu karena sifat baekhyun yang gak seperti biasanya. Di sini baekhyun perannya jadi anak baik baik. Gak jadi anak melleng gitu ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s