KRIS WU

Title                       : KRIS WU

 

Main Cast            : Katy Peterson (OC), Kris Wu

 

Support Cast      : Mr.Peterson (Katy’s Father)

 

Genre                   : Slice of life

 

Rating                   : Teen

 

Length                  : Oneshot

 

Disclaimer           : The Casts are not mine, but the plot is mine. Please don’t be a Plagiator and Re-   Post this fanfict without my permission.

 

Also publish on: kindofberryfanfiction.com

 

“Kate, are you okay?” –Kris Wu.

 

 

l Jeska Presented. June 2015l

 

 

Sebut saja dia Katy. Atau Kate jika kau merasa mengenalnya. Atau Katy Peterson jika kau ingin tau nama keluarganya. Atau Katy Georgina Peterson jika kau benar-benar berharap bisa mengintip akta kelahirannya. Atau—

“Terserah kau saja ingin memanggilku apa.”

 

“Benarkah? Jadi bagaimana kalau—Katy sayang?”

 

“Uhuk!”

 

Kali ini sungguhan, sama sekali tak main-main; demi matahari yang dengan semangatnya memancarkan sinar ke bumi, demi bunga Gladiol Blue Isle yang mekar di sudut-sudut jalan—membalas pesan Park Chanyeol membuat mood Katy bertambah buruk dua puluh lima persen. Harapan untuk setidaknya dapat menikmati musim panas dengan berjalan-jalan di Distrik Teater Broadway sambil berbicara hal-hal menyenangkan lewat pesan, seketika luntur tak bersisa.

 

Teman satu kampusnya yang jangkung dan berambut coklat gelap itu adalah orang Asia. Lebih tepatnya Korea Selatan. Katy mengenalnya sekitar tiga bulan yang lalu, ketika mereka berjumpa di foodcourt kampus. Dan sejak saat itu mereka mulai sering berhubungan lewat sosial media. Namun tak pernah sekalipun Chanyeol se-gila ini sampai menyebutnya ‘Katy sayang’ tanpa rasa malu.

 

“Inilah kenapa aku jarang punya teman orang Asia,” gumamnya seraya memasukkan ponsel kedalam tas. Gadis dengan skin-tight jeans dan kaus hitam bergambar band Whitesnake itu memutuskan untuk mengakhiri percakapan tidak pentingnya dengan Chanyeol—daripada ia keceplosan mengumpat atau mengatai lelaki itu dengan kata-kata yang kasar.

 

Well, ia tau orang Asia sangat menjunjung sopan santun.

 

Maka dengan sedikit gontai, Katy melanjutkan perjalanan tanpa arahnya seraya memutar pandang. Ia sendirian, di pusat kota, dengan pikiran yang tak kunjung membaik sejak mendengar kabar buruk dari Ayahnya kemarin malam.

 

Satu-satunya hal yang terus mendesak keluar dari otaknya ialah untuk cepat-cepat pulang ke rumah secara diam-diam, mengemasi semua barang, dan pergi lagi tanpa seorang pun yang tahu.

 

“Aku benar-benar bisa gila kalau begini caranya.”

 

Setelah terdiam sejenak, Katy kembali melangkahkan kaki menuju tempat yang tadi hampir ia lewatkan. Dengan beberapa langkah berbalik ke belakang, satu kali menyebrang jalan, dan memakan waktu tiga menit berjalan lagi untuk sampai di sebuah taman kecil di sebelah perempatan.

 

Katy memasuki taman itu, mengabaikan palang nama yang ditemuinya di pintu masuk. Sudut matanya menangkap seorang penjual es krim kira-kira tujuh meter dari tempatnya berdiri; tengah dikerubungi bocah-bocah kecil yang kehausan dan berkeringat.

 

“Aku mau es krim,” katanya pada diri sendiri. Kemudian menghampiri si tukang es krim dengan ekspresi yang belum berubah. Ia membeli dua es krim sekaligus—musim panas di New York membuatnya hampir terlihat sama dengan anak-anak tadi. Beruntungnya dia tak sedang terserang dehidrasi.

Gadis bersurai hitam se-punggung itu melempar pandang pada sudut-sudut taman yang diisi oleh beberapa bangku besi dan pohon-pohon rindang di sampingnya. Ia melihat tak jauh dari tempatnya berdiri—dengan satu es krim vanilla di tangan kanan, dan satu es krim rasa strawberry di tangan kiri—ada sebuah bangku yang kosong. Tanpa menggerutu lagi, Katy segera mendudukkan diri disana.

 

Selagi menyantap es krim nya, bayang-bayang kejadian kemarin malam kembali terlintas; menampakkan dirinya dan sang Ayah yang tengah duduk berhadapan di ruang makan. Dengan wajah serius Mr.Peterson dan ekspresi kesal Katy yang terang-terangan ia tunjukkan.

 

“Dad, please.”

 

Sang Ayah menggeleng tegas. Tangannya meraih cangkir berisi Black Coffee yang sudah sejak lima menit lalu menganggur di atas meja, menyesapnya sedikit sambil tetap mengamati pergerakan anak sematawayangnya.

“Dad, aku sudah besar. Aku bisa mencari pendamping hidupku sendiri tanpa perlu dijodohkan seperti ini.” Katy tau nada suaranya mengandung penolakan yang tak kalah keras. Dan meski diakhir kalimat ia sadar tak seharusnya berbicara dengan begitu lantang kepada satu-satunya orang tua yang ia miliki.

 

Seseorang yang paling ia hormati melebihi siapapun.

 

“Wu Yi Fan itu baik untukmu, Kate. Memang dia orang Asia, tapi percayalah, Kakek memilihnya karena dia seseorang yang tepat menjadi pendamping hidupmu.”

 

Katy memijat pelipisnya. Merasa kepalanya berdenyut tiba-tiba. Kembali ke peristiwa tadi malam sama saja dengan melenyapkan semua nafsu makannya. Ia tak berselera lagi, bahkan memandang satu es krim yang tersisa di genggamannya. Demi Tuhan, Katy tak punya cara lain selain melemparnya kedalam tong sampah merah tua yang berdiri tak jauh dari kaki bangku.

 

“Maafkan aku membuangmu.”

***

 

 

Drrt Drrt

 

Katy merasakan ponselnya bergetar; lima kali banyaknya kalau ia benar-benar berniat menghitung, dan itu artinya lima panggilan masuk yang ia abaikan. Bukan berarti Katy bisa menebak yang menelfonnya adalah sang ayah, namun ia hanya tak ingin seorang pun mengganggu waktunya sekarang. Sudah cukup merelakan jam tidurnya yang berharga dengan kelebat-kelebat tentang pernikahan dan hidup berumah tangga.

 

“Aku bahkan masih 20 tahun, Dad.” Katy menghembuskan napasnya, kelewat kasar untuk sekumpulan remaja yang melewatinya dengan pandangan heran. Namun itu bukan masalah besar selama Katy masih orang yang sama. Ia adalah tipe wanita yang tak pernah ambil pusing dengan hal-hal semacam itu.

 

Meski sejenak berjalan dalam pemandangan yang kabur, ia kembali berusaha terlihat tanpa beban. Arloji putihnya menunjukkan pukul 5 sore ketika untuk pertama kali menyadari keberadaan benda itu setelah beberapa jam sebelumnya terlewati begitu saja. Tampak dari raut yang tak berubah, gadis itu tak punya niatan sedikitpun untuk kembali ke rumah.

 

Melihat matahari yang masih bertahan tanpa mengurangi pancaran sinarnya, Katy bertekad ingin melakukan hal yang sama. Menginjakkan kaki di teras rumah sama saja menyerah terhadap keputusannya Ayahnya. Dan dia bukan Katy Georgina Peterson jika melakukannya.

 

Brukk

 

Mungkin karena kebanyakan melamun; mungkin juga karena pandangannya yang tak fokus. Atau mungkin ini memang kejadian yang sudah digariskan untuknya. Yang jelas sekarang Katy tengah merasakan lengannya disenggol cukup keras oleh seorang lelaki berjas hitam yang datang tiba-tiba, dan menabraknya begitu saja—tanpa menoleh, tanpa mengucapkan apa-apa.

 

Well, Katy tak bisa hanya menyalahkan lelaki jangkung yang terlihat terburu-buru itu.

 

Jadi, masih dengan menggosok-gosok lengannya yang nyeri, gadis bertubuh semampai itu melangkahkan kaki dengan sedikit pelan sembari benar-benar memusatkan perhatiannya pada jalanan. Ia tak bisa membiarkan kejadian yang sama terulang untuk yang kedua kalinya.

 

Tak sengaja ekor matanya menangkap layar besar yang tergantung di sisi sebuah bangunan tinggi—sedang menampilkan seorang lelaki tampan berambut pirang, berdasi hitam, dan berkemeja putih; berbicara mengenai promosi produk terbaru dari perusahaannya yang bergerak dibidang Otomotif. Lelaki itu sama sekali tak tersenyum, wajahnya datar dan serius. Bahkan jika Katy tak sedang bergumam memuji ketampanannya, mungkin saja gadis itu dapat melihat kegugupan yang menderanya.

 

Melirik nama ‘KRIS WU’ yang tertera di bawah layar dengan huruf kapital yang ditebalkan, Katy berujar pelan,

 

“Kalau aku bisa menjadi kekasih orang itu, Dad pasti akan berhenti berusaha menjodohkanku.”

***

 

Pukul sepuluh malam ketika Katy meneguk habis Lemon Tea-nya dengan perut yang sudah terisi penuh. Berkelana tanpa arah membuatnya merasa lapar dan haus melebihi biasanya. Gadis itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, gerakannya sengaja dipelankan sambil menatap lekat-lekat para pengunjung café yang lain.

 

Ia melihat seorang pria kurus di sudut ruangan, satu keluarga bahagia yang berjarak dua meja darinya, sepasang nenek dan kakek yang saling bercanda di sudut satunya, dan seorang lagi yang terlihat seumuran dengannya; tengah menutup wajah menggunakan tisu.

 

Katy menghela napas pelan. Andai saja ia punya cukup uang untuk menginap, atau keberanian untuk menghubungi beberapa temannya. Ia yakin sekarang tak ada setitikpun perasaan ragu yang menghampirinya.

 

“Aku benar-benar seorang pengecut,” gumam Katy seraya memukul kepalanya beberapa kali. Tubuhnya mulai terasa lelah, bayang-bayang ranjang dan bantal empuknya terlintas begitu saja.

 

Kurang ajar sekali.

 

Disaat Katy harusnya tengah menikmati kepanikan sang Ayah, yang muncul dibenaknya justru cepat-cepat menghentikan taksi dan mengambil tujuan pulang.

Tapi tetap saja tak bisa semudah itu; menyembulkan kepala lewat pintu depan, dan berjingkat tanpa suara menuju kamar.

 

“Tak bisa!” ucap Katy nyaris berteriak. Tangannya berada di atas kepala, memegangi rambut yang hampir dijambaknya. Orang-orang di café bergantian menatapnya. Bahkan pria kurus disana pun ikut-ikutan melempar tatapan heran. Membuat Katy meringis pada diri sendiri, berpikir apakah suaranya memang terlalu keras.

 

Atau para pengunjung itu bermaksud menyuruhnya pergi—karena Katy baru sadar ia sudah berada disini cukup lama, dan teriakan itu bukan yang pertama kalinya.

 

Maka dengan sedikit menunduk menahan malu, gadis itu berjalan meninggalkan mejanya. Membayar makanan di kasir dengan uang yang hampir tak cukup, dan menutup pintu kaca dengan masih diiringi pandangan-pandangan yang sama.

 

Mungkin Katy berteriak lagi ketika mengeluarkan uangnya dari dalam dompet.

***

Di ujung jalan yang minim cahaya lampu, ada sebuah halte tua yang nyaris roboh. Besi-besi penyangganya terlihat sudah lapuk termakan usia—berwarna kuning terang yang catnya nyaris terkelupas semua. Dan tempat duduknya yang hanya tersisa setengah.

 

Tapi apa boleh buat. Ini satu-satunya halte terdekat yang Katy jumpai setelah berjalan berputar-putar selama kurang lebih dua puluh menit dari café tadi. Dan mungkin akan menjadi harapan terakhirnya untuk bisa sampai ke rumah dengan selamat tanpa kekurangan apapun.

 

Siluet mobil taksi berwarna biru dengan supir yang ramah, tempat duduk empuk dan nyaman; semuanya hilang tak berbekas ditelan kertas bon makanan.

 

Membuat Katy mengumpat tak henti-henti sepanjang perjalanan, ditambah lagi dengan pemuda-pemuda sialan yang menggodanya sedari tadi. Bahkan yang berpakaian kaus biru polos dan jeans butut koyak-koyak itu sempat mengikutinya ketika menyeberang.

 

“Sekali ini saja, biarkan aku pulang ke rumah.” Katy mendudukkan dirinya di halte, dengan perasaan cemas yang masih terus membayanginya. Ia menunggu seorang diri, di tengah kepekatan malam. Tanpa seorang pun yang lewat mengenalnya, atau menawari bantuan.

 

Meski—kalau Katy tak salah menghitung—hanya sekitar lima sampai tujuh orang yang berlalu tanpa menoleh. Tampak sama sekali tak peduli.

 

Baiklah, mungkin Katy benar-benar sudah menyerah dengan sikap egois-nya.

 

Jadi meskipun bergerak gelisah seraya memandangi sekitar dengan tatapan membunuh, Katy tetap saja tak sabaran menanti bus yang harusnya sudah datang sejak lima belas menit yang lalu. Ia tau jarum pendek arlojinya sudah hampir berada di pertengahan angka dua belas dan satu. Apalagi menyadari tungkai kakinya yang mulai pegal akibat menghabiskan terlalu banyak waktu berjalan-jalan.

 

“Hari ini berubah menyebalkan,” gumam sang gadis sekali lagi. Di rasanya angin malam yang berhembus perlahan membelai kulit lengannya yang tak tertutup baju. Walau tak begitu dingin, namun membawa hawa mencekam yang berubah berlebihan ketika menyentuh tubuhnya.

 

Dan jangan lupakan langit pekat tanpa bulan yang menaungi dirinya bersama si halte. Serta awan-awan yang tampak berhenti berarak. Jemarinya tanpa sadar saling bertautan; erat.

 

“Nona, kau mau naik atau tidak?!”

***

 

Mr.Peterson sudah memutuskan mengunci pintu rumah ketika dua jam terakhir usahanya menunggu sang anak pulang tak kunjung mendapatkan setidaknya satu telepon masuk atau sebuah pesan singkat. Lelaki berkumis tebal itu menghela napas seraya memasuki kamarnya. Kalau boleh mengeluh, ia pasti menjadi orang pertama yang akan melakukannya. Anak gadisnya yang keras kepala itu benar-benar membuat amarahnya nyaris meledak. Maka dengan sedikit memaksa, Mr.Peterson memejamkan matanya dan mencoba tidur.

 

Sedangkan beralih ke sisi lain; malam semakin larut ketika Katy menguap lebar-lebar seraya melangkahkan kaki memasuki halaman rumahnya. Matanya sampai berair karena terlalu mengantuk dan lelah. Ia merogoh tas tangannya, mendapatkan sebuah kunci rumah yang selalu dibawanya, dan dengan perlahan memasukkan benda itu ke dalam lubang pintu.

 

Terdengar bunyi gesekan sisi bawah pintu dengan lantai porselen saat Katy mendorongnya dengan hati-hati. Setidaknya ia harus mengabaikan pedih matanya untuk sejenak, demi menunda kemarahan sang ayah sampai besok pagi.

 

Gadis itu berjalan menjinjit menuju kamarnya. Langsung masuk tanpa ingin melirik kemanapun. Meski harus bersabar menaiki sekitar sepuluh anak tangga.

 

“Eh, apa Ayah menggeledah kamarku?” Katy berujar pada diri sendiri. Mengerutkan kening ketika mendapati pintu kamarnya tak terkunci. Dan satu keanehan terakhir yang membuatnya semakin bertanya-tanya; kenapa ada suara air dari dalam kamar mandi?

 

Masih berusaha mengabaikan, Katy mengganti pakaiannya setelah melihat-lihat ke lemari. Memastikan sang Ayah tak mengepak barang-barangnya.

 

Tapi suara gemericik air itu berhenti tiba-tiba.

***

 

 

“AAAAAAA!!!!”

 

Gadis berpiyama putih itu cepat-cepat membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangan. Matanya melotot, nyaris keliatan keluar dari rongganya. Bahkan nyaris juga dia terjungkang ke belakang; membentur lantai dengan posisi terlentang.

 

Namun entah harus bersyukur atau tidak, tangannya masih sempat ditarik—ia beruntung tak benar-benar jatuh. Meskipun tatapan horror itu tetap menghujam sesosok manusia lain yang kini berada di kamarnya; kamarnya yang sungguh-sungguh kamarnya.

 

Kamarnya yang tadi ia masuki, yang tak terkunci, dan yang mengeluarkan suara hempasan air menyentuh marmer.

 

“I’m Sorry. Aku baru tiba sekitar dua jam yang lalu. Ayahmu bilang—“

 

Katy melepaskan bekapan tangannya, berdiri tegak. Berdehem sebentar untuk mencoba lunturkan sisa-sisa rasa keterkejutan yang menyerangnya tanpa permisi. Melihat pemuda berambut coklat terang itu berdiri di hadapannya—di kamarnya, tanpa busana apapun kecuali sepotong handuk putih yang melingkar di pinggang.

 

Sekali lagi, Katy tak tau harus merasa bersyukur atau tidak. Kendati ia susah payah memerintahkan otaknya yang kelewat lamban untuk berhenti melirik badan kotak-kotak pemuda tersebut.

 

“Kate, are you okay?”

 

Wajahnya terasa benar-benar dekat ketika satu langkah ia layangkan ke arah Katy. Menunduk sedikit mengingat gadis dihadapannya bertubuh lebih pendek. Ditelisiknya pelan-pelan raut muka Katy; ia temukan rasa khawatir dan heran yang berbekas ditutupi keterkejutan.

 

“Who—Who are you?”

 

Jengah dipandangi terus menerus, gadis bersurai hitam itu berhasil mengumpulkan pecahan suaranya setelah beberapa detik berusaha. Ia angkat tangannya terlipat di depan dada, pelan-pelan mengubah ekspresi dan tatapannya.

 

Pemuda itu kembali menegakkan badan. Tampak tak sedikitpun ia merasa risih dengan sepotong kain yang membalut tubuhnya. Ia malah mengulurkan tangan basahnya ke hadapan Katy, berujar dengan kepercayaan diri yang tinggi, “Aku Kris Wu. Dan—“

 

Sejenak ia lirik pintu kamar mandi yang belum tertutup, “—Ayahmu yang menyuruhku mandi di kamarmu. Maaf membuatmu terkejut.”

***

 

“Bisa kau ulangi lagi siapa namamu?”

 

“Kris Wu.”

 

“Siapa?”

 

“Hm, Kris Wu.”

 

“Si—siapa?”

 

“Aku bilang Kris Wu!”

 

Pemuda itu menghempaskan gelas berisi wine ditangannya ke meja. Iris cokelatnya yang terpantul cahaya lampu menimbulkan kilat kekesalan. Meski begitu wajahnya tetap saja datar. Bahkan lebih datar dari saat sebelum Katy bertanya untuk yang ketiga kali.

 

Ruang makan keluarga Peterson tak pernah punya suasana se-aneh ini sebelumnya. Kedatangan tamu asing berparas rupawan yang mengaku sebagai calon suami sang anak sematawayang—yang kini tengah menatapnya dengan ekspresi super terkejut; mata yang kembali membulat, tubuh yang nyaris merosot kebawah, dan jemari yang berkeringat hingga tak sanggup mengangkat gelasnya sendiri.

 

Teringat lagi pasal CEO muda yang dilihatnya tadi siang, sedang mempromosikan produk terbaru perusahaannya. Orang ini kelihatan sama, membuat kata-kata yang tak sengaja meluncur dari mulutnya beberapa jam lalu kembali terngiang.

 

Kalau aku bisa menjadi kekasih orang itu, Dad pasti akan berhenti berusaha menjodohkanku.

 

Lalu ini apa?

 

Mimpi jadi kenyataan, eh?

Atau Doa yang tiba-tiba dikabulkan?

 

“Kau kenapa?”

 

“Ah tidak—aku hanya sedang berpikir kalau-kalau kau salah memasuki rumah, atau salah mengenali Ayahku sebagai orang yang—“

 

“Tidak.”

 

“Tapi kau CEO muda yang tadi aku harapkan menjadi kekasihku! Dan Ayah bilang namamu Wu Yi Fan, bukan Kris Wu!”

 

“….”

END

8 thoughts on “KRIS WU

  1. HUEEEEEE seneng bgt akhirnya ada yg bikin ff main castnya abang galaxy!!!!😭😭😭 thx bgt author, biarpun oneshoot kkkk. awalnya bingunh mksdya apa, tp lama2 baru ngerti :3

  2. lucuuuu
    aku tau ini mainstream, judulnya juga kurang menarik, tapi begitu masuk, weh, tulisannya sederhana tapi rapi, terus katy-nya yg rada2 geblek gimana gitu juga ucu banget, terus gimana abang lax muncul di tv sampe muncul di rumah katy dgn outfit/? yg sebegitu kontroversial juga bikin deg2an… walaupun yah akhirnya dapat ditebak tapi ini ttp fluffy (berhias humor)
    this made my day! keep writing!

    1. Huaaa iyaa ini mainstream huhu, trus judulnya… aduh ini pengen ngakak karena keinget waktu itu aku sama sekali ga ada ide buat judulnya :”) mungkin kakak(?)punya ide buat judulnya? 😂 huehe. And yes, si katy nya emg rada aneh wkwk. Trs pas bagian Kris muncul itu emang aw banget deh aku ngebayanginnya 😂. Hehe makasih banget udah baca dan komen yaaa ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s