The Gray Autumn (Chapter 5)

IMG_20160103_094350

The Gray Autumn – Chapter .5

By : Ririn Setyo

Song Jiyeon || Oh Sehun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

 

Sehun mengakhiri sambungan telepone dari seseorang di seberang sana, Minra yang berdiri di sebelahya sudah menatapnya dengan alis bertaut. Sehun melihat Minra, sosok gadis cantik yang selalu membantunya untuk menyakiti Jiyeon, menyakiti hati wanita yang sejak dulu selalu Sehun anggap sebagai malaikat Tuhan yang akan menemani sisa hidupnya di dunia ini.Satu helaan napas menguar di udara dari hembusan paru-paru Sehun yang terasa sesak, menatap nanar cincin pernikahan yang masih melingkar erat di jari manisnya. Cincin yang membuatnya terikat pada sosok Song Jiyeon yang harus disakitinya karena sebuah perjanjian, perjanjian yang sejak awal tak pernahSehun setujui karena dia sangat yakin jika dirinya tak kanmampu untuk melakukannya.

“Xiumin mengatakan padaku jika dalam sepuluh menit Jiyeon akan tiba di sini,” ucap Sehun seraya bergerak mendekati Minra, berdiri di depan Minra yang hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.

“Mau sampai kapan kau melakukan ini, Sehun?Melakukan sesuatu yang sudah terlihat jelas akan berakhir sia-sia.”Sehun tidak menjawab, hanya mulai melingkarkan tangannya di pinggang Minra, membuat seolah-olah semua keromantisan antara dirinya dan Minra nyata adanya.

“Kau tahu, kadang aku bertanya-tanya hati Malaikatmu itu terbuat dari apa?” Minra kembali menghembuskan napasnya, mengacak sedikit rambut panjangnya yang sewarna jingga. “Hanya Jiyeon seorang yang masih mempertahankan suami yang jelas-jelas berselingkuh di depan matanya Sehun, hanya Jiyeon yang mampu bertahan selama dua tahun dengan laki-laki brengsek sepertimu.”

Sehun tertawa, membuang pandangannya pada pintu ruangan yang masih tertutup rapat, menanti kehadiran sosok belahan jiwa yang kali ini akan kembali disakitinya. Sehun memejamkan mata sejenak, menahan rasa sakit yang menelusup masuk ke dalam hati tiap kali dia menyakiti malaikatnya.Rasanya merentas hingga menyayat di tiap hembusan napas jantungnya yang berdetak cepat, sakit di tiap inci hati hingga Sehun bahkan tak punya lagi airmata saat menyesali semua kekejian yang dilakukannya pada Jiyeon.

“Jiyeon bahkan tidak menangis saat melihatku malam itu, tidak menangis saat melihat kita di department store tempo hari dan disaat-saat menyakitkan lainnya.”

Sehun mengerjab, dia kembali menatap Minra yang terlihat menatapnya bingung, Minra sejatinya tak pernah disentuh Sehun di malam dia memproklamirkan diri sebagai penghianat pada Jiyeon.

“Bukankah aku sudah pernah bilang jika dia adalah wanita yang kuat—-“

Sehun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, menarik satu senyum penuh luka sesaat sebelum memiringkan wajahnya. Menahan deguban jantung yang kian bertalu kencang, menanti detik-detik pintu ruangannya terbuka.Dan tepat saat Sehun menatap knop pintu bergerak, saat itupulalah Sehun merapatkan tubuhnya pada Minra.

Eoh! Maaf menganggu acara manis kalian,”

Sehun menghentikan niatnya pada Minra, laki-laki kejam itu memalingkan wajahnya, menatap datar sosok Jiyeon yang sudah berdiri di ambang pintu. Menyembunyikan semua tatapan menyesal yang menyayat hati di balik tatapan tidak pedulinya, menahan tangannya yang mulai bergetar untuk terus merangkul Minra, ketika butiran kristalterlihat di ujung mata bening Jiyeon.

“Tadinya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu,OhSehun, tapi sepertinya kedatanganku tidak tepat!”

Dalam satu gerakan Jiyeon memilih untuk berbalik seiring airmata brengsek yang berjatuhan di pipi pucatnya, menyabik hati hingga Jiyeon berjalan terhuyung meninggalkan Sehun di belakang sana.Sehun hanya mampu menatap kepergian Jiyeon dalam berjuta rahasia rasa yang tak kan terbiaskan,Sehun menarik napas berat, dia merasa jika dirinya sudah tidak tahan bertahan dalam permainan keji ini, merasa sudah tak sanggup jika harus terus menyakiti hati Jiyeon. Menyakiti hati wanita yang selalu mampu membuat Sehun khawatir, menyakiti hati wanita yang selalu membuat Sehun terpuruk dalam penyesalan yang tak bertepi, menyakiti wanita yang sejujurnya sangat di cintai Sehun sejak dulu.Sehun mendorong Minra kuat, hingga gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh.Mengerakkan kakinya untuk menyusul Jiyeon, dia kalut, namun langkah Sehun terhenti saat Minra menahannya.

“Jika kau menyusulnya seperti saat kau menyusul Jiyeon di mobil tempo hari, Jiyeon akan kembali memaafkanmu, Sehun. Dan itu berarti kau tidak akan pernah membuat Jiyeon meninggalkanmu dan itu juga berarti kau harus terus menyakitinya…. menyakiti wanita yang sangat kau cintai.”

NapasSehun kian memburu,dia menatap Minra dengan wajah yang semakin kalut, memikirkan semua kata-kata Minra yang berputar cepat bak rollecoater,Sehun mengerang tak tertahan. Ya Minra benar jika dia tetap menarik ulur perasaan Jiyeon, sampai kapan pun Jiyeon tak kan pernah melepaskannya.

“Berhenti menyelamatkannya Sehun.Berhenti merasa peduli dan berhenti memperlihatkan rasa cintamu padanya, jika kau benar-benar menginginkan semua ini berjalan seperti rencanamu, maka kau harus mengabaikannya.”

Sehun mengerang, dia memukul pintu ruang kerjanya keras hingga membuat tulang di bukunya terasa nyeri.Sehun kembali teringat saat dirinya yang selalu menyelamatkan Jiyeon tiap kali wanita itu ingin menenggelamkan diri di dalam bathtub, dia selalu memecat semua pelayan di rumahnya hanya karena Jiyeonyang tidak sengaja terkena air hujan hingga harus terbaring sakit beberapa bulan yang lalu.Sehun kembali teringat saat dirinya yang selalu membantu Jiyeon ditiap kesempatan, selalu memeluk dan menyentuh Jiyeon dalam luapan rasa cinta, hingga tanpa sadar selalu mampu menyamarkan rasa sakit yang dia sematkan untuk Jiyeon.

“Ak— aku— aku harus bagaimana, Minra?”

Setetes airmata pada akhirnya menetes di pipi Sehun yang mulai memucat, menatap frustasi Minra yang hanya mampu bergerak memeluk Sehun yang kian kalut. Mengusap bahu Sehun yang terasa semakin bergetar, napas yang semakin memburu tak beraturan.

“Berhenti memperdulikannya—-“

Ucapan Minra terputus saat Sehun tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Minra, menatap sebaris pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam ponsel pintarnya dari Lee Xiumin.Supir pribadi yang sengaja di perkerjakan Sehun, untuk melaporkan semua gerak gerik Jiyeon tanpa terlewat sedetik pun.Pesan yang membuat Sehun pada akhirnya mengerakkan kakinya menyusul Jiyeon, bersama penyesalan yang sampai kapan pun, tidak akanSehun utarakan pada Jiyeon, tidak akan pernah!

“Nyonya Jiyeon sedang berada di rooftop, dia mengamuk, memecahkan semua pot bunga besar yang ada di sana.”

~000~

PRAANGG!!!—

Satu pot bunga yang terpajang angkuh di atas bangku kayu kembali hancur berantakan, Jiyeon mendorongnya kuat diiringi cacian dan makian yang di peruntukkan pada Sehun.Ini bahkan pot bunga yang ke empat yang Jiyeon pecahkan, berada di atas rooftop, banyak sekali pohon rindang dan tumbuhan bongsai di dalam deretan pot besar adalah keputusan yang tepat untuk meluapkan semua rasa sesak yang menyerang dadanya.Jiyeon menangis, meraung kencang, mendapati dirinya yang selalu kalah dengan permainan takdir, selalu tak mampu melawan garis kejam kehidupan yang selalu membayangi langkahnya.Merasa sudah tak mampu untuk berpijak namun tak mampu pula untuk berlalu menjauh dari kekejaman ini, merasa sangat bodoh saat selalu merasa tak bisa meniadakan sosok keji yang menganiaya hidupnya dengan sangat sempurna.

“AKU MEMBENCIMUOHSEHUN!!!!”

PRAANGG!!!—

Kembali satu pot bunga yang berjejer di sepanjang pinggiran bangunan pecah berantakan, kali ini hingga melukai ujung jari telunjuk Jiyeon, cairan merah pekat menetes melewati kukunya.Jiyeon terduduk seketika, menangis, menyembunyikan wajahnya di antara kakinya yang terlipat, mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya memutih dan tidak sadar jika telah ada sosok Sehun yang berdiri mematung di depannya.

Sehun mengerakkan tangannya yang bergetar, menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak memeluk Jiyeon yang masih menangis.Menghapus kasar airmata yang mulai memenuhi soket matanya, diamenarik napasnya yang mulai sesak karena semuanya terasa semakin menyakitkan.Ini bahkan lebih menyakitkan dari yang sudah diperkirakaan Sehun sebelumnya, menahan segenap rasa sesal saat harus menyakiti orang yang paling dicintai, serasa seperti menarik nyawanya sendiri untuk beranjak dari raga.Bahkan jika dia bisa memilih, Sehun lebih memilih untuk berada dipihak tersakiti dibanding harus menyakiti.

Sehun menarik napasnya sesaat sebelum dia berjongkok di depan Jiyeon, menatap terkejut luka di ujung jemari Jiyeon yang sudah pucat pasi. Dengan cepat Sehun mengeluarkan sapu tangan dari balik saku jasnya, meraih jemari Jiyeon hingga wanita itu terkejut lalu sertamerta menatapnya.Tanpa kata Sehun membalut luka Jiyeon hati-hati, mengabaikan tatapan kebencian Jiyeon yang tertuju padanya saat ini.Dan tepat setelah Sehun selesai membalut luka itu, satu dorongan kuat Jiyeon dilayangkan ke bahunya, membuatSehun terjungkal ke belakang tanpa sempat menghindar.Jiyeon menarik napas disela isak yang masih tersisa seraya berdiri, menatap Sehunbenci.Perlahan Sehunpun ikut berdiri dari posisinya, menatap angkuh Jiyeon yang kembali meneteskan airmatanya.Kembali memakai topeng sebagai pria brengsek yang dibenci Jiyeon, kembali berhasil menyembunyikan semua rasa cintanya.

“Berhenti berpura-pura peduli padaku, OhSehun!”Sehun tidak menjawab, laki-laki itu hanya menatap Jiyeon dingin.“Sampai kapan pun aku akan selalu membencimu!”

Sehun menarik satu sudut bibirnya hingga tercipta seringai tajam, tertawa sumbang, senyum sombongnya semakin menyulutkan emosi Jiyeon hingga mencapai ubun-ubun.

“AKU MEMBENCIMU BRENGSEK!!!”Jiyeon memukul-mukul dada Sehun dengan segenap kekuatan yang dia punya, memukul sosok yang hanya diam membisu di tempatnya berpijak.

“Tinggalkan aku jika kau memang membenciku, Song Jiyeon!”

Seketika itu juga Jiyeon menghentikan pukulannya, dia menatap Sehunnanar lalu menggerakkan tangan bergetarnya ke udara dan melayangkan pukulan keras di pipi Sehun, diiringi airmata yang kembali mengalir di pipinya yang pucat.Jiyeon mengepalkan tangannya yang terasa panas, tertawa sumbang saat lagi-lagi dia tak bisa menjawab permintaan Sehun.Jiyeon menarik napasnya, menghapus air mata lalu berlalu dari hadapan Sehun dalam kebisuan yang terasa menyesakkan, membawa sebaris kalimat yang tertahan di kerongkongan untuk tak terjabarkan dalam lisan. Kalimat yang selalu membuat Jiyeon terlihat kalah dalam permainan laki-laki kejam di belakang sana, permainan dari laki-laki yang sialnya sejak dulu selalu berjalan beriringan di tiap jejak langkah yang ditorehkan Jiyeon dalam kehidupan beratnya.

“Aku terlalu mencintaimu, jadi sampai kapan pun aku tidak akan pernah sanggup jika harus meninggalkanmu, OhSehun.”

~000~

Jungnangcheon – Yeongdap, Seongdong Seoul

Cheonggyecheon Stream

Jiyeon duduk di pinggiran sungai buatan dengan panjang mencapai 18 kilometer, sangat yang indah, di akhir tahun disana akan menjadi tempat berlangsungnya festival seni Lantern. Festival lampu lampion warna warni berbagai bentuk dan ukuran.Kedua kaki Jiyeon kini sudah berada di dalam sungai hingga menenggelamkan setengah dari betis wanita cantik itu, Jiyeon tersenyum seraya mengangkat dua batang permen kapas berwarna putih dan pink pucat ke udara. Permen kapas yang baru saja diberikan Xiumin, setelah Jiyeon puas menangis sendirian di dalam mobil, sesaat setelah Jiyeon merasakan hembusan angin dari jendela kaca mobilnya yang terbuka dan mendapati dirinya sudah berada di areaCheonggyecheon Stream.

Jiyeon memandang Xiumin yang berdiri sigap di sampingnya, diatersenyum tertahan pada sosok sang supir pribadi yang selalu terlihat kaku sejak hari pertamanya bekerja. Dia memperhatikan wajah sang supir pribadi yang sejatinya, Xiumin memiliki wajah yang terlalu imut, persis seperti siswahigh school yang belum genap berumur tujuh belas tahun.

“Berapa umurmu?”Jiyeon menengadah, menanti jawaban Xiumin yang hanya diam. “Hey! Xiumin, aku bertanya padamu?” ulang Jiyeon seraya menarik tangan Xiumin hingga laki-laki itu membungkuk.

“Apa?”

Jiyeon tertawa pelan, memerintahkan Xiumin untuk melepaskan sepatunya dan ikut duduk seperti yang dilakukannya saat ini.Dengan ragu Xiumin menuruti perintah Jiyeon, saat wanita itu terus memaksanya.Menolak permintaan dari istri atasanmu, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan bukan?

“Berapa umurmu, Lee Xiumin?”Jiyeon kembali mengulang pertanyaannya, Xiumin sudah duduk di sampingnya.

Xiumin menoleh membungkuk hormat dengan senyum sopan yang terulas di ujung bibir, menggeleng pelan saat Jiyeon menyodorkan satu batang permen kapas ke arahnya.

“Dua puluh empat tahun, Nyonya Jiyeon.”Jawab Xiumin tetap dengan nada sopannya yang terdengar kaku, Jiyeon hanya mengangguk seraya kembali menikmati permen kapasnya.

“Aku pikir kau masih berumur tujuh belas atau delapan belas tahun, Sehun berarti sudah tua ya, dia sudah hampir tiga puluh tahun.”Jiyeon terkekeh pelan.“Hey!Ngomong-ngomong dari mana kau tahu, jika aku sangat suka sungai Cheonggyecheon dan juga sangat menyukai permen kapas?”Jiyeon mengerak-gerakkan kakinya yang masih berada di dalam air hingga menimbulkan suara gemericik, wanita itu terlihat sangat senang hingga selalu tersenyum sejak Xiumin membawanya ke CheonggyecheonStreamsatu jam lalu.

“Hanya menebak, sungai ini sangat indah dankarena adik perempuanku juga menyukai permen manis itu, dia selalu akan berhenti menangis jika aku membelikan permen itu untuknya.” Jawab Xiumin hati-hati, jawaban yang sudah diberikan oleh seseorang yang memberinya perintah untuk membelikan Jiyeon dua batang permen kapas.

Jiyeon terdiam sesaat.“Kata-katamu mengingatkan aku pada ayah dan jugaSehun, mereka selalu membelikanku permen ini tiap kali melihatku menangis.”Jiyeon tertawa pelan seraya menatap orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.

“Ya Tuhan, aku bahkan selalu mengingat laki-laki brengsek itu, laki-laki yang selalu membuatku membutuhkan banyak permen kapas,” gumam Jiyeon disela-sela tawa sumbangnya yang kembali menguar, dia kembali memaksa Xiumin untuk memakan permen kapas yang di genggamnya.

Oiya, Xiumin, lain kali jika kau melihatku menangis lagi kau harus—-“ Jiyeon menghentikan ucapannya sebentar, Xiumin terlihat menatap layar ponselnya. “—-Kau harus membelikanku selusin cupcake strawberry.”

Xiumin terdiam, dia menatap sebaris pesan singkat dari seseorang di layar ponsel,lalu menatap Jiyeon yang kembali sudah melahap permen kapasnya.Seseorang yang memberinya perintah untuk membeli permen kapas, seseorang yang memberi perintah untuk membawa Jiyeon ke sungai Cheonggyecheon, pesan yang membuat Xiumin tersenyum tipis sebelum kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Directur Oh Sehun

Belikan juga selusin cupcake strawberry untuk istriku.

~000~

Sehun melangkah pelan memasuki rumah besarnya, wajahnya kusut, jas hitam berada di atas pundaknya yang bidang. Beberapa pelayan menyambut kepulangan pria konglomerat itu, mereka menunduk hormat, menerima uluran jas dan tas yang dibawa Sehun tetap dengan menunduk. Sehun menghela napas sesaat sebelum menaiki anak tangga, dia berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup rapat, melihat seorang laki-laki yang telah lebih dulu berdiri di depan pintu. Laki-laki berwajah tampan tanpa memiliki lipatan di bagian kelopak mata yang langsung membungkuk saat Sehun berjalan mendekat, laki-laki yang Sehun percayai untuk selalu menjaga Jiyeon selama dia tidak ada.

“Nyonya Jiyeon menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menangis hari ini, tapisetelah sampai di Cheonggyecheonsemuanya terlihat lebih baik, TuanOh.”

Sehun hanya mengangguk, memberi perintah tanpa suara pada laki-laki itu untuk berlalu sesaat sebelum Sehun membuka pintu kamarnya.Sehun tersenyum tipis saat mendapati Jiyeon yang sudah tertidur nyenyak di atas ranjang dalam posisi telungkup, posisi tidur yang sering Jiyeon lakukan jika hendak menyembunyikan mata bengkaknya dari Sehun.Sehunduduk di sisi ranjang, perlahan laki-laki itu membalikkan tubuh Jiyeon hingga di posisi telentang lalu menarik selimut hingga menutupi dada.Tangan Sehun terulur, mengusap wajah pucat Jiyeon lembut, pandangan Sehun beralih pada jemari Jiyeon yang masih terbungkus sapu tangan miliknya.Meraihnya hati-hati, lalu mencium punggung tangan Jiyeon dalam, meluapkan beribu kata maaf yang tak mampu terucap.Meluapkan semua penyesalan atas segala kekejaman yang sengaja dilakukannya pada wanita itu, pada wanita yang selalu menjadi alasan Sehun untuk tersenyum di balik sosok dinginnya yang terlihat keji.

“Berapa lama lagi dan sebanyak apa lagi aku harus menyakitimu, Jiyeon?Hingga kau menyerah dan memutuskan untuk meninggalkanku?”

Sehun membungkuk mencium kening Jiyeon, menahan airmata yang sudah memenuhi soket matanya, mencium sosok tersakiti yang begitu mencintainya.Sosok yang membuat Sehun merasa jika dunia ini terlalu kejam dan selalu tak berpihak pada dirinya.

“Aku sangat mencintaimu, Oh Jiyeon.”

~000~

Jiyeon mengerang, menatap mata bengkaknya dari balik kaca yang ada di walk in closet, memaki dirinya sendiri yang kemarin tak mampu menahan laju airmata hingga membuat lingkaran hitam serta membengkaknya kelopak mata. Dengan malas Jiyeon kembali menambahkan eye liner serta mengoleskan cream mata untuk menyamarkan, berjalan pelan menuju bagian lain dari lemari dinding yang menyimpan semua koleksi sepatu dan tas yang berjumlah ratusan pasang.

Jiyeon duduk di atas sofa berwarna peachyang ada di ruangan, menerima uluran teh hijau dari seorang pelayan yang bertugas melayaninya pagi ini. Jiyeon terlihat mengangguk saat seorang pelayan lainnya menunjukkan stiletto sepuluh centi meter warna hitam ke arahnya, terlihat manis untuk menjadi alas kakinya yang pagi ini terbalut pakaian formal berwarna merah di atas lutut. Jiyeon mengalihkan pandangannya pada sosok bibi paruh baya yang tersenyum santun padanya, bibi Jung yang sudah menjaganya sejak kecil dan ikut tinggal bersamanya sejak Jiyeon menikah.Bibi Jung membungkuk seraya menjabarkan kalimat jawaban, tanpa Jiyeon perlu repot-repot untuk mengeluarkan pertanyaannya.

“TuanOH sudah bertolak ke Jepang pagi-pagi sekali, Jiyeon aggashi.”Jiyeon mengangguk.

“Apa dia akan menginap disana?” tanya Jiyeon seraya menyerahkan cangkir tehnya pada pelayan yang berdiri di sampingnya, stiletto hitam sudah membungkus kakinya.

“Nanti malam Tuan muda Oh sudah kembali ke Seoul.”

Jiyeon beranjak, berjalan keluar dari walk in closet d ikuti bibi Jung yang berjalan pelan di sampingnya. Wanita cantik itu terdengar bergumam pelan, membuat bibi Jung hanya mampu tersenyum tipis, bibi yang tahu pasti dengan semua kesedihan Jiyeon selama ini.

“Aku justru berharap dia tidak pernah kembali, Bibi Jung.”

~000~

Jiyeon masih berkutat di balik meja kerjanya, tumpukan berkas perusahaan memusingkan kepalanya. Dia memutar otak pintarnya untuk menambah aksesoris pada beberapa desain mobil yang diserahkan oleh bagain desain padanya untuk segera diselesaikan, mobil yang akan segera dipasarkan dalam beberapa hari ke depan.Hembusan napas berat terhembus dari pernapasan Jiyeon, mengacak rambut panjangnya yang tergerai, geram saat merasa jika desain tambahan yang dibuatnya jauh dariapa yang diharapkan. Jika saat ini Jiyeon sedang tidak marah pada Sehunkarena perbuatan laki-laki itu kemarin, sudah bisa dipastikan dia akan kembali meminta pada suami brengseknya itu untuk membantunya.

Satu ketukan pintu menghentikan pergerakan tangan Jiyeon di atas kertas, dia menatap sekilas sosok sekretaris cantik yang berdiri membungkuk di depan meja kerjanya. Di tangan sang sekretaris terdapat dua kotak besar berwarna biru yang sedikit menarik perhatian Jiyeon,dia terlihat kembali melirik ke arah sang sekretaris.

“Direktur Song meminta anda untuk menggantikan beliau menghadiri undangan dari TuanByunBaekhyun, editor dari Ceci Magazineyang hari ini berulang tahun.”

Seketika mata Jiyeon melebar, senyumnya merekah, dia sedikit kepalanya karena tidak mengingat hari ulang tahun temannya itu.Jiyeon mengangguk cepat seraya beranjak dari tempat duduknya.Menghadiri acara yang ada hubungannya dengan fashion tentu membuat Jiyeon sipenggila dunia fashion, melonjak kegirangan. Jiyeon meraih dua kotak yang disodorkan ke arahnya, berisi pakaian dan sepatu untuk acara yang Jiyeon yakini akan membuatnya senang.

~000~

The Grand Hyatt Hotel

Birthday Party – 04.00 pm

Jiyeon menatap sekali lagi penampilannya dari balik kaca kecil yang di pegangnya, mengusap rambutnya yang kali ini di buat sedikit bergelombang di bagian bawah dan sudah berganti menjadi sewarna hazelnut. Wanita cantik itu melirik Xiumin yang terlihat sudah siap dalam balutan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu warna putih.Jas dan dasi yang sengaja dipilih Jiyeon untuk pria yang kali ini diminta Jiyeon untuk menjadi pendampingnya di pesta, sebagai ucapan terima kasih untuk dua batang permen kapas Xiumin kemarin.Byun Baekhyun adalah seorang yang sudah Jiyeon kenal sejak beberapa tahun lalu, mereka pernah bekerja sama sebelumnya.

Jiyeon sendiri sudah terbalut dress hitam selutut model kemben, aksen emas di bagian dada, memakai sepatu high heelsepuluh centi meter warna gold, sebuah tas tangan yang juga berwarna gold. Jiyeon tersenyum sekilas sesaat sebelum memerintahkan Xiumin untuk turun, Xiumin pun mengangguk, dia turun lalu membukakan pintu.Jiyeon berjalan anggun memasuki tempat pesta yang sudah disulap bak negeri esdi cerita Frozen yang fenomenal, tempat yang sudah ramai didatangi oleh orang-orang kalangan atas dalam balutan dress mewah dari perancang terkenal. Jiyeon tersenyum ke arah awak media yang mengabadikan semua tamu saat berjalan di red carpet, dia menoleh sebentar ke belakang sesaat sebelum melanjutkan langkahnya, memberi isyarat pada Xiumin yang berjalan terlalu jauh di belakangnya untuk mendekat.

“Santai saja Xiumin, anggap saja kau adalah orang penting di pesta ini dan bersenang-senanglah.”Jiyeon tertawa kecil, Xiumin hanya mengangguk kaku seperti biasanya.

Dalam hitungan menit Jiyeon sudah membaur dalam pesta, diikuti Xiumin yang setia berjalan mendampingi Jiyeon dikemerihan pesta.Jiyeon menahan langkah dan senyum saat menatap sosok cantik dalam balutan gaun panjang bak putri negeri dongeng, mantel merah di bahunya, mengepang rambut merah kecoklatan miliknya menjadi dua bagian.Tersenyum seraya menyibakkan poni miring yang menghiasi keningnya, berjalan mendekati Jiyeon dengan tangan yang terentang.

“Sudah kuduga pasti kau yang akan datang ke pestaku, bukan ayahmu yang super sibuk itu Jiyeon Sayang.”Jiyeon memeluk sosok Baekhun, seraya mengucapkan kata selamat ulang tahun.

“Dan aku benar-benar kesal saat tahu kau tidak mengundangku, ByunBaek.”Jiyeon memukul pelan pundak Baekhyun yang hanya terkekeh.“Salahkan ayahmu, dia yang melarangku mengundangmu, dia bilang ingin memberi kejutan, pemikiran yang sedikit membuatku binggung.”Baekhyun terkekeh, dia tak begitu berminat membahas tentang Jongki di pestanya kali ini.

Jiyeon menatap penampilan Baekhyun dari atas hingga bawah, laki-laki itu benar-benar terlihat cantik bahkan lebih cantik dari kaum perempuan itu sendiri.“Aku pikir kau akan berdandan sepertiQueenElsadan bukan Princess Anna.”

“Sudah terlalu banyak orang-orang diluar sana yang berdandan seperti Elsa,”Baekhyunmengibaskan gaun yang dikenakannya.

Xiumin menautkan alisnya, dia bertanya-tanya, makhluk apakah yang kini berdiri di depannya, makhluk yang terlihat cantik dan tampan dalam waktu yang bersamaan. Merasa diperhatikan Baekhyun melirik Jiyeon, dia tampaktidak suka, menganti senyum hangat yang sempat tercipta di wajah laki-laki yang terkenal dengan ucapan sombongnya itu dengan senyum angkuh yang terkesan dingin.

“Siapa dia?Apa dia simpananmu, Sweet Heart?” seketika Jiyeon tertawa,lalu melirik Xiumin yang hanya membungkuk hormat ke arah Baekhyun.

“Jika aku mengatakan siapa dia yang sebenarnya, apa kau akan mengusirnya?”

Baekhyun memiringkan kepalanya, kembali memperhatikan Xiumin seksama.Xiumin, laki-laki itu terlihat seperti orang kalangan atas yang pantas berada di pestanya, pikir Baekhyun, bibirnya terlihat lebih maju dari posisi seharusnya.

“Memangnya dia siapa?”

“Dia Lee Xiumin, supir pribadiku.”

Seketika mata Baekhyun membulat, dia berteriak berlebihan, lalu kembali menelitik penampilan Xiumin dengan senyum remehnya.

WHATT!!!Sayang… bagaimana mungkin kau membawa seorang supir ke pesta mahalku?”

Jiyeon hanya tertawa dia merangkul lengan Baekhyun.“Tapi dia tampan ‘kan?”

Baekhyun diam sesaat dan kembali memperhatikan penampilan Xiumin seksama, sesaat kemudian tanpa sadar laki-laki itu terlihat mengangguk sekilas, membuat Jiyeon dan Baekhyunsaling pandang danpada akhirnya tertawa bersama. Baekhyun menghentikan tawanya, mata bulat laki-laki itu melebar dalam binar kebahagian yang terlihat sedikit berlebihan.

“KimJongin!”

Seketika Jiyeon mengikuti arah pandang Baekhyun, tersenyum saat mendapati sosok laki-laki tampan yang juga sudah tersenyum ke arahnya seraya berjalan mendekat.Jiyeon melirik Baekhyun yang sudah tersenyum lebar seraya berbisik pelan.

“Kau juga mengundangnya?”

“Tentu saja Sayang, dia adalah salah satu pria yang paling diminati tahun ini, lihatnya, dadanya bidang sekali.”Gumam Baekhyun dengan kekehan nakalnya.

“Happy Birthday.” Ucap Jongin, dia tersenyum menawan.

“Terima kasih,” jawab Baekhyun dia mengibaskan gaun panjangnya.

Eoh!Senang bisa bertemu denganmu lagi, Jiyeon.”Jongin melebarkan senyumnya, menatap Jiyeon lekat hingga Baekhyun menaikkan satu alisnya.

Ah!Ternyata kalian sudah saling kenal?”Baekhyun menelitik aura lain di mimik wajah Jongin, aura yang membuat Baekhyun mengedipkan satu matanya penuh arti pada Jiyeon.

“Jongin memesan mobil pada ayahku,” Terang Jiyeon sebelum Baekhyun sempat bertanya lebih jauh.

Ah!Baiklah! Sepertinya aku harus menyapa tamuku yang lain, dan— Hey!Bisakah kau menyingkir sebentar?” ucap Baekhyun dengan memandang Xiumin penuh arti, membuat Xiumin mengangguk mengerti lalu segera berlalu sesaat setelah Jiyeon menganguk padanya.

“Diaselalu saja berdandan aneh,” ucap Jongin saat Baekhyun menjauh.

“Iyah, dia memang seperti itu.”

“Kaubaik-baik saja?”Jiyeon mengangguk.

“Iyaaku baik-baik saja, apa aku terlihat buruk?”

Jongin mengeleng pelan. “Tidak aku hanya—-”

“Tenanglah akubaik-baik saja, Jongin.”

Pesta berlangsung meriah, Jiyeon kembali tertawa dengan lelucon yang di lontarkan Jongin, dia menghapus airmata yang ada di ujung soketkarena dia terlalu banyak tertawa saat ini, duduk berhadapan dengan Jongin dalam kemeriahan pesta ala negeri dongeng yang semakin meriah.Jiyeon benar-benar merasa jika beban hatinya perlahan mulai terlupakan, setiap kali tertawa bersama Jongin, tertawa bersama laki-laki yang selalu menatapnya penuh kekhawatiran.

“Apa kau suka festival musim semi Jiyeon?”Jiyeon mengangguk sekilas, dia tengah menikmati pudding buah yang tersaji di atas meja.

“Aku dengar festival Canola Flowerdi Jeju akan dimulai besok,” Jiyeon menghentikan gerakan tangannya untuk menikmati pudding, lalu menatap Jongin berbinar.

“Jeju?”

“Eoh!”

“Ah!Aku suka sekali Jeju, Canola festival adalah satu-satunya festival musim semi yang aku tunggu-tunggu, sudah lama sekali aku tidak melihat festival itu.”

Jongin tersenyum lega, Jiyeon terlihat sangat senang, entahlah Jongin hanya merasa tenang jika melihat Jiyeon yang bisa tersenyum bahkan tertawa lepas seperti saat dia belum mengetahui luka lara yang dialami wanita cantik itu.

“Jika kau tidak keberatan, kau bisa ikut denganku ke Jeju besok pagi, dan jika dia—-“

“Baiklah!”Potong Jiyeon cepat.“Dan tenanglah,Sehun tidak akan peduli, dia tidak akan pernah peduli dengan apa yang aku lakukan.” Jiyeon tersenyum samar lalu kembali menikmati pudingnya.

Jongin menatap Jiyeon yang kembali menikmati pudding, wanita itu selalu mampu menyembunyikan semua keterpurukannya dengan sangat baik.Sesekali Jiyeontertawa, melihat ke arah panggung yang kini sedang menampilkan pertunjukan dari cerita dongeng Frozen.Cerita dongeng karya Hans Christian Andersenyang oleh Walt Disneydi angkat ke layar lebar dan mendapat penghargaan sebagai film animasi terlaris di sepanjang tahun 2013.Tapi Jongin juga dapat melihat aura bosan yang dicoba disembunyikan Jiyeon di balik mata beningnya yang menawan.

“Bosan?” tanyaJongin saat pandangan mereka tak sengaja bertemu. “Eoh!Sedikit, aku sudah terlalu sering melihat pertunjukan Queen Elsa dan Princess Anna.”Jongin mengangguk mengerti.

“Jiyeon, apa kau mau mencoba arena ice skating yang ada di hotel ini?

Jiyeo diam sebentar, lalu mengangguk senang.

Jiyeon terdiam menatap arena es yang ada di depannya, mengerjab pelan saat udara dingin mulai menelusup masuk menembus pori dan menyakiti sum-sum tulangnya. Dia gugup melihat arena bermain yang sejak dulu selalu Sehun larang untuk di sentuhnya, karena akan membekukan tubuhnya dalam hitungan menit, jika Jiyeon tidak memakai pakaian hangat super tebal lengkap dengan syal dan sarung tangan.

“Jika kau ingin mati, maka bermainlah di arena ini sampai puas!”

Jiyeon tersenyum saat membayangkan reaksi Sehun jika tahu saat ini dia ada di arena ice skating, Jiyeon masih sangat ingat, dulu Sehun pernah marah besar saat Jiyeon merengek untuk diizinkan bermain ice skating. Ya Jiyeon yangalergi pada air hujan, mempunyai daya tahan yang buruk pada suhu dingin, Jiyeon tidak akan mampu bertahan jika tanpa baju berlapis super tebal yang membungkus rapat tubuhnya. Jiyeon melirik Jongin yang terlihat sudah memakai sepatu es, Jongin tersenyum seraya melepaskan jas yang dikenakannya, tanpa kata laki-laki itu meraih sepatu Jiyeon dan memakaikan jas besarnya di tubuh Jiyeon, mengabaikan tatapan Jiyeon yang terkejut.Jongintersenyum seraya membungkuk hingga berada di posisi berjongkok tepat di depan Jiyeon,mengerakkan tangannya meraih kaki Jiyeon dan membuat wanita itu mengerjab. Jiyeon tergagap berusaha menahan tangan Jonginyang sudah bergerak, untuk memakaikan sepatu es di kakinya yang dingin.

Ah!Jongin aku—-,”

“Selesai!”Jongin kembali berdiri. “Aku lihat kau hanya melamun, jadi jika menunggumu memakai sepatu sendiri, aku rasa kita tidak akan pernah bermain,”

Jongin tersenyum hangat meraih jemari Jiyeon yang dingin lalu mengusapnya pelan, menghembuskan napasnya di sana. Jiyeon tersenyum dengan apayang di lakukan Jongin dan membiarkan laki-laki itu pada akhirnya menggenggam jemarinya sesaat sebelum mereka meluncur di arena es. Jiyeon tertawa, mereka meluncur bersama, tangan mereka tetap bertaut, Jiyeon tertawa saat Jongin memberinya perintah untuk berputar pelan.Jiyeon yang sejatinya sangat suka berseluncur pun tersenyum, mulai berputar,wajahnya menengadah, berputar sebanyak tiga kali dengan gaya bak seorang penari es yang sangat baik. Jongin bertepuk tangan saat Jiyeon berhasil melakukannya putaran, tak lupa Jongin juga memberikan bungkukan dan mengangkat jempolnya ke udara untuk aksi Jiyeon yang sempurna.

Wuah!Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?”

Jiyeon hanya mengangguk pelan, napasnya mulai tersengal.

“Jongin bisakah—- kita berhenti?”

Jiyeon memejamkan mata,dia merasakan nyeri pada tulang-tulangnya, merasa jika tubuhnya membeku, suhu tubuh yang mulai bertambah.Jiyeon terhuyung dan hampir terjatuh jika Jongin tidak sikap menangkap tubuhnya, lalu membawa Jiyeon keluar dari arena es.

“Kau baik-baik saja?”tanyaJonginpanik saat mereka sudah berada jauh dari arena es.

Jongin membawa Jiyeon ke sebuah ruangan yang terasa lebih hangat, Jiyeon mulai memucat.Jiyeon yang merasa tak tahan lagi dengan semua rasa dingin yang menyerangnya,tanpa sadar merapatkan tubuhnya pada Jongin.

“Aku—- aku tidak bisa berada di tempat yang terlalu dingin, tanpa baju hangat yang tebal,Jongin.”Suara Jiyeon semakin lirih.

Dan di detik berikutnya tanpa pikir panjang Jongin langsung menarik Jiyeon ke dalam dekapan eratnya, mengusap punggung Jiyeon, dia cemas dan membiarkan Jiyeon menyembunyikan wajah dinginnya di dada Jongin yang hangat. Jiyeon hanya diam saat Jonginsemakin mengeratkan pelukannya, wanita itu hanya merasa jika dia memang butuh sesuatu yang bisa membuatnya hangat sebelum semuanya menjadi lebih buruk.

“Maafkan aku, aku tidak tahu tentang hal ini.”Jongin meletakkan kepalanya di atas kepala Jiyeon, dia terus mengusap punggung dan lengan Jiyeon, berharap jika wanita yang masih bungkam dalam pelukannya itu bisa merasa lebih hangat.

“Jongin,” Jongin menunduk tanpa melepaskan pelukannya.“Terima kasih, kau benar-benar laki-laki yang baik,beruntung sekali aku bisa mengenalmu.”Ucap Jiyeon tulus, dia melepaskan diri dari pelukan Jongin, merasa jika tubuhnya mulai kembali normal.

Jongin hanya tersenyum seraya mengerakkan tangannya, mengusap wajah Jiyeon lembut, dalam tatapan memabukkan yang membuat pandangan Jiyeon terkunci. “Aku juga sangat senang bisa mengenalmu Jiyeon, mengenal seorang wanita yang sangat kuat hingga tak pernah terlihat lemah di depan banyak orang.”

Jiyeon tertawa pelan mendengar ucapan Jongin, membiarkan Jongin merapatkan jas yang membungkus tubuhnya kini. “Seandainya saja aku bertemu denganmu lebih dulu, mungkin—- hidupku tidak akan seburuk saat ini,”

Mereka terdiam untuk beberapa saat, tengelam dalam pikiran masing-masing, pandangan mereka masih bertaut.Jongin kembali mengerakkan tangannya, mengusap wajah Jiyeon seraya mengeluarkan suaranya, suara yang mengucapkan sebaris kalimat yang membuat Jiyeon terdiam.

“Jika kau mau, kau bisa mengubah jalan hidupmu, Song Jiyeon.”

Sebaris kalimat yang membuat Jiyeon mulai berpikir ulang tentang hidupnya, tentang Sehun dan tentang semua lara yang selama ini dipertahankannya. Tentang permintaan Sehun yang selama ini terasa mustahil untuk dilakukan, tentang melepaskan laki-laki yang tidak pernah menginginkannya sejak awal.

Sudah saatnya Jiyeon mulai berpikir untuk melepaskan Oh Sehun

Jiyeon mengerjab gugup.“Ak— aku—-”

“Nyonya Jiyeon!” suara lain dari balik punggungnya membuat Jiyeon menghentikan ucapannya, sosok Xiumin yang baru saja membuka pintu ruangan. “Apa yang Nyonya lakukan di tempat dingin ini?” Xiumin terlihatcemas.

Jiyeon berbalik, menatap Xiumin lalutersenyum manis. “Bermain ice skating.”

“Ap— apa?”

“Tenanglah Xiumin, Nyonyamu sudah baik-baik saja sekarang,” ucap Jongin seraya tersenyum, tapi Xiumin justru membuang muka seraya melepaskan jas Jongin yang melekat pada Jiyeon.

Jiyeon yang binggung dengan gerakan super cepat Xiumin hanya bisa termangu, karenatanpa sadar kini tubuhnya sudah berganti dalam balutan jas Xiumin yang hangat.Jongin bahkan hanya bisa terdiam saat melihat aksi cepat Xiumin, gerakan yang bahkan hampir menyamai kecepatan pedang para ninja assassin saat sedang membantai musuh-musuhnya.

“TuanOh Sehun pasti akan marah besar jika tahu Nyonya bermain ice skating,” Xiumin melirik Jongin dingin. “Sebentar lagi TuanOhakan mendarat di Seoul, jadibisakah kita pulang sebelum TuanOh tiba di rumah, Nyonya Jiyeon?” ucap Xiumin dengan nada sopan dan sikap hormatnya, Jiyeon tertawa pelan dengan semua sikap berlebihan Xiumin, Jiyeon yakin Xiumin akan kemurkaan Sehun.

Jiyeon pun hanya bisa mengangguk.“Baiklah kita pulang setelah aku berpamitan dengan Baekhyun.”Jiyeon melihat ke arah Jongin.“Jongin aku pergi dulu, sampai jumpa besok dan terima kasih untuk malam ini.” ucap Jiyeon sesaat sebelum berlalu dari hadapan Jongin, di ikuti Xiumin yang berjalan dua langkah di belakangnya.Xiumin yang kembali menoleh ke arah Jongin dengan tatapan tajam yang tak mampu terartikan oleh siapapun.

~000~

Jiyeon memutar knop pintu perlahan, dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar untuk memastikan jika Sehun tidak ada di dalam.Entahlah Jiyeon masih terlalu malas bertemu pria kejam itu malam ini, Jiyeon masih terlalu malas jika harus beradu argument di malam yang sedikit melelahkan tubuhnya.Jiyeon menarik napas lega karena ternyata Sehun tidak ada di kamar mereka, bibi Jung bilang laki-laki itu sudah pulang sejak setengah jam yang lalu dan Jiyeon bisa menebak jika Sehun pasti sedang berada di ruang kerjanya.Jiyeon mengerakkan tangannya ke arah kening, merasa jika suhu tubuhnya belum benar-benar normal.Dia memutuskan minum obat penurun panas, melepaskan jas Xiumin di tubuhnya dan high heelyang dia letakkan sembarang di lantai kamar.Berjalan pelan menuju kotak obat, namun langkah Jiyeon terhenti oleh suara seseorang yang bahkan membuatnya terlonjak.

“Bermain ice skating? Cih!Hebat!”

Jiyeon memalingkan wajahnya,Sehun berdiri di ambang pintu kamar mereka, berjalan mendekat ke arahnya, dingin seperti biasanya.

“Kenapa?Jongin mengajakku bermain ice skating, apa ada masalah dengan itu?” Jiyeon menajamkan pandangannya, melipat tangandi depan dada, aura tiran mulai tampak terpahat di wajah rupawannya.

“Jongin?”

“Eoh?”

Jiyeon mendongak menanti reaksi Sehun, ini pertama kalinya Jiyeon menyebutkan nama laki-laki jika mereka sedang berdebat.

“Jadi kau ingin mati bersama seorang laki-laki?”Sehun menundukkan tubuhnya hingga tinggi badan mereka sejajar. “Aku tidak peduli kau bermain ice skating dengan siapa Jiyeon, aku juga tidak peduli jika kau ingin mengakhiri hidupmu.”

“Ya tentu saja!Sejak dulu kau memang tidak punya hati untuk peduli,” Jiyeon menatap Sehun lekat, menatap laki-laki yang hingga kini masih terlalu dicintainya.

Jiyeon memejamkan matanya sesaat, merasa jika suhu tubuhnya kembali menghangat, namun dia mengabaikannya lalu kembali menatap Sehun yang baru saja hendak beranjak.

“Apa kau tahu jika kau adalah laki-laki paling brengsek yang pernah kutemui?”Sehun menghentikan langkahnya, menunggu kelanjutan kalimat Jiyeon tanpa repot-repot untuk menatap wanita itu.

“Bahkan kau terlalu brengsek OhSehun!”Jiyeon memberi jeda pada ucapannya, mengepalkan tangannya kuat seraya menahan butiran bening yang kembali datang di pelupuk matanya.

“Kau terlalu brengsek hingga aku selalu tak mampu untuk mengabaikanmu, terlalu brengsek hingga aku selalu tak mampu meniadakanmu di dalam hati dan pikiranku,” Jiyeon tertawa sumbang seiring tetesan air mata pada akhirnya mengalir di pipi pucatnya, menatap Sehun yang tetap tak berbalik menatapnya.

“Apa aku terlihat sangat menyedihkan, Sehun?Aku bahkan tak sanggup memintamu melepaskanku, hanya karena aku tak punya kekuatan untuk melihat ayahku menghancurkanmu.”Airmata Jiyeon kembali mengalir di pipinya, menahan semua rasa sesak yang sudah terlalu lama menyakitinya.

Sedangkan Sehun,diahanya mampu menutup matanya, mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan kakinya untuk tidak berbalik. Untuk tidak mendekap sang malaikatdan membiarkan semua terlihat seperti biasanya, membiarkan dirinya tetap terlihat keji untuk sosokmalaikat hati yang begitu dicintai hingga semuanya bisa berakhir sempurna.

“Jika kau maukau bisa mengubah jalan hidup mu, Song Jiyeon.”

“Dan sekarangaku memutuskan untuk,” Jiyeon menarik napasnya sebentar, menahan isak yang mulai tak mampu ditahan.“Aku melepaskanmu, OhSehun.”

Mata Sehun terbuka, terdiam, membeku, Sehun tetap tidak berbalik.Dia memilih untuk melangkah menjauh dalam diam yang menyayat malam hingga Jiyeon tak pernah tahu, jika Sehun baru saja meneteskan airmatanya.Airmata untuk kehilangan seorang wanita yang di cintainya, melebihi dia mencintai nyawanya sendiri.

~TBC~

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 5)

  1. Ternyata sehun cinta bgt sama jiyeon, lagi2 dia korban perasaan -o-
    kak, cuma ngasih saran ya
    banyak bgt setelah tanda titik gak ada spasi, terus jg antar kata gak ada spasi
    kata “bongsai” itu yg bener “bonsai” kak kalo gak salah
    maaf kalo banyak ngritik ya kak, tetep semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s