The Gray Autumn (Chapter 7)

IMG_20160103_094350

The Gray Autumn (Chapter 7)

By : Ririn Setyo

Song Jiyeon || Oh Sehun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

 

Seorang laki-laki sangat tinggi, rambut berpotongan pendek berwarna kuning menyala, mengenakan kemeja putih bermotif bunga warna marun, menyeruak keluar dari pintu kedatangan, berjalan di tengah keramaian orang-orang yang juga baru saja mendarat di Seoul.Rahangnya tegas, tatapan mata tajam dan terkesan mengintimidasi, senyum dingin dan tidak bersahabat.Diamenghentikan langkah santainya saat seorang laki-laki yang terlihat jauh lebih pendek darinya membungkuk hormat, lalu memberinya petunjuk untuk berjalan menuju sebuah mobil hitam yang telah menunggunya di pintu utama bandara Incheon.Seorang valet parking dengan senyum ramah yang terprogram membukakan pintu mobil, menampakkan seorang laki-laki berwajah tampan, senyum manis memabukkan, duduk tenang di dalam mobil, tersenyum ke arahnya seraya mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.

“Selamat datang di Seoul, Kris Duizhang!”

Kris tersenyum tenang,dia menghirup banyak-banyak udara Seoul yang baru dirasakannya untuk pertama kali, memandang sekilas ke arah laki-laki di dalam mobil dengan tatapan dinginnya yang menusuk.Laki-laki itu adalah orang yang membantunya merobohkan perusahaan ayahnya —Cho Junseok— yang berada di Georgia, hingga perusahaan pipa baja dan property itu bangkrut tanpa sisa. Krismengenal pria itu beberapa tahun silam saat dia masih berada di Guangzhou, menawarkan bantuan menajubkan pada Kris dan berujar jika mereka berada di pihak yang sama. Dia juga ingin menghancurkan keluarga Junseok, demi membalaskan rasa sakit hati mereka di masa lalu.

“Senang bisa bertemu denganmu lagi, KimJongin!”

~000~

Memandangi wajah tidur Sehun adalah satu-satunya pekerjaan yang Jiyeon lakukan sejak dia membuka mata pagi ini, satu hal yang sangat disukai Jiyeon,rasanya membahagiakan dan membuat senyum di bibirnya merekah tanpa perintah.Wajah tidur Sehun terlihat damaiselayak malaikat, Jiyeon benar-benar tidak percaya jika wajah bak malaikat itu, menyimpan sosok kejam yang meluluhlantahkan hati dan hidupnya.Dengan bertopang di salah satu tangan yang bertumbu di atas siku,Jiyeon merapatkan tubuhnya pada Sehun,memajukan wajahnya, mengerjabkan mata beningnya,lalutertawa ketikaSehun mengeliat.

Tanpa perintah jemari Jiyeon mulai bergerak menelusuri tulang rahang Sehun yang tegas, hidung mancungSehun yang sempurna, bibir tipis yang selalu mengecupnya hangat, hingga mampu membuat Jiyeon melupakan fakta jika laki-laki itulah yang selalu menyakitinya selama ini.Terbingkai apik dengan sepasang alis tebal yang menjadi bagian paling di favoritkan oleh Jiyeon, dari wajah laki-laki yang begitu dicintai dengan segenap jiwanya.Jiyeon tidak mengerti mengapa sejak dulu dia selalu tak bisa membenci Sehun, selalu tak mampu mengabaikan ataupun meniadakan laki-laki itu dari dalam hati walau sebanyak apapun Sehun telah menyakitinya.Jiyeon merasa jika ada sesuatu rasa yang melarangnya untuk melepaskan ikatan hidupnya pada sosok Sehun yang kejam, suatu rasa yang hingga kini belum mampu Jiyeon temukan alasannya.

“Berhenti memandangi wajahku, Oh Jiyeon?”

Jiyeon hanya mampu mengerjab dan serta merta menjauhkan jemarinya dari wajah Sehun,dia terkejut, lalu mendengus sebal,irishitam pekat Sehunkini sudah menatapnya tajam.

“Bukankah kau pernah bilang, jika wajahku terlalu brengsek untuk kau pandangi?”

Bermaksud menjauhkan diri dari Sehun tanpa jawaban, Jiyeon pun beringsut dari posisinya wajahnya berpaling.Namun sayangnya gerakan tubuh Jiyeon terbaca jelas oleh Sehun dan tanpa aba-aba laki-laki itu mengerakkan tangannya, menarik tubuh Jiyeon hingga jatuh tepat di atas tubuhnya.Sehun mengangkat sedikit wajahnya, menatap Jiyeon yang mengeliat seraya berusaha melepaskan diri darinya.

“YAK!Apa yang kau lakukan?”

Tanpa menghiraukan respon Jiyeon yang terus berusaha melepaskan diri dari dekapan Sehun, dia justru mengusap wajah Jiyeon dengan satu tangannya yang lain. Sehun menatap Jiyeon lekat, tersenyum hangat, menyingkirkan helaian rambut panjang Jiyeon yang menutupi wajah ke belakang telinga.

“Memeluk istriku, apa ada yang salah dengan itu, Nyonya Oh?”

Berusaha menyembunyikan rona merah muda yang dengan lancang muncul di kedua pipi putihnya, tiap kali Sehun menyebutnya dengan sapaanNyonya Oh yang mempertegas jika dirinya adalah milik pria itu, Jiyeon hanya tertawa pelan dan balas menatap Sehun lewat mata beningnya yang menawan. Mengurungkan niat untuk lepas dari Sehun yang menahan punggungnya, Jiyeon memilih tetap berada di atas tubuh pria itu.

“Apa kau tahu jika saat ini kau terlihat seperti pria baik-baik yang begitu mencintai istrinya?”

Jiyeon kembali tertawa hingga kalimat singkat dari bibir Sehun menguar, menghilangkan tawa Jiyeon seketika.Diabeku,menatap Sehun tidak percaya.

“Aku memang sangat mencintai istriku,”

Kini giliran Sehun yang tertawa,dia menekan kening Jiyeon saat wanita itu terlihat hanya terpaku, Sehun mengacak rambut panjang Jiyeon hingga wanita itu tersadar dengan erangan keras di belakangnya.

“Ya Tuhan!Bagaimana mungkin aku sempat percaya pada kata-kata bualanmu, Sehun.”

Jiyeon memukul keningnya sendiri, menyadari fakta jika Sehun terlalu sering berakting layaknya suami yang baik jika berada di depan public.Sehun punya segudang kata-kata manis untuk menunjang actingnya yang terkadang membuat Jiyeon tanpa sadar tersenyum bahagi, seolah-olah itu adalah kata-kata penuh makna yang keluar dari hati pria kejam itu.Jiyeon menekuk wajahnya,membiarkan Sehun membelai pipi, rambut dan kepalanya lembut.Membiarkan pagi ini Sehun mendekapnya dengan begitu erat, tanpa sadar Jiyeon menyandarkan kepalanya di dada Sehun dan menikmati belaian Sehun di punggungnya, matanya terpejam hingga beberapa menit berlalu.

“Apa kau sudah menyiapkan alasan yang tepat untuk ayahmu?” suara rendah Sehun membuyarkan suasana nyaman yang tercipta di antara mereka.

Kedua mata bening Jiyeon yang tertutup seketika terbuka, dia menggelang, lalu membuang pandangan ke arah jendela kamar yang pagi ini kacanya sedikit berembun.Embun pagi yang membuat hati Jiyeon semakin beku dalam ketakutan akan keputusan yang sudah diambilnya, keputusan yang disesali Jiyeon dan tidak akan pernah sanggup dilakukannya.

“Apa kau mau aku membantumu untuk mengatakan jika—- jika kita berdua memutuskan untuk berpisah?”

Sehun memejamkan matanya saat tak ada sautan apapun dari Jiyeon, menahan sebuah rasa sesak yang kembali memenuhi rongga dadanya, mendapati kenyataan jika sebentar lagi dia akan kehilangan sosok malaikatnyayang dicintai demi nyawa ayahnya. Demi nyawa laki-laki yang begitu disayangi Sehun melebihi apapun, demi nyawa lain yang jelas-jelas membutuhkannya lebih dari Jiyeon membutuhkannya.Sehun sangat yakin jika Jiyeon akan baik-baik saja tanpa dirinya, Jiyeon akan terus melanjutkan hidup walau dia sudah tidak ada di sisi wanita itu.Keyakinan yang membuat Sehun memutuskan untuk menyelamatkan ayahnya, keyakinan yang membuat Sehun melepaskan Jiyeon dari garis hidupnya.

Oppa,sebelum aku memutuskan alasan untuk mengakhiri ikatan di antara kita, aku ingin bertanya sesuatu padamu, sudah lama sekali ingin aku ingin menanyakannya padamu.”Jiyeon memberi jeda pada ucapannya, menarik satu napaspanjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Pernahkah kau mencintaiku, walau itu hanya satu kali saja?”Jiyeon memejamkan matanya menanti jawaban Sehun dengan detak jantung yang sudah bertalu cepat.

“Apa aku harus menjawabnya?” Jiyeon hanya mengangguk samar.

Sehun bangkit dari posisinya dengan tetap memeluk Jiyeon, hingga tubuh wanita itu ikut terbawa.Sehunmembenarkan posisi duduknya, tersenyum hangat seraya mengusap wajah Jiyeon lembut.Dia memajukan wajahnya, lalu mengecup kening Jiyeon, meluapkan semua rasa untuk wanita itu yang semakin sulit untuk disembunyikan.

“Apa kau tahu, terkadang kita hanya perlu merasakan tanpa harus bertanya,untuk mengetahui sesuatu hal di dunia ini, Jiyeon.”

Hening.Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara setelahnya, terdiam dalam pikiran masing-masing tanpa pernah terajut bersama hingga terkurung dalam dugaan rasa masing-masing.Dugaan yang selalu mampu membuat keduanya, berada di ruang rasa cinta yang berbeda.Sehunberdiri, bermaksud untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi, namun langkah Sehun terhenti saat suara Jiyeon terdengar samardi belakang punggungnya.

“Berarti—- aku menyimpulkan, selama ini kau tidak pernah mencintaiku.”

Sehun memejamkan matanya sesaat, menahan rasa sakit saat mengetahui jika hingga saat ini, Jiyeon belum juga mampu merasakan semua luapan cintanya.Rasa yang selalu berusaha untuk Sehun pedarkan, sejak laki-laki itu jatuh cinta pada Jiyeon.

“Baguslah jika kau mengerti tanpa aku perlu menjawabnya.” Jawab Sehun sesaat sebelum masuk kamar mandi, meninggalkan Jiyeon yang sudah meneteskan air matanya di belakang sana.

~000~

Kris duduk di bangku yang bersebrangan dengan Jongin, dia meneguk jus jeruk dari gelas tinggiyang tersaji di atas meja. Kris tidak berniat untuk ikut menikmati roti bakar seperti apa yang sedang Jongin nikmati saat ini, dia lebih tertarik pada apa yang akan dia dan Jongin bahas sebentar lagi, sebuah misi yang akan mereka tuntaskan sebentar lagi.

“Jadi— kapan kau akan menghabisi laki-laki itu?”

Suara dingin Kris menguar di ruang makan, Jongin mengahiri acara sarapan paginya yang tenang, menopang dagu di atas kedua tangan yang tertumpu di atas meja. Mata tajam Jongin menatap Kris, senyum licik terulas di ujung bibir, mendapati jika apa yang di rencanakannya sejak lama akan segera selesai dengan hasil sempurna.

“Bukan aku yang akan menghabisinya, tapi orang lain yang akan melakukannya karena sebuah fakta kejam dari hasil rancanganku.”

Kris menautkan kedua alis tebalnya, menunggu Jongin untuk melanjutkan kata-katanya.

“Fakta ini akan membuat kakakmu akan sangat dibenci oleh Jongki dan aku sangat yakinbahwa sebentar lagi Sehun akan benar-benar hancur tanpa nyawa yang melekat di raganya.Dan kauakan segera mengambil alih perusahaan Sehun, menikmatinya bersama semua kekayaan ayahmu yang sudah berada dalam genggamanmu, Kris.”

“Jangan sebut dia sebagai kakakku, aku tidak suka mendengarnya, Jongin.”Mata tajam Kris berkilat marah, tak mengubris kekehan Jongin.“Lalukau sendiri?Apa yang akan kau dapatkan, Jongin?”

“Kebahagian!Kebahagian melihat dua keluarga yang aku benci hancur, Duizhang!”Jongin menajamkan tatapannya, menyeringai menyeramkan di balik wajah rupawannya yang memukau.

“Aku sudah tidak sabar, jika menunggu Sehun yang melakukannya. Karena itu aku memutuskan akulah yang akan melakukannya, Kris. Jongki pasti akan membunuh Sehun setelah aku membongkar semuanya dan Jiyeon akan sangat terpuruk saat berpisah dari Sehun, lalu kita berdua tinggal menunggu Jongki tumbang dengan sendirinya.Jiyeonadalah sumber kelemahan terbesar dari Song Jongki!”

Kris mengangguk sekilas,dia kembali meneguk jus jeruknya dengan tenang.“Kau benar-benar licik, Jongin.”

“Terima kasih untuk pujiannya, Duizhang!”

Tawa sumbang Jongin terdengar seketika, menggelegar memecah kesunyian pagi yang terasa mencekam.Tawa atas semua rencana busuk Jongin demi menuntaskan dendamnya di masa lalu, dendam pada keluarga Sehun dan Song Jiyeon dengan satu rahasia rencana yang bahkan tak pernah diketahui oleh Kris Duizhang.

~000~

Berjalan pelan menuruni anak tangga dengan jemari yang bertaut erat dalam genggaman Sehun, adalah serangkaian rencana manis Jiyeon untuk menyambut ayahnya yang sudah duduk nyaman di depan meja makan, bersebelahan dengan sang istri tercinta yang tersenyum pada Jiyeon dan Sehun.

“Selamat pagi, Ayah,”

Jiyeon melepaskan tautan tangannya pada Sehun, lalu melingkarkan tangannya di sekeliling leher Jongki, mengecup pipi pria yang membuatnya memiliki marga Song di depan namanya sebelum dia menikah dengan Sehun.

“Apa kalian selalu bangun sesiang ini di hari minggu?”

Jiyeon tertawa pelan lalu mengambil tempat di sebelah Jongki, diikuti Sehun yang memilih duduk bersebrangan dengan Jiyeon tepat di samping ibu mertuanya.

“Tidak juga.Akhir-akhir ini SehunOppa sangat lelah dengan pekerjaannya Ayah, jadi aku tidak tega untuk membangunkannya terlalu cepat.”

Sehun tersenyum saat Jiyeon meliriknya, dia menatap Jiyeon yang mulai larut dalam percakapan konyol bersama ayahnya. Percakapan yang membuat wanita cantik itu tertawa bahagia, Sehun tersenyum lega dan percaya jikaJiyeonnya pasti akan baik-baik saja setelah ini.Sehun mengalihkan tatapannya pada cincin putih yang masih melingkar di jari manisnya, memutarnya pelan dalam balutan rasa kalut yang merentas detak nadi.Membayangkan jika sebentar lagi dia tidak akan dapat mendengar tawa Jiyeonnya lagi, tidak akan dapat menatap wajah dari sosok malaikat hatinya lagi setelah Jiyeon memutuskan hubungan mereka hari ini.

Suara tapak kaki seseorang terdengar memasuki rumah besar Sehun, menampilkan sosok laki-laki tinggi berwajah rupawan yang tersenyum ramah.Dia menggunakan kaos putih lengan pendek, celana selutut dan sneaker warna senada.Pria itu menyapa ramah,Sehun menatap datar sosok tinggi yang datang, ketika pria itu tersenyum manis ke arahnya, lalu berjalan mendekat saat Jongki berseru seraya bangkit dari duduknya.

Ah, Aku mengundang Jongin untuk sarapan bersama kita,” Jiyeon memutar wajahnya, dia terkejut, Jongki kini tengah merangkul bahu Jongin dengan begitu akrab. “Ayah ingin mengajaknya bermain tenis bersama, bagaimanaSehun, kau tidak keberatan kan?”

Jiyeon menatap Sehun dengan rasa takut, mengetahui jika baru kemarin sore Sehun dan Jongin berada di situasi yang tidak terlalu baik.Jiyeon menggeleng pelan, berharap Sehun mempunyai sebuah alasan untuk menolak kehadiran Jongin pagi ini, namun harapan Jiyeon pupus seketika saat Sehun tersenyum seraya mengangguk pelan.

“Yah, tentu saja.”

~000~

“Beberapa waktu yang lalu ayah bertemu Jongin, membicarakan rancangan mobil yang kau buat, rancangan yang terlihat luar biasa,”

Tanpa bermaksud mengintimidasi Jongki menekan kata-kata terakhirnya,diamelirik ke arah Jiyeon yang berjalan pelan di sampingnya, menuju lapangan tenis yang ada di halaman belakang.Jiyeon mengigit jari kelingkingnya gusar, Jongki hafal betul jika putri tercintanya itu, sedang merasa sangat bersalah.

“Untuk kali ini aku memaafkanmu, karenaSehun melarang ayah memarahimu dan mengatakan jika dialah yang berinisiatif membantumu mendesain mobil Jongin.”

Jongki melambaikan tangannya ke arah Sehun dan Jongin yang sudah terlihat siap diposisi masing-masing, di tambah Xiumin yang kali ini akan menemani Sehun di satu tim yang sama untuk melawannya bersama Jongin.

“Sehun benar-benar pria yang tepat berada di sampingmu, sejak dulu dia selalu menjagamu dengan sangat baik, membantumu dan membelamu, sayang.”Jongki mengusap kepala Jiyeon.“Jangan pernah berpikir untuk berpaling darinya, apalagi berniat untuk meninggalkannya, kau mengerti?”

Jiyeon meluruskan pandangannya pada sosok Sehun di lapangan, menatap sosok laki-laki yang terlihat siap dengan bola dan raket tenis di tangannya. Jiyeon menghembuskan napasnya yang selalu terasa sesak tiap kali membahas tentang kedudukan Sehun di hatinya, jangankan meninggalkan Sehun, untuk sekedar mengalihkan pandangannya dari Sehun walaupun itu hanya sepanjang satu helaan napas saja Jiyeon tak mampu melakukannya.

Hampir dua jam berlalu, pertandingan pun selesai.

“Hari ini aku mengalahkanmu,Sehun.” Jongki tertawa, dia meneguk segelas air dingin.“Aku benar-benar harus mengucapkan terima kasih padamu,Jongin, kau tahu, kali pertama kali Sehun kalah dariku.”

Jonginmenegakkan posisi duduknya yang bersebrangan dengan Sehun,dia tersenyum tipis.

“Mengalahkan seseorang dengan bantuan tangan orang lain memang terasa sangat membahagiakan, benar begitu OhSehun?”

“Tidak!Karena itu hanyalah perbuatan dari seorang pengecut agar tidak terlihat lemah, Jongin.”Jawab Sehun tenang.

Tatapan Jongin berpedar marah, rahangnya terlihat mengeras, menatap dingin Sehun yang justru terlihat santai,menyesap minuman dingintanpa menatap Jongin sedikit pun.

“Selamat kau telah membuat ayahku berhasil mengalahkan suamiku, Jongin.”

Semua mata kini menatap ke arah wanita cantik dalam balutan dress mini berwarna biru, bermotif bintang kecil berwarna kuning yang baru saja muncul dari balik pintu beranda. Tersenyum anggun lalumendekati Sehun, dia duduk di samping Sehun yang sudah tertawa,diamerangkul pundak wanita itu.

“Dan ayahmu sangat senang dengan kemenangan ini Jiyeon Sayang,” satu kecupan di pelipis Sehun berikan saat Jiyeon memalingkan wajah ke arahnya, membuat wanita cantik itu tertawa seraya mengusap sisa pelu di wajah lelah Sehun.

Hey! Di sini ada Jongin! Haruskah kalian semesra ini?”

Jongki memutar bola mata, dia mendengus saat Jiyeon dan Sehun yang justru hanya tertawa, mereka tidak sadar dengan tatapan tajam Jongin yang merajam ketiganya dalam balutan kebencian yang terlihat begitu gamblang, di balik mata dinginnya yang berkilat aneh.

“Apa kau benar-benar mencintai istrimu, Sehun?”

Tawa hangat dari ketiga orang di hadapan Jongin terhenti, merekamenatap Jongin secara bersamaan. Jongki binggung, sedangkan Jiyeon terkejut dengan ketakutan dalam dugaan jika Jonginakanmembongkar kebusukan Sehunyang diketahui laki-laki itu selama ini. Berbeda dengan Sehun, diaterlihat tenang,Sehun menatap Jongin, dia tersenyum samar, namun mampu meremangkan bulu kuduk dan membuat suasana menjadi lebih tegang.

“Untuk apa kau menanyakan hal semacam ini, Jongin,” Jongki angkat bicara, merasa jika suasana di antara mereka terasa mulai tidak nyaman.

Jiyeon ikut berdiri, wajahnya terlihat pucat tanpa mampu berucap.Wanita itu hanya mampu mengerakkan tangannya, merangkul lengan Sehun dengan kuat hingga laki-laki itu memandangnya sekilas.

“Sehun tentu saja mencintai putriku, mereka saling mencintai—-“

“Tidak!Aku tidak mencintainya!”

Ucapan Jongki terputus seketika tanpa aba-aba, mengantung di udara dengan mata menatap terkejut ke arah Sehun yang kini tengah menatap Jongin.Jiyeon hanya mampu memejamkan mata,dia memaku, rangkulannyadi lengan Sehun terlepas.Dia menahan genangan air mata yang tanpa perintah sudah memenuhi kedua soket mata, meremas ujung dress pendek yang di kenakannya dengan wajah tertunduk.

“Tapi aku—“

Sehun melanjutkan kalimatnya dengan dada yang sedikit membusung, mata hitam pekatnya tertuju pada Jiyeon yang terdiam di sebelahnya.Sehun tersenyum samar lalu kembali menatap Jongin, menuntaskan kalimatnya yang tertunda hingga mata Jiyeon terbuka seraya menengadah menatap Sehun.

“—– aku sangat mencintainya!Dia adalah satu-satunya alasan bagiku untuk terus menghembuskan napashidupku di dunia ini.Apa jawabanku cukup memuaskanmu, Jongin.”

Kembali senyum tenang Sehun terulas, mengalihkan pandangan pada Jongki dengan tetap tersenyum, mendapati ayah mertuanya yang sudah menggeleng dengan kekehan leganya.Sehun mengerakkan kakinya,berjalan santai melewati Jongin tanpa kata tambahan, meninggalkan Jongin yang sudah menatap kepergiannyadengan tatapan tajamdi belakang sana.

~000~

Sehun mengancingkan kemeja putih yang membalut tubuhnya saat baru saja keluar dari walk in closet, dia merasa lebih segar saat baru saja selesai membersihkan diri. Laki-laki itu tersenyum ke arah bibi Jung yang sudah ada di dalam kamarnya, membungkuk hormat, membawakan secangkir coklat panas yang di pesan Sehun sebelum mandi.

“Haruskah kau terus menyembunyikan perasaanmu selama ini, Tuan Muda Oh.”Bibi Jung bergumam pelan setelah meletakkan cangkir berisi coklat panas di atas nakas yang ada di samping ranjang, tersenyum penuh arti saat Sehun hanya mengeryitkan dahi.

“Saya memang tidak tahu alasanmu melakukan semua ini pada nona kesayanganku, tapisaya tahu pasti jika rasa cintamu, lebih besar dari rasa cinta nona Jiyeon padamu, Tuan mMuda Oh.Jadi haruskah kau menyembunyikan hal sepenting ini darinya?”

Sehun hanya tersenyum lalu duduk di pinggir ranjang, menikmati coklat panasnya.“Ada satu hal yang tidak bisa aku ceritakan padamu, Bibi Jung, satu hal yang membuat ku terpaksamelakukan semua ini pada Jiyeon.”

Sehun menatap bibi Jung yang lagi-lagi hanya tersenyum, menatap bibi paruh baya yang sangat disayangi istrinya.Bibi paruh baya yang selama ini selalu melihat dan membantu Sehun menjaga Jiyeon, mengetahui semua hal yang di lakukan Sehun untuk seorang Song Jiyeon.

“Terkadang kejujuran bisa membantu masalah yang tengah dihadapi manusia itu sendiri Tuan Muda, bahkanuntuk masalah yang sangat sulit sekali pun, kau hanya butuh satu kejujuran untuk menyelesaikannya.”

~000~

Sehun duduk di atas bantal putih yang dia letakkan di lantai, menyandarkan punggungnya di pinggiran ranjang, menengadah, menatap langit-langit kamar yang berwarna abu-abu.Satu helaan napas berat menguar seiring dengan mata Sehun yang perlahan tertutup, memikirkan sebuah jalan keluar tanpa harus menyakiti ataupun melepaskan Jiyeon dari takdir hidupnya.Tapi mungkinkah jalan keluar itu ada?Bagaimana bisa dia menyelamatkan ayahnya jika tidak melepaskan Jiyeon?Bagaimana bisa dia mengabaikan ancaman Jongin dan membiarkan pria gila yang menyandra ayahnya, juga ikut menyakiti Jiyeon jika dia tidak melepaskan wanita itu.

Ya laki-laki yang sangat di benci Sehun dan menjadi sumber malapetaka di kehidupannya itu, juga telah mengancam Sehun dengan menggunakan Jiyeon, saat tahu jika kini Sehun tak punya kekuatan untuk melepaskan wanita itu.Dia mengancam dengan tindakan yang membahayakan nyawa Jiyeon, jika Sehun tidak cepat-cepat menyelesaikan permainan dan meninggalkan Jiyeon.Sehun mengeratkan genggaman tangannya menyadari jika laki-laki brengsek itu telah benar-benar mempermainkan hidupnya, menggunakan orang-orang yang di cintainya sebagai senjata untuk menghancurkannya.Dan Sehun benar-benar tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai, orang-orang yang dicintainya berada dalam bahaya hanya karena egonya untuk memiliki Jiyeon.

******

A Few Hour’s Earlier

Jeju Island

Suara in flight Announcementmulai terdengar memenuhi gendang telinga Sehun, menandakan jika private Jet-nyaakan segera mendarat di Jeju Island. Sehun menarik napasnya dalam-dalam seraya melepaskan sabuk pengaman yang melilit pinggangnya sesaat setelah pesawat berhasil mendarat dengan sempurna, berjalan pelan menuju pintu kabin yang sudah terbuka.Mata coklat Sehun menatap angkasa menghirup udara Jeju yang sudah lama tak di rasakannya, menajamkan tatapannya seraya mengeratkan jas hitam yang membalut tubuh tingginya sesaat sebelum melangkah ringan menuruni tangga pesawat.Senyum Sehun terulas samar pada sosok seorang laki-laki yang menyambutnya di depan pintu sebuah mobil, seorang laki-laki yang sudah ada di Jeju bersamaan dengan kepergian Jiyeon dan Jongin untuk melaporkan semuanya pada Sehun tanpa terlewat sedikit pun.

“Laki-laki itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan Tuan, diajuga tidak main-main dengan ancamannya waktu itu untuk menyakiti nyonya Jiyeon,” Sehun menarik satu sudut bibirnya hingga tercipta seringai tajam yang terlihat mengerikan, mengangguk mengerti lalu bersiap memasuki mobil hitamnya.

“Setelah membuat nyonya Jiyeon hampir tertabrak mobil waktu itu, kemarin dia sengaja membawa nyonya Jiyeon ke arena ice skating dan membuat nyonya Jiyeon hampir membeku di sana. Hari inimenurut pakar Meteorologi dan Geofisika di Jeju akan turun hujan, dia akan kembali memanfaatkan keadaan ini untuk menyakiti nyonya Jiyeon, Tuan Oh.”

“Aku tahu itu Xiumin!Aku tahu pasti jika dia tidak pernah main-main dengan ucapannya, aku juga tahu pasti jika aku tidak segera melepaskan Jiyeon dia akan terus menyakiti istriku lebih dari ini.”Sehun menepuk pundak Xiumin sekilas saat laki-laki itu mengangguk mengerti.

“Pastikan kau melakukan tugasmu dengan baik dan amankan posisi hingga waktu itu tiba, selebihnya biar aku yang melakukannya.Kupastikan laki-laki brengsek itu tidak akan mendapatkan, apa yang dia inginkan dengan mudah.”

******

“Oppa!”

Mata terpejam Sehun terbuka seketika menatap sosok cantik yang ada di atas wajahnya, sosok cantik yang terlihat tersenyum bahagia, menatap Sehun dengan lekat lewat mata beningnya yang selalu mampu membuat Sehun tenggelam di dalamnya.

“Apa yang Oppa lakukan di lantai?” Sehun tetap diam, dia hanya memandangi wajah yang semakin terlihat dekat.

Oppa, actingmu hebat sekali hari ini, kau tahu jika tadi kau sempat membuatku terharu.”

Lagi wanita cantik itu bersuara, kali ini dengan tangan yang terulur menyentuh wajah Sehun yang pucat.Perlahan Sehun mengerakkan tangannya menarik pelan lengan wanita itu, hingga terduduk di samping tubuh Sehun yang masih bersandar.

“Benarkah?”

“Eoh!Dan bodohnya aku tetap saja merasa bahagia, walau aku tahu kau hanya berbohong dengan mengatakan jika kau sangat mencintaiku.”

Tawa Jiyeon membahana dengan menutup setengah dari wajah cantiknya menggunakan satu tangan, mengeleng pelan dalam dugaan pikirannya sendiri.Namun Sehun hanya diam seraya menegakkan tubuhnya, menatap Jiyeon yang masih tertawa dengan senyum samarnya.

“Jika kau tahu itu hanya sebuah kebohongan, lalu untuk apa kau merasa bahagia?Manfaat apa yang kau dapatkan, dari merasa bahagia karena sebuah kebohongan, Jiyeon?”

Jiyeon menghentikan tawanya, mengusap sudut matanya yang sudah berair.“Entahlah— mungkin karena hal-hal nyata, justru selalu membuatku menangis, tapi—“ Jiyeon kembali tertawa pelan, mengalihkan pandangan menatap Sehun yang sudah sejak tadi memandanginya. “Tapi tetap saja,aku ingin sekali Oppa mengatakannya sekali lagi,—-“

“Aku mencintaimu, aku sangat mencintai mu, Jiyeon.”

Jiyeon terdiam, menatap Sehun yang sudah tersenyum hangat ke arahnya, wanita itu merasa tak berpijak di bumi, merasa jika jantungnya berdetak terlalu cepat dengan sebuah rasa bahagia yang sulit untuk tergambarkan oleh serangkaian kata, rasa yang membuat wajah Jiyeon bersemu merah muda. Ucapan Sehun kali ini terdengar sangat berbeda, terdengar begitu nyata penuh makna dengan ribuan rasa yang tersembunyi di baliknya.Namun sesaat kemudian Sehunjustru sudah terkekeh, dengan jari telunjuk yang mendarat di kening Jiyeon.

“Wajahmu aneh sekali, lebih aneh dari saat aku melamarmu dua tahun lalu.” Jiyeon mengerjab tersadar dari lamunan dan mendapati Sehun yang masih terkekeh dengan sangat menyebalkan di depan wajahnya.

“Apa.” Jiyeon ikut tertawa, mengenyampingkan rasa yang mulai terbaca hatinya hingga kembali terlihat samar. “Ah!Iya, saat itu aku benar-benar terkejut dan bahagia, aku bahkan sampai menangis.”

Kekehan Sehun terhenti menarik tanpa aba-aba tubuh langsing Jiyeon ke dalam pelukannya yang terasa begitu erat, menempelkan pipinya di pipi Jiyeon hingga wanita itu terlihat tenggelam dalam pelukannya.Tak bergerak saat Sehun mencium sudut keningnya dengan begitu dalam, semakin menarik tubuh Jiyeon ke dalam dekapan dengan mata yang terpejam.Sehun mendekatkan bibirnya di telinga Jiyeon, membisikkan kalimat yang membuat Jiyeon pada akhirnya mengeryit, dengan sedikit mengerakkan tubuhnya yang membeku dalam pelukan Sehun yang tak mengendur.

“Berjanjilah untuk tidak menangis lagi setelah hari ini Jiyeon danapapun yang terjadi esok kau harus terus melanjutkan hidupmu dengan baik, kau mengerti?”

Maksud Oppa?”

Sehun kembali mencium Jiyeon kali ini di bagian bahu dan pipi putih wanita itu, perlahan Sehun melepaskan pelukannya menautkan tatapan intensnya dalam tatapan Jiyeon yang masih terlihat binggung. Meraih jemari Jiyeon dalam genggaman eratnya, seraya berucap yang membuat alis hitam Jiyeon bertaut.

“Aku ingin mengatakan sebuah rahasia padamu Jiyeon, Rahasia yang harus kau jaga dari siapapun, kau mengerti?”

~000~

Langkah Jongki terhenti saat baru saja hendak menaiki anak tangga, bermaksud untuk menemui Sehun dan Jiyeon di dalam kamar mereka di lantai atas sana, saat Jongin menyapanya dari sudut ruangan dekat tangga dengan tersenyum seraya berjalan mendekatinya.

“Tinggallah disini hingga jam makan siang dan kau bisa mencicipi masakan istriku yang sangat lezat.”Ucap Jongki setelah membalas sapaan Jongin padanya.

Senyum Jongin terpatri begitu manis hingga mampu menyembunyikan sesuatu hal menakutkan yang tersirat di balik sorot matanya yang tajam, menyamarkan hal mengerikan yang akan terjabar sebentar lagi, hingga Jongki tak menyadarinya sama sekali.

“Terima kasih untuk tawarannya.” Jongin kembali mengulas senyum.“Tapi sebelum itu ada yang ingin aku katakan padamu, Tuan Song.” mata Jongin berkilat dengan sebuah senyum kemenangan yang tercetak nyata di wajah tampannya, sesaatsebelum melanjutkan ucapannya yang membuat Jongki merasa tertarik.

“Sebuah rahasia tentang menantumu,Oh Sehun.”

“Apa?”

 

TBC

 

NB : maaf ya part 3 dan 5 gak ada, saya tuh kmrin kirim part 3 ama 5 lupa kasih format yg udh di tentuin EXOFF jadilah part 3 gak d publish, part 5 disuruh kirim ulang sih ama adminnya, udh saya kirim ulang tapi yg muncul justru part 6 (part 6 juga gak pake format dan seharusna di apus ama pihak EXOFF)

NOTE di bawah part 6 maren itu, NOTE untuk reader di blog pribadi saya, bukan untuk reader EXOFF hahahhaha saya lupa apus

Enjoy Manusia KECE

8 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 7)

  1. Keren abis….

    Gue masih nangis-nangis karena ngebacanya.
    Hu.hu.hu. ;-(

    tapi i’ts ok.

    Gak lama lagi baka keungkap tuh.
    Dan gue juga benci ama jongin. Kok dia tega banget sih. Iss.

    Next beb.

  2. Asli pertamanya sebel sama sehun gegara dia suka se enaknya sendiri nyakitin jiyeon, dan ternyata si jongin lebih lebih kejam dr pd sehun
    dan ternyata sehun yg bener2 ngorbanin perasaanya demi nglindungin ayahnya dan jiyeon
    bener2 gak ketebak ceritanya kak, semangat ya hehe

  3. ff yang selalu bikin air ataku bercucuran U.U jongin jangan jahat jahat napa jadi orang–”
    semoga aja ayah jongki bisa mengerti dengan keadaan dan nggak nyakitin sehun setelah tau semuanya:”

  4. jongin…semuax trnyata jongin n duizhang…
    berhrap td sehun bner2 ugkapin rahasiax k jiyeon…
    agar meeka tidak slah pham tyus…n berhasil menang dr kai n kris…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s