THEY CALL IT IMPOSSIBLE (Oneshoot)

theycallitimpossible

 

Title : They Call It Impossible

 

Author : Marie Rose Jane (@janeew_)

 

Genre : Romance

 

Length : Oneshoot

 

Rating : PG 15

 

Cast : Oh Sehun dan Jang Surin (OC)

 

Hello! Kali ini saya bawakan bertema seorang fans dan idolanya! Semoga kalian suka ya!

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

 

Thanks and happy reading!

 

 

 

**

 

Suasana di area pintu kedatangan bandar udara John F. Kennedy, New York itu tampak lebih ramai dari biasanya. Ada orang-orang yang heran akan keramaian tersebut, ada juga yang tampak tidak peduli dan hanya berlalu begitu saja. Sebagian yang bertanya mengenai ada apa dan mengapa pintu kedatangan tersebut seakan diserbu oleh orang-orang yang kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan masing-masing dari mereka membawa kamera berlensa, bahkan kamera berlensa yang bukan dikategorikan lensa biasa melainkan lensa professional mendapatkan jawaban dari para security yang sedari tadi tampak mengawasi suasana sekitar, bahwa dalam sepuluh menit lagi para anggota boyband Korea Selatan bernama EXO akan keluar dari pintu tersebut. Walaupun tidak tahu siapa itu EXO, sebagian orang pun ikut meramaikan pintu kedatangan tersebut sementara di barisan depan, para gadis yang membawa kamera berlensa professional itu sudah lebih dulu bersiap-siap dengan sesekali mengetes dan mengatur kamera mereka masing-masing.

 

Tidak satupun dari para gadis yang membawa kamera berlensa tersebut adalah orang asli Amerika. Mereka semua berasal dari berbagai negara yang ada di Asia, kebanyakan dari mereka adalah warga asli Korea Selatan, dan sisanya berasal dari China dan juga Jepang. Jangan ditanya mengapa, karena jawabannya sudahlah pasti. Ya, mereka adalah penggemar yang selalu setia mengikuti seluruh jadwal konser bahkan kegiatan-kegiatan lain seperti acara-acara musik dimana boyband tersebut akan tampil, entah itu off-air maupun on-air, acara radio, acara promosi album, setiap acara penggemarign, bahkan sampai acara premiere film yang posisinya anggota boyband bernama EXO tersebut hanya tampil beberapa menit untuk di foto dan di wawancarai mengenai film tersebut. Intinya, mereka tidak akan pernah absen satu kalipun dalam setiap jadwal boyband itu, padahal sudah sangat jelas bahwa jadwal mereka sangatlah padat. Namun, disitulah kelebihan para gadis yang selalu memberikan foto terbaru setiap anggota boyband bernama EXO itu, disitulah kelebihan para gadis yang disebut sebagai ‘fansite-master’ oleh para penggemar lainnya yang hanya dapat menunggu hasil jepretan mereka untuk mengetahui setiap kegiatan boyband tersebut.

 

Semua memang dilandasi karena perasaan cinta terhadap sang idola sampai-sampai mereka rela menghabiskan uang mereka untuk terbang ke berbagai negara demi mengikuti sang idola. Mereka tidak dapat di kategorikan sebagai seorang ‘stalker’ atau penguntit karena mereka tidak mencampuri urusan pribadi sang idola. Mereka juga tidak pernah mengambil foto anggota boyband tersebut jika idola mereka itu tidak sedang menjalankan schedule. Para ‘fansite’ itu tidak seperti penguntit yang kebanyakan dari mereka mengganggu kehidupan pribadi idolanya. Para ‘fansite’ itu hanya hadir dalam acara-acara atau kegiatan resmi dan kemudian mengambil foto para anggota boyband tersebut untuk di posting di media sosial.

 

Tidak hanya di publish saja, bahkan ada yang sudah menerbitkan photobook berisi hasil jepretan mereka sendiri yang dijual dengan harga yang lumayan tinggi. Namun, jangan pikir para ‘fansite’ ini hanya memanfaatkan idola mereka untuk mencari uang dengan menjual hasil jepretan mereka, meskipun mereka berhasil menjual photobook tersebut bahkan hampir ke banyak negara selain di Asia, hasil penjualan tersebut tetap tidak dapat menutup semua modal yang sudah dikeluarkan untuk mengikuti seluruh kegiatan boyband tersebut. Hitung saja biaya transportasi, penginapan, tiket masuk konser, dan bahkan kamera dan segala peralatannya yang tidak dapat di katakan murah. Lalu mereka pun tidak dapat menjalani kehidupan mereka seperti biasa karena mereka harus mengikuti setiap kegiatan idola mereka itu dari pagi sampai malam bahkan terkadang sampai pagi lagi kalau jadwal idola mereka itu sedang padat-padatnya.

 

Jerih payah mereka lah yang tidak akan terbayar meskipun mereka sudah berhasil menjual photobook sebanyak apapun. Oleh sebab itu kegiatan mereka tidak dapat disebut sebagai kegiatan ‘mencari uang dengan memanfaatkan idolanya’ karena hal itu akan terdengar sangat kejam, padahal jalan mereka mengikuti idolanya itu tidaklah mudah seperti apa yang dibayangkan orang diluar sana.

 

Ya, memang pada dasarnya segala sesuatu yang dilakukan para ‘fansite’ itu benar-benar hanya dilandasi oleh perasaan cinta pada sang idola, sehingga tidak ada yang dapat menahan mereka untuk melakukan semua hal tersebut.

 

Para ‘fansite’ itu biasanya mendedikasikan dirinya hanya untuk salah satu dari banyaknya anggota sebuah boyband. Namun tidak sedikit juga dari mereka yang menyukai dua atau tiga anggota dari sebuah boyband. Mereka biasanya menggunakan nama-nama unik yang mencirikan identitas mereka. Biasanya nama tersebut selalu berhubungan dengan anggota yang paling mereka sukai. Dibawah nama tersebut, mereka akan mengunggah seluruh foto dari anggota yang paling ia sukai itu ke media sosial, dan mengikuti seluruh kegiatan anggota favoritnya itu.

 

Dibandingkan dengan ‘fansite’ yang lainnya, yang selalu setia kemanapun boyband EXO itu pergi, salah satu gadis bernama lengkap Jang Surin yang kini berdiri di deretan depan sambil turut memegang kamera berlensa professional itu tidak terus-terusan mengikuti seluruh kegiatan boyband tersebut. Meskipun Surin sangat mencintai EXO dan anggotanya yang bernama Oh Sehun, Surin tetap hanyalah seorang mahasiswa semester tiga jurusan sastra Inggris di Seoul National University. Ia mempunyai banyak kewajiban sebagai seorang mahasiswa yang tidak dapat ia tinggalkan begitu saja. Namun dibalik kesibukan kuliahnya, Surin tetap akan menyediakan waktu bagi EXO terutama anggota favoritnya yang adalah anggota termuda boyband tersebut. Meskipun sudah berkali-kali keluarganya menasehatinya untuk tidak terlalu sering terbang ke luar negeri dan mengikuti kegiatan konser boyband tersebut, Surin sama sekali tidak mendengarkan. Bahkan ayahnya mengancam akan segera menikahkannya dengan Do Beomsil, tetangga sekaligus teman kecil Surin yang sedari dulu sudah menyimpan rasa pada Surin, jika Surin terus mengikuti seorang Oh Sehun yang sangat dipuja-pujanya itu.

 

Dan karena ancaman tersebut, akhirnya Surin terpaksa harus berhenti mengikuti kegiatan EXO selama lima bulan terakhir. Bukannya Surin sebegitu tidak maunya dengan Beomsil, dulu Surin pernah menjalin hubungan dengan laki-laki beralis tebal dengan mata bulat dan jernih itu namun harus kandas begitu saja saat mereka hendak masuk ke sekolah menengah atas karena Surin merasa ia tidak mau menjalin hubungan dulu dan ingin serius menjalani kehidupan SMA-nya. Jika dilihat-lihat, Beomsil adalah laki-laki yang tampan terbukti dengan banyaknya para gadis yang tergila-gila akan sosoknya yang rajin dan ramah serta pintar dalam akademis. Surin tidak memungkiri kemungkinan ia kembali bersama Beomsil, hanya saja entah mengapa ia tidak ingin.

 

Hati Surin seakan sudah terkunci sejak empat tahun yang lalu oleh seorang Oh Sehun. Laki-laki yang sudah Surin sukai bahkan pada saat EXO masih digosipkan akan debut dalam beberapa bulan lagi itu, Surin sudah menetapkan hatinya pada sosok Oh Sehun, yang pada saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas tingkat akhir, sama seperti dirinya. Surin bahkan sudah mulai mengikuti Sehun padahal saat itu sekolah mereka berbeda dan keberadaan seorang Oh Sehun yang akan debut dalam boyband bernama EXO baru sebuah rumor saja.

 

Lalu, bagaimana bisa saat ini Surin dapat berada di New York, negara yang sangat jauh dari kampung halamannya, Korea Selatan, berdiri diantara ‘fansite’ lainnya padahal ayahnya sudah melarangnya dengan keras untuk mengikuti boyband itu lagi? Ya, Surin nekat berbohong pada ayahnya dan berkata bahwa ia akan pergi ke Jepang untuk study wisata bersama teman-teman satu jurusannya. Surin sampai harus menutup mulut adiknya, Jimi dengan dua ratus ribu won agar gadis yang belakangan ini juga sering kabur dari rumah demi menjalani bisnis ‘Seoul Love Tour’ yang dibangunnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya sedari enam bulan yang lalu dan sudah memiliki banyak peminat dari berbagai negara luar itu agar tidak memberikan informasi yang sebenarnya pada ayahnya.

 

Meskipun perjalanannya untuk dapat berdiri ditempatnya sekarang ini tidaklah mudah karena Beomsil yang terus menghubunginya dan menanyai keberadaannya membuat Surin dengan terpaksa harus memberitahu rahasia besarnya ini dengan syarat agar Beomsil tidak memberitahunya pada ayahnya, pada akhirnya Surin tetap menjalankan kemauan hatinya. Sudah lima bulan ia tidak bertemu dengan pangeran berkuda putihnya, Oh Sehun, maka itu Surin tidak mau memikirkan hal yang lainnya selain tujuan utamanya yaitu bertemu kangen dengan sang idola. Sekarang Surin hanya mau perjalanannya menonton konser The EXOLuXion di New York ini berjalan dengan lancar.

 

“Ya! Ya! Mereka sudah sampai! Astaga, ternyata mereka lewat pintu yang disana!” Salah seorang fansite berteriak keras dengan bahasa Korea, membuat yang lain langsung berlari berhamburan ke pintu yang dimaksud. Surin yang tidak mau kalah pun segera berlari kencang seraya membawa kamera berlensa panjang yang ia kalungkan di lehernya dan juga sebuah ransel hitam yang ia sampirkan begitu saja pada satu tangannya dengan tergesa-gesa. Surin tersenyum ketika ia berhasil menemukan rombongan EXO yang berjalan santai di iringi para manager dan juga security yang menjaga jarak para penggemar agar tidak terlalu dekat dengan para anggota boyband ternama tersebut. Surin sudah memotret Sehun sedari tadi. Ia berdiri tepat disebelah Sehun seraya berjalan berdampingan dengannya, diikuti oleh beberapa penggemar Sehun yang lainnya.

 

“Oh Sehun, halo.” Sapanya sambil terus memotret sementara Sehun terlihat tidak begitu mempedulikan dan hanya terus berjalan mengikuti anggota yang lainnya. Surin pun segera menyamakan langkah kakinya dengan Sehun namun kakinya terlalu pendek sehingga ia harus berlari kecil. Penggemar yang lain pun terus mendorongnya sehingga ia harus pintar-pintar menjaga keseimbangan tubuhnya. Saat sudah tertinggal beberapa langkah dan penggemar yang mengerubungi Sehun semakin banyak, Surin merasa ia harus mengerahkan tenaganya. Surin mulai menyerobot ke kerumunan tersebut, menyebabkan sedikit keributan diantara kerumunan yang langsung memarahi Surin. Surin tidak begitu peduli sampai akhirnya kini Surin berhasil berdiri kembali disebelah Sehun.

 

“Oh Sehun! Lama tidak berjumpa.” Sehun tersenyum ketika Surin menyampaikan salamnya. “Semangat untuk konser—” Security yang menyadari keberadaan Surin yang begitu dekat dengan Sehun segera mendorong Surin begitu saja membuat ucapan Surin terpotong, dan beberapa detik kemudian Surin sudah mendapati dirinya tersungkur dihadapan Sehun. Sehun yang tampak terkejut langsung menghentikan langkahnya, sementara Surin kini masih pada posisinya yang tersungkur di lantai dengan kameranya yang sudah hancur. Lensanya tampak sangat mengenaskan sampai-sampai suasana beku untuk sesaat. Surin dapat mendengar orang-orang berbisik mengasihaninya. Surin masih belum sadar dan hanya memperhatikan kameranya yang kini sudah tidak berbentuk itu dengan mata berkaca-kaca.

 

Tiba-tiba aroma mint yang sangat khas dengan begitu saja memenuhi saluran pernapasannya. Surin mendongakan kepalanya dan kini ia dapat melihat Sehun menunduk seraya menjulurkan satu tangannya. Security dan manager sudah melarangnya, namun Sehun bersikeras untuk membantu Surin bangkit berdiri. Seolah tertimpuk batu, Surin sadar dari lamunan panjangnya dan langsung menyambar tangan Sehun. Namun seketika ia berseru kesakitan dan segera melepas tangannya dari genggaman tangan Sehun. Rupanya telapak tangannya luka karena adegan jatuh tadi. Sehun berdecak kemudian menarik lengan Surin, membantu gadis itu untuk berdiri. “Oh Sehun, apa yang kau lakukan?! Ayo cepat.” Chanyeol bersuara dan langsung menarik tangan Sehun untuk menjauh dari kerumunan. “Tunggu, kameranya hancur lebur dan tangannya luka.” Sehun menghentikan langkahnya lalu ia tampak merogoh saku celana panjangnya. Tidak lama kemudian Sehun melemparkan Surin sebuah plester penyembuh luka, lalu menghilang begitu saja dibalik para penggemar yang langsung mengikuti mereka kembali, meninggalkan Surin yang masih terpaku.

 

Setelah berdiri selama satu menit tanpa melakukan apapun, Surin sepertinya mendapatkan jiwanya kembali. Ia buru-buru memunguti kepingan-kepingan lensa kameranya yang bernasib naas itu sambil menahan air matanya. Setelah berhasil memasukan semua kepingan tersebut ke dalam ranselnya, Surin menatap plester yang tadi diberikan Sehun padanya. “Oh Sehun memberikan plester ini padaku?” Surin langsung terjongkok begitu saja dan menangis sekencang-kencangnya seraya menempelkan plester tersebut pada telapak tangannya yang luka. Orang-orang yang melewatinya langsung menatapnya heran namun Surin tidak peduli. Ia terus menangis sambil memperhatikan telapak tangannya, lama. Tidak, Surin tidak menangis karena lensa kamera kesayangannya hancur. Ia menangis karena Sehun memberikannya sebuah plester penyembuh luka. Ia menangis karena Sehun membantunya berdiri. Ia menangis karena Sehun baru saja menyadari keberadaannya. Seorang Oh Sehun menyadari kehadirannya.

 

Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Tanpa melihat nama sang penelpon, Surin segera menangkatnya dan menangis sekencang-kencangnya. “Beomsil-a! Do Beomsil! Oh Sehun baru saja menyadari keberadaanku! Ia benar-benar menyadari keberadaanku, Beomsil-a!” Seketika Surin berhenti menangis ketika mendengar jawaban dari seberang sana.

 

“Jang Surin! Appa baru saja ingin menyuruhmu mencari adikmu karena ia sudah tidak pulang selama dua hari, dan sekarang kau malah sedang mengikuti boyband itu?! Bukannya kau bilang sedang study wisata ke Jepang?! Kau benar-benar keterlaluan! Dimana kau sekarang?! Jang Surin, habis kau kali ini! Cepat pulang atau akan ku nikahkan kau dengan Do Beomsil!”

 

“Appa! Putrimu ini baru saja mendapat lampu hijau dari seorang Oh Sehun! Tunggu saja aku. Aku akan pulang dengan Oh Sehun sebagai kekasih resmiku!” Surin baru saja akan menutup sambungan telepon tersebut namun ayahnya kembali berteriak. “Kau sudah gila, ya?! Cepat pulang dan cari adikmu!” Surin menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ayahnya benar-benar emosi sekarang ini dan Surin tidak mau menambah resiko dengan mematikan sambungan teleponnya begitu saja meskipun rasanya ia ingin segera melakukan hal tersebut.

 

“Aku sedang berada di New York. Besok aku akan menonton konser mereka, lalu lusa aku baru pulang. Itu berarti aku baru akan sampai di Korea sekitar empat atau lima hari lagi. Pasti Jimi akan pulang bahkan sebelum aku pulang, jadi appa tenang saja.” Surin berseru malas. “Apa?! New York?! Kau benar-benar ingin segera appa nikahkan dengan Do Beomsil, ya?! Kau harus segera pulang, Jang Surin! Adikmu sudah tidak pulang selama dua hari!” Ayahnya berseru marah sementara Surin langsung menghela napas.

 

“Kalau sampai adikmu belum pulang juga dalam kurun waktu empat atau lima hari, kau benar-benar harus mencarinya sampai ketemu atau kau benar-benar akan appa nikahkan dengan Do Beomsil.” Ayahnya langsung menutup sambungan teleponnya begitu saja membuat Surin hanya menatap layar ponselnya dengan tidak sabaran. Surin baru sadar bahwa ayahnya menghubunginya lewat aplikasi Kakao Talk. Pasti ayahnya sudah mencoba menghubungi nomor ponselnya sedari kemarin namun tidak berhasil sampai-sampai akhirnya ia menghubungi Surin melalui aplikasi Kakao Talk. Surin sedikit kecewa karena mengetahui ayahnya menghubunginya hanya untuk menyuruhnya mencari Jimi dan bukannya malah mengkhawatirkannya yang pada saat ini berada sangat jauh dari rumah.

 

Tiba-tiba sebuah pesan dari aplikasi Kakao Talk masuk ke notifikasi ponselnya. Surin segera membuka pesan yang ternyata dari Beomsil.

 

From : Dyo B

 

Surin-a, saat ini aku sedang berada bersama dengan Jimi. Ternyata adikmu ini hebat sekali. ‘Seoul Love Tour’ benar-benar sedang sibuk-sibuknya sekarang dan itulah penyebab adikmu tidak bisa pulang ke rumah untuk seminggu ke depan. Ia memintamu untuk tidak memberitahukan ayahmu karena ia takut ayahmu malah akan menyuruhnya menutup usahanya ini. Jika ayahmu bertanya mengenai keberadaannya, bilang saja ia sedang berada di Busan untuk penelitian. Oh ya, terakhir, jaga dirimu baik-baik di New York, Jang Surin.

 

Surin menghela napas panjang. Jadi, harus seberapa lama lagi ia berbohong terus pada ayahnya? Surin akhirnya memutuskan untuk mengirimi ayahnya pesan yang berisikan tentang kebenaran mengenai usaha adiknya. Dan seperti dugaannya, ayahnya pasti akan mengiriminya pesan balasan seperti pesan yang kini sedang dibacanya.

 

From : Appa

 

Cepat bawa adikmu pulang, Jang Surin. Appa tidak ingin melihatnya bekerja sampai tidak pulang seperti itu. Kita bisa bicarakan ini semua terlebih dahulu. Cepatlah kembali ke Seoul dan cari adikmu. Bawa ia pulang dan kita akan bicarakan semua ini secara perlahan. Setelah kau berhasil membawa adikmu pulang, appa janji aku tidak akan melarangmu mengikuti boyband itu. Appa hanya ingin kau kembali ke Seoul sekarang dan mencari adikmu itu.

 

Surin merasa kepalanya berat seketika. Sekarang ia harus mengorbankan perjalanannya begitu saja dan membawa adiknya pulang? Dan apa kata ayahnya barusan? Ia tidak akan melarang Surin lagi untuk mengikuti EXO jika ia berhasil membawa adiknya pulang? Jadi ayahnya berusaha memberitahu Surin bahwa prioritas ayahnya sebenarnya adalah Jimi? Ayahnya tidak masalah Surin jarang pulang kerumah untuk mengikuti idolanya asalkan Jimi ada di rumah, berada di dekatnya, begitu? Sungguh, adiknya sudah besar. Seharusnya ayahnya mengerti mengapa Jimi melakukan hal tersebut. Menjadi seorang tour guide adalah mimpi Jimi sedari kecil dan seharusnya ayahnya tahu akan hal itu.

 

Surin ingin waktunya. Ia ingin perjalanannya mengikuti EXO ke New York menjadi pengalaman paling berkesan baginya. Namun sepertinya, baru hari pertama saja Surin sudah tertimpa sial seperti ini. Ia jatuh tepat di depan Oh Sehun, kameranya hancur lebur, ayahnya memaksanya untuk kembali dan segera membawa adiknya pulang, lalu nanti akan ada apa lagi?

 

Surin segera mengetikan sesuatu pada layar sentuh ponselnya dan segera menekan tombol ‘send’ setelah ia selesai mengetikan pesannya yang ia tujukan untuk Beomsil.

 

To : Dyo B

 

Beritahu aku dimana kantor tour Jimi. Aku akan kesana setelah tiba di Seoul dan segera membawanya pulang. Ayahku ingin membicarakan tentang usaha Jimi ini dengan perlahan. Beomsil-a, aku mohon jangan sampai Jimi tahu aku akan kesana dan membawanya pulang. Kau harus sembunyi ketika membalas pesan ini.

 

Beberapa detik kemudian sebuah pesan baru masuk ke dalam ponselnya dan seketika itu juga Surin merasa tercekat.

 

From : Dyo B

 

Jadi kau sudah memberitahukan appa mengenai usahaku ini?! Aku menyuruhmu untuk mengatakan pada appa bahwa aku sedang melakukan penelitian, mengapa kau malah membongkar rahasiaku?! Aku sudah menutup mulutku mengenai keberangkatanmu ke New York, dan inikah balasanmu? Sampai kapanpun jangan harap kau mengetahui keberadaanku atau mencoba menyeretku pulang!

 

Apa adiknya itu sudah kehilangan rasa empatinya? Bagaimana bisa ia menyuruh Surin untuk berbohong pada ayah mereka sementara Surin baru saja ketahuan berbohong padanya? Surin benar-benar sudah tidak tega membohonginya lebih jauh namun adiknya sepertinya memang tidak mengerti. Ia hanya memikirkan dirinya tanpa sekalipun berpikir jika ia berada di posisi Surin. Surin yakin gadis itu juga akan melakukan hal yang sama dengannya. Memangnya anak macam apa yang tega membohongi orangtuanya lebih jauh ketika ia sendiri baru saja ketahuan berbohong mengenai hal yang lain?

 

Surin tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau seperti ini, Surin lebih memilih untuk tidak dulu memikirkan orang yang tidak memikirkannya. Ia tidak ingin memikirkan adiknya yang hanya peduli pada dirinya sendiri, ataupun ayahnya yang tega menyuruhnya pulang begitu saja hanya untuk mencari adiknya yang bahkan sudah besar dan tahu cara bagaimana pulang ke rumah sendiri.

 

Surin tidak ingin memikirkan keduanya. Ia hanya ingin memikirkan bagaimana besok ia akan menonton konser EXO setelah lima bulan ia tidak pernah melihat mereka. Ia hanya ingin memikirkan seorang Oh Sehun yang baru saja menyadari keberadaannya dan memberikannya sebuah plester penyembuh luka yang Surin harap juga dapat menyembuhkan sakit kepalanya karena hal-hal memusingkan yang baru saja terjadi padanya.

 

**

 

“Oh astaga sudah setengah lima sore!” Surin berseru panik dan langsung meraih handuk beserta bajunya dari koper. Betapa bodohnya ia karena tidak mendengar bunyi alarm yang dipasangnya. Ini semua pasti karena ia terserang jet-lag. Surin mengumpat dirinya sendiri berkali-kali kemudian segera bersiap-siap. Ia tidak boleh sampai telat untuk tiba ditempat konser, meskipun pada kenyataannya ia sudah sangat telat. Pasti sekarang sudah tiba saatnya para penonton untuk masuk ke section masing-masing.

 

Surin memasang sepatunya asal kemudian meraih ransel hitamnya dan juga kamera SLR sederhana yang kemarin ia temukan di dalam kopernya. Surin tidak menyangka ia malah akan menggantungkan dirinya pada SLR sederhana yang sudah ketinggalan jaman itu. Namun ia tetap bersyukur karena setidaknya Surin masih dapat mengambil foto dengan resolusi yang lebih baik daripada dengan menggunakan kamera ponsel meskipun ia harus pintar-pintar menyembunyikan kamera tersebut dari security yang bertugas untuk memeriksa barang bawaan penonton.

 

Surin segera memasuki sebuah taksi yang sudah dipesankan oleh pelayan hotel tempatnya menginap untuk dirinya. “Prudential Center, please.” Ujarnya dengan bahasa inggris berlogat Korea yang sangat kental. Pria paruh baya yang adalah supir taksi itu segera melajukan taksinya dengan kecepatan sedang sementara Surin sudah panik sambil terus melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan.

 

Jarum jam tangannya terus berputar dan waktu sudah berlalu selama satu setengah jam lamanya. Surin masih di dalam taksi dengan supir yang terlihat tenang-tenang saja. Konser akan mulai dalam tiga puluh menit lagi dan sekarang Surin sama sekali tidak tahu dimana sebenarnya ia sekarang ini. Surin rasa ia benar-benar memilih hotel yang sangat dekat dengan Prudential Center, tempat dimana konser akan diselenggarakan. Bahkan pelayan hotel tadi mengatakan bahwa perjalanan dengan taksi hanya akan memakan waktu sepuluh sampai lima belas menit saja. Surin mencoba menegur sang supir taksi namun supir tersebut tidak sama sekali menoleh ataupun menjawab ucapannya. “Excuse me, sir!” Bentak Surin yang sudah tidak sabar membuat sang supir segera melihat Surin dari kaca spionnya.

 

“Kemana kita akan pergi? Apa anda yakin ini adalah jalan yang benar untuk menuju Prudential Center?” Surin sekali lagi mencoba menegurnya namun sang supir malah mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya membuat Surin dengan spontan langsung mengerutkan dahinya. “Maaf, saya tidak dapat mendengar anda dengan jelas. Telinga saya sedang bermasalah. Kita akan menuju Producer Smith’s Café di New York down town, kan?” Surin langsung membeku mendengar ucapan sang supir. “Down town? A-apa?! Producer Smith—astaga! Saya meminta anda untuk mengantar saya ke Prudential Center! Pru-den-tial Cen-ter!” Surin mengejanya dengan suara yang keras membuat sang supir terbelak.

 

“Cepat putar arah mobilnya! Konsernya sudah akan mulai dalam waktu lima belas menit lagi!” Surin berujar panik membuat sang supir pun turut merasakan hal yang sama. “Maaf, tapi kita harus mengambil jalan yang lebih jauh untuk dapat sampai ke Prudential Center karena jalan utamanya sedang ada perbaikan.” Sang supir menjelaskan sementara Surin sudah menghela napas. Air matanya tertahan di ujung matanya. “Saya tidak mau tahu yang penting anda harus mengantar saya ke Prudential Center sekarang!” Seru Surin panik sementara sang supir langsung mengangguk dan melajukan taksinya dengan kecepatan yang lebih kencang.

 

Surin tidak berhenti bergerak-gerak panik. Pasalnya sudah dua jam ia duduk di kursi penumpang taksi tersebut tapi mereka tidak kunjung sampai. Sepertinya supir tersebut sempat tersasar namun tidak mengatakannya pada Surin. Konser sudah hampir selesai dan tiket Surin sudah hangus karena supir taksi yang sekarang entah membawanya kemana. Surin menyandarkan dirinya pada sandaran kursi penumpang tersebut seraya memejamkan kedua matanya yang sudah berair. Tanpa ia sadari air mata mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya. Surin tidak sangka ia akan mengalami kesialan semacam ini. Surin benar-benar sengaja membeli tiket konser yang paling mahal untuk konser kali ini, namun sayangnya yang ia dapatkan bukanlah seperti yang ia harapkan. Semuanya nihil. Hasilnya benar-benar nihil.

 

Semuanya memang murni kesalahannya. Kalau saja ia tidak terserang jet-lag sampai akhirnya terlambat bangun, mungkin ceritanya akan berbeda lagi. Atau kalau saja ia tidak memesan taksi melainkan memesan jemputan dari pihak hotel walaupun biayanya akan sangat mahal, mungkin akhirnya tidak akan seperti sekarang ini. Semuanya memang murni kesalahannya.

 

Surin merasa kepalanya berat. Benar-benar berat sampai-sampai akhirnya Surin terbawa ke alam bawah sadarnya.

 

Mungkin seharusnya dari awal ia mendengarkan perkataan ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang dan segera mencari adiknya, bukannya malah keras kepala pada keinginannya sendiri.

 

**

 

“Nona, bangun nona. Kita sudah sampai di Prudential Center.” Surin buru-buru membelakan matanya dan melihat ke sekitarnya. Suasananya benar-benar sudah sangat sepi, hanya tinggal staff saja yang tampak membersihkan halaman tempat tersebut. “Maaf nona, kita harus tersasar selama tiga jam. Semua ini murni kesalahan saya jadi kalau anda tidak berkenan untuk membayar argo ini tidak apa-apa.” Ujarnya membuat Surin langsung menghela napas. Surin melirik ke arah mesin argo dan rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Surin mengambil dompetnya di dalam tas ranselnya kemudian membayar lunas argo tersebut. Surin keluar dari taksi itu tanpa mengucapkan apa-apa.

 

Surin berjalan mendekat ke arah para staff yang tampak sedang sibuk bersih-bersih. Ia berjongkok di samping tembok besar agar para staff tersebut tidak dapat melihatnya. Surin menyenderkan kepalanya pada tembok besar tersebut dan kemudian tanpa ia sadari air matanya jatuh begitu deras sampai-sampai kini ia sudah terisak. Jam sudah menunjukan pukul dua belas, dan Surin tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia tidak ingin kembali ke hotel. Ia hanya ingin berada di tempat itu dan menangis seperti sekarang ini.

 

Surin benar-benar putus asa sampai-sampai rasanya ia ingin berhenti menyukai seorang Oh Sehun. Surin benar-benar sangat putus asa sampai-sampai rasanya ia ingin kembali ke Korea dan tidak pernah lagi mengikuti boyband kesukaannya itu. Mungkin sekarang memang sudah saatnya ia berhenti melakukan hal-hal bodoh dan kekanakan seperti ini. Mungkin sekarang memang sudah saatnya Surin membangun masa depannya sendiri.

 

Tiba-tiba saja suara berisik mengusik perhatian Surin. Surin menolehkan kepalanya untuk melihat sumber suara. Ia terbelak ketika melihat sebuah van berwarna hitam berhenti di depannya dan kemudian orang-orang yang sangat Surin kenal mulai memasuki van tersebut satu per satu. Mereka tidak lain tidak bukan adalah para anggota dari boyband kesukaannya, EXO. Surin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika salah seorang dari mereka seperti menyadari keberadaan Surin.

 

“Sehun-a, itu gadis yang waktu itu kau tolong dibandara, kan? Apa hanya mirip saja, ya?” Chanyeol berujar dan Surin dapat mendengarnya membuat gadis itu langsung panik seketika. Wajah Surin sudah benar-benar kacau sekarang ini karena terlalu lama menangis. Maskaranya luntur begitupun dengan bedaknya. Wajah Surin benar-benar kacau bahkan gadis itu sampai masih sibuk menutupi wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.

 

“Ya! Oh Sehun! Mau kemana kau? Cepat, kita harus segera kembali ke hotel dan beristirahat. Besok kita akan kembali ke Seoul pagi-pagi buta!” Sang manager tampak menegur Sehun namun Sehun terus berjalan bahkan Surin dapat mendengar derapan langkah laki-laki itu yang semakin mendekat ke arahnya. Surin dapat kembali mencium aroma mint yang sangat khas dari seorang Oh Sehun. Surin dengan perlahan membuka jari-jari tangannya yang menutupi kedua bola matanya. Ia mendapati Sehun tengah terjongkok tepat di depannya sambil memperhatikan Surin dengan tatapan heran.

 

“Benar. Kau si plester bandara. Sedang apa kau disini sendirian dan oh, apakah kau baru saja menangis?” Sehun memiringkan kepalanya dan Surin pun langsung menangis kembali dibalik telapak tangan yang masih menutupi wajahnya. “Oh Sehun. Oh Sehun. Oh Sehun. Oh Sehun.” Surin terus menyebut namanya sambil terus menangis sementara Sehun hanya memperhatikannya dengan keheranan.

 

“Oh Sehun…” Lirih Surin membuat Sehun merasa iba. “Mengapa sangat sulit untuk dapat berada di dekatmu? Mengapa aku selalu berada di dekatmu dalam keadaan yang mengenaskan?” Surin berujar pelan sementara Sehun dapat mendengarnya dengan jelas. Sehun merogoh saku celana panjangnya dan memberikan sapu tangan berwarna biru muda dengan motif huruf ‘OSH’ pada setiap sudut sapu tangan tersebut. Surin membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya kemudian menunduk seraya menerima sapu tangan tersebut.

 

“Oh Sehun, ayolah cepat! Kita tidak punya banyak waktu untuk beristirahat!” Sehun menjawab managernya dengan seruan ‘iya sebentar’. “Dimana hotelmu? Jangan pulang terlalu malam dan berisitirahatlah.” Sehun segera bangkit berdiri kemudian Surin hanya mendongak menatapnya.

 

“Hei, plester.” Surin mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba memastikan apakah sosok yang tengah berbicara padanya sekarang ini benar adalah seorang Oh Sehun. Ia memiliki tinggi badan yang sangat semampai, bahu yang sangat lebar, kulit seputih susu, bibir berwarna pink merona, alis yang selalu bertaut, dan mata yang tegas serta hidung yang mancung. Sungguh sebuah kesempurnaan ciptaan Tuhan yang hanya dapat Surin lihat sekarang ini. Sehun tertawa kecil karena geli melihat Surin yang masih mengerjapkan mata bengkaknya.

 

“Wajahmu sangat kacau. Maskaramu luntur dan make up-mu benar-benar berantakan. Begitukah caramu berdandan ketika kau akan bertemu dengan idolamu?” Surin langsung menunduk malu.

 

“Tenang saja. Semua orang pasti pernah punya hari yang berat. Tapi yang perlu kau ingat, kau masih punya hari esok yang mungkin saja akan mengobati apa yang terjadi pada hari ini.” Ujarnya membuat Surin kembali menatapnya dengan tidak percaya. Surin yakin sekali ia pernah mendengar kata-kata bijak itu di suatu tempat namun ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas. Entah itu pada acara motivator di televisi, atau mungkin pada kutipan majalah pagi yang selalu dibacanya.

 

“Sampai bertemu ketika kau sudah bisa berdandan dengan cantik, plester bandara.” Sehun segera berbalik meninggalkan Surin dan berlari memasuki van yang sudah sedari tadi menunggunya itu.

 

Surin terpaku untuk beberapa saat. Ia memperhatikan sapu tangan milik Sehun yang kini berada di tangannya. Seketika rasa kesialannya seharian penuh ini benar-benar hilang begitu saja. Surin menghirup aroma sapu tangan tersebut dalam-dalam dan kemudian ia langsung merasa lega. Perasaan sedihnya dengan seketika lenyap begitu saja digantikan oleh berseminya berbagai macam bunga yang memenuhi seluruh sudut hatinya, dan kupu-kupu yang berterbangan menggelitik perutnya.

 

“Apa ini yang dinamakan takdir?”

 

**

 

“Hari ini aku akan kembali ke Seoul jadi appa tenang saja.” Surin berujar pada sambungan teleponnya seraya memasuki lift yang kosong tersebut. Surin berencana untuk menikmati sarapannya meskipun jam kini baru menunjukan pukul empat subuh. Setelah kejadian kemarin malam, Surin tidak bisa tidur dan akhirnya sekarang ia merasa lapar. Lagipula tidak ada salahnya menikmati sarapan di pagi-pagi buta seperti ini. Toh, sebentar lagi ia juga sudah harus berangkat ke bandara untuk jadwal penerbangannya.

 

Surin merapikan rambutnya dan mengenakan lip balm pada bibirnya. Surin memang sudah rapi dan bahkan sudah menyiapkan kopernya untuk persiapan pulang ke Seoul. Meskipun tidak jadi menonton konser, setidaknya Oh Sehun kemarin malam menghibur hatinya yang pada saat itu sangatlah kacau sehingga akhirnya pagi ini wajah Surin sudah jauh lebih cerah bahkan seakan tidak ada hal buruk apapun yang terjadi padanya kemarin. Liftnya berhenti di lantai empat, dan seseorang dengan jaket hitam beserta topi dan kacamata baca bergagang hitam masuk begitu saja sementara Surin hanya meliriknya dan melanjutkan percakapannya di telepon.

 

“Iya, setelah aku tiba di Seoul aku akan langsung mencari Jimi, appa tenang saja. Tidak, appa tidak perlu menyuruh Beomsil untuk menjemputku di bandara. Aku bisa pulang sendiri dengan taksi. Sudah dulu, ya.” Surin segera menutup sambungan teleponnya begitu saja bahkan sebelum ayahnya mengucapkan kata perpisahan seperti biasanya. Tiba-tiba liftnya berhenti begitu saja dan menunjukan huruf ‘E’ pada penunjuk lantainya. Surin langsung panik dengan seketika. “Astaga, bagaimana ini?! Mengapa berhenti?!” Surin mencoba menekan tombol buka pada lift tersebut namun hasilnya nihil.

 

Tiba-tiba laki-laki bertubuh tinggi yang sedari tadi berada dibelakangnya menekan tombol darurat lift tersebut membuat Surin terjepit diantara tubuhnya dan sudut lift tersebut. Aroma mint yang khas, yang dapat Surin hirup dari laki-laki yang kini masih mempertahankan posisinya dengan menyudutkan Surin itu seolah mengingatkan Surin akan seseorang.

 

“Tolong, lift di lantai lima error.” Ucapnya dengan bahasa inggris yang berlogat aneh. Tujuan Surin memang ingin ke lantai tujuh, untuk menuju ke restaurant dan bar hotel tersebut, namun naasnya lift yang ditumpanginya dan orang misterius yang kini masih menyudutkannya itu malah harus berhenti di lantai lima. “Harap jangan panik. Kami akan segera mengirimkan bantuan.” Ujar security yang saat itu tengah bertugas. “Ya, harap dengan segera.” Balas laki-laki itu dengan tegas. Suaranya yang tidak asing bagi Surin dan logatnya yang aneh itu benar-benar membuat Surin yakin bahwa orang yang berada dihadapannya sekarang ini adalah Oh Sehun.

 

Laki-laki itu melepas topinya, namun tidak mengubah posisinya. Ia menunduk dan menatap Surin dalam-dalam. Tebakan Surin benar dan seketika itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak, terutama ketika laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu memiringkan kepalanya tanpa memutuskan tatapan mata mereka. “Woah, plester. Kita benar-benar bertemu lagi. Dan bahkan kini dandananmu sudah sangat jauh lebih berbeda dari yang kemarin. Ini baru dandanan jika ingin bertemu dengan idolamu.” Sehun tertawa kemudian berjalan mundur satu langkah ketika ia dapat merasakan ketidaknyamanan Surin.

 

“Mengapa jika bertemu denganmu aku selalu terlibat sebuah insiden, ya?” Tanya Sehun sementara Surin masih sibuk mengatur detak jantung dan napasnya. Oh Sehun saat ini sedang berada di dalam lift yang sama dengannya dan mereka hanya berdua saja. Oh Sehun saat ini sedang terjebak di dalam lift bersamanya dan Surin rasa sebentar lagi ia akan pingsan karena hal tersebut. “Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud melibatkanmu dalam insiden semacam ini. Maaf juga untuk yang kemarin, bahkan aku juga meminta maaf untuk insiden di bandara dua hari yang lalu.” Surin berujar dengan suara gemetar sementara Sehun hanya tersenyum.

 

“Tidak apa. Aku senang dapat terlibat percakapan langsung atau bahkan insiden seperti ini dengan seorang penggemar. Apalagi orang itu adalah penggemar-ku sendiri.” Wajah Surin langsun memerah membuatnya tanpa sadar sudah mengipasi wajahnya dengan tangannya sendiri. “Da-dari mana kau tahu kalau aku adalah penggemarmu? Kalau aku ini ternyata penggemar seorang Do Kyungsoo bagaimana?” Sehun tertawa menanggapi.

 

“Siapa ya yang berkata ‘Oh Sehun, lama tidak berjumpa’ dibandara, lalu menangis sambil menyebut-nyebut namaku, jatuh sampai tersungkur saat sedang menyemangatiku, dan apa ini?” Sehun mengambil tangan Surin kemudian memperhatikan cincin di jari manis gadis itu. “Oh rupanya cincin berukirkan nama lengkapku. Sekarang, kau masih mau mengelak juga?” Surin langsung melepas tangannya dari tangan Sehun.

 

“Ya, aku akui aku memang penggemarmu. Dan aku senang karena sekarang aku dapat terjebak disebuah lift bersamamu.” Ujar Surin membuat Sehun tertawa lagi.

 

Suasana membeku untuk sesaat membuat Surin mulai bergerak-gerak gelisah tidak nyaman dan Sehun tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasakan hal yang sama dengan Surin. “Maaf sebelumnya, tadi aku dengar percakapanmu di telepon, kau disuruh mencari seseorang setelah tiba di Seoul?” Tanya Sehun sementara Surin mengangguk-angguk.

 

“Adikku pergi dari rumah karena ia ingin menjalankan sebuah usaha yang merupakan cita-citanya dari kecil. Karena hal tersebut, ayahku ingin aku membawanya pulang terlebih dulu agar mereka dapat lebih dulu membicarakan hal ini sebelum adikku itu terlibat semakin jauh dengan bisnisnya tersebut. Entahlah mengapa aku yang harus membujuknya untuk pulang padahal anak itu sudah besar dan bahkan ayahku juga dapat menghubunginya secara langsung tanpa harus membebaniku dengan hal semacam ini.” Sehun mengangguk-angguk sementara Surin menyandarkan punggungya pada sudut lift tersebut seraya melipat tangannya. Surin bahkan tidak sadar ia sudah menceritakan masalahnya pada seorang Oh Sehun saat ini. Entah mengapa rasanya ia hanya ingin menjawab pertanyaan Sehun barusan dengan jawaban yang lengkap. Mungkin Surin memang hanya sedang butuh seseorang yang dapat mendengarkan segala pemikirannya yang memusingkan itu untuk saat ini.

 

“Sebenarnya jawabannya sederhana. Karena kau adalah kakaknya. Bukankah seorang kakak memang harus bertanggung jawab akan kehidupan adiknya?” Surin menatap Sehun takjub sementara laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Mengapa laki-laki yang ada di hadapannya itu selalu saja berhasil membuat Surin jatuh dalam pesonannya yang seakan tidak berujung itu? Entah itu karena parasnya, sifatnya, dan bahkan kini cara berpikirnya. Bagaimana bisa Surin dapat melepaskan diri dari belenggu pesona tersebut?

 

“Perkataanmu barusan ada benarnya. Entahlah, terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat kepalaku terasa berat. Termasuk sekarang. Aku tidak percaya aku akan terjebak disebuah lift bersamamu. Benar-benar aneh dan bahkan tidak masuk akal sampai-sampai membuatku terasa pusing. Apa ini benar-benar nyata?”  Sehun tersenyum seraya memperhatikan Surin yang kini tidak berani menatapnya.

 

Tiba-tiba ponsel Sehun berdering dan laki-laki itu langsung mengangkatnya setelah berdeham pelan. “Ya, hyung? Iya, aku terjebak di lift lantai lima. Sepertinya mekanisnya sedang mencoba membuka pintunya. Ini sudah terdengar suara mereka sedang membetulkan pintunya jadi kau jangan khawatir. Iya, tenang saja aku tidak akan terlambat kembali ke kamar.” Sehun langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja ketika managernya itu berkata bahwa ia akan segera mengeluarkan Sehun dari dalam lift tersebut.

 

“Oh ya, siapa namamu?” Tanya Sehun namun pintu lift sudah keburu terbuka. “Maaf atas ketidaknyamanannya. Kami menjamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.” Ujar manager hotel tersebut yang tampak ditemani oleh beberapa mekanis sementara Sehun dan Surin hanya mengucapkan terima kasih dengan sopan.

 

“Oh Sehun! Syukurlah kau berhasil keluar dari lift itu. Ayo, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera jalan ke bandara.” Surin melirik jam tangannya kemudian terkejut melihat penunjuk jam tersebut. Ia juga harus berangkat sekarang. Baru saja Surin akan melangkah pergi, tiba-tiba suara Sehun menahannya.

 

“Hey plester, kalau kita sampai bertemu lagi setelah insiden ini, aku rasa itu adalah takdir yang tidak bisa kita hindarkan.”

 

Surin tersenyum kemudian membungkuk sopan. “Aku ini penggemarmu. Jelas saja aku akan menempuh berbagai cara agar dapat bertemu denganmu lagi. Sampai jumpa. Semoga penerbanganmu lancar.” Surin berujar kemudian berlari kecil meninggalkan tempat tersebut.

 

Surin yakin, pertemuannya dengan Sehun benar-benar sebuah takdir. Surin hanya merasa sangat penasaran, kemana lagi takdir akan membawa mereka pergi?

 

**

 

“Halo? Beomsil-a, mengapa kau baru menghubungiku? Aku sudah di bandara Incheon sekarang. Dimana aku bisa menemukan Jimi? Cepat beritahu aku sebelum Jimi merebut ponselmu seperti waktu itu.” Surin berbicara pada sambungan teleponnya sambil terus menarik kopernya dan berjalan cepat-cepat. Suasana bandara Incheon yang sangat ramai membuatnya ingin segera menemukan taksi dan pergi dari tempat itu sekarang juga. Surin yakin sekali pintu kedatangannya ramai karena para penggemar yang menunggu kedatangan rombongan EXO.

 

Baru saja Surin melewati pintu kedatangan tersebut, ia terkejut ketika melihat rombongan EXO memasuki van yang seakan sudah lebih dulu menunggu mereka. Rupanya mereka melewati jalur lain membuat Surin merasa iba pada penggemar yang masih menunggu dengan setia di pintu kedatangan yang dilewatinya barusan. Surin pun hanya melihat van tersebut pergi di iringi beberapa penggemar yang mencoba mengejar sambil membawa kamera mereka masing-masing. Surin menghela napas seraya tersenyum menatap dua van yang semakin menjauh itu. “Selamat beristirahat, Oh Sehun.” Ujarnya tiba-tiba membuatnya seketika mendengar seruan protes di telinganya. Surin lupa bahwa sedari tadi ia masih menempelkan ponselnya pada telinganya dan masih bercakap dengan Beomsil. Jelas saja laki-laki itu protes karena Surin tidak mendengarkan perkataannya.

 

Tapi Surin yakin sekali sedari tadi Beomsil tidak mengatakan apapun sejak ia menanyakan keberadaan adiknya beberapa menit yang lalu. Surin benar-benar baru mendengar suaranya kembali ketika laki-laki itu memprotes Surin barusan. “Beomsil-a, maaf. Tadi kau bilang apa?” Tanya Surin dan helaan napas terdengar di seberang sana. “Kau benar-benar tidak memperhatikan, ya? Aku bahkan sama sekali belum menjawab pertanyaanmu.” Surin terkekeh, ternyata benar laki-laki itu tidak berkata apapun sejak Surin menanyakan keberadaan adiknya. Sepertinya akhir-akhir ini laki-laki itu sedang banyak pikiran itulah mengapa sebabnya ia sulit sekali di ajak berkomunikasi belakangan ini, terbukti dengan kejadian barusan dimana ia tidak langsung menjawab pertanyaan Surin ketika ia menanyakan keberadaan adiknya dan malah diam untuk beberapa menit lamanya.

 

“Dalam dua jam lagi adikmu akan pergi ke sekitar daerah sungai Han. Ia akan membawa rombongan tournya untuk mengelilingi sungai Han.” Surin baru saja akan mengucapkan terima kasih atas informasi yang sangat berharga itu namun tiba-tiba sambungan teleponnya putus membuat Surin langsung menatap ponselnya dengan tidak terima. Mungkin laki-laki bersifat tenang dengan ciri khas mata bulat, bibir berbentuk hati, juga rambut cepak yang modelnya tidak pernah berganti sejak ia masih kecil itu memang sedang banyak pikiran sampai-sampai ia berlaku demikian. Surin hanya menaikan bahunya seraya menghela napas. Ia hanya berharap teman kecilnya itu akan baik-baik saja.

 

Surin melihat ke sekelilingnya, mencari taksi yang akan membawanya kembali ke Seoul. Surin segera berlari kecil dan memasuki taksi yang berada tidak jauh darinya. “Tolong antar saya ke sungai Han.” Surin berujar meletakan kopernya di kursi kosong yang berada di depannya. Surin menatap supir taksi yang belum juga melajukan mobilnya itu dengan heran. “Pak, tolong antar saya ke sungai Han.” Ulang Surin, takut-takut ia mendapatkan supir taksi berpendengaran buruk seperti supir taksi di New York. “Maaf nona tapi—”

 

“Sungai Han? Untuk apa seorang gadis pergi sendirian ke sungai Han apalagi ditengah musim dingin seperti ini? Kau tidak berencana untuk melakukan hal yang dilarang agama seperti bunuh diri atau semacamnya, kan?” Suara supir taksi barusan terpotong oleh suara seorang laki-laki yang berhasil membuat Surin membeku ditempat begitu ia melihat siapa pemilik suara tersebut. Surin sampai menganga, benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.

 

“Oh Sehun?!” Surin berseru membuat laki-laki yang kini tengah duduk tepat disebelahnya dengan tangan yang dilipat di depan dada itu menoleh seraya tersenyum manis. Surin bersumpah ia hampir mengumpat karena senyuman tampan dan mempesona itu. “Halo plester, kita benar-benar bertemu lagi. Jadi, inikah yang dinamakan takdir?” Sehun tertawa kecil sementara Surin terpaku melihat sosoknya yang begitu tampan meskipun tampaknya laki-laki itu sedang kelelahan dan dalam kondisi yang kurang baik. “Benar saja, jika bertemu denganmu aku pasti sedang mengalami sebuah insiden. Aku tertinggal rombongan dan harus pulang sendiri sekarang. Tidak aku sangka aku malah bertemu denganmu di taksi ini.” Ujarnya sementara Surin masih seakan belum sadar sepenuhnya.

 

“Pak, antar kami ke sungai Han.” Sehun berujar dan setelah supir itu mengangguk mengerti, taksi tersebut mulai melaju meninggalkan bandara Incheon. Surin mengumpat dalam hati ketika menyadari perjalanan dari Incheon menuju Seoul memakan waktu yang cukup lama. Setelah terjebak di lift, haruskah sekarang ia malah terjebak di taksi yang sama dengan Oh Sehun? Surin berdecak sementara Sehun masih memperhatikannya.

 

“Kau pasti mau mencari adikmu di daerah sungai Han?” Tanya Sehun membuat Surin langsung sadar sepenuhnya. “Ya-ya begitulah. Kata temanku dalam dua jam lagi ia akan ke sungai Han bersama rombongan tournya. Aku tidak boleh sampai terlambat karena pasti mereka hanya sebentar berhenti disana mengingat hari ini cuaca semakin dingin.” Jelas Surin membuat Sehun mengangguk-angguk. “Tapi, apa tidak apa kalau taksi ini mengantarku ke sungai Han terlebih dahulu? Apa kau tidak ada jadwal lagi setelah ini? Bagaimana kalau kau terlambat dan managermu khawatir—”

 

“Tenang saja. Hari ini adalah jadwalku untuk beristirahat. Lagipula aku rasa aku butuh mencari udara. Aku sudah putuskan untuk membantumu mencari adikmu sampai ketemu hari ini.” Sehun berujar membuat Surin membelakan matanya tidak percaya. “Apa?! Tidak, kau tidak perlu melakukan hal itu. Kau harus segera kembali ke dorm dan berisitirahat. Aku bisa mencarinya sendiri.” Tolak Surin namun Sehun malah menggelengkan kepalanya berkali-kali.

 

“Kapan lagi aku dapat berjalan-jalan di sungai Han dan mencari udara segar ditengah jadwalku yang padat? Sudahlah, ini kemauanku. Nona plester, aku harap kau tidak keberatan dan jangan banyak protes.” Sehun tersenyum membuat hati Surin seakan di acak-acak. “Tapi, bagaimana kalau banyak orang yang mengenalimu?” Surin berujar khawatir sementara Sehun langsung memakai topi baseball berwarna hitamnya, kacamata baca dan juga masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya. “Sekarang, apa aku masih dapat dikenali?” Surin terkekeh seraya mengalihkan pandangannya sementara kini Sehun sudah melepas peralatannya tersebut.

 

Tiba-tiba ponsel Sehun berdering nyaring membuatnya segera mengangkat panggilan telepon tersebut sementara Surin hanya mencoba meliriknya sesekali. Surin benar-benar gugup sekarang dan ia tidak tahu harus bagaimana. Sungguh, Surin tidak pernah sekalipun membayangkan ia dapat berada dalam jarak yang sangat dekat seperti ini dengan seorang Oh Sehun. Kalau ia bisa berteriak sekeras yang ia mau, Surin akan melakukan hal tersebut sekarang juga. Sayangnya ia sedang berada bersama laki-laki itu. Laki-laki yang sudah selama empat tahun mencuri seluruh isi hati dan pikirannya. Laki-laki yang sudah selama empat tahun menduduki posisi pertama di hatinya.

 

“Ya, hyung? Iya tenang saja aku sudah berada di taksi dan sedang dalam perjalanan menuju Seoul. Ah ya, hyung, aku akan tiba di dorm malam hari jadi kau tidak perlu menunggu. Aku ingin pergi ke suatu tempat.” Sehun berujar lalu tersenyum kecil ketika managernya akhirnya mengijinkan Sehun untuk menikmati waktunya walaupun ia sempat berceloteh panjang dan terus saja menasehati Sehun untuk tetap berhati-hati. Laki-laki itu kemudian memutus sambungan teleponnya ketika selesai mengucapkan salam perpisahan dengan sopan.

 

“Sungguh, seharusnya kau pulang dan beristirahat. Aku benar-benar bisa mencari adikku sendiri.” Surin berujar tidak enak sementara Sehun langsung berdecak. “Aku heran denganmu. Mana ada orang yang menolak kesempatan untuk berlama-lama dengan idolanya seperti apa yang kau lakukan sekarang ini?” Komentar Sehun membuat Surin langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang berada di sampingnya, berusaha untuk menghindari tatapan mata Sehun yang teduh dan menenangkan itu. Mendengar suaranya saja bahkan benar-benar membuat bulu kuduknya berdiri, ditambah lagi dengan tatapan serta senyumannya, Surin rasa ia tidak mampu untuk bernapas dengan baik jika ia tidak segera mengalihkan pandangannya dari sosok Oh Sehun yang mempesona itu.

 

“Bu-bukan seperti itu. Hanya saja kau kan butuh istirahat. Aku merasa seperti penggemar yang tengah menculik idolanya jika seperti ini.” Sehun tertawa kecil membuat Surin tidak kuasa untuk menahan debaran jantungnya. Bahkan suara tawanya mampu membuat hati Surin berdesir seperti sekarang ini. “Hei plester, kita belum berkenalan secara resmi. Kenalkan, namaku Oh Sehun, idola nomor satumu sejak dari empat tahun yang lalu. Namamu?” Surin memperhatikan tangan Sehun yang menjulur kearahnya dengan tidak percaya.

 

“Namaku Surin. Jang Surin.” Surin menjabat tangan Sehun membuat laki-laki itu tersenyum senang. “Ta-tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau aku sudah menyukaimu sejak dari empat tahun yang lalu?”

 

Suasana membeku untuk sesaat. Surin menunggu Sehun untuk menjawab pertanyaannya namun Sehun langsung terbatuk berkali-kali membuat Surin panik untuk sesaat. Surin buru-buru merogoh tas ranselnya dan mengambil botol minumnya yang tinggal berisi setengah lalu segera memberikannya pada Sehun. Sehun menatap botol minum Surin dengan lama sambil terus terbatuk. Sehun menerimanya kemudian menegak habis minuman yang berada di botol Surin lalu Surin seketika baru sadar akan satu hal sampai-sampai kini gantian gadis itu yang terbatuk.

 

Oh Sehun baru saja menempelkan bibirnya di botol minum yang setiap hari Surin gunakan? Pantas saja tadi Sehun seolah berpikir dulu sebelum menerima botolnya. Surin mengutuki dirinya sendiri dalam hati sambil menggerak-gerakan kakinya dengan kepanikan luar biasa sementara Sehun hanya menatapnya dengan tatapan geli. “Terima kasih.” Ujarnya seraya mengembalikan botol minum Surin membuat Surin rasanya ingin sekali mengubur dirinya saat itu juga.

 

“Kenapa kau seperti cacing kepanasan seperti itu?” Sehun berujar seraya menahan tawanya melihat kaki Surin yang tidak berhenti bergerak dan raut wajahnya yang begitu gugup. “A-ah tidak apa-apa. O-oh Sehun, aku rasa kau butuh istirahat. Sekarang lebih baik kau tidur dulu. Aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai, oke?” Surin melepas sweater abu-abunya kemudian menurunkan sedikit jendela yang berada di sebelah Sehun lalu menjepit tudung kepala sweater tersebut, menjadikan sweater tersebut tirai agar Sehun dapat tidur dengan nyenyak tanpa gangguan sinar matahari. Melihat hal konyol tersebut Sehun tertawa terbahak-bahak. Surin yang merasa Sehun tertawa karena jarak mereka yang begitu dekat hendak kembali ke posisinya semula, namun tiba-tiba taksi tersebut berhenti mendadak membuat Sehun terdorong ke depan sampai-sampai tidak sengaja bibirnya sempat mengenai kepala Surin sebelum sampai akhirnya ia kembali ke posisinya semula.

 

“Maaf, saya hampir menerobos lampu merah.” Ujar sang supir namun tidak ada satupun dari mereka yang menanggapi. Surin menatap Sehun begitupun dengan laki-laki yang kini tampak sama terkejutnya dengan Surin. Tiba-tiba sang supir taksi menginjak gas dalam-dalam membuat Surin harus terdorong ke arah Sehun. Dengan spontan Sehun memeluknya, bermaksud agar Surin tidak terpental kembali. Surin langsung menoleh ke arah Sehun yang kini hanya dapat mengeluarkan ekspresi terkejut yang sama dengan Surin. Surin buru-buru melepaskan dirinya dan kembali ke posisinya semula. “Maaf, saya tidak tahu kalau lampu merahnya benar-benar sebentar sehingga saya terkejut dan menginjak gas terlalu dalam.” Jelas sang supir namun lagi-lagi tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menjawab ucapan sang supir taksi.

 

Keduanya masih terpaku bahkan kini mereka sudah mengalihkan pandangan mereka ke luar jendela yang berada di samping mereka masing-masing, berusaha menghindari rasa gugup yang tiba-tiba melanda dan sama sekali tidak dapat mereka atasi itu. Surin tidak menyangka ia akan mendapatkan kecupan sekaligus pelukan dari seorang Oh Sehun. Ia benar-benar tidak menyangka.

 

Tanpa gadis itu sadari semburat merah muncul di kedua pipinya dan lengkungan berbentuk bulan sabit menghiasi wajahnya. Surin menenggelamkan setengah wajahnya pada syal merah tebal yang ia kenakan sembari terus tersenyum manis ke arah luar jendela. Surin merasa pemandangan yang kini berada di luar jendela itu jauh lebih indah dari biasanya dan mobil-mobil yang melaju melewati taksinya terlihat seperti kuda putih dengan mahkota bunga pada kepalanya. Surin tahu imajinasinya kini benar-benar sangat berlebihan, tapi memang itu yang dirasakannya. Semua jadi terasa lebih indah dan hangat meskipun musim dingin masih terus menyelimuti.

 

Tanpa Surin ketahui, seseorang kini masih memperhatikan tingkah gadis itu yang baginya sangatlah lucu. Oh Sehun, laki-laki berkulit putih susu itu dengan setia terus saja memperhatikan Surin seraya menahan gelak tawanya. Matanya kini bahkan sudah membentuk lengkungan seperti bulan sabit.

 

“Jang Surin, kau lucu sekali.”

 

Surin menolehkan kepalanya, lalu pipinya malah tertusuk oleh jari telunjuk Sehun. Sehun tertawa terbahak sementara Surin yang wajahnya sudah benar-benar merah seperti tomat matang itu langsung membuang pandangannya kembali ke arah jendela.

 

Untuk pertama kalinya Sehun menyebut namanya. Rasanya Surin benar-benar ingin membuka pintu taksi tersebut dan melompat keluar sekarang juga.

 

**

 

“Aish, anak itu menyusahkan saja. Dimana sih, dia sebenarnya?!” Surin berseru seraya terus melihat ke sekelilingnya. Daerah sungai Han memang tidak pernah sepi meskipun sedang musim dingin seperti sekarang ini. Entah itu anak-anak muda, orang-orang yang hanya sekedar berolah raga, ataupun turis asing memang seakan betah terus-terusan meramaikan daerah tersebut.

 

“Sabarlah sedikit, kau harus mencarinya dengan benar-benar jeli.” Ujar Sehun yang kini mengenakan topi baseball berwarna hitam, kacamata bacanya, beserta masker yang hampir menutupi seluruh bagian wajah dibawah matanya. Surin meliriknya yang tampak kedinginan dengan tidak tega. “Bagaimana kalau kita istirahat sebentar di café itu?” Sehun langsung menyetujui ucapan Surin barusan membuat keduanya dengan beriringan segera memasuki café yang tidak terlalu ramai itu.

 

Setelah pesanan hot chocolate mereka sudah siap, Sehun dengan segera membawa nampan berisi dua gelas hot chocolate itu sementara Surin memimpin jalan untuk mencari tempat. Gadis itu segera menempati tempat paling pojok café tersebut. Tujuannya tentu adalah karena Surin tidak mau sampai ada orang yang tahu kini ia dan Oh Sehun, anggota boyband paling terkenal satu Korea Selatan itu tengah duduk di café berdua bersamanya. Surin bukannya takut wajahnya akan muncul di berbagai majalah dan bahkan seluruh penjuru media sosial. Ia hanya tidak ingin idolanya itu mendapat rumor yang tidak-tidak, yang dapat mempengaruhi karirnya.

 

“Jadi, kau tidak tahu adikmu memakai baju apa? Atau ciri-ciri yang lebih spesifik? Daerah sungai Han itu luas. Akan sangat sulit jika kita tidak mengetahui warna baju apa yang dipakainya, atau semacam itu.” Sehun berujar seraya menyesap hot chocolatenya. Surin menggeleng menanggapi ucapan Sehun seraya menempelkan telapak tangannya pada gelas berisi hot chocolate yang berada di hadapannya. “Aku akan menghubungi temanku. Siapa tahu ia mengetahui baju warna apa yang dipakai Jimi agar pencarian ini menjadi lebih mudah.” Surin segera menelepon Beomsil namun berkali-kali panggilannya gagal. Surin berdecak seraya meletakan ponselnya di meja café tersebut dengan kesal.

 

Tiba-tiba tidak lama setelah itu ponselnya bergetar dan menunjukan sebuah pesan masuk yang ternyata adalah dari Beomsil. Surin segera membukanya membuat Sehun memajukan tubuhnya untuk turut membaca pesan tersebut.

 

From : Dyo B

 

Apa sekarang kau sudah mengetahuinya? Apa kau menghubungiku untuk memaki-makiku? Ayahmu yang merencanakan semua ini. Aku menyesal sudah menyetujuinya. Maafkan aku, Surin-a.

 

Surin mengernyit tidak mengerti. Apa maksud pesan Beomsil barusan? Mengapa ia harus memaki-maki laki-laki bermata bulat itu? Lalu, apa maksud ayahnya merencanakan semua ini? Surin benar-benar tidak habis pikir sampai-sampai alisnya terus saja bertaut.

 

“Dyo B itu nama temanmu? Apa maksud pesannya barusan?” Tanya Sehun yang lebih tidak mengetahui apa-apa. “Namanya Do Beomsil. Aku sering menyebutnya Dyo karena ia sangat mirip dengan Do Kyungsoo. Entahlah, aku juga tidak mengerti apa maksud pesannya ini.” Surin menatap layar ponselnya yang kini dalam mode terkunci. Surin menekan tombol ‘home button’ ponselnya tersebut lalu fotonya bersama dengan Beomsil muncul sebagai lock screen ponselnya. Surin baru saja akan membukanya namun Sehun segera menahan tangannya.

 

“Jadi ini yang namanya Beomsil? Woah, dia benar-benar mirip dengan Kyungsoo.” Sehun berkomentar membuat Surin tersenyum kecil. “Benar, kan? Hanya saja mungkin Beomsil jauh lebih tinggi daripada Kyungsoo.” Surin menjelaskan membuat Sehun langsung menatapnya penuh selidik.

 

“Sekarang aku tahu.” Surin mengernyitkan dahinya, menanggapi ucapan Sehun barusan. “Rupanya kau menyimpan rasa pada laki-laki ini.” Sehun mengangguk-angguk lalu menyesap hot chocolatenya, menghindari tatapan mata Surin. “Bagaimana bisa kau menyimpulkan sesuatu yang tidak kau tahu kebenarannya? Aku ini hanya menyukaimu. Tidak ada yang lain apalagi Beomsil. Ia hanyalah teman dari kecilku, tidak lebih dari itu.” Surin langsung menepuk dahinya sendiri ketika ia seakan baru menyadari apa yang barusan ia katakan pada Sehun.

 

“Oh ya? Kebanyakan dari penggemar itu pasti lock screen ponselnya adalah foto idolanya. Sedangkan kau malah menjadikan fotomu dengan laki-laki lain sebagai lock screen ponselmu. Itu artinya ia adalah orang yang special bagimu.” Surin tidak ingin menyimpulkan apa yang ia lihat saat ini tapi jika ia harus memberitahu, Surin dapat melihat kekecewaan di wajah Sehun membuat Surin rasanya ingin mengklarifikasi hal ini secepat mungkin.

 

“Tidak, sungguh ia hanyalah teman kecilku. Ia memang spesial karena ia adalah teman kecilku. Yang sekarang ada di hatiku sejak dari empat tahun yang lalu hanyalah kau, Oh Sehun. Ya benar, hanya kau seorang.” Surin berujar dengan menggebu-gebu kemudian sedetik berikutnya ia sudah kembali menepuk dahinya dengan frustasi. Mengapa ia harus mengatakan hal memalukan seperti itu hanya karena rasa ingin mengklarifikasi sesuatu yang bahkan Surin tahu bagi Sehun tidaklah penting?

 

“Kau menyukaiku sebagai seorang idola, dan kau menyukai laki-laki bernama Beomsil itu sebagai seorang ‘laki-laki’. Kedua hal tersebut tentu saja berbeda. Suatu saat nanti, kau pasti akan mengetahui dan menyadarinya.” Sehun meneguk habis hot chocolatenya sementara Surin hanya menatapnya dengan tatapan sedih. Tidak, Surin tidak ingin Sehun berpikir bahwa Surin menyukai laki-laki lain selain dirinya. Baru saja Surin hendak membantah lagi tiba-tiba Sehun berseru. “Oh, itu disana sepertinya rombongan tour!”

 

Surin menolehkan kepalanya dan mencoba mengenali rombongan tour tersebut. “Astaga itu benar-benar mereka! Ayo!” Surin segera berlari kecil keluar dari café diikuti dengan Sehun dibelakangnya. Saat hendak berjalan mendekat, Surin menghentikan langkah kakinya membuat Sehun tidak sengaja menabrak punggung kecil gadis itu. “Mengapa berhenti tiba-tiba? Ada apa?” Tanya Sehun namun Surin terus memperhatikan rombongan tour tersebut dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca membuat Sehun kebingungan. Surin meraih ponselnya di dalam saku mantel berwarna merah maroonnya, lalu meletakan ponselnya di telinganya ketika ia berhasil menemukan kontak yang ia cari.

 

“Appa?”

 

Sehun membelakan matanya, terkejut. Apa salah satu orang dari rombongan tour itu adalah ayahnya? Bukankah yang menyuruh Surin untuk mencari adiknya adalah ayahnya? Lalu mengapa ayahnya sekarang malah berada di rombongan tour yang dipimpin oleh adiknya itu? Pertanyaan terus berkeliaran dikepala Sehun sementara gadis itu masih saja terpaku ditempatnya.

 

“Appa sekarang ada dimana?” Tanya Surin ketika ia berhasil menguasai dirinya kembali. “Oh, Surin-a! Appa sedang berada di kantor sekarang. Apa kau sudah berada di Seoul? Cepat cari adikmu, Surin-a. Aku baru saja mendapat kabar bahwa ia sedang berada di café ‘Caffe Pascucci.’ Cepat kau kesana dan bawa dia pulang.” Ayahnya berujar membuat Surin langsung dapat menyimpulkan bahwa ayahnya baru saja berbohong. Untuk apa ayahnya berbohong? Untuk apa ayahnya menyuruh Surin pergi ke café romantis bernama Caffe Pascucci yang sangat terkenal itu?

 

Surin berjalan mendekat  ke arah rombongan tour yang sedang menikmati indahnya sungai Han itu. “Baiklah appa. Aku akan segera kesana sekarang juga.” Surin memutus sambungan teleponnya begitu saja sementara dari tempatnya saat ini berdiri, ia dapat melihat ayahnya tertawa senang.

 

“Jimi-ya, rencana kita berhasil. Surin benar-benar pulang dari New York, meninggalkan boyband kesukaannya itu, dan sebentar lagi ia akan bertemu dengan Kyungsoo yang akan melamarnya di café romantis itu.” Ayahnya berujar senang pada Jimi. “Memang sudah saatnya ia lepas dari belenggu boyband tersebut. Ia harus mempersiapkan masa depannya. Terkadang aku miris melihatnya yang malah berharap pada laki-laki yang tidak nyata seperti itu padahal di depannya sudah ada Do Beomsil yang selalu setia menunggunya. Kasihan Beomsil jika harus menunggu lebih lama lagi. Untung saja kita berpikir mengenai ide semacam ini.” Jimi berujar dan Surin benar-benar dapat mendengarnya dengan jelas.

 

Air mata Surin jatuh begitu saja membasahi kedua belah pipinya. Surin tidak pernah tahu bahwa selama ini mereka mengasihani Surin. Surin tidak pernah tahu bahwa selama ini mereka benar-benar melihat idola Surin yang merupakan inspirasi hidupnya itu dengan sebelah mata. Dan Surin tidak pernah tahu bahwa selama ini mereka melihat rasa cintanya yang besar pada seorang Oh Sehun sebagai sesuatu yang patut untuk di kasihani.

 

Sehun yang berada tepat disebelah Surin juga dapat mendengar hal tersebut. Sehun tidak bisa melakukan apapun selain hanya memperhatikan gadis yang sudah menangis itu dalam diam. Entah mengapa, ada sesuatu dalam diri Sehun yang merasa ingin untuk membantah ucapan adik Surin barusan, namun Sehun merasa ia tidak memiliki kemampuan semacam itu sehingga akhirnya ia hanya dapat diam saja. Ia tidak memiliki sesuatu yang kuat, sesuatu yang pasti untuk dapat membantah ucapan Jimi barusan.

 

“Appa!” Surin berteriak membuat Sehun segera menoleh ke arahnya. Rombongan tour itu pun segera melakukan hal yang sama dengan Sehun. Kini Sehun dapat melihat tatapan terkejut dari ayah maupun adik Surin. “Selamat, kalian berhasil atas rencana kalian.” Surin segera berlari menjauh membuat Sehun segera mengejarnya sementara ayah dan adiknya kini sibuk memanggil Surin berkali-kali.

 

Surin benar-benar kecewa sampai-sampai dadanya terasa sesak. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menghadapi laki-laki yang sekarang ini tengah mengejarnya. Ya, ia merasa sudah tidak pantas lagi bahkan hanya untuk melihat seorang Oh Sehun. Surin merasa malu dan ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari kejadian memusingkan dan tidak terduga yang akhir-akhir ini terjadi padanya tanpa henti.

 

**

 

Sudah satu jam Sehun hanya menepuk pelan punggung Surin, menenangkan gadis yang terus saja menangis itu. “Sudahlah, mau sampai kapan kau menangis seperti ini?” Sehun berujar membuat Surin langsung sesenggukan, berusaha menghentikan tangisannya. Sehun memakaikan topinya pada Surin membuat gadis yang kini duduk di hadapannya itu langsung berhenti menangis. Sehun segera memakai tudung kepala jaket tebalnya sambil memakan tteokbeokki yang sudah dingin itu. Surin hanya menatapnya dalam diam sementara Sehun yang merasa di perhatikan langsung menyodorkan tteokbeokkinya pada gadis itu. Surin segera melahap tteobeokki dingin itu seraya menghapus sisa-sisa air matanya.

 

“Sudah merasa baikan?” Surin mengangguk perlahan. “Terima kasih dan maaf. Karenaku, hari ini kau tidak dapat beristirahat dan malah terlibat di insiden seperti adegan-adegan dramatis di drama murahan seperti ini.” Surin berujar membuat Sehun terkekeh. “Tidak apa, rasanya seru juga. Lumayan untuk melepas stress karena jadwal yang padat.” Tanggap Sehun santai.

 

Ponsel Surin yang ia letakan pada meja warung tteokbeokki itu terus saja bergetar, menandai banyaknya pesan masuk dan panggilan telepon yang ia abaikan. “Sedari tadi laki-laki bernama Beomsil itu terus saja menghubungimu. Tidak baik membiarkan orang khawatir karena mencarimu.” Sehun menasehati sementara Surin hanya menunduk. “Memangnya kau tega berlaku seperti itu pada laki-laki sebaik Beomsil?”

 

Surin hanya terdiam sembari menghela napasnya pelan. “Aku bukannya bermaksud ingin ikut campur, tapi sebagai idolamu yang baik dan karena aku tidak mau melihat penggemarku terjebak dalam masalah berlarut-larut, biarkan aku memberikanmu nasehat.” Surin menatap Sehun yang sudah sedari tadi lebih dulu menatapnya.

 

“Ayah dan adikmu mungkin menggunakan cara yang salah, tapi maksud mereka baik. Mereka tidak mau melihatmu terus-terusan bergantung pada laki-laki yang tidak dapat memberikanmu apa-apa, bahkan tidak dapat sekalipun menjadi bagian dalam hidupmu. Mereka tidak mau melihatmu mencintai laki-laki yang bahkan tidak mengenalmu atau bahkan mengetahui namamu. Mereka hanya ingin kau bersama seseorang yang pasti.” Sehun berujar panjang membuat mata Surin berkaca-kaca. “Tapi kan kau sekarang mengenalku. Kau mengetahui namaku. Kau berada di dekatku. Apa aku tidak bisa berharap? Apa aku harus dengan begitu saja membuang semua harapanku sejak dari empat tahun yang lalu padahal sekarang ini aku sudah mendapatkan titik cerah?” Surin merasa air matanya sudah jatuh kembali membasahi kedua pipinya.

 

“Aku tidak dapat menjamin apapun yang pasti padamu. Aku tidak dapat berada disisimu dalam waktu yang panjang seperti yang laki-laki bernama Beomsil itu bisa lakukan. Jika tidak ada semua insiden ini, mungkin aku tidak mengenalmu sama sekali. Kau mau menggantungkan masa depanmu pada orang yang tidak mengenalmu? Yang nantinya kau dapatkan adalah nihil.” Ucapan Sehun benar-benar bagaikan pedang yang langsung menancap hatinya. Surin bahkan sampai merasa tidak sanggup lagi untuk mendengar itu semua.

 

“Aku sama sepertimu. Nantinya aku akan menemukan pasangan hidupku. Sekarang adalah saatnya untukmu, dan aku rasa laki-laki bernama Beomsil itu adalah pilihan yang sangat tepat. Ia bahkan tidak membiarkanmu pergi menemuinya di café itu dan malah membiarkanmu mengetahui kebenaran yang sebenarnya.”

 

Surin menengadahkan kepalanya ke atas seraya terus berusaha menghapus air matanya yang tidak mau berhenti itu. “Kau boleh mengidolakanku sampai kapanpun yang kau mau. Tapi untuk menjadikanku sebagai tujuan dan masa depan hidupmu, aku tahu kau sendiri sudah mengetahui jawabannya.” Sehun tersenyum membuat hati Surin seakan teriris begitu saja.

 

Sehun memberikan Surin sebuah plester penyembuh luka yang sama persis dengan plester yang waktu itu ia berikan di bandara. “Rasanya sakit, kan? Plester ini hanya berfungsi untuk menutup luka tersebut. Untuk mengobati luka dalamnya, kau harus menggunakan obat yang tepat. Itu dia obatmu.” Sehun berujar membuat Surin segera menoleh ke belakang. Surin menemukan Beomsil berdiri di depan pintu seraya menatap Surin dengan tatapan khawatir.

 

“Aku rasa tugasku hari ini sudah selesai. Anggap saja ini adalah fanservice dariku. Hari ini aku benar-benar mengalami hal yang sangat seru dan itu semua berkatmu.” Sehun bangkit berdiri membuat Surin turut melakukan hal yang sama. “Oh Sehun, terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih.” Surin membungkuk sopan, air matanya sudah jatuh lagi entah untuk yang keberapa kali.

 

Sehun berjalan mendekat ke arahnya dan Surin dapat kembali mencium aroma mint yang khas itu. “Kita harus bertemu lagi, Jang Surin.” Sehun tersenyum senang kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.

 

“Beomsil-a.” Surin berujar lirih seraya menatap punggung Sehun yang terus menjauh. “Beomsil-a.” Ujarnya dan seketika itu juga tangisannya pecah terutama ketika ia melihat Sehun memasuki taksi dan pergi begitu saja. “Aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa. Bagaimana mungkin aku melupakannya?” Beomsil merengkuh Surin dalam pelukannya sementara Surin terus saja menangis keras. “Aku benar-benar mengkhawatirkanmu.” Ucap laki-laki berperawakan tenang itu sementara Surin hanya meremas ujung kemeja Beomsil dengan keras.

 

“Kau harus mencobanya. Aku akan membantumu bagaimanapun caranya dan meskipun aku harus menunggu dalam jangka waktu yang lama, aku berjanji aku akan membantumu.”

 

Mungkin benar, setidaknya Surin harus mencoba. Mencoba untuk melupakan seorang Oh Sehun. Mencoba untuk menata masa depannya sendiri sekarang ini.

 

**

 

“Selamat malam nona Jang. Maaf aku baru menghubungimu sekarang. Besok aku akan kembali ke Seoul jadi jangan sedih seperti itu.” Surin tertawa seraya meletakan laptopnya pada kasurnya dan membetulkan posisi duduknya. “Siapa yang sedih? Toh besok aku akan langsung menculikmu di bandara. Wajahmu terlihat lelah sekali. Sana mandi dengan air hangat dan beristirahatlah.” Surin memperhatikan wajah kekasihnya yang tampil pada layar laptopnya itu dengan khawatir sementara laki-laki yang kini merasa dikhawatirkan itu hanya menguap berkali-kali seraya mengusap kedua matanya dengan tangannya.

 

“Walaupun aku kelelahan, tapi seharian ini kan kita belum berkomunikasi. Aku benar-benar merindukanmu, Surin-a. Jadi aku harap kau tidak keberatan untuk melakukan video call ini sampai besok pagi.” Ujarnya diikuti suara tawa yang khas, yang berhasil membuat Surin ingin memeluknya saat ini juga. Kekasihnya itu sedang berada di China karena urusan pekerjaan. Surin yang tadinya berencana ikut dengannya ke China, harus mengurungkan niatnya karena jadwalnya terbentur dengan jadwal study wisata para murid sekolah dasar tempat Surin mengajar.

 

“Aku juga merindukanmu. Kalau besok kau mau ketinggalan pesawat maka ya, boleh-boleh saja kita melakukan video call ini sampai pagi.” Jawab Surin seraya meletakan dagunya pada telapak tangannya. “Aku jadi ingat kejadian bertemu denganmu di bandara New York.” Surin langsung tersipu sementara suara tawa yang berat sudah lebih dulu terdengar.

 

“Kalau tidak ada kejadian itu, mungkin kita tidak akan sampai pada tahap ini.” Ujarnya lagi membuat kedua pipi Surin merah merona dengan seketika. “Lalu, apa kau ingat kejadian di taksi dimana itu pertama kalinya aku mencium pipimu dan memelukmu? Aku benar-benar tidak dapat melupakan kejadian itu meskipun sekarang sudah lebih dari dua tahun berlalu.” Surin mendengus sambil menangkup pipinya dengan kedua tangannya, bermaksud agar Sehun tidak dapat melihat semburat merah yang menurut Surin memalukan itu.

 

Tentu saja Surin masih dapat mengingat semua kejadian singkat dan tidak terduga yang dapat membuat seorang Oh Sehun terlibat lebih jauh dengannya. Surin bahkan masih ingat kejadian pahit dimana Sehun menasehatinya untuk menemukan masa depannya sendiri. Surin masih ingat dengan jelas bagaimana setelah itu ia benar-benar menjalin hubungan dengan Do Beomsil. Surin pikir ia dapat melupakan Sehun mengingat Beomsil yang sangat baik dan sangat mencintainya itu selalu melakukan apapun yang ia bisa untuk mengambil hati Surin.

 

Laki-laki yang tidak terlalu banyak bicara itu selalu menyanyikan Surin sebuah lagu melalui sambungan telepon sebelum Surin tidur, ia dengan setia mengantar dan menjemput Surin setiap hari dari kampusnya, ia juga sering membelikan Surin buku-buku novel mengingat Surin yang sangat hobi membaca buku. Beomsil melakukan semua itu selama enam bulan, namun Surin tidak menyangka ketika ia dan laki-laki itu sudah memilih cincin untuk pertunangan mereka, Beomsil malah menyuruh Surin untuk mengikuti kata hatinya. Beomsil tidak ingin memaksa Surin untuk mencintainya. Ia tahu sekali bahwa yang ada di hati Surin hanyalah seorang Oh Sehun dan sampai kapanpun hal tersebut tidak akan bisa berubah.

 

Surin ingat bagaimana ia menangis tanpa henti sejak kejadian itu. Surin tidak mengerti mengapa Beomsil harus meninggalkannya begitu saja padahal ia sudah memantapkan hatinya. Namun lambat laun Surin pun sadar bahwa selama enam bulan ia menjalin hubungan dengan Beomsil, Surin malah semakin sering bertemu dengan Oh Sehun tanpa disengaja. Mereka sering bertemu pada saat malam hari di mini market untuk sekedar menikmati susu kotak ataupun ramen bersama. Awalnya pertemuan mereka memang benar-benar tidak disengaja, namun di hari-hari berikutnya, Surin selalu datang ke mini market tersebut pada jam yang sama dengan malam-malam sebelumnya, begitu pun dengan Sehun. Mereka seolah menunggu satu sama lain dan tidak pernah satu hari pun selama enam bulan itu mereka lewati tanpa bertemu dengan satu sama lain.

 

Surin rasa hal tersebutlah yang membuat Beomsil menyerah dengan hubungan mereka. Surin rasa Beomsil mengetahui ini semua hanya saja ia tidak memberitahunya pada Surin. Laki-laki itu memilih untuk dimarahi habis-habisan oleh ayah kandung Surin dan di cap sebagai laki-laki yang tidak serius daripada harus memberitahu pada semua orang bahwa alasannya memilih untuk menyudahi hubungannya dengan Surin adalah karena Surin yang seakan menduakannya. Beomsil hanya tidak mau Surin di cap sebagai gadis yang tidak baik. Surin benar-benar merasa jahat sampai-sampai ia berusaha menghubungi Beomsil, bermaksud untuk meminta maaf, namun jawaban Beomsil saat itu malah menampar hati Surin semakin kencang.

 

“Tidak, Jang Surin. Kau tidak perlu meminta maaf. Kau sudah berusaha untuk tidak bertemu kembali dengannya semenjak kejadian dimana aku menawarkan diri untuk membantumu melupakannya. Namun, memang ada suatu hal yang tidak dapat kau hindari. Hal tersebut dinamakan ‘takdir’. Kau dapat bertemu dengannya kembali di mini market itu karena takdir yang membiarkan kalian berdua akhirnya menemukan jalan kalian kembali. Aku tidak punya hak bahkan untuk mematahkan takdir tersebut. Berbahagialah, Jang Surin.”

 

Sejak kejadian itu Surin tidak pernah lagi pergi ke mini market itu selama dua bulan lebih dan semenjak itu juga, ia tidak pernah lagi bertemu dengan Sehun. Berselang beberapa minggu, percaya tidak percaya, Surin kembali bertemu dengan laki-laki bertubuh tinggi itu. Saat itu Surin hendak pulang ke rumahnya dengan menggunakan kereta, kendaraan yang memang merupakan satu-satunya kendaraan Surin dari kampus menuju rumah dan sebaliknya.

 

Pada saat itu Surin harus bersedia mengalah dan memberikan kursi tempat duduknya pada seorang wanita paruh baya. Selang beberapa menit setelah ia memberikan tempat duduknya, seorang laki-laki yang berada tidak jauh dari tempat Surin berdiri, menawari tempat duduknya pada Surin. Surin segera menempatkan dirinya di tempat duduk laki-laki tersebut sementara laki-laki bertubuh tinggi itu sudah lebih dulu berdiri dihadapannya. Ia mendongak, bermaksud untuk mengucapkan terima kasih. Namun beberapa detik kemudian, Surin baru menyadari bahwa orang yang berada di hadapannya adalah Oh Sehun. Surin benar-benar terkejut sama seperti Sehun yang langsung membelakan matanya tidak percaya saat ia melihat manik mata berwarna hitam pekat yang sangat dikenalnya itu. Manik mata hitam pekat yang tidak lain tidak bukan adalah kepunyaan Surin.

 

Dan pada saat itu Surin tahu bahwa mungkin Tuhan memang sudah menuliskan takdirnya. Takdir yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun, bahkan oleh dirinya sendiri.

 

“Oh Sehun, aku jadi benar-benar merindukanmu sekarang.” Surin berujar tiba-tiba membuat laki-laki itu hanya tertawa geli seraya memamerkan bentuk mata bulan sabitnya pada Surin. Surin langsung tersipu ketika Sehun malah mencium kamera laptopnya, seolah memberikan sebuah kecupan pada Surin. Surin segera melakukan hal yang sama, dan setelah itu mereka berdua larut dalam gelak tawa.

 

“Aish, kalian ini menggelikan sekali. Sana di luar saja jika ingin bermesraan seperti itu.”  Jimi, adik kandung Surin yang kini tengah duduk disebelah Surin seraya membaca majalah hanya dapat bergidik melihat tingkah laku kedua sejoli yang menurutnya tengah dimabuk asmara itu. Sehun hanya tertawa menanggapi ketika Surin malah dengan sengaja menyodorkan laptopnya ke arah Jimi yang kini sudah menutup wajahnya dengan majalah fashion yang dipegangnya.

 

“Sehun-a, kau harus tahu sesuatu. Ku dengar Jimi tengah dekat dengan seseorang yang baru saja dikenalnya dua minggu yang lalu. Jimi bertemu dengan laki-laki itu tengah malam di daerah Hongdae saat ia tengah membeli camilan.” Surin yang kini sudah di dorong-dorong oleh Jimi terus melanjutkan ceritanya sementara Sehun hanya menatap kelakuan mereka berdua dengan senyuman yang tidak berhenti mengembang.

 

“Saat itu Jimi melihat seorang laki-laki berteriak sambil berlari-lari mengejar juga memanggil-manggil anak anjingnya yang berlari jauh di depannya. Jimi dengan spontan langsung menangkap anak anjing itu lalu segera memberikannya pada laki-laki yang tampak sangat lega dan bersyukur itu.” Jimi kini bahkan sudah memukuli Surin dengan bantal sementara gadis yang dipukuli masih terus melanjutkan ceritanya. “Nah, setelah kejadian tersebut, mereka selalu bertemu di tempat yang sama untuk sekedar mengajak anak anjing itu berjalan-jalan sambil juga menikmati camilan malam yang mereka beli di toko tempat mereka bertemu itu bersama-sama. Manis sekali, bukan?” Surin bercerita panjang lebar sementara laki-laki yang kini masih setia menatapnya itu hanya mendengarkan sembari tertawa kecil.

 

“Aish, kau tidak perlu menceritakannya selengkap itu.” Protes Jimi membuat tawa Surin langsung memenuhi ruang kamar tersebut. “Sepertinya aku juga pernah mendengar cerita yang sama dari seseorang. Ya, Kim Jongin, aku tidak salah, kan? Kau juga pernah cerita padaku bahwa kau tengah dekat dengan seorang gadis pecinta anjing yang kau temui di daerah Hongdae, kan?”

 

Tidak lama setelah itu Jimi langsung merebut laptop yang berada dipangkuan Surin. “Ya, Kim Jongin! Kembalikan laptopku! Aku ingin melihat wajah cantik kekasihku, Jang Surin sepuasku malam ini!” Surin dapat mendengar protesan Sehun dengan jelas. Jimi kini mengalihkan pandangannya dari laptop tersebut ke arah Surin yang hanya melihatnya dengan alis yang bertaut, heran dengan kelakuan adiknya itu.

 

Jimi mengerjapkan matanya berkali-kali, mempertajam pengelihatannya. Seorang berkulit cokelat yang akhir-akhir ini menyita seluruh pikirannya itu benar-benar ada dihadapannya sekarang. Jimi kembali menatap kakaknya yang masih memperhatikannya dengan tatapan heran.

 

Jimi menunjuk layar laptop yang berada di pangkuannya itu dengan tidak percaya. “Ka-kau si toy puddle itu?! Me-mengapa kau bisa berteman dengan seorang Oh Sehun? Mengapa bisa seornag Oh Sehun, anggota boyband bernama EXO yang sangat terkenal itu adalah temanmu?” Jimi berseru panik sementara laki-laki yang berada di layar laptop tersebut tampak tersenyum manis. “Itulah mengapa aku menyebutmu gadis tidak up to date. Bagaimana bisa kau tidak mengenal seorang Kai? Kai adalah aku, Kim Jongin. Dan Kim Jongin adalah aku, Kai.”

 

Jimi langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptop tersebut ke arah Surin dengan tatapan tidak percaya. Tidak lama setelah itu tawa Surin meledak begitu saja. “Jimi-ya, kau pernah berkata padaku bahwa cerita cintaku dengan Oh Sehun itu mustahil, kan? Ini adalah bukti lain untuk menyangkal perkataanmu.”

 

“Ja-jadi, Kim Jongin pemilik anak anjing berjenis toy puddle yang menggemaskan itu adalah anggota EXO?!”

 

Kau tidak bisa menyangkalnya. Kau tidak bisa menghindarinya. Kau tidak bisa merubahnya karena Tuhan memang sudah menuliskan ceritamu dari awal sampai akhir. Meskipun ada banyak liku dan masalah-masalah yang dapat kau temukan di setiap lembarannya, tapi percayalah semua itu justru yang akan membawamu pada akhir yang indah. Surin rasa itu yang dinamakan takdir.

 

**

 

Tujuh tahun yang lalu.

 

Surin berjalan mendekat ke arah laki-laki yang akhir-akhir ini berhasil mencuri hatinya itu dengan perlahan-lahan. Surin menghentikan langkahnya ketika ia melihat punggung laki-laki itu yang tampak bergetar. Dari jarak berdirinya sekarang ini Surin bahkan dapat mendengar isakan kecil keluar dari bibir laki-laki itu. Surin segera menghampirinya seraya berlutut di hadapannya. Laki-laki berparas datar itu hanya menatap Surin dalam diam. Entah mengapa kehadiran gadis itu seolah mengobati sedikit rasa perih dan nyeri yang berada di sekujur tubuh serta relung hatinya.

 

Surin memperhatikan telapak tangan laki-laki itu yang terluka. Surin meraihnya dengan perlahan kemudian ia merogoh tas ranselnya untuk mengambil plester penyembuh luka. Surin segera menempelkan dua buah plester di atas luka tersebut setelah sebelumnya ia membasuh telapak tangan itu dengan air minumnya.

 

Surin mengetahui semua yang terjadi pada laki-laki itu hari ini. Ia mengintip laki-laki itu ketika ia sedang latihan menari di ruangannya setelah sebelumnya Surin melihat ia di marahi habis-habisan oleh pelatihnya karena gerakannya yang terus saja salah dan tidak sempurna. Ia bahkan di cap sebagai penari yang tidak punya energi, sampai-sampai Surin merasa kesal sendiri. Surin tidak terima jika idolanya yang rumornya dalam beberapa bulan lagi itu akan debut bersama boyband bernama EXO keluaran SM Entertaiment itu harus direndahkan seperti itu hanya karena ia tidak dapat melakukan tarian dengan baik.

 

Ya, Surin adalah penggemar berat Oh Sehun, laki-laki yang bahkan baru hanya di rumorkan akan debut dalam beberapa bulan kedepan. Surin sampai harus meminjam baju seragam Seoul Performing Art School dari temannya hanya untuk dapat masuk ke sekolah tersebut dan melihat laki-laki bernama Oh Sehun itu latihan menari setiap harinya.

 

Latihannya kali ini sedikit lebih emosional dari biasanya membuat Surin merasa khawatir. Ia bahkan sampai jatuh berkali-kali karena terlalu memaksa dirinya yang sudah lelah itu. Sehun keluar dari ruangan tersebut, melewati Surin begitu saja yang saat itu berpura-pura mencari sesuatu di depan kaca pintu ruang latihan tersebut.

 

Surin segera mengikutinya dan sampailah ia pada taman belakang sekolah tersebut. Awalnya Surin merasa tidak ingin menghampirinya, namun melihat punggungnya yang kesepian itu membuat Surin tidak tahan untuk hanya diam saja. Ia merasa ingin menghibur laki-laki itu. Ia merasa ingin memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

Surin menatap kedua bola mata Sehun sambil tersenyum manis. Ia meletakan kembali tangan Sehun dengan perlahan ditempatnya semula sementara mata Sehun sedari tadi belum berkedip dan hanya memperhatikan objek di depannya dalam diam. Surin bahkan tidak dapat menerka apa arti dari tatapan tersebut.

 

“Tenang saja. Semua orang pasti pernah punya hari yang berat. Tapi yang perlu kau ingat, kau masih punya hari esok yang mungkin saja akan mengobati apa yang terjadi pada hari ini.” Ujar Surin seraya bangkit berdiri lalu pergi begitu saja setelah menepuk pundak Sehun berkali-kali.

 

“Penggemar pertamaku sekaligus penyembuh lukaku, gadis plester. Gadis yang menyamar menjadi murid sekolah ini demi menyaksikanku latihan menari setiap hari. Aku tidak akan pernah melupakan kalimat yang barusan kau katakan padaku.” Sehun berujar seraya memperhatikan sosoknya yang kini melambaikan tangannya ke arah Sehun.

 

“Hei, gadis plester! Kau tenang saja, suatu hari nanti aku pasti akan berhasil. Dan ketika saat itu tiba, aku akan mencarimu sampai kemanapun, gadis plester-ku!”

 

-FIN.

 

Gimana-gimana?! Semoga kalian suka ya! Gak nyangka banget bisa dapet ide ff kayak gini. Jadi ceritanya waktu aku mau nonton konser exoluxion kemarin, ada satu reader yang mention di twitter, ngasih saran buat bikin ff bertema fans dan idolanya gitu. Pas aku pikir-pikir ternyata lucu juga kali ya, nah makanya lahir lah ff berjudul panjang ini HAHAHAHA. Karena judulnya panjang, isinya juga harus panjang dong. Semoga aja gak ngebosenin ya. ((beneran khawatir kalo jatohnya ngebosenin. tapi semoga aja engga, ya.))

Terima kasih sudah bersedia menyempatkan waktunya untuk baca ff panjang ini huhu. Oh iya, sekedar info Beomsil itu nama Kyungsoo di filmnya yang judulnya ‘Pure Love’, makanya tokohnya di sini Kyungsoo banget hahahaha.

Sekali lagi terima kasih ya sudah setia membaca bahkan sampai kata-kata terakhir ini. Semoga kalian suka dengan ff nya (dan dengan Sehun-nya hahaha.) See you on the next ff! xoxo. Please send your thoughts about this ff on the comment box! Thanks and see ya!

Kunjungi wordpress pribadi saya untuk ff yang lainnya ya. Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disana ya!

 

 

 

Iklan

15 thoughts on “THEY CALL IT IMPOSSIBLE (Oneshoot)

  1. Ga bosen dan suka!!! Ini meskipun cuma ff tp di dunia nyata udah ada kok yg kejadian, artis Nickelodeon pacaran sama fansnya, ga jauh beda sm Surin yg diceritakan disini😂
    Nice author-nim! Entertaining much. Keep writinggg😀

  2. aku suka banget ceritanya,beda dr yg laen,sukaaa…bgt,besok baca lg ah…sekarangmah dah ngantuk,laen waktu aku mampir diblog mu…bye…

  3. Owww Damn!!!!
    Ini greget sumpah, ngayal2 kalo surin itu akuuu huahahahaha. Td sempet ngedown bacanya pas Sehun tbtb ninggalin Surin di kedai tteobokki, itu aku fikir “ini kah akhirnya?” Anjay lebay banget ya.
    Nah skrg mereka pacaran kan? Gitu kan? Oke fix sukaaaaa banget sm ini ff! Plis bikin next atau series atau apalah yg penting cerita ini dilanjutin wkwk. HWAITING AUTHORNIM!💪

    • Hahahaha! Seneng banget kalo kamu suka, dear!!! Iya dong mereka pacaran>< makasih ya kamu udah mau baca dan bahkan komennn! Sesekali main-main ke wp aku juga :p

  4. Wahhhh.
    Keren abis.
    Emang yah, takdir itu susah ditolak.
    Kalau udah takdir yah mau diapa.

    Adegan pas didalam taxi lucu banget loh.
    Nyium pipi plus meluk.
    Coba aja gue kayak gitu.
    Wk.wk.wk.wk. 😀

    keren banget. #sumvah

    FIGHTING NE EON. 🙂

    Ditunggu Ff lainnya. 😉

  5. daebak!! Keren banget eonni..
    baru kali ini baca ff sepanjang ini dan puas bacanya. suka banget😊 keep writing eonni, ngga sabar nunggu ff mu yg lain. Hwaiting!

    • Uuuuu makasih banyak komennya manis bangettttttttt! Hihiihi sampe senyum-senyum sendiri juga aku baca komen kamu/? main-main ke wp pribadi aku ya :p sekali lagi makasih banyak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s