All-Mate911 (Chapter 5)

All-Mate911

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

Note : Baru ngeh kalau a/n di chapter sebelumnya itu belum diganti karena aku asal copas dari part 3 (kayaknya) lol anyway, ini dia chapter 5! Happy reading XOXO

(dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-setiap orang memiliki satu orang yang mengganggu itu, yang ingin kau cekik lehernya dua puluh empat jam sehari-

 

Sena terbangun dari mimpi yang rasanya sangat lama dan selama sejenak ia tidak yakin di mana ia berada atau tanggal berapa sekarang. Kemudian pikirannya kembali berkumpul dan hal pertama yang Sena rasakan adalah kehangatan berlebih. Ia biasanya tidur dengan selimut yang membuatnya bangun dengan leher dan pelipis berkeringat, tapi sekarang rasanya ia berkeringat sekujur tubuh.

Lantas ia menyadari kehangatan itu berasal dari tubuh lain di sebelahnya. Tangannya yang panjang memeluk pinggang Sena dan dadanya yang telanjang menempel pada punggung Sena.

“Demi Tuhan, Oh Sehun!” Sena menyingkirkan tangan Sehun yang menghalangi geraknya dan menghela tubuhnya duduk. “Apa yang kau lakukan di sini!”

“Astaga,” Sehun mengerang protes dan menutup wajahnya dengan lengan. “Tenang apa bisa tidak sedikit…”

Sena tidak repot-repot menertawai tata kalimat Sehun yang berantakan dan tanpa aba-aba menendang laki-laki itu dari tempat tidurnya. Sehun jatuh dengan suara berdebum dan aduh yang keras.

YA!” Sehun berseru dengan hanya satu mata terbuka. Rambutnya mencuat ke mana-mana seperti korban arus pendek listrik. “APA MASALAHMU?!”

“KAU!” balas Sena berapi-api. “Apa-apaan, tidur di tempat tidurku, dan astaga, tanpa kaus pula!”

“Jangan berlebihan,” sembur Sehun. “Aku bukannya telanjang. Kamar sialan ini panas.”

Sehun berniat kembali tidur di lantai, tapi Sena melompat turun dan menyambar tangannya sebelum Sehun sempat berbaring. “Tidak bisa. Pakai kausmu. Apa kau tidak belajar etika? Tidak sopan berkeliaraan telanjang dada di kamar perempuan!”

“Oh, kau perempuan. Itu kejutan.”

Sena menggumamkan sumpah serapah dan menyambar kaus Sehun yang teronggok sembarangan di dekat handuk lembab Sena (setelah dipikir-pikir, entah Sehun yang tertular ketidakrapian Sena atau Sena jadi serampangan karena bergaul dengan Sehun). “Ini. Cepat pakai.”

Sehun meringkuk membentuk janin dan menggumam, “Tidak mau.”

“Tidak mau? Oke. Akan kubantu.”

Sena menduduki kaki Sehun dan menarik paksa tangannya. Sehun, meski mengantuk, ternyata masih punya sedikit kesadaran untuk menggeliat menolak. Karena pada dasarnya Sehun adalah laki-laki yang aktif, ia jauh lebih sehat dan lebih kuat dari Sena, sehingga mudah baginya melepaskan diri, dan sulit bagi Sena membuat kaus itu melewati kepala Sehun. Sehun bisa saja langsung menggulingkan Sena dari kakinya untuk menghentikannya, tapi sepertinya bagian dari dirinya yang sadar tahu itu akan menyakiti Sena dan hanya menggunakan kekuatannya untuk melawan si kaus seolah-olah benda itu terbakar di tubuhnya.

Mendadak pintu kamar terbuka di tengah pergulatan yang tidak seimbang itu. Sehun dan Sena membeku. Sena menatap Jimin yang berdiri di balik pintu dan sedang balas menatapnya dengan terperangah.

Lalu Sena sadar kenapa Jimin terperangah. Posisinya saat ini sama sekali tidak terlihat bagus. Malah, dilihat dari mata orang lain, Sena terlihat seperti sedang berusaha menelanjangi Sehun bukannya menjaga harga dirinya (semacam itulah) dan ide itu membuat wajah Sena merona panas.

 

***

 

Setelah berdebat dan saling menyumpah-nyumpah semenit lagi, Sehun akhirnya bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Sena mengumpulkan semua pakaian dan handuk yang bertebaran di lantai dan mengumpulkannya di satu sudut ruangan.

“Dia adikku,” kata Sena sebelum Jimin mulai bertanya. “Jadi hentikan pikiran aneh apa pun yang sedang kau pikirkan.”

Jimin duduk di tepi tempat tidur, lantas berkomentar, “Kalian tidak mirip.”

Sena memutar bola matanya dan mendengus, kemudian duduk bersila di sebelah Jimin. “Memang, karena kami saudara tiri. Namanya Oh Sehun,” tambah Sena sebelum Jimin bertanya.

Jimin melirik ke arah kamar mandi di mana suara air yang disiramkan dengan heboh berasal. Sena tidak mengerti kenapa Sehun seberisik itu. Ia seharusnya mandi, bukannya berperang dengan negara air atau semacamnya. Dasar bocah.

“Kenapa dia ada di sini?” tanya Jimin.

“Ada sedikit masalah keluarga,” jawab Sena. “Dia baru tiba kemarin siang,” katanya kemudian, karena ia tahu berikutnya Jimin akan bertanya ‘Sejak kapan dia tinggal di sini?’

“Aku tidak pernah tahu kau punya adik,” kata Jimin. “Kau tidak pernah menceritakannya.”

“Pernah, sekali.”

“Benarkah? Aku tidak ingat.”

Sena memutar bola matanya sekali lagi. “Tentu saja kau tidak memerhatikannya karena otakmu sudah terlanjur dipenuhi Luhan, Luhan, dan Luhan.”

Tepat saat itu suara air berhenti dan Sehun melongokkan kepalanya dari pintu kamar mandi yang dibuka sedikit. Rambut basahnya menempel di dahi dan air menetes-netes ke lantai di depan kamar mandi dari dagu, hidung, dan pipinya. “Nuna, ambil handuk di tasku,” katanya.

“Kata tolongnya mana?”

“Itu, sudah kau bilang barusan.”

Sena menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan menyambar ransel Sehun. Ia mengacak-acak isinya mencari handuk, lalu melemparkannya ke arah Sehun dengan kekuatan penuh.

Sehun menerimanya dan menutup pintu kamar mandi.

“SAMA-SAMA!” teriak Sena.

“OKE!” balas Sehun dengan suara teredam.

“Brengsek,” gerutu Sena dan kembali duduk di tempat tidurnya.

Ada jeda hening yang singkat. Sena menoleh pada Jimin dan mendapati gadis itu sedang menatap ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan terpesona.

“Adikmu tampan,” Jimin mencoba mengatakannya dengan nada datar, tapi ia tidak berhasil menyembunyikan kesan kagum dalam suaranya.

Oh, ya ampun.

 

***

 

Entah bagaimana Jimin berhasil membujuk Sena ikut dengannya menonton band Luhan malam ini. Sena mengajak Sehun juga, tentu saja. Dan jelas itu yang diharapkan Jimin. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang menurutnya menarik (selain Luhan) dan meskipun ia masih berkencan dengan Luhan, tidak ada salahnya mengagumi keindahan rupa seseorang terutama jika itu laki-laki dan kebetulan adik temannya.

Tempat Luhan mengadakan pertunjukkan band sebenarnya adalah kafe pada siang hari. Karena dekat dengan Universitas Hongik, kafe ini dimultifungsikan sebagai bar dan tempat pertunjukkan band bagi para mahasiswa seni yang ingin tampil atau ingin menikmati musik live yang berkualitas. Luhan dan tiga anggota bandnya, Kris, Yixing, dan Zitao, adalah alumni jurusan musik di Hongik beberapa tahun yang lalu dan cukup terkenal di kalangannya, karena itulah band mereka tampil setidaknya empat malam seminggu dan mayoritas penontonnya selalu perempuan.

Mereka tiba setidaknya satu jam lebih awal. Jimin mengajak mereka ke belakang panggung di dalam kafe. Luhan dan anggota bandnya sedang mengobrol seru entah tentang apa. Jimin hanya mendengar bahasa Mandarin di mana-mana.

Begitu melihat Luhan, Jimin mengangkat tangan tinggi-tinggi dan memanggilnya dengan suara paling imut, “Lulu!” Luhan mendongak dan tersenyum dan Jimin bisa dibilang melompat masuk ke dalam pelukannya.

Diam-diam Sehun di belakang Sena berbisik muak, “Temanmu memanggil si kurus itu apa tadi?”

“Kau belum tahu tahu apa yang kuhadapi setiap hari,” balas Sena.

“Kurasa otakku pendarahan.”

Sena menyengir dan menarik tangan Sehun ke arah lingkaran mereka. “Hai, kalian semua.”

“Halo,” Zitao membalas sapaan Sena dengan tatapan mengantuk. Bahasa Koreanya yang paling buruk di antara mereka berempat dan karena itulah Sena paling jarang bicara dengannya, tapi lepas dari itu Zitao cukup ramah.

Yixing meletakkan gitar dari atas pahanya ke kursi dan menyapa, “Hai, Sena dan temannya.”

“Yixing—Sehun, Sehun—Yixing,” Sena memperkenalkan mereka dengan singkat. “Dan sebenarnya ini adikku.”

“Oh. Kalau begitu hai, Sena dan adiknya.”

“Yixing gitaris dan vokalis di band ini, berdua dengan Lulu— maaf, maksudku Luhan.” (Jimin sekilas melempar tatapan sebal pada Sena.) “Ini Zitao, dia bassis, dan ini dia drummer paling sok sedunia.”

Kris mengabaikan ejekan Sena dan melihat Sehun sedetik, kemudian kembali menatap Sena. “Jadi, dia adikmu. Syukurlah. Aku akan sangat kecewa kalau bukan.”

Entah perasaan Jimin saja, atau ia melihat ekspresi Sehun seketika berubah janggal?

Sena tidak menyadari ini, hanya membalas Kris dengan riang, “Syukurlah. Aku tidak peduli.”

“Ups,” kata Zitao sambil menyengir puas, lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa Mandarin yang membuat Kris berdecak.

“Dia bilang apakah Kris perlu es batu untuk luka bakar itu,” Luhan menerjemahkan. Jimin dan Sena tertawa. Sudut bibir Sehun hanya berkedut, tidak tertarik.

Yixing tertawa terlambat seakan ia baru paham maksudnya.

“Namanya Yifan,” Sena berkata pada Sehun. “Tapi kami semua memanggilnya Kris. Atau Duizhang. Dia punya selusin nama lain, kalau kau ingin tahu.”

Kris menjabat tangan Sehun sambil mengedip ke arah Sena. “Khusus untukmu, kau boleh memanggilku ‘daddy’.”

Sena pura-pura muntah. “Thanks, but no, thanks.”

Mereka bertiga keluar karena band-nya harus segera bersiap (tapi Jimin berhasil mendapat ciuman satu-dua atau lebih). Meja-meja di dekat panggung sudah penuh, jadi mereka mendapat tempat di pinggir ruangan. Jimin meninggalkan Sehun dan Sena sebentar untuk memesan minuman di bar. Ketika berjalan kembali, ia melihat Sehun sedang membicarakan sesuatu pada Sena dengan wajah serius. Sena mengangkat bahu dan membalasnya, tapi Jimin terlalu jauh untuk mendengar. Sehun mengatakan hal lain yang dibalas Sena dengan senyum sambil menggeleng-geleng. Air muka Sehun berubah sedikit lebih santai dan ia berkata singkat. Sena membalasnya, dan Jimin mendengarnya samar-samar akhir kalimatnya, “…dengan mereka karena Jimin.”

“Aku apa?” tanya Jimin sambil duduk di kursinya dan meletakkan tiga gelas besar bir dingin di meja.

“Membuatku berteman dengan orang-orang aneh itu,” balas Sena. “Sehun tidak percaya aku bisa berteman dengan mereka.”

“Mereka tidak aneh.”

“Dan ‘mereka’ maksudnya Luhan,” kata Sena sambil memutar bola matanya.

Shut up.”

Sena tertawa seraya mengulurkan tangan meraih gelasnya. “Jangan khawatirkan Kris,” ia berkata pada Sehun. “Dia hanya gila. Mereka semua begitu.”

“Mereka tidak gila.”

Whatever.”

Jimin terbiasa melihat Sena meminum bir semudah air putih, dan ia selalu membiarkannya, tapi ternyata Sehun tidak sependapat. Melihat Sena nyaris menghabiskan setengah isi gelasnya dalam satu tenggak, laki-laki itu mengambil gelas dari tangan Sena dan berkata ketus, “Jangan minum terlalu banyak.”

Sena menjilat busa bir dari bibir atasnya dan mencebik, yang membuat Sehun berdecak.

Dan selama sedetik, Jimin merasa ada yang… aneh.

Ketika pertunjukkan band dimulai, semua orang termasuk mereka bertiga meninggalkan meja untuk berkumpul menonton di depan panggung. Orang-orang yang ada di sini kebanyakan adalah penonton setia yang sudah hafal lagu-lagu bandnya dan bernyanyi bersama. Jimin terpisah dari Sehun dan Sena yang memilih berdiri agak di belakang untuk memberi tempat pada penggemar lain. Tapi tidak mungkin Jimin tidak memerhatikan saat Sehun tiba-tiba melepaskan jaketnya dan mengikatkannya di pinggang Sena. Sehun mengatakan sesuatu dengan tatapan tidak setuju, dan meskipun Jimin tidak bisa mendengarnya, ia cukup yakin Sehun berkata, “Kenapa kau pergi keluar dengan celana sependek ini?”

Sekarang Jimin tidak hanya merasakannya. Ia yakin ada yang aneh.

Setelah empat lagu, Luhan menyapa penontonnya seperti biasa dan mengobrol dengan mereka selama beberapa saat. Mereka bertiga kembali ke meja sebentar dan Sena berhasil menyuruh Sehun pergi ke bar untuk membelikannya bir kedua (yang terpaksa disetujui Sehun karena Sena memukulnya). Saat Jimin merasa Sehun sudah diluar jangkauan pendengaran, ia bertanya pada Sena, “Apa dia benar-benar adikmu?”

Well, tentu saja bukan adik kandung,” jawab Sena. “Ibuku menikah lagi saat umurku tiga belas. Dia anaknya ayah tiriku. Tapi dia benar adikku.”

“Aku memerhatikan kalian sejak tadi—”

“Bukannya memerhatikan dia?” celetuk Sena.

Jimin mengabaikannya. “Dia sepertinya sangat peduli padamu.”

Sena menanggapinya dengan tawa pelan. “Dia memang agak terlalu protektif sejak kecelakaan itu,” katanya. “Tapi dia laki-laki dan aku nuna-nya. Sudah sewajarnya dia menjagaku.”

“Yah, Sehun memang baik, tapi…”

Sena mengerjap padanya. “Tapi apa?”

Jimin memiringkan kepalanya sedikit dan membalas tatapan Sena. “Dia mungkin tidak melihatmu sebagai kakak, kau tahu, tapi sebagai kekasih.”

“Astaga.” Sena terbahak-bahak tanpa bisa ditahan. “Apa-apaan?”

“Jelas sekali bagiku,” kata Jimin, tidak ikut tertawa. “Aku tidak mengerti kenapa kau tidak melihatnya.”

“Apanya yang jelas?” tanya Sena, masih terkekeh karena geli.

Jimin menyandarkan punggungnya ke kursi dan menyilangkan tangan di depan dada. Ia melihat Sehun berjalan ke arah mereka, bahunya tampak lebih bidang setelah ia menanggalkan jaketnya untuk menutupi kaki Sena. “He’s in love,” bisiknya. “With you.”

 

***

 

Chanyeol berdiri di depan pintu tempat tinggal Sena, menimbang-nimbang apakah ia harus mengetuk langsung saja atau menelepon lebih dulu dan memberitahu Sena kalau ia ada di depan pintu. Sayangnya (atau syukurnya?) belum sempat ia genap berpikir, pintu itu tahu-tahu terbuka dan menunjukkan Sena di baliknya, sepertinya baru bangun tidur, dengan rambut sedikit berantakan, kaus putih kelonggaran, dan celana pendek hitam yang nyaris tersembunyi di balik kaus. Sena tampak nyaris sama terkejutnya dengan Chanyeol ketika mereka bertatapan.

“Kau?” tanya Sena, bersamaan dengan Chanyeol berkata, “Hai.”

Sena berkata cepat, “Tunggu di bawah. Aku akan segera turun,” dan membanting pintunya menutup.

Chanyeol kembali ke halaman gedung dan berdiri bersandar di depan mobilnya. Kakinya menendang-nendang kerikil sambil menunggu. Sekitar lima menit kemudian, Sena muncul dengan rambut diikat asal-asalan, jaket, dan celana selutut.

“Apa kabar?” tanya Chanyeol ketika Sena tiba di hadapannya.

Sena mendengus. “Aku tidak percaya kau datang untuk basa-basi.”

“Yah, tidak,” aku Chanyeol. “Aku datang karena pembicaraan kita waktu itu belum selesai. Tapi aku juga ingin tahu kabarmu.”

“Benar.” Sena mengangguk-angguk dan bersedekap. Ketika ia mengangkat wajah dan menatap lurus ke arah matanya, Chanyeol merasa jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. “Aku akan bertanya, dan jawablah dengan jujur. Kau menyebarkan atau tidak rahasiaku pada semua orang agar mereka membenciku?”

“Tentu saja tidak,” jawab Chanyeol nyaris seketika. “Sudah kukatakan padamu, aku tidak mengatakan apa pun pada siapa pun. Lagipula, untuk apa aku melakukannya?”

Sena menyipitkan matanya, tampak masih belum percaya. Sebelum gadis itu bertanya lagi, ia menambahkan, “Aku tidak tahu dari mana asalnya, tapi bukan aku. Aku bersumpah.”

“Lalu kenapa waktu itu kau tiba-tiba berubah dan berhenti memanfaatkanku?”

Serasa ada gumpalan besar menyumbat tenggorokan Chanyeol, membuatnya susah bernapas. “Itu… itu karena… yah, ada alasan…”

“Apa?”

Chanyeol meneguk ludah untuk menyingkirkan gumpalan menyebalkan itu dan berdeham. “Dengar, aku tidak bisa memberitahumu alasannya, tapi percayalah padaku.”

“Dan kenapa aku harus percaya padamu?”

“Karena aku memang tidak melakukannya!” balas Chanyeol gemas.

“Kalau begitu kenapa kau tidak mencariku lebih awal dan mengatakan yang sebenarnya?” sahut Sena sengit.

“Aku ingin, tapi…” Gumpalan di tenggorokan Chanyeol sepertinya kembali dengan ukuran dua kali lebih besar. “Mereka terus menyudutkanmu dan aku merasa jahat karena kau diperlakukan dengan buruk dan aku tidak membantumu, dan aku juga tidak ingin kau membenciku lebih dari yang sudah kau rasakan.”

Tatapan sinis Sena sedikit melembut, dan Chanyeol berdeham sekali lagi sebelum melanjutkan.

“Kau pernah bertanya apakah aku punya teman. Well, tidak ada. Aku tidak percaya pada teman setelah aku melihat bagaimana orang-orang yang kupikir adalah temanmu memperlakukanmu hanya karena kau berbohong pada mereka. Jika yang seperti itu adalah teman, aku lebih baik tidak punya.”

Chanyeol bergeming, sementara Sena memindah-mindahkan berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lainnya dengan gelisah. Hening selama sesaat yang terasa sangat panjang.

“Ini pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu selama bertahun-tahun,” akhirnya Chanyeol memecahkan keheningan canggung itu. “Apakah kau bisa memaafkanku?”

Sena memberi jeda lama yang membuat Chanyeol menanti jawaban dengan cemas. “Itu sudah lama berlalu.”

Jawaban singkat itu membuat sesuatu dalam dada Chanyeol melambung tinggi. “Jadi, kita berbaikan sekarang? Iya, kan?” tanyanya riang.

Sena memutar bola matanya. “Aku masih bisa membencimu karena memanfaatkanku dulu.”

“Yah, soal itu…” Cengiran lebar di wajah Chanyeol digantikan seringai salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku minta maaf. Sungguh. Atau begini saja, kau boleh memukulku sekarang, kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Mereka hanya bertatapan selama sepersekian detik sampai Chanyeol mendengar bunyi buk disusul hantaman menyakitkan di antara tulang pipi dan hidungnya.

“Oh, astaga. Tuhan. Hidungku. Mataku. Aduh…” Chanyeol merintih pelan sambil membungkuk, kedua tangan memegangi wajahnya yang berdenyut-denyut.

“Apa? Kau bilang aku boleh memukulmu, kan?” tanya Sena dengan suara sok polos.

Memang, tapi Chanyeol mana tahu kalau Sena akan menganggapnya serius. Atau kalau ternyata buku jarinya sekeras itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Sena geli.

Chanyeol mengangguk-angguk tanpa suara. Pukulan Sena sakit sekali sampai-sampai matanya berair.

Sena tertawa kasihan. “Mana, biar kulihat.” Ia menarik kedua tangan Chanyeol dan mencondongkan tubuh untuk mengamati wajahnya. Melihat sepasang mata bulat yang berurai air mata, tawanya semakin keras. “Tidak seburuk itu. Bahkan tidak ada bekasnya,” katanya menenangkan.

“Sakit,” Chanyeol meringis, dan itu membuat tawa Sena semakin meledak.

“Cengeng sekali.”

Pikiran Chanyeol awas dengan sekitarnya, seperti Sena yang sedang terbahak-bahak dan menyentuh bekas pukulannya di wajah Chanyeol dengan ujung jari, wajah mereka sejajar dan berdekatan, sementara tangannya yang lain masih memegangi tangan Chanyeol, dan bagaimana gadis itu tidak buru-buru melepaskannya. Ini adalah momen yang, setelah sejak lama, berhasil menggetarkan hati Chanyeol.

“Sena-ya,” Chanyeol memanggilnya pelan dan mata mereka berserobok. “Aku senang bertemu kembali denganmu. Sungguh.”

Mereka membeku selama sedetik, lalu, seakan baru sadar, Sena menyentakkan tangan Chanyeol dan mundur selangkah. “Yeah,” ia membalas ragu. “Aku juga. Sedikit. Sekarang enyahlah.”

Sena mungkin mengatakannya hanya sebagai sopan santun. Atau basa-basi. Tapi Chanyeol tidak keberatan.

“Sampai jumpa lagi!” seru Chanyeol begitu Sena berbalik dalam satu sentakan dan berjalan kembali ke arah gedung.

Sena melambaikan tangannya tanpa menoleh.

Chanyeol menatap punggung gadis itu, dan tersenyum.

Mungkin, hanya mungkin, suatu saat Sena bisa menyukainya seperti Chanyeol menyukai gadis itu.

 

***

 

“Apalagi yang si Pencundang itu inginkan?”

Sena menutup pintu dan berbalik menghadap ke arah Sehun yang berbaring miring dengan satu tangan menopang kepala di atas tempat tidurnya. “Menyingkir dari sana.”

Make me,” balas Sehun tanpa melepaskan pandangan dari komik yang sedang dibacanya.

Sena melepaskan jaketnya, menggumpalkannya, dan melemparkannya keras-keras ke wajah Sehun.

Ya!” Sehun berdesis dan menyingkirkan jaket itu ke lantai. “Kenapa kau melemparku? Kau seharusnya melempari dia.”

“Sudah,” balas Sena santai. “Aku sudah memukulnya. Dan dia menangis.”

Sena tersenyum lebar, menikmati bayangan mata berkaca-kaca Chanyeol dalam jarak dekat. Pembalasan memang manis. Pembalasan pada Park Idiot lebih manis lagi.

Yeah, sudah kulihat itu.”

Sena mengerjap. “Kau lihat?”

Sehun berdecak.

Sena mengempaskan tubuhnya di kaki Sehun dan mengguncang-guncangkan kaki laki-laki itu. “Kau lihat?” ulangnya.

“Dari kau meninjunya sampai menyentuh-nyentuh wajahnya dengan genit, aku lihat,” jawab Sehun tidak sabar.

Sena menampar betis Sehun. “Genit apanya,” gerutunya.

Sehun menghela tubuhnya duduk agar dapat menatap Sena langsung. “Kenapa kau masih menemuinya?”

“Yah…” Satu pertanyaan itu membuat Sena mati kata. “Aku tidak punya alasan untuk tidak menemuinya juga, kan?”

“Dia mencelakakanmu.”

“Dia tidak mendorongku dari tangga,” bantah Sena. “Dan bukan dia yang menyebarkan rahasiaku pada semua orang.”

“Kau tahu dari mana?”

“Dia bilang padaku.”

“Dan kau percaya begitu saja?” Sehun memutar bola matanya seakan tidak percaya Sena bisa sebodoh itu. “Ryu Sena, apakah kau pernah dengar seorang pelaku berkata ‘aku pelakunya’?”

Tanpa Sehun mengatakannya, Sena tahu itu. Tapi di sisi lain, ia yakin Chanyeol tidak berbohong. Dan ia tidak tahu apa yang membuatnya yakin.

“Masa bodohlah.” Sehun kembali merebahkan punggungnya dan menutup wajahnya dengan komik yang terbuka.

Sena menelan kebingungannya bulat-bulat dan kembali menoleh pada Sehun. “Bagaimana denganmu? Kapan kau akan pergi dari sini? Kau sudah menumpang tiga malam dan aku muak melihatmu.”

“Aku tidak akan ke mana-mana.”

“Apa?” Sena pikir ia salah dengar.

Sehun mengangkat komik dari wajahnya. “Pacar temanmu itu, siapa namanya, Lulu? Luhan? Nah, aku bertanya padanya di mana aku bisa mencari lowongan pekerjaan, dan dia bilang aku bisa bekerja parowaktu di kafe itu dari pagi sampai sore. Dan, tebak apa? Aku sudah menerimanya.”

Sena melihat seringai penuh kemenangan di wajah Sehun. “Jadi?”

“Jadi, aku akan tinggal di sini denganmu.”

Apa?”

“Aku sudah memutuskan aku harus tinggal di dekatmu. Kau tidak bisa dipercaya. Hidupmu sama berantakannya dengan kamar sialan ini.”

Sena masih tercenung sementara Sehun bangkit, menepuk-nepuk puncak kepalanya seakan-akan ia adalah anak anjing, lalu melenggang ke arah kamar mandi sambil bersenandung.

Sena terpikir perkataan Jimin waktu itu, tentang Sehun yang melihatnya sebagai kekasih. Jelas sekali Jimin salah. Sehun bersikap protektif karena mereka hanya memiliki satu sama lain.

Terlebih lagi, Sehun suka membuat lebih banyak masalah untuk Sena.

 

9 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 5)

  1. Waaah sehun, mantep nih. Bayangin sehun pagi2 bangun d sblh telanjang dada….. *plak* jd panas y udaranya 😳😳 g dpt se-yeol momen, hun-na momen oun jd wkwkwk tp aku jd bimbang, sena cocok sm 22ny, sehun cowony cool gengsian tp perhatian, kl chan lbh polos apa adany sm sena, ada pesona masing2. Semangat lanjutinnya yaa^^

  2. Aaahhhh kaaaa ..
    Kurang panjang ceritanya hehehe ..
    seruuu bangettt setiap liat email masuk pasti yg aku cari judul ini ..
    Seru sihh abisnya,,lanjut lagi ya ka chapternya ..
    Ditunggu 😉😉

  3. Alurnya makin asik kak, suka banget sama ceritanyaaa.. Terutama cemistry SeChan dari awal😊 ngga sabar nunggu kelanjutannya. Fighting!

  4. duh mudah2an si sehun gak suka sama sena mudah2an dia bener2 nganggep sena itu nunanya gak lebih dari itu soalnya ade cowo gua juga gitu terkadang suka oper protektip gitu sama gua hehehe..

  5. hah.. apa jadinya? sehun.. kasihan, harus fall in love sama sena..

    syukurlah, masalah chanyeol-sena udah clear! tinggal cari tau siapa yang nyebarin beritanya..

  6. please jangan. jangan sampe sehun suka sena. susah woy milih antara sehun atau chanyeol. wkwkwk. aku suka ff nya, terutama karakter sena nya. author nya sukses besar ngegambarin karakter-karakter yang ad di ff ini. keep writing ya author nim =)

  7. Eaakk sehun kayaknya ada something special nh k Sena haha
    Tp alasan trakhir yg bilang kalo sikap sehun begitu Karena mereka hanya memiliki satu sama lain itu acceptable sh😂😂
    Btw, seneng bgt itu chanyeol sama Sena baikan akhirnya.
    Semacam angin Segar lah buat hubungan yg lbh baik lg 😄
    Btw aku suka ceritanya as
    Ini semakin menarik utk d bacaa haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s