LOVE KILLER Part 13 – END

12132409_485358354968349_7651521527407126747_o

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

Jisoo, tolong bantu bibi. Kau harus membujuk Sooyong untuk tidak pergi. Kau mencintainya kan? Kau tidak ingin dia pergi kan? Hanya kau yang bisa menghentikannya, Jisoo. Bibi mohon padamu!” perkataan Nyonya Choi membuatnya termenung. Ia berada dalam pilihan yang sulit. Bila ia ingin jujur, ia juga tidak rela Sooyong pergi. Apalagi Jisoo tidak tahu kapan mereka bertemu lagi. Sepertinya Sooyong berencana menetap di Jepang untuk waktu yang sangat lama.

 

Jisoo bisa bayangkan sulitnya ia menjalani hidup tanpa Sooyong. Ia akan merasa sangat kesepian dan merindukan gadis itu. Mereka bersama dalam waktu yang singkat, banyak hal yang belum ia lakukan bersama Sooyong.

 

Masih ada beberapa jam lagi baginya untuk mencegah kepergian Sooyong. Kini ia duduk di kursi dekat ranjang. Hatinya gundah. Sedari tadi yang ia kerjakan adalah melihat foto-foto Sooyong dan dirinya yang tersimpan dalam galeri ponsel.

 

Tak terasa kini air matanya menetes hingga lelaki itu terlelap.

 

Saat ia terbangun dari tidurnya yang singkat. Dengan sedikit panik ia langsung melirik jam dilayar ponselnya, pukul 4 p.m. Tanpa berpikir apa-apa lagi Jisoo langsung keluar dari flat apartemen. Tidak ia pedulikan hujan deras yang membasahi sebagian bajunya. Laki-laki itu terus berjalan sembari mencari taxi yang lewat. Senyumnya mengembang kala sebuah taxi berhenti didepannya.

 

 

 

 

……………………………………………………

 

 

 

Sooyong telah bersiap untuk berangkat ke bandara. Ia berdiri didepan rumah sementara pembantunya kini memasukkan koper bawaannya kedalam mobil. Ibunya sedari tadi hanya diam dikamar tidak mau keluar. Semalam Nyonya Choi berusaha merubah pikirannya sambil memohon. Tapi gadis itu tetap pada keputusannya untuk pergi. Meski sebagian hatinya menyuruh tinggal karena Jisoo.

 

Sooyong tahu sebenarnya Jisoo tidak ingin ia pergi, tapi pemuda itu membuang semua keegoisannya hanya untuk kebahagiaannya.

 

Setelah menitipkan surat untuk diberikan kepada Ibu, Sooyong masuk kedalam mobil. Begitu mobil baru saja berjalan, Sooyong menyuruh supirnya berhenti saat melihat Jisoo yang baru keluar dari taxi dan dengan sekuat tenaga menyusul mobilnya.

 

Begitu Jisoo telah dekat dengan mobilnya, Sooyong menurunkan kacanya. Ia menatap pria didepannya dengan nanar. Belum juga Sooyong meninggalkan negara ini tapi ia sudah sangat merindukannya.

 

“Jisoo” air mata gadis itu menetes. Rasanya ia tidak sanggup berpisah dengannya.

 

Jisoo mencium bibir gadis itu sekilas. “Jangan pergi, Soo, kumohon” pintanya dengan mata berkaca-kaca membuat gadis itu terdiam dalam kebingungan.

 

“Aku mohon, jangan pergi, Soo” Jisoo memohon sekali lagi. Ia genggam tangan gadisnya erat. Untuk sesaat Sooyong terdiam. Ia juga tidak ingin pergi tapi Sooyong sudah berjanji pada Ayahnya. Dia tidak betah terjebak disituasi seperti ini. Dia harus segera membuat keputusan.

 

Ia tatap dua bola mata Jisoo, ia cium kekasihnya lalu perlahan melepas genggaman erat tangan Jisoo. “Maaf, Jisoo, aku tidak bisa”

 

Jisoo kecewa dengan pilihan Sooyong tapi dengan lapang dada ia menerima semuanya. “Pergilah, Soo. Aku tidak apa-apa” dia melepas senyumnya untuk mengiringi kepergian Sooyong.

 

“Selamat tinggal” Sooyong melambaikan tangannya dan sedan hitam itu kembali berjalan. Jisoo terus berdiri ditempat sampai sedan itu menghilang dari pandangan.

 

 

 

***

 

 

 

Jisoo termenung. Matanya menatap kosong kedepan. Setelah kepergian Sooyong, dia kembali seperti semula. Tidak ada lagi yang menyenangkan dalam hidupnya.

 

Sebuah tangan bergerak didepan wajah Jisoo. Tangan itu meneliti apakah Jisoo sadar atau tidak. “Ada apa?”

 

“Ah, kau masih hidup” HyeRa terdengar bahagia. Dia duduk dihadapannya sambil menaruh nampan makan siang. “Kita belum mengobrol sejak kemarin”

 

Jisoo menoleh. Dia mencari Suho dan menemukannya tengah memperhatikan mereka.

 

“Aku sudah mendapat ijin darinya” ucap HyeRa yang mengerti isi kepala Jisoo “Kau tidak makan?”

 

“Kau mau?”

 

“Tidak, terima kasih. Sebenarnya aku bosan dengan menunya. Aku juga tidak mau makan ini tapi Suho akan menceramahiku pagi dan malam jika aku tidak memakannya” jawabnya panjang lebar, tapi Jisoo tidak mendengarkan. Dia mengaduk makanannya dengan tidak bersemangat. HyeRa tidak berhasil mengambil perhatiannya. Dia turunkan sendoknya.

 

“Jisoo” dia pegang tangannya, “Jika kau butuh teman bicara, kau bisa mengandalkan aku” dia tersenyum lebar. Jisoo melihat tangan mereka. Apa perempuan ini mau mati? Begitu Suho melihatnya, laki-laki itu pasti mengomelinya sepanjang hari. Tapi HyeRa nampak acuh. Sekarang dia terbiasa dengan kebawelan sang kekasih. “Lihat, kau punya teman yang baik kan” HyeRa memberi pose peace didepan matanya, “Aku baik kan~” pujinya lagi, kali ini dia menempelkan kedua tangan sehingga membentuk huruf V dan menyimpannya dibawah dagu. “Cantik lagi” dia akhiri kenarsisannya dengan tawa.

 

Sudut bibir Jisoo tertarik. Sedikitnya gaya HyeRa yang konyol menghiburnya. Meski hanya sesaat.

 

HyeRa kembali mengoceh akan banyak hal agar pikiran Jisoo teralihkan. Dia mengerti apa yang Jisoo pikirkan. Dia ingin membantunya.

 

Tapi sulit bagi Jisoo untuk melepas kepergiannya. Sedetik kemudian dia kembali mengingatnya. Dia sangat merindukan wanitanya.

 

Sooyong tidak mengabarinya sama sekali. HyeRa juga bilang kalau Sooyong sulit dihubungi. Dia menghilang.

 

Jisoo tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia malas pergi ke sekolah, tapi HyeRa selalu datang ke apartment lalu mengganggunya jika dia tidak muncul. Dia juga menghindari semua orang. Dia kembali seperti dulu dimana dia hanyalah sebuah bayangan. Dia tidak sanggup hidup tanpa cahayanya sendiri.

 

 

 

……………………………………………….

 

 

 

Jisoo tidak tahu dimana tepatnya ia berada. Dia hanya melihat sebuah bukit dengan rumput hijau yang tumbuh dengan sangat rapi serta pepohonan rindang berdiri tegak disisi kiri dan kanannya.

 

Mata sipitnya melayangkan pandang kesekeliling untuk menikmati pemandangan indah yang tersedia. Tatapan matanya terhenti begitu ia melihat Sooyong, gadis yang ia rindukan setengah mati kini berdiri sedikit jauh disampingnya.

 

Keduanya saling melempar senyum dalam diam hingga kaki gadis itu bergerak melangkah lurus kedepan. Seperti terhipnotis dengan tatapan Sooyong, pemuda itu pun mengikutinya. Lalu mereka berjalan bersisian dengan saling menatap dan sesaat Jisoo tidak mengerti kenapa ia hanya diam saja dan mengikuti gadis itu.

 

Tidak ada pikiran aneh dalam kepala Jisoo, ia cukup senang dengan melihat wajah gadisnya yang cantik. Namun senyumnya menghilang diganti kesedihan ketika Sooyong menghampiri seorang pemuda asing yang tidak begitu jelas wajahnya. Kakinya berhenti sembari menatap nanar saat pemuda asing itu menggenggam tangan Sooyong lalu membawanya pergi.

 

Tanpa pikir panjang, Jisoo terus memanggil namanya tapi gadis itu tetap pergi. Ia tidak menghiraukan panggilan Jisoo sama sekali. Seakan tidak menyerah Jisoo terus memanggil namanya hingga panggilan Syuhan yang duduk disampingnya membuat Jisoo tersadar bahwa tadi itu hanya mimpi.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Syuhan dengan gerogi.

 

Jisoo mengangkat kepalanya. Ia menatap teman-teman sekelasnya yang kini melihatnya dengan tatapan khawatir, sedih, dan aneh. “Jisoo, kau tidak apa-apa? Kau sakit?” Shindong yang tengah mengajar sedikit membuatnya malu karena sedari tadi ia tidur saat pelajaran tengah berlangsung.

 

“Ye, sam, aku hanya pusing” Jisoo menelan ludahnya kasar. Ia juga merasa seluruh tubuhnya panas dingin dan peluh bercucuran membasahi wajahnya yang kini menjadi pucat. Shindong yang khawatir mendekati tempatnya duduk. Ia menempelkan telapak tangannya pada kening Jisoo dan menatapnya khawatir.

 

“Pergilah ke UKS dan beristirahatlah” suruhnya penuh perhatian. Shindong sedikit mengerti dengan kondisi Jisoo belakangan ini.

 

Tanpa menunggu lama Jisoo bangkit dari tempat duduknya, setelah sebelumnya ia melihat HyeRa yang menatapnya khawatir.

 

Begitu sampai di UKS ia rebahkan tubuhnya diranjang dan kembali menangis. Tubuhnya rapuh dan ia menjadi khawatir. Mimpi itu begitu mengganggunya. Kembali ia menatap layar ponsel berharap ada pesan dari Sooyong tapi nihil. Ia mendesah frustasi, tak tahu lagi harus melakukan apa. Sekarang yang ia mau hanyalah keberadaan Sooyong disisinya.

 

 

 

…………………………………………………………

 

 

 

Shindong kembali melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda. Saat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan contoh Shindong menangkap HyeRa yang nampak tidak fokus. Gadis itu melamun.

 

“HyeRa-haksaeng”

 

“Ne?” jawab HyeRa cepat.

 

“Apa jawaban dari pertanyaan nomor 4?”

 

HyeRa dengan santainya berdiri lalu maju kedepan. Dia mengambil spidol lalu menulis jawaban dengan lengkap. Begitu selesai dia menghadap Shindong.

 

Shindong tidak bisa marah. HyeRa dikenal sebagai murid yang pandai, tapi dia tidak suka ada yang tidak memperhatikan penjelasannya. Dan dia gagal mempermalukan HyeRa.

 

HyeRa yang sadar sudah membuat kesalahan mohon ijin, “Maaf, sam, boleh aku beristirahat di UKS? Kepalaku sakit”

 

“Baiklah. Kau boleh pergi” lebih baik HyeRa pergi agar tidak mengganggu konsentrasinya mengajar. Shindong juga merasa HyeRa tengah memikirkan sesuatu makanya dia tidak fokus. Jadi lebih baik membiarkannya keluar untuk menenangkan diri.

 

“Sam” Suho berdiri begitu HyeRa menghilang, “Aku permisi ke kamar mandi”

 

Shindong mengangguk. Suho langsung melesatkan kakinya keluar kelas. Dia tidak boleh kehilangan HyeRa.

 

Ketika hampir mencapai ujung lorong, Suho menemukan HyeRa. Dia yakin, HyeRa pasti ingin menemui Jisoo. Gadisnya terlalu mengkhawatirkan laki-laki lain. Dia akan mengomelinya.

 

Tapi HyeRa justru menaiki tangga. Bukan menuju lantai dasar dimana UKS berada. Suho terdiam. HyeRa mau kemana? Dia putuskan untuk segera menyusulnya.

 

Ternyata yang menjadi tujuan HyeRa adalah atap sekolah. Dia buka pintunya lalu duduk bersandarkan tembok pembatas. Dia luruskan kakinya. Begitu melihat kedepan, matanya menangkap sosok Suho yang mendekat. Dia tersenyum menyambutnya.

 

“Kupikir kau menemui Jisoo”

 

“Kau mengkhawatirkanku?”

 

Suho menjatuhkan diri disebelah HyeRa. Gadis itu langsung merangkul lengannya. Suho genggam lalu mengaitkan jemari mereka. HyeRa mainkan tangan Suho yang menempel padanya dengan tangannya yang lain. Lalu dia bersandar dipundaknya.

 

“Ada apa?” keresahan Suho akan gadisnya yang berselingkuh pupuslah sudah. Ternyata dia salah paham.

 

“Aku memikirkan Sooyong. Kami bicara untuk pertama kalinya ditempat ini” matanya menerawang.

 

Suho tertawa kecil, dia jadi ingat masa lalu, “Kau tahu? Aku juga menyuruh Jisoo menyelidikimu ditempat ini. Aku juga memintanya mengerjaimu agar kau tunduk padaku”

 

“Benarkah?”

 

“Ya, tapi dia menolaknya”

 

Telunjuk HyeRa menelusuri lengan Suho, “Mm. Jisoo memberitahuku”

 

Suho menatap langit cerah diatas mereka. Dia bernafas lega. Dia tidak menyangka kalau gadis yang membuatnya kacau berada disisinya sekarang. Dia tengah bersandar padanya dan tangan mereka bertautan. “Malah aku yang tunduk padamu”

 

“Hm?” HyeRa menoleh.

 

“Aku yang terobsesi membuatmu bertekuk lutut justru aku yang tunduk padamu. Aku tidak mau kehilanganmu sedetikpun. Aku ingin kau selalu bersamaku” senyum tipis mengakhiri kejujuran hatinya. Perasaan itu tersampaikan ke hati HyeRa.

 

“Kau tetap menjadi dirimu sendiri, Joon Myun. Kau bukan tunduk, tapi kau mencintaiku seperti aku mencintaimu”

 

Suho mencium kening HyeRa sebagai balasan rasa terima kasihnya. Dia senang HyeRa membalas cintanya. Kini mereka memiliki perasaan yang sama.

 

“Kau tidak menemui Jisoo?”

 

HyeRa menggeleng, “Dia butuh waktu untuk sendiri. Aku juga tidak selalu mengganggunya” dia cubit pinggang Suho yang disambut tawa kecilnya. Dia paham, HyeRa mengejeknya.

 

“Rasanya pasti sulit berpisah dengan orang yang kita cintai” HyeRa mengkhawatirkan Jisoo layaknya kepedulian seorang teman. Dia juga mengenal Sooyong. Dia sedih ditinggal pergi sahabatnya sendiri, apalagi Jisoo yang berstatus sebagai kekasihnya. Sedikitnya HyeRa mengerti penderitaan laki-laki itu makanya dia berusaha menghiburnya. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Jisoo untuk terus berpura-pura. Dia tahu kebahagiaan Jisoo hanyalah ketika Sooyong berada disisinya.

 

Suho menyampirkan rambur ikal HyeRa yang tertiup semilir angin. Dia tatap wajah cantiknya yang selalu mempesona. “Berjanjilah untuk tidak pergi jauh dariku, Ra-yaa. Aku akan mati jika kau pergi”

 

HyeRa mengusap wajah Suho cepat. Gombalannya terdengar lucu. “Jangan berlebihan. Kita baru kelas XI dan kau tidak boleh mati sebelum sukses”

 

Suho mencibir, “Kau tidak romantis”

 

HyeRa goyangkan hidung mancung kekasihnya, “Tidak boleh mengumbar kata mati dengan mudah. Aku tidak suka”

 

“Mmm~ Baiklah nona” percuma mengumbar kata-kata manis. HyeRa akan menangkisnya lagi.

 

“Hei, jangan marah” HyeRa menolehkan pipi Suho yang berpaling.

 

“Tidak” Suho berdalih.

 

“Joon Myun” HyeRa putar lagi pipinya.

 

“Mm?”

 

HyeRa menuju telinga Suho untuk berbisik, “Apa kau tidak khawatir akan nilaimu jika kau bolos, ketua kelas?”

 

Suho menatapnya horor.

 

“Kembalilah ke kelas. Aku mau disini sampai bel istirahat”

 

Suho menautkan kembali jemari mereka yang dilepaskan HyeRa. “Untuk apa punya kekasih pintar kalau tidak dimanfaatkan. Kau bisa mengajariku, HyeRa-haksaeng”

 

HyeRa tidak merasa keberatan melakukan hal itu. Dia kembali bersandar dipundak Suho. Tubuhnya sangat nyaman.

 

Suho mencium puncak kepala HyeRa. Tanpa dia ketahui, HyeRa tersenyum dan jantungnya berdebar karenanya. Setiap sentuhan Suho membuatnya memanas. Kemudian Suho menyandarkan kepalanya dikepala HyeRa. Mereka semakin mempererat genggamannya. Mereka tidak mau terpisah. Sebisa mungkin mereka ingin menjaga hubungan ini dalam waktu yang lama.

 

 

 

***

 

 

 

Mimpi buruk itu datang lagi memaksanya untuk membuka mata. Seluruh tubuhnya kembali panas dingin. Segera Jisoo mengambil ponsel yang ia taruh di meja kecil samping tempat tidur berharap ada balasan dari Sooyong tapi nihil.

 

Ia mencoba menghubungi gadis itu meski ia tahu mungkin Sooyong tengah terlelap disana tapi Jisoo tidak peduli. Dia hanya ingin mendengar suara gadis itu memanggil namanya.

 

Sepulang sekolah tadi Jisoo menemui Nyonya Choi. Dia menanyakan apa Sooyong memberinya kabar tapi ternyata tidak sama sekali. Ini sudah hampir satu minggu lebih sejak kepergian Sooyong dan gadis itu tidak memberinya kabar. Jisoo bingung dan sedih. Rasanya ia sudah tidak tahan menahan kerinduannya untuk Sooyong. Berlebihan memang, tapi Jisoo sangat mencintainya. Ia bahkan sudah menyukai gadis itu sejak Jisoo melihatnya dan ketika mereka telah bersatu maka perpisahan pun tak pelak menghadang hubungan keduanya. Entah berapa kalinya ia harus menangis.

 

Bagaimana bila Sooyong melupakannya karena telah bertemu laki-laki lain seperti dalam mimpinya.

 

Kembali ia melamun membiarkan pikirannya terus mengulang kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Hingga mata lelaki itu terpejam seiring berjalannya waktu.

 

 

 

***

 

 

 

Matahari pagi bersinar dengan cerahnya. Beberapa murid Genie berjalan memasuki gedung sekolah. Seorang lelaki tinggi bersama kedua temannya keluar dari dalam mobil. Xiumin dan Chen seperti biasa mengeluh karena harus menghadapi pelajaran Junhyung yang mengajar Matematika di jam pertama. Selain itu keduanya terlihat panik saat menyadari ada beberapa tugas yang belum mereka selesaikan. Sementara di belakangnya Park Chanyeol terlihat tak bersemangat.

 

“Hei, Chanyeol, kau masih sedih karena kepergian Sooyong? Sudahlah lupakan saja dia. Kalau pun dia kembali kau tidak akan bersamanya”

 

“Arayo. Hanya saja saat dia menghilang, sebagian diriku ikut menghilang juga” jawab lelaki tampan itu sedih.

 

Let’s move on, dude” Chen menepuk pelan pundak sahabatnya sekedar  menghibur.

 

“Ya! Bagaimana kalau kita kencan buta? Aku akan mengenalkanmu pada teman-teman Haneul. Mereka juga tidak kalah cantik dari Kim Sooyong. Sore ini ada pesta di pembukaan galeri lukisan sepupu Haneul. Otte? Kau mau tidak?” ajak Chen. Xiumin langsung mengangguk semangat sementara Chanyeol sejenak terdiam hingga akhirnya pria itu mengiyakan. “Hei, bagaimana kalau kita mengajak Bokdong? Biar dia tidak terus bersedih memikirkan Sooyong”

 

“Baiklah, itu juga kalau dia mau. Ah, itu orangnya datang” Xiumin menunjuk kearah Jisoo yang baru saja memarkirkan motornya. Penampilan pria itu tampak kacau. Segera Xiumin dan Chen menghampiri Jisoo dan tanpa aba-aba kedua pria itu merangkul lengannya membuat Jisoo sedikit kebingungan dan risih. Ia tidak bisa melawan begitu Xiumin dan Chen langsung mengajaknya berjalan memasuki gedung meninggalkan Chanyeol yang menyusul mereka dibelakang.

 

Suho dan HyeRa yang melihat tinggkah akur keempat lelaki itu hanya bisa tersenyum dan berharap Jisoo memulai hubungan pertemanan dengan Xiumin, Chen dan Chanyeol. Selama ini Jisoo terus menempel pada Sooyong. Setidaknya Jisoo tidak akan terlalu kesepian karena ada teman yang akan selalu ada disampingnya sembari menunggu kabar dari Sooyong. Semenjak Sooyong pergi, Jisoo terlihat kacau.

 

Tak begitu lama sedan hitam melewati keduanya. “Apa ada murid baru?” gumam Suho sambil matanya terus menatap mobil tersebut. Keduanya terus berjalan hingga seorang pelayan membuka pintu belakang mobil.

 

“Dulu kau juga datang seperti itu kan” ucap Suho membuat HyeRa menoleh kearahnya.

 

Begitu pintu dibuka, pelayan tersebut memapah seorang gadis yang tampak tidak asing keluar dari dalam mobil.

 

“Sooyong?” gumam HyeRa tak yakin. Masalahnya adalah sebelah kaki gadis itu diperban dan tangannya memegang kruk. Namun begitu Sooyong memalingkan wajahnya dan melayangkan senyum kearah HyeRa barulah gadis itu yakin. Tanpa pikir panjang ia langsung mendekap erat sahabatny. Ia begitu merindukannya. Seminggu lebih Sooyong tanpa kabar dan sekarang gadis itu muncul seperti mimpi.

 

” Maaf” ucap Sooyong dengan mata berkaca-kaca setelah HyeRa melepaskan pelukannya.

 

“Apa kau baik-baik saja? Ada apa dengan kakimu?” Suho nampak khawatir.

 

“Kau kecelakaan? Bagaimana bisa kau tidak memberitahu kami!”

 

“Begitu sampai di Jepang aku mengalami sedikit kecelakaan. Aku sempat koma selama beberapa hari. Ponselku bahkan menghilang. Saat aku sadar yang aku lakukan hanya menangis. Aku memikirkannya, aku juga memikirkan Ibu dan kalian semua. Aku pasti membuat kalian khawatir. Maafkan aku” sesalnya.

 

“Sudahlah, Soo, tak perlu minta maaf terus. Yang penting sekarang kau baik-baik saja. Kau tahu, Jisoo terus memikirkanmu. Kau harus menemuinya dan menjelaskan semuanya. Dia sakit setelah kau pergi”

 

“Ayo kita temui dia” Suho mengajak kedua gadis itu untuk menyudahi reuni singkat mereka mengingat bel masuk akan berbunyi 10 menit lagi. Keduanya mengangguk dan memasuki gedung sekolah.

 

Kehadiran Sooyong membuatnya menjadi pusat perhatian pagi ini. Semua murid kini membicarakannya hingga berita itu tersebar keseluruh penjuru sekolah. Begitu mereka melewati sebuah taman untuk sampai ke kelas,  langkah Sooyong terhenti saat melihat Jisoo yang kini berjalan kearahnya. Jantungnya terus berdebar. Rasanya ia ingin berlari dan memeluknya. Suho dan HyeRa akhirnya pergi lebih dulu. Mereka tidak ingin mengganggu pertemuan Jisoo dan Sooyong.

 

Sooyong pikir Jisoo akan mendekatinya tapi ia salah. Lelaki itu hanya melewatinya. Jisoo bahkan tidak meliriknya sedikit pun membuat seluruh tubuhnya lemas.

 

“Jisoo” panggilnya pelan tapi lelaki itu terus saja berjalan. Air matanya siap turun sampai sebuah lengan besar menariknya masuk kedalam pelukan.

 

“Chanyeol”

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

Ada banyak hal yang ingin ia jelaskan pada Jisoo tapi lelaki itu mengacuhkannya. Sikapnya membuat Sooyong tidak mengerti. Selama ini Jisoo salah paham. Tidak betah terjebak dalam situasi yang membuatnya sedih,  ia mengajak Jisoo untuk bicara tapi Jisoo sama sekali tidak merespon.

 

Bahkan sewaktu istirahat Jisoo langsung menghilang.

 

“Jangan terlalu dipikirkan, Soo. Mungkin Jisoo perlu waktu untuk sendirian. Kau tahu betapa sulitnya dia saat kau pergi. Mungkin Jisoo marah karena dia pikir kau melupakannya. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhanmu” HyeRa mengelus pundak gadis itu memberinya ketenangan.

 

“Aku akan bicara dengannya” Suho yang juga khawatir akan hubungan keduanya mencoba untuk membantu.

 

Saat pulang sekolah pun Jisoo sudah menghilang. Sooyong begitu terluka. Ia tidak tahan lagi dengan hubungan mereka yang seperti ini. Sooyong juga rindu padanya. Ia ingin hubungan mereka kembali membaik.

 

Sooyong memikirkan bagaimana cara agar Jisoo mau bicara dengannya. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk menemui Jisoo diapartemennya jadi Jisoo tidak punya alasan untuk menghindarinya. Belum juga  Sooyong sampai di flat,  gadis itu menyesali keputusannya untuk datang saat ia melihat Jisoo memeluk seorang gadis didepan gedung apartemennya.

 

Hatinya terluka seperti tertusuk ribuan jarum menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak ia harapkan. Apalagi saat melihat senyum yang terukir diwajah Jisoo membuat Sooyong menarik kesimpulan kalau gadis itu bukanlah sekedar teman biasa. Terlalu awal bagi Sooyong untuk menangis. Dia juga tidak bisa pergi begitu saja. Hingga Sooyong memutuskan untuk tidak bergerak sampai gadis itu masuk kedalam mobil yang berhenti tepat didepan keduanya. Jisoo melambaikan tangannya sampai mobil itu menghilang dan begitu ia berbalik ia terkejut mendapati Sooyong yang tengah menatapnya. Jisoo tercekat dan lekas menyusul gadis itu. Jisoo yakin Sooyong pasti melihatnya dan Jiyeon.

 

“Sooyong!” Jisoo memanggil namanya begitu Sooyong berbalik memutuskan untuk kembali saja karena ia pikir percuma untuk menjelaskannya pada Jisoo. Selama ini Jisoo yang telah melupakannya. Ia terus berlari tanpa sadar perban yang melilit kaki kirinya sedikit terbuka hingga darah segar dari luka yang belum sepenuhnya kering mengalir. Sooyong berhenti karena ia merasakan nyeri dibagian sendi kakinya.

 

Untunglah Jisoo sudah berhasil menggenggam tangannya hingga tubuh gadis itu kini jatuh tepat dalam dekapannya. Sementara darah segar terus mengalir. Jisoo yang panik dan bingung langsung membuka kaos yang menempel pada tubuhnya dan segera ia balutkan pada kaki sebelah kiri Sooyong untuk menekan  darah agar berhenti mengalir.

 

Sooyong tidak bisa mengingat dengan jelas, yang ia tahu adalah tubuhnya kembali hangat saat Jisoo memeluknya. Kemudian ia menggendong gadis itu masuk kedalam mobil milik Sooyong yang terparkir jauh untuk mengantar gadis itu pulang karena Jisoo pikir Sooyong akan mendapatkan perawatan yang lebih baik disana. Sepanjang perjalanan Jisoo terus mendekap Sooyong. Dia bahkan tidak peduli kalau sekarang dia dalam keadaan shirtless saat mendekap gadis itu. Yang dia pedulikan adalah membuat Sooyong merasa lebih baik.

 

“Jisoo, kenapa kau begitu hangat membuatku tak ingin lepas”  gadis itu bergumam hingga matanya terpejam.

 

 

 

………………………………………………

 

 

 

Sooyong terdiam di tempat tidurnya sementara kakinya tengah diobati dengan mengganti perban yang baru. Sedari tadi ia melamun memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Sesaat mukanya memerah, ia malu.  Bagaimana tidak! Selama perjalanan Jisoo tidak memakai baju dan ia mendekapnya.

 

“Nona, perbannya sudah diganti. Saya permisi”

 

“Apa Jisoo masih ada?”

 

“Dia sedang bicara dengan Nyonya diruangannya. Apa saya perlu memanggilnya?”

 

“Ah tidak usah. Kalau Jisoo menanyakanku bilang saja kalau aku sudah ti-” perkataannya terhenti begitu pintu kamarnya terbuka dan munculah sosok Jisoo yang kini berjalan masuk kedalam kamarnya. Pelayan itu pun pergi meninggalkan dua insan yang kini terlihat canggung.

 

“Hei, kau tidak apa-apa?” Jisoo berjalan mendekati ranjangnya membuat gadis itu semakin salah tingkah.

 

“Ya. Mmm… bajumu?”

 

“Bibi meminjamkannya padaku. Selera fashion Bobby sangat bagus” Jisoo tersenyum. Kemudian ia duduk disamping ranjang dan menatap Sooyong dengan penuh perhatian, sementara yang ditatap hanya diam tak bicara dan memalingkan mukanya kearah lain sembari sibuk menetralkan detak jantungnya.

 

Lalu ketika tangan kekar Jisoo membelai rambut dan menyampirkannya, sontan gadis itu menutup mata. Bukan karena ia merasa takut dengan sentuhan Jisoo tapi karena ia malu. Sadar akan keanehan pada gadisnya itu, Jisoo mengakhirinya dengan mencium pipi gadis itu. Barulah Sooyong menolehkan kepalanya untuk melihat Jisoo.

 

“Maaf”

 

“Untuk?”

 

“Tidak mengabarimu saat aku di Jepang. Aku- “

 

“Bibi sudah menceritakan semuanya”

 

“Lalu kenapa kau mendiamkanku?”

 

“Itu…” sejenak Jisoo berhenti. Ia menarik nafas dan menunduk. “Aku marah karena aku mengira kau melupakanku. Aku takut, Soo. Kau tidak memberiku kabar sama sekali. Rasanya sulit saat kau tidak ada disampingku. Aku berusaha untuk terus percaya bahwa kau tidak akan mungkin melupakanku sampai pada akhirnya niat itu runtuh dan kau muncul dengan keadaan seperti ini”

 

“Dan kau mulai dekat dengan gadis lain”

 

“Itu tidak seperti yang kau pikirkan”

 

“Bohong”

 

“Dia, Park Jiyeon, sepupuku. Kau masih ingat kan? Selain keluarga Do, dia juga orang yang mengurusku selama Ayah di penjara. Dia datang untuk memberikan undangan pernikahannya. Aku tidak mungkin mengkhianatimu”

 

“Kenapa tidak mungkin? Banyak gadis cantik diluar sana”

 

“Bagaimana aku bisa melakukannya kalau setiap saat otakku terus saja memikirkanmu”

 

“Apa?” gadis itu nampak terharu. Jisoo memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Sooyong. Yang terpenting adalah fakta bahwa ia jujur dengan perkataannya. Mungkin Jisoo terlalu polos untuk pemuda seusianya, tapi mengingat banyak hal yang telah Sooyong lakukan, rasanya cukup menjadi alasan untuk terus mencintainya.

 

Sooyong memeluk pria itu erat merasakan aroma tubuh yang selalu ia rindukan selama di Jepang. Dekapan hangatnya yang selalu menjadi candu. Jisoo mungkin sangat berbeda dengan tokoh utama pria dalam cerita manga yang selalu bersikap romantis. Tapi Jisoo yang cuek dan tiba-tiba  seperti inilah yang membuat Sooyong tergila-gila.

 

“Terima kasih untuk selalu percaya padaku” Sooyong menatap Jisoo dengan penuh cinta. Ia mengelus rambut hitam Jisoo lembut dan mencium bibirnya sekilas. ” Kau masih ingat disini pertama kalinya kau menciumku dan bilang kalau kau menyukaiku dan sekarang kita bersama. Aku juga tidak suka saat kau tidak ada disampingku”

 

“Apa kau akan pergi meninggalkanku lagi?”

 

“Aku tidak akan pergi lagi. Aku sudah bilang pada Ayah dan Ayah mengizinkannya”

 

“Benarkah?” Jisoo terlihat senang.

 

“Aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan Ibu. Aku rasa itu adalah ide bagus”

 

“Terima kasih, Soo” ucap Jisoo tulus. Dia mendekatkan wajahnya dan otomatis Sooyong mundur hingga punggungnya terpojok pada pembatas ranjang. Kedua tangan Jisoo bertumpu pada sisi kiri dan kanan. Belum juga ia bersiap atas apa yang akan terjadi, Jisoo sudah terlanjur menciumnya dan kali ini Sooyong juga membalasnya meski ia sedikit kewalahan karena irama jantungnya yang semakin tidak terkendali seiring dengan dalamnya ciuman mereka.

 

Jisoo mengulum bibirnya lembut meluapkan rasa rindu yang harus ia tahan selama ini. Keduanya larut dalam cumbuan manis yang bersemangat hingga tautan itu berakhir dengan Jisoo yang berbaring disampingnya. Mereka saling berhadapan sambil tersenyum malu mengingat apa yang mereka lakukan tadi.

 

Mulai besok dan seterusnya, Jisoo tidak perlu merasa khawatir karena Sooyong tidak akan meninggalkannya lagi. Jisoo sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti. Mereka mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya karena mereka masih terlalu muda untuk memikirkan hal seperti itu. Yang terpenting adalah menjaga agar api cinta dalam hati mereka terus menyala hingga sang waktu yang akan menentukan segalanya.

 

 

 

 

 

THE END

2 thoughts on “LOVE KILLER Part 13 – END

  1. Cieee.
    Suho ama hyera mesra banget. Ha.ha.ha.

    Jisoo juga pake ngambek segala. Kan kasian sooyongnya. Sooyongkan baru habis kecelakaan.

    Beb, ini gue, pembaca setia loe di fp, #KimLinzi dan #ZhangLiYin. He.he.he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s