DID YOU SEE (Chapter 2)

DYS POSTER

Author : Bitebyeol – Main Cast : Park Chanyeol & Ahn Alessa – Other cast will find by yourself – Genre : Romance, Family – Length :  Chaptered – Rating : M

I own the plot

https://hanajinani97.wordpress.com/

Sorry for Typos!

.

.

.

.

.

Langit mulai menggelap menunjukkan waktu hampir memasuki petang. Helaan nafas Chanyeol terdengar berat. Berusaha menghalau detik terlambat jarum jam. Sesekali ia memeriksa pergelangan tangan kirinya yang melingkar pendetak waktu. Sepanjang hidup, inilah hal tidak berguna yang pantas di kutuk oleh Chanyeol. Ia adalah pemuda yang menyukai keringkasan, menangkas segala pekerjaan tanpa kata tunda.

Namun kini sepasang pemilik kaki jenjang itu, tetap berusaha menekan habis segala kesabarannya. Pun setelan yang melekat dari ubun hingga mata kaki seorang Park Chanyeol ialah merek brand ternama, tak pernah sekali ia beratensi terlarut. Dan Chanyeol terpaksa menghapus segala pemikirannya pada sepasang sahabat yang membuat Chanyeol sanggup menegakkan tungkai kakinya berlama-lama.

Berdiri di ambang sebuah butik terkenal kian memaksa Chanyeol menjelma selayaknya sebuah patung manekin. Ini adalah butik keempat yang Alessa datangi. Sementara di dalam sana, gadis berambut indah itu tengah memegang dua buah tas kulit. Kentara berekspresi meminta pendapat Harin dengan membandingkan keduanya. Sesekali tertawa renyah menghantar tiba menggelitik indera pendengaran Chanyeol.

Pemuda itu melengos ke arah lain, membuang pandangan tak peduli. Memilih menghentukkan pantofelnya pada lantai petak yang kini seolah memantulkan ingatan lamanya. Bayangan samar itu datang lagi berbarengan dengan suara feminim rendah milik Lee Harin.

“Park Chanyeol-ssi”

Chanyeol tak yakin ia pernah mendampingi seorang wanita dalam hal kebiasaan. Ia telah lama hidup seorang diri, jauh dari keluarga dan sanak saudara semestinya. Tetapi mungkin, sejauh yang ia tahu kakak perempuannya yang bernama Park Yoora berbeda dengan Alessa dan Harin.

“Chanyeol-ssi, kemarilah ikut aku.”

Terkisap dari lamunan, Chanyeol menyadari jemari lembut tengah menaut lengannya. Ekor mata cokelat pemuda bermarga Park tersebut menjatuh lirikan, pijakan kakinya enggan bergerak.

“Chanyeol-ssi . Sebentar saja, aku butuh pendapatmu.” Sahabat gadis itu-Harin memandangnya dengan sorot memohon. Tak sadar langkah Chanyeol telah meninggalkan ambang, berjalan memasuki butik yang lebih dalam.

“Bagaimana menurutmu?” Seorang gadis lain yang tengah mematut diri di depan cermin memutar tubuhnya. Menimbulkan ujung gaun biru mudanya terhelai dramatis. Chanyeol mengernyit, merasa tak ada satupun inchi dari tubuh Alessa yang pantas membuatnya membuka suara.

“Chanyeol-ssi. Apa ini tidak cocok? Kalu begitu tunggulah sebentar.” Alessa memotong dengan rengutan. Meraih gaun lain yang berada pada lengan Harin kemudian membawanya menuju ruang ganti.

“Dia memang seperti itu.” Harin menatap Chanyeol takut-takut seraya mengedikkan kedua bahunya. Meskipun telah di katakan berkali-kali oleh Harin, Alessa tetap saja kurang puas.

Beberapa menit kemudian Alessa muncul dengan dress yang berbeda, corak floral yang mengembang hingga melewati batas lutut.

“Eottae?”

Ekspresi yang begitu membosankan. Chanyeol berkata dalam kepala. Ia tak habis pikir kata apalagi yang Alessa butuhkan, sementara tubuh mungil gadis itu terlihat cocok mengenakan pakaian manapun.

Chanyeol melangkah satu kali, mendorong bahu Alessa hingga punggungnya menyentuh dinding di belakang. Chanyeol merendahkan kepala menyamakan tubuh Alessa yang hanya sampai sebatas dada teratasnya.

“Dengar Nona Alessa.” Sebentar Chanyeol melirik ke sebelah kiri mendapati seorang pelayan butik yang tampak terkejut melihat aksinya. Menoleh kembali mengamati wajah manis Alessa yang menantang. Namun terlihat jelas bola mata gadis itu meretas ketakutan samar.

Alessa tak cukup pandai menerima kesengajaan Chanyeol. Pemuda itu mengangkat satu tangannya merengkuh pinggang Alessa. Semerbak aroma parfum mahal menderu dalam di sekeliling Chanyeol. Gadis ini, sungguh. Alessa bernilai jutaan won. Jemari Chanyeol bermain sebentar pada bahan dress mahal tersebut kemudian menurunkan tangannya kembali.

“Gaun ini melukaimu.”

“Apa?”

Bibir Chanyeol mengukir senyuman tipis. Mengabaikan pandangan tak senang gadis itu tangan Chanyeol bergerak menuju punggung belakang Alessa. Chanyeol menemukan bekas kemerahan pada punggung terbuka di sana. Bodoh. Hanya demi penampilan berkelas kulit mulus ini harus merasakan derita.

”Dress mana yang akan Nona coba lagi? ”

Alessa tersenyum angkuh membalas pertanyaan itu. Baginya tak penting waktu yang terbuang hanya karena menghabiskan seluruh isi rekeningnya menjelajahi seluruh butik di negeri ini.

“Bagaimana jika kukatakan semuanya?”

Chanyeol memiringkan kepalanya sedikit kesamping, menemukan kesombongan dari pancaran cantik Alessa. Beruntungnya jawaban yang baru saja ia dengar sangat sesuai dengan yang Chanyeol harapkan. Alessa terdiam mengernyit menatap bungkukan rendah Chanyeol. Punggung tegapnya berbalik menjangkau letak kasir dan serentak disambut oleh dua orang pramuniaga.

“Tolong kalkulasi semua harga gaun di deretan itu, beserta tas di sebelah sana dan juga semua sepatu di rak ini.” Chanyeol menunjuk satu persatu dengan cepat kemudian mengeluarkan kartu kreditnya di meja kasir. Seorang kepala pelayan angkat bicara tergagap.

“A-anda ingin kami membungkus semuanya Tuan?”

“Kalau tidak apa lagi?” Chanyeol mendengus menatap pelayan dan juga bergantian menatap seorang pria pada meja kasir hadapannya. Seakan tersadar dari keadaan beku, petugas kasir itu meraih kartu kredit Chanyeol.

“Kalian, cepat lakukan yang Tuan ini katakan.” Serunya memerintah pada seluruh pelayan bawahannya di butik itu. Wanita kepala pramuniaga tersebut tersenyum ramah kepada Chanyeol.

“Chanyeol-ssi apa maksudmu dengan semua ini?” Alessa memasang wajah memerah, tak percaya dengan tindakan Chanyeol.

“Mempersingkat waktu, Nona.” Ujarnya tersenyum.

Chanyeol tampak menerima tas berisi barang belanja hingga kedua tangannya penuh. Ia mengangguk singkat pada kepala pelayan yang berkata akan mengirim semua barangnya nanti.

Dengan santai Chanyeol melangkah menuju pintu dimana para pelayan terus mengucapkan terimakasih padanya. Meninggalkan Alessa dan Harin yang belum bergerak disana. Entah menangkap atau tidak gerutuan Alessa. Gadis itu berdiri di tempatnya memandang punggung Chanyeol dengan geram.

“Ya, Alessa. Pengawalmu itu benar-benar….Bukankah dia sangat keren?”

Chanyeol tak peduli, dengan sengaja ia melemparkan secara kasar semua tas belanja berisi barang-barang Alessa di bagasi mobil. Menimbulkan suara berisik yang mengganggu dalam pendengaran Alessa. Gadis itu mengawasi pergerakan Chanyeol dengan sorot tajam, ia terdiam di sisi sebelah kemudi. Disusul oleh pintu bagasi yang ditutup berdebum, Chanyeol mengemudi mobil pribadinya dan mengikuti mobil Alessa dari belakang.

Alessa membiarkan Harin menyetir mobilnya, ia sendiri membuang pandangan ke arah luar kaca mobil. Harin disebelahnya hanya dapat memainkan jari-jemari di atas setir kemudi, sesekali melirik wajah Alessa yang muram. Gadis itu tampak tidak peduli dengan dering ponsel yang tergeletak di atas dasbor.

Berbelanja selalu berhasil membuat mood Alessa menjadi menyenangkan.Namun, kini mood Alessa benar-benar memburuk. Tak biasanya ia mengabaikan ponsel berlogo apel tergigit miliknya.

“Alessa, kau tidak mau memeriksa pesan Line di ponselmu? Kurasa semua itu pesan Line dari Luhan Oppa.”

Tujuan Alessa menguji kesabaran Chanyeol tak disangka telah mengikis kesabaran gadis itu sendiri. Dengan malas, Alessa meraih ponselnya dan menemukan puluhan notifikasi tertera disana.Senyuman kecil terpatri mengulas terparas indah. Luhan , ya hanya nama itu yang menjadi alasannya.

“Harin, kita ke Boulevard Cafe Resto sekarang.”

“Apa? Jadi kita memutar balik?” Harin mengerjapkan mata hingga tak sadar telah menginjak gas dengan kecepatan penuh. Ia mengerang, bahkan sudah separuh jalan mobil melaju menuju kediaman Alessa. Astaga, ini bukan waktu yang tepat jika mengetahui lokasi cafe resto tersebut yang memaksa Harin harus memutar ke arah berlawanan. Belum lagi kondisi lalu lintas yang padat.

Sudut bibir Alessa terangkat samar menyaksikan dari kaca spion pergerakan mobil hitam metalic milik Chanyeol yang mengikuti di belakang mobilnya. Lampu penerangan jalan mulai menyala seiring langit yang menggelap malam.

Ini baru permulaan Chanyeol-ssi

“Ya! Alessa kau gila?” Pekikan Harin lolos tak terkontrol ketika dengan cepat Alessa menyambar kemudi setirnya untuk berbelok arah di sebuah pertigaan. Mobil tersebut menyalip sebuah truk besar dan bertepatan menghalangi pengawasan mobil Chanyeol.

“Cepat sedikit Harin-ah. Fokuslah menyetir, Luhan Oppa sudah menunggu disana.” Jatuhan santai punggung Alessa seolah bukan masalah dibanding kondisi jantung Harin yang nyaris melompat dari tempatnya. Jujur saja, Harin ingin sekali melarikan dari kegilaan Alessa sepanjang hari ini.

.

.

.

.

.

Boulevard Cafe and Resto.

Pergerakan sepasang kaki ramping Alessa memasuki cafe resto, disambut oleh nuansa alam yang menjadi ciri khas tempat ini. Aroma herbal menderu lembut di sekitar membawa ketenangan tersendiri baginya. Alessa terlalu meyakini bahwa Luhan ialah satu-satunya yang dapat membuat keadaannya menjadi lebih baik. Setelah semua hal melelahkan mengenai ulah Alessa terhadap Chanyeol hari ini. Catatan, bahwa tidak pernah ada kata puas didalam kamusnya dan Alessa tak peduli bagaimana keberadaan Chanyeol sekarang.

Tetapi kaki Alessa terasa bergerak melambat saat menyaksikan pemandangan yang kini tepat berada di depannya. Seketika aroma herbal menenangkan terganti dengan seribu pertanyaan dan prasangka buruk.

“Ah, Alessa. Kemari!” Luhan berseru riang mengangkat tubuhnya dari kursi. Sentuhan lembut Luhan pada lengannya membawa Alessa tersadar. Membimbingnya untuk duduk bertepatan dengan senyuman ramah seseorang. Gadis yang terlihat menikmati waktu bersama Luhan sejak tadi.

“Duduklah Alessa, Oppa sudah memesankan makanan untukmu juga. Oppa kira menunggumu akan membutuhkan waktu yang lama.”

Semua perkataan Luhan bagai tak terdengar bagi Alessa. Ia hanya bergumam seadanya tanpa berkata apa-apa selain memperhatikan gadis yang duduk bersebelahan dengan Luhan.

“Oh, Alessa perkenalkan ini ada seseorang yang ingin menemuimu. Dia baru saja datang dari Jepang. Oppa menjemputnya di bandara, dan ya begitulah membuat Oppa sibuk hari ini.”

Siapa dia ? Perhatian Luhan terlihat berbeda padanya. Sementara gadis itu hanya mengangguk dengan ekspresi tersipu menyelipkan anak rambutnya ke sisi belakang telinga. Ia terlihat cantik sekaligus dewasa.

“Anyeonghaseyo, ahh ternyata Alessa benar-benar cantik seperti yang sering Luhan ceritakan. Perkenalkan, namaku Bae Irene, tunangan Luhan.”

Alessa diam terpaku beberapa saat, tangan mungilnya terkepal erat di antara duduknya. Ia berharap semua ini bukanlah hal nyata. Dan jika kenyataan , Alessa menginginkan pendengarannya sedang bermasalah.

Luhan sudah bertunangan. Bagaimana mungkin?.

Alessa mempertemukan maniknya dengan Bae Irene dan Luhan, berusaha mendapati celah kebohongan dari dalam sana. Tetapi paras sumringah dan tatapan penuh cinta diantara keduanya menceloskan jantung terdalam Alessa. Inikah rasanya kekecewaan?

“Oppa.. Sejak kapan? Aku baru mengetahuinya…”

Mereka merahasiakannya selama satu tahun, bermula dari hubungan keluarga yang membawa Luhan dan Irene memutuskan bertunangan . Sebuah ikatan yang di janjikan Luhan akan membawa ke arah yang lebih serius.Alasan tidak dipublikasikan ialah agar tak mendapat sorotan terlalu dalam dari publik dan Alessa ialah yang pertama mengetahui hubungan pertunangan ini.

Alessa tersenyum menyapukan kegetiran yang memeluk erat tubuh dengan sadis.Keberuntungan macam apa yang terasa menyakitkan setelah mengetahui pertunangan mereka? Didepannya, kedua sejoli tersebut merangkaian kisah demi kisah yang kian terasa menohok perasaan Alessa. Seandainya lumpur hisap berada di kakinya, Alessa lebih memilih terkubur di dalam sana dibandingkan merasakan kesakitan seperti ini. Terlalu menyakitkan hingga gadis itu tak sanggup lagi menyelesaikan makan malamnya.

__

“Oh, Minseok-ah”

Pandangan wanita itu berbinar diiringi senyuman yang melengkung di bibir ketika Minseok menghampirinya di lobi perusahaan.

“Bibi Park? Sejak kapan menunggu di sini?” Minseok duduk dan menyentuh bahunya lembut. Minseok sedikit terkejut mendapati ekspresi wajah wanita itu yang terlihat melirik sekitar dengan raut cemas. Seperti biasa, ada sebuah kotak makanan yang wanita itu bawa, Park Sooyeon namanya.

“Apakah Chanyeol tidak bekerja hari ini? Bibi tidak melihatnya sejak tadi.”

“Chanyeol sedang bekerja di luar kantor. Kenapa Bibi datang menjelang malam seperti ini?”

“Hari ini Bibi menyelesaikan pesanan jahitan dari pelanggan. Jadi Bibi tidak sempat mengantarkan makan siang untuk Chanyeol. Tapi sebagai gantinya Bibi membuatkan makanan untuk makan malamnya. Tolong berikan pada Chanyeol, Minseok-ah.”

Kotak makanan itu terulur di depan Minseok, terasa hangat menyentuh kulitnya.

“Hentikan ini Bi. Seharusnya Bibi menemui Chanyeol secara langsung.” Minseok kembali berkata dengan pelan, sebisa mungkin tidak menyakiti hati wanita yang telah melahirkan Chanyeol di hadapannya sekarang.

Lengkungan sayu tampak terbayang disana. Park Sooyeon menggeleng samar. “Aniya Minseok-ah. Melihatnya dalam keadaan sehat saja sudah membuatku merasa senang.”

Minseok menghela nafas, mengamati kotak bekal makanan yang telah berpindah di tangannya. Aroma nikmat yang sedikit tercium khas masakan ibu kepada sang anak. Hampir setiap hari Park Sooyeon mendatangi perusahaan ini hanya untuk melihat Park Chanyeol dari kejauhan. Menitipkan bekal makan siang buatannya kepada Minseok kemudian kembali ke rumah setelah melepaskan rasa rindunya.

“Bibi bisa melakukan ini terus-menerus, tapi aku tak akan membiarkan Chanyeol mengabaikan ibu kandungnya seperti ini. Dia harus kuberitahu ,Bi.”

Park Sooyeon menggeleng dengan cepat,” Jangan Minseok-ah. Biarlah, mungkin ia tak akan pernah memafkan perbuatan Bibi. Aku mohon, jangan menasehati Chanyeol tentang Bibi, itu hanya akan menyakitinya.”

Minseok terdiam, kedua tangan rapuh wanita itu terkepal di hadapannya. Paras cantiknya yang terkikis usia semakin membuatnya tak tega. Minseok bertekad tidak akan menunda lagi mengenai semua hal ini kepada Chanyeol. Namun, hal yang akan Minseok utarakan menjadi terhenti saat dering ponselnya menandakan panggilan masuk. Sebelah tangannya mengambil benda itu dari dalam saku.

Yeoboseyo?”

Mwo??” Kedua bola mata Minseok membulat sempurna mendengar sebuah kabar dari seberang sana.

“Ada apa Minseok-a?”

Park Sooyeon yakin bahwa Minseok mendapat kabar buruk melihat dari raut cemas wajah itu.

“Tidak apa-apa Bibi. Aku akan memberitahumu mengenai keadaan Chanyeol nanti, dan jangan khawatir makanan ini akan sampai padanya.”

Minseok mengangkat tubuhnya dan berdiri.

Apa yang terjadi dengan Chanyeol? Apa ada masalah? Wanita itu terus membatin memperhatikan Minseok yang berlari kecil menuju pintu keluar.

____

Dalam hati, Chanyeol terus memaki dengan kesal. Rahangnya terus terkatup dingin sejak tadi. Tak ada sedikitpun kesan ramah dari wajah tampannya hingga membuat seorang dokter yang menangani lukanya merasa sedikit takut.

“Lukanya tidak terlalu parah Tuan, Anda dapat beraktivitas kembali seperti biasa.” Dokter itu akhirnya selesai mengoleskan obat pada luka gores dan memar di siku kanan Chanyeol. Sebelumnya ia telah selesai melakukan operasi kecil, Chanyeol mendapatkan beberapa jahitan pada pelipisnya. Kemeja putih yang melekat di tubuh Chanyeol terlihat kusut di beberapa bagian dan bagian lengannya tergulung hingga batas siku.

“Dokter Kang, menurutmu apa yang akan terjadi denganku dengan keadaan mobil yang hancur seperti itu?”

Dokter yang mengenakan papan nama bertuliskan ‘Kang Minhyuk’ tersebut membetulkan letak kacamatanya dan menatap Chanyeol lekat-lekat. Ia tidak tahu separah apa kerusakan yang didapatkan mobil pasiennya. Tetapi yang ia tahu Park Chanyeol adalah pasien yang layak mendapatkan perawatan khusus mengingat posisinya. Sebagian besar saham yang dimiliki rumah sakit ini dimiliki oleh perusahaan yang Park Chanyeol pegang.

“Bagian depan mobilku hancur, kacanya pecah sehingga tak memungkinkan untuk di kendarai lagi.” Jelas Chanyeol seakan menjawab pemikiran Kang Minhyuk. Pecahan kaca mobilnya menyebabkan goresan kecil di tangan dan pipi.

Kang Minhyuk menghela nafas pelan, mengerti bahwa Chanyeol dilingkupi rasa emosi di banding rasa sakit setelah mendapat jahitan.

“Saya tidak tahu Tuan, mungkin akan lebih parah dari sekarang. Anda hanya kehilangan kesadaran selama beberapa menit dengan luka ringan. Mungkin ini adalah suatu keajaiban.”

“Keajaiban?” Chanyeol bertanya seperti hanya pada dirinya sendiri.

“Ya, di luar sana pasti masih banyak yang menyayangi Anda. Ribuan karyawan yang menjadi tanggung jawab Tuan. Lalu keluarga dan orang-orang terkasih yang menunggu Tuan di rumah ”

Rumah? Chanyeol seakan tersadar mengenai sesuatu ketika mendengarnya.

Dokter Kang tersenyum sambil membereskan peralatan medis. Dokter itu akhirnya meninggalkan Chanyeol setelah menyelesaikan perawatannya.

Chanyeol memejamkan sejenak kedua mata berusaha menetralkan rasa lelah dengan menghembuskan nafas. Nyawanya cukup beruntung dapat menghindari kecelakaan yang baru saja terjadi. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dijalanan padat bukan masalah besar bagi Chanyeol. Fokusnya telah terpecah saat sebuah truk besar tiba-tiba menghalangi dihadapannya hingga Chanyeol membanting setir ke arah lain. Begitu cepat dari perkiraaan sampai mobil itu menyerempet sedikit pada sebuah mobil yang melintas. Gesekan ban beradu dengan aspal menyebabkan bunyi rem tercekit ngilu. Chanyeol membanting kembali setir mobilnya demi menghindari kecelakaan beruntun hingga beberapa kali menabrak besi-besi pembatas. Mobil itu berputar dua kali dan berakhir menabrak pembatas beton di tepi jalan dan ringsek membentur sebuah pohon besar.

Sial!

Mobil kesayangan Chanyeol mengalami remuk di bagian depan akibat menabrak dengan keras. Minseok yang tergopoh ketika dihubungi untuk mengurusnya merasa panik mendengar kecelakaan yang menimpa Chanyeol. Semua ini karena gadis manja itu! Geramnya. Apakah ia tidak tahu perbuatannya telah membahayakan orang lain? Perilaku Alessa benar-benar keterlaluan. Entah dimana keberadaan Alessa sekarang. Chanyeol memeriksa ponselnya dari saku celana dan kembali mengumpat ketika mengetahui benda itu telah kehabisan daya.

Pujangnim, Anda tidak apa-apa?” Minseok baru saja tiba dan menyeruak melihat keadaan Chanyeol. Ia mendapati pelipis Chanyeol yang tertutupi oleh perban dan plaster. Pemuda itu bangkit dari ranjang dan menganggukkan kepala.

“Aku tidak apa-apa, Minseok Hyung.”

“Aku sudah menangani mobilmu, keadaannya benar-benar parah. Aku bersyukur kau selamat, Chanyeol” Chanyeol mengedikkan sebelah alis mendengarnya, gerakannya memakai jas yang dibawakan oleh Minseok menjadi terhenti. Dia benar-benar tak suka mengetahui mobil kesayangannya rusak parah.

Minseok menunduk terdiam menyadari ekspresi Chanyeol yang kembali datar. Ia merutuki ucapannya yang salah.

“Bisakah kau mereservasi satu kamar terapi pijat setelah ini? Kurasa leherku sedikit bermasalah.” Chanyeol melemaskan leher dan bahunya dan dengan segera Minseok membantunya memakai jas.

“Baiklah, Pujangnim.”

“Untung saja ini kecelakaan tunggal, jadi pihak kepolisian tidak bertanya lebih lanjut. Tapi bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi ?”

Minseok bertanya pada Chanyeol ketika ia mulai melajukan mobilnya membelah lalu lintas Seoul di malam hari. Minseok telah lama mengenal Chanyeol dan tahu betul tabiat wakil direktur muda itu. Chanyeol kerapkali menunjukkan kepada Minseok mengenai kemampuan menyetirnya yang luar biasa. Bagaimanapun kegilaan Chanyeol berkendara, ia tak akan pernah merelakan sesuatu apapun merusak mobil kesayangannya barang setitik goresan.

“Jika bukan karena gadis itu, tak akan kubiarkan mobilku menyerah dan hancur.”

Chanyeol kembali kesal mengingatnya. Sudah pasti bagi Chanyeol seperti apapun keadaan mobilnya, ia akan mengakhirinya di pembuangan.

“Gadis itu, siapa?” Minseok merasa tak mengerti.

“Sudahlah Hyung, aku benar-benar lelah. Bisakah aku meminta satu hal lagi padamu?”

Minseok melirik sebentar ke arah Chanyeol. Hari ini Chanyeol sudah banyak meminta bantuan darinya, dan ketika Chanyeol merasa sudah berlebihan, pemuda itu akan menanyakan kesanggupan Minseok terlebih dahulu.

Senyuman Chanyeol terpatri samar melihat anggukan Minseok.

“Tubuhku terasa sangat letih. Tolong pastikan pelayanan terbaik body massage untukku, Hyung.  Karena setelah ini tugasku masih berlanjut.”

Nafas Chanyeol terhela pelan, ia menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Bertahun-tahun mengenal Chanyeol, Minseok merasa beban berat yang ditumpu oleh pemuda itu tak pernah menghilang dari pundaknya. Minseok mengamati raut kelelahan Chanyeol yang tercetak jelas disana. Bibir Minseok akhirnya kembali terkatup kembali menyimpan sesuatu lain yang sebenarnya hendak ia sampaikan.

Alessa tidak dapat tertidur walaupun hanya sekedar membaringkan tubuh dan memejamkan kedua mata.Semua perkataan mengenai pertunangan Luhan dan Irene terus terngiang di telinganya. Jika saja ia tidak terlalu berharap, mungkin segalanya tidak akan terasa sakit seperti ini. Gadis itu telah menunggu terlalu lama sejak sekolah menengah atas. Kala itu ia jatuh hati dengan sikap Luhan yang berbeda dari kebanyakan hoobaenya. Luhan tidak segan menyapa dan membantu Alessa. Keramahannya tulus dan tidak di buat-buat. Alessa terkenang dengan semua kenangannya bersama Luhan. Semua sudah sejauh ini, bahkan Luhan menjadi alasannya tidak mengikuti kemauan orang tuanya berkuliah di Amerika. Alessa memilih memasuki universitas yang sama dengan Luhan, dengan harapan suatu hari nanti perasaannya tersebut dapat terbalas.

Menyeka air matanya lagi dan lagi. Entah sudah berapa lama jarum jam bergerak membawa waktu menuju dini hari.

“Oppa .. mengapa kau tega melakukan ini padaku..”

Alessa memukul dadanya yang terasa semakin sesak. Ia tidak mengatakan apapun ketika Harin bertanya apa yang membuatnya menjatuhkan berbulir air mata ketika keluar dari cafe resto tadi. Segalanya menjadi sulit untuk dibicarakan. Hatinya terlalu sakit bahkan hanya untuk sekedar menerima pertunangan Luhan dan Irene, Alessa tak bisa melakukannya. Bodoh! Alessa mengutuk diri. Apakah ini karena ia yang terlalu polos menerima perlakuan Luhan? Luhan tak pernah mengatakan apapun padanya dan sebaliknya Alessa tak pernah bertanya kepada Luhan.

Perasaan Alessa menjadi semakin tak menentu. Ketika dalam keadaan seperti ini, gadis itu biasanya membutuhkan sebatang cokelat. Sedikit mempercayai penelitian medis walau sebenarnya hal itu tak mungkin terbukti benar dalam kondisinya sekarang. Di atas meja belajar hanya terdapat setumpuk buku dan alat menulis. Menarik laci nakasnya, Alessa tak menemukan makanan ringan itu disana. Ia baru teringat Harin mengambilnya saat beberapa hari lalu datang ke kamar dan sialnya itu adalah cokelat pemberian Luhan. Gadis itu memutuskan menarik pintu kamar dan berjalan menuju arah dapur. Keadaan rumahnya terasa sunyi sepeninggal Jaehyun. Pelayan yang biasa berlalu lalang mungkin sudah tertidur, hanya ada beberapa yang berjaga di sudut pintu depan.

Kaki telanjang Alessa menuruni anak tangga yang terasa dingin , sesampainya di dapur ia membuka pintu kulkas dan meraih sebotol air dingin dan sebungkus snack kacang. Ia duduk di salah satu kursi country dengan tangan menopang dagu. Pikirannya menerawang kemana-mana. Jam besar yang menempel di dinding menunjukkan waktu jam 2 pagi, kantuk baru saja mendera kedua mata gadis itu. Ia mengerjap beberapa kali.

Alessa menegakkan tubuh hendak kembali ke kamar. Tetapi bertepatan dengan itu juga seluruh pandangannya benar-benar menghitam. Lampu-lampu padam secara serentak. Bola mata Alessa melebar mulai panik. Gelap, hanya itu yang ia dapati di sepanjang penglihatan. Ia meraba-raba di sekeliling dengan kaki terhuyung, jantungnya berdegup tak beraturan. Alessa meraba apapun di hadapannya, ia merasakan meja dan tangannya menghantam botol air minum serta gelas-gelas kaca. Pecahannya terdengar menjatuhi lantai.

Leher gadis itu kian tercekat, nafasnya bergerak naik turun ketika menyadari setiap detiknya hanya menemukan pemandangan gelap. Terakhir kali Alessa merasa seperti ini persis ketika dirinya terkunci di dalam laboratorium sekolah menengah. Luhan lah yang menyelamatkannya dari ruangan gelap menjelang malam hari itu. Tetapi disini, sekarang, tidak ada Luhan. Phobia akan gelap selalu menyiksanya.

Pening mulai mendera kepala Alessa, ia tak tahu apakah ada pemadaman listrik kendati seisi rumahnya dilengkapi peralatan otomatis. Tubuh gadis itu meluruh menyandar pada dinding, meraba ponselnya dari saku piyama. Entah kenapa ia mengetikkan nama Luhan. Jemari gadis itu bergetar, peluh membasahi dahinya dan pipinya mulai basah oleh air mata. Namun sesak lebih dulu merayapi bagian dadanya, oksigen seakan mulai menipis mengosongkan paru-paru. Ketakutannya semakin menjadi, tak ada seorang pelayan pun menyadari keberadaan Alessa. Phobia yang ia derita benar-benar parah hingga bersuara untuk meminta tolong saja tak mampu. Di tengah keputus asaan, sepasang lengan yang perlahan melingkari tubuh kurus itu membuat Alessa meraba-raba pemilik lengan tersebut dengan penuh harap.

“O.oppa…” Alessa mencengkeramnya dengan erat.

Hingga kesadarannya tertelan oleh gelap yang sesungguhnya.

TBC

A/N :

Hai, adakah yang membaca? Tulis komentar dan review ff ini dibawah ya.

And if you wanna see more click >> HERE

Thanks.

 

 

8 thoughts on “DID YOU SEE (Chapter 2)

  1. anyeong author-nim.
    wahh makin seru ceritanya, tp sayang udh tbc aja. td liat di konten “HERE” ternyata ternyata DYS udh ada chapter 5. wihh g sabaran pen baca.. ijin read ya thor:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s