A Forgotten Life (Chapter 3)

Eulseongulya

Married-life, fantasy, Hurt, slight! Action, AU(berganti sesuai chapter)

PG 17 = untuk sedikit adegan di chapter ini. (berganti sesuai chapter)

Length : chaptered

Murni didalangi oleh eulseongulya. Kesamaan bukanlah sesuatu yang disengaja. Alur cerita beserta ide-idenya milik saya,selebihnya adalah milik tuhan.

Akhirnya aku putuskan buat bikin FF chaptered ber-genre utama  married life +fantasy. Aku udah punya gambaran endingnya,jadinya aku berani buat.

NO PLAGIATOR
NO COPYCAT

Enjoy it,and please give me a comment(o^~^o)*bbuing-bbuing*. Hope you like it.

.
.
.
.

“Tak kusangka kau berhasil mengetahui rencanaku.” Ujar seorang pemuda bertudung hitam yang mencegat paksa Kai di jalan.

“Menyerahlah,menyingkir!. Jangan sakiti sepupuku lagi!. Tak cukupkah kau membuatnya menderita di dunia manusia? Memangnya apa salahnya?.” Bentak Kai dengan gertakkan. Pemuda itu tertawa evil,lalu meraih leher Kai.

“Alasanya adalah…”

-:–:–:–:–:–:– CHAPTER 3 -:–:–:–:–:–:–

.
.
.

“Bukankah kau tahu pasti alasanya,iya ‘kan?.” Tanya pemuda itu dengan nada sedikit sarkatis

“Tapi kau tak berhak membunuhnya.” Hardik Kai.

“Memang awalnya begitu,tapi lihatlah kini!. Ia kembali lagi ke dunia sihir abadi. Untung saja sekarang ini bukanrainbow-month*. Kalau iya,pasti semuanya akan kacau. Maka dari itu aku harus melenyapkanya sekarang juga. Dia adalah sebuah ancaman besar.” Jelas pemuda bertudung hitam itu.

.
.
.

“Kenapa kau bisa setega ini pada Yoo ji?. Baiklah,akan kupastikan ia takkan kembali ke dunia ini lagi dan akan kusegel dia sampai Rainbow-month berakhir.” Ujar Kai.

“Tidak. Tidak perlu. Bukan aku yang akan membunuhnya, tapi orang lain. Aku sudah berjanji takkan mencampuri urusanya dalam menghapuskan Yoo ji dari muka bumi. Aku tak peduli gadis bodoh itu mati,sekarat,atau hidup makmur,bahagia nan sejahtera selama aku mendapat apa yang kuinginkan. Aku tidak akan ambil pusing tentang apa rencana yang pembunuh itu gunakan untuk melenyapkanya. Aku juga tidak ikut andil atas apapun yang akan pembunuh itu lakukan pa…,”

“Memangnya siapa pembunuh bayaran bertopeng itu?.” Sergah Kai. Pria bertudung hitam itu agaknya sedikit dongkol karena perkataanya dipotong begitu saja.

“Kau tak perlu mengetahui lebih jauh. Cari tahulah sendiri,jaga Yoo ji baik-baik. Kau sebaiknya waspada,ia berada tepat di dekat kalian.” himbau pria itu.

.
.
.

“Ngomong-ngomong,tempat persembunyian yang kau pilih bagus juga. Aku yang notabenenya penyihir dengan noktah anjing-pun bahkan tak dapat mengendus keberadaanya.” Ucapnya dengan ekspresi kagum yang dibuat-buat.

“Kau membuat permainan ini makin menarik saja,Kai. Kau membuatku menyesal karena tak dapat ambil bagian dalam game ini. Ya sudahlah,mau bagaimana lagi?. Aku pergi dulu,masih banyak hal yang perlu aku bereskan.” Ucap pemuda bertudung hitam itu sembari mengepakkan sayapnya,berancang-ancang untuk terbang membelah langit malam yang kelam nan sunyi dengan sayap hitamnya.

.
.
.
.

Other Side, Hae kyu / Yoo ji POV

Ya tuhan,betapa indahnya rumah ini setelah aku tinggal. Mirip sekali dengan kapal Titanic yang hampir tenggelam. Baju kotor berserakan dimana-mana,sisa makanan terlantar dan tersebar rata. Apakah si bayi besar yang arogan itu tak tahu cara merawat diri?. Kemana Seon hwa saat Chanyeol membutuhkanya?. Aku dan Baekhyun pun berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepala kompak. Baru kali ini aku melihat rumah se-‘rapi’ ini.

.
.
.

Tanpa sepatah-dua patah katapun aku langsung bertindak. Aku mengambil vacum cleaner atau yang lebih kita kenal dengan penghisap debu dari lemari. Aku mulai menyalakanya,dan saat hendak melaksanakan bersih-bersih,ada panggilan alam ke toilet terdkat. Akupun dengan cepat lari ke kamar mandi dan menyerahkan penyedot debu itu ke Baekhyun.

.
.
.

Selang beberapa menit keluar dari kamar mandi,aku terperanjat saat melihat Baekhyun…

“Hmmmppphhh…,” gumam Baekhyun. Aku langsung lari terbirit menghampirinya dan menarik penyedot debu dari wajahnya.

“Kau baik-baik saja?. Bagaimana bisa itu terjadi?.” Tanyaku. Baekhyun mulai mem-pout-kan bibirnya beberapa senti kedepan.

“Bagaimana bisa yang seperti ini disebut baik-baik saja!. Aissshh…,” rutuk Baekhyun keras-keras,setengah membentak.

“Mana yang sakit?.” Ia pun menunjukkan bibirnya yang memerah karena tersedot penyedot debu,aku pun terkikik geli.

“Bagaimana bisa penyedot debu itu bersarang disana,hah?.”

“Nge-fans kali sama aku,main nyosor deh jadinya. Oh iya,penyedot debu itu alat apaan sih?.” Aku terbahak,geli saja rasanya melihat Baekhyun seperti itu. Wajar saja kejadianya seperti itu,ia belum tahu tentang penyedot debu rupanya.

.
.
.
.
“Mian,Baekkie-ah. Tadi aku terburu-buru,jadi langsung main lempar deh. Apakah sangat sakit?. Apa perlu kubelikan obat di apotek terdekat?.” Ia tersenyum melihat wajah cemasku.

“Tak perlu obat. Aku hanya butuh…,” ia mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Aku hanya butuh bibirmu untuk menghilangkan jejak benda jelek itu di bibirku.” Ucap Baekhyun sambil mengecup bibirku lembut,tapi lama. Aku terpaku,merasakan telingaku memanas dan jantungku yang berdegup kencang seperti habis dikenai alat kejut jantung. Setelah Baekhyun selesai,aku langsung menatapnya.

“Apa?. Mau lagi?.” Godanya sambil menyeringai penuh makna.

“Dasar kau ini…,” ucapku singkat. Aku langsung menyembunyikan wajahku,mencoba menyembunyikan pipiku yang merona. Kalau boleh jujur,aku ini pemalu. Entah kenapa hampir semua pria berhasil membuatku tersipu dan salah tingkah meski kenyataanya aku tidak menyukai pria-pria itu. PHP banget ya?. Emang sih.

.
.
.
.
Dulu ada pria China setengah keturunan Kanada yang sok keren gitu. Dia gombal-gombalin aku gitu didepan lapangan basket,aku otomatis semerah kepiting rebus. Bukanya gara-gara digombalin dia sih,tapi karena dilihatin orang banyak gitu. Nah,temen-temen dia itu memvonis kalau aku itu suka sama dia. Dia itu udah percaya diri selangit pas mauconfess perasaanya ke aku. Aku tahu kalau dia itu playboy,jadinya kutolak aja deh dia mentah-mentah. Akhirnya ia gak mau ketemu aku selama sebulan. Ia ngerasa jabatanya menjadi playboyyang selalu membuat wanita bertekuk lutut lengser gara-gara aku. Aku tidak melakukan hal yang sama terhadap Baekhyun,’kan?.

.
.
.
.

Chanyeol POV

Aku mendengar suara seorang pria. Aku berjingkat kearah dimana suara itu berasal,dan betapa kagetnya aku saat melihat seorang pemuda berusia sekitar 20-an berada di lantai bawah. Aku tambah ternganga melihat keadaanya yang mengenaskan-bibir tersedot penyedot debu-. Aku pun bergegas turun ke lantai bawah untuk membantu pemuda itu,tapi langkahku langsung terhenti ketika aku melihat sesosok yeoja yang mendekatinya. Dia…, dia Min hae kyu!.

.
.
.
.
Hae kyu mencopot penyedot debu dari bibir pria itu cepat-cepat, lalu menanyakan kata-kata klise yang sering diucapkan orang ketika lawan bicaranya baru saja terkena masalah. Pria itu langsung memanyunkan bibirnya sewaktu mendengar pertanyaan Hae kyu yang terlalu klise. Selanjutnya,aku tak terlalu mengerti apa yang mereka bincangkan. Tiba-tiba saja pria muda itu mencondongkan tubuhnya ke Hae kyu, perasaanku jadi sedikit tidak enak.

.
.
.
.
Tak lama pemuda itu mencium bibir Hae kyu, DEEEGGG——. Aku merasa lumpuh,tak berdaya. Aku terjatuh ke lantai pelan,mereka juga pasti tak menyadari keberadaanku. Entahlah,rasanya api dalam tubuhku yang sudah disegel berpuluh-puluh tahun lamanya seakan ingin bangkit begitu saja. Marah?,iya kurasa. Cemburu?,hei! Aku saja yang berstatus sebagai suaminya tak pernah melakukan itu!. Hey Park chanyeol,kenapa kau jadi seperti ini sih?. Ah,kurasa aku mulai kurang waras. Kurasa aku harus pergi ke dokter setelah ini. Mataku tak lepas dari mereka berdua. Waktuku terasa berhenti begitu saja,rasanya pemuda itu tengah mencium Hae kyu selama seabad. Kenapa tak kunjung usai,sih?.

.
.
.
.
Entahlah,rasanya aku ingin menendang bokong pria itu sampai ke afrika. Apa aku berlebihan?,anggap saja iya. Apakah aku terdengar gila?. Baiklah,anggap saja aku memang gila. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku bisa berpikiran seperti ini.

.
.
.

Entahlah kenapa semua anggota tubuhku tak bisa diajak kompromi. Pelan tapi pasti,aku merasakan dadaku sesak dan air mataku mendesak keluar. Perasaan macam apa sih ini?. Selama 2 abad aku hidup,aku merasa belum pernah merasakan yang seperti ini kecuali…, aku langsung memukul-mukul kepalaku sendiri. Mana mungkin ‘kan aku mencintai Hae kyu seperti halnya cinta pertamaku?. Tapi kenapa rasanya sama persis?. Aku ingat betul rasa sakit ini,rasa sakit yang serupa dengan rasa sakit yang kudapat berpuluh-puluh tahun lalu.

.
.
.
.

Ya,rasa sakit serupa. Perasaan dimana hatiku rasanya teriris beribu-ribu sembilu tajam. Perasaan dimana dadaku sesak seperti dihimpit dua tembok yang bergerak menyatu. Perasaan yang mana membuat oksigen disekitarmu seolah tak berguna lagi. Apakah sudah sedalam ini perasaanku pada wanita bermata cokelat tua dengan alis tipis dan mata sipit itu?. Oh lihat Park chanyeol,kau bahkan hapal setiap lekuk wajahnya yang bahkan enggan kau lihat. Kini kalau sudah begini,aku bisa apa?.

.
.
.
.
Kuhapus air mataku yang membanjiri pipiku. Hei Park chanyeol,kau ini seorang pria!. Mana boleh menangis macam bayi seperti ini!. Aku pun mulai bangkit,dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari mereka berdua sudah tak tampak. Hei,jangan bilang bahwa ini hanya ilusi atau imajinasiku!. Yang tadi itu benar,’kan?.

.
.
.
.

Seon hwa’s side

Aku terkesiap saat melihat Chanyeol jatuh terduduk didekat tangga. Saat hendak menghampirinya,kubuang perhatianku untuk mengikuti tatapan Chanyeol. Tak lama Chanyeol menangis dalam diam saat seorang pemuda mengecup seorang wanita muda yang tidak lain dan tidak bukan adalah Min hae kyu.

.
.
.
.
Aku geram,apa-apaan ini semua?. Jadi sekarang,Chanyeol telah menyukai wanita itu?. Sampai-sampai rela menangis hanya untuknya?. Memangnya Chanyeol pernah melakukan hal yang sama untukku?. Menangis sampai jatuh terduduk tak berdaya -penuh luka- seperti itu hanya untukku?. Jadi Chanyeol mengkhianati kesetiaanku selama ini dengan mulai menyukai wanita itu?. Sialan kau Park chanyeol!. Tak bisa. Kau tak bisa sebegitu mudahnya melakukan ini setelah apa yang kita lalui bersama!. Kau harus membayar ini semua!.

.
.
.
.
Aku langsung kesebuah menerobos masuk ke rumah yang cukup besar milik pria bertopeng itu. Aku dengar mereka akan melenyapkan Min hae kyu alias Yoo-Yoo siapa itu. Entahlah, aku tak peduli tentang nama aslinya.

Author P.O.V.

“Ada apa,nona manis?. Apa tujuanmu kemari?.” Sapa pemuda berkulit kuning langsat -bersama topeng berwarna keemasan yang melekat di wajahnya- dengan suara bariton-nya.

“A-aku dengar k-kau hendak me-membunuh penyihir Immortal bernama Hae kyu itu,ya?.” Tanyaku sedikit gagap.

“Ya,benar. Lalu memangnya kenapa?.”

“Aku ingin membantumu membasminya.”

“Kenapa?.”

“Ia telah merebut Chanyeol,alasan aku hidup. Aku rela mati demi merebut kembali Chanyeol darinya.”

.
.
.
.

“Apa kau benar-benar yakin untuk membantuku, Seon hwa-ya?.” Tanya pria itu memastikan, Seon hwa mengangguk mantap sembari berujar dengan semangat.

“Ya,tentu. Wanita itu telah merebut hati Chanyeol dariku. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan.”

“Aku penasaran rasanya dikhianati dua kali oleh orang terpercaya.”

“Maksudmu?.” Tanya Seon hwa setengah memekik.

“Memangnya kau tak lelah dengan Chanyeol?. Kurasa ia tak pernah benar-benar mencintaimu. Apa kau tak muak?. Chanyeol telah dua kali mencintai yeoja selain kamu meski kalian masih berstatus sepasang kekasih. Kenapa kau masih mempertahankanya?.”

“Karena aku mencintainya.” Sahut Seon hwa dengan tegas.

“Rupanya cinta itu memang benar-benar buta. Kurasa kau hanya salah satu dari ribuan korban cinta buta.”

“Memang,begitulah kurasa.”

“Lalu,bagaimana dengan Chanyeol?. Ia pasti akan melindungi Hae kyu, bukan?.”

“Merusak berarti membeli,kurasa aku harus membuatnya hancur agar aku memilikinya.” Ucap Seon hwa yakin.

“Biarlah Chanyeol ikut terluka, karena satu-satunya cara mendapatkan Chanyeol kembali adalah dengan melenyapkan perempuan itu. Se-la-ma-nya.” Kata Seon hwa dengan penekanan di akhir kalimat.

.
.
.
.
“Memangnya kau bisa menemukan wanita itu?. Aromanya sulit di-endus dan ia dapat menghilang sewaktu-waktu. Memangnya kau mampu?. Aku saja butuh tak-tik super licik untuk mencelakai peremluan itu terakhir kali. Kau harus ekstra berhati-hati.” Himbaunya

“Akan kucari ia sampai ke lubang jamban. Kan kuhabisi ia sampai benar-benar tuntas.”

“Tingkat percaya dirimu tinggi sekali, ya nona?. Baiklah, kuserahkan semuanya padaku. Panggil aku pakai lonceng ini bila kau terdesak atau saat ia benar-benar akan habis. Momen-momen indah seperti itu mana mungkin sanggup kukewatkan, bukan?. Aku akan segera sampai ketika lonceng ini dibunyikan.” Jelas pemuda itu seraya menyodorkan sebuah lonceng kecil berwarna merah darah ke Seon hwa.

“Baiklah.” Sahutnya singkat.

“Bersenang-senanglah bersama Yoo ji, aku pergi dulu. Jangan jadi anak baik didepanya, oke?. Sikat saja dia sampai habis.”

“Oke.” Jawabnya singkat dan dibumbui sedikit nada malas.

.
.
.
.

Seon hwa bergegas menuju ke rumah Chanyeol kembali. Ia semakin marah saja ketika Hae kyu sudah mampir ke pelukkan Chanyeol.

In Chanyeol’s eye….

“Chanyeol-ah!.” Seru Hae kyu. Aku menghampirinya dan memeluknya.

“Hae kyu-ya, darimana saja kau ini?. Kau tak tahu aku sangat merindukanmu?.” Seketika langsung kututup mulut bocorku ini. Aduuh,bodoh. Kenapa kau mengatakanya dengan terlalu jujur, Park chanyeol?. Tak bisakah kau berbohong sedikit?.

“Aku butuh perlindunganmu, Chanyeol-ah.”

“Memangnya kenapa?. Ada masalah apa sehingga kau membutuhkan perlindunganku.”

“Tak ada waktu lagi, mari kita lari!, aku takut.”

“Takut apa?.”

JLEEEEBB—–

Belum sempat Hae kyu menjawab, tiba-tiba terlihat sebuah anak panah melesat kearah kami dengan cepat. Panah itu menembus dada Hae kyu secepat peluru. Aku terperanjat bukan kepalang, dan aku tak sempat melindunginya.

“Hae kyu-ya!.”

“Chanyeol…,” panggil Hae kyu dengan suara yang terdengar parau.

“Maaf aku harus meninggalkanmu seperti ini. Aku mencintamu, Chanyeol-ah.” Lanjutnya sambil mengelud pipiku.

“Andwe, kau tak boleh pergi. Tetaplah disini, Hae kyu-ya. Aku juga mencintaimu, jadi bertahanlah disini bersamaku. Meski aku ini memang menyebalkan dan payah, aku tak mau kau pergi. Tetaplah disini. Aku tahu aku memang tak becus menjagamu, sering tak memgacuhkanmu, tapi aku berhanji akan mengulangj semua menjadi indah bila kau memberiku kesempatan.” Ucapku panjang lebar, agar ia tahu semua kebenaran ini disisa hidupnya.

“N-namun, d-diisini bukanlah tempatku. La-lalu aku harus bagaimana, Chanyeol-ah?.” Tanyanya sedikit tergagap-gagap karena sisa napasnya yang mulai menipis.

“Pokoknya kau harus bertahan!.” Titahku sambil mendekapnya erat. Kurasakan tubuhnya melemas, napasnya tak lagi dapat kurasakan, sepertinya ia benar-benar telah pergi.

“Hae kyu-ya…,” pekikku dengan suara yang memilukan. Aku memang menyedihkan, bukan?.

.
.
.
.

Kubuka mataku perlahan, terlihat sosok pria yang tadi bibirnya tersedotvacum cleaner. Dia menatapku terus menerus, seolah tak mau pengawasan-nya atas gerak-gerikku kelepasan barang sedetik saja.

“K-kau…?!.” Seruku.

“Ah, kau sudah sadar rupanya.” Ujarnya santai.

“Hae kyu…, mana Hae kyu?.”

“Hae kyu?. Aah…, Yoo ji?. Dia pergi sebentar tadi.” Jawabnya.

“Jadi, tadi itu cuman mimpi?.”

“Eum, mungkin.” Jawab pria itu sekenanya.

“K-kau siapa?.”

“Aku Byun baekhyun panggil saja Baekhyun. Kau  Park chanyeol, ‘kan?.Bangapta.”

“Kok kamu bisa tahu?.” Telisikku.

“Bisa saja.” Sahutnya cepat.

“Baekhyun-ah, ini kompresnya.” Seru seorang wanita dari balik pintu, itu pasti Hae kyu. Tak lama Hae kyu masuk dengan air kompresan.

“Kau sudah siuman rupanya.” Kata Hae kyu sembari meletakkan air kompres di nakas.

“Kau terserang flu ringan, badanmu sangat panas. Bolehkah aku mengompresmu, tuan arogan?.” Izinya dengan sedikit menyindir. Tanpa basa-basi langsung kurengkuh dia, kujatuhkan dalam pelukanku.

.
.
.
.

“Hae kyu-ya, darimana saja kau ini?. Kau tak tahu aku sangat mengkhawatirkanmu?.”

“Mengkhawatirkanku?. Cih, ternyata kau punya rasa khawatir juga terhadapku.” Gumamnya lemah. Aku semakin mengeratkan pelukanku.

“Maafkan aku, aku mencintaimu, Hae kyu-ya.” Bisikku, matanya terlihat membulat.

“A-apa?.” Kulihat Hae kyu langsung memberi kode untuk meninggalkan kami sebentar, Baekhyun pun mengangguk dan segera beranjak.

“Maafkan aku, aku kini baru menyadari perasaan ini. Aku tahu kau pasti tak menyukaiku mengingat sikapku selama ini. Aku tahu kau membenciku, tapi bolehkah aku mencintaimu?. Maukah kau selalu di sisiku, Hae kyu-ya?.”

“Chanyeol, apa kau yakin kau sudah sepenuhnya bangun?.”

“Memangnya, bagaimana menurutmu?. Kau tak tahu seberapa khawatirnya aku saat kau menghilang begitu saja?. Kini aku yakin, kalau aku memang benar-benar mencintaimu. Maukah kau memaafkan sikap-sikap kasarku dulu?.”

Author P.O.V.

“Wahh, wahh, wahh, romantis sekali ya suasana disini.” Sindir Seon hwa ketus. Sejurus kemudian, Chanyeol dan waktu berhenti. Semua berhenti kecuali Seon hwa dan Hae kyu alias Yoo ji.

“Oh, ternyata kau juga Time-controler?. Baguslah begitu, dengn begini semuanya menjadi tak terlalu mudah dan membosankan.” Komentar Seon hwa.

“Apa maumu?.” Seru Hae kyu.

“Singkat saja, membunuhmu.” Ujar Seon hwa seraya menghunuskan pedangnya kearah Hae kyu, tapi gadis itu masih bisa menghindar. Denganmartial arts yang ia sudah pelajari bertahun-tahun, Hae kyu dapat melawan Seon hwa. Namun Seon hwa juga tak kehabisan akal, ia pergunakan dengan baik pedangnya untuk melawan Hae kyu yang tanganya kosong.

.
.
.
.

Pukulan Hae kyu lumayan juga, cukup membuat Seon hwa kewalahan dan kadang terkapar. Akan tetapi Seon hwa terus saja bangkit dan menyerang, ambisinya untuk membunuh Hae kyu teramat besar. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Itulah peribahasa yang menggambarkan Hae kyu saat ini. Sepandai-pandainya ia menghindar, akhirnya ia tertusuk juga. Seon hwa pun dapat dengan mudah menaklukkan Hae kyu setelah Hae kyu terluka. Seon hwa pun mulai mengarahkan pedangnya ke leher Hae kyu, tetapi tiba-tiba saja…,

—:-:-:-:-:-:-:-:———— To Be Continued ————-:-:-:-:-:-:-:-:-:—

Bakal aku jelasin, di chapter sebelumnya mau kujelasin, tapi aku lupa.

Penyihir Immortal : ceritanya kayak penyihir yang berusia ratusan tahun gitulah, yang punya spesialis kekuatan kayak ngendaliin air, terbang, telepati, dan nanti ada juga yang bisa membelah diri atau apalah nanti, masih jadi misteri. Ini AU yang sedikit dipelencengkan(?) dari MV MAMA.

Noktah anjing : ini ceritanya setiap penyihir berusia seratus tahun keatas akan mendapatkan bercak atau noktah yang mirip bentuknya dengan hewan. Nah, noktah ini memberi kekuatan lebih. Misalnya noktahnya kelinci, ia bisa mendengar dengan baik seperti kelinci. Kalau noktah anjing, berarti bisa mencium atau mengendus aroma dengan baik.

Rainbow month : bulan dimana semua jabatan di istana dan kantor pemerintahan penyihir Immortal

Okay, sekian dulu penjelasan tak pentingku…, sampai jumpa di next chapter!

 

Iklan

4 thoughts on “A Forgotten Life (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s