N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 4)

4

Author              : Kang Gin Jin
Genre               : Romance, Friendship, School Life

Length              : Chaptered

Rating               : PG 13+

Main Cast        : Kim Hyu Rin (Yuri) | Oh Se Hun (Sehun)

Support Cast  : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Se Hee (Sehee), Park Chan Yeol (Chanyeol), Shin Hyu Ra (Hyu Ra)

Disclaimer       : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj dan terlalu cepat. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning           : Typo bertebaran

N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 4)

 

Pagi itu, Sehun terlihat sedang sibuk. Dia sibuk menerjemahkan buku harian yang ditulis dalam tulisan Jepang. Dia terlihat begitu asyik, sampai dia tak sadar jika sepasang mata memperhatikannya dari tadi. Orang itu sudah memperhatikannya cukup lama. Lama-kelamaan dia merasa ada yang mengawasinya, dia lalu menoleh pada orang itu.

“Ow, Baekhyun. Ku kira siapa. Kemarilah!”, kata Sehun mempersilahkan orang itu mendekatinya.

“Asyik sekali. Sedang apa?”, kata Baekhyun mendekati Sehun.

“Ah, tidak. Hanya sedang menerjemahkan sesuatu”, Sehun segera melipat lembaran yang diterjemahkannya lalu menutup buku itu. “Ada apa kesini? Tumben!”, tanya Sehun.

“Ow itu, aku hanya ingin memberimu selamat. Katanya kau bertunangan kemarin?”, kata Baekhyun sambil mengulurkan tangannya. Sehun membalas uluran tangan Baekhyun lalu berpelukan.

Gomapta”, kata Sehun.

“Ow ya, siapa tunanganmu?”.

“Itu…..”, Sehun tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia bingung harus bilang apa pada sahabatnya itu jika tunangannya adalah yeojachingu dari sahabatnya itu. Suasana hening sesaat. Sehun masih menyusun keberanian untuk memberitahukan hal yang sebenarnya. Dia tidak ingin jika sahabatnya kecewa. Sudah sejak lama dia membina persahabatannya dengan Baekhyun. Dia tidak ingin persahabatannya hancur karena sesuatu yang seharusnya bisa dia tolak.

“Kenapa diam? Siapa tunanganmu?”. Suara Baekhyun membuyarkan angan-angannya.

“Kau pasti mengenalnya, bahkan mungkin sangat mengenalnya. Apa kau tahu, sebenarnya aku sudah menolak pertunangan ini, tapi eommaku tetap memaksa. Eommaku merasa sedih dengan keputusanku, dan aku paling tidak bisa melihatnya bersedih. Dengan terpaksa aku menerima pertunangan ini. Sebenarnya yeoja itu juga tidak mengharapkan pertunangan ini. Dia bahkan menangis sepanjang acara itu. Dia…”, Sehun menarik nafas berat, dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Iya, lalu siapa yeoja itu. Mengapa kau malah bercerita panjang lebar. Aku hanya ingin tahu  siapa yeoja itu”, kata Baekhyun. Dia merasa kesal karena tidak segera diberitahu yeoja yang telah bertunangan dengan sahabatnya itu.

Yeoja itu bernama Kim Hyu Rin. Pewaris tunggal Seoin Group, yang sekaligus pemilik Kirin Art School”.

Mwo? Jeongmal! Kau tidak bercandakan Sehun?”, tanya Baekhyun. Dia sangat kaget mendengar perkataan Sehun.

Sehun lalu menganggukkan kepala membenarkan perkatannya.

“Bagaimana bisa?”.

“Ini adalah pengabungan saham. Dengan begini saham milik keluargaku maupun keluarganya akan naik. Selain itu juga janji persahabatan”. Sehun mengambil nafas lalu melanjutkan kata-katanya, “Kalau saja dari awal aku tahu kalau dia yeojachingumu, aku pasti dengan keras akan menolak pertunangan ini. Tapi tenanglah, kami hanya berpura-pura menerima pertunangan ini. Aku sudah berjanji padanya, ini hanya pura-pura. Ingat, hanya pura-pura. Kami akan menjalani hidup kami masing-masing tanpa sepengetahuan keluarga kami. Kau tidak perlu memutuskan hubunganmu dengannya, dia sangat mencintaimu”, kata Sehun menenangkan sahabatnya.

Ne, arraseo. Tapi sampai kapan kalian akan berpura-pura? Sepandai-pandainya kalian menyimpan bangkai baunya pasti akan tercium”.

“Emm, kau memang benar. Lama-kelamaan pasti kami akan ketahuan”, Sehun berpikir sejenak. “Begini saja, aku tidak bisa memperkirakan sampai kapan kami akan berpura-pura, tapi setelah menemukan waktu yang tepat, aku akan memberitahukan keluargaku untuk membatalkan pertunangan ini”.

“Baiklah, aku akan pegang janjimu. Gomapta”.

Ne, cheongma”.

“Lalu bagaimana dengan yeojachingumu? Apa dia mau menerima kenyataan ini?”, tanya Baekhyun.

“Emm, itu…”, lagi lagi Sehun tidak bisa menjawab saat ditanya tentang yeojachingunya. Karena dia memang sedang tidak memiliki yeojachingu saat ini.

“Jangan bilang kalau kau belum mempunyai yeojachingu”.

“Hehe… Kau memang benar”, kata Sehun sambil menggaruk-garuk kepalanya yang aslinya tidak gatal.

“Sehun, Sehun. Kau masih belum punya yeojachingu. Apa kau belum bisa melupakan Shin Hyu Ra. Atau kau terlalu tampan sampai tidak ada yang mau denganmu”, kata Baekhyun sambil menepuk-nepuk punggung Sehun.

“Mungkin kau sedikit benar, karena terlalu tampan jadi tidak ada yang mau denganku. Untuk melupakan Shin Hyu Ra, sebenarnya aku sudah melupakan yeoja itu. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya”.

“Sudahlah jangan dipikirkan, aku hanya bercada. Apa tidak ada yeoja yang menarik hatimu?”.

“Sebenarnya ada. Hanya saja aku baru sekali bertemu dengannya”.

“Kau gila. Bagaimana bisa kau suka dengan yeoja yang baru sekali kau temui. Dan kurasa kau bahkan belum tahu namanya. Benar bukan?”.

Ne, kau benar”.

“Lalu apa yang kau suka dari yeoja itu? dan kapan kau bertemu dengannya?”.

“Entahlah! Aku bahkan tidak tahu mengapa aku bisa menyukainya. Malam itu aku tidak bisa tidur, lalu aku putuskan untuk pergi jalan-jalan. Aku pergi ke N Seoul Tower untuk melihat pemandangan kota dari sana. Setiba disana aku melihat seorang yeoja yang akan melompat dari atas tower. Dengan segera aku menyelamatkannya. Tapi, bukannya berterima kasih, yeoja itu malah marah-marah denganku. Untunglah dia tidak nekat melompat lagi. Setelah itu dia pergi dari tempat itu”, tutur Sehun panjang lebar. Baekhyun hanya bisa mengangguk paham mendengar cerita sahabatnya.

“Apa hanya seperti itu pertemuanmu dengan yeoja itu?”, tanya Baekhyun.

“Iya, begitulah”, jawab Sehun.

“Lalu bagaimana bisa kau menyukainya?”.

“Karena ini!”, Sehun menunjukkan buku harian yeoja itu pada Baekhyun. “Buku hariannya tertinggal dan aku yang mengambilnya. Dia menulis semua tentang dirinya dan juga namja yang disukainya. Ya, meskipun dia menulisnya dalam tulisan Jepang, tapi aku sangat senang. Aku harap dapat bertemu dia lagi, semoga saja”, lanjut Sehun.

“Coba aku lihat buku hariannya”, Baekhyun segera merebut buku harian itu dari tangan Sehun. Dia membolak balik halaman demi halaman buku itu. Dia seperti mengenali tulisan itu. “Apa, kau bisa membacanya? Tunggu, sepertinya aku mengenal tulisan ini?”, lanjut Baekhyun.

Jeongmal! Tulisan siapa?”, tanya Sehun.

“Tunggu, aku akan mengingatnya”. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Baekhyun kalau itu mirip dengan tulisan Yuri. “Ini tulisan Yuri”.

“Jangan bercanda! Darimana kau tahu?”.

“Aku pernah diberi surat dalam bahasa Jepang. Dia memang pandai berbahasa Jepang”.

“Tapi itu tidak mungkin! Yeoja itu berambut hitam pendek, sedangkan Yuri berambut pirang panjang. Mungkin hanya tulisannnya yang mirip, tapi orangnya berbeda”.

“Mungkin kau benar, hanya tulisannnya yang mirip. Semoga saja kau bisa bertemu lagi dengannnya. Apa kau sudah pergi ke tempat itu lagi?”.

“Aku baru kemarin ke tempat itu bersama Yuri. Kami mendiskusikan masalah kami disitu. Apa menurutmu dia akan ke tempat itu lagi?”.

“Kurasa iya, karena biasanya seorang yeoja akan sering mengunjungi tempat yang memberi dia banyak kenangan. Setidaknya itu yang sering Yuri bilang”.

“Baiklah, jika ada waktu aku akan mengunjungi tempat itu lagi”.

“Semoga beruntung sobat! Sudah siang, sepertinya aku harus pulang”.

“Apa kau tidak mau minum dulu?”.

“Tidak perlu. Aku pamit dulu, annyeong”.

“Iya, hati-hati”.

Sehun mengantarkan Baekhyun sampai depan rumah. Setelah itu dia melanjutkan aktivitasnya menerjemahkan buku harian itu. Dia masih teringat dengan percakapannya bersama Baekhyun.

“Apa benar yang dikatakan Baekhyun, jika benar ini buku harian Yuri, berarti… Ah, tapi itu tidak mungkin. Mereka memiliki rambut yang berbeda. Jika itu Yuri, tidak mungkin dalam waktu beberapa hari dia bisa memanjangkan rambutnya”.

Sehun terus menepis pemikirannya, jika yeoja yang sudah diselamatkannya adalah Yuri. Dia juga terlalu enggan untuk menanyakannya pada Yuri. Dia lebih fokus pada menerjemahkan buku harian itu. Namun bayangan percakapan itu terus terngiang dalam pikirannya. Merasa terganggu, dia memutuskan untuk pergi ke N Seoul Tower, berharap bisa bertemu yeoja itu.

  • §§

Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajah yeoja cantik yang tengah berdiri menikmati pemandangan dari atas N Seoul Tower. Dia menikmati pemandanga kota Seoul dari atas situ sambil mengingat-ingat kejadian demi kejadian, kenangan demi kenangan yang dialaminya di tempat itu. Dia jadi teringat dengan kejadian malam dimana dia akan bunuh diri.

“Kenapa aku sampai senekat itu?”.

Dia bertanya entah pada siapa. Disisi lain Sehun baru sampai di area tempat itu. Dia segera menuju atas tower itu. Yeoja itu masih menikmati suasana di tempat tersebut. Sehun akhirnya sampai di area tempat yeoja itu berdiri. Sehun melihat sekelilingnya berharap menemukan yeoja yang pernah diselamatkannya. Namun sayang dia tak menemukannya. Dia melihat seorang yeoja yang menurutnya tidak asing. Segera saja dia menghampiri yeoja itu.

“Hai! Apa kau sering kesini”, kata Sehun.

Yuri sempat kaget. Dan merasa ada yang berbicara dengannya dia lalu menoleh, “Ow, ne. Aku sering kesini”, kata Yuri.

“Kenapa?”, tanya Sehun lagi.

“Karena aku menyukai tempat ini”.

Jeongmal!”.

“Iya begitulah! Lalu untuk apa kau kesini?”.

“Aku hanya bosan saja di rumah. Lalu aku putuskan untuk datang kemari”.

“Apa benar seperti itu! Atau kau pergi kesini untuk bertemu yeoja itu?”.

Yeoja! Nugu?”

Yeoja yang kau selamatkan!”.

“Ow, dia. Sebenarnya memang aku kesini berharap bisa bertemu dengannya. Tapi kurasa dia tidak kesini”.

“Emm…”, yeoja itu tidak melanjutkan kata-katanya.

“Kenapa?”.

“Aku bahkan bingung harus memanggilmu bagaimana?”.

“Kau lebih muda 4 bulan dariku, kau bisa memanggilku oppa atau jika kau tidak mau kau bisa memanggilku Sehun”.

Oppa!!!”.

“Iya, kenapa? Apa hanya Baekhyun yang kau panggil oppa?”.

Yeoja itupun kaget, raut wajahnya berubah. “Darimana kau tahu kalau aku memanggilnya seperti itu?”.

“Yuri, ayolah! Biasanya yeoja akan memanggil oppa pada namjachingunya. Bukankah sekarang itu menjadi panggilan sayang?”.

“Sebenarnya bukan hanya karena itu. Dia juga lebih tua dariku. Karena itu aku memanggilnya oppa”.

Tiba-tiba ponsel Yuri berdering tanda ada panggilan masuk. Dengan segera dia melihat ponselnya. Dan eommanyalah yang menelfonnya.

“Aku harus mengangkat telfon dulu”, kata Yuri.

“Iya, silahkan”, kata Sehun.

Yuri berjalan menjauh dari Sehun. Sehun hanya menatap gerak-gerik Yuri. sesuatu yang aneh sedang melanda dirinya, perasaan yang tidak dimengerti olehnya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Persaannya jadi tak menentu. Dia bahkan bingung dengan apa yang dirasakannya. Dia berkata dalam hatinya, ‘Kenapa dengan diriku? Setiap aku berada didekat Yuri, perasaan aneh ini muncul. Sama seperti malam itu, saat aku menyelamatkan yeoja itu. Apa mungkin aku jatuh cinta pada Yuri. Ah, tidak-tidak. Yuri mencintai Baekhyun. Sehun hilangkan segera perasaanmu’. Sehun berusaha menepis perasaannya, namun sayang justru perasaannya menjadi semakin tak menentu.

Disisi lain Yuri terlihat sedang asyik mengobrol dengan eommanya.

Yeobseyo. Ada apa eomma?”.

“Kau ada dimana sayang?”.

“Aku di N Seoul Tower eomma. Ada apa?”.

Mwo! Untuk apa kau pergi kesana?”.

“Aku hanya ingin jalan-jalan eomma”.

“Kau pergi dengan siapa?”.

“Em… itu”, Yuri bingung harus menjawab apa,  lalu dia melihat Sehun. “Em, aku bersama Sehun oppa!”.

Jinja?”.

Ne, eomma”.

“Kalau begitu eomma ingin bicara dengannya”.

“Tapi”.

“Itu sebagai bukti kalau kau tidak sedang berbohong. Berikan ponselmu padanya. Ppalli!”.

Dengan ragu-ragu Yuri mendekati Sehun dan berbisik minta tolong. “Emm, Sehun oppa”.

Sehunpun menoleh, “Ne, ada apa?”.

“Biasakah kau menolongku?”.

“Menolong apa?”.

Eomma ingin berbicara padamu. Tolong sampaikan padanya kalau aku kesini karena kau yang mengajaknya, jebal?”, kata Yuri dengan nada memohon. Sehun paham dengan maksud Yuri. Meski dengan setengah hati, dia tetap menuruti permintaan Yuri dan berbicara pada eommanya Yuri.

Yeobseyo ahjumma, ini aku Sehun”.

“Jadi benar, dia bersamamu?”.

Ne, dia memang bersamaku!”.

“Baiklah jaga dia baik-baik. Aku percayakan Yuri padamu”.

Ne, ahjumma”.

“Baiklah, aku tutup telfonnya. Bersenang-senanglah. Annyeong”.

Ne”.

Tut. Sambungan telfonya terputus. Sehun lalu memberikan ponsel yang dipegangnya kepada Yuri.

Gomapta”, kata Yuri setelah menerima ponselnya.

Ne. Kenapa? Sepertinya kau takut”.

“Tentu saja, setelah aku bertunangan denganmu, eomma selalu mengawasiku. Setiap kali akan pergi, dia selalu bertanya. Mau kemana! Pergi dengan siapa! Mau cari apa! Dia selalu mengintrogasiku. Aku seperti dikekang”.

Jinja?”.

Ne, mungkin orang tuaku mulai tahu kalau aku diam-diam masih berhubungan dengan kekasihku”.

“Lalu bagaimana kau bisa kesini?”.

“Aku pergi diam-diam setelah eommaku pergi ke rumah temannya. Seharusnya tadi aku tidak usah membawa posel agar dia tidak bisa menghubungiku”.

“Apa separah itu, eommamu mengekangmu?”.

Ne. Dia bahkan bilang aku tidak boleh pergi dengan namja manapun kecuali kau”.

Naega?”, kata Sehun sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, kau”.

“Tega sekali orang tuamu”.

“Iya begitulah. Bahkan setiap kali membuat keputusan tentang hidupku, mereka tidak pernah minta persetujuan dariku. Entah itu aku setuju atau tidak, merekalah yang membuat keputusan dan tentu aku tidak bisa menolaknya”.

“Hidupmu pasti sangat berat Yuri”.

Yuri menghela nafas panjang. “Ya, inilah hidup. Terkadang sesuatu yang kau anggap baik belum tentu baik untukmu, tapi yang kau anggap tidak penting justru kadang malah sangat berarti untukmu”.

“Kau benar. Semua sudah digariskan oleh Tuhan. Kita tidak bisa menolak jika Tuhan sudah berkehendak”.

Setelah percakapan itu, mereka saling diam. Entah menikmati suasana tempat itu atau terbawa khayalan masing-masing.

“Sepertinya aku harus pulang oppa”, kata Yuri memulai percakapan.

“Ow, ne. Hati-hati”, kata Sehun.

Ne, annyeong!”. Yuri berucap sambil membungkukkan badannya. Segera dia berjalan pergi dari tempat itu. baru beberapa langkah dia dihentikan oleh Sehun.

Chamkkaman!!!”.

Yuripun menoleh pada Sehun. “Ne, ada apa?”.

“Biarkan aku mengantarmu pulang”.

“Tidak perlu oppa. Aku tidak mau merepotkanmu”.

“Tidak repot, kajja!”.

Sehun segera menyusul Yuri dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Yuri. Yuri segera turun dari mobil yang diikuti oleh Sehun. Dia mengantar Yuri sampai ke depan pintu rumah Yuri.

Gomawo, sudah mengantarku pulang. Kau tidak mau mampir dulu?”, kata Yuri mengajak Sehun.

“Tidak usah. Lain kali saja”, kata Sehun.

Tiba-tiba pintu rumah Yuri terbuka dan eommanya muncul menyapa mereka.

“Ow, ada nak Sehun. Yuri, kenapa kau tak mengajaknya masuk?”, kata eommanya Yuri.

“Tidak usah ahjumma”, kata Sehun.

“Kenapa? Kau kan belum pernah kesini. Masuklah?”, kata eommanya Yuri.

Sehun berpikir sejenak. Tidak ada salahnya berkunjung ke rumah itu. Toh dia memang belum pernah ke rumah Yuri. “Baiklah ahjumma!”, kata Sehun setuju dengan tawaran calon mertuanya.

“Ayo masuk, ahjumma akan membuatkan minuman untukmu”.

Mereka bertiga lalu masuk ke rumah. Rumah itu bergaya Eropa dengan dua lantai. Rumahnya sangat besar dengan halaman yang luas dipenuhi dengan tanaman-tanaman hias yang sangat indah. Di tengahnya ada air mancur yang menambah kecantikan dari rumah itu. Sehun mengikuti calon mertuanya. Dia diajak masuk ke ruang kelurga.

“Silahkan duduk nak. Mengobrollah dulu dengan Yuri. Yuri kau temani Sehun dulu”.

Ne, eomma”, jawab Yuri singkat.

Eomma Yuri segera pergi ke dapur untuk membuat minuman. Yuri dan Sehun segera duduk. Mereka masih canggung, mereka bingung memilih topik apa yang pas untuk memulai obrolan mereka. Selama beberapa menit mereka masih terdiam. Tak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Sampai eomma Yuri datang membawa minuman dan makanan ringan.

“Kenapa kalian hanya diam?”, tanya eomma Yuri.

Eomma, aku bingung harus mengobrol apa?”, kata Yuri dengan polosnya.

“Sayang, dia itu tunanganmu. Kalian bisa saling bertanya kesukaaan dan yang tidak disukai, atau yang lainnya. Terserah kalian. Ya sudah, minum dulu nak Sehun, kau pasti haus”, kata eommanya Yuri.

Ne, ahjumma. Gamsamnida”, kata Sehun. Dia lalu meminum minuman yang disuguhkan padanya.

Eomma ke belakang dulu. Kalian mengobrollah”.

Ne, ahjumma”, kata Sehun.

Eomma Yuripun pergi meninggalkan mereka berdua. Mereka masih canggung dan ragu-ragu untuk memulai pembicaraan. Setelah meletakkan gelasnya di atas meja, Sehun memulai pembicaraan.

“Apa Kim ahjussi ada di rumah?”, katanya memecahkan keheningan.

“Ow, appa. Beliau masih di Mokpo untuk melihat proyek yang baru dibangunnya. Wae?”.

“Ah, ani. Pantas saja aku tidak melihatnya dari tadi. Apa kau hanya bertiga di rumah ini?”.

Aniyo. Ada Park ahjumma dan Park ahjussi. Mereka supir dan pembantu kami. Bahkan kami sudah mengangap mereka seperti saudara. Bagaimana denganmu?”.

“Kami tinggal berempat, ditambah Shim ahjumma pembantu kami dan Lee ahjussi supir kami. Tapi mereka tidak menginap di rumah kami”.

“Ow..”, kata Yuri sambil mengangguk paham.

Tiba-tiba ponsel Sehun berdering.

“Sebentar aku harus mengangkat telfon”.

Ne, silahkan”.

Sehun segera mengangkat panggilan itu. Sedang Yuri lebih memilih menikmati minumannya.

Yeobseyo, ada apa nuna?”.

“Kau ada dimana?”.

“Aku di rumah Yuri”.

“Ow, jeongmal!”

Ne, wae?”.

Daebakk, untuk apa kau kerumahnya?”.

“Aku mengantarnya pulang, sekalian mampir. Sebenarnya ada perlu apa menelfonku?”.

“Bisakah kau segera pulang! Halmoni datang kesini, beliau mencarimu?”.

Ne, aku akan segera pulang”.

“Hati-hati di jalan”.

Ne, nuna”.

Annyeong”.

Ne”. Sehunpun menutup telfonnya. Dia lalu berpamitan pada Yuri, “Yuri, sepertinya aku harus pulang!”.

“Kenapa buru-buru?”, tanya Yuri.

Halmoni datang ke rumah, beliau mencariku”.

“Ow. Akan aku panggilkan eomma. Tunggu sebentar”. Yuri pergi ke belakang untuk memanggil eommanya. Beberapa saat kemudian datanglah Yuri dan eommanya. Sehun segera menemui mereka.

Ahjumma aku harus pulang. Halmoni datang ke rumah dan mencariku”.

“Begitu ya. Ne, hati-hati”.

Ne. Annyeong ahjumma. Annyeong Yuri. Sampai bertemu besok di sekolah”, kata Sehun sambil tersenyum.

“Ah, ne”, jawab Yuri.

Sehun segera keluar yang diantar oleh Yuri dah eommanya sampai ke depan pintu. Sehun memberi hormat pada calon mertuanya dengan membungkukkan badannya.

◊◊◊ TBC ◊◊◊

Tetep komem ya. Thanks.

3 thoughts on “N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 4)

  1. Astaga.

    Mereka sebenarnya udah mulai suka, tapi belum ada yg menyadari kalau itu orang yg sama di N SEOUL TOWER.

    Next beb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s