The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 5)

poster 5&6

Author       : Dwi Lestari

Genre         : Romance, Marriage Life

Length        : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Yenni Wilson / Hwang Yen Ni (Yenni) | Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Support Cast :

Hwang Re Ni (Reni), Byun Seo Hyun (Seohyun), Song Hen Na (Henna), Do Kyung Soo (Kyungsoo), Park Chan Yeol (Chanyeol), Xi Lu Han (Luhan)

 

Disclaimer           : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note       : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning                : Typo bertebaran      

The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 5)

 

“Mr Baekhyun, get up. Apa kau tidak pergi ke kantor”, kata Yenni sambil menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun. “10 menit lagi Yenni, aku masih ngantuk”, jawab Baekhyun sambil menutup kepalanya dengan bantal. “Up to you. Jangan salahkan aku jika nanti ada sesuatu. Sarapannya sudah siap, aku tunggu di meja makan”, kata Yenni. Lalu meninggalkan kamar itu. Dia menuju dapur untuk membereskannya. Namun dari arah luar terdengar suara orang mengetuk pintu. Lalu Yenni segera membukakan pintu itu.

Seorang yeoja cantik dengan busana formal kantor tengah berdiri di depan pintu itu. “Selamat pagi nyonya, anda pasti istrinya tuan Baekhyun! benarkan?”, kata yeojaitu Baekhyunh.

“Ne, ada perlu apa?”

“Kenalkan aku Henna. Aku sekertarisnya Baekhyun sajangnim. Apa beliau ada”.

“Ow, ne. Dia ada. Mari silahkan masuk”, kata Yenni. Kedua orang itu masuk ke dalam rumah. “Mari silahkan duduk. Aku aku akan panggilkan dia. Tunggu sebentar”. Yenni segera menuju kamar Baekhyun. Dia melihat Baekhyun sudah tidak ada di atas ranjang. Dia mendengar ada suara di kamar mandi. Dan ternyata benar, tidak berapa lama kemudian Baekhyun keluar dari kamar mandi.

“Kau sudah bangun Mr Baekhyun, ada yang mencarimu?”.

“Mencariku! Siapa pagi-pagi begini mencariku?”.

“Dia sekretarismu”.

“Ow, Henna maksudmu!”.

“Mungkin”.

“Untuk apa dia datang kemari, dia kan bisa bilang nanti di kantor”.

“Mana aku tahu. Kau temui saja dia, aku akan membuat minuman untuknya”.

Yenni meningkalkan Baekhyun yang masih sibuk bersiap-siap ke kantor. Dia menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Setelah selesai, dia segera memberikannya pada tamunya. Dan disitu belum ada Baekhyun.

“Gamshamnida minumannya, nyonya”.

“Tidak perlu memanggilku seperti itu. Panggil saja Yenni”.

“Oh, iya baiklah, Yenni-ssi”.

“Dia belum kesini”.

Yeoja itu menggeleng.

“Aku akan panggilkan dia”.

“Tidak perlu terburu-buru, Yenni-ssi”.

“Tidak apa-apa”.

Yenni lalu berniat memanggil Baekhyun, namun belum sampai di kamarnya dia sudah melihat Baekhyun berjalan menuju ke arahnya. Yenni tersenyum melihat sesuatu yang ganjil darinya.

“Kenapa tersenyum?”, tanya Baekhyun.

“Aniyo, kau lama sekali. Dia sudah menunggumu. Kemarilah, dasimu tidak benar Mr Baekhyun”. Baekhyun mendekat, lalu Yenni membenarkan dasi yang dikenakan Baekhyun.

“Biarkan saja, siapa suruh pagi-pagi datang kemari. Diakan bisa bilang nanti saat aku sudah sampai kantor. Apa kau tahu, hari ini aku malas sekali masuk kantor”.

“Kenapa memangnya”.

“Entahlah”.

Henna diam-diam memperhatikan mereka berdua. Mereka mesra sekali, pikir Henna. Setelah selesai dibenarkan dasinya, Baekhyun segera menemui Henna. Yenni memilih pergi ke dapur untuk membereskannya karena tadi sempat tertunda. Yenni tidak tahu apa yang Baekhyun dan Henna bicarakan. Dia hanya kaget saat Baekhyun telah memeluknya dari belakang.

“Mana sarapanku?”, tanya Baekhyun.

“Mr Baekhyun, kau mengagetkanku. Ada di meja makan. Apa dia sudah pergi?”, kata Yenni. Lalu melepaskan pelukan Baekhyun dan berbalik melihatnya.

“Ne, dia sudah pergi. Kajja kita sarapan, aku sudah lapar”, ajak Baekhyun.

Mereka lalu pergi ke meja makan dan menikmati makanan mereka.

“Oh, ya. Besok aku harus ke Beijing”.

“Berapa lama?”.

“Seminggu. Tadi Henna bilang kalau ada masalah dengan cabang perusahaanku disana. Apa kau mau ikut?”.

Yenni berfikir sejenak. Dia tidak ingin memggangu urusan bisnis suaminya, karena itu dia memilih tidak ikut dengannya. “Tidak usah, aku di rumah saja”.

“Kau benar-benar tidak mau ikut?”.

“Ne, aku takut mengganggumu Mr Baekhyun. Lagipula itu untuk urusan bisnis bukan”.

“Tentu tidak menggangu, sayang. Ya sudah, kalau kau tak mau. Aku berangkat dulu”.

Yenni mengantar Baekhyun sampai ke depan. “Hati-hati Mr Baekhyun”.

“Annyeong”. Baekhyun segera menuju mobilnya, namun dia lupa sesuatu. Dia segera kembali.

Yenni masih di depan pintu, dia heran mengapa Baekhyun kembali lagi. “Apa ada yang ketinggalan Mr Baekhyun?”, tanyanya pada Baekhyun.

“Aniyo”, kata Baekhyun.

“Lalu kenapa kembali”.

Baekhyun lalu mencium kening Yenni. “Aku lupa mencium istriku”. Setelah berkata seperti itu, Baekhyun meninggalkan Yenni yang masih mematung di depan pintu. Dia tidak tahu kalau perbuatannya itu mampu menyihir Yenni. Yenni masih termenung disitu, dia juga tidak sadar kalau mobil telah menghilang dari halaman rumahnya. “Apa yang sudah dia lakukan. Dia menciumku? Oh, ani. Kenapa denganku? Apa kau mulai menyukainya?”, kata Yenni entah pada siapa. Karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyan-pertanyaannya dia segera masuk rumah, dan melupakan hal itu.

§§§

Baekhyun kini sudah sampai di kantornya. Dia melakukan aktivitasnya sebagai direktur seperti biasanya. Memeriksa laporan dan meng-ACC-nya. Seperti biasa pula sekretarisnya masuk dan keluar dari ruangannya setelah mengetuk pintu. Baekhyun kini tengah memeriksa persiapan dokumen untuk keberangkatannya besok ke Beijing. Dia sedang memeriksanya di laptopnya.

Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangannya. Baekhyun yang mendengar hal itu, segera menyuruhnya masuk. Terlihat seorang yeoja dengan rambut sepunggung dengan busana santai dengan menjinjing tas memasuki ruangan Baekhyun. Baekhyun tengah sibuk memeriksa datanya, hingga dia tak memperhatikan siapa yang masuk ke ruangannya. Yeoja itu segera mendekati Baekhyun. Merasa tidak diperhatikan, yeoja itu lalu memanggilnya.

“Baekhyun”.

Baekhyun mendengar namanya dipanggil dengan tidak sopan. Tidak ada di kantor itu yang memanggil namanya tanpa embel-embel. ‘Siapa yang berani memanggilku seperti itu’, kata Baekhyun dalam hati. Baekhyun juga merasa tidak asing dengan suara itu. Dengan sedikit kesal Baekhyun lalu menoleh orang yang memanggilnya tadi. Raut wajah Baekhyun berubah geram melihat orang itu. Dia sangat mengenal orang itu. Dia adalah yeoja yang sudah sepuluh tahun terakhir mengisi hari-harinya. Tapi karena kesalahannya yang fatal, dia menjadi dibenci Baekhyun.

“Untuk apa kau datang kesini”, dengan nada yang sedikit kasar, dia tidak suka dengan kehadiran yeoja itu. Raut wajah yeoja itu berubah sedih.

“Aku ingin meminta maaf padamu. Aku tahu, aku sudah salah telah meninggalkan pesta pernikahan kita. Aku ingin memperbaiki hubungan kita lagi”.

Baekhyun lalu tersenyum mengejek. “Cih, apa kau bilang, memperbaiki hubungan kita lagi”, Baekhyun lalu bangkit dari tempat duduknya dan mendekati yeoja itu. “Apa kau sudah gila. Setelah semua yang kau lakukan padaku. Kau ingin memperbaikinya. Mudah sekali. Kau pikir aku akan tertipu lagi dengan akal bulusmu. Jangan harap”. Kata-kata Baekhyun sedikit tajam, dia sangat kesal pada yeoja itu.

“Ne, aku tahu, aku salah. Karena itu aku minta maaf padamu. Aku sadar hanya kau yang aku butuhkan. Aku ingin memulainya dari awal”, kata Reni dengan nada penyesalan. Dia memang telah menyesal dengan perbuatannya.

“Sudah terlambat. Sekarang aku sudah tidak percaya lagi padamu. Sudah cukup kau menyakitiku. Kau bahkan hampir membuat malu keluargaku, bukan hanya keluargaku tapi juga keluargamu. Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau kabur dengan selingkuhanmu, Xi Lu Han. Benarkan?”.

Raut wajah yeoja itu berubah menjadi ketakutan. Baekhyun berhasil menebak semuanya dengan benar. Dia kini tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Itu…?”, yeoja itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

“Benarkan! Kau bahkan tidak bisa menjawabnya. Ku kira kau akan berubah setelah aku memaafkanmu, tapi pada kenyataannya kau sama saja. Kalau bukan karena adikmu yang menggantikanmu, mungkin aku tidak akan pernah berani keluar rumah karena menanggung malu “.

“Mwo? Yenni menggantikanku?, jadi kau benar-benar menikah dengannya?”.

“Ne, tepat seperti yang kau katakan. Sekarang dia telah menjadi istriku. Dan yang harus kau tahu adalah dia lebih baik daripada kau. Bukan hanya parasnya tapi juga hatinya. Karena itu, jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Apalagi menyakiti Yenni. Apa kau mengerti nona Reni. Hwang Reni”, kata Baekhyun dengan nada tinggi. Dia lalu menatap Reni dengan tajam dan melanjutkan kata-katanya, “Atau aku harus menghilangkan nama Hwang dari namamu. Aku yakin orang tuamu takkan pernah mau mengakuimu lagi sebagai putrinya. Pergilah dari sini sebelum aku benar-benar marah padamu”.

Reni masih terdiam di tempatnya, dia masih mencerna kata-kata yang di ucapkan Baekhyun. Tanpa ia sadari air matanya telah mengalir dari pelupuk matanya. Dia merasa sedih, kecewa, marah, menyesal dan entah apalagi yang ia rasakan. Belum sempat dia berkata apa-apa Baekhyun sudah membentaknya lagi. “Ayo keluar, kenapa masih disini. Apa kau ingin membuatku benar-benar membencimu”, kata Baekhyun dengan nafas yang terengah-engah menahan marah.

Reni lalu berjongkok dan merangkul kaki Baekhyun. Dia tahu perbuatannya salah karena itu, bagaimanapun caranya dia akan meminta maaf pada Baekhyun. Termasuk seperti yang dia lakukan sekarang. “Baekhyun tolong maafkan aku, aku mohon. Beri aku kesempatan lagi. Sekali ini saja, aku janji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku mohon”, Reni sangat memohon pada Baekhyun. Saat itulah Kyungsoo masuk, setelah mengetuk pintu. Karena tidak kunjung dijawab, dia memutuskan untuk masuk ke ruangan itu.

Kyungsoo adalah salah satu karyawan Baekhyun, sekaligus teman baiknya. Melihat pemandangan yang tidak bagus, dia berniat pergi namun Baekhyun mencegahnya. “Kyungsoo, kau mau kemana”, kata Baekhyun. “Aku keluar dulu sajangnim, sepertinya aku mengganggu. Nanti aku kembali lagi. Permisi”, kata Kyungsoo. Dia berniat pergi, namun suara Baekhyun mencegah kepergiannya. “Jika kau berani melangkah lagi, aku akan memecatmu”, kata Baekhyun. “Tapi, sajangnim”, kata Kyungsoo.

“Cepat usir yeoja ini dari sini. Aku tidak mau melihatnya lagi”, kata Baekhyun.

“Bukankah dia Reni, sajangnim. Kenapa kau mengusirnya”, tanya Kyungsoo bingung.

“Sudahlah, itu bukan urusanmu. Cepat bawa dia keluar. Dan pastikan dia tidak akan datang kemari lagi”.

“Ne, sajangnim”, Kyungsoo lalu mendekati Reni. “Kajja nona, kau harus pergi dari sini”, Kyungsoo lalu menarik tubuh Reni dari kaki Baekhyun.

Reni menolak, “Ani, aku tidak mau pergi”, katanya sambil menangis. Namun Kyungsoo tetap menariknya dan membawanya keluar. Reni terpaksa ikut keluar sambil berteriak-teriak, “Baekhyun mianhae, jebal Baekhyun. Mianhae, jeongmal mianhae”, suara itu masih terdengar meski pintu itu sudah tertutup. Dan lama-kelamaan suara itu semakin jauh dan jauh hingga tidak terdengar lagi.

Baekhyun lalu duduk pasrah di tempat duduknya. “Sial, kenapa yeoja itu datang disaat aku sudah mulai melupakannya”. Dia mengacak-acak rambutnya. Setelah itu, dia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Meski mulutnya mengatakan kalau dia membecinya, namun hatinya berkata sebaliknya. 10 tahun bukanlah waktu yang singkat. Karena itu meski dia benci, namun rasa rindunyalah yang lebih besar. Ya, itulah cinta.

Sampai pulang kerjapun Baekhyun tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat yang dapat menenangkan suasana hatinya yang sedang kacau. Baekhyun mengajak Kyungsoo. Pada awalnya Kyungsoo menolak, namun melihat teman sekaligus bosnya yang terlihat kacau setelah kejadian tadi, akhirnya dia menemani Baekhyun. Dia ingin menghibur temannya. Meskipun dia tahu dia tidak akan membantu banyak, namun dengan menemaninya dia harap bos sekaligus sahabatnya tadi lebih sedikit tenang.

Baekhyun menghentikan mobilnya di sebuah diskotik tak terlalu jauh dari kantornya. Kyungsoo heran mengapa Baekhyun mengajaknya ke tempat itu. Karena penasaran dia lalu bertanya pada Baekhyun, “Sajangnim, kenapa kita pergi ke tempat ini?”.

“Diamlah! Kau mau ikut masuk atau tidak?”, kata Baekhyun.

“Aku tidak mau menunggumu sendirian di dalam mobil”, kata Kyungsoo.

Mereka berdua lalu masuk ke tempat itu. Baru sampai di pintu tempat itu sudah terdengar musik yang menghentak-hentakkan gendang telinga. Lampu dengan cahaya warna-warni menghiasi tempat itu. Banyak pria dan wanita berjoget ria mengikuti aluna musik Dj di tempat itu. Namun Baekhyun tidak tertarik dengan itu semua. Dia memilih tempat duduk di sudut ruangan yang sepi. Dia segera memesan wine. Setelah pesananya datang, dia langsung meminumnya tanpa ragu. Segelas, dua gelas dan entah sudah berapa gelas yang dia habiskan.

Baekhyun sudah mulai mabuk, sekarang dia sudah mulai berbicara ngawur. Melihat kelakuan bosnya, Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah memperingatkannya namun tidak digubris oleh Baekhyun. Baekhyun masih saja meminum minuman yang memabukkan itu. Karena sudah semakin ngelantur, akhirnya Kyungsoo membujuk Baekhyun pulang. Saat Baekhyun akan meminum minuman itu lagi, gelasnya diambil oleh Kyungsoo.

“Cukup sajangnim, kau sudah cukup mabuk. Kajja kita pulang”, ajak Kyungsoo.

“Aniyo, Kyungsoo. Berikan gelasnya, aku masih ingin minum”, tolak Baekhyun.

“Tidak sajangnim. Sudah cukup”.

Kyungsoo lalu membopong tubuh Baekhyun menuju mobilnya. Dia tidak ingin membuat bosnya tambah mabuk.

Disisi lain Yenni sedang mondar-mandir menunggu Baekhyun pulang. “Mr Baekhyun, where are you? Kenapa jam segini belum pulang. Tidak biasanya kau seterlambat ini”, Yenni berkata entah pada siapa. Dia sangat khawatir, mengapa Baekhyun belum juga pulang.

Pembantu mereka belum tidur saat itu. Saat akan menuju kamarnya, pembantunya heran mengapa nyonyanya mondar-mandir seperti orang kebingungan. Dia menerka-nerka mengapa nyonyanya bertingkah seperti itu, tak menemukan jawaban, dia lalu bertanya pada nyonyanya. “Nyonya kenapa?”.

“Ahjumma, apa kau tahu, sudah jam segini Baekhyun belum juga pulang. Aku takut terjadi sesuatu padanya!”, kata Yenni.

“Tenanglah nyonya, mungkin tuan Baekhyun lembur. Apa nyonya sudah menelfonnya?”, kata pembantunya menenangkan.

“Kalau memang lembur seharusnya dia memberitahuku. Aku juga sudah menelfonnya tapi tak diangkat. Nomornya juga tidak aktif”.

“Tenanglah nyonya, mungkin tuan Baekhyun masih dalam perjalanan. Dan mungkin ponselnya juga mati. Sebentar lagi pasti dia pulang”.

Tepat setelah berkata seperti itu, mobil Baekhyun telah sampai di depan rumahnya. “Kau benar ahjumma, itu suara mobilnya”, Yenni segera berlari menghampiri suara mobil itu.

Dia membuka pintu rumahnya. Dia melihat Baekhyun dibantu berjalan oleh seseorang yang tak dikenalnya. “Mr Baekhyun”, kata Yenni. Orang itu lalu menatap Yenni.

“Kau pasti istrinya”, kata orang itu.

“Ne, kau benar. Dia kenapa?”, tanya Yenni. Dia juga membantu orang itu membopong tubuh Baekhyun.

“Dia sedang mabuk berat nona. Aku sudah melarangnya, namun tak digubris olehnya”.

“Mabuk! Memangnya ada masalah apa?”.

“Entahlah! Tadi Reni datang menemuinya”.

“Reni.  Hwang Reni maksudmu”.

“Iya, benar nona. Aku harus membawa Baekhyun sajangnim kemana?”.

“Kemarilah!”. Yenni mengajak orang itu ke kamar Baekhyun. Mereka lalu membaringkan tubuh Baekhyun di atas ranjangnya.

“Terima kasih sudah mengantarnya”, kata Yenni.

“Ne, sama-sama nona. Ow ya, aku harus pulang nona. Ini kunci mobilnya”, kata orang itu, lalu menyerahkan kunci mobil Baekhyun.

“Pakai saja mobilnya. Ini sudah sangat malam, sangat sulit mencari taxi semalam ini. Besok kau bisa menjemputnya”, kata Yenni. Dia tahu kalau orang itu tidak membawa kendaraan. Selain itu, hari itu sudah terlalu malam. Akan sulit mencari taxi atau kendaraan umum.

“Terima kasih nona. Nona baik sekali. Baiklah, aku akan membawa mobil Baekhyun sajangnim. Besok aku akan menjemputnya. Selamat malam. Jaga Baekhyun sajangnim baik-baik. Sepertinya dia dalam suasana hati yang buruk”, setelah berkata seperti itu, orang itu langsung pergi.

Yenni masih menatap kepergian orang itu hingga mobil yang dikendarainya menghilang dari halaman rumahnya. Dia masih teringat dengan kata-kata orang itu, ‘Baekhyun dalam suasana hati yang buruk? Sebenarnya apa yang dia bicarakan dengan Reni hingga dia mabuk berat. Aku tahu Baekhyun masih sangat mencintai Reni. Apa mereka bertengkar?’. Yenni hanya menduga-duga yang berujung tak mendapat jawaban. Dia memutuskan untuk masuk rumahnya, menutup pintu dan menuju kamar Baekhyun.

Yenni melepas sepatu Baekhyun, melepas ikat pinggangnya, dan dasinya. Dia juga membuka kancing paling atas dari kemeja yang Baekhyun pakai agar pria itu dapat bernafas dengan lega. “Mr Baekhyun, sebenarnya apa yang terjadi padamu! Kenapa kau jadi seperti ini! Tidak biasanya kau pulang dalam keadaan mabuk”, kata Yenni. Dia lalu menutup tubuh Baekhyun dengan selimut.

Saat dia akan pergi, tangannya ditahan oleh Baekhyun. “Jangan tinggalkan aku Reni”, kata Baekhyun dengan mata yang masih tertutup serta tangan yang masih menggenggam pergelangan tangan Yenni. ‘Reni. Tapi aku bukan Reni, aku Yenni’, pikir Yenni. Yenni mencoba melepaskan genggaman Baekhyun, namun nihil tangan Baekhyun menggenggamnya dengan kuat. “Jangan pergi Reni, tetaplah disampingku. Aku mohon”, tepat setelah berkata itu, Baekhyun menarik Yenni kepelukannya. Entah apa yang terjadi setelah itu, hanya Tuhan dan merekalah yang tahu.

 

§§TBC§§

 

Jangan lupa komentarnya. Thanks.

Iklan

4 thoughts on “The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 5)

  1. yey kayanya aku yang pertama nih
    ih aku kesel sma baekhyun di salah nganggap orang harus nya yeni malah reni kasian aku sma yeni nya
    next kak semangat

  2. Mengapa Reni harus muncul lagi .. padahal Baekhyun sudah mulai melupakannya dan sekarang malah bimbanga sama perasaannya dan sekarang malah ia menyakiti Yenni. Apa yabg terjadi selanjutnya.. Baekhyun kan lagi mabuk duh jangan mrnambah luka untuk Yenni dan malah membuat ia meninggalkanmu Baekhyun. Gila aku sangat marah padamu Baekhyun mrngapa bisa menjadi bimbang seperti itu . Next chaptermya ya .. jangan buat Yenni sedih dan terluka. Kalau Baekhyun tak bisa membuatnya bahagia lebih baik lepaskan saja dia. Dan kembali pada wanita iblis itu.
    Aku takut Reni malah menyakiti Yenni nantinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s