You and I – Zing (Chapter 1)

IMG_20160307_182445

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

~happy reading~

“baiklah, terimakasih atas kerja samanya, Tuan Park.”

Sembari berdiri, wanita itu mengulurkan tangannya. Suatu kebiasaan seorang pembisnis jika mereka selesai rapat. Yang diajak bersalaman, juga ikut berdiri dan menampilkan senyum manisnya. Tak lupa mengulurkan tangannya dan berjabat tangan tanda perusahaan mereka, akan bekerja sama untuk dua tahun kedepan.

“ah, sama-sama. Aku yakin, perusahaan kita mampu bersaing jadi yang terdepan.”

Kali ini, laki-laki itu menampilkan sederet giginya yang putih dan rapih. Sembari mengguncang tangan sang wanita dalam genggamannya dengan semangat. Entahlah, semenjak pertama kali bertemu sang wanita, mood laki-laki dingin itu melonjak naik ke permukaan. Jadilah, dia bersikap sangat hangat kepada setiap orang. Sampai-sampai, karyawannya bergosip jika CEO perusahaan mereka, sedang punya masalah di otaknya.

“baiklah kalau begitu. Kami permisi dulu.”

Laki-laki itu melihat sekeliling ruangan, berharap para klien-nya cepat pergi dan meninggalkan mereka sendiri. Setelah dirasa cukup sepi, laki-laki itu menghampiri sang wanita yang sedang sibuk memasukkan file-file penting ke dalam map berwarna hijau.

“hmm, kau pulang dengan siapa?”

Sebenarnya, bukan kalimat itu yang ada di otak sang lelaki. Tapi lidahnya terlalu kelu dan yang keluar hanya kalimat bodoh seperti itu.

“eoh? Aku akan pulang dengan bis. Memangnya, ada apa?”

“mau kuantar? Kita bisa sekalian makan siang.”

“ah, tidak usah. Terimakasih. Aku bisa pulang sendiri.”

“makannya?”

“aku bisa memasaknya di apartemen nanti.”

Oke, laki-laki itu kini kehabisan kata. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar sang wanita mau makan siang bersamanya. Wanita dihadapannya hanya melihat kearahnya dengan alis bertaut, menunggu respon dari sang lelaki. Ayolah, yang dilakukan sang lelaki sekarang hanyalah menetralkan detak jantungnya.

Tapi, kesempatan tidak datang dua kali. Dia harus melakukan sesuatu agar wanita itu sudi menemaninya makan siang di kedai pinggir jalan kesukaannya. Dia harus tahu tentang asal-usul wanita itu. Dan kalau beruntung, dia bisa menulis nama wanita itu beserta nomornya di HP pintar kepunyaannya.

“ayolah, kumohon. Aku bosan harus menatap layar computer berjam-berjam sejak pagi hingga sore nanti.”

Bodoh. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan raut wajah mereka berdua. Yang satu kaget dengan yang diucapkannya. Apalagi dengan tangan terkepal didepan dada, dan yang satu lagi menautkan alisnya bingung, dahinya berkerut sangat jelas, dan mulutnya melongo membentuk huruf ‘o’.

“eoh? Baiklah kalau begitu.”

Akhirnya wanita itu menjawab, walaupun rasanya sangat canggung untuk makan bersama dengan seorang CEO yang baru dikenalnya tadi pagi.

“baiklah, tunggu sebentar.”

~000~

Hening. Keduanya sibuk melihat daftar menu yang tertera di sebuah buku besar di depan mereka. Makanan yang dijual disana jelas mahal dan enak. Dari tempatnya saja, mungkin restoran itu hanya dikunjungi oleh kalangan atas seperti mereka. Yang lain mungkin hanya melirik tidak tertarik jika lewat didepan ‘kedai mahal’ itu.

Sejujurnya wanita itu tidak lapar sama sekali. Dia baru saja makan ramen sebelum rapat. Dan sekarang mau tidak mau dia harus makan lagi bersama laki-laki dihadapannya.

“kau mau pesan apa?”

Laki-laki itu akhirnya angkat bicara. Mungkin terlalu bosan dengan suasana seperti ini. Terlalu canggung dan kaku. Untuk mencairkan suasana, dia memanggil pelayan restoran dan menyebutkan apa yang ingin dia makan, lalu melirik kearah sang wanita.

“eoh? Aku pesan yang sama sepertimu saja.”

Sadar diperhatikan, wanita itu langsung menutup buku menunya dan tersenyum ke arah sang pelayan, menyebutkan bahwa ia memesan makanan yang sama seperti laki-laki itu.

“baiklah, mohon tunggu sebentar.”

Pelayan itu membungkuk tepat Sembilan puluh derajat, lalu pergi meninggalkan mereka berdua dalam keheningan. Suasana kembali canggung. Laki-laki itu mendesah pelan, sedikit menyesali perbuatannya mengajak wanita itu makan bersama.

“Chanyeol-ssi, apa biasanya kau makan sendiri?”

Wanita itu angkat bicara. Terlihat senyum canggung di bibirnya yang manis, sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, yang diajak bicara sedikit terkejut tapi langsung mengubah raut wajahnya. Membenarkan posisi duduk, lalu menjawab.

“iya. Aku lebih suka sendirian.”

Bodoh! Kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutmu? Dasar idiot!

Laki-laki itu memaki dirinya sendiri didalam hati. Menyumpahi perkataannya yang bisa dibilang idiot.

“oh, begitu.”

Wanita itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sedikit terkejut dengan jawaban laki-laki itu. Entah kenapa, mereka merasa waktu berjalan sangat lambat, pesanan mereka pun belum sampai di meja makan, apa ini hanya perasaan mereka? Atau karena memang mereka tidak menyadari bahwa ini baru lima menit semenjak pelayan itu meninggalkan mereka?

Belum sempat laki-laki itu bicara, sebuah dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Milik wanita itu rupanya. Wanita itu segera bangkit dari kursi sambil tersenyum, sedangkan sang lelaki yang diketahui bernama Chanyeol itu hanya mengangguk sekilas sambil tersenyum, memberi izin untuk wanita itu keluar.

Lama Chanyeol memperhatikan gadis itu dari balik kaca restoran, terlihat jika raut wajah wanita itu sedikit malas tapi juga senang, entahlah, Chanyeol tidak terlalu memperdulikan siapa dan apa yang dibicarakan wanita itu ditelepon.

Wanita itu berjalan tergesa memasuki restoran, menampilkan raut wajahnya yang terlihat sangat bahagia. Entah apa yang terjadi, tapi Chanyeol punya firasat jika wanita itu akan pergi meninggalkannya makan sendiri.

Kali ini, firasat Chanyeol tepat sasaran.

“maafkan aku, Chanyeol-ssi, tapi teman lamaku memintaku untuk bertemu, jadi, bisa aku pulang sekarang?”

“ah, tidak apa-apa. Bersenang-senanglah.”

Senyuman wanita itu kian melebar, membuat detak jantung Chanyeol berpacu lebih cepat. Tanpa sadar, Chanyeol tersenyum.

Baru saja wanita itu melangkah keluar, dering telpon Chanyeol menghapus jejak senyum diwajahnya yang tampan.

“ah, baru saja aku ingin menelponmu.” Senyum itu kembali mengembang saat tahu siapa yang menelpon.

“hey, datanglah kesini. Akan kukenalkan kau pada seseorang. Dia temanku, sudah lama kami tidak bertemu. Bagaimana kalau kita makan ramen dan kimchi di apartemenku?”

“ah, tapi aku sedang makan sekarang.”

“jangan makan banyak-banyak. Karena, akan kupastikan ada banyak makanan disini.”

“baiklah, jam berapa?”

“bagaimana kalau jam tujuh? Sekalian kita berpesta sampai pagi.”

“baiklah. Ah iya, kau tahu? Aku bertemu seorang wanita cantik tadi pagi.”

“wah, benarkah? Si Namja Dingin Tak Berperasaan seperti kau bertemu seorang wanita? Dan biar kutebak, kau—menyukainya?”

“bisa dibilang seperti itu. Tapi aku juga belum tahu pastinya. Mungkin ini yang namanya zing.”

zing?

~000~

Wanita itu kembali melirik benda kecil bulat berwarna hitam yang melingkar manis di tangannya. Sudah setengah jam dia menunggu kedatangan laki-laki sialan yang menjadi sahabatnya sejak mereka kecil dulu. Memang suatu kebiasaan bila manusia yang dia tunggu sekarang datang sangat terlambat. Seperti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, wanita itu hanya sibuk memainkan benda tipis kotak berwarna putih, sampai suara dering mengacaukan kegiatannya.

“kenapa lama sekali, sih?”

“aish, harusnya aku yang tanya seperti itu. Kau dimana?”

“di halte bis. Kita janjian di tempat ini, kan?”

“halte bis mana?”

“tidak tahu. Yang jelas ada di seberang Taman Kanak-Kanak.”

“hey, kenapa dari dulu penyakit idiotmu itu tidak hilang-hilang sih? Padahal sudah sekolah sampai ke Luar Negeri. Cih, payah.”

“apa katamu? Dimana kau sekarang? Bersiaplah untuk mati hari ini, Oh Sehun!”

~000~

“omo! Ya! Kenapa kalian selalu masuk tanpa seizin yang punya, hah!? Bersyukurlah kalau aku tidak punya penyakit jantung.” Laki-laki yang sedang membawa panci berisi ramen itu menaruh bawaannya di meja makan. Lalu mengusap pelan dadanya saat menyadari ada dua manusia idiot yang sedang duduk manis di sofa depan televisinya.

“oh ayolah, aku baru saja bertemu denganmu. Apa begini caranya mengucapkan kata ‘selamat datang kembali’ pada sahabatmu?” wanita itu berdecak, memanyunkan sedikit bibirnya karena kedatangannya seolah hal yang biasa untuk dua manusia dihadapannya.

“oh, Chae Yoon-ah. Aku sangat rindu padamu. Bagaimana kuliahmu? Apa kau sudah bekerja? Dimana? Kau sudah punya apartemen? Bagaimana keadaan Bibi dan Paman? Mereka baik-baik saja, kan?” laki-laki yang bernama Oh Sehun itu bergelayut manja sambil memeluk Chae Yoon. Berbicara dengan nada manja yang malah membuat telinga Chae Yoon serasa panas.

“hentikan, Oh Sehun!”

“eoh? Bukankah tadi kau yang minta? Aku hanya memenuhi permintaanmu.”

“lupakan.” Chae Yoon berjalan meninggalkan Sehun yang sedang terkekeh geli karena melihat raut wajah Chae Yoon yang menggemaskan saat sedang marah.

“Chae Yoon-ah, aku mengajak seseorang untuk bergabung. Dia teman kami sewaktu SMA. Tidak apa-apa, kan?”

“ah, tidak apa-apa. Asalkan…”

“apa?”

“apakah dia sama idiotnya seperti kalian?”

“ya! Kalau mau berbicara lihat dulu bagaimana dirimu sendiri! Kau bergaul bersama kami saat umurmu lima tahun! Itu artinya, idiotmu sama seperti kami! Bodoh!” laki-laki itu merebut paksa snack yang sedang dimakan oleh Chae Yoon. Sambil membenturkan snack itu ke kepala Chae Yoon. Sehun yang melihat itu hanya menampilkan wajah riang seolah itu tontonan yang menarik.

“ya! Kim Jongin! Sakit! Kenapa kau selalu kasar pada seorang wanita, huh?” Chae Yoon mengusap sayang kepalanya yang malang. Berharap kali ini dia tidak terkena geger otak. Jongin yang melihat itu hanya tertawa lebar melihat wajah bodoh kesakitan Chae Yoon.

Mereka berbincang bersama, kembali mengingat masa-masa indah mereka dulu. Saat Sehun pertama kalinya mengenal cinta. Merengek meminta bantuan sahabatnya untuk membantu mendekatkan dirinya dengan sang pujaan hati. Tapi, disaat Sehun ingin menyatakan perasaannya, gadis impiannya saat itu memposting fotonya dengan seorang pria dengan caption ‘kuharap kita bisa selamanya. Happy Anniversary chagiya. Saranghae.’ Hati Sehun mencelos melihat tulisan dan foto itu. Dia mengerang dan tak mau makan selama empat hari. Chae Yoon dan Jongin mengunjunginya setiap hari. Sambil membawa bubble tea kesukaan Sehun dan video games. Tapi usaha itu sia-sia. Sehun hanya menampilkan wajah datar dan menganggap jika sahabatnya sedang tidak ada dikamarnya. Untungnya, saat itu sedang liburan musim panas, jadi Sehun bebas mengekspresikan kekesalannya sepanjang hari, tanpa terganggu tugas dan guru yang mengoceh sana-sini.

Belum lagi saat Jongin mempunyai ‘secret admirer’, dia panik setengah mati, takut jika ada yang menerornya. Setelah bercerita pada sahabatnya, Sehun dan Chae yoon hanya tertawa terbahak sambil berkata ‘dasar idiot. Itu artinya kau punya penggemar rahasia, bodoh.’. jongin yang tidak punya pengalaman sama sekali dalam masalah seperti ini hanya menampilkan wajah tolol khas kepunyaannya. Yang makin membuat kedua sahabatnya gemas dan langsung menjitaki kepala Jongin bertubi-tubi.

Sedang asik berbincang, suara bel apertemen Jongin menghentikan tawa ketiga manusia yang sedang duduk manis di sofa. Sang empunya rumah, berjalan tergesa membuka pintu.

“ah, sudah datang rupanya. Lama tidak bertemu.” Jongin memeluk laki-laki dihadapannya sekilas, sebelum mempersilahkan tamunya masuk. Lalu menghampiri sofa untuk mengajaknya berkenalan dengan Chae Yoon.

Sehun dan Chae yoon sudah beranjak dari tempatnya duduk, tersenyum manis. Bahkan Sehun sudah merentangkan tangannya untuk memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak ia jumpai. Tapi, senyum Chae Yoon seketika hilang, saat tahu siapa yang datang. Begitu juga laki-laki itu. Belum sempat membalas rentangan tangan Sehun, perhatiannya terpaku pada wanita didepannya. Pikirannya melayang entah kemana. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan dua manusia idiot itu hanya menatap Chae Yoon dan Chanyeol bergantian. Menautkan alisnya bingung, dan dahinya berkerut sangat tebal.

“Nona Song?”

“Tuan Park?”

Keduanya sama-sama menjulurkan jari telunjuk kehadapan wajah lawan bicaranya. Pikiran kalut masih memenuhi otak mereka semua.

“ehem, Chanyeol, perkenalkan, dia Song Chae Yoon, sahabatku sewaktu kecil bersama Sehun. Dan Chae yoon, perkenalkan, ini Park Chanyeol, sahabatku dan Sehun sewaktu SMA.” Jongin berdehem sambil memperkenalkan mereka berdua. Membuyarkan pikiran kalut dua orang dihadapannya.

“yah, kami sudah saling mengenal. Perusahaan kami akan bekerja sama dalam dua tahun kedepan. Benar begitu, Nona Song?” Chanyeol tersenyum kearah Chae Yoon, menyadarkan Chae Yoon untuk bertingkah seperti sedia kala.

“ah iya. Bahkan kami sempat makan siang bersama.” Bukan makan siang, mungkin lebih tepatnya hampir makan siang.

Raut wajah Jongin jelas berubah, dia teringat akan apa yang dibicarakan Chanyeol di telpon tadi sore, mengenai gadis yang mampu membuat mood sahabatnya itu naik drastis.

Chanyeol segera menginstrupsi perubahan raut wajah Jongin, menyadarkan Jongin jika ini bukan waktu yang tepat untuk terkejut. Melainkan ini waktu yang tepat untuk merayakan kepulangan Chae Yoon ke Korea setelah hampir sepuluh tahun menetap di Paris.

Dan untuk mendekatkan Chanyeol dengan Chae Yoon tentunya.

“mungkin mie-nya sudah mengembang.” Sehun yang tak tahan mulai menghampiri meja makan, membuka kaleng soju, lalu memberi kode agar tiga orang didepan sana mendekati meja makan.

~000~

Perut mereka semua sudah terisi penuh. Dan meja makan juga sudah bersih dari piring-piring kotor. Ini waktunya untuk mengobrol atau bermain sesuatu yang menyenangkan.

“ya! Bagaimana kalau kita bermain Truth or Dare?” Sehun mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, berharap tiga sahabatnya mendukung usulannya. Tapi, dilihat dari raut wajah tiga orang itu, tidak ada yang tertarik.

“yang tidak mau berkata jujur, harus minum ini dalam sekali tenggak.” Sehun bukan tipe orang yang mudah menyerah, dia menuangkan soju kedalam gelas besar sampai terisi setengahnya. Lalu, wajah tiga manusia itu berubah.

“setuju!”

Putaran pertama dilakukan, kali ini tepat berhenti didepan Jongin. Jongin hanya bisa menghembuskan napasnya kasar, melihat seringaian licik yang terpampang nyata dibibir tiga sahabatnya.

“aku yang bertanya.” Chae Yoon mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sambil menelisik raut wajah Jongin, dia melanjutkan, “siapa wanita ini?” Chae yoon menyodorkan smartphone-nya, dilayar itu, tergambar Jongin yang sedang merangkul bahu seorang wanita cantik. Tapi seketika itu juga Sehun meledak.

“ya! Apa maksudmu, brengsek! Itu kan—kan.” Sehun menunjuk-nunjuk wanita yang ada di layar smartphone Chae Yoon. Sedangkan Jongin menampilkan wajah memelasnya sambil melontarkan banyak kata maaf.

“maafkan aku, itu hanyalah sebuah kebetulan. Kami bertemu di sebuah kedai ramen, lalu dia mengajakku berfoto dan bertukar nomor HP. Maafkan aku sehun-ah.”

Sehun mengelus wajahnya kasar, meredakan emosinya. Pikirannya melayang mengingat kenangan pahit yang pernah Sehun kubur dalam-dalam.

“tidak apa-apa. Lupakan saja.”

Sementara itu, Chae Yoon masih memperhatikan layar ponselnya. Dahinya berkerut samar, mencoba mengenali sosok gadis yang sedang dirangkul Jongin beberapa waktu lalu. Namun nihil, ingatannya hilang entah kemana.

“memangnya, siapa dia?”

“ya! Dia kan wanita murahan yang bersamaku hanya untuk mencari uangku! Dia—dia lebih memilih bersama laki-laki lain saat tahu aku tidak sekaya laki-laki itu. Dia adalah jalang murahan yang akan aku ingat sampai mati!” emosi Sehun kembali naik ke permukaan. Kali ini begitu menggebu-gebu. Ia kembali teringat dengan wanita yang pernah merasa bahwa ia adalah laki-laki paling beruntung di dunia, karena bisa menjadi pacar wanita itu. Tapi dia salah, wanita itu malah memaki dirinya didepan seorang lelaki tampan nan kaya yang jauh dari kata sopan. Wanita itu meninggalkan Sehun hanya untuk laki-laki yang jauh lebih kaya raya daripada Sehun. Dan Sehun bersumpah jika ia tidak akan melupakan wanita itu seumur hidupnya.

Chanyeol menepuk pundak Sehun menenangkan, Jongin mengambil segelas air dan memberikannya tepat kedepan Sehun. Sedangkan Chae Yoon hanya diam ditempat. Tidak pernah tahu bahwa Sehun bisa bersikap sekasar ini pada seorang wanita. Sebab, sejak mereka kecil dulu, Sehun selalu bersikap manis pada setiap orang, khususnya pada seorang wanita.

“sudahlah, ayo lanjut main.”

Botol itu kembali berputar, dan kali ini berhenti tepat didepan Chanyeol. Seketika itu juga Chanyeol terkesiap, terlalu takut jika Jongin berkata yang macam-macam. Dalam hati dia berdoa agar Jongin mau berbaik hati untuk hari ini.

Senyum licik tercetak dibibir Jongin. Chanyeol hanya bisa bersikap pasrah. Hanya mampu memohon lewat sorot matanya yang begitu kentara untuk Jongin. Dan akhirnya, Jongin manganggukan kepalanya, setuju untuk berbaik hati pada Chanyeol. Asalkan, ditraktir ramen di kedai seberang apartemennya.

Chanyeol menghembus napas lega.

Belum sempat Jongin membuka mulutnya, Sehun sudah lebih dulu bersuara.

“siapa wanita yang akhir-akhir ini membuat perhatianmu hanya tertuju padanya. Yaah, mungkin kau menyukainya. Siapa?” Sehun mendongakkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah terkejut Chanyeol. Terlihat chanyeol yang melirik kearah Jongin, meminta bala bantuan agar rahasianya tidak terbongkar secepat ini. Tapi, mana ada sahabat yang berbaik hati disaat temannya seperti ini? Jongin malah mengalihkan perhatiannya. Mencoba mengobrol dengan Chae Yoon. Chanyeol mulai menyesali perbuatannya sore tadi.

“siapa Chanyeol-ah?”

“hmm, tidak—tidak ada.” Mungkin kalimat ‘bohong demi kebaikan itu baik’ benar adanya.

“harus kuakui, kau sangat payah dalam hal berbohong.”

“tidak, aku—aku tidak berbohong.”

“ayolah, katakan saja. Minimal, jangan buat aku berprasangka buruk.”

“maksudmu?”

“kau tahu apa maksudku.” Sehun melirik chae Yoon yang hanya melihat dengan ekspresi datar. Dan chanyeol makin merasa bahwa inilah akhirnya. Dia harus mengakuinya.

“ada—tapi mungkin itu hanya sekedar rasa kagum.”

“katakan padaku siapa namanya.”

Chanyeol menunduk, menimang apakah ia akan mengakuinya. Tapi, perhatiannya tertuju pada gelas besar berisi soju. Segera saja dia ambil gelas itu, lalu meneguknya cepat sampai membuat mulut Chae Yoon melongo.

“astaga, aku hampir mendapatkan jawabannya.”

“kau peminum yang andal.”

“apa salahnya jika mengakuinya sekarang?”

Begitulah tiga komentar berbeda yang keluar dari tiga sahabatnya. Chanyeol bersyukur gelas itu ada tepat dihadapannya. Kalau tidak, mungkin kedekatannya akan gagal dengan Chae Yoon.

Jam bulat besar yang bersandar manis di dinding apartemen Jongin telah menunjuk ke angka sebelas. Sudah terlalu larut untuk empat manusia itu berpesta. Tapi, karena besok hari libur, mereka putuskan untuk berpesta sekaligus menginap di apartemen Jongin sehari. Sekaligus untuk membuat tempat itu seperti kandang anjing ketika mereka pulang nanti. Benar-benar sahabat yang baik.

Chae Yoon sudah tidak kuat lagi. Dia terlalu banyak minum soju. Pikirannya sudah menguap dan penglihatannya mulai kabur entah kemana. Badannya limblung tak tentu arah. Waktu yang tepat untuk menanyakan sebuah kejujuran. Didukung oleh botol yang berhenti didepan wajah wanita itu. Membuat Jongin dan Sehun melebarkan seringaian liciknya. Sementara Chanyeol? Dia sibuk menikmati chips kentang diatas sofa. Sudah tidak berminat dan beralih menonton drama TV.

“Chae Yoon-ah, apa kesan pertamamu saat pertama kali melihat Chanyeol?”

Sepersekian detik Chanyeol terdiam. Tangannya masih menggantung di udara mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Sehun. Tapi sejenak kemudian, dia tolehkan kepalanya menghadap Chae Yoon. Berharap jawaban yang akan membuatnya senang bukan kepalang.

Chae Yoon tidak merespon. Hanya bahu yang bergerak ke atas sebagai jawabannya. Terlalu malas berpikir dalam keadaan seperti ini. Otaknya sudah tak mampu memilah kata-kata yang diucapkan Sehun barusan.

“mungkin dia sudah terlalu mabuk.” Kini giliran Chanyeol yang mengedikkan bahunya. Kembali menatap televisi dan menikmati chips kentangnya.

“benar. Mungkin ini saatnya untuk tidur.”

“Chanyeol-ah, bawa Chae Yoon ke kamar tidurku.”

Chanyeol menoleh, alisnya saling bertautan, dengan chips kentang yang masih memenuhi rongga mulutnya.

“dia berat. Aku malas menggendongnya.”

“lagipula, bukankah harusnya kau senang?”

Untung saja Chae Yoon sudah terkulai lemas tak berdaya di lantai. Terlalu pusing hingga akhirnya tak sadarkan diri. Hanya terdengar suara kecil dari dalam mulutnya.

Chanyeol mulai bangkit dari tempatnya duduk, menghampiri Chae Yoon dan dalam sekejab, tubuh ramping chae Yoon sudah bersandar di punggung besar milik chanyeol. Dengan sangat hati-hati, Chanyeol merebahkan tubuh Chae Yoon ke atas kasur, menaruh selimut tebal diatas tubuh wanita itu, tapi, saat ia ingin melakukannya, ada sebuah suara—lebih mirip lirihan sebenarnya—yang mampu menghentikan kegiatannya. Yang langsung membuatnya menoleh dengan mata membulat.

“saat pertama aku melihatnya, jantungku berdegup begitu cepat, dan juga—dia—dia tampan.”

Senyum lebar terukir jelas dibibir Chanyeol. Memastikan jika yang dia dengar bukan gurauan semata. Merasa, jika mungkin perasaannya akan terbalaskan.

 

TBC

 

Hey ho guys, I’m back! Well, aku udah lama mau bikin fanfic kek begini. Tapi baru dapet jalan cerita yang pas sekarang. Aku pengen banget bikin fanfic yang ada judulnya ditiap chapter, jadi kalo judulnya masih aneh sama jalan ceritanya. Ya maaf aja yaa :v

Kalian tau zing, kan? Itu loh yang ada di film Hotel Transylvania, yang ada lirik lagunya ‘cause you’re my zing~~’ jadi zing itu perasaaan aneh yang muncul waktu pertama kali liat lawan jenis(?). Serasa ada getaran yang berbeda(?)

Aku sengaja bikin yang agak panjangan dari fanfic-ku yang lain, soalnya, waktu aku baca fanfic First Love, itu ceritanya terlalu pendek. Jadinya, ya aku coba bikin yang sedikit lebih panjang.

Ada rencana sih, fanfic yang ini bakalan ada adegan NC(?), tapi gatau juga jadi atau nggak, doakan saja ya chingu~~(?)

Hope you like it! Sorry for typos, and thank you for reading my fanfic! See you soon, guys! Bye, bye~~

 

-istri Sehun, tunangan Chanyeol-

 

5 thoughts on “You and I – Zing (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s