All-Mate911 (Chapter 6)

img_2531

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

Note : permintaan maaf spesial untuk baekhyun yang karakternya kubuat berantakan (?) di cerita ini lol

(dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-bagaimana kau tahu jika kau sedang jatuh cinta?-

 

“Apakah kau sedang menunggu kabar dari seseorang?”

Sena mengangkat wajah dan mengerjap menatap Jimin. “Tidak.” Ia menggeleng bingung. “Kenapa?”

“Kau terus-terusan mengecek ponsel sejak tadi,” kata Jimin, mengedikkan bahu ke arah tas Sena yang teronggok di pangkuannya.

Sena mengeluarkan kedua tangannya yang terkubur di dalam tas. “Tidak,” elaknya. “Aku hanya menunggu pekerjaan.”

Jimin mendengus sinis. “Kau bisa membohongi semua orang, tapi kau tidak bisa membohongiku,” katanya. Ia mengangkat cangkir kopinya dan menyesap cappuccino-nya sedikit. “Kupikir setelah Sehun bekerja di sini, kau akan berhenti dari All-Mate.”

Dari sudut matanya, Sena melihat Sehun sedang mencatat pesanan dari meja di dekat pintu masuk kafe. “Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin bergantung padanya, oke?” balasnya. “Dan, astaga, kau harus berhenti menatap bokong adikku.”

Sehun memungut pulpen yang ia jatuhkan saat ia akan memasukkannya ke saku apron hitamnya dan Jimin tidak berusaha menutupi ketertarikannya ketika Sehun menunduk. Sena heran bola mata Jimin tidak sampai melompat keluar dari rongganya sekalian.

Mata Jimin masih mengikuti Sehun sampai menegakkan punggung dan berjalan menuju konter barista. “Kau tahu, Sehun bisa menghasilkan banyak uang dengan jadi model. Maksudku, lihat kaki-kaki jenjang dan postur tubuhnya.”

Sena sekuat tenaga menahan dorongan untuk muntah. “Bagaimana dengan Luhan? Maksudku, benar, Sehun memang menarik,” mulutnya terasa pahit ketika mengatakannya, “tapi apakah bokong rata Luhan sudah kehilangan daya tariknya?”

Jimin mengalihkan pandangan dari Sehun untuk memberi tatapan membunuh pada Sena. “Apa kau buta? Bokongnya tidak rata. Dia berolahraga rutin. Segalanya padanya sempurna.”

Sena tidak yakin mana yang lebih buruk, Jimin memandangi Sehun dengan tatapan ingin atau Jimin membicarakan bagian tubuh Luhan yang sama sekali tidak ingin Sena ketahui.

“Lagipula,” tambah Jimin dengan nada sambil lalu seraya kembali mencari Sehun, “Oh Sehun sudah mencurahkan perhatiannya pada orang lain.”

Sena memutar bola matanya. Jimin masih bersikeras dengan teorinya bahwa Sehun diam-diam mencintainya berapa kali pun Sena memberitahunya bahwa itu konyol.

Tepat ketika Sehun menoleh ke arah mereka berdua duduk, Sena mendengar ponselnya berdering. Ia buru-buru merogoh benda itu dari dalam tas, hanya untuk mendapati ponsel pribadinya yang berbunyi dan ibunya-lah yang menelepon.

“Halo?” jawab Sena malas, karena ia sudah tahu apa yang ingin ibunya bicarakan.

Ya, Sena-ya,” ibunya di seberang sana memanggilnya dengan suara mendesak. “Di mana Sehun?”

“Sedang bekerja.”

“Apakah dia masih berkeras tidak mau pulang? Sudah hampir dua minggu dia di sana. Ayahnya uring-uringan, membuatku sakit kepala.”

Sena menghela napas berlebihan. “Kenapa Eomma tidak bicara padanya langsung saja?”

“Aku akan melakukannya seandainya dia mau menjawab teleponku,” balas ibunya. “Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya dia jika sudah memutuskan sesuatu.”

“Lalu aku harus apa? Menyeretnya pulang ke rumah? Eomma, dia sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang ingin dia lakukan.”

“Jadi kau akan membiarkannya tinggal terus di tempatmu sampai kapan?”

“Tidak tahu. Sampai dia bosan dan memutuskan pulang sendiri, mungkin? Atau Eomma minta appa datang kemari dan bicara dengannya. Suruh mereka berbaikan.”

“Berbaikan kenapa?”

Kebingungan dalam suara ibunya tidak sebanding dengan kebingungan Sena. “Sehun pergi karena bertengkar dengan appa, kan?” ia balas bertanya.

“Mana ada. Sehun pergi karena dia bilang harus ada yang memastikan kau hidup dengan baik. Astaga, apa dia lupa kalau kau anakku? Tentu saja kau tidak mungkin mati diam-diam.”

“Cih. Pembohong keparat itu,” gumam Sena di dalam tenggorokannya.

“Apa? Kau bilang apa?”

“Bukan apa-apa,” kata Sena dengan suara lebih keras. “Eomma, tutup dulu, ya. Aku sedang sibuk. Nanti kukabari lagi setelah aku bicara dengan Sehun.”

“Kenapa dengan Sehun?” tanya Jimin setelah Sena menurunkan ponsel dari telinganya dan menjejalkan benda itu ke dalam tasnya.

“Ibuku ingin tahu kapan dia akan pulang ke rumah.”

Jimin menggeleng-geleng seakan ia mengerti perkara yang tidak dipahami seorang pun selain dirinya. “Yah, dia tidak mungkin meninggalkanmu di sini sendirian.”

Sena berdecak. “Sudah kubilang berkali-kali, Han Jimin, dia tidak mencintaiku seperti itu.”

Jimin mengangkat bahu. “Tidak ada yang tahu, kan?”

Sena mengabaikan pertanyaan retoris Jimin dan meraih ice latte-nya. Gelas itu sudah setengah jalan menuju bibirnya ketika ponselnya berdering lagi. Ia meminum kopinya sementara tangan yang lain merogoh isi tas. Ponsel pekerjaannya berbunyi dan ia nyaris tersedak pecahan es batu ketika melihat nama yang muncul di layar.

“Ha-halo?” jawab Sena serak, lalu batuk-batuk.

Ya, kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol di seberang sana.

Sena mengangguk-angguk cepat dan berdeham keras. “Y-ya. Aku baik-baik saja.” Suaranya naik satu oktaf lebih tinggi dan ia tanpa sadar menegakkan punggungnya. “Ada apa?”

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

“Hmm. Oke, aku juga baik. Apakah kau sedang mood untuk keluar? Aku berencana pergi main biliar malam ini. Kau boleh ikut kalau kau mau.”

Sena tertawa sumbang. “Aku akan pergi ke mana saja asal dibayar.”

Well.” Chanyeol balas tertawa renyah. “Bagus. Aku akan menjemputmu—”

“Jangan!” tolak Sena cepat. Ia tidak ingin Sehun melihat Chanyeol menjemputnya dan membuat mereka mengulangi pembicaraan tentang laki-laki itu lagi. “Maksudku, kita bertemu di tempatnya langsung saja.”

“Baiklah. Jam tujuh?”

Call.”

“Sampai nanti.”

Sena menyimpan ponselnya segera setelah memutuskan sambungan dan menangkup gelas latte-nya dengan dua tangan.

Jimin menatapnya lamat-lamat selama sedetik sebelum bertanya dengan nada curiga, “Apakah kau sedang dekat dengan seseorang?”

Sena mengangkat pandangannya. “Tidak,” jawabnya samar-samar karena terhalang gelas.

Jimin hanya memicing skeptis padanya.

 

***

 

Chanyeol mengangkat wajah dari meja biliar setiap kali ada yang membuka pintu, sampai akhirnya ia melihat Sena muncul, senyum di wajahnya mengembang dan ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi. “Sena-ya!”

Sena menoleh-noleh mencari sumber suara, ketika menemukannya, ia membetulkan letak tali tas selempang di bahu dan berjalan ke arahnya, memiringkan tubuh di antara meja-meja biliar dan orang-orang yang sedang bermain sambil mengepulkan asap rokok dan menenggak bir kalengan dari mesin otomatis.

“Kau benar-benar bermain ini?” Sena bertanya skeptis dan mengetukkan ujung sepatu botnya ke kaki meja biliar.

“Kadang,” jawab Chanyeol. “Jika aku punya waktu luang.”

Sena membuat suara mendengus yang kedengarannya seperti pfft.

“Apa? Kau tidak percaya?”

“Aku percaya apa pun yang kau katakan,” balas Sena sarkastik. “Aku hanya tidak berpikir, di luar setelan rapi dan tampang baik-baik, kau tahu tempat-tempat seperti ini juga. Sangat fifty shades.”

“Terserahlah.”

Sena tertawa.

Chanyeol melanjutkan permainannya yang sudah setengah jalan, dengan Sena di dekatnya, menonton dan menanyakan hal-hal seperti, “Nomor di setiap bola warna-warni itu skornya atau urutan kau harus memukulnya?” dan, “Kenapa yang dipukul selalu bola putih? Kasihan sekali dia”, juga, “Apakah kau pernah berpikir kenapa meja biliar warnanya hijau? Kenapa bukan merah marun atau warna lain yang lebih seksi?”

Chanyeol menjawabnya dengan, “Semacam itulah”, “Kalau kau kasihan, kau bisa menggantikannya”, “Mejanya akan jadi seksi kalau aku berbaring di atasnya”, dan Sena hanya memutar bola matanya terus-terusan seakan-akan Chanyeol hilang akal.

Saat Chanyeol akan memulai permainan kedua, Sena meninggalkannya sejenak untuk membeli minuman dari mesin otomatis. Mayoritas pemain di sini adalah laki-laki, dan Chanyeol menyadari dengan jelas bagaimana mereka menoleh ketika Sena lewat dan mengagumi bagian tertentu tubuhnya. Di bawah sinar benderang lampu-lampu bertudung yang menggantung di langit-langit rendah, gadis itu memang tampak seperti pernik berkilauan. Tapi Sena, seperti biasa, terlalu abai untuk menyadarinya.

“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Sena dengan alis berkerut, satu tangan mengulurkan kaleng cola pada Chanyeol.

Chanyeol hanya menggeleng dan menerima minumannya.

“Orang aneh,” gumam Sena sambil membuka kaleng cola-nya sendiri.

Mungkin beberapa pasang mata yang masih memandangi Sena yang membuat Chanyeol mendadak punya ide gila. “Aku akan mengajarimu cara bermain biliar.”

Chanyeol memindahkan stik biliar dari tangannya ke tangan Sena sebelum gadis itu sempat menimbang-nimbang apakah ia mau atau tidak, lalu berjalan memutar. Tangannya melingkari pinggang Sena dari belakang dan Chanyeol tiba-tiba berpikir betapa tepatnya gadis itu berada di sana—di dalam tangannya. Wow. Pikiran yang tidak beres.

Ya, apa yang—”

“Bungkukkan badanmu,” punggung Sena terasa hangat ketika dada Chanyeol menekannya lembut agar ia membungkuk, “pegang stiknya seperti ini,” ia memosisikan jemari Sena pada ujung stik di atas meja dan menangkup tangan lainnya yang memegang stik. “Kau memukul bola putih ini lurus ke arah sembilan bola itu. Jangan terlalu keras, jangan terlalu pelan. Jika bolanya melompat keluar atau bola putihnya tidak kena sasaran, kau dinyatakan melakukan pelanggaran.”

“Park Idiot, aku tidak tertarik.”

“Sst,” Chanyeol berbisik, bibirnya nyaris terbenam di rambut Sena. “Aku sedang menyelamatkanmu. Ikuti saja.”

“Menyelamatkanku dari apa tepatnya?”

“Percaya saja padaku.”

Chanyeol tersenyum ketika Sena menggumamkan sesuatu yang tidak jelas tentang, “Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Setidaknya gadis itu membiarkannya.

Chanyeol hanya memandu Sena memukul bola pertamanya, lalu menonton gadis itu berlatih sendiri sambil menginterupsi dengan petunjuk-petunjuk, dan kurang dari setengah jam Sena sudah bisa memasukkan satu bola dengan gestur layaknya pro.

“Memang Ryu Sena si pelajar top,” puji Chanyeol sambil mengacungkan kedua ibu jari.

Sena mengangkat wajahnya dengan congkak dan mendengus sok.

Mereka meninggalkan pub biliar setelah satu-dua jam dan mampir ke kedai kaki lima, memesan sup ikan dan soju untuk makan malam. Sena tiba-tiba bertanya di sela suapan kuah panas, “Tempatmu bekerja itu perusahaan macam apa?”

“Investasi. Menjual dan membeli saham, tawar-menawar satu dengan yang lain, membuat keuntungan dari pelelangan. Jenis pekerjaan membosankan yang menghasilkan banyak uang.” Lalu, Chanyeol menambahkan sebelum ditanya, “Itu perusahaan yang dikelola ayahku.”

“Oooh,” Sena menggumam dengan bibir bulat dan menggangguk-angguk. “Karena itulah kau bisa bekerja di sana. Sudah kuduga kau tidak mungkin tiba-tiba diangkat jadi wakil pemimpin.”

“Hei, aku juga bekerja keras untuk sampai di tempatku,” protes Chanyeol. “Ayahku tidak akan membiarkanku bergabung kalau aku tidak belajar dengan baik.”

“Tapi kau memang tidak belajar dengan baik.”

“Itu kan dulu,” balas Chanyeol datar. “Orang-orang berubah, Ryu Sena. Aku akhirnya menyadari bahwa hidupku sia-sia dan mencoba menjadi lebih baik.”

“Kapan kau sadar? Setelah memanfaatkanku?”

“Bukankah kita sudah berbaikan?”

“Apa hubungannya dengan ini?”

“Kenapa kau masih terdengar pedas sekali?”

“Aku hanya penasaran.” Sena memasang tampang polos dibuat-buat, dan Chanyeol tidak bisa sebal karenanya.

“Baiklah,” Chanyeol menjawab, “aku terinspirasi setelah melihat si pelajar top yang bodoh itu bekerja keras mengerjakan tugas yang bukan miliknya setiap hari.”

Sena menghabiskan soju di gelasnya sebelum menanggapi, “Si pelajar top melakukannya dengan terpaksa, asal kau tahu saja.”

Pembicaraan itu berlalu digantikan hal-hal lain yang lebih tidak penting, lalu setelah makan, Chanyeol mengantar Sena pulang karena sudah tengah malam dan, sebagai kejutannya, Sena menagihkan bayarannya, dengan gaya yang persis sama seperti waktu mereka pertama kali makan siang.

“Kupikir setelah berbaikan, kita akan bertemu sebagai teman sungguhan, bukan sebagai penyedia layanan dan pelanggan yang kesepian,” kata Chanyeol sambil menyerahkan beberapa lembar puluhan ribu won di tangan kanan Sena yang menengadah.

Sena menjejalkan uang itu ke dalam saku jinsnya, kemudian tangan yang sama terulur lagi. “Ponselmu.”

Chanyeol mengerjap-ngerjap. “Apa? Sekarang aku harus menyerahkan ponselku padamu juga?”

Sena berdecak. “Berikan sajalah dulu.”

Chanyeol menaruh ponselnya di tangan Sena dengan ragu-ragu. Jemari Sena langsung bergerak cepat di atas layar ponselnya seperti mengetikkan sesuatu, kemudian menyerahkannya kembali pada Chanyeol dan berkata, “Ini. Aku sudah menyimpan nomor ponsel pribadiku. Kalau kau menghubungiku lewat All-Mate, tentu saja kau harus membayar. Kau mengerti?”

Chanyeol menerima ponselnya kembali dan tidak bisa tidak tersenyum. “Kau sudah memaafkanku atas masa lalu kita yang buruk?”

“Kau bilang kau tidak melakukannya.”

“Aku tetap bersalah dalam banyak hal, jadi jawab saja dengan ya atau tidak.”

Sena menatapnya sejenak seperti berpikir, lalu bersedekap dan menghela napas. “Baiklah, aku memaafkanmu. Senang?”

Tiba-tiba Chanyeol merasa dadanya sangat lapang dan seluruh beban di pundaknya menghilang. Jika bukan karena gravitasi, tubuhnya mungkin sudah melayang-layang seperti balon. “Jadi, kita benar-benar berteman sekarang?”

“Ya.”

“Seperti, benar-benar berteman?”

“Astaga, iya,” jawab Sena tidak sabar.

“Kau akan jadi Ryu Sena yang lama lagi? Kau tidak membenciku lagi?”

“Ah, masa bodohlah.” Sena memutar bola matanya muak dan berbalik.

Ya, Ryu Sena!” seru Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan ponselnya di udara. “Aku akan meneleponmu setiap hari! Aku akan mengirimimu pesan-pesan sampah selama dua puluh empat jam penuh!”

“Coba saja, kau akan mati!” Sena balas berseru tanpa menoleh.

 

***

 

Sena baru menutup pintu di belakangnya ketika ponsel pribadi di tasnya berdering. Sena melihat sebaris nomor asing, tapi tentu saja ia tahu siapa itu.

“Apalagi? Kau ingin dipukul dulu sebelum pulang?”

Sena mendengar cekikikan bersuara berat dekat sekali dengan telinganya, dan ia mendadak teringat bagaimana senangnya ia mendengar suara itu di telepon untuk pertama kali, berminggu-minggu yang lalu. Kemudian suara berat itu menyahut lagi, “Aku hanya memastikan kau tidak memberiku nomor palsu.”

“Yang benar saja,” gerutu Sena. “Sudah, teleponnya kututup.”

“Tunggu!”

“Apa? Apa? APA?”

“Terima kasih!” Lalu Chanyeol memutus sambungan seenaknya.

“Dasar aneh. Idiot. Gila,” Sena menurunkan ponsel dari telinganya dan menggumam rendah dalam napasnya. Tapi, ia tidak bisa menyingkirkan senyum konyol yang mendadak terbit di wajahnya.

“Siapa itu?”

Sehun melihat Sena tersentak ketika mendengar suaranya. “Kupikir kau sudah tidur,” katanya.

“Aku menunggumu pulang.”

“Ah, maaf,” kata Sena dengan berbisik. “Tidurlah sekarang. Aku mau mandi dulu.”

“Itu tadi siapa?” ulang Sehun. “Yang meneleponmu.”

“Park Chanyeol.”

Ada jeda pendek sebelum Sena mengucapkan namanya. Jeda yang meneriakkan perasaan bersalah di telinga Sehun.

“Kau pergi untuk bertemu dengannya?”

“Tidak tepat begitu. Aku menemuinya karena dia menghubungiku lewat All-Mate.”

“Berhentilah dari pekerjaan keparat itu.”

Sena tampak terkejut. Ia sudah sering mendengar Sehun menyumpah (mereka malah menyumpahi satu sama lain) tapi ada sesuatu dalam suara Sehun yang menakutinya.

“Jangan bekerja di sana jika dia menemuimu karena itu. Apa yang salah dengan otakmu, Ryu Sena? Kau seharusnya membencinya.”

“Aku sudah muak dengan masa lalu, oke?” sembur Sena defensif. “Aku lelah dan ingin berdamai dengan segalanya. Kenapa kau terus bersikap seperti ini dan membuatku merasa buruk?”

“Aku begini karena aku peduli padamu, sial. Kenapa kau tidak mengerti juga?” sergah Sehun kesal.

“Aku mengerti!” balas Sena. “Tapi kita berdua punya kehidupan masing-masing, Oh Sehun. Dan aku cukup dewasa untuk mengurus urusanku sendiri.”

Keheningan yang menyusul terasa canggung dan menegangkan. Sehun mengempaskan punggung ke atas tempat tidur dengan kasar dan berbalik menghadap dinding. Ia mendengar Sena mendengus kesal dan berderap ke dalam kamar mandi, tidak lupa membanting pintunya. Ia marah karena Sehun marah atas hal remeh yang tidak masuk akal.

Sena tidak mengerti bahwa Sehun tidak marah. Sehun terluka. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar, yang satu ini lebih menyakitkan dari seluruh pertengkaran mereka dijadikan satu, karena kata-kata defensif Sena membuat Sehun merasakan kesadaran itu melesat datang dan menghantam dadanya, cepat dan keras, bahwa Sena—

—sedang jatuh cinta.

 

***

 

Baekhyun bersiul usil ketika melihat Chanyeol duduk di kursi tinggi barnya yang biasa. Tangannya meraih gelas bahkan sebelum diperintah otaknya. “A-yo, pretty boy. Long time no see.”

Chanyeol membuka mulut untuk memesan, tapi Baekhyun lebih cepat menuang wiski ke dalam gelas dan mendorongnya melintasi meja bar ke arahnya. Chanyeol menerimanya dengan senyum penuh rasa terima kasih. “Sepertinya perasaanmu sedang baik,” komentarnya sebelum menempelkan tepi gelas ke bibirnya.

“Sepertinya aku bukan satu-satunya yang perasaannya sedang baik,” balas Baekhyun ringan.

Chanyeol mengangkat satu alisnya. Apakah perasaannya selalu tertera jelas di wajahnya?

“Aku bilang begitu karena tampangmu tampak lebih tolol dari biasanya dan lucu sekali,” tambah Baekhyun, sukses membuat sudut-sudut mulut Chanyeol yang terangkat berkedut sebal. Meski begitu, senyum masih bertengger di wajahnya.

“Perasaanku memang sedang baik,” aku Chanyeol. “Begitu baiknya sampai-sampai aku mau melakukan apa pun yang kausuruh.”

“Sungguh? Kau mau menari telanjang di tengah-tengah lantai dansa di atas?”

“Masuk akal sedikitlah.”

Baekhyun tertawa culas dan Chanyeol ngeri memikirkan bahwa Baekhyun sedang membayangkan Chanyeol yang benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Ngeri dan jijik. Mungkin ia harus mempertimbangkan ulang jika ingin kembali ke kelab ini lain kali.

“Yah, syukurnya bagimu, aku sedang tidak berselera melihat tubuh siapa-siapa. Tapi memang ada yang aku ingin kaulakukan.” Dari bawah meja konternya, Baekhyun mengeluarkan sebuah kartu undangan putih tulang dan menyodorkannya pada Chanyeol. “Pesta pernikahan Junmyeon-ie hyeong. Datang. Kau sudah absen pada pesta lajangnya, juga pemberkatan pernikahannya, dia mungkin akan memutuskan hubungan bisnisnya dengan perusahaan tololmu kalau kau tidak datang lagi ke pesta yang satu ini.”

Chanyeol meraih undangan itu dan membacanya. Sebenarnya ia sudah mendapat undangan yang sama sekitar dua minggu lalu, tapi langsung menyampingkannya karena hal-hal lain dan akhirnya melupakannya. “Sabtu malam? Itu dua hari lagi.”

“Lalu?” tanya Baekhyun acuh. “Kau bilang kau akan melakukan apa pun. Nah, angkat bokong anti-sosialmu ke sana. Aku tidak bisa pergi karena harus menggantikan shift Jongdae malam itu. Padahal aku sudah berencana datang dengan pacarku.”

Chanyeol sontak mengangkat wajah. “Kau punya pacar?” tanyanya terkejut.

Baekhyun menyeringai. “Song Ahyoung. All-Mate 911. Ingat?”

Sesuatu dalam dada Chanyeol berdenyut keras. Oh. Itu. “Ya, aku ingat.”

“Sayangnya, sekarang rencana tinggal rencana. Jadi kau, aku akan membunuhmu kalau kau tidak datang lagi dengan alasan-alasan konyol seperti sibuk atau lupa.”

“Aku akan datang,” kata Chanyeol sebelum genap berpikir.

Baekhyun mengerjap, mungkin tidak menduga akan semudah ini. “Oh? Oke. Baiklah. Bagus.”

“Ya,” Chanyeol mengiyakan. “Aku akan bertanya padanya.”

“Siapa?” tanya Baekhyun bingung, tapi Chanyeol tidak mendengarnya karena terlanjur sibuk dengan ponsel untuk menelepon seseorang.

Ryu Sena menjawab teleponnya pada dering kelima, “Apa?”

Mendengar suaranya membuat senyum Chanyeol melebar. Mereka baru bertemu kemarin malam, anehkah jika Chanyeol ingin bertemu dengannya lagi? “Hai. Sedang apa?”

“Menyikat gigi. Apa maumu?” sahut Sena dengan suara tidak jelas, dan Chanyeol membayangkannya bicara dengan sikat gigi di dalam mulut.

“Hanya ingin tahu apakah kau punya rencana hari Sabtu malam ini.”

“Tidak ada. Kenapa?”

“Seorang temanku mengadakan pesta pernikahan,” kata Chanyeol sambil memutar-mutar undangan di atas meja dengan jarinya. “Kau mau menemaniku pergi?”

Chanyeol mendengar suara sikat gigi menggosok digantikan suara air mengalir dari keran, kemudian Sena berkumur-kumur dengan berisik dan meludahkan air dari mulutnya. “Bagaimana jika aku menolak?” katanya, dan Chanyeol otomatis membayangkan aroma mint pasta gigi.

“Hmm, aku akan datang padamu dan mengemis-ngemis, atau aku akan menerobos masuk ke kamarmu dan menarikmu pergi. Sebenarnya aku tahu ke mana harus menelepon agar kau tidak bisa menolak, hanya saja aku ingin memintamu sebagai teman.”

Sena mendengus berlebihan. “Baiklah. Aku akan pergi.”

Good,” kata Chanyeol. “Oh iya, acaranya formal, jadi pakai gaun dan beriaslah yang cantik, kau mengerti, kan?”

“Tentu saja, Idiot.”

“Yah, walaupun, menurutku, kau sudah tidak perlu berusaha.”

“Menjijikan,” gumam Sena.

Chanyeol mengenyir. “Selamat malam, Sena-ya,” katanya sebelum mengakhiri panggilan.

“Apakah itu Ryu Sena yang sama dengan yang pernah kau bicarakan?” tanya Baekhyun.

Chanyeol menatapnya, lalu mengangguk.

Well, sepertinya aku ketinggalan banyak. Bagaimana hubungan kalian sekarang? Kau sudah tidur dengannya?”

Chanyeol berdecak. “Kalaupun sudah, apa kau pikir aku akan memilih membicarakannya denganmu, di antara semua orang?”

“Kau tidak bisa mengucapkan ‘semua orang’ kalau kau hanya punya satu teman yaitu aku.”

“Kau bukan temanku, kau hanya idiot.”

“Kau dan wajahmu yang suka berkedut lebih mirip idiot daripada aku.”

Chanyeol mengosongkan gelasnya dengan tampang merengut. “Isi lagi saja gelas ini,” balasnya.

Baekhyun menuang wiski dengan tampang penuh kemenangan. “Ajak dia ke sini. Aku ingin tahu seperti apa orangnya. Yah, tapi aku tidak berharap banyak, mengingat betapa payahnya kau.”

Chanyeol menghabiskan wiski keduanya. “Nanti. Akan kuajak dia ke sini nanti. Aku bertaruh kau pasti akan sangat terkejut.”

Ya, seperti, sangat sangat terkejut. Ucapkan selamat tinggal pada pacar gadunganmu, Byun Baekhyun. Karena dia milikku.

 

=to be continued=

12 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 6)

  1. aaaa andwae sehun jangan suka sama sena pleaese. btw ini chanyeol keliatannya udah mulai sadar terus terang-terangan sama si sena ya. seru seru seru. keep writing ya author nim, fighting! =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s