Chef D.O. [chapter 1]

img_2530

Title   :Chef D.O.

Author : Applexopie | Main Cast : D.O. Kyungsoo (D.O. EXO) | Oh Hani (OC/you)

Genre : Romance, Comedy

Rating : PG15

Length : Chaptered

Disclaimer : This fic real of my mind don’t claim as yours. This is just imagination

Happy reading !!^^

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Hari ini adalah hari tersibuk bagi pegawai toko Sunshine. Entah sudah berapa pegawai yang keluar dari toko dan mengendarai sepeda motor untuk mengantar pesanan kue dari pelanggan. Toko kue Sunshine adalah toko kue terbaik dan memiliki rasa yang begitu istimewa bagi setiap pelanggan yang senantiasa memesan kue disana.

“Hey..Oh Hani tolong cepat antarkan pesanan kue untuk di daerah Yanggu-Do no 3F blok B.” ujar seorang manajer pada seorang gadis bernama Oh Hani itu. Gadis itu langsung berlari kecil menuju sang atasan dengan penampilan yang acak-acakan.

“Astaga! Kau mengejutkanku. Ada apa dengan penampilanmu? Kenapa berantakan begini? Kena angin topan dimana?” ujar manajernya lagi yag hampir terjungkal ke belakang. Ia menggunakan name tag Cha Younmi. Hani yang merasa di perhatikan langsung merapihkan rambutnya yang terlihat kusut.

“Maaf. Saya baru saja mengantarkan kue pesanan pelanggan. Dia member saya deadline waktu yang sangat singkat jadi mau tidak mau saya harus mengebut di jalanan.” Jawabnya kaku sambil menunduk. Dasar.

“Kau ini benar-benar. Kalau motor perusahaan rusak bagaimana? Kau kan masih baru di sini jadi jaga perilakumu.” Hani mengangguk.

“Jadi bagaimana orderanmu tadi? Pelanggan protes tidak? Kalau kau tidak mampu memenuhi syarat, kau kan bisa menyuruh pegawai pria yang lain, mereka lebih berpengalaman. Jangan ambil resiko sendiri.” Omel Younmi sambil menulis sesuatu di buku rekapnya. Hani membungkuk sebagai permintaan maaf.

“Ya sudah, sekarang kau kuberi tugas lagi. Tolong atarkan kue ini ke alamat yang ada di kertas itu. Kertas yang warna biru ya. Jangan salah! Ini untuk kue ulang tahun ke 17. Kau bisa kan naik motor lagi? Jangan mengebut! Pelanggan ini minta diantar sekarang tapi dia tidak memberi batas waktu jadi kau bisa bergegas sebentar lagi, mengerti?”

“Iya, saya mengerti.” Hani membungkuk lagi dengan muka yang ditekuk. Kemudian berbalik.

“Ingat! Jangan salah ambil kertas. Warna biru!” tegas Younmi lagi membuat Hani membalikkan badan dan mengangguk. Oh Hani, seorang gadis kampung yang mencoba mencari pengalaman kerja di kota terelit, Seoul. Dia berasal dari Mokpo. Orang tuanya yang bekerja sebagai nelayan membuat hatinya tergerak untuk ikut membantu perekonomian keluarganya. Seperti sekarang ini, baru kemarin ia di terima di toko Sunshine untuk mengantar pesanan pelanggan. Ia belum dapat teman sekalipun di sana. Mungkin karena dia dari kalangan bawah. Hani tidak begitu mempermasalahkan hal itu, tujuan utamanya ke kota yaitu untuk membantu perekonomian keluarganya, itu saja.

Hani duduk di sebuah sofa yang berada di sudut ruangan istirahat. Kepalanya pusing rasanya membawa motor dari rumah pelanggan yang satu ke yang lainnya. Hari ini dia sudah mengantar 20 kue dan belum istirahat sama sekali. Hani memijit pelipisnya pelan, lengannya dan kakinya secara bergantian. Tak lupa meminum air satu botol yang ia beli di mini market dekat dengan toko Sunshine.

“Ayo semangat Oh Hani! Kau pasti bisa.” Ujarnya menyemangati dirinya sendiri.

“Hey..anak baru kau dapat orderan, kan? Ayo cepat antar! Manajer Cha sudah mengomel di depan. Kau ini bagaimana sih? Ayo bergegas!” ujar seorang perempuan dengan rambut pirang dengan sinis. Hani yang baru beberapa menit duduk itu langsung berdiri lagi dan membungkuk. Geraknya begitu kikuk dan panik. Ia dengan segera berlari menuju papan orderan, ada dua warna kertas di papan itu. Hani langsung mengambil dengan yakin warna apa yang manajernya sampaikan tadi.

“Baiklah…aku berangkat!”

***

“Wah Kyungsoo…kau hebat ya sekarang.”

Seorang pria dengan jas hitam itu memberi pujian kepada pria di sampingnya dengan senyum cerah. Tak lupa segelas champagne di gelas mewah di tangannya membuatnya terlihat elegan dan maskulin.

“Belum apa-apa katamu? Jika aku bersaing denganmu mungkin restaurantku tidak sampai ujung kuku jarimu, ya?”

“Hm..mungkin.”

Setelah itu mereka berdua tertawa lepas. Pria bernama Kyungsoo itu adalah seorang Chef restaurant Itali yang mereka pijaki saat ini. Dan teman yang di sampingnya adalah sahabatnya, Choi Ji Wook. Kyungsoo adalah pemilik restaurant sekaligus chef di restaurantnya sendiri. Hari ini adalah hari peresmian restaurantnya. Dimana hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya. Keluarganya menekuni bidang bisnis perusahaan sedangkan dirinya sama sekali tidak berminat untuk kearah perusahaan. Memasak dan berkutat di dapur adalah pekerjaannya. Meskipun ia laki-laki namun masakannya sangat lezat melebihi masakan para perempuan.

Kyungsoo memilih makanan bergaya Itali karena ia meyukai spaghetti. Dia membuat sebuah esperimen makanan yang mengkombinasikan masakan Korea dan Italia. Sangat kreatif dan menarik. Semua orang ramai mendatangi restaurantnya yang bertingkat dua itu. Seluruh dinding di cat dengan warna pastel, lukisan-lukisan unik ala Italia, musik jazz yang lembut, lampu mewah dengan ukuran besar menggantung di tengah restaurantnya, sungguh menakjubkan!

“Ji Wook, kapan kau akan menyusulku membuat restaurant? Aku tidak sabar ingin bersaing.” ujar Kyungsoo dengan nada bercanda.

“Hey..tenanglah. Tidak perlu terburu-buru. Waktu masih panjang. Oh ya bagaimana dengan orang tuamu?” pertanyaan Ji Wook sukses membuat Kyungsoo terpaku. Ekspresinya yang tadinya bahagia dan sumringah menjadi lenyap entah kemana. Ji Wook yang merasakan perbedaan ekspresi Kyungsoo langsung segera mengalihkan pembicaraan.

“Ah, bagaimana dengan kuenya? Kau tidak lupa memesan kue, kan?” tanyanya membuat Kyungsoo teralihkan. Kyungsoo tersenyum tipis. Syukurlah, astaga mulutku ini.

“Harusnya udah sampai. Mungkin sebentar lagi.” Kyungsoo melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Ji Wook hanya mengangguk dan bernapas lega. Seiring menunggu, Kyungsoo langsung meyambut para tamu dengan hangat. Ji Wook hanya bisa melihat sahabatnya itu dari kejauhan dengan perasaan bahagia bercampur bangga.

Waktu semakin merangkak naik, namun kue pesanan restaurant Kyungsoo belum juga tiba. Kyungsoo merasa panik dan bertanya kepada bawahannya.

“Kalian pesan kue di mana, sih? Kenapa belum datang juga? Acara sudah mau di mulai.” Kyungsoo berbicara dengan intonasi meninggi membuat bawahannya menundukkan kepala.

“Kami sudah memesan kue di toko terbaik, Chef.” Jawab salah satu dari mereka dengan lantang membuat mata Kyungsoo teralihkan padanya.

“Kalau itu adalah toko kue terbaik, bagaimana bisa mereka melakukan kesalahan di acaraku ini?! Cepat hubungi toko tersebut dan konfirmasi keberadaan kuenya!”

***

“Sial!”

Hani mengumpat karena dalam misi antar barangnya malah terjadi kemacetan. Hani berusaha menyelip motornya dari mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Hani terus menerus melihat jam tangannya, ia takut terlambat dan menimbulkan masalah bagi dirinya maupun tempat dia bekerja.

Ketika sudah tiga puluh menit, akhirnya ia berhasil bebas dari kemacetan dengan modal menyelip. Entahlah dia belajar darimana mungkin ia sering melihat pertandingan moto GP yang tak sengaja ia tonton di TV yang ada di pos satpam waktu ia masih SMA dulu. Sudahlah itu sama sekali tidak penting.

Hani dengan bergegas menuju alamat tujuannya dengan pasti dan bahagia. Tak lama kemudian motornya tiba di sebuah bangunan yang mewah. Mulutnya ternganga sekaligus mengucapkan kalimat kagum seperti astaga! Aku bermimpi, kan? Ini rumah atau apa? Aku merasa bukan di Korea tetapi di negara asing.

            Setelah dibuat kagum oleh interior luarnya, seseorang berjalan kearahnya.

“Maaf, ada yang bisa dibantu?”

Ternyata adalah seorang satpam. Hani langsung turun dari motor dan melepas helmnya sambil tersenyum ramah.

“Saya dari toko kue Sunshine, mau mengantar kue. Saya harus lewat mana, ya?” tanyanya dengan sopan dan seketika ekspresi satpam itu langsung berubah.

“Astaga. Chef sudah sangat panik. Ya sudah, ayo lewat sini. Cepat, ya.” Ujar satpam itu mendesak Hani untuk bergerak lebih cepat, otomatis Hani hanya bisa mengikutinya saja. Chef katanya? Apa maksudnya?

Satpam itu langsung menunjukkan pintu belakang restaurant dan seketika para pegawai berpakaian putih-putih langsung menghampiri Hani dengan eskpresi yang sama seperti satpam tadi.

“Astaga pelayan toko Anda sangat buruk. Bagaimana bisa mengantar kue saja terlambat?” tanya seorang pria dengan celemek bertuliskan Amare (bahasa Italia dari cinta). Hani langsung menyerahkan bingkisan kue itu kepada salah satu dari mereka dengan hati-hati.

“Maaf, maafkan saya. Tadi di jalan ada kemacetan sehingga saya terhambat untuk datang ke sini.”

“Sebentar, Anda yakin ini kue pesanan kami?”

Pertanyaan itu sukses membuat Hani terheran. Ia dengan segera mengeluarkan kertas berwarna merah muda dan membacanya perlahan.

“Benar kok. Ini Yanggu-Do no 3F blok D, kan?”

***

Hani menundukkan kepalanya dalam, dia sekarang sedang berada di dalam ruangan yang entah apa nama ruangannya. Jemari tangannya terus-menerus bergetar menandakan bahwa dia benar-benar takut dan gugup. Astaga. Bagaimana ini? Ibu, Ayah tolonglah putrimu ini!

“Kau ini sungguh hebat ya, Nona.” Ujar seorang pria yang jaraknya tidak jauh dari Hani. Ekspresinya sangat sarkatis dan ia terus menerus memijit pelipisnya. Kakinya terus menerus dihentakkan di lantai dan sesekali melirik jam tangan.

“Bagaimana bisa stafku memesan kue di toko yang sama sekali tidak bermutu dan memiliki pegawai yang payah? Di hari bersejarahku ini, awal karierku, awal titik kesuksesanku. Mengesankan sekali.” Pria itu terus menerus berbicara sambil menatap langit-langit atap. Apa yang dilihatnya?

Mendengar ucapan pria itu, Hani merasa direndahkan. Bagaimanapun dia juga manusia, kan? Apa manusia tidak pernah melakukan kesalahan?

“Maaf sebelumnya, ucapan Anda sangat kasar. Saya kan sudah minta maaf dan sebagai gantinya—“

“Kau mau mengganti kerugianku dengan apa? Kerjamu saja tak becus! Apa yang kau banggakan? Dasar perempuan kampung!”

Hani menatap pria itu dengan tajam. Dasar sampah. Terbuat dari apa mulutnya itu? Kenapa tiap kata yang dia ucapkan begitu kasar? Aku ini manusia, tahu. Belum sempat Hani membalas, seseorang mengetuk pintu dan timbulah seorang perempuan dengan wajah gusar dan memerah. Cha Younmi—itulah nametag di pakaiannya.

“Sebelumnya saya sangat meminta maaf atas kelakuan dan sikap pegawai saya yang sangat teledor dan tidak disiplin.” Kata Younmi, manajer Hani sambil membungkukkan badan. Kyungsoo mendesis. Ya tentu saja pria itu Kyungsoo. Siapa lagi pemilik sekaligus chef di restaurant Itali-Korea itu?

“Apa dengan maaf bisa mengembalikan suasana acara ini? Anda tahu seberapa pentingnya acara ini demi restaurant saya?” Younmi menunduk sebagai jawaban ketidaktahuannya kemudian melirik Hani dengan tatapan Apa yang sudah kau lakukan, perempuan tengik? Oh Hani, kau dipecat!

            Younmi menggeleng lemah. Reputasi toko kuenya bisa hancur kalau Hani masih menjadi pegawainya. Kyungsoo mendesis. Kemudian berdiri dari kursi dengan angkuh. Kyungsoo melirik penampilan Hani dari ujung rambut sampai kaki. Benar-benar perempuan kampung.

“Saya minta tiga puluh juta won sebagai ganti rugi.”

“Apa?”

Younmi dan Hani mengucapkan dengan bersamaan. Tiga  puluh ju-juta won katanya? Kenapa dia seenak jidad saja menyebutkan nominal uang seperti menelan biji semangka?

            “Tapi Tuan..bagaimana?”

“Saya tidak mau tahu. Nominal itu harus sudah ada besok di tangan saya. Saya tidak pernah main-main dengan perkataan saya. Manajer Kwon, tolong bersihkan mereka dari ruangan saya!”

***

Setelah diusir dengan tidak terhormat oleh pegawai restaurant itu, kini emosi Cha Younmi semakin membuncah. Bahkan emosinya sudah melewati ambang batas.

“Hey! Sebenarnya apa isi otakmu? Aku kan sudah bilang ambil kertas berwarna merah muda. MERAH MUDA. Apa kau buta warna?”suaranya begitu melengking membuat Hani menutup kedua telinganya dengan kepala menunduk. Beberapa orang yang lalu lalang melihat keduanya dengan tatapan aneh. Sial sekali.

“S..saya minta maaf, Manajer Cha.” Hani mengucapkan dengan begitu lemas nyaris kedua kakinya terjatuh ke lantai. Manajer Cha memandang rendah Hani sambil menyebut berbagai sumpah serapah.

“Maaf katamu? Bisa-bisanya kata maaf keluar dari mulutmu saat ini hah? Apa dengan kata ‘maaf’ bisa mengeluarkan uang tiga puluh juta won?? Aku tanya padamu apakah bisa perempuan tengik?!”

Hani menggeleng lemah. Iya ini memang kesalahannya, tetapi tetap saja. Bagaimana bisa hanya masalah salah pengiriman kue saja meminta ganti rugi sebesar tiga puluh juta won? Sulit dipercaya. Ditambah lagi dengan realita yang ada. Hani baru saja mempijaki Seoul beberapa hari yang lalu, mendapat pekerjaan, dan tak lama kemudian dia akan dipecat??

Baru saja ia merasa bersyukur karena telah mendapat pekerjaan, Hani berharap semoga pekerjaan ini bisa membawa dampak positif untuk perekonomian keluarganya. Namun sayang nasib tidak berpihak padanya. Hani merutukki diri sendiri.

Manajer Younmi mengeratkan blazer berwarna coklat mudanya itu dengan sekali hentakan. Sorotan matanya begitu menusuk sehingga Hani tidak berani menatap matanya langsung. Urat-urat lehernya begitu tegang. Dia sungguh berapi-api.

“Mulai detik ini kau, Oh Hani resmi dipecat dari Bakery Sunshine!”

 

TBC

Haihai ini adalah FF kedua setelah ff ‘Its Okay Even If Its Hurt’.

Sebenarnya ini ff untuk ultahnya D.O. januari lalu tapi berhubungan ada halangan jadi tidak dilanjutkan. Tapi Alhamdulillah dapat Ilham lagi buat lanjutin. Butuh saran dan kritik bila ada.

Salam hangat,

Applexopie.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s