THE DARK AGENT (Chapter 1)

img_2532

Title : THE DARK AGENT ‘if i stay’ (1)

Author : @Aqilua

Cast : Kim Jongin, Lee Sarang (OC)

Genre : Romance, Marriage life, Action.

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Disclaimer : This story based from author’s mind. I have not own the characters. Jangan copas seenak jidat tanpa ada ijin.

Personal Blog :

https://freewordpresscomdomain460.wordpress.com

 

×××

Loving can hurt sometimes. But it’s the only thing that I know. When it gets hard. You know it can get hard sometimes. It is the only thing that makes us feel alive Ed Sheeran ‘Photograph’

.

THE DARK AGENT #1#

||Life is about giving. If you want to be happy fill a hole in the hearts of others||

 

Lee Sarang POV

Jam berapa ini?

11? 12? Entahlah.

Aku berjalan sedikit gontai menyusuri jalanan yang putih karena tertutupi salju. Benar, sekarang musim dingin dan aku baru saja pulang lembur, ‘lagi’. Lelah dan mengantuk semua perasaan itu bercampur jadi satu. Berprofesi sebagai seorang dokter memang banyak tuntutan tetapi aku menikmatinya karena itu cita-citaku sedari kecil dan lagipula aku memang senang menolong orang-orang. Bagiku melihat orang lain tersenyum benar-benar memberikan suatu kelegaan, yah.. terdengar naif memang, tapi sungguh aku berkata jujur .

Dan sebenarnya sudah semenjak tadi aku merasa bingung. Kenapa jalanan menjadi sesunyi ini? Aku biasa pulang di atas jam 11 malam karena lembur dan seingatku jalanan tidak menjadi semencekam ini. Apa karena suhu? Ku akui suhu di Seoul malam ini memang sedikit berbeda, sedikit lebih menyengat sampai-sampai sarung tangan tebal yang ku gunakan serasa tak berguna. Tanganku tetap terasa beku.

Heningnya suasana malam beserta suhunya juga cukup sukses mempengaruhi mentalku secara tidak langsung. Pada dasarnya aku bukan seorang gadis penakut. Hanya saja suasana yang seperti ini membuatku jadi sedikit merasa paranoid. Entah sudah terhitung berapa kali aku terus menoleh was-was ke arah belakang merasa seperti ada yang membuntutiku. Ah, ani! hanya perasaanku saja mungkin. Aku memilih untuk bersenandung kecil guna mengalihkan perasaan takut itu sambil mempercepat kedua langkah kakiku menyusuri jalanan bersalju ini. Mungkin sekitar 70 meter lagi aku sampai di flat, tetapi kenapa jadi terasa jauh begini? Baiklah, ini akibatnya memiliki tubuh yang pendek, langkah kaki yang kau milikipun akan lebih kecil ketimbang—

“ARGHH!”

Suara jeritan. Seketika aku tecekat di posisi dengan detak jantung yang meningkat dua kali lipat dari yang sebelumnya. Aku ingin lari, tetapi entah mengapa kakiku jadi terasa berat begini sehingga aku hanya bisa tetap diam di posisi sambil menajamkan indera pendengaranku dengan lebih seksama.

“T-Tolong! L-Lepas.. kan.”

Ini.. suara berat khas laki-laki dan ia.. minta tolong? Rasa takut yang sempatku rasakan tadi seketika menguap digantikan dengan rasa penasaran yang begitu besar. Aku menolehkan kaku kepalaku ke kiri menatap pada gang sempit yang hanya diterangi oleh sebuah cahaya lampu kuning yang temaram. Aku yakin suara itu berasal dari sana.

Gila, seharusnya aku lari dan bukan malah menghampiri sumber suara tersebut! Yah, kau memang gila Sarang! Tetapi aku benar-benar tidak bisa melawan rasa penasaran ini. Bagaimana jika orang itu benar-benar membutuhkan pertolongan? Bagaimana jika ada orang yang sedang terluka atau bahkan sekarat di sana? Perlahan tapi pasti aku melangkah lebih dalam menuju gang tersebut. Detak jantungku benar-benar semakin menggila saat hazelku dapat menangkap adanya sekitar tiga sosok tinggi itu dari ke jauhan. Langkah kakiku pun seketika terhenti di tempat, ketika mataku sudah dapat menangkap dengan cukup jelas pemandangan apa yang ada di hadapanku saat ini. Aku sampai-sampai menutup mulutku dengan satu tangan akibat saking terkejutnya.

Seorang pria berpakaian jas lengkap berumur sekitar 40 tahunan dengan kondisi babak belur diapit pada tembok sambil dicekik dengan tidak manusiawi oleh seorang pria, sementara satu pria sisanya hanya berdiri santai menjadi penonton. Pria paruh baya itu tampak benar-benar mengenaskan dan berulang kali aku dapat mendengar suara batuknya yang terdengar menyakitkan di telingaku.

“Apa yang kalian lakukan!”

                Hell, benar-benar cari mati.Sungguh aku tidak sengaja mengucapkan kalimat itu, ini semua refleks di luar kendali. Aku benar-benar kasihan melihat pria paruh baya itu, ia terlihat begitu sekarat dan bisa mati kapan saja jika terus dibiarkan. Mendengar seruanku tadi mereka semua menoleh, ke arahku lebih tepatnya. Sementara aku hanya bisa mematung seperti orang bodoh dengan degup jantung yang kelewat menggila. Mencoba menjadi pahlawan kesiangan, ‘huh? I have nothing skill for this situation. Aku tidak punya pengalaman apapun dalam berkelahi dan mari kita lihat apa kau masih dalam keadaan bernyawa setelah keluar dari kandang singa ini Lee Sarang.

Aku mengulurkan tangan secara perlahan menuju kantong celana jeansku, memegang ponsel. Berjaga-jaga untuk segera menekan tombol darurat dan menghubungi polisi tentu saja. Salah seorang pria tinggi itu mendekat ke arahku, sehingga sukses membuatku tercekat menahan nafas sambil berkeringat dingin.

“Aku akan menghubungi polisi jika kalian berani macam-macam!”

Pria itu berhenti melangkah, sekitar dua meter dari hadapanku. Aku masih belum bisa melihat wajah pria tinggi itu dengan cukup jelas karena pecahayaan lampu jalan yang buruk. Lalu sedetik kemudian ku dengar ia tertawa, sialan. Aku merinding. Suara tawanya terdengar seperti nyanyian kematian bagiku.

“Cepat lepaskan p-pria itu!” Seruku kembali. Bagus, bahkan suaraku sudah terdengar gemetar. Pura-pura berani sangat menyiksa rupanya. Saat pria itu hendak kembali melangkah mendekat ke arahku, sebuah suara baritone berucap datar tanpa intonasi menginterupsi pergerakanya. “Hentikan Baek. Kau urusi pria ini.”

Pria itu—yang baru saja bersuara tadi melepaskan cekikanya dari leher pria paruh baya tersebut, sehingga membuat pria itu seketika jatuh terduduk di tanah sambil terbatuk keras memegangi lehernya. Bagus, pria itu sudah bebas dan sekarang giliranku. Apa pria ini akan mencekiku juga? Atau bahkan membunuhku? Memikirkan kemungkinan tersebut kerongkonganku seketika tersendat, aku kesulitan menelan salivaku sendiri.

Tanpa ada rasa ragu sedikitpun pria tinggi itu berjalan santai ke arahku dengan aura intimidasi yang sangat kuat, melebihi dari si pria yang satu tadi. Aku bahkan merasa seperti seekor semut kecil di hadapanya. Cepat-cepat aku mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana jeansku, kembali berseru dengan suara setengah lantang namun bergetar. “B-Berhenti! Berani mendekat lebih dari itu aku akan menghubungi polisi! A-Aku serius!”

Pria itu samasekali tidak mengindahkan ancamanku, ia tetap berjalan mendekat. Seingatku, aku baru saja mencoba untuk membuka pola kunci sialan ini di ponselku, tetapi sebuah tangan besar terlebih dulu menyambar benda persegi itu dari dalam genggamanku.

Aku hanya bisa tercekat di posisi lalu dengan segenap keberanian yang masih tersisa aku mengangkat kaku wajahku menatapnya. Benar saja, pria tinggi itu sudah berdiri tepat di hadapanku. Tubuhnya beraroma maskulin khas parfum mahal. Aku bahkan bisa melihat wajahnya dengan jelas karena jarak kami yang tergolong cukup dekat. Bisaku perkirakan pria ini berumur sekitar 22 tahunan. Ia memiliki rambut beserta manik mata berwarna hitam pekat dengan pembawaan wajah yang terkesan tenang. Matanya cukup besar untuk seorang Korea, alisnya cukup tebal, hidungnya tidak terlalu mancung tetapi tidak juga terlalu pesek, berbibir penuh, dan rahang tegas. Baiklah, aku sudah merekamnya dengan sangat baik pada otaku. Setidaknya jika terjadi sesuatu padaku, aku sudah mengingat ciri-ciri pria ini dengan baik.

“Hanya seorang bocah rupanya.” Ucapnya dengan suara barintone yang rendah.

                ‘Bocah?! Ya! Usiaku 20 tahun dan aku bukan bocah!’ Kalimat itulah yang ingin ku katakan padanya barusan, tetapi mulutku terlalu kelu untuk bicara. Pernafasanku bahkan menjadi tidak lancar. Mungkin karena tinggiku yang hanya sebatas dada bidangnya itu ia jadi menganggapku seorang bocah? Ya! Bagaimana bisa aku mempermasalahkan tentang tinggi badan disaat genting seperti ini.

Lagipula aku tidak tau apa yang harusku lakukan. Apa aku harus menampar wajahnya? Menendang selangkanganya? Meludahinya? Mencakarnya? Atau menjambak rambut hitamnya? Jangan kan untuk melakukan itu, bergerak saja aku tidak bisa. Tubuhku kaku dan dingin seperti es. Sejak tadi aku hanya bisa diam membisu masih dalam keadaan mendongkak, menatap tegang ke arah manik kelam pria itu.

“Bocah sepertimu tidak seharusnya berkeliaran saat tengah malam. Kau lebih baik pulang dan kembali ke rumah.” Tuturnya ringan, kemudian kulihat ia berbalik.Apa ia.. membebaskanku? dan aku pun menemukan jawabanya. Pria tinggi dalam posisi memunggungiku itu mengambil sesuatu dari dalam jaket hitamnya lalu ia kembali berbalik menatapku tenang. Jujur saja, sikap tenang yang ditunjukan oleh pria ini benar-benar membuatku merinding dan ketakutan setengah mati. Orang semacam ini biasanya isi hatinya sangat sulit untuk ditebak.

“Seharusnya aku membunuhmu karena kau sudah melihat semuanya.But, let’s just say this is your lucky.

Aku shock mendengar penuturanya yang blak-blakan ingin membunuhku, tetapi aku sontak tersadar akibat adanya sebuah tangan besar. Pria itu membekapku mulut dan hidungku sangat kuat dengan sebuah sapu tangan sehingga aku yang panik akibat perlakuanya itu memekik berusaha melepaskan diri sambil menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak tau itu adalah tindakan yang salah karena seketika aku dapat mencium aroma kimia yang sangat menyengat menusuk indera penciumanku. Aroma chloroform. Mendadak kepalaku pusing dan pendanganku berubah menjadi gelap seketika.

End POV

×××

Beranggontakan delapan orang dan dinaungi oleh seorang pria berkebangsaan Korea berumur 50 tahunan, Ban Hyunsuk. Ia menyebut delapan orang itu sebagai ‘anak asuh’, empat orang pria dan empat orang wanita. Ban Hyunsuk lah yang memilih mereka dari sebuah panti asuhan terpisah dan merawat mereka sedari kecil hingga tumbuh dewasa seperti sekarang. IQ tinggi, cerdas dan pandai, ia tidak sembarangan memilih anak asuhnya. Walaupun pria paruh baya dengan rambut yang memutih sebagian itu sangat mudah untuk tersenyum, Hyunsuk merupakan pribadi yang keras dan tak kenal ampun. Ia mewariskan bakatnya kepada seluruh anak didiknya. Menggunakan senjata, analisa teknologi, laboratorium, membaca jejak serta menghilangkanya,bela diri dan bahkan sampai dengan membunuh.

Mereka hanya dark agent yang bergerak jika ada perintah dan mereka terbiasa menerima job-job gelap dari para petinggi negara, menteri, politisi, kalangan artis serta penguasa dari berbagai perusahaan raksasa. Kebanyakan dari mereka meminta untuk lawanya dilenyapkan agar tidak menghalangi jalanya permainan dan di situlah para anak didik Hyunsuk ini berkerja. Membunuh atau tidak tergantung dari permintaan. Tidak heran pekerjaan penuh resiko ini memiliki tarif yang terbilang setimpal dengan konsekuensi yang mereka terima. Sementara markas yang menjadi tempat tinggal mereka adalah sebuah villa mewah yang terletak di perbatasan Ceong-Guk, daerah yang cukup terpencil dan jauh dari pusat keramaian.

Xi Luhan, Byun Baekhyun, Oh Sehun dan Kim Jongin yang dikenal sebagai Kai. Sementara anak didik perempuanya Mei ling, Song Jihoo, Bae Minah dan Ahn Eunbi. Mereka memiliki panggilan khusus bagi ayah asuh kesayangan mereka yaitu dad. Ban Hyunsuk benar-benar sudah menjadi sosok orang tua kandung bagi mereka semua dan sebagai tanda bukti rasa terimakasih karena sudah merawat mereka dengan baik sedari kecil, mereka sungguh-sungguh mengabdi pada pria tersebut.

Baekhyun dan Kai baru saja pulang usai menunaikan misinya malam ini. Sebenarnya tidak seratus persen tuntas karena pria yang menjadi pusat target mereka kali ini berhasil kabur. Tetapi setidaknya mereka cukup memberikan sebuah pelajaran bagi pria pemimpin perusahaan tambang tersebut, setidaknya ia sudah pasti berada di rumah sakit saat ini.

It’s clear?”

Tanya Luhan yang baru saja usai menutup pintu. Baekhyun mendesah panjang. “Hampir.” Jawabnya ringan.

“Hampir?” Ulang Luhan membeo. Pria itu berdiri santai membelakangi pintu sambil melipat kedua tanganya di depan dada. Apa Baekhyun dan Kai gagal menuntaskan misinya? Ayolah, membunuh bukan lah hal yang sulit bagi kedua orang ini, apalagi dengan adanya Kai.

“Tanyakan saja padanya.” Baekhyun menunujuk malas dengan arah dagunya kepada sosok yang dimaksudkan. Tampak pria berkulit tan itu hanya sibuk dengan PSP ditanganya sambil tidur dengan posisi setengah terlentang pada sofa. “Kalian tidak membunuhnya?” Pertanyaan itu lolos lagi dari mulut Luhan yang mana lebih ia tujukan pada Kai. Dengan berat hati pria itu menekan tombol pause pada layar PSPnya lalu menatap tanpa minat ke arah Luhan. “Pria tua itu sedikit beruntung.”

Baekhyun menimpali. “Hhh tentu saja si tua itu beruntung, ia dapat kabur dengan mudah. Sudahku katakana padamu untuk melenyapkan gadis kecil itu terlebih dulu tapi kau malah melepaskanya. Ah, kau bahkan mengantarnya pulang ke rumah.”

“Aku sudah menyuruhmu untuk mengawasi si tua itu. Salahmu jika ia kabur.”

Mwo? Ya! Ku kira kau sudah cukup kuat untuk menghajarnya sehingga ia tidak berkutik lagi.”

“Kau sudah teledor jika begitu.”

Tck melemparkan kesalahan pada orang lain. Kau saja yang tidak becus.” Sergah Baekhyun pedas. Kai membanting kasar PSPnya di atas meja lalu menatap Baekhyun dengan datar namun penuh intimidasi. Well, walaupun Baekhyun bermulut pedas tetapi ia memang tidak sungguh-sungguh berani menghadapi Kai sehingga pria itu berdeham tak nyaman setelahnya. “Okay.. ku akui aku juga sedikit teledor tadinya.”

Luhan jadi menghela nafas panjang memperhatikan perdebatan keduanya. Ketika ia ingin membuka suara untuk menengahi, tiba-tiba pintu di belakangnya itu membuka secara perlahan. “Ternyata kalian di sini.” Mei Ling, wanita cantik asal negeri China itu tersenyum manis apalagi ketika ia juga mendapati kehadiran partnernya, Luhan di tempat itu. “Dad meminta kita untuk berkumpul di ruang tengah sekarang.”

×××

Inilah yang akan mereka lakukan selepas satu di antara mereka selesai menjalankan misi. Hyunsuk akan mengumpulkan seluruh anak didiknya untuk berunding. Masing-masing dari mereka sudah duduk bersama dengan partner atau pasangan mereka masing-masing menghadap pada sebuah meja bundar. Baiklah, partner yang dimaksudkan di sini mungkin bisa disebut seperti kekasih bukan seperti partner dalam suatu hal perkerjaan. Dibesarkan bersama-sama dalam satu ruang lingkup tentu saja dapat menumbuhkan suatu perasaan khusus terhadap lawan jenisnya bukan? Karena mereka pun masih manusia biasa. Luhan dan Ling duduk bersebelahan, begitu pula dengan Baekhyun dan Minah. Sementara Kai bersama dengan Eunbi. Sehun dan Jisoo sendiri masih berada di Macau menjalankan misinya.

“Aku sudah mendengar semuanya.” Hyunsuk buka suara sambil tersenyum yang mau tak mau membuat Baekhyun langsung menegang di bangkunya. Jangan tertipu dengan senyumanya. Ia paham betul jika pria tua itu samasekali tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apapun. Sementara gejolak batin yang dialami oleh Baekhyun sangat berbanding terbalik pada Kai. Pria itu tetap tenang. Tidak ada suatu ekspresi yang berarti terlukis pada wajah pria rupawan itu bahkan Eunbi yang sudah semenjak tadi mengusap lembut punggung tanganya pun ia acuhkan.

“Aku anggap misi ini selesai karena Tuan Kang menarik ucapanya. Ia hanya meminta untuk memberi Taewon pelajaran, bukan membunuhnya. Jadi kalian beruntung.”

Tanpa sadar Baekhyun mendesah lega. Ia tidak harus menerima cambukan mengerikan itu setidaknya. Itu adalah kesepakatan bersama. Jika ada satu dari mereka yang gagal menuntaskan misi hukumanya adalah menerima sebuah cambukan yang diberikan masing-masing satu dari setiap anggota termasuk Hyunsuk. Jadi, total cambuk yang diterima adalah delapan cambukan, entah itu pria ataupun wanita semua sama saja.

“Daripada itu, aku memiliki sebuah misi baru.”

Seluruh mata dan telinga di tempat itu mulai memfokuskan dirinya masing-masing ketika mendengar penuturan Hyunsuk. “Larry Ellison, aku yakin kalian mengenalnya.”

Ah, pemilik perusahan komunikasi asal Spanyol itu? Ku dengar ia termasuk ke dalam daftar orang terkaya di dunia versi majalah forbes.” Komentar Ling. Hyunsuk tersenyum sambil menegakan posisi duduknya. “Ia baru saja menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan asal Norwegia, mungkin hampir senilai seratus trilliyun dollar.”

“Lalu?” Tanya Minah tak sabaran.“ Ia meminta kita untuk melindungi anaknya.” Terang Hyunsuk. Baekhyun pun terbelalak. “Mwo?! Anak? Dari berita yang ku dengar pria yang pernah menikah sampai dua kali itu tidak memiliki anak sampai dengan saat ini.”

Stupid.” Cibir Kai. “Jika ia berkoar-koar mengatakan ia memiliki anak, tentu saja itu akan menjadi sasaran empuk bagipara pesaing bisnisnya.” Timpalnya untuk kalimat Baekhyun dan pria berkulit tan itu benar-benar tau caranya memancing emosi seseorang melalui kalimat tajamnya. Namun untungnya Baekhyun sendiri lebih memilih untuk mengalah, ia hanya mendengus menanggapi Kai.

“Kali ini Spanyol ‘ya? It’s so far place.” Luhan mendesah panjang. Eunbi yang sejak tadi mengerutkan kening akhirnya tak tahan untuk tidak bersuara. “Dad, tidakah mereka memiliki bodyguard terlatih di sana? Lagipula Spanyol rute yang cukup jauh.” Protesnya. Hyunsuk menggeleng singkat tanda tidak mengiyakan pendapat Eunbi. “Putri Larry Ellison berada di Korea.”

What?!” Ketiga wanita cantik itu memekik secara bersamaan. Luhan mengerutkan dahinya, Baekhyun terganga sementara Kai hanya menaikan sebelah alisnya. Terlihat Hyunsuk meraih amplop coklatyang ada di dekatnya. Ia mengeluarkan sebuah lembar foto dari dalam amplop coklat tersebut lalu meletakan isinya di atas meja.

“Namanya Jeany Ellison. Berdarah campuran Korea-Spanyol.Usianya 20 tahun. Ia melarikan diri dari orang tuanya dan memilih tinggal seorang diri di Korea tiga tahun yang lalu. Ia mengubah akte, ijasah dan juga namanya menjadi Lee Sarang. Berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir di universitas Seoul jurusan ilmu kedokteran.”

“She’s damn cute!” Komentar Luhan jujur saat melihat gadis yang ada di dalam foto tersebut. Seketika ia mendapat sikuan tajam dari Ling. Luhan hanya terkekeh pelan melihat sikap jelous yang ditunjukan oleh partnernya itu. “Eih, tapi kau tetap yang terbaik honey.” Pujinya sambil mengecup singkat pipi kiri Ling.

“Kalian benar-benar membuatku mual.” Gerutu Baekhyun yang jengah melihat kemesraan dua insan di hadapanya itu. Ia bergerak merampas foto tersebut dari genggaman Luhan kemudian memperhartikanya dengan seksama. Gadis di foto ini.. kenapa wajahnya tidak terlihat asing? Baekhyun mengernyit dalam sambil coba mengingat-ingatnya kembali. “Wae? Kenapa kau melihat fotonya sampai seperti itu.” Tanya Minah menatap Baekhyun penuh dengan raut curiga. “Aniya.. bukan begitu, gadis ini sepertinya tidak asing.”

Eunbi yang tak kalah penasaran pun menarik foto itu dari tangan Baekhyun laludetik kemudian ia memperlihatkan tampang meremehkan miliknya. “Hanya seorang gadis manja sepertinya.” Komentarnya santai lalu meletakan foto itu dengan tidak berminat di atas meja. Fokus Kai pun teralih secara otomatis, ia memandang selembar foto yang tak jauh dari jangkauan matanya itu dengan tatapan datar. Gadis dalam foto itu memiliki rambut coklat tua sepunggung, berkulit pucat, mata besar dengan lensa berwarna hazel, pipi yang sedikit chubby,hidung dan bibir yang mungil. Memori di otaknya dengan cepat berkerja untuk mengingatnya kembali dan benar saja Kai masih mengingatnya dengan baik.

AH! Aku mengingatnya sekarang!” Timpal Baekhyun menarik perhatian. ”Aku dan Kai bertemu dengan gadis di foto ini barusan.” Sontak hampir seluruh mata di tempat itu menatap Baekhyun dengan raut wajah yang meminta penjelasan. “Hanya kebetulan ‘sih.” Tambah Baekhyun seadanya.

“Baiklah, ku pikir itu lebih bagus, kalian sudah pernah bertemu. Setidaknya itu akan mempermudah misi kali ini bukan?” Luhan menimpalinya dengan nada santai.

“Akanku jelaskan aturanya.” Kali ini Hyunsuk, pria berumur setengah abad ituyang bersuara. “Di sini aku hanya akan menugaskan satu orang. Siapa pun yang menjalankan misi ini,ia masih memiliki kewajiban untuk menjalankan misi yang lainya dan perlu untuk kalian ketahui, ini bukan sekedar menjadi seorang bodyguard biasa seperti yang kalian pikirkan.”

Mwo?! Bukan bodyguard, lalu?” Tanya Ling penasaran. Bukankah melindungi seseorang adalah tugas bodyguard? Hyunsuk menanggapi pertanyaan anak didiknya dengan sebuah senyuman membuat kerutan di wajahnya semakin terlihat kentara. “Klien kita menginginkan anaknya untuk diproteksi secara penuh di mana pun berada. Ia ingin anaknya terikat dengan seseorang yang benar-benar bisa menjaganya.”

Susasana berubah hening, mungkin beberapa dari mereka sibuk untuk berpikir guna menerka-nerka sebuah kemungkinan atau bahkan ada yang benar-benar tidak perduli samasekali seperti layaknya Kai, sampai suatu ketika suara lembut Minah lah lebih dulu terdengar memecah keadaan. “Terikat? Wait! apa maksudnya itu dad?” Hyunsuk memberi jeda lalu mengutarakan jawabanya dengan kalimat yang terdengar santai dan ringan.

“Larry Ellison ingin anaknya menikah.”

Semua terpanjat. Terlalu shock dan kaget, tentu saja. Kecuali Kai si pria yang miskin ekspresi satu itu. Tentu saja misi macam ini ditujukan pada laki-laki, ya satu di antara mereka. Satu di antara keempat laki-laki itu harus menikah. Membayangkan kemungkinan bahwa yang akan menjalani misi ini adalah Kai benar-benar membuat Eunbi gelisah dan tak tenang hati, segera saja ia melayangkan protesnya pada Hyunsuk. “Dad! Kami semua sudah memiliki partner di sini! Bagaimana mungkin dad tega melakukan ini kepada kami?! Lagipula bodyguard saja sudah cukup! Jika ia menginginkan anaknya untuk diproteksi secara penuh kita bisa berjaga selama 24 jam.”

Tepat sesuai dengan prediksinya. Hyunsuk tau betul bahwa anak didiknya yang satu ini akan terlebih dulu menentang. Pria berumur setengah abad itu menatap Eunbi dengan tatapan datar dan tenang miliknya, memberi peringatan. “Batasi urusan pribadi dan pekerjaan, sudahku katakan berulang kali itu pada kalian semua. Ini permintaan klien dan aku tidak menerima protes apapun.” Kemudian Hyunsuk merubah fokus matanya menatap kepada salah seorang anak didiknya.

“Kim Jongin.” Panggilnya kemudian, yang di panggil pun terlihat menoleh dengan gerakan ringan. “Aku mempercayakan misi ini padamu.”

Semuanya terbelalak, tak terkecuali Eunbi. Wanita itu bahkan menampilkan ekspresi yang tak mampu dideskripsikan dengan kata-kata menatap Hyunsuk. “Hell! Aku keberatan! Kai adalah partnerku. Dad tidak berhak melakukanya!” Larangnya keras. Nafas wanita cantik itu bahkan terdengar menderu akibat saking menahan luapan emosi di hatinya. Hyunsuk memandang datar ke arah Eunbi kemudian ia berucap dengan sebuah kalimat tajam. “Apa baru saja kau membentaku Ahn Eunbi.”

Rahang Eunbi mengeras, kedua matanya berkaca. Ia tidak pernah memberontak pada Hyunsuk sampai sejauh ini, ia sangat menghormati pria tua yang satu itu. Tapi kali ini berbeda. Jika saja semua hal ini tidak menyangkut pautkan pria yang amat dicintainya itu, mana mungkin ia bisa lepas kontrol sampai dengan sejauh ini. Tidak ingin memperpanjang masalah yang ada, Eunbi memilih untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut masih dengan perasaan geram. Ia melimpahkan kekesalanya dengan menutup kencang pintu di ruangan itu.

“Eunbi ya! Wait!” Panggil Minah setengah berteriak. Partner Baekhyun itupun memilih untuk menyusul kepergian Eunbi begitu pula dengan Ling yang menampilkan raut wajah khawatirnya. “Y-Ya! Kalian bertiga mau ke mana?!” Baekhyun berseru tak kalah panik sehingga ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu menyusul ketiganya.

Sekarang hanya tinggal tersisa Luhan, Kai dan Hyunsuk. Suara helaan nafas panjang pun terdengar, Hyunsuk membawa punggungnya untuk bersandar pada kursi, matanya menerawang pada langit-langit plafon di atasnya. “Aku harap kau menjalani misi ini dengan baik Kai.” Pintanya penuh harap. Obsidian hitam itupun menatap Hyunsuk dengan datar, seperti biasa. “Aku mengerti.” Jawabnya singkat.

“Bagus aku senang mendengarnya.” Sudut bibir pria tua itupun tertarik kecil menandakan kepuasan. “Kau bisa membaca profil lengkap gadis itu di belakang foto dan besok, besok aku ingin bicara beberapa hal dengan gadis itu. Kau bisa memilih Baekhyun atau Luhan untuk membantumu membawanya kemari.”

“Tidak perlu. Aku bisa melakukanya dengan caraku sendiri.”

“Baiklah..ku harap caramu tidak sampai menyakitinya.”

Tanpa menjawab, pria berkulit tan itu pun kemudian bangkit dari duduknya hendak beranjak pergi dari ruangan tersebut sampai suara Hyunsuk kembali terdengar menguterupsi langkah kakinya. “Kai.” Panggilnya. yang dipanggil hanya diam tidak menoleh, mematung di hadapan pintu. Hyunsuk melanjutkan kalimatnya. “Temuilah Eunbi setelah ini, bicaralah baik-baik padanya.”

“Ku rasa semuanya jelas. Tidak ada hal yang perlu untuk dibicarakan lagi. ”Ucap Kai ringan. Ia terlihat keluar dari ruangan itu tanpa ada suatu jejak ekspresi apapun di wajahnya. Hyunsuk hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap dingin anak didiknya yang satu itu. Tadinya ia sedikit berharap Jika Kai ingin menemui Eunbi dan membujuknya karena ia tau akan sia-sia jika ia yang langsung turun tangan untuk menemui Eunbi, anak itu tidak akan mendengarkanya.

“Apa alasanmu memilih Kai.” Suara Luhan menyadarkan Hyunsuk dari lamunanya. Pria paruh baya itupun menatap pada Luhan sembari tersenyum. “Kau memang salah satu anaku yang paling peka.”

Well.. ku anggap itu pujian.”

Hyunsuk menerawang begitu pula dengan senyuman yang  ditunjukanya saat ini.“Kalian sudah tumbuh bersama hampir selama 20 tahun. Aku yakin kau sudah mengetahui sifat dan karakter saudara lelakimu masing-masing. Kau, Sehun, Baekhyun dan Kai mana yang menurutmu karakternya paling buruk?”

Sebagai seorang anak didik yang tertua Luhan memang dapat dikatakan paling memahi Hyunsuk. Pendengar yang baik serta sifatnya yang dewasa membuat pemuda tampan itu selalu menjadi wadah terpecaya bagi Hyunsuk untuk berkeluh kesah selama ini. Luhan terlihat mengusap belakang tengkuknya sembari berpikir. “Hm pertanyaan yang sulit tapi gampang. Masing-masing dari kami memiliki sisi gelap dan terangnya sendiri. Tapi jika kau bertanya yang paling buruk—“

“Kai.” Hyunsuk berucap spontan. “Terlalu banyak hal tidak bisaku mengerti tentang dirinya. Bocah itu seperti memiliki jalan pemikiran sendiri.”

Luhan menatap sejenak kepada sosok orang tua didiknya itu, lalu ia menarik kecil sudut bibirnya. “Kai..ku akui diaorang yang aneh, tidak banyak bicara. Di satu sisi ia bisa begitu tenang namun detik kemudian ia bisa menjadi sangat tempramental.” Begitulah selama ini penilaian Luhan terhadap Kai.

Berbicara tentang pria berkulit agak gelap itu, mau tidak mau membawa memorinya berputar kepada kejadian yang sudah-sudah. Dulu Kai kecil benar-benar sangat buruk dalam pengendalian emosi, permasalahan yang tetap sama sebenarnya sampai dengan detik ini hanya saja seiring dengan bertambahnya usia pria itu nampaknya bersikap lebih agak sabaran.. ah, lebih acuh mungkin tepatnya. Ia, Sehun dan Baekhyun ketiganya sudah pernah merasakan bagaimana rasanya berkelahi dengan seorang Kim Jongin. Pada waktu itu mereka masih berusia tak lebih dari 10 tahun dan hanya permasalahan sepele pada awal mulanya. Tidak sengaja menyenggol, salah bicara dan bercanda dengan cara yang berlebihan khas anak-anak diusia mereka. Seiring  berjalanya waktu nampaknya mereka sudah mulai berangsur-angsur memahami bagaimana harus menyikapi pria yang satu itu bahkan Baekhyun yang sering kali mengucapkan kalimat pedasnya pun turut mengetahui batasanya.

Hyunsuk menghela nafasnya singkat sebelum suara beratnya terdengar oleh Luhan. “Bocah itu memang sedikit berbeda dari kau, Sehun dan Baekhyun. Aku samasekali tidak mengetahui apapun tentang dirinya seperti aku mengetahui tentang kalian. Sejak pertama kali aku melihatnya di panti asuhan aku tau Kai adalah bocah yang kesepian dan haus akan kasih sayang, namun ia tidak pernah mengerti bagaimana ia harus melukiskan perasaanya.” Hyunsuk memberi jeda beberapa saat pada kalimatnyasebelum kembali melanjutkan, ia tersenyum menerawang.“Kalian semua adalah anaku, aku menyayangi kalian.Aku senang jika kalian sudah menemukan seseorang yang tepat untuk memahami diri kalian, namun sayangnya aku tidak menemukan itu pada diri Kai.” Akhirnya dengan senyuman hambar. Wajah tampan Luhan memandang Hyunsuk dengan sebuah ekspresi yang sulit untuk diartikan. Ia menatap lurus-lurus pada sosok tua tersebut. “Aku pikir ini hanya masalah waktu, Eunbi selalu berusaha keras untuk Kai.”

Melakukan pembelaan? Entahlah, ia hanya coba untuk mengutarakan fakta. Setidaknya selama ini itulah yang Luhan bisa amati. Sejak pertama kali bertemu, Eunbi memang sudah menunjukan rasa ketertarikanya pada Kai. Ia selalu menempel pada Kai walau pria itu selalu bersikap dingin bahkan mengacuhkanya namun Luhan benar-benar mengakui kegigihan Eunbi, walau selalu menerima penolakan wanita itu samasekali tidak pernah menyerah meraih hati pria dingin pujaanya itu.

“Aku memahami itu, Lu. Aku melakukan ini bukan karena aku tidak menyetujui Kai dan Eunbi. Aku menyayangi keduanya dan aku berharap yang terbaik bagi mereka. Mereka bersama atau tidak pada akhirnya itu adalah keputusan mereka dan juga masalah takdir.”

“Masuk akal, kurasa itu ada benarnya. Tapi.. bagiku itu masih belum cukup rasional. Kau tau, alasanmu.” Luhan berucap ganjil. Tanpa menatap Luhan Hyunsuk pun memberi jawaban. “Larry Ellison, aku mengenalnya dengan baik karena aku adalah dosen pengajarnya saat ia masih duduk di bangku kuliah. Kami masih berkomunikasi dengan baik sampai saat ini. Jeany adalah anak yang ia peroleh dari pernikahanya yang pertama. Berpuluh-puluh tahun menjalin hubungan rumah tangga ia memutuskan untuk bercerai karena ibu Jeany tertangkap basah selingkuh di belakangnya. Tidak sampai setahun, Larry akhirnya memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang wanita asal Amerika yang sudah memiliki anak. Larry sangat menyayangi putrinya Jeany dan menurutku gadis itu memiliki kepribadian yang sangat berbanding terbalik dengan Kai. Jeany adalah gadis yang unik menurutku. Ia bersemangat, ceria dan penuh ekspresi walau sempat melalui masa-masa sulit. Aku hanya ingin Kai belajar darinya.”

“Dengan cara menikahkan keduanya?” Timpal Luhan untuk penjelasan panjang lebar yang didengarnya.

“Hanya cara itu paling maksimal yang bisaku perbuat. Larry samasekali tidak keberatan saat aku mengusulkan Kai. Ia bahkan senang ada seseorang yang bisa diandalkan untuk menjaga putrinya.”

Luhan menghela nafas panjang sebagai tanda ‘setengah puas’ atas jawaban yang diterimanya. Ia tidak tau bahwa pria tua ini benar-benar sangat memperhatikan kekurangan anak-anaknya dengan sangat mendetail, akibat ‘saking perdulinya’ ia bahkan nekat berbuat sejauh ini. Setidaknya Luhan bersyukur karena sudah menemukan partner yang tepat sehingga ia tidak harus terkena peluang untuk hal menggelikan semacam itu.Merasa cukup, pria jangkung itupun beranjak dari posisi duduknya. “Okay, setidaknya aku jadi mengatahui satu hal bahwa kau juga orang yang cukup aneh father. Aku turut berharap, rencana anehmu ini akan membuahkan hasil.” Luhan tersenyum seadanya seraya membungkuk hormat. “Kalau begitu aku permisi. Jangan lupa minum obatmu.”

×××

                “Dad akan menikah.”

                “Bagaimana bisa dad menikah dengan wanita yang sudah menjebak mom!”

                “Dad mencintainya Jean! Dan satu hal yang perlu kau ketahui! ibumu tidak dijebak, ia melakukanya dengan kesadaran penuh! She pled guilty!

                “Nonsense! Aku percaya pada mom dan dad pun seharusnya begitu!”

                “I’m sorry Jean. Dad tidak akan berubah pikiran.”

                “Trust me! Wanita pirang itu benar-benar sudah mencuci otak dad!”

                “She’s not doing that. Tania is a really good women!”

                “Whatever! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju dad menikah dengan wanita pirang sialan itu!”

                “Keep your mouth Jean!”

Mata hazel itu membuka lalu mengerjab cepat setelah baru saja mendapatkan sepenggal mimpi memuakan itu.

Mimpi sialan!’ rutuknya dalam hati.Sarang mengusap kasar wajahnya berulang kali sebelum kemudian ia memutuskan untuk terduduk di kasur, tanpa sadar jadi melamun setelahnya.

Walau sudah bertahun-tahun lamanya, tidak ia pungkiri. Sarang masih merasa marah dan geram pada sosok dadnya karena sudah mengusir momnya, ditambah lagi pria itu juga menikah kembali dengan orang yang salah. Memang seratus persen bukan lah kesalahan ayahnya, ayahnya hanya ditipu oleh rubah betina licik dan anak perempuanya itu. Sungguh, ia benar-benar kepahitan jika mengingat semuanya, bagaimana tingkah laku wanita penjilat dan anak perempuanya itu di hadapan ayahnya dan semua siksaan fisik serta batin yang ia terima selama tinggal satu atap dengan kedua serigala berbulu domba itu.Oh, Tuhan. Sarang tidak pernah suka ini. Nafasnya selalu akan sesak jika mengingatnya hingga pada akhirnya ia hanya akan bisa menangis, menunjukan sisi lemahnya.

Enough, enough.” Ucapnya coba menenangkan diri. Berulang kali ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya. Ia melakukanya sampai dirasakanya sudah merasa tenang. Ketika cukup, Sarang memutuskan untuk mejejakan kedua kakinya di lantai hendak menuju kamar mandi namun seketika itu ia jadi tersentak, merasa ada sebuah hal yang ganjil. Sarang yang masih terduduk di kasur menatap linglung ke seluruh penjuru kamarnya.

Ia teringat kejadian semalam. Saat itu ia pulang lembur dan berhadapan dengan beberapa pria misterius di sebuah gang—tidak jauh dari sini. Kemudian salah seorang pria membekapnya dengan sebuah sapu tangan yang sudah dibubuhi chloroform, setelah itu ia pingsan bukan? Lalu kenapa ia bisa berada di flatnya? Apa kejadian semalam hanya mimpi? Jika yang semalam hanya mimpi.. bagaimana ceritanya ia bisa berada di sini, di atas kasurnya tanpa mengingat apa-apa? Butwait! Ia sangat ingat betul wajah pria yang membekapnya semalam! Sarang masih ingat bagaimana bentuk dan rupa pria berwajah tenang itu dengan sangat baik.

Entah sudah berapa lama ia bergelut dengan seluruh tanda tanya yang bersarang di dalam otaknya. Mungkin lelah karena tidak menemukan jawaban apapun, Sarang pada akhirnya memutuskan untuk benar-benar beranjak dari kasurnya masih dengan perasaan bingung menuju ke dalam kamar mandi.

×××

Tiga tahun yang lalu ia kabur meninggalkan Spanyol dan memilih Korea sebagai negara pelarianya. Benar pelarian, pelarian dari masalah yang di hadapinya. Ia ingin mengikuti kepergian momnya yang telah diusir dadnya kala itu, namun momnya sendiri menghilang tanpa jejak. Ia bahkan sempat merasakan tinggal bersama dengan ibu tiri serta saudara tirinya tersebut dan hanya sebentar karena Sarang benar-benar merasa tidak betah dibuatnya. Kedua mahluk pirang itu benar-benar pandai bersandiwara. Mereka hanya bersikap manis dan baik ketika di hadapan ayahnya saja, namun selebihnya? Mereka akan berlaku seenaknya bahkan cendurung bak binatang memperlakukan dirinya. Ia seperti budak bagi kedua orang itu walaupun di rumah mereka memiliki banyak sekali pembantu. Sarang benci mengakui dirinya yang hanya seorang gadis lemah tak berdaya, tetapi itulah kenyataanya. Sarang tidak pernah melawan walau sekasar atau sejahat apapun ibu dan saudara tirinya itu padanya, ia selalu menurut bahkan tidak pernah sedikit pun mengadu pada ayahnya. Sampai suatu hari, ia benar-benar sudah merasa muak dan pada akhirnya Sarang memilih untuk pergi. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat di atas meja belajarnya yang isinya mengatakan ia pergi dan tidak perlu mencarinya lagi.

Tentu saja Larry Ellison tidak menjadi setenang itu, bagaimana pun Jeany adalah anaknya. Darah daging satu-satunya yang ia miliki. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan keberadaan anak perempuanya itu. Jeany ternyata tinggal menetap di Korea dan mengganti namanya menjadi Lee Sarang. Larry Ellison yang terkenal sibuk pun bahkan rela datang secara langsung ke Negeri Gingseng itu guna membawa anaknya untuk kembali pulang. Perdebatan hebat pun terjadi, Sarang meluapkan seluruh emosinya menjadi suatu rangkaian kata yang tidak terdengar masuk akal bagi Larry. Sarang membeberkan semua perlakuan buruk yang diterimanya selama ini. Pria paruh baya itupun tak kalah bersikukuh membela pihak yang salah sehingga membuat kemarahan Sarang pecah dan ia memilih untuk berlari munuju dapur segera menggabil pisau dan dengan berlinang air mata ia mengancam akan bunuh diri jika tetap dipaksa pulang. Larry tidak memiliki pilihan selain menuruti perkataan anak gadisnya itusehingga pada akhirnya ia kembali pulang menuju Spanyol dengan tangan hampa.

“Gagal jantung kiri (left-sided heart failure) dan gagal jantung kanan (right-sided heart failure) dapat terjadi salah satu, maupun keduanya secara bersamaan (biventricular). Gagal jantung kiri terjadi akibat iskemi atau infark pada dinding jantung (miokard) yang timbul akibat adanya aterosklerosis pada pembuluh darah koroner yang memperdarahi jantung. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh.”

“Gangguan fungsi sistolik (kontraksi) dan fungsi diastolik (relaksasi atau pengisian). Gangguan fungsi sistolik dapat terjadi karena infark pada miokard, dan kardiomiopati, karena kelainan ini jantung tidak dapat memompa secara maksimal darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gangguan fungsi diastolik dapat terjadi karena kelainan katup, contohnya adalah mitral stenosis.”

Sudah semenjak tadi Sarang hanya menopang kepalanya dengan satu tangan mendengar penjelasan panjang lebar yang disampaikan oleh dosenya itu. Benar saja kedua mata miliknya terlihat menatap lurus pada sosok dosen pengajarnya tersebut namun pandanganya terkesan menerawang, entah sedang memikirkan apa.

Sementara dosen tua berkacamata itu bukanlah orang baru di sini. Ia sudah mengajar hampir selama enam tahun dan ia hafal betul pada setiap kebiasaan mahasiswa maupun mahasiswinya. Salah satu yang sedikit menggangu penglihatanya sejak tadi adalah seorang mahasiswi yang ia ketahui namanya adalah Lee Sarang sedang menatap kosong ke arahnya. Profesor Jang menghentikan penjelasanya beberapa saat lalu berseru dengan suara lantang.

“Lee Sarang.” Panggilnya.

Suasana kelas yang sudah hening semakin hening dengan seluruh mata berfokus kepada sosok yang dimaksudkan. Jackson Wang pria asal Hongkong itu melirik sekilas sisi wajah sahabatnya yang masih saja tampak melamun. Pria bertindik itu sontak menyenggol lengan Sarang dengan sikunya membuat gadis itu sedikit tersentak lalu menatap bingung ke arahnya.

“Profesor Jang memanggilmu.” Jelas pria di sebelahnya itu dengan suara setengah berbisik. Sarang membulatkan matanya. “Y-Yesprof?” Ucapnya refleks sambil memandang kaku pada sosok dosenya itu.

“Apa penyabab terjadinya left-sided heart failure?”

Sarang mengerjab beberapa kali sebelum kemudian menjawab. “Iskemi pada dinding jantung timbul akibat adanya aterosklerosis di pembuluh darah koroner yang melukai jantung sehinga terjadi inblooding. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh terutama pada bagian jantung kiri. Pendarahan yang berlebihan mengakibatkan pembuluh mengalami stagnansi yang tidak hanya berakibat melemahkan denyut koroner tetapi juga memungkinkan terjadinya heartfailure. Itulah sebabnya mengapa disebut gagal jantung kiri.” Mantapnya. Seluruh kepala di ruangan itu berdecak kagum, tak terkecuali Jackson. Pria bertindik itu malah terlihat menahan senyumanya. See? Walau dalam keadaan tidak fokus sekalipun Sarang masih bisa menjawab pertanyaan itu dengan tepat tanpa cela. Tak heran gadis bertubuh mungil di sebelahnya ini selalu mendapat nilai IPK yang nyaris sempurna disetiap akhir semesternya.

Terdengar profesor Jang berdeham singkat seraya berucap. “Lain kali kau harus lebih konsentrasi Sarang ssi. Ku rasa materi kita cukup sampai di sini.” Pria itu mematikan mesin proyektor lalu meraih tasnya kemudian berlalu pergi dari ruangan. Hampir seluruhnya mendesah lega melihat kepergian dosen itu. Bagaimana tidak? Batas mengajarnya hanya dijatahkan selama dua jam, tetapi ia malah melakukan korupsi waktu hampir selama satu jam.

Good job! Kau mengusirnya chibi!” Jackson mendesah lega seraya memeluk erat tubuh kecil Sarang. “Jackson!” Tegurnya ketika beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Bisa dikatakan Sarang benar-benar jengah dengan kelakuan sahabatnya ini karena tak henti-hentinya membuat orang lain salah paham atas hubungan persahabatan mereka. “Ya! Singkirkan tanganmu atau aku akan menggigitnya!” Ancam Sarang. Jackson pun dengan terpaksa melepaskan pelukanya lalu mengacak lembut puncak kepala gadis di sebelahnya itu.

Sarang sendiri sudah bertemu dan berteman lama dengan Jackson. Saat pertama kali menjejakan kakinya di Universitas Seoul inilah Sarang mengenalnya. Di hari-hari awal kuliah ia tidak mengenal siapa pun apalagi memiliki seorang teman, permasalahan yang sama sampai dengan detik ini. Ia seperti orang linglung yang tersesat dari negeri entah berantah. Tiba disaat yang tepat, saat Sarang kesulitan untuk mencari di mana letak ruang kuliahnya di situlah ia bertemu Jackson yang ternyata berada disatu jurusan yang sama denganya. Tidak butuh waktu lama bagi Sarang untuk mengakrabkan diri dengan pria yang satu itu. Jackson adalah sosok pria yang sangat pandai bergaul dan cepat akrab dengan siapa saja, ia juga cukup tenar dikalangan wanita dari dalam maupun luar kampus. Namun anehnya, pria itu samasekali tidak pernah terlihat dekat dengan satu orang manapun selain daripada Sarang. Iaselalu menempel pada gadis itu sehingga tak sedikit para wanita yang iri serta mengira bahwa keduanya memiliki sebuah kedekatan khusus.

Jackson menopang sisi wajahnya  dengan sebelah tangan sambil menatap kepada Sarang yang sedang sibuk untuk berkemas, memasukan seluruh buku-buku tebalnya ke dalam tas. Sampai pada akhirnya terlihat pria itu mencolek lengan Sarang sehingga gadis berwajah manis itupun berhenti dari aktifitas berkemasnya lalu menoleh padanya.

“Kau sedang ada masalah? Katakan siapa yang berani mengganggumu.” Tanya Jackson serius. Sarang jadi menatap Jackson lucu. Pasalnya, pria itu tidak pernah bicara dengan wajah seserius itu padanya. “Gwenchana.” Jawab Sarang singkat.

“Kau terus melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Hm, nothing. Aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya.. merasa kurang nyaman hari ini.”

“Kau sakit?” Tanya Jackson tersentak, tanpa ragu ia membawa punggung tanganya untuk menyentuh kulit halus di kening Sarang. “Ku pikir suhu tubuhmu normal chibi.” Komentar Jackson setelahnya. Sarang menepis pelan tangan Jackson dari keningnya sembari mendengus. “Aku berkataaku kurang nyaman bukan berarti aku sedang sakit.dan lagi pula..” Sarang memberi jeda sejenak seraya berdecak kesal. “Berhenti memanggilku chibi, Jackson! Aku punya nama, namaku Lee Sarang.”

Sarang mengerti maksud Jackson yang selalu memanggilnya dengan sebutan chibi karena pria itu pernah mengatakan padanya bahwa ia memiliki bentuk tubuh yang kecil. Namun bagi Sarang pribadi, chibi itu terdengar lebih ke sesuatu yang kecil, pendek seperti liliput dan itu cukup menyinggung perasaanya. Jackson merapatkan posisi duduknya pada sisi tubuh Sarang sembari berbisik dengan suara berat di dekat telinga gadis beraroma lembut itu. “Aku akan dengan hati memanggilmu dengan sebutan Sarang..” Sengaja Jackson sedikit menekan kata ‘Sarang’ yang diucapkanya tadi lalu ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Tapi apa kau tidak keberatan jika aku memanggilmu begitu hm?”

Mungkin jika perempuan lain yang berada di posisi Sarang saat ini ia akan menjerit histeris sejadi-jadinya. Tetapi gadis yang satu ini berbeda, mendengar kalimat godaan pria itu Sarang malah setengah mati menahan tawanya agar tidak pecah. Baginya Jackson memang memiliki unique sense of humor dan pria itu juga sangat pandai menghibur.

Crazy!” Timpalnya sembari mencubit keras kulit di perut Jackson dan ia segera bangkit dari duduknya.“Tck, cubitanmu lumayan. Diam-diam kau suka bermain kasar rupanya.” Gerutu Jackson menyipitkan matanya pada Sarang sementara tanganya sendiri sibuk berkerja untuk mengusap bekas cubitan gadis itu perutnya. Sarang balas menatap Jackson dengan tatapan geli lalu ia pura-pura memutar kedua bola matanya jengah. “Aku akan ke perpustakaan jadi jangan menggangguku, bye.” Ia kemudian melambaikan satu tanganya sebagai salam perpisahan pada Jackson dan pria itupun hanya tersenyum kecil dari bangkunya menatap pada kepergian sosok mungil tersebut.

×××

Baru saja gadis itu melangkah keluar dari dalam gedung universitasnya. Suasana di sekitar kampusnya masih terbilang cukup ramai walau Hari sudah agak senja. Memang tidak terlalu dominan karena cuaca bersalju menghalangi datangnya sinar matahari. Ia bersyukur bahwa pria bertindik itu, Jackson benar-benar menepati janji untuk tidak mengganggunya. Sarang jadi dapat menyelesaikan laporanya dengan baik tanpa ada gangguan walau sedikit terhalang oleh perasaan ‘tidak nyamanya’ sedari tadi.

Sarang memperhatikan jam tangan keluaran merek Nike yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu mendapati  sudah pukul lima sore lewat beberapa menit. Berarti sebentar lagi jam dinasnya tiba. Ia mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Tidak ada suatu hal yang mencurigakan bagi Sarang saat ia berjalan serta berpapasan dengan bayak orang di tempat khusus pejalan kaki penuh salju ini, semua terlihat normal. Beberapa deretan mobil juga terlihat parkir dengan rapi di sisi-sisi bahu jalan. Memang beginilah keseharianya, Sarang memang jarang munggunakan bus dari tempat kuliah menuju rumah sakit tempat magangnya. Ia hanya menggunakan bus ketika ia akan pulang menuju ke flatnya saja.

Dari ke jauhan tampak kehadiran sebuah mobil mahal yang Sarang tau keluaran dari merek ternama Lamborghini terhenti beberapa meter dari hadapanya. Pemandangan mobil-mobil mahal di Seoul sendiri memang sudah menjadi lumrah, bahkan sahabatnya Jackson pun memiliki sebuah ferrari putih yang sering kali ditungganginya menuju kampus namun tetap saja siapapun pengendara mobil mewah itu eksistensinya tetap menyita perhatian. Saat akan melewati mobil berwarna hitam mengkilat di sisi bahu jalan itu Sarang coba mencuri-curi padang dari kaca mobil yang sayangnya tak tembus padang tersebut. Detik kemudian ia terhenti di tempat karena tiba-tiba saja pintu dari mobil mewah itu membuka secara spontan menghalangi jalanya.

“Ma-YA!” Pekik Sarang dengan kata maaf yang terputus. Semua terjadi begitu cepat, sebuah tangan terulur menarik kuat dirinya hingga masuk ke dalam mobil. Gadis itu dengan wajah panik menoleh kepada dua orang pria muda bermantel serba hitam yang duduk di sisi kiri dan kananya saat ini dan sayang sekali, Sarang tidak mengenal keduanya.

IGE MWOYA?! Kalian semua siapa?!”

Baekhyun sampai menutup telinganya mendengar betapa nyaring gadis ini bicara. Sementara Luhan tengah menahan tawanya melihat tingkah laku Sarang yang dianggapnya lucu, entah dibagian mana. Pada bangku kemudi Kai hanya terus menatap lurus pada Jalanan sembari melajukan mobil,ia nampak tenang dan tidak terpengaruh dengan apapun. Tadinya ia berniat membawa gadis ini dengan tanganya sendiri, namun tiba-tiba Luhan dan Baekhyun dengan santainya ikut masuk ke dalam mobil mengaku bersedia untuk membantu walau Kai sendiri tidak membutuhkan bantuan dari kedua orang itu sebenarnya.

Sarang menggeram. Bagaimana bisa ia diacuhkan seperti ini! Siapa sebenarnya orang-orang ini!? Apa mereka semua adalah kaki tangan ayahnya!? Tidak, itu tidak mungkin! Ayahnya sudah berjanji padanya untuk tidak mengusik kehidupanya lagi! Atau jangan-jangan.. ia sedang menjadi korban penculikan saat ini?!

Sarang jadi menggigit bibir bawahnya cemas. Dengan perasaan was-was dan takut ia coba menatap salah seorang pria yang duduk di sisi kananya—Luhan, berharap mendapat sebuah pejelasan. “Kami tidak akan menyakitimu jika itu yang kau pikirkan.” Jelas Luhan seakan bisa membaca isi pemikiranya. “Seseorang ingin bertemu denganmu Sarang ssi.” Lanjut pria itu tersenyum ramah.

Sarang mengerjab pelan memandang Luhan. Bagaimana bisa pria ini mengetahui namanya? Memang, jika dibandingkan dengan pria yang duduk di sebelah kirinya itu—Baekhyun, pria ini wajahnya lebih terbilang ramah dan bersahabat. Tidak! Kau tidak boleh tertipu Sarang! Bukankah seorang pisikopat juga terlihat baik dan ramah di luarnya!?

“Kau pikir aku percaya begitu saja ‘HUH?! Let me go!” Teriaknya mengarah pada Luhan. Pria China itu sampai-sampai mengikuti gaya Baekhyun, menutup sebelah telinganya saat mendengar suara teriakan melengking Sarang. “Jika kalian semua adalah penculik kalian salah sasaran! Aku hanya seorang gadis miskin yang hidup sebatang kara! Dompetku bahkan tidak ada isinya semenjak seminggu yang lalu!” Jerit Sarang sejadinya. Sementara Luhan diam-diam membuang wajah menatap pada jendela mobil di sebelahnya menahan tawa. Luhan jadi membenarkan perkataan Hyunsuk yang semalam, bahwa benar gadis ini adalah gadis yang unik. Baru kali ini ia mendengar seorang gadis dengan gamblangnya berkata bahwa dompetnya sedang kosong, funny! Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Kai si dingin nan acuh itu menikah dengan gadis semenarik ini.

YAAA! Bisa kau diam sebentar?! Telingaku sakit mendengar teriakanmu!” Baekhyun yang semenjak tadi sudah merasa risih akhirnya memuntahkan kekasalanya pada Sarang. Gadis itu segera menoleh ke arah Baekhyun sambil menggertakan gigi. “KAU PIKIR AKU PERDULI?!” Balasnya membentak pada pria bermata sipit itu. “Minggir!” Sarang mendorong bahu Baekhyun ke samping guna memberikanya celah untuk mendekati pintu mobil. Baiklah, Baekhyun mengakui walau gadis ini bertubuh agak kecil tetapi tenaganya memang tidak bisa diremehkan.

“Argh! Shit! Gadis bar-bar kau menginjak kakiku!” Umpat Baekhyun sambil memeganggi kaki kananya yang serasa berdenyut di balik sneakers. Apakah Sarang perduli? Sayangnya tidak. Gadis itu terlihat memukul-mukul kaca mobil sambil sibuk tarik-ulur dengan pintu di dekatnya itu seperti orang gila.

YA! BUKA PINTUNYA!”

Cih, ku pikir kau harus menggunakan otakmu jika ingin turun dari mobil dengan kecepatan 100 kilometer per jam kecuali kau memang ingin mati.” Ucap Baekhyun sinis. Sarang menatap tajam ke arah Baekhyun, ia benar-benar benci pria yang satu ini. “Kalau begitu cepat hentikan mobilnya! dan turunkan—“

Sarang tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Gadis itu menegang kaku sambil menahan nafas. Hazelnya memandang tanpa berkedip pada ujung lubang senjata apidi hadapan wajahnya itu. Sebuah pistol memang telah ditodongkan tepat di hadapan wajahnya saat ini, benar-benar cara yang ampuh untuk membuat gadis itu diam seketika.

“Kau sangat berisik.” Suara si penodong senjata berucap datar. Bisa dibilang salah satu hal yang paling Kai benci di dunia ini adalah keributan, sedikitpun ia tidak pernah suka itu. Dengan satu tanganya pria tersebut mengarahkan pistol tepat di hadapan wajah manis Sarang sementara tangan satunya ia gunakan untuk memegang setir begitu pula dengan tatapan pria itu yang masih terlihat fokus pada jalanan di hadapanya.

Sarang benar-benar dibuat mati kutusehingga butuh beberapa saat baginya untuk mulai berani mengedipkan kedua matanya secara perlahan, mengumpulkan kesadaran. Dengan pelan tapi pasti Hazelnya mencoba beranjak dari ujung pistol itu menuju kepada wajah pria yang tengah memegangi senjata api tersebut. dan sangat disayangkan, Sarang tidak mampu melihat wajah pria yang duduk dibangku kemudi itu dengan jelas karena posisi duduknya yang membelakangi. Tapi satu hal yang pasti, hanya dengan melihatnya saja Sarang tau bahwa pria berkulit agak gelap itu berbahaya dan sebaiknya jangan mencari masalah apapun denganya!

Um, Kai.. kupikir kau bisa menurunkan benda itu.” Suara Luhan mengingatkan. Sedikit berbahaya bukan jika memegang senjata saat sambil menyetir.

“Jika aku mendengar suaramu lagi akanku pastikan isi dari benda ini yang akan membuatmu diam.” Ucap Kai tenang, setelah itu barulah ia menurunkan senjata laras pendek tersebut dari hadapan wajah Sarang yang masih nampak menegang.

Sarang benar-benar sudah memiliki kesimpulan yang pasti! Bahwa pria ini tentulah seorang pembunuh berdarah dingin, tidak salah lagi! Bayangkan saja bagaimana bisa pria itu mengucapkan kalimat mengancam seperti tadi dengan nada yang santai! Bahkan pistol, benda yang sangat berbahaya sekali pun pria itu memegangnya bak benda yang tak berguna. Ya Tuhan, siapa sebenarnya orang-orang ini?!

“Tidakku sangka kau benar-benar membuatnya diam.” Cibir Baekhyun memandang Sarang dari ekor matanya. Luhan turut mengamati wajah shock Sarang, ia memandang lucu terhadap ekspresi pemilik wajah itu namun sekaligus merasa kasihan juga padanya, sehingga akhirnya Luhan memutuskan untuk buka suara. “Sebaiknya kau beristirahat Sarang ssi karena perjalanan masih agak jauh.”

×××

Suasana kamar yang sunyi senyap membuat dentingan suara piano semakin terdengar jelas mengalun lembut. Jari-jari panjang khas lelaki itu bergerak dengan piawai di atas deretan tuts membuat setiap nada yang tercipta begitu harmoni. Sementara Salju di luar sana terus turun dengan lebatnya. Ruangan ini menjadi terasa begitu dingin namun samasekali tidak membuat sosok pria di dalamnya itu terusik. Sepasang mata yang terukir tajam itu malah tampak terpejam menikmati setiap harmoni yang diciptakan oleh pergerakan jemarinya. Sampai kemudian, sebuah suara tepukan tangan terdengar menginterupsi kesenangan dirinya.

“Kau seharusnya menjadi musisi beibh.” Suara seksi khas wanita ini tidaklah asing baginya. Jackson yang sudah semenjak tadi membuka mata menatap malas pada sosok wanita berambut pirang yang sedang berdiri anggun di dekat pianonya.

 

 

 

 

 

 

“Apa yang kau lakukan di sini Rose.”

Wanita yang disapa Rose barusan terkekeh pelan ketika mendengar betapa dingin dan angkuh suara husky pria itu menyapanya. “Zico menyuruhku untuk langsung masuk kemari.”

Jackson berdecak malas. Sengaja rupanya. Ia harus menuntut penjelasan dari pria penyuka yadong itu setelah ini. “Aku benci orang asing di wilayah privacyku.” Terangnya tak suka. Wanita bertubuh langsing semampai itu melemparkan senyum seduktive pada Jackson kemudian ia membawa diri untuk duduk di sebelah pria perawakan tinggi tersebut. Sengaja ia duduk sambil menyilangkan kedua kaki jenjangnya agar rok pendeknya itu semakin tersingkap dengan tak tau malu mempertontonkan paha mulus miliknya. “Ayolah.. aku terbang begitu jauh dari Spanyol hingga kemari. Aku sangat merindukanmu sayang” Ucapnya manja, sementara kedua matanya tak henti menatap liar kepada setiap lekuk wajah pria tampan di sisinya itu. “Aku sampai diutus langsung kemari karena kau sudah menjadi sangat nakal Jackson. You know.. my mom really hate that.”

Pria itu menarik miring sebelah alisnya membalas tatapan Rose. “Tck, funny. Kalian lupa sedang meminta bantuan pada siapa? Di sini aku yang menetukan permainan.” Ia tidak pernah perduli semahal apapun orang lain berani membayar tarif atas jasanya karena memang tidak ada yang bisa dan boleh mengaturnya selama ini. Rose jadi menghela nafasnya panjang seakan sudah memaklumi sifat pria yang satu ini. “Fine. Tapi, kau harus tau satu hal..” Sengaja Rose menggantung kalimatnya. Lalu dengan semakin tak tau malu, ia mengusap lembut lengan Jackson yang berbalut sweater putih rajutan tersebut hingga merambat menuju pundak lalu ke sisi wajah tampanya. “Aku muak melihatmu terus berdekatan dengan saudara tiriku itu Jack. I’m jealous.”

Jackson menepis kasar tangan Rose dari wajahnya. “Is not your business.” Ucapnya dingin. Rose tertawa renyah menampilkan detetan gigi-gigi putihnya yang tertata rapi. Tatapan matanya beralih pada piano yang ada di hadapanya kemudian jari-jari kananya tergelitik untuk menyentuh kumpulan tuts piano tersebut tanpa berniat untuk menekanya. “Baiklah.. jika kau terus mengulur waktu seperti ini ibuku bisa saja meminta orang lain untuk membunuh Jeany, bagaimana menurutmu hm?”

Jackson menanggapi pertanyaan Rose dengan senyuman miring. Satu tangan pria itu terangkat menyelip anakan rambut wanita itu ke belakang telinga seraya berucap dengan suara bass yang terdengar rendah. “Itu lebih menarik. Lakukan saja jika kalian bisa.” Rose mengernyit heran memandang Jackson yang wajahnya hanya berjarak beberapa centi darinya. Manik abu-abunya jelaslah bingung namun ia berusaha menutupinya dengan sebuah senyum yang sayangnya malah terkesan sumbang. “Hey, tidak baik meremehkan seperti itu. Apa maksudnya Jack?”

Jackson menarik undur wajahnya lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekat menuju ke arah jendela kamarnya. Kedua tangan pria itu tampak bertengger nyaman di dalam saku celana sementara manik hitamnya menatap datar kepada setiap butiran salju yang turun secara teratur melalui kaca jendela. “Sepertinya ayah tirimu menjadi semakin peka. Aku melihat gadis kecil itu dibawa oleh anak buah Hyunsuk tadi sore.”

Jackson memang selalu mengawasi gadis kecil yang dimaksudkanya tadi. Jeany atau yang lebih dikenalnya dengan sebutan Sarang. Sosok itu memang tidak pernah lepas dari pengamatan serta perhatianya selama tiga tahun belakangan ini. Apapun yang gadis itu kerjakan dan di manapun ia berada, Jackson dapat mengetahuinya secara jelas melalui alat pelacak yang telah ia tempatkan di manapun bahkan pada pakaian yang hari-hari gadis itu kenakan. Sehingga Jackson sendiri sudah mengetahui secara jelas di mana sosok gadis mungil itu berada sekarang. Wajah cantik Rose tampak berubah shock mendengar penuturan Jackson. “A-Apa?! mereka membawa Jeany? Siapa mereka?!” Tanyanya tak mampu membendung rasa panik.

Dark agent, sama sepertiku.” Jawab Jackson tanpa menoleh. Manik matanya tampak begitu betah untuk mengamati butiran salju yang terus turun dari luar jendela. Begitulah. Ban Hyunsuk berserta anak didiknya tersebut memang tidaklah asing bagi Jackson yang sesama bergelut di dunia hitam macam ini, terlebih lagi kebanyakkan kelompok dark agent memang sangat lah tertutup dan tidak bersahabat pada kelompok lainya.

Oh God! Mom akan marah jika mendengar ini! What we must doing?!” Tanya Rose yang semakin terlihat pucat. Ia bahkan terus menggigiti bibir bawahnya yang berpoles red lipstick karena rasa khawatir. Jika berita buruk semacam ini sampai terdengar ke telinga momnya itu akan menjadi hal yang berkali lipat lebih buruk. Kiamat tentu saja akan terlebih dulu menimpa dirinya. “Pertanyaan klasik. Hanya perlu merebutnya saja bukan.” Ucap Jackson tak ingin ambil pusing. Bibir tipis miliknya kemudian tampak tertarik miring membentuk sebuah seringai. “Karena hanya aku yang bisa membunuh Jeany.”

 

TBC

×××

A/N :

Panjang ya? Jangan nyesal udah baca hhe.

 

Regards,

Aqi 93 liner

 

16 thoughts on “THE DARK AGENT (Chapter 1)

  1. Gadis kaya yg tdk bruntung,, khdupanny dklilingi org2 jhat,, tp sbntr lg akan ad yg mlndunginya,, gk nygka jack msuh dlm selmut…

  2. aigoo pling sneng klau genrenya married trus romance but action kyak gni, seru aja jd dag dig dug bcanya. Next nya di tunggu ya

  3. dududuuu~ ini keren bgt!! aku suka genre alurnya.. >< oh iya kak knp nggak post di saykoreanfanfiction juga?? kan sayang ff sebagus ini nggak disebar luasin (?) *eluspistol*(?)

  4. Lanjutttt~
    Jangan lama lama thorr
    Lah jackson…… Ternyata jackson itu jahat sama sarang (?)
    Ckck, karakternya sarang di sini lumayan menarik tapi dia agak lemah ya orangnya.
    Seneng masa thor baca satu chapter aja panjang gini, jadi gak was was bakal cepet selesai bacanya wkwkkwk

  5. Waaah seru abizzzz!!! bacanya puas banget! Bikin penasaraan sekaligus deg deg gan
    Author kereeen banget!! Jackson siapa dia sebenarnya? Truus buat apa dia deketin sarang? Aaah pokoknya bikin penasaran banget!! Aku suka banget ma karakter Kai di ff ini dingin dan cuek hehe kira2 bakal kaya apanya kai kalau dah nikah ma sarang nanti? Ih penasaran bgt thor! AUTHOR DAEBAK!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s