“For My Little Sehun” (Oneshoot)

7rfkjk

Title : “For My Little Sehun”

Author : Putri Sintya

Genre : Sad & Brothership

Rate : T

Cast :

  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Zhang Yuan (OC)
  • Rae Kim (OC)

Lenght : Oneshoot

N/A : Saya pernah memposting FF ini ditempat lain dengan nama pena yang sama ‘Putri Sintya’ dan mohon untuk tidak mengCopy Paste cerita ini. Terakhir, FF ini murni karangan saya. Enjoy ^^

.

.

.

***

Saat itu Sehun berusia 7 tahun dan Luhan sang kakak berusia 10 tahun. Mereka adalah saudara kandung, keduanya memiliki kemiripan di wajah mereka. Banyak orang mengira bahwa keduanya adalah saudara kembar. Namun, jika dilihat lebih seksama, keduanya jelas berbeda. Garis wajah Sehun lebih tegas dibanding garis wajah Luhan yang lebih ke feminim dengan mata kecil seperti rusa dan bibir merah plum.

Keduanya masih bersekolah di tingkat yang sama, yaitu Sekolah Dasar. Hubungan mereka cukup akrab, pada awalnya. Sebelum sikap manja Sehun semakin menjadi dan membuat Luhan kesal. Luhan sebenarnya anak yang baik, ia selalu patuh terhadap aturan dalam keluarganya, dan juga selalu mengajak Sehun bermain. Masa kecil keduanya sama seperti anak-anak lain seusia mereka, penuh canda tawa dan permainan konyol serta permen lolipop yang selalu jadi rebutan jika akhir tahun tiba.

Mereka selalu bermain di atas salju dengan membuat manusia salju jika musim dingin tiba, juga mereka selalu pergi ke kebun belakang untuk melihat bunga tulip mekar apabila musim semi tiba, selalu ada permainan di setiap musimnya bagi Sehun dan Luhan. Selalu berdua untuk berbagi kebahagiaan walau dengan cara yang sangat sederhana. Luhan menyayangi adik kecilnya, begitu pula Sehun yang menyayangi kakak ‘kecilnya’.

Saat itu hanyalah saat itu, saat itu tak bisa terulang pada saat ini. Luhan merasa Sehun mengambil semua alih kasih sayang kedua orang tuanya, terlebih pada Ibu. Ibunya akan menegur Luhan jika mendengar Sehun menangis saat bermain bersamanya, katanya Luhan harus lebih menjaga sang adik. Sehun juga sangat suka duduk di tengah-tengah Ayah dan Ibu jika sedang menonton film keluarga bersama, dan dirinya harus rela mengalah untuk duduk di posisi paling ujung.

Semua itu membuat Luhan merasa jengkel, ia mulai acuh dengan adiknya. Tak mau begitu memperdulikan adiknya, ia hanya akan peduli pada dirinya sendiri, toh Sehun punya Ibu dan Ayah, pikirnya.

“Ambil saja semua itu untuk Sehun!” Luhan membanting kotak susu yang sedang ia minum ke atas meja.

“Kau ini! Ibu hanya meminta satu untuk adikmu, kau terlalu berlebihan Luhan!”

“Terserah! Karena semua yang kumiliki pasti akan ibu pinta lalu Ibu berikan pada Sehun! Jika dia mau, kenapa tidak beli sendiri!” kesal Luhan, ia beranjak ke dalam kamar tidur.

Ibunya hanya diam melihat tingkah putra sulungnya.

“Hyung kenapa?” Sehun datang dari belakang.

“Tidak papa sayang, kakakmu sedang merajuk saja..”

Dengan wajah polosnya, Sehun mengambil satu kotak susu rasa pisang di atas meja. Kotak susu itu padahal milik Luhan dan sudah ia minum, hanya tersisa setengahnya lagi. Tapi Sehun tetap meminumnya sampai habis.

***

Bulan ini sudah memasuki musim semi, seperti tahun lalu, Sehun akan mengajak kakaknya bermain ke kebun belakang. Ada tumbuhan bunga tulip disana, sekitar 3 tahun yang lalu Ayahnya menanam bunga itu untuk Sehun dan Luhan. Bunga itu akan mekar dari awal musim semi dan kembali layu setelah pertengahan musim semi.

“Hyung! Ayo!” Sehun menarik ujung baju Luhan, Luhan yang tengah asik dengan rubiknya melirik Sehun sekilas.

“Aku sedang tidak mau keluar rumah Sehun..”

“Ayolah hyung~ bunganya akan mekar!”

Luhan berdecak kesal. “Bunga itu akan mekar seminggu lagi!” ucapnya dengan nada lebih tinggi dan bagi Sehun itu adalah sebuah bentakan.

Perlahan cengkraman jemari Sehun pada baju Luhan terlepas. Luhan pun menaruh rubiknya lalu beralih menatap Sehun.

“Kenapa? Kau akan menangis?” Luhan melipat kedua tangan kecilnya didada.

Sehun menggeleng dengan raut kecewanya. “Aku kira akan mekar hari ini..” lirih Sehun.

Sebenarnya Luhan ingin tertawa melihat kepolosan sang adik, tapi ia menahannya. Luhan mencoba untuk tidak terpengaruh oleh kepolosan Sehun, karena itu akan membuatnya terlihat seperti Luhan di masa lalu, dimana Luhan sebagai kakak yang sangat peduli terhadap adiknya.

“Kalau bunganya mekar, aku akan membawamu kesana.” Luhan mengulas senyuman tipis diakhir ucapannya. Ia rasa senyum seperti itu saja sudah cukup untuk Sehun.

“Baiklah!”

Benar, dengan senyuman yang hanya bertahan dua detik saja sudah membuat Sehun senang.

***

Bohong, Luhan jelas berbohong ketika ia mengatakan pada Sehun jika bunga-bunga tulip itu akan mekar seminggu lagi. Lewat seminggu, dan sekarang bunga-bunga itu sudah mekar begitu cerah dan indah. Momen yang Sehun nantikan bukanlah melihat kelopak bunga ini sudah terbuka menghadap langit, melainkan momen saat kelopaknya terbuka langsung didepan matanya. Sehun menekuk wajahnya, ia menghapus air mata dengan punggung tangannya. Wajahnya terus menunduk, bukan untuk melihat hamparan bunga dibawahnya, tapi untuk menyembunyikan tangisannya.

Luhan tahu kalau adiknya sedang bersedih dan itu semua karena ulahnya. Ia sendiri jelas merasa bersalah kepada Sehun. Untuk memberikan sedikit hiburan kepada adiknya, Luhan berkata dengan sungguh-sungguh.

“Hyung akan membawamu ke taman bunga hari minggu nanti. Disana pasti ada bunga tulip yang belum mekar!”

Sehun mendongkak, menatap kakaknya yang sedang tersenyum. Tidak, Sehun tak begitu memerlukan bunga tulip itu lagi, cukup dengan melihat Luhan yang tersenyum untuknya saja, indahnya melebihi bunga tulip.

“Bagaimana?”

Sehun menarik ingus di hidungnya sebelum menjawab “Baiklah..” dengan suara seraknya.

***

Seperti janji Luhan pada Sehun tempo hari, ia akan membawa sang adik ke taman bunga. Letaknya tak begitu jauh dari rumah Sehun dan Luhan, dengan berjalan kaki saja kaki-kaki mungil itu hanya cukup waktu 15 menit untuk sampai di taman. Luhan mencari bagian bunga tulip di taman itu, namun kebanyakan hanyalah bunga matahari dan mawar. Luhan sedikit mendesah kecewa.

“Tidak ada ya hyung?” tanya Sehun yang berdiri disampingnya.

“Sepertinya tidak ada..”

“Hyung tunggu sebentar ya!” Sehun tiba-tiba berlari, entah apa yang ia lihat namun sepertinya ia mendapatkan sesuatu yang hebat. Kakinya yang kecil berlari mengitari taman, tak jauh dari tempat Luhan berdiri, Sehun kecil berjongkok seperti mengambil sesuatu dari tanah. Setelah mendapatkannya, Sehun pun kembali kepada Luhan.

“Kau bawa apa?” Luhan melirik tangan Sehun yang bersembunyi dibelakang punggung.

“Diam ya..” Lalu Sehun mengaitkan bunga kecil berwarna biru muda ke telinga Luhan.

“Apa ini?” Luhan meraba sekitar telinganya.

“Bunga untukmu!” Sehun tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.

“Ya! aku ini lelaki! Issh kau ini!” Luhan melepaskan bunga itu dari telinganya dan akan melemparnya ke tanah, namun sebelum bunga kecil itu terlempar seorang petugas taman mendatangi mereka dengan wajah yang marah.

“Hey kau!”

Mendengar suara berat dari petugas itu membuat Sehun ketakutan, ia berjalan ke belakang tubuh sang kakak untuk berlindung.

“Jangan memetik bunga sembarangan, apalagi itu bunga langka disini!” tegur si Petugas.

Luhan melirik Sehun dan bunga ditangannya secara bergantian. Sepertinya ini yang dimaksud si Petugas, adiknya pasti telah memetik bunga langka berwarna biru ini.

“Maaf Pak, adik saya tidak tahu dengan peraturan itu. Maafkan adik saya.” Ucap Luhan.

“Jaga adikmu ya!”

“Iya Pak.”

Luhan menarik nafas lega. “Lain kali, jangan memetik bunga sembarangan ya?”

Sehun mengangguk.

Bunga kecil yang ada ditangan Luhan tak jadi ia buang. Sampai kembali ke rumah pun, bunga cantik itu masih ada pada genggamannya. Hati kecilnya tak berani untuk membuang bunga pemberian dari Sehun.

Tiga hari kemudian, bunga itu sudah layu. Namun Luhan tak membuangnya, bunga itu sudah membangkai di atas meja belajarnya.

.

.

7 years later…

.

.

Luhan memang anak yang pintar, ia sangat menyukai pelajaran Fisika dan Bahasa Inggris. Dalam usianya yang kini menginjak 17 tahun, ia mendapatkan beasiswa ke Jepang untuk study lanjutannya. Luhan tentu tak menolak tawaran itu, ia justru senang mendapatkannya. Waktu yang ia ambil untuk belajar hanya setahun, namun diluar dugaannya, ternyata ia betah dan mulai menetap disana untuk waktu yang lama.

Luhan meninggalkan Ibu, Ayah, dan adiknya Sehun untuk beberapa tahun. Pada tahun pertama, Luhan akan pulang ke Korea 3 kali dalam setahun. Begitu juga dengan tahun kedua. Tapi setelah ia mendapatkan pekerjaan dan kesibukan dengan karir yang terus menanjak, sekarang ia sangat jarang untuk pulang ke Korea. Bahkan sudah dua tahun terakhir ini ia tak kembali ke negeri ginseng tersebut.

Empat tahun berlalu, usianya kini 21 tahun. Memang sudah waktunya ia fokus pada pekerjaan dan mulai memikirkan tentang mencari pasangan hidup. Namun rupanya Luhan ingin mempunyai kekasih asli wanita Korea bukan Jepang. Maka dari itu, saat mendapatkan libur panjang, Luhan memutuskan untuk pulang ke Korea dan menghabiskan waktu 2 bulan bersama keluarganya disana.

Saat Luhan sampai di Bandara Incheon, keluarga kecilnya menyambutnya diantara sederet para pengunjung lain di Bandara. Terutama Sehun, adiknya yang sudah bertahun-tahun tak bertemu dengannya. Rasa rindu pasti mengguncah Sehun saat ini, ia berlari pada sang kakak lalu memeluknya. Reaksi ini yang membuat Luhan merasa risih sekaligus terkejut. Untuk seorang saudara lelaki, sikap ini tentu berlebihan.Wajarnya Sehun akan menepuk atau menonjok pelan bahu Luhan sebagai salam sapaan, tapi lain dengan yang dibayangkan oleh Luhan.

“Hey! Sudah-sudah, orang lain melihat kita!” bisik Luhan.

Sehun pun melepas pelukannya lalu menatap Luhan dengan mata yang berbinar.

“Serindu itukah kau?” Luhan terkekeh lalu memukul pundak Sehun.

Saat Luhan berjalan melewatinya, Sehun menarik ujung baju Luhan percis yang selalu ia lakukan di masa kecil mereka.

“Hyung!” panggilnya.

“Kenapa?”

“Ayo kita melihat bunga tulip lagi!” ucap Sehun riang.

Usianya memang sudah dewasa, yaitu 18 tahun. Tapi sikapnya seperti anak berusia 7 tahun. Sehun memang memiliki masalah dengan mentalnya, dan Luhan belum mengetahui tentang hal itu.

Luhan menatap aneh kepada Sehun, dalam pikirannya ia bertanya, ada apa dengan anak ini? Lalu Luhan menoleh pada sang Ibu, ia tersenyum kepada Luhan seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh anak sulungnya itu.

***

Keluarga kecil itu sudah berada di dalam rumah saat ini. Luhan dan Sehun duduk dihadapan Ayah dan Ibu mereka. Sehun memang tak mau jauh dari kakaknya setelah sekian lama mereka berpisah. Orang tua mereka siap menjelaskan kepada Luhan tentang apa yang terjadi kepada Sehun selama ini. Luhan sendiri tak usah mengulangi pertanyaannya, kedua orang tuanya sudah pasti tahu dengan rasa penasaran dan tanda tanya besar di kepala Luhan.

“Usia kalian hanya berbeda 3 tahun, kau berusia 21 tahun dan adikmu 18  tahun. Ya, kau pasti tahu..” Ibu Luhan mulai berbicara.

“Maksud Ibu?”

“Usianya memang 18 tahun, tapi mentalnya adalah anak usia 7 tahun. Sehun memiliki kelainan.”

Hati Luhan melengos. Ia tak menyangka jika adiknya akan mendapatkan kelainan langka seperti itu. Jika saja ia normal, Sehun akan menjadi remaja yang gagah dan tampan, yang akan dibanggakan oleh teman dan keluarganya. Jauh dari harapan itu, Sehun hanya bisa dibanggakan oleh keluarganya. Teman-teman Sehun di Sekolah dulu selalu menjauhi Sehun dan hanya beberapa guru yang simpati kepadanya. Orang tua Sehun akhirnya memutuskan untuk membawa Sehun belajar di rumah saja dengan menyewa guru private. Akan sakit hati mereka jika melihat Sehun terus diejek oleh teman-temannya di Sekolah, dan keputusan untuk mengeluarkan Sehun adalah jalan terbaik.

Luhan menatap prihatin kepada Sehun yang duduk bersila di sampingnya. Ada penyesalan yang ia rasakan saat melihat kondisi adiknya, apa karena selama ini ia tak mau menjaganya dan Sehun jadi seperti ini? Ia terus mengutuk dirinya sendiri yang terlalu mementingkan egonya selama ini.

Malam hari diselimuti hawa yang dingin. Luhan memakai sweater bermotif rusa yang ia beli di Jepang. Tak lupa ia juga memberikan sweater lain bermotif anjing untuk Sehun. Saat Sehun mencobanya, sweater itu sangat pas ditubuhnya, Luhan lupa jika ukuran tubuh mereka berbeda dan bahkan ukuran tubuh Sehun lebih besar dibanding dirinya.

“Pas sekali.” Komentar Luhan saat Sehun mencoba sweater itu.

“Pas sekali sampai dadanya terlihat bidang.” Celetuk Ibunya yang berjalan melewati Luhan dibelakang.

Luhan tersenyum malu, ia benar-benar tidak tahu ukuran tubuh Sehun sebesar apa. Benar-benar payah, sudah jelas Sehun bukan anak 7 tahun lagi.

“Aku suka hyung~”

“Benarkah? baguslah! Sekarang ayo kita makan malam, Ibu dan Ayah sudah menunggu.”

Mereka melewati malam pertama Luhan di Korea dengan penuh suka cita. Suara sumpit dan sendok berdentingan dipadu dengan suara gelak tawa dan obrolan tanpa arah dari keluarga kecil itu, memenuhi ruangan yang kini diselimuti kehangatan.

***

Jauh-jauh hari sebelum Luhan mendarat di Korea, sebenarnya ia sudah punya kekasih di sini. Mereka berpacaran kurang lebih sudah 3 bulan, wanita itu adalah teman SMA Luhan saat di Jepang namun ia sudah lebih dulu pulang ke Korea 2 tahun silam. Namanya Zhang Yuan, wanita berdarah Cina dan Korea. Cantik rupanya dan punya kecerdasan yang luar biasa, penyayang dan mudah sekali bergaul dengan orang baru. Karena semua itulah Luhan jatuh cinta kepada wanita berkulit putih itu.

Luhan sudah berjanji kepada Yuan akan memberikan waktu luangnya untuk bertemu dengannya. Dan hari ini adalah waktunya, Luhan sudah berkemeja rapih dengan tatanan rambut yang maskulin dan sedikit polesan BB cream diwajahnya, menambah kesempurnaan garis wajahnya itu. Tak lupa memberikan keharuman pada tubuhnya dengan semprotan Parfume merek ternama. Saat ia akan melangkah keluar kamar, Luhan terkejut melihat adiknya tengah berdiri didepan pintu kamar.

“Kenapa kau diam disitu? Ada apa?”

Sehun tersenyum lalu beralih memperhatikan penampilan Luhan dari bawah sampai atas.

“Hyung mau kemana? Kenapa berdandan rapih?”

“Aku ada janji, kenapa?”

“Kau akan pergi kemana?”

“Ke suatu tempat, kau mau dibelikan sesuatu?”

Sehun menggeleng. “Aku ingin ikut!”

“Mwo?? Jangan, tidak boleh! Sehun, aku punya janji, dan itu bukan untuk main-main. Sekarang kau main saja  di rumah, nanti aku akan membelikanmu susu rasa pisang yang banyak, bagaimana?” Luhan tersenyum diakhir ucapannya, matanya berbinar berharap cemas menanti jawaban Sehun.

Beberapa detik berlalu, Sehun akhirnya mengangguk pertanda ia mau menuruti usul dari kakaknya itu.

“Anak baik..” Luhan mengusap kepala Sehun sambil tersenyum.

Tanpa ia tahu, Sehun sebenarnya sedang merancang sebuah rencana dikepalanya.

***

Caffee dengan gaya vintage ini menjadi pilihan Yuan dan Luhan untuk bertemu. Yuan sudah memilih kursi di dekat kaca agar ia bisa melihat pemandangan diluar dengan leluasa, walau hanya sederet gedung dan orang-orang yang berlalu lalang pada jam sibuk mereka. Yuan tersenyum lega setelah melihat sosok yang dinantinya datang. Yuan mengangkat sebelah tangannya saat Luhan sudah sampai di dalam Caffe agar Luhan bisa menemukan dirinya.

Luhan tersenyum sambil berjalan ke arahnya, ia sangat merindukan kekasihnya itu. Jarak adalah penghalang dalam hubungan mereka, dan selama itu pula keduanya tersiksa ingin cepat bertemu. Yuan berdiri lalu menyambut Luhan dengan bentangan tangannya, Luhan dengan cepat merengkuh tubuh Yuan yang lebih kecil darinya, mereka berpelukan. Melepas rindu yang mereka rasakan 3 bulan terakhir ini, tak memperdulikan orang lain yang menjadikan mereka objek perhatian disana.

Sehun sampai didepan Caffee yang baru saja dimasuki oleh Luhan, ia tersenyum tipis sebelum masuk ke dalam Caffee itu. Banyak dari pengunjung wanita disana menatap ke arah Sehun. Sempurna, kata yang mendeskripsikan wujudnya. Tanpa mereka ketahui kelainan pada diri Sehun, jika saja mereka tahu, mereka pasti akan sangat merasa kecewa akan penilaian itu.

Sehun tersenyum saat mendapati kakaknya yang sedang asik mengobrol dengan seorang wanita cantik. Ia sudah bisa menebak siapa wanita itu, dari pengalamannya saat menonton drama, jika seorang wanita dan pria terlihat nyaman berbicara berdua pasti mereka adalah sepasang kekasih, begitulah pemikiran Sehun. Wajahnya datar, terlihat dingin dan berkarisma. Ia agak iri dengan posisi Yuan yang bisa ngobrol asik dengan kakaknya.

“Mau pesan apa?”

Sehun terlonjak kaget saat pelayan wanita datang kepadanya dan bertanya. Wajahnya yang datar berubah jadi seperti anak kucing yang terpojokan oleh segerombolan anjing. Matanya jelas bergetar, memancarkan ketakutan yang kentara. Pelayan itu sendiri bingung dengan sikap Sehun.

“Apa ada masalah Tuan?”

Sehun berdiri lalu melangkah mundur menjauhi si pelayan. Tanpa sengaja ia menyenggol meja lain dibelakangnya dan membuat kegaduhan dengan suara gelas dan piring yang berjatuhan ke lantai. Sehun semakin panik dan ketakutan, bagaimana pun mentalnya masih labil dan sensitif.

Suasana di Caffee menjadi kacau dan semua pengunjung menatap kesal ke arahnya. Begitu pula dengan Luhan, tiada yang lebih kesal dan terkejut selain Luhan saat ini. Ia dengan cepat menghampiri Sehun lalu menarik adiknya itu kebelakang tubuhnya. Luhan berbicara sopan dan tenang kepada si Pelayan.

“Maafkan adik saya, saya akan membayar semua kerugian ini. Sekali lagi saya minta maaf, Sehun, cepat minta maaf!” Luhann berbicara dengan nada menekan.

Sehun dengan takut membungkuk lalu meminta maaf kepada pelayan dan pengunjung yang sudah ia kacaukan acara makan mereka.

***

Luhan membawa Sehun ke tempat yang lebih tenang dan sepi, kebetulan ada sebuah gang sempit di sisi Caffee itu. Ia ingin mengajaknya berbicara, sudah pasti Luhan akan menegur Sehun atas apa yang baru saja ia lakukan di dalam Caffee tadi. Sehun sendiri tertunduk ketakutan saat Luhan berdiri tegap didepannya dengan dada yang naik turun seperti telah melakukan lari maraton.

Luhan mengusap wajah lalu tengkuknya, ia bingung harus memulai darimana.

“Kenapa kau mengikutiku kesini?” tanya Luhan dibuat setenang mungkin, ia tidak mau Sehun menangis sebelum ia selesai dengan urusannya.

Sehun diam tak menjawab. Kepalanya semakin tertunduk lebih dalam, jemarinya meremas kuat ujung baju yang ia pakai.

“Aku sudah bilang padamu untuk tetap di rumah, kenapa kau mengikutiku kesini? Kau mau membuatku malu hah?”

Entah karena rasa kesalnya terlalu memuncak, Luhan tidak sengaja mengeluarkan kata-kata jahat seperti itu. Jika saja Sehun tahu arti dari semua ucapan kakaknya, sudah pasti ia akan merasa sakit hati. Untung saja, telinga dan otak Sehun tak banyak menangkap dan mencerna ucapan Luhan karena ia sibuk memelintir ujung baju yang semakin kusut ditangannya.

“Sehun? Kau dengar apa yang aku katakan?” Luhan memegang kedua pundak Sehun, memaksanya untuk menatap Luhan.

Sehun perlahan menaikkan kepalanya lalu dengan mata yang bergetar ia menatap Luhan dengan sendu.

“Kau tidak akan nakal lagi kan? Kau akan mendengar apa kata hyung-mu kan?” Luhan memberi penekanan baik pada perkataannya dan juga pada tatapannya.

Sehun akhirnya mengagguk.

“Janji?”

Sehun hanya mengagguk lagi untuk menjawabnya.

Luhan menjatuhkan kedua tangannya dari pundak Sehun lalu merogoh saku di celananya. Ia mengeluarkan dompet beserta isinya.

“Ini, beli apa saja yang kau mau sebelum pulang, kau tahu jalan pulang kan?”

Sehun menerima beberapa lembar uang itu lalu mengangguk paham.

“Baiklah, sekarang kau pulang, kita bicara lagi nanti di rumah.”

Luhan meninggalkan Sehun yang masih berdiri sambil memegang lembaran uang itu. Matanya tertuju pada permukaan jalan yang kosong dibawah kakinya, tenang dan sepi seperti dirinya. Sehun memang belum bisa berfikir lebih dalam dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia hanya bisa menyimpulkan bahwa ia sedang sedih atau senang, hanya itu. Ia tidak memikirkan apa penyebabnya menjadi sedih atau pun senang. Untuk otak seukuran anak 7 tahun itu terlalu rumit.

Dengan kaki panjangnya yang gagah, Sehun berjalan menuju halte bis. Masih digenggamnya lembaran uang itu, ia tidak berniat untuk memasukannya ke dalam saku celana. Sehun duduk di bangku halte, entah kapan bisnya datang, ia hanya akan menunggu. Rintikan air hujan turun tanpa peringatan, Sehun menatap langit yang cerah dan ia heran mengapa air hujan bisa turun di hari yang cerah seperti ini. Sehun tersenyum merasakan sensasi dingin saat hujan turun, ia mendapati kakinya yang mulai basah oleh aliran air hujan. Intesitas hujan semakin tinggi, dan angin mulai berkelebatan menampari wajah dan tubuh Sehun yang hanya dibungkus oleh kaus hitam berlengan pendek.

Tubuh Sehun semakin mendingin seiring turunnya suhu di kota Seoul saat itu. Ia tahu halte bukanlah tempat yang tepat untuk berteduh saat ini, akhirnya pria berbadan tinggi itu menyelinap diantara banyaknya orang yang siap menyebrang untuk mencari tempat berteduh lainnya, seperti kedai di sebrang jalan sana. Saat kakinya berjalan seirama dengan pejalan kaki yang lain, Sehun  tak sengaja menjatuhkan uang pemberian kakaknya tepat saat ia berada di tengah jalan.

Dengan bodohnya ia berjongkok lalu mencari uang yang ditendang kesana kemari oleh pejalan kaki lain. Sehun terus mencarinya, karena tanpa uang itu ia tidak akan bisa pulang. Hanya itungan detik jalan kembali kosong dan Sehun tertinggal oleh segerombol pejalan kaki yang menyebrang bersamanya tadi. Dan hanya beberapa itungan detik lagi lampu hijau akan menyala, seharusnya tidak ada lagi pejalan kaki yang menyebrang di jalan. Saat itu hanya tersisa Sehun ditengah jalan.

Ada seorang pengendara gelap mata yang memasang kecepatan diatas rata-rata, mungkin karena dirasa tak ada orang menyebrang, pengendara motor itu semakin menaikkan kecepatannya tanpa ia tahu masih ada satu orang tersisa di area zebra cross.

“AWASS!!”

Sehun menoleh ke arah segerombolan orang yang berteriak kepadanya di pinggir jalan. Ia tidak tahu mengapa mereka berteriak, Sehun pun acuh dan tetap berjalan melewati zebra cross setelah mendapatkan uangnya yang jatuh dan basah terkena genangan air hujan.

“AWAS! JANGAN DULU BERGERAK!!”

BRAKKK!!

Suara terakhir yang ia dengar hanya benturan keras dan teriakan histeris dari orang-orang yang berlari kepadanya. Setelahnya, mata dan telinga Sehun sudah tidak menangkap apa-apa lagi. Kesadarannya hilang.

***

Luhan keluar dari Caffee setelah hujan reda, dibelakangnya ada Yuan yang mengikutinya. Mereka berjalan menuju halte bis yang terletak tak jauh dari Caffee. Tak jauh dari halte bis pula Luhan melihat orang-orang bergerombol ke tengah jalan. Merasa penasaran, ia juga mau ikut menyaksikan apa yang terjadi disana. Sebelum langkahnya sampai ditengah jalan, aliran air hujan yang bercampur darah segar mengalir dibawah kakinya, ia pun tertegun dan menatap aliran merah itu.

Kecelakaan.

Sekarang ia tahu apa yang telah terjadi. Tak berapa lama ambulance pun datang, orang-orang itu menjauh untuk memberi jalan kepada petugas  ambulance. Saat benteng manusia itu terbuka, Luhan dengan perasaan yakin tak yakin melihat siapa korban itu. Dan itu adalah Sehun. Orang yang diangkat diatas FEFAKSCNASC itu adalah Sehun, dengan sekali lirikan saja Luhan sudah hapal betul wajah adiknya.

Lututnya melemas, ia tak sanggup menahan berat badannya. Serasa nyawanya lepas saat itu juga. Kekasihnya Yuan segera memapah Luhan saat ia akan tumbang ke atas jalan beraspal itu. Yuan tahu kesedihan apa yang sekarang menimpa Luhan.

“Kau mau mengantarnya?” ucap Yuan lembut.

Ia pun membawa Luhan ke dalam mobil ambulance untuk menemani Sehun.

“Dia kakak dari korban.” Yuan memberitahu. Petugas pun membiarkan keduanya ikut ke dalam mobil.

Selama perjalanan Luhan hanya fokus pada Sehun yang terbaring lemas di depannya. Darah yang mulai mengering terlihat membanjiri wajah dan tubuhnya. Luhan merasa ketir, setelah ini ia pasti akan menyalahkan dirinya atas apa yang telah menimpa adik satu-satunya itu. Tangan Luhan menggenggam erat tangan Sehun, sambil menangis ia menempelkan punggung tangan Sehun ke pipinya, membiarkan aliran darah dan air mata itu bersatu.

***

Sehun beruntung, karena hampir semua organ vitalnya tidak mengalami kerusakan. Hanya ada benturan keras pada kepalanya yang menyebabkan kulitnya robek dan memar, selain itu tidak ada luka yang lebih serius.

3 jam berlalu setelah Sehun memasuki ruangan ICU, dan akhirnya ranjang yang membawa Sehun pun keluar dari ruangan. Luhan yang sedari tadi duduk di depan ICU berdiri dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Ditatapnya mata Sehun yang masih terpejam rapat, lalu ia menanyakan keadaan adiknya itu pada Dokter yang keluar bersamanya.

“Bagaimana keadaannya Dok? Apa dia terluka parah?”

Dokter itu tersenyum hangat. “Nak Sehun akan baik-baik saja, dia hanya kekurangan darah dan kami telah memberinya donor darah. Dia akan bangun setelah pengaruh dari obat biusnya hilang, sekitar dua jam lagi.” Jelas sang Dokter.

“Terima kasih banyak Dok, terima kasih!” Luhan berkali-kali membungkuk kepada sang Dokter.

“Luka di kepalanya yang paling serius, tolong untuk menjaganya agar tidak terguncang.”

“Baik Dok, saya akan menjaganya, terima kasih!”

Dokter itu berlalu setelah menepuk halus pundak Luhan, memberinya sedikit semangat.

***

Tiga hari sudah Sehun menginap di Rumah Sakit, ia tidur dengan selang yang melilit di tubuhnya. Cairan infus tak henti-hentinya menetes ke dalam selang transparan yang masuk ke dalam tubuh Sehun. Orang yang setia menjaganya selama ia dirawat adalah sang Ibu. Karena Luhan dan Ayahnya harus pergi mengurusi pekerjaan mereka. Walau begitu, Luhan tak pernah absen dalam sehari untuk menengok adiknya.

Seperti hari ini, setelah memenuhi panggilan kantor, Luhan langsung pergi ke Rumah sakit bukannya ke rumah. Tak lupa ditangannya ia membawa beberapa kotak susu dan buah-buahan untuk Ibu dan Sehun.

“Dia tidur?” tanya Luhan sambil menata kotak susu itu di atas meja. Saat ini ia sudah berada di dalam ruang inap Sehun.

“Sudah satu jam ia tertidur, kau sudah makan?”

“Sudah bu, Ibu sendiri bagaimana?”

“Belum, Ibu tak bisa meninggalkan Sehun sendiri.”

“Kalau begitu sekarang Ibu makan saja, biar aku yang menjaga Sehun.”

“Baiklah, terima kasih sayang..” Ibu mengusap kepala Luhan dengan lembut, baginya Luhan dan Sehun masih seperti bayi kecil yang perlu ia jaga sampai keduanya siap hidup mandiri dan menghadapi ‘dunia yang lebih besar’.

Sehun memang sudah sadar sejak tiga hari yang lalu, tapi ia belum mau bicara. Di dalam kepalanya masih sibuk menata kembali memorinya sebelum ia mengalami kecelakaan. Entah kenapa, Sehun sempat hilang ingatan saat pertama kali membuka matanya, dan baru kemarin ia bisa mengingat kembali kejadian yang ia alami sebelumnya walau masih samar-samar.

Sehun membuka matanya setelah 2 jam tidur. Ia dapat melihat cahaya matahari yang mulai redup, rupanya ini sudah pukul 5 sore. Di sampingnya ada Luhan yang rupanya sedang melamun, tatapan yang sendu terpaku memandangi kaca jendela. Beberapa detik berlalu dan kini mata rusa itu mulai berair, ia menangis dalam diam. Entah apa yang Luhan pikirkan, tapi sepertinya itu sangat melukai hatinya.

Sehun dapat merasakan lelehan air mata yang masih hangat menetes ke atas tangannya. Hatinya tiba-tiba merasakan sakit saat melihat orang disampingnya itu menangis. Rasanya ingin sekali ia menenangkan Luhan dengan cara apa pun agar tangis dan sakit hatinya berhenti. Tapi seperi orang asing, Sehun tidak tahu apa yang sedang menimpa Luhan, apa yang membuatnya menangis ini, ia sama sekali tidak tahu apa-apa.

“Hyung..”

Luhan terlonjak kaget saat Sehun memanggilnya, suaranya begitu lirih dan  bergetar. Ini pertama kalinya ia kembali berbicara setelah 3 hari menjalani rawat inap.

“Y-ya Sehun, ini hyung! Kau bisa bicara lagi?”

Sehun mengangguk pelan. “Kau hyungku?”

Luhan tertegun mendengarnya, ada satu jarum yang tertancap dihatinya. Kecil namun sakit. Apa pantas ia menjadi seorang kakak bagi Sehun? Apa selama ini ia menyayangi Sehun? Luhan sendiri ragu pada dirinya.

Luhan tersenyum sambil menundukkan kepalanya. “Aku kakak yang buruk Sehun..”

“Kenapa?”

“Karena aku, kau jadi seperti ini.”

“Memangnya aku kenapa?”

Luhan mengangkat kepalanya lalu menatap Sehun dengan kening berkerut.

“Kau tidak ingat?”

Sehun mengangguk. “Apa aku tidur selama itu?”

Kening Luhan semakin berkerut sampai kedua alisnya hampir bertaut.

“Apa maksudmu tidur selama itu? Kau baru saja tidur 2 jam Sehun, kemarin kau bangun dan hari-hari sebelumnya juga kau bangun dan bahkan kau bermain denganku. Apa kau habis bermimpi eoh?”

“Tidak hyung… seingatku, kita terakhir bertemu saat di Bandara. Kau bilang saat itu akan pergi ke Jepang, dan aku menangis seharian setelah kau pergi.”

Luhan tahu apa artinya ini. Sehun pasti kehilangan sebagian dari memorinya.

“Kau tidak ingat hari-hari selanjutnya setelah aku pergi?”

Sehun menatap langit-langit kamar, ia seperti memaksa otaknya untuk menemukan memori yang dimaksud kakaknya itu. Namun nihil, otaknya tidak bisa menemukan memori itu.

“Tidak..”

Luhan menarik kesimpulan sederhana, ini pasti karena benturan keras di kepalanya dan Sehun kehilangan sebagian dari ingatannya. Hanya itu pikirnya.

“Tunggu..” Luhan baru menyadari sesuatu. Nada dan gaya bicara Sehun berubah, lebih santai dan terarah. Sama sekali bukan gaya bicara anak kecil lagi, benar-benar terdengar lebih dewasa.

“Berapa usiamu?”

Sehun menyergit bingung saat Luhan tiba-tiba bertanya seperti itu.

“Bukan kah kita beda tiga tahun, jika hyung 20an aku masih 17 atau 18 tahun. Benar kan?”

“Benar..” Luhan menarik tubuhnya dari Sehun.

“Tapi hyung.. kenapa aku bisa tidur selama itu? Kita berpisah saat usiaku 7 tahun dan-“

Belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya, Luhan sudah menghambur memeluk Sehun. Sangat erat, seperti tak ingin ada celah diantara mereka.

“Terima kasih Tuhan..” terdengar isakan Luhan yang berada di pundak Sehun.

“Hyung?” Sehun masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi saat ini, situasi seperti apa ini.

“Sehun kau sembuh, kau kembali normal Sehun-ah!” Luhan berbicara diceruk leher Sehun dengan suara bergetar dan diiringi oleh isakan.

Sehun tak tahu apa maksudnya. Memangnya ia sakit apa sampai Luhan berkata seperti itu. Baginya ini sangat rumit. Apa pun itu, Sehun senang jika melihat kakaknya bahagia.

***

Dua bulan setelah Sehun pulang  dari Rumah Sakit. Hidupnya kembali seperti biasa dan segala sesuatunya kini berjalan lebih normal. Ia sudah dinyatakan sembuh dari kelainan mental yang selama ini menyiksa dirinya. Usianya 18 tahun dan sikapnya sudah seperti layaknya remaja 18 tahun. Postur tubuh yang gagah dan garis wajah yang hampir mendekati kata sempurna, semakin menambah kharisma pada dirinya. Saat pertama masuk Sekolah pun, banyak sekali siswi disana yang mengejar Sehun.

Ia menjadi siswa populer dalam hitungan jam, seperti berita panas selebriti yang cepat menyebar hingga ke pelosok negeri. Tak seperti dulu, dirinya sulit mendapatkan teman hanya karena sikapnya yang aneh, tapi kini ia sudah banyak mendapatkan teman. Salah satunya Rae Kim, siswi cantik yang juga populer di SMA Daeguk.

“Hei Sehun! Kekasihmu sudah menunggu di gerbang!” Rae menepuk pundak Sehun dari belakang sampai Sehun memutar badannya mengahadap Rae.

“Siapa? Aku tidak punya kekasih!”

“Cepat sana! Dia sudah menunggumu!”

“Ya Oh Sehun!”

Rae dan Sehun menoleh ke arah suara yang memanggil nama Sehun lengkap dengan marganya.

“Eoh? Hyung?” Mata Sehun berbinar seperti anak anjing yang bertemu dengan majikannya. (sori -,-)

“Lihat! Lihat! Kau seperti anak gadis yang bertemu dengan pujaan hatinya, ya ampun.. sana temui kekasihmu itu!” ejek Rae.

“Yak! Dia kakakku! Apa salahnya jika kami dekat eoh?” Sehun bertolak pinggang menghadap Rae.

Rae pun tak mau kalah, ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menengadah menatap Sehun. “Ya, dekat sekali! Saking dekatnya sampai membuat wanita lain cemburu!”

“Jadi siapa wanita itu? Wanita yang cemburu?”

Darah seolah surut dari wajah Rae, ia diam tak bisa menjawab karena dirinya sendiri adalah jawabannya.

“Y-ya… wanita lain saja yang melihat kalian, kau terlalu lengket pada kakakmu!”

“Hey kenapa wajahmu merah? Jangan-jangan..”

“Yak! Ini karena kita diam tepat dibawah matahari kau tahu!? Aah! Panas sekali aku mau ke dalam saja!” Rae berjalan cepat meninggalkan Sehun dengan menutup kedua pipinya yang semakin merah saja. Bukan karena panas tentunya, tapi karena malu.

“Dasar!” gumam Sehun.

“Siapa?” tanya Luhan yang sudah berada di belakang Sehun.

“Eh? Hyung.. Kekeke~ dia temanku, sikapnya memang aneh.”

“Benarkah hanya teman?” Luhan mulai menggoda adiknya.

“Eh Hyung~ ayolah! Ayo kita pulang, kau pasti sudah lama menunggu!”

“Hey jangan mengalihkan pembicaraan! Aku yakin dia menyukaimu! Caranya menatap dan berbicara padamu sangat berbeda, terlihat nyaman. Lagi pula dia cantik dan sepertinya baik, kau juga pasti suka kan?”

Sehun diam sejenak, sebelum menjawab. “Tidak tahu juga..”

Sehun beralih menatap Rae yang sedang berkumpul dengan teman-temannya, melihatnya tersenyum dan tertawa bebas membuat Sehun ikut senang dan tersenyum. Kentara sekali jika Sehun memang menyukainya.

“Ommo! Kau memang menyukainya Oh Sehun!” cibir Luhan.

“Benarkah?”

“Dasar tolol! Ayo pulang! Untuk memastikan hatimu saja butuh waktu 24 jam kau tahu?” Luhan mengaitkan tangannya ke pundak Sehun, butuh sedikit perjuangan memang karena tubuhnya yang lebih pendek dari Sehun.

“Hyung mampir dulu ke Caffee bubble tea!”

“Aku bosan! Kita beli kopi saja!”

“Tidak mau! Aku mau bubble tea saja! Hyung~”

“Baiklah!”

“Yeay!”

“Kekeke~ dasar bayi!”

.

.

.

END.

Review??

Thanks before ^^

2 thoughts on ““For My Little Sehun” (Oneshoot)

  1. sykukurlah sehunnya udah normal.hehe
    buat sequelnya dong tentang pacaran diantara ke2 kakak adik ini atau luhan nya yang pacaran gitu. soalnya aku suka banget.

  2. Dari cerita ini gue baru sadar bahwa adik itu ada untuk menemani kesendirian kakak dalam keluarga bukan membuat keluarga menjauhi kakak.

    Gue bersyukur punya adek. Dan gue bakal jagain adek gue.

    Keren sumvah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s