Short Massage

Short Massage

a FanFiction

By

Heena Park

[ http://heenaliciousworld.wordpress.com/ ]

.

Starring by ;

Shin Hee Ra—Oh Se Hun—Kim Jong In—Oh Se Na

.

Romance—PG15—Longshot

.

Poster

By

leensArt

.

— “Short Massage” —

 

Apakah kalian pernah…

Menyesal karena telah mengetahui kenyataan dan jika bisa memilih lebih baik tidak pernah tahu saja?

Aku pernah…

 

♣♣♣

 

From : Se Hun

“Kau sudah makan hm? Aku benar-benar lapar dan berharap bisa menemukan makanan di kulkas, cacing di perutku mulai marah.”

 

Hee Ra tersenyum simpul membaca pesan singkat dari Se Hun, tangan kanannya sibuk memegang ponsel sementara tangan kirinya menutup laptop.

To : Se Hun

“Sebentar lagi aku akan pergi makan bersama teman-temanku. Aish! Kau benar-benar pemalas, kenapa tidak membeli makanan tadi?”

 

▂▂▂▂

 

From : Se Hun

“Mmmm, aku malas harus mampir. Tapi tidak apa-apa, ternyata di kulkas ada beberapa potong daging ayam, jadi aku bisa menggorengnya kekeke~”

 

▂▂▂▂

 

To : Se Hun

“Untunglah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kau kelaparan hahaha. Ngomong-ngomong dimana ibu dan adikmu?”

 

▂▂▂▂

 

From : Se Hun

“Ah itu, mereka pergi membeli pakaian untuk besok. Aku sudah ceritakan kalau kami akan pergi berlibur?”

 

▂▂▂▂

 

To : Hee Ra

“Yap! Andai saja aku bisa ikut liburan bersamamu T_T . Ah iya, aku makan dulu ya.”

 

▂▂▂▂

 

From : Se Hun

“Oke! Makan yang banyak Shin Hee Ra.”

 

Ia tidak segera memasukkan ponselnya ke dalam saku melainkan memandang layarnya selama beberapa menit dan baru mengantonginya. Tidak bisa dipungkiri jika beberapa tahun terakhir Hee Ra sangat bahagia karena bisa dekat dengan Se Hun.

Jarak keduanya memang jauh. Se Hun di Korea sementara Hee Ra di Jepang dan mereka berkomunikasi menggunakan sms atau e-mail. Beberapa kali Hee Ra meminta agar Se Hun menggunakan Blackberry Massenger, Whatsapp, Line, dan bahkan KakaoTalk, tapi pria itu selalu menolak, padahal biaya mengirim pesan antar negara tidaklah murah. Tapi tidak apa-apa, selama bisa berkomunikasi dengan Se Hun, Hee Ra rela kehilangan uang yang tidak sedikit.

Apalagi mengingat sebesar apa cinta Hee Ra pada Se Hun. Ia sudah mulai menyukai Se Hun sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar. Kala itu Hee Ra yang notabennya adalah adik kelas Se Hun diam-diam sering memperhatikannya, namun Se Hun sendiri tidak menyadari dan lebih dekat dengan kakak perempuan Hee Ra.

Terlebih lagi mereka tinggal di rumah yang bersampingan dan hanya dibatasi oleh pagar setebal sepuluh centi. Hee Ra kecil sangat suka memanjat pohon dan melihat Se Hun yang sedang berenang di belakang rumah, ia bahkan sempat beberapa kali terjatuh dari pohon karena perbuatannya.

 

♣♣♣

 

20 Desember 2003

Seoul, Korea Selatan.

 

“Se Hun-ah, gunakan mantelmu!” Teriak ibu Se Hun dari depan gerbang sambil membawakan sebuah mantel bewarna merah untuk anak lelakinya.

Hee Ra yang awalnya malas untuk keluar rumah tiba-tiba saja bangkit dari lantai dan menyusul Shin Hee Rin—kakaknya—yang ternyata sedang bermain perang salju bersama Se Hun dan Se Na.

“Eonni aku ingin ikut!” Rengek Hee Ra yang tiba-tiba datang, ia berlari secepat mungkin melewati halaman yang bersalju.

Sementara itu, Se Hun yang menyadari kehadiran Hee Ra langsung menengok ke arah gadis itu dan membiarkan ibunya untuk mengancing mantelnya, “Tidak boleh! Kembalilah ke rumah, nanti kau menangis lagi terkena saljunya.”

“Jangan berkata seperti itu,” Ibu Se Hun menimpali, “kaliankan berteman. Se Hun, lihatlah, Hee Ra adalah anak yang kuat, ibu yakin kau yang akan menangis jika melawannya berperang salju.”

“Ibu!” Rengek Se Hun kesal karena ibunya lebih membela Hee Ra.

Hee Rin dan Se Na mengangguk setuju, mereka tidak keberatan jika Hee Ra ikut bermain, lagipula ada Hee Rin yang akan menjaga adiknya bukan?

“Hmm, aku pasti akan melindungi Hee Ra dan tidak akan membiarkan siapapun membuatnya menangis, apalagi bocah sepertimu, Oh Se Hun.”

“Ya! Noona!”

 

♣♣♣

 

Oh Se Hun< ohsehoon.94@gmail.com

ke saya

 

 

“Shin Hee Ra! Lihat! Aku melihat sesuatu yang mirip denganmu di festival!”

 

 

“Dia benar-benar tipe pria yang humoris, ia bahkan mengirimimu pesan singkat dan menyuruhmu memeriksa e-mail hanya karena ingin kau melihat gambar ini, aku berpikir akan menyukainya jika kenal,” Komentar Naomi yang berdiri di belakang punggung Hee Ra.

“Aku juga!” Imbuh Yuri

“Dia memang seperti itu, menyebalkan, tapi aku menyukainya haha.”

“Baiklah, kenapa kalian tidak pacaran saja? Bukankah kalian sudah mengenal satu sama lain sejak lama?”

Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu, Hee Ra terdiam sebentar, air mukanya berubah. Benar juga yang dikatakan Naomi barusan. Mereka sudah kenal sejak lama, dan sekarang mereka juga dekat, tapi kenapa Se Hun tidak pernah mengungkapkan cinta pada Hee Ra padahal ia sudah tahu kalau Hee Ra menyukainya?

“Entahlah,” Hee Ra mengangkat kedua pundaknya secara bersamaan, “mungkin..dia belum yakin pada perasaannya padaku..atau ada gadis lain yang ia suka.”

 

♣♣♣

 

4 Juni 2006

Seoul, Korea Selatan.

 

Sudah lima hari lebih Se Hun dirawat di rumah sakit, dan berkali-kali Hee Ra meminta pada kedua orang tuanya untuk segera menjenguk tetangganya itu di rumah sakit.

Jujur, Hee Ra merasa sangat kesepian di sekolah. Biasanya ia akan mengikuti Se Hun dan diam-diam mengamati apa yang dilakukan pria itu, tapi semenjak sakit, Hee Ra hanya berdiam dan malas melakukan apapun. Ia bahkan menolak ajakan main dari teman-temannya.

Bukan hanya itu, Se Na—adik Se Hun, akhir-akhir ini juga terlihat lebih pendiam. Hee Ra sempat bertanya, dan ternyata Se Na sangat mengkhawatirkan kesehatan kakaknya.

Di usia 12 tahun Se Hun sudah harus menjalani operasi usus buntu dan melawan rasa sakit dalam perutnya. Se Na bilang ia selalu menangis ketika melihat Se Hun mengeluh kesakitan sebelum operasi. Ia benar-benar tidak tega melihat Se Hun seperti itu.

“Se Hun-ah, lihat siapa yang datang!” Gumam Nyonya Oh—ibu Se Hun.

Se Hun yang awalnya sibuk bermain game segera menaruhnya di atas selimut dan menengok. Betapa bahagianya ia begitu mendapati Hee Rin datang menjenguknya, ia bahkan secara refleks langsung menyebut nama Hee Rin—bukan Hee Ra.

“Hee Rin noona!” Se Hun sumringah, barisan gigi putihnya kelihatan ketika ia tersenyum, “kau datang untuk menjengukku? Aku merindukanmu noona.”

Hee Rin mengangguk, “Mmm..tentu saja, aku sekeluarga datang untuk menjengukmu. Apalagi Hee Ra, dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu.”

“Aku sangat kesepian karena kau tidak masuk sekolah, cepatlah sembuh dan masuk,” Tukas Hee Ra.

“Tidak mau. Kau selalu mengikutiku kemanapun saat disekolah. Aku lebih senang berada di sini, lebih tenang karena tidak ada kau.”

“Jangan berkata seperti itu Se Hun, lihatlah Hee Ra sangat khawatir padamu. Kau harus bersikap baik padanya,” Nasehat Nyonya Oh seraya mengelus lembut rambut Se Hun.

Bukannya tersentuh, Se Hun semakin mengerucutkan bibirnya, ia nampak tidak senang dengan pembelaan yang diberikan ibunya untuk Hee Ra, “Tidak ibu! Aku benar-benar terganggu karena dia selalu mengikutiku kemanapun. Aku tidak menyukaimu, lebih baik kau cepat pergi saja, Shin Hee Ra!”

Begitu selesai mengucapkan kalimat barusan, Se Hun langsung membelakangi orang-orang yang ada di dalam ruangan dan menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya. Tidak tahukah Se Hun bahwa perasaan Hee Ra terluka? Haruskah ia berkata sekasar itu pada Hee Ra?

 

♣♣♣

 

Sudah larut malam. Hee Ra masih bergelut dengan laptop dan beberapa buku yang berserakan disekitarnya. Beberapa kali ia meraih cangkir kopi dan menyeruput pelan, berharap bisa sedikit menghilangkan rasa kantuknya demi mengerjakan tugas kuliah.

Ponselnya tiba-tiba saja bergetar, segera Hee Ra mengulurkan lengan dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.

Rupanya Se Hun..

Dan Hee Ra sangat bahagia.

 

From : Se Hun

“Selamat tidur putri Shin Hee Ra, mimpi indah kekeke.”

 

▂▂▂▂

 

To : Se Hun

“Aku belum tidur hehe. Ngomong-ngomong darimana saja kau?”

 

▂▂▂▂

From : Se Hun

“Kenapa belum tidur? Bukankah ini sudah larut malam? Cepatlah tidur. Aku baru saja sampai di rumah, tadi kami sekeluarga datang ke makam seseorang untuk memperingati dua tahun kematiannya.”

 

▂▂▂▂

 

To : Se Hun

“Oh begitu, sebentar lagi aku akan tidur. Kau juga harus segera tidur ya. Dan kemungkinan minggu depan aku akan kembali ke Korea. Aku sangat merindukanmu kau tahu?”

 

▂▂▂▂

 

From : Se Hun

“Kau akan pulang ke Korea?”

 

 

Hee Ra mengkerutkan keningnya setelah membaca pesan terakhir dari Se Hun. Kelihatannya pria itu tidak senang mendengar kabar bahwa Hee Ra akan segera pulang.

 

To : Se Hun

“Mmm, aku akan pulang sebentar. Kau tidak menyukainya?”

 

▂▂▂▂

 

From : Se Hun

“Ah tidak, bukan seperti itu. Aku hanya sedikit kaget. Kapan tanggal tepatnya kau pulang?”

 

♣♣♣

 

11 Februari 2012

Seoul, Korea Selatan

 

“Aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkanya. Aku benar-benar menyukaimu sejak dulu. Maukah kau menjadi kekasihku, Hee Rin noona?”

Kalimat itu masih terngiang dalam kepala Hee Ra. Melihat sendiri bagaimana Se Hun mengungkapkan perasaannya pada Hee Rin rupanya bukan hal yang mudah. Tentu saja keduanya tidak menyadari kehadiran Hee Ra sehingga Hee Rin dengan santainya meraih tangan kanan Se Hun dan menggenggamnya.

Ia tidak kuat dan memilih pergi sesaat sebelum Hee Rin menjawab. Haruskah mulai sekarang Hee Ra berusaha menghilangkan perasaannya pada Se Hun? Ya, tentu saja. Tapi apakah bisa?

Ia tidak yakin bisa melewati hari-hari ke depan dengan melihat Hee Rin dan Se Hun sebagai pasangan kekasih.

Hee Ra memang tidak tahu apa jawaban Hee Rin, tapi dilihat dari tingkah laku gadis itu, sepertinya ia juga memiliki perasaan pada Se Hun. Sungguh, beruntung.

“Shin Hee Ra!”

Seseorang tiba-tiba memeluk Hee Ra dari samping dan mendorongnya sampai mereka oleng ke pinggir jalan. Hee Ra yang masih terkejut hanya bisa membulatkan mulutnya ketika menyadari orang yang berada bersamanya adalah Se Hun. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa Se Hun memeluknya seperti itu.

Otaknya seolah beku, dadanya mengembang dan matanya masih terpaku menatap Se Hun dengan ekspresi khawatirnya. Sungguh, bahkan disaat seperti inipun Se Hun masih terlihat tampan.

“Kau bodoh atau gila? Kau ingin mati?” Gertak Se Hun kasar, ia membantu Hee Ra bangkit, namun tatapannya penuh amarah.

“Keluargamu kebingungan gara-gara kau menghilang sejak tadi, apa yang ada di otakmu? Kau bahkan hampir tertabrak mobil dan tetap berjalan tenang? Apa kau sudah gila hah?!” Sambungnya dengan suara makin tinggi.

Hee Ra sangat menyadari aura kemarahan Se Hun. Tapi kenapa? Kenapa ia kelihatan sekhawatir itu dan bahkan rela mencari dan menyelamatkannya?

Jujur, Hee Ra memang tidak sepenuhnya menyadari apa yang sedari tadi ia lakukan. Yang ia tahu hanya berjalan, berjalan, dan berjalan tanpa arah. Otaknya penuh akan Se Hun dan Hee Rin, ia tidak bisa mencerna berbagai hal disekitarnya secara jernih.

“Ma…maafkan aku…”

 

♣♣♣

 

To : Se Hun

“Aku sudah sampai di Incheon, bisakah kau menjemputku?”

 

Berkali-kali Hee Ra mengintip layar ponselnya, berharap balasan dari Se Hun akan pesan yang ia kirimkan hampir satu jam yang lalu, namun nihil, ponselnya tidak bergetar sama sekali.

Sebenarnya dimana Se Hun? Apa ia tidak suka mendengar Hee Ra sudah berada di Korea?

Tiba-tiba saja Hee Ra teringat pada kejadian sebelum-sebelumnya. Ia menyadari seribu persen bahwa Se Hun sangat menyukai Hee Rin dan tidak pernah memandangnya. Apakah komunikasi mereka selama berpisah jauh hanyalah sekedar penghibur lara? Atau jangan-jangan Hee Rin yang menyuruh Se Hun agar mau membalas pesan selama ini.

Tapi sekarang? Se Hun yang lama telah kembali. Ia bahkan tidak membalas pesan Hee Ra sejak kemarin malam, semenjak Hee Ra berkata bahwa ia akan segera terbang ke Korea Se Hun mulai berubah. Ia menjawab seperti orang linglung dan kebingungan.

Masih berharap Se Hun akan segera membalas pesannya, kali ini Hee Ra sedikit tidak tahan, ia mengangkat ponsel dan berkali-kali melihat pesan masuk yang masih kosong.

Hatinya mulai tidak tenang. Ia takut jika Se Hun menghindar, sungguh, Hee Ra tidak bermaksud ingin mengganggu Se Hun dengan kepulangannya ke Korea. Ia hanya rindu, sangat-sangat rindu pada pria itu. Tidak bisakah Se Hun mengerti?

“Shin Hee Ra eonni?”

 

♣♣♣

 

 

03 April 2013

Seoul, Korea Selatan

 

Keduanya belum beranjak dari bangku taman. Berulang kali Hee Ra mencoba mengatur pernapasannya yang terengah-engah. Tidak, mereka tidak habis lomba lari atau apapun itu yang berhubungan dengan fisik—tapi Hee Ra, ia dengan berani mengungkapkan perasaannya pada Se Hun, dan jantungnya berdegup lebih kencang hingga napasnya tak teratur.

Sementara Se Hun, ia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Telinganya bisa mendengar suara Hee Ra dengan jernih. Tapi otaknya tidak. Memang ia sudah menyadari sejak lama kalau Hee Ra menyukainya, tapi ia tidak pernah berpikir bahwa Hee Ra akan mengungkapkan tanpa basa-basi, bahkan dalam keadaan gadis itu mengetahui Se Hun menyukai saudara perempuannya.

“Aku..hanya tidak ingin menyesal.”

Begitu kata Hee Ra. Ia ingin mengungkapkan sebelum terlambat. Mengingat sebentar lagi ia sekeluarga akan pindah ke Jepang untuk waktu yang tidak ditentukan.

“Tidak apa-apa kalau kau tidak membalas perasaanku, karena aku mengerti,” tersenyum tipis, tangan kanannya meraih tangan kiri Se Hun, membuat pria itu sedikit terkejut namun bisa mengendalikan diri.

Mungkin rasa malunya telah luntur atau sebentar saja dikesampingkan, Hee Ra menggenggam erat telapak tangan kiri Se Hun, kedua matanya mulai berkaca-kaca. Sekuat tenaga menahan agar tidak ada setetespun air mata yang mengalir dari sana.

“Aku mungkin bukan gadis yang kau inginkan..tapi…”

Masih belum ada balasan dari Se Hun, wajahnya menunjukan ekspresi agar Hee Ra melanjutkan perkataanya.

“Tapi luangkanlah waktumu…untuk sekedar membalas pesanku nanti.”

 

♣♣♣

 

Walaupun agak kecewa karena bukan Se Hun yang menjemputnya melainkan Se Na—adik Se Hun—tapi tidak apa-apa, setidaknya mereka masih perduli pada Hee Ra. Dan ya, ada yang berbeda. Se Na datang bersama seorang pria berwajah manis dengan badan tinggi tegap yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Hee Ra melalui kaca mobil.

Hee Ra tampaknya tidak sadar, ia terlalu asik pada pikirannya tentang Se Hun dan apa yang akan ia katakan ketika bertemu dengan pria itu nanti, sampai akhirnya suara Se Na berhasil menyadarkannya.

“Maaf ya eonni, oppa tidak bisa menjemputmu sehingga akulah yang datang,” gumam Se Na seraya menengok ke arah Hee Ra yang duduk di kursi belakang.

Hee Ra menggeleng-gelengkan kepalanya, bertanda tidak keberatan atas apa yang terjadi, “Apa? Tidak apa-apa, lagipula Se Hun pasti sibuk,” ia berhenti sebentar dan mulai melanjutkan kalimatnya, “ngomong-ngomong, bagaimana Se Hun sekarang? Dia tidak pernah mau mengirimkan fotonya ketika sedang berada di suatu tempat padaku.”

“Ngg…itu…dia..bertambah tinggi.”

Langsung saja Hee Ra tertawa mendengar jawaban Se Na. Bukan itu yang dimaksud oleh Hee Ra, siapapun pasti tahu jika Se Hun bertambah tinggi dari waktu terakhir mereka bertemu, bahkan Hee Ra-pun juga bertambah tinggi.

“Aku tahu kau mungkin tidak mencerna pertanyaanku dengan baik,” celetuk Hee Ra, “maksudku, apakah ia sudah mempunyai ya..kau pasti tahu maksudku kan? Dia tidak pernah mau memberitahuku.”

Setelah berhasil mencerna perkataan Hee Ra, Se Na tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “Ah itu..hahaha, ya, dia tidak dekat dengan siapapun kecuali eonni sepertinya, dan ya, eonni kenalkan ini Jong In.”

Apa Se Na berusaha mengalihkan pembicaraan?

Tapi tidak juga, bukankah tidak etis jika mereka berada dalam satu mobil tetapi tidak saling kenal?

“Kim Jong In,” Kali ini pria yang sedang sibuk menyetir itu mengeluarkan suaranya. Ia menundukkan sebentar kepalanya ke samping, berusaha menghormati Hee Ra.

Hee Ra buru-buru berganti mengenalkan dirinya, “Shin Hee Ra, senang bertemu denganmu, Kim,” Matanya melirik sebentar ke arah Se Na seolah bertanya apakah pria ini adalah kekasihnya, dan kali ini Se Na nampak cepat menangkap kode dari Hee Ra.

“Tidak-tidak, Jong In bukan kekasihku eonni. Dia adalah temanku dan oppa, kau harus percaya itu.”

 

♣♣♣

 

25 Mei 2013

Incheon, Korea Selatan

 

Pengakuan cinta Hee Ra tempo hari membuat ia dan Se Hun berubah canggung. Disatu sisi Se Hun merasa tidak nyaman karena pengakuan itu dan ia tidak mungkin bisa menerima perasaan Hee Ra, sementara di sisi lain, Hee Ra yang biasa mengikutinya kemanapun, beberapa saat lagi akan pergi. Dan ini membuat Se Hun merasa sangat kehilangan.

Se Hun sekeluarga mengantar kepergian keluarga Hee Ra. Sambil menunggu pesawat, keluarga mereka saling berbincang, tapi tidak dengan Hee Ra dan Se Hun. Keduanya hanya duduk diam bersampingan. Se Hun dengan tatapan kosongnya ke arah depan dan Hee Ra dengan tatapan sedihnya ke bawah.

“Hee Ra, ayo cepat, pesawatnya sudah datang,” Nyonya Shin—ibu Hee Ra, tiba-tiba menepuk pundak Hee Ra hingga ia hampir terlonjak kaget. Buru-buru Hee Ra mengangguk dan kembali menggunakan tas ranselnya.

Sementara Se Hun tidak melakukan apapun selain mengangkat wajahnya dengan ekspresi tegang. Ia masih tidak percaya kalau Hee Ra akan pergi, ia tidak ingin gadis itu menghilang dari kesehariannya.

Perlahan kedua ujung bibir Hee Ra tertarik, ia tidak perduli pada dinginnya Se Hun. Kedua tangannya meraih tangan kanan Se Hun dan menggenggamnya, berusaha memberitahu bahwa ia sangat beruntung karena pernah mengenal pria itu.

“Terimakasih, aku bahagia kau mau menjadi temanku, Oh Se Hun. Jaga dirimu baik-baik, aku pasti akan merindukanmu.”

Selepas mengucapkan kalimat perpisahan yang tidak direspon sama sekali oleh Se Hun itupun, Hee Ra bergegas berbalik. Ia tahu tidak ada gunanya berkata demikian pada Se Hun yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai teman. Tapi tidak apa-apa, toh ini untuk yang terakhir kalinya.

Senyuman manis Hee Ra sebagai pertanda perpisahan mereka telah berlalu. Detik ini Se Hun hanya bisa melihat punggung gadis itu perlahan menjauh. Benar-benar menjauh dari dunianya.

Tapi kenapa tubuhnya tidak sinkron dengan otak dan hati? Ia benar-benar ingin mengejar Hee Ra dan mengatakan bahwa ia juga bahagia pernah mengenal Hee Ra dan meminta gadis itu untuk tinggal, tapi tubuhnya seakan tidak berfungsi. Ia terpatri dan tidak bisa bergerak sama sekali.

Ya Tuhan, haruskah berpisah seperti ini? Kenapa Se Hun tidak memiliki kekuatan sama sekali? Apa ia terlalu sakit saat ini? Ia bahkan tidak memikirkan Hee Rin sama sekali.

“Ibu tahu kau sedih dan ingin mengatakan sesuatu pada Hee Ra,” Nyonya Oh tiba-tiba saja bergumam, “jika kau benar-benar lalaki, kejar Hee Ra. Katakan apa yang ingin kau katakan.”

Se Hun menggeleng, “Tidak ibu, aku tidak ingin mengatakan apapun.”

“Baiklah, kalau begitu mari kita pulang.” Membuang napas berat. Nyonya Oh berbalik diikuti dengan suami dan anak wanitanya, sementara Se Hun tidak. Bukankah ia bilang tidak ingin mengejar Hee Ra? Lalu kenapa seperti itu?

Merasa frustasi pada sikap Se Hun, Nyonya Oh yang awalnya sudah berjalan beberapa langkah akhirnya berhenti dan berniat untuk menarik Se Hun ikut bersamanya. Tapi apa yang terajadi? Ketika ia berbalik, kedua matanya menangkap Se Hun sedang berlari secepat mungkin ke arah Hee Ra, menerobos orang-orang dan memeluk gadis itu dari belakang, dengan erat, seolah ia benar-benar tidak ingin Hee Ra pergi.

Dan sekarang Nyonya Oh sadar, bahwa Se Hun, putranya, mencintai Hee Ra, walaupun anak itu tidak mau mengakuinya.

 

♣♣♣

 

“Kami cukup dekat, dia selalu menceritakan yang ada dipikirannya.”

“Benarkah? Apa Se Hun pernah bercerita tentangku?” Hee Ra menaikkan kedua alisnya penasaran.

“Hmm..beberapa kali sepertinya, ia jarang bercerita tentang perempuan,” Jawab Jong In seraya melempar pelet ke kolam ikan.

“Begitu rupanya,” Hee Ra mengangguk-angguk, “Ngomong-ngomong kapan paman dan bibi akan pulang? Aku juga sangat merindukan mereka.”

“Entahlah, tapi kalau tidak salah Se Na bilang orang tuanya akan pulang dalam beberapa hari, Se Hun ikut bersama mereka, makanya hari ini dia tidak bisa menjemputmu.”

Sekali lagi Hee Ra mengangguk-angguk mendengar penjelasan Jong In. Kesan pertama yang ada dalam otak Hee Ra ketika mengobrol dengan Jong In adalah dia pria baik dan entah kenapa Hee Ra merasa nyaman, padahal mereka baru saja kenal.

Pria ini seperti sudah mengenal Hee Ra sejak lama, contohnya saat tadi Se Na bertanya Hee Ra ingin minum apa, dan Jong In mengatakan pada Se Na supaya tidak memberinya kopi.

Tapi itu tidak terlalu aneh, bukankah Jong In bilang bahwa Se Hun menceritakan beberapa hal tentangnya pada Jong In? Mungkin ini termasuk dalam salah satunya.

“Shin Hee Ra..”

Hee Ra menengok, “Ya?”

“Tidak apa-apa…”

 

♣♣♣

 

From : Se Hun

“Benarkah? Apa yang kalian bicarakan?”

 

Hee Ra baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah dalam handuk yang melingkar di kepalanya. Ia sempat menceritakan tentang Jong In pada Se Hun sebelum mandi tadi.

 

To : Se Hun

“Banyak, dia orang yang baik dan aku menyukai caranya yang bisa beradaptasi dengan orang begitu cepat.”

 

▂▂▂▂

 

From : Se Hun

“Mungkin dia menyukaimu makanya kalian cepat akrab.”

 

▂▂▂▂

 

To : Se Hun

“Ya! Jangan menulis yang tidak-tidak -,- Ngomong-ngomong kau cepatlah pulang. Aku ingin melihatmu sebelum kembali ke Jepang. Kau jahat sekali, aku di Korea dan malah pergi. Menyebalkan.

 

♣♣♣

 

Tidak bisa dipungkiri adanya Jong In dan Se Na membuat hari-hari Hee Ra di Seoul menyenangkan. Walaupun Se Hun belum juga pulang, padahal ini sudah hari ketiganya berada disini, tapi tidak apa-apa, dua orang itu bisa menghibur Hee Ra untuk sementara waktu.

Mereka berada di pinggir sungai Han, sudah sejak lama Hee Ra ingin kemari, ia sangat merindukan tempat ini. Sejujurnya ketika Hee Ra sedih karena perbuatan Se Hun, ia akan pergi ke pinggir sungai Han dan menangis, terutama ketika malam telah tiba.

Masih ingat dengan kejadian dimana Hee Ra diselamatkan Se Hun dari kecelakaan yang bisa saja terjadi malam itu? Hee Ra baru sadar jika jalan yang ia lewati mengarah ke sini. Hatinya ingin pergi ke sungai Han, dan menangis sepuasnya.

“Ini kubelikan kopi, kalian harus berganti menraktirku nanti,” canda Jong In seraya mengulurkan dua kaleng kopi dingin. Satu untuk Hee Ra dan satu untuk Se Na.

“Huh, kenapa kau pelit sekali sih? Pantas saja tidak ada wanita yang mau denganmu,” kali ini Se Na berceloteh seenaknya yang langsung disambut tawa Hee Ra.

“Ya! Aku yang menolak mereka kau tahu? Lagipula siapa yang bisa menolak orang setampan aku?”

Alih-alih mengiyakan, Hee Ra makin tertawa mendengar jawaban penuh percaya diri Jong In. Ya, memang, dia tampan dan menyenangkan dan Hee Ra yakin tidak ada satupun gadis yang bisa menolaknya.

Tapi ayolah, mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut Jong In cukup membuat Hee Ra geli.

Beralih sebentar dari Jong In dan Se Na, Hee Ra sepertinya tertarik untuk membeli odeng yang tidak berada jauh dari mereka. Segera Hee Ra beranjak dan mengantri, nampaknya enak karena pembelinyapun tak sedikit.

Sedang fokus mengantri, seseorang tiba-tiba menepuk pundak Hee Ra hingga ia hampir melompat, refleks Hee Ra berbalik dan makin terkejut ketika menyadari siapa yang menepuk pundaknya barusan.

“Bibi?”

Ia tidak tahu lagi sebesar apa rasa bahagianya ketika tahu Nyonya Oh—ibu Se Hun—yang menepuk pundaknya. Tanpa basa-basi, Hee Ra langsung menghambur dalam pelukan wanita setengah baya itu. Kalau ibunya sudah berada di Seoul, berarti Se Hun jugakan?

“Se Na bilang bibi berada diluar kota untuk beberapa hari,” gumam Hee Ra yang masih belum melepaskan pelukannya.

Bukannya senang, Nyonya Oh malah melonggarkan pelukannya dan menatap Hee Ra penuh tanya, “Se Na disini?”

Hee Ra melirik ke arah Se Na dan Jong In yang masih bercanda sebentar dan kembali fokus pada Nyonya Oh, “Iya, dia bilang bibi pergi keluar kota bersama Se Hun makanya tidak bisa menjemputku di Bandara,” Hee Ra berhenti sebentar dan menyunggingkan senyum lebarnya, “apakah Se Hun juga kemari? Aku sangat merindukan Se Hun.”

Nyonya Oh menggelengkan kepalanya, mata tuanya berkaca-kaca, isak pelan tangisnya tiba-tiba terdengar dan itu membuat Hee Ra semakin bingung. Kenapa Nyonya Oh menangis? Apa ada yang salah disini?

“Shin Hee Ra,” menggigit pelan bibir bawahnya dan menarik napas berat, Nyonya Oh menundukkan kepalanya, “apa maksudmu dengan Se Hun pergi bersama bibi?”

Apa?

Hee Ra makin tidak mengerti. Kenapa Nyonya Oh malah balik bertanya seperti itu?

Nyonya Oh mencengkeram erat bahu kanan Hee Ra, air mukanya berubah sangat menyedihkan seolah apa yang baru saja didengarnya dari Hee Ra merupakan hal paling menyakitkan di dunia.

“Se Hun sudah pergi Hee Ra, Se Hun meninggal karena kecelakaan tiga tahun lalu.”

Tidak mungkin!

Nyonya Oh pasti berbohong!

Hee Ra melepaskan tangan Nyonya Oh dari bahunya dan mundur beberapa langkah, “Tidak mungkin. Bibir pasti berbohong,” kepalanya pusing, matanya mulai berkunang-kunang, perkataan Nyonya Oh membuat jantungnya seakan berhenti. “Setiap hari aku saling mengirim pesan dengan Se Hun, tidak mungkin dia meninggal sejak tiga tahun lalu! Tidak mungkin!”

“Apanya yang bohong?!” Kali ini Nyonya Oh bukan lagi terisak, namun menangis. Perasaannya hancur mendengar Hee Ra berkata bahwa ia saling mengirim pesan dengan Se Hun yang telah tiada.

“Aku tahu ini berat untukmu, bahkan ini juga berat untuk bibi, tapi bibi mohon Shin Hee Ra, jangan mengada-ada jika kalian saling mengirim pesan. Se Hun sudah meninggal, sadarlah Shin Hee Ra!”

Tidak, tidak mungkin! Hee Ra masih mengelak. Ini tidak mungkin terjadi.

“Tidak bibi, aku bahkan bisa menunjukan bukti padamu bahwa kami saling mengirim pesan,” Hatinya sakit, melihat ekspresi meyakinkan dari Nyonya Oh sepertinya dia tidak bercanda. Hee Ra tidak tahu mana yang benar.

Dia seribu persen yakin bahwa mereka saling mengirim pesan, tapi perkataan Nyonya Oh, tiba-tiba saja seluruh keyakinannya luntur dan membuatnya merasa dipermainkan. Ia percaya Nyonya Oh tidak mungkin berbohong soal kematian, lalu siapa yang selama ini saling mengirim pesan dengannya jika bukan Se Hun? Siapa?!

Kepalanya semakin pening, Hee Ra mulai tidak bisa melihat Nyonya Oh dengan jelas. Air mata yang mengalir membuat matanya semakin buram, kakinya gemetar seolah tidak bisa menopang tubuhnya yang sebenarnya tidak seberapa berat, tapi sebuah hembusan angin membuatnya ambruk. Semuanya tiba-tiba saja kabur dan Hee Ra tidak mengingat apapun lagi.

 

♣♣♣

 

Mungkin Hee Ra lupa bagaimana caranya untuk kembali membuka mata, tapi tubuhnya tidak. Matanya menatap orang-orang itu, Nyonya Oh, Se Na, dan Jong In. Mulutnya terkunci dalam diam, tidak tahu harus mengatakan apa.

Ketika Se Na berisak tangis menjelaskan kebohongan yang telah ia lakukan bersama Jong In tentang memalsukan pesan dari Se Hun, kekuatannya kembali runtuh. Bagaimana mungkin selama bertahun-tahun Hee Ra hidup dalam kebohongan?

Hatinya sakit. Otaknya seakan tidak bisa mencerna dengan jernih. Hal yang telah ia idam-idamkan selama ini nyatanya hanya ilusi yang tidak akan pernah terjadi. Hee Ra bahkan telah membuat daftar tempat-tempat yang akan ia kunjungi bersama Se Hun ketika berada di Korea. Tapi nyatanya apa? Rencana memang hanya rencana, karena kini kenyataan sudah membuka matanya. Se Hun memang telah tiada.

Selama bertahun-tahun, Jong In lah yang berpura-pura menjadi Se Hun. Jadi itu alasan kenapa sejak mereka pertama kali bertemu, Jong In seolah tahu banyak hal tentangnya.

Hee Ra memang tidak bisa memaafkan Se Na dan Jong In dengan cepat. Bagaimanapun ia sangat kecewa, atau bahkan bisa mencapai level depresi. Selama beberapa hari Hee Ra mengurung dirinya di hotel, ia tidak mau mengangkat telfon dari siapapun, bahkan dari kedua orang tuanya.

Jong In dan Se Na berkali-kali datang untuk meminta maaf pada Hee Ra, tapi gadis itu tidak membukakan pintu dan memilih untuk tetap diam.

Tidak, Hee Ra tidak memiliki niat untuk bunuh diri karena ia tahu itu hal bodoh. Hee Ra hanya butuh waktu untuk bisa menerima semuanya. Entah berapa lama waktu yang ia butuhkan, Hee Ra sendiri tidak tahu.

Lingkaran hitam di matanya kembali muncul, tidak bernapsu makan selama beberapa hari rupanya membuat Hee Ra nampak lebih kurus daripada biasanya. Matanya selalu sembab, tidak bisa dipungkiri jika Hee Ra selalu menangis dalam setiap harinya.

Bahkan ketika mendapat penolakan bertubi-tubi dari Se Hun dahulu, Hee Ra tidak pernah seperti ini. Namun kali ini? Ia tidak bisa menahan lagi. Rupanya kehilangan orang selamanya lebih menyakitkan daripada ditolak, diacuhkan, dan disakiti selama bertahun-tahun.

Ting..

“Eonni, aku tahu kau pasti sangat marah pada kami.”

Hee Ra bisa mendengarnya, itu suara Se Na dari balik pintu kamar Hee Ra.

“Tapi lihatlah ini, aku meninggalkannya di bawah pintu..kuharap ini bisa membuatmu lebih baik..”

Masih mendengarnya, namun Hee Ra tidak memberikan jawaban apapun.

“Baiklah..kalau begitu…kami pergi dulu, eonni..”

Tubuhnya masih kaku, tapi Hee Ra memaksakan untuk berdiri. Ia membuka pintu dan menemukan sebuah cd disana. Tanpa berpikir lama, Hee Ra segera kembali, memasukkan cd tersebut ke dalam vcd player dan duduk.

Betapa terkejutnya Hee Ra ketika mengetahui apa isinya. Kala itu, Se Na merekam sosok Se Hun yang sedang terbaring di Rumah Sakit. Kepalanya, tangannya, dan kakinya diperban. Luka-luka yang tertoreh di wajahpun terlihat begitu menyakitkan di mata Hee Ra.

 

♣♣♣

 

 

2 Juli 2013

Seoul, Korea Selatan

 

Se Hun menatap keluar jendela dari kasurnya, ia tidak menyadari bahwa Se Na sedang merekamnya selama beberapa saat, hingga ia menengok dan mendapati Se Na sudah berada di sana.

Se Hun menggeleng, ia berusaha mencegah Se Na mengambil gambarnya, “Apa yang kau lakukan?” Masih berusaha menutupi wajahnya dengan kedua lengan.

“Aku akan memberikan ini pada Hee Ra eonni agar dia tahu kenapa kau tidak membalas pesannya selama beberapa hari terakhir,” jawab Se Na ringan.

Se Hun menaikkan alisnya, “Tidak. Jangan pernah beritahu Hee Ra tentang hal ini, aku tidak mau membuatnya khawatir.”

“Apa-apaan…”

“Aku akan membunuhmu jika dia sampai tahu keadaanku, itu bisa membuatnya khawatir setengah mati.”

Akhirnya Se Na menurut, “Ah baiklah-baiklah. Aku tidak akan memberikan video ini kalau kau cepat sembuh.”

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Tiba-tiba suara Nyonya Oh terdengar. Kali ini Hee Ra bisa melihat Nyonya Oh datang membawa dua kantong plastik dan meletakkannya di meja samping kasur Se Hun.

“Ah iya Se Na, bisakah kau membantu ibu? Tolong ambilkan tas ibu di dalam mobil, ibu tidak bisa membawanya,” lanjut Nyonya Oh lagi.

“Baiklah,” Se Na menerima uluran kunci mobil dari ibu Se Hun dan berbalik, ia belum mematikan kameranya dan tetap merekam lantai. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba terdengar teriakkan Nyonya Oh.

Se Na buru-buru berbalik dan melihat apa yang terjadi, kali ini kameranya diletakkan begitu saja di lantai. Tidak jelas apa yang terjadi karena dokter dan suster tiba-tiba datang dan sepertinya mereka mencoba menolong Se Hun.

Sementara Se Na dan Nyonya Oh saling berpelukkan dan menangis. Kepanikan itu terjadi dengan ritme yang seolah di perlambat. Dokter yang berusaha menggunakan alat kejut berkali-kali, berusaha membangunkan jantung Se Hun yang semakin melemah. Semua terasa terjadi sangat lama, hingga akhirnya Nyonya Oh terjatuh di lantai. Ia menangis sejadi-jadinya, sementara Se Na terpaku dan tetap menangis.

Apakah ini berarti Se Hun?

Kamera itu tetap menyala, bahkan disaat semua alat yang ada di tubuh Se Hun dilepas. Semua terekam dengan begitu jelas, dan sangat menyakitkan.

 

-Fin-

7 thoughts on “Short Massage

  1. Kok sedih banget sih.
    Gue ampe nangis loh.
    Hu.hu.hu.hu. ;-(

    ada sequel gak beb.?

    Gue sedih ngeliat heera kayak gitu.

    Sumvah.
    Gue kehipnotis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s