The Gray Autumn (Chapter 8)

IMG_20160103_094350

The Gray Autumn – Part.8

By : Ririn Setyo

Song Jiyeon || Oh Sehun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

 

Oppa!”

Sehun memandang Jiyeon lekat,lalumenarik Jiyeon ke dalam pelukan eratnya, Sehun menempelkan pipinya di pipi Jiyeon hingga wanita itu tenggelam dalam pelukannya.Jiyeon tidak bergerak saat Sehun mencium sudut keningnya, semakin menarik tubuhnya ke dalam dekapan yang semakin erat.Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyeon,membisikkan kalimat yang membuat Jiyeon mengeryitkan dahi, mengerakkan tubuhnya yang membeku dalam pelukan Sehun yang tak mengendur.

“Aku ingin mengatakan sebuah rahasia penting padamu Jiyeon, rahasia yang menjadi alasan bagiku menyakitimu selama ini.Rahasia yang harus kau jaga dari siapapun, kau mengerti?”

“Maksud Oppa?”

Sehun kembali mencium Jiyeon kali ini di bagian bahu dan pipi, Sehun melepaskan pelukannya menautkan tatapan ke dalam mata bening Jiyeon yang masih terlihat bingung. Dia meraih jemari Jiyeon dalam genggaman eratnya, lalu melanjutkan kalimat yang membuat alis hitam Jiyeon bertaut.

“Ada seseorang yang menginginkan keluargamu dan keluargaku hancur, seseorang yang memanfaatkan keadaan terdesak dari bangkrutnya perusahaan ayahku.”Jiyeon mengerjab, merasa jika Sehun semakin mengeratkan genggamannya.

“Awalnya aku dan ayahku hanya berencana untuk mengambil beberapa lembar saham dari perusahaan ayahmu, membuatmu jatuh cinta pada laki-laki lain hingga kau meninggalkanku sebelum kau dan Jongki mengetahui semua rencanaku.Tapisemua berantakan saat kau justru mendengar semua rencana yang telah aku susun, dan aku harus mengubah rencanaku saat itu juga.”

“Semua semakin kacau saat kau yang aku perkirakan akan meninggalkanku, setelah kau mengetahui semuanya justru memilih untuk bertahan.Semakin sulit melanjutkan rencanaku, saat aku justru merasa tak rela, jika harus membuatmu jatuh cinta pada pria lain lalu meninggalkanku.”

“Karena itulah aku memutuskan untuk membuatmu membenciku, karena jika kau membencikumaka akan membuatku bisa sedikit memaafkan diriku sendiri, untuk semua rencana busukku padamu.Aku menyusun rencana bersama Minra sahabatku, untuk selalu menyakitimu, hingga kau benar-benar membenciku dan meninggalkanku, karena aku tahu Jongki pasti akan membunuhku jika aku yang meninggalkanmu lebih dulu.”

“Hingga suatu malam laki-laki itu meneleponku, memaksaku untuk terus bertahan bersamamu, menyakitimu lebih dalam, membuatmu hancur secara perlahan,hingga kau merasa menyesal sudah dilahirkan di dunia ini.Dan sebagai imbalannya dia akanmembiarkan ayahku tetap hidup, ayahku yang dia sandra entah dimana.”

Oppa—“

Tanpa sadar Jiyeon meneteskan air matanya, dia menatap Sehun dengan rasa bingung yang tak mampu terbiaskan. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, selama ini Sehun menyakitinya hanya untuk menyelamatkan ayahnya, jika semua kesakitan ini hanyalah skenario pintar yang dibuat Sehun untuk membuat ayah kandungnya tetap hidup.

“Maafkan aku Jiyeon, aku—- aku benar-benar tidak punya pilihan.Aku tahu jika aku tidak pantas untuk mendapatkan kata maaf darimu, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan laki-laki itu membunuh ayahku, setelah ibuku meninggal hanya ayah yang aku miliki di dunia ini.”

Jiyeon menggeleng cepat, mengusap sebulir air mata yang jatuh di pipi Sehun yang pucat.Gadis itu tersenyum menarik bahu Sehunyang bergetar dan memeluknyasangat erat.Jiyeon membiarkan air matanya terus mengalir membasahi bahu Sehun, mereka berdua sama-sama meluapkan rasa yang selama ini sama-sama mereka pendam begitu rapat.

“Aku sangat mencintaimu, OhSehun.Aku tidak peduli sebanyak apapun kau telah menyakitiku, aku tidak peduli sebanyak apa kau telah membuatku meneteskan air mataku. Aku tidak peduli, kau mengerti?”Jiyeon mengeratkan rangkulannya di bahu Sehun, mengusap bahu bergetar itu dengan luapan rasa cintanya yang tak pernah hilang sejak dulu.

Sehun tersedu, dia balas memeluk Jiyeon erat, Sehun tak mampu menahan air matanya, tak mampu menahan rasa bersalah untuk semua yang telah dia lakukan pada Jiyeon, pada malaikathati yang begitu dicintainya melebihi dia mencintai nyawanya sendiri.

“Aku—- aku mencintaimu, Oh Jiyeon.”

Bagai dunia berhenti berputar, tanpa perintah usapan tangan Jiyeon di punggung Sehun terhenti, dia diam dalam keterkejutan yang membekukan tubuhnya.Mata Jiyeon melebar, dia merasa jika jantungnya lupa untuk sekedar berdetak, merasa jika ada letupan kebahagian yang perlahan mulai terasa di permukaan hatinya.

Sehun mencintainya?Benarkah?

Oppa?“

“Aku sangat mencintaimu Jiyeon entah sejak kapan, aku selalu merasa menjadi laki-laki paling jahat di muka bumi ini tiap kali melihatmu menangis karena aku.Kesalahan yang lagi-lagi membuatku harus mengubah rencanaku.”

Sehun melepaskan pelukannya, tersenyum hangat seraya mengusap wajah Jiyeon lembut.Dia menatap Jiyeon yang masih terbelengu dalam keterkejutannya dengan lekat, menatap belahanjiwa yang selalu membuat Sehun merasa memiliki kekuatan lebih, untuk mengalahkan KimJongin apapun resikonya.Sehun membingkai wajah pucat Jiyeon, mendekatkan wajahnya seraya menautkan bibirnya di bibir Jiyeon yang dingin, lalu mengecupnya lembut dan perlahan, meluapkan semua rasa cinta yang kini terlihat begitu nyata.Jiyeon kembali meneteskan air matanya, dia merasa sangat menyesal karena telah mematikan hatinya, hingga tak mampu merasakan cinta tersembunyi Sehun untuk dirinya selama ini.

Oppa, maafkan aku.”

Sehun tersenyum seraya mengusap kembali sisa air matadi pipi Jiyeon,mengecup kening dan kembali membawa jemari Jiyeon dalam genggaman erat.Sehun melanjutkan rahasia yang selama ini dia sembunyikan dari Jiyeon.

“Sekarang dengarkan aku baik-baik, Jiyeon. Hari ini dia akan membongkar semuanya pada ayahmu, karena aku menolak untuk meninggalkanmu dan melarikan diri dari ayahmu. Dia ingin Jongki membunuhku, membuatmu terpuruk karena kematianku, lalu melihat Jongki hancur setelahnya.Karenadia dan dunia pun tau, kauadalah kelemahan terbesar dari seorang Song Jongki.”

“Jadi berjanjilah untuk terus hidup dengan baik setelah ini, berjanjilah untuk tidak menangis karena kau terpisah dariku, jadi dia tak mampu melanjutkan rencana busuknya pada ayahmu.”

Oppa—- aku,” Jiyeon menggeleng cepat, dia tidak punya kekuatan untuk melakukan apa yang Sehun rencanakan.“Lalu kau?Bagaimana mungkin aku tidak terpuruk, jika melihat ayahku membunuhmu?Lalu ayahmu, bagaimana?”

“Ayahku akan baik-baik saja Jiyeon, ada seseorang yang akan menolongnya.”

“Kenapa kita tidak mengancurkan laki-laki brengsek itu bersama-sama, Oppa?

“Sudah terlambat, karena aku sangat yakin jika sekarangayahmu sudah mengetahui semuanya.Laki-laki itu sangat licik, dia pasti sudah membuat ayahmu mempercayai semuanya.”

“Aku tidak akan membiarkan ayahku membunuhmu,”

“Jiyeon!”Sehun melepaskan genggamannya, membingkai wajah Jiyeon dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.“Dengarkan aku Jiyeon, waktuku sudah hampir habis.Dengarkan dan ingat baik-baik nama laki-laki brengsek itu,” Jiyeon kembali menggeleng pelan, ketakutan mulai membelengu tubuh bekunya.

“Laki-laki itu dia adalah— KimJongin.”

BRAAAKKK!!!—

Seketika Jiyeon dan Sehun menatap ke arah pintu yang telah terbuka dengan keras, menatap sosok Jongki yang terlihat murka hingga kilatan merah terlihat di pupil matanya yang membesar.Rahang laki-laki bertinggi badan185 centimeter itu pun telah mengeras, mengepalkan kedua tangan, napasnya memburu dengan tatapan membunuh yang dia layangkan pada Sehun.Tepat di belakang Jongki berdiri sosok Jongin dalam balutan senyum kemenangan, menaikkan satu alis tebalnya saat menangkap tatapan dingin Sehun padanya. Jongin hanya mengusap rambut hitamnya, memiringkan wajahnya, terkekeh pelan dengan kemenangan besar yang akan dia rayakan sebentar lagi.Jongki melangkah maju, berdiri di depan Sehun dan Jiyeon yang sudah berdiri tegak dalam diam. Jiyeon mencengkram lengan Sehun kuat, menahan lidahnya yang kelu untuk tidak berucap apa yang dia ketahui pada sang ayah, seperti yang Sehun minta padanya.

“Brengsek kau OhSehun!”

Dalam satu gerakan cepat Jongki menarik Jiyeon lalu menghempaskan wanita itu hingga berada dalam pelukan Jongin, dia mengeratkan genggaman tangannya lalu menghantam wajah Sehun, menyisakan teriakkan histeris Jiyeon di belakang sana.

BUKK!!!—-

“OPPA!!!”

Sehun tersungkur, darah menetes dari luka sobek di ujung bibir, dia menatap Jongki dalam diam dan membiarkan Jongki kembali memukulnya.Jongki meraih bahu Sehun dan memaksa laki-laki itu untuk berdiri, kembali melayangkan pukulan keras hingga Sehun terhuyung dan menabrak meja kecil di belakangnya.

“Berani-beraninya kau menyakiti putriku, menipunya di belakangku padahal selama ini aku sangat percaya padamu, Sehun.”

BUKK!!!—

Lagi Jongki menghantam Sehun, menendang bertubi-tubi tubuh Sehun hingga laki-laki itu memuntahkan darah segar dari mulutnya. Sehun menatap Jongki dengan pandangan yang mulai mengabur, merasakan jika cairan pekat berwarna merah mengalir melewati pelipisnya.napasnya tersengal, Jongki kembali menendang perutnya, Sehun merasa jika tulung rusuknya patah hingga Sehun merasa tak bisa bernapas.

“OPPA!!!”

Jiyeon meronta dalam rangkulan Jongin, air mata wanita itu mengalir tak terbendung menyaksikan Sehun yang terus dihajar tanpa ampun oleh Jongki. Jiyeon menatap Jongin geram, menatap laki-laki yang telah menghancurkan cinta dan keluarganya dengan mata yang memicing marah.

“Lepaskan aku, laki-laki brengsek!”

Jongin tersenyum miring, memandang Jiyeon dengan tatapan benci dan semakin mengeratkan rangkulannya.Jongin mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyeon, mencengkram rahang Jiyeon hingga wanita itu mengerang, merasakan sakit di tulang pipinya dan kembali meronta. Namun Jongin justru hanya tertawa, memandang puas Sehun yang kembali di hajar Jongki dan memaksa Jiyeon untuk menatap tubuh Sehun yang berlumuran darah di depan sana.

“Jangan merusak kemenanganku dengan teriakkan dan air mata mu Song Jiyeon, karena hari ini kauakan melihat pria yang kau cintai mati di tangan ayah yang sangat kau sayangi. Ah!Ini benar-benar menyenangkan, benar begitu Jiyeon?”

Jiyeon mengepalkan tangannya kuat, menahan amarah pada sosok Jongin yang sudah naik ke ubun-ubun.Jiyeon memejamkan matanya sejenak, kembali berteriak saat Jongki menarik tubuh lemah Sehun dan menghempaskannya hingga membentur ranjang tidur mereka.

 

BRAAAKKK!!!—

“AYAH HENTIKAN!!!”

Napas Jiyeon terasa semakin sesak saat Jongki tak mengindahkan teriakkannya, dia sudah tak mampu lagi melihat sosok Sehun yang sekarat.Jiyeon terus meronta kuat, menginjak kaki Jongin lalu mengigit lengan laki-laki itu, hingga Jongin mengerang dan menghempaskan tubuh Jiyeon ke lantai.Jiyeon menahan sakit di wajahnya yang membentur lantai, namun Jiyeon mengabaikannya dan langsung menatap cepat ke arah Jongki dan Sehun.Seketika Jiyeon terdiam dalam kebekuan, memandang Jongki yang tanpa perkiraan kini tengah mengacungkan pistol ke arah jantung Sehun.

“Tidak ada tempat untuk laki-laki brengsek sepertimu di dunia ini, OhSehun.”

“AYAH!!!HENTIKAN!!!”

Jiyeon berlari cepat, bersimpuh di kaki Jongki, air mata kian membanjiri wajahnya yang kalut. Sehun mengerjap, meneteskan air matanya, menatap Jiyeon yang bersimpuh di kaki Jongki demi menyelamatkan nyawanya.Jiyeon mengeratkan cengkaraman tangannya yang bergetar di kaki Jongki, menatap Jongki dalam tatapan memohon untuk nyawa pria yang di cintainya.

“Aku mohon jangan membunuhnya Ayah.” dalam gemetar yang kian menjadi Jiyeon berucap, meminta belas kasih pada sang ayah yang sudah terbalut emosi. “Aku mencintainya, aku sangat mencintainya, jadi aku mohon jangan membunuhnya.”Ucap Jiyeon di sela-sela isak yang semakin menyumbat kerongkongannya.

“Apa yang kau katakan, Jiyeon?”Jongki menatap ke arah Jiyeon yang masih bersimpuh di kakinya, Jiyeon terus menangis di kakinya.

“Laki-laki ini telah menyakitimu, menipumu dan menipu ayah.Dia tidak pantas untuk kau tangisi, apa lagi untuk kau cintai, kau mengerti?”

Jongki menarik Jiyeon untuk berdiri, mencengkram tangan wanita itu dan memaksanya untuk menatap ke arah Sehun yang sudah tak berdaya di lantai.

“Ayah tidak akan pernah bisa memaafkannya Jiyeon,” Jiyeon menatap Jongki, kembali memohon dan meminta sang ayah untuk dapat memaafkan Sehun.

“Jika ayah membunuhnya, itu sama saja ayah membunuhku.” air mata Jiyeon kembali mengalir dari sudut matanya yang kian memerah, merentas hati hingga melonggarkan sedikit genggaman pistol Jongki di tangan kanannya.

“AKU AKAN IKUT MATI JIKA AYAH MEMBUNUHNYA!!!

 

PLAKK!!!—

Jongki menatap tangannya yang bergetar, menatap jejak jemarinya yang terlukis di pipi Jiyeon yang basah. Jongki membuang pandangannya, laki-laki yang tak mampu lagi berpikirkarena telah termakan oleh semua kata-kata licik Jongin itu, mengabaikan permohonan Jiyeon, permohonan putri tersayang bahkan Jongki telah menampar Jiyeon untuk pertama kalinya.

“Jongin bawa Jiyeon dari sini sekarang juga.”Teriak Jongki dengan lantang.

Jiyeon meronta saat Jongin menarik tangannya, berteriak saat Jongki kembali menendang tubuhSehun yang sudah tak bergerak di lantai. Jongki mengeratkan genggamannya pada pistol berwarna silver di tangan kanannya, mengacungkannya tepat ke arah jantung Sehun yang terkapar di lantai.Sehun mengerjapkan matanya yang kian mengabur, menatap Jiyeon yang terus meronta dalam tarikan Jongin di ujung pintu kamar.Menatap belahan jiwa yang mati-matian melindungi nyawanya.Dalam gerakan pelan Sehun menatap cincin pernikahannya yang masih melingkar di jari manis, lalu mengalihkan pandangannya menatap Jongki yang tak mengendurkan tatapan bencinya pada dirinya.

Dan pada akhirnya Sehun pun memilih pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini, menyerahkan semuanya pada takdir Tuhan yang akan diterimanya tanpa menolak. Dan berharap jika Tuhan akan terus melindungi, orang-orang yang dicintainya dari tangan brengsek KimJongin.Mata Sehun pun tertutup rapat bersamaan dengan teriakkan Jiyeon yang menyayat hati, merentas di tiap denyut nadi hingga Jiyeon merasa nyawanya terlepas dari raga, tak kala Jongki menarik pelatuk pistolnya.

 

DOORRR!!!—-

 

TBC

12 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 8)

  1. baca lagi ni ff n nemuin song jongki. huwaa authornya ini jg fansnya song joong ki dots kah? hahahahha. *demam dots nih

    *kalo bukan song jong ki yg yoo si jin itu, lupakan saja. hahahah

    apalagi ostnya chen *promosi ini mah. hoho

  2. andwaeeeee….sehun g mati kan…
    jongki bner2 kalap nieh kl marah…smoga jongki hnya menembakkan pistol d udra…rasax c kyk gt hehe
    g mgkin sehun mati kn…scra pmeran utama *sok tau hahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s