The Gray Autumn (Chapter 9)

IMG_20160103_094350

The Gray Autumn – Part.9

By : Ririn Setyo

Song Jiyeon || Oh Sehun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda  http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Langkah Jongki terhenti saat baru saja hendak menaiki anak tangga, bermaksud untuk menemui Sehun dan Jiyeon di dalam kamar mereka di lantai atas sana, Jongin menyapanya dari sudut ruangan dekat tangga, tersenyum seraya berjalan mendekatinya. Di tangan laki-laki itu terdapat sebuah tablet dan amplob coklat.

“Tinggallah di sini hingga jam makan siang dan kau bisa mencicipi masakan istriku yang sangat lezat.”  Ucap Jongki setelah membalas sapaan Jongin padanya.

Senyum Jongin terpatri begitu manis, menyembunyikan suatu hal menakutkan yang tersirat dibalik sorot matanya yang tajam. Menyamarkan hal mengerikan yang akan terjabar sebentar lagi, Jongki tidak menyadarinya sama sekali.

“Terima kasih untuk tawarannya.” Jongin kembali mengulas senyum. “Tapi sebelum itu ada yang ingin aku katakan padamu, Tuan Song.”

Mata tajam Jongin berkilat dingin, tersenyum licik penuh kemenangan lalu melanjutkan kalimat yang membuat Jongki merasa tertarik, kalimat yang sudah terencana dengan apik demi menyelesaikan misi kejamnya. Misi untuk membalaskan dendam yang telah melekat di hati Jongin sejak puluhan tahun lalu, dendam dari sebuah tragedi kejam yang terjadi di masa lalunya.

“Sebuah rahasia tentang menantumu, Oh Sehun.”

“Sehun?”

Jongin kembali tersenyum licik, dia menyerahkan tablet tipis yang digenggamnya lalu Jongki memperdengarkan rekaman dari Sehun saat menjabarkan semua rencananya untuk mengambil alih saham Jongki, untuk membantu ayahnya yang sedang di ambang kebangkrutan dan Jiyeon sebagai tumbalnya.

“Ini adalah sepenggal rencana keji menantumu, pada putrimu, Tuan Song.”

Jongki mengalihkan pandangannya, menatap tajam sosok Jongin yang hanya tersenyum samar.

“Dari mana aku bisa yakin jika ini suara Sehun? Dari mana aku yakin jika ini bukan rekayasa, Jongin?” Jongki mengembalikan tablet ke tangan Jongin, aura kemarahan mulai terlihat, Jongki tidak terima jika Jongin memfitnah menantu kesayangannya.

“Kecuali urusan bisnis aku tidak punya urusan apapun padamu dan hari ini bukan awal di bulan April, jangan menyulut kemarahanku hanya untuk lelucon bodohmu yang tidak penting ini.”

Jongki menatap marah pada Jongin, merasa jika lelucon Jongin kali ini sudah sangat keterlaluan. Mana mungkin Sehun yang terlihat begitu mencintai putrinya, melakukan perbuatan serendah dan sekeji itu. Jongin tertawa pelan lalu menyerahkan amplob coklat pada Jongki.

“Dia merencakan ini semua, menjerat putrimu dan menghianatinya hingga Jiyeon mati rasa dan ingin mengakhiri hidupnya. Dan saat Jiyeon tak mampu lagi untuk sekedar bernapas di dunia ini, saat itulah dia akan mengambil semua hartamu tuan Song. Sehun tahu jika Jiyeon adalah kelemahan terbesar mu, kau akan hancur saat Jiyeon tak bernyawa.”

Serta merta Jongki mengeluarkan isi amplob, menatap terkejut pada puluhan lembar foto Sehun yang menjadi peran utamanya. Bersama seorang gadis cantik dalam posisi yang tidak biasa, foto Sehun bersama seorang wanita dalam adegan mesra di atas ranjang yang seketika mendidihkan darah Jongki hingga ke ubun-ubun.

“Wanita itu adalah sahabat Sehun saat mereka masih sama-sama menempuh bangku kuliah di Amerika. Aku melakukan semua ini bukan untuk mendapatkan simpatimu atau apapun, aku melakukannya hanya karena aku sering melihat putrimu menangis meski dia tertawa.” ucap Jongin dengan simpati busuknya.

Jongki meremas lembaran foto di dalam genggaman, hingga buku tangannya memucat lalu menghempaskannya ke lantai, berhamburan di lantai marmer yang dingin.

“Dengar! Aku tidak peduli jika dia mengambil seluruh hartaku, tapi aku akan membunuh siapapun yang telah menyakiti putriku tanpa negosiasi. Sehun akan mati di tanganku!”

Jongin kembali tersenyum seraya mengangguk pelan, dia merogoh sesuatu dari balik saku celananya. Sebuah pistol kecil berwarna silver lalu menyerahkannya pada Jongki yang telah kalap dan tidak bisa berpikir yang lain selain membunuh Sehun. Membunuh laki-laki yang telah berani menyakiti putri tercintanya, menyakiti sang malaikat kecil yang menjadi sumber oksigen Jongki di dunia ini. Dalam satu gerakan Jongki sudah berjalan cepat, menuju kamar Sehun yang ada di depannya. Di belakangnya Jongin sudah tersenyum penuh kemenangan, mengerakkan tangannya selayak konduktor orchestra, lalu terdengar kekehan kejam untuk semua hasutan yang berhasil dia ciptakan pada Song Jongki.

~000~

15 Year’s Ago

Tragedy Begin

Song Ballroom – Jiyeon Birthday

Ballroom mewah milik pengusaha kaya raya terlihat sudah dihiasi puluhan bunga Lily di dalam vas crystal yang menghiasi tiap sudut ruangan, lampu hias besar yang menjuntai indah dari langit-langit, bunga Lily dan lampu kecil di sekelilingnya. Terlihat mulai ramai oleh para orang tua dengan putra putri mereka, dalam balutan gaun malam dan jas-jas mewah berharga jutaan dolar, menjadi tamu undangan dalam pesta mewah malam ini. Dari para pengusaha, pejabat, kolega dan rekan bisnis Song Jongki yang datang untuk perhelatan besar sang pengusaha sukses pemilik CarDIA and MIACar Corporation

Lantunan music classic dari orchestra kelas dunia yang ada di bagian depan memenuhi tiap sudut ballroom, puluhan pramusaji juga terlihat sibuk melayani para tamu undangan dari kelas atas tersebut dengan senyum ramah mereka. Di tengah ballroom terdapat sebuah kue ulang tahun berukuran sangat besar berlapis dengan krim biru yang manis, ya hari ini Jongki mengadakan pesta mewah untuk merayakan ulang tahun putri tunggalnya, Song Jiyeon yang baru saja menginjak umur di angka 10.

“Ayah kapan Jiyeon akan datang? Kenapa dia lama sekali.”

Gumaman dari jejeran para tamu undangan yang menjadi teman bermain Jiyeon mulai terdengar, merasa tak sabar untuk pesta besar dan tentu saja, tak sabar untuk mencicipi kue besar dengan krim biru itu. Termasuk bocah laki-laki yang tak berpaling dari pintu ballroom yang ada di barisan paling depan.

“Sehun berhentilah makan, kau akan gemuk jika cara makanmu seperti itu?”

Wanita cantik dalam balutan gaun malam panjang berwarna hitam, terlihat menyambar tanpa perasaan piring besar berisi potongan kue dari tangan putra tunggalnya yang terlihat tidak terima.

“Tapi Bu—-“

“Cukup!”

Laki-laki berusia dua belas tahun, berbadan cukup gempal hingga jas yang di kenakannya, tidak bisa terkancing itu hanya mampu menekuk wajahnya. Beringsut pada sosok sang ayah yang hanya tertawa pelan, berdiri di samping Sehun dengan usapan sayang di bagian kepalanya.

“Kau lihat di depan sana?” sang ibu kembali bersuara, memaksa Sehun untuk menatap seorang laki-laki sebaya berwajah tampan, tinggi dan terlihat mulai menarik di mata para anak perempuan yang ada di dalam ballroom.

“Kim Jongin?”

“Iya Kim Jongin. Dia bahkan sudah mempunyai calon pendampingnya, sedangkan kau? Ya Tuhan Sehun, cepat pilih seorang anak perempuan yang kau sukai di pesta ini.”

Bukannya menjawab Sehun justru mendongak, menatap sang ayah yang lagi-lagi hanya tertawa. Tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran orangtuanya, mengharuskan Sehun memilih salah satu gadis kecil yang saat dewasa nanti akan hidup bersamanya. Dan sang ibu adalah yang paling menginginkan itu terjadi, ibunya bahkan berpesan dia hanya boleh memilih salah satu gadis pewaris tunggal dari lima perusahaan terbesar yang ada di Korea Selatan.

Di kalangan konglomerat sudah sangat biasa jika mereka menjodohkan putra putri mereka sejak kecil, mengikat mereka dalam hubungan yang bahkan belum mereka mengerti, demi sebuah invertasi yang akan menjaga eksitensi mereka di dunia bisnis. Sehun putra tunggal dari pengusaha pemilik Hemelsky Enterprise Cho Junseok, juga harus menemukan gadis kecil yang akan diikatkan pada garis hidupnya.

“Jika saja kau semenarik Jongin, pasti Jongki akan mengikatkan putrinya padamu.”

“Hey! Jangan berlebihan Sayang, aku masuk dalam barisan pengusaha yang ditakuti di Korea Selatan ini. Dan asal kau tahu, Jongki sudah berniat menjodohkan Jiyeon untuk Sehun kita, tapi aku menolaknya karena menurutku perusahaan Jonghyun lebih cocok untuk Jongki.”

“Apa?”

“Tenanglah! Aku jamin tidak akan ada yang menolak Sehun,” Junseok berseru seraya menepuk pundak kecil Sehun, meyakinkan putra gembulnya itu kalau malam ini dia akan menemukan pasangannya.

Sesaat kemudian Junseok sudah mengajak istrinya dan Sehun untuk maju ke tengah ballroom, dari arah pintu ballroom yang terbuka, dari atas jalanan yang telah di lapisi karpet merah tampak sosok Jongki yang tampan, dalam balutan jas hitam, mengandeng seorang bocah perempuan cantik dalam balutan gaun putih yang manis, berjalan pelan memasuki ruangan di mana seorang wanita cantik dalam balutan gaun pesta mahalnya menyambut mereka.

“SELAMAT ULANG TAHUN, JIYEON SAYANG!!!!”

Wanita yang tak lain adalah ibunda Jiyeon, segera menunduk dan memeluk putri cantiknya itu erat, wanita yang datang lebih dulu untuk memastikan jika pesta ulang tahun Jiyeon kali ini sempurna.

“Selamat ulang tahun, Song Jiyeon.” Jiyeon kecil tersenyum pada sosok bocah laki-laki tampan yang berdiri di depannya.

“Terima kasih Jongin Oppa,”

Jongki tersenyum lebar seraya menghambur memeluk Kim Jonghyun hangat, pengusaha pemilik Parkheur Paradise Hotel. Hotel mewah yang tersebar di segala penjuru benua Asia hingga Eropa. Calon besan yang akan dia publikasikan hari ini, mengikat putrinya pada Jongin untuk mengamankan kejayaan dua keluarga dimasa yang akan datang.

“Junseok Hyung!” kini Jongki sudah memeluk Junseok yang baru saja bergabung bersamanya dan Jonghyun.

“Jika saja aku diajak untuk menentukan siapa yang akan mendampingi Sehun, aku pasti akan menerima putrimu dengan senang hati, Song Jongki.”

“Well yeah! Maafkan aku Jisung, tapi Hyung yang menolak putriku. Tapi kau tenang saja aku dan Junseok Hyung masih bisa bermitra dalam hal apapun, benar begitu Hyung?” jawab Jongki sopan, Junseok hanya tertawa.

Jongki sudah mengenal Jungseok sejak di bangku kuliah, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak dulu. Dan malam itu semuanya terlihat bahagia, dalam tawa hangat yang menyelimuti mereka semua. Semua sudah terencana dengan begitu sempurna, namun sayangnya tidak semua yang sudah terencana begitu rapi akan menghasilkan hasil akhir yang juga sempurna. Bahkan bisa jadi akan menghasilkan akhir yang mengerikan, hasil yang menghancurkan takdir hidup dari manusia itu sendiri.

~000~

Jongki mengambil alih Jiyeon dari tangan Jongin lalu menjejalkan Jiyeon yang terlihat membeku tak berdaya ke dalam mobil hitamnya, tak mengubris pertanyaan retoris yang di layangkan sang istri yang kebingungan untuk semua hal yang terjadi. Jongki hanya memerintahkan wanita itu untuk ikut masuk ke dalam mobil tanpa bantahan, menahan lengan Jongin yang terlihat juga ingin memasuki mobilnya dengan pandangan dinginnya yang tajam.

“Aku akan mengurus putriku, tanpa bantuan siapapun termasuk kau, Jongin.”

“Kau benar-benar membunuhnya?” Jongki tidak menjawab, laki-laki itu berpaling dalam kesenyapan yang menyisakan pertanyaan hingga dahi Jongin mengeryit, merasa jika tatapan Jongki saat ini terlihat berbeda.

Jongin membalikkan tubuhnya sesaat setelah mobil Jongki melesat cepat meninggalkan pelataran rumah Sehun yang luas, tersungging senyum dingin dalam tatapan bengis untuk semua pencapaiannya saat ini. Jongin kembali ke dalam rumah Sehun, dia ingin memastikan jika Sehun benar-benar sudah mati. Jongin berhenti ketika suara tepukan terdengar dari ujung koridor, sosok dingin Kris muncul, dia tertawa sumbang untuk kematian kakak tirinya.

“Ah, ini menyenangkan sekali. Tembakan Jongki benar-benar tepat sasaran, well… kakakku telah tiada. Menurutmu apa aku perlu menangisinya, Jongin?”

Jongin tertawa puas, dia mendekati Kris.

“Terserah. Aku serahkan mayat kakak tercinta padamu, Kris. Barang kali, kau mau membuat pesta pemakaman yang meriah untuk Sehun.”

“Ide yang bagus. Akan aku pertimbangkan.”

Jongin menyeringai, dia menepuk pundak Kris sekilas lalu berbalik arah.

“Kau mau pulang?” Tanya Kris.

“Tidak. Aku ingin memastikan Jiyeon terpuruk lalu sekarat dalam scenario kejam yang aku susun untuknya, aku benar-benar tidak sabar, Kris.”

Eoh, bersenang-senanglah. Kim Jongin.”

~000~

Jongin menghempaskan tubuhnya di sofa mobil mewahnya, dia bersandar. Pikirannya melayang pada sebuah takdir kejam yang telah mengubahnya terlalu banyak, takdir yang membuatnya terlempar ke dasar jurang dendam yang tak kan pernah surut sampai kapan pun. Masih sangat ingat di benak Jongin malam dimana takdir kejam dan terasa tak adil untuknya dimulai.

Malam seharusnya menjadi malam yang membahagiakan dan tak terlupakan untuk dirinya. Malam itu Jongin yang baru berusia sebelas tahun hanya mampu termangu, mendapati sang ayah duduk lemas di hadapannya. Malam di mana seharusnya Jongin mengikat hidupnya pada Jiyeon dan menyatu dalam hubungan yang sebenarnya, hingga waktu yang telah di sepakati sebelumnya. Malam itu fakta brengsek terkuak, perusahaan ayahnya jatuh bangkrut karena penghianatan orang kepercayaan Jonghyun di perusahaan. Jonghyun kehilangan hampir seluruh dari asset kekayaannya. Jongki membatalkan hubungan yang sudah terencana begitu saja tanpa kompromi

“Aku tidak bisa mengancam kehidupan putri tunggalku, hanya karena aku salah mengikatnya. Hubungan ini berakhir, Kim Jonghyun.”

Malam itu Jongki menarik paksa gadis kecil dari dalam genggaman tangan Jongin, gadis kecil yang menangis dan meneriakkan namanya. Namun bukan itu kekejamaman takdir yang sebenarnya terjadi, tapi orang yang ada di belakang semua kehancuran ini lah yang membuat semuanya terlihat semakin keji. Penghianatan dari dua orang teman ayahnya sendirilah yang jadi penyebabnya. Oh Junseok adalah orang yang menjadi penghianat dengan membeli wakil direktur di perusahaan ayahnya, untuk menghacurkan Jonghyun tanpa sisa demi memuaskan hasrat ketamakannya. Semuanya terlihat semakin sempurna, saat menemukan fakta lain yang jauh lebih jahanam dari itu semua. Fakta jika sang ibu menghianati ayahnya, menghianati keluarga bahagianya bersama Song Jongki.

~000~

15 Year’s Ago

The Night Tragedy

Kim’s House

“Bagaimana mungkin kau menghianatiku, dengan laki-laki yang bahkan akan menjadi mertua anakmu sendiri, Kim Misook!”

Rahang keras Jonghyun terlihat bergetar, berselang dengan bunyi gemeretak dari gigi-giginya yang beradu. Menahan luapan emosi yang semakin sulit untuk di tahannya, menatap bengis sosok wanita yang begitu di cintainya. Wanita yang menghianatinya dengan begitu kejam, hingga membuat jiwa raganya hancur berkeping-keping tanpa sisa.

“Sejak awal aku tidak mencintaimu Jonghyun, kau tahu pasti tentang itu. Kau tahu pasti jika pernikahan ini, hanyalah pernikahan dua saham perusahaan yang diatur orangtua kita.”

“Misook!”

“Aku sengaja meminta bantuan Junseok untuk menghancurkan perusahaanmu, hingga Jongki punya alasan untuk membatalkan hubungan Jongin dan Jiyeon.”

“Cukup!”

“Aku sudah muak dengan pernikahan ini, AKU MENCINTAI SONG JONGKI!!!”

“KIM MISOOK!!!”

 

DOORRR!!!—-

 

Dalam hitungan detik tubuh Misook ambruk di lantai marmer putih bersih dalam ruang yang terasa begitu dingin, peluru menembus dadanya. Peluru dari pistol mini hitam yang ada di genggaman  Jonghyun yang bergetar, darah segar mulai membahasi ubin putih bersih itu, mengalir tanpa bisa dihentikan hingga menyentuh ujung sepatu yang dikenakan Jonghyun. Jonghyun merasa sekujur tubuhnya lemas nyaris tak bernyawa, dia melepaskan genggaman pistol di tangannya. Air mata pesakitan perlahan mulai turun membahasi pipinya, merentas tiap inci hati hingga jantungnya terasa nyeri dan semua terasa semakin menyakiti, saat Jonghyun menatap tatapan terkejut penuh air mata dari sosok Jongin yang berdiri terpaku di ambang pintu.

Jongin kecil melihat semua kejadian dengan nafas putus-putus, nyaris tanpa suara, wajah pucat pasi. Dia terlalu terejut melihat semua kejadian yang terlalu kejam, untuk di saksikan oleh anak berumur belasan. Dengan langkah tertatih Jonghyun beranjak dari tempatnya, melewati jasat Minsook yang mulai mendingin. Jonghyun memeluk Jongin sangat erat, menahan luapan air mata yang terasa menghujam jiwa dengan begitu dalam di tiap detiknya.

“Dengarkan ayah, Jongin. Mulai hari ini kau harus berjanji untuk membalas orang-orang yang telah merampas semua kebahagiaan kita, kau harus menjadi laki-laki kuat yang tak terkalahkan. Dan ingat satu hal—- jika tidak pernah ada persabahatan dan cinta sejati di dunia ini, tidak pernah ada!”

DOORRR!!!—-

~000~

Jongin terdasar dari semua lamunannya, nafasnya tersengal, rasa sakit kian menusuk jantungnya, menyayat tiap sudutnya hingga Jongin merasa mati rasa, merasa jika semua ini tidak akan pernah selesai jika belum semua nyawa melayang. Nyawa dari orang-orang yang telah menghancurkan Kim Jongin, bocah laki-laki yang ramah dan bersahaja, menghilang seiiring dengan dendam yang semakin membumbung tinggi tanpa pernah ada celah untuk kembali. Jongin meraih ponselnya yang bergetar dari dalam jas, sebuah nama dari seseorang yang sejak awal ikut dalam permainan takdir yang diciptakannya, seseorang yang dia temukan susah payah di benua Amerika. Seseorang yang hingga saat ini Jongin percayai, mempunyai tujuan yang sama dengan dirinya.

“Hello, Kim Jongin.”

TBC

13 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 9)

  1. Penasaran siapa lg temennya jongin, banyak bgt kyknya
    semakin seru aja nih n.n
    kak mau kasih perbaikan ya, seharusnya “amplop” itu pake P bukan B

  2. hemmmm…rumit trnyata kisah mreka…brawal dr orangtua mreka yg saling tamak akan harta…
    membuat ank2 mreka yg menanggung smuax…
    kasihan jg liat khidupan jongin…
    apakah beakhir happy ending? next deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s