The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 6)

 

poster 5&6

Tittle            : The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 6)

Author       : Dwi Lestari
Genre         : Romance, Marriage Life

Length        : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Yenni Wilson / Hwang Yen Ni (Yenni) | Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Support Cast :

Hwang Re Ni (Reni), Byun Seo Hyun (Seohyun), Song Hen Na (Henna), Do Kyung Soo (Kyungsoo), Park Chan Yeol (Chanyeol), Xi Lu Han (Luhan)

 

Disclaimer           : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note       : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning                : Typo bertebaran      

 

The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 6)

 

Keesokan harinya Yenni pergi dengan mata sembab, setelah lelah menangis. Saat di depan pintu dia bertemu dengan orang yang semalam mengantar Baekhyun pulang. Orang itu menyapa Yenni. Yenni tidak langsung memandang orang itu, dia terlebih dahulu menghapus air matanya.

“Selamat pagi nona. Nona mau kemana? Apa nona sedang menangis?”, tanya orang itu sambil berusaha menatap wajah Yenni.

“Selamat pagi juga. Aku mau ke rumah eomma. Aku baik-baik saja. Kau mau menjemputnya”, tanya Yenni.

“Ne, aku mau menjemput Baekhyun sajangnim”.

“Dia masih tidur, kau bangunkan saja dia. Dia ada di kamarnya. Bilang padanya tidak usah menyusulku. Kalau mau berangkat, berangkatlah. Aku sudah mempersiapkan kopernya dan sarapannya ada di meja makan”. Yenni langsung pergi dari rumah itu, dia tak memperdulikan orang itu yang terus memanggilnya.

Merasa lelah, orang itu menghentikan teriakannya pada Yenni. Dia langsung masuk rumah itu, dan menuju kamar Baekhyun. Dia bermaksud membangunkannya, dia segera membuka pintu kamar itu. Benar apa yang dikatakan istrinya, Baekhyun masih tertidur. Dia segera mendekati Baekhyun. “Sajangnim. Palli ireona! Nanti kau ketinggalan pesawat”, kata orang itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun.

Merasa tidurnya diganggu, Baekhyun bermaksud protes. “10 menit lagi , Yenni. Aku masih mengantuk”, kata Baekhyun dengan mata yang masih tertutup.

“Aku bukan Yenni, sajangnim. Aku Kyungsoo. Dia sudah pergi?”, kata Kyungsoo.

Mendengar hal itu, Baekhyun langsung tebangun, “Pergi! Pergi kemana?”.

“Dia pergi ke rumah eommanya”.

“Ah, sial. Ya sudah, kau tunggu saja di luar. Aku mau mandi”.

“O.K. sajangnim”, Kyungsoo segera keluar dari kamar Baekhyun.

Baekhyun masih termenung, kenapa Yenni pergi tanpa pamit padanya. Dia merasa aneh pada tubuhnya. ‘Astaga, kenapa aku tidak memakai pakaian?’, Baekhyun bertanya entah pada siapa. Syukurlah ada selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu dia melihat noda pada seprainya. ‘Apa ini?’ pikir Baekhyun. Dia memeriksa noda itu. “Darah! Tidak mungkin, apa yang sudah terjadi semalam. Ah, sial. Pantas saja dia pergi, bahkan tanpa berpamitan padaku. Yenni, mianhae” katanya sambil mengacak-acak rambutnya.

Baekhyun lalu memutuskan untuk membersihkan dirinya dengan mandi. Saat keluar dari kamar mandi dia melihat kopernya sudah tertata rapi disamping lemarinya. Dia baru tersadar jika koper itu sebenarnya sudah disitu sejak tadi. “Dia bahkan sudah menyiapkan  koperku. Aku harus menelfonnya”. Baekhyun segera mengambil poselnya, mencari nomor Yenni, dan menelfonnya. Namun Yenni tidak segera mengangkat panggilan itu. Baekhyun mendengar ada ponsel yang berbunyi, dia mencari asal suara itu. Itu adalah suara ponsel Yenni yang tertinggal. “Dia bahkan tidak membawa poselnya. Yenni, apa kau benar-benar marah padaku?”, tanyanya frustasi.

Baekhyun lalu menemui Kyungsoo. “Mana kunci mobilnya?”, tanya Baekhyun seolah dia tahu kalau Kyungsoo lah yang membawa kunci mobilnya. Tapi hal itu memanglah benar. Kyungsoo lalu memberikan kunci mobil itu. “Sajangnim, mau kemana?”, tanya Kyungsoo. “Aku mau menyusul Yenni”, jawab Baekhyun singkat.

“Changkkaman sajangnim!”, cegah Kyungsoo.

“Mwo?”, tanya Baekhyun.

“Tidak usah menyusulnya. Dia bilang kalau kita mau berangkat, berangkatlah! Dia sudah menyiapkan kopermu dan sarapanmu ada di meja makan”, kata Kyungsoo menirukan perkataan Yenni.

“Apa tadi kau bertemu dengannya?”.

“Ne sajangnim, dan sepertinya dia menangis tadi. Namun saat aku tanya mengapa, dia bilang dia baik-baik saja”.

“Menangis?”.

Kyungsoo mengangguk. Baekhyun menghela nafas panjang. ‘Dia benar-benar marah padaku. Bahkan dia melarangku menyusulnya. Dia pasti tidak ingin bertemu denganku’, pikir Baekhyun. ‘Baiklah nona Yenni, mungkin kau memang butuh waktu untuk sendiri’, kata Baekhyun dalam hati. “Baiklah, kita berangkat sekarang!”, ajak Baekhyun.

“Apa kau tidak ingin sarapan dulu sajangnim? Aku benar-benar lapar”, kata Kyungsoo sambil memegang perutnya.

“Kau ini! Baiklah kita sarapan dulu”.

Mereka berdua lalau pergi sarapan, dan setelah itu mereka berangkat ke Beijing untuk urusan bisnis mereka.

§§§

Dirumah keluarga Hwang terlihat nyonya Hwang tengah sibuk membereskan rumah. Hari itu nyonya Hwang sedang sendiri karena sang suami tengah pergi bekerja. Dari arah luar terdengar ada yang mengetuk pintu. Segera saja nyonya Hwang menghentikan pekerjaannya dan membukakan pintu. Nyonya Hwang kaget saat tahu yang datang adalah Yenni. Dia bertanya-tanya mengapa Yenni pulang ke rumahnya.

“Sayang, kau kemari. Apa kau sendiri? Mana Baekhyun?”, tanya nyonya Hwang. “Baekhyun sedang ke Beijing, Eomma”, jawab Yenni. “Ow, ya sudah. Ayo masuk”, ajak nyonya Hwang. Mereka berdua masuk ke rumah. “Kau sedang tidak ada masalahkan dengan Baekhyun kan?”, tanya nyonya Hwang lagi. “Tidak, eomma”, jawab Yenni bohong. Sebenarnya dia sedang tidak ingin melihat Baekhyun setelah apa yang dilakukan padanya semalam. Baekhyun mengingkari janjinya, karena itu Yenni sangat membencinya.

“Kenapa kau tidak ikut dengannya?”, tanya nyonya Hwang.

“Eomma, ayolah. Aku tidak harus selalu bersamanyakan. Lagipula dia pergi untuk urusan bisnis. Aku tidak mau mengganggunya, apalagi menjadi beban untuknya. Dia juga tidak lama, hanya seminggu”, kata Yenni panjang lebar.

“Ne, eomma mengerti. Kau sudah sarapan?”.

Yenni menggeleng. Jangankan sarapan, minum saja dia tidak sempat. Memang pagi tadi dia memasak untuk Baekhyun, tapi dia belum sempat makan apa-apa. Yah, meskipun dia marah pada Baekhyun, sebagai istri yang baik dia tidak ingin membuat suaminya kelaparan.

“Kau harus menjaga kesehatanmu”.

“Aku sedang tidak ingin makan, eomma”.

“Wae? Apa akhir-akhir ini nafsu makanmu berkurang?”.

“Entahlah! Aku hanya tidak ingin makan”.

“Apa kau sedang hamil?”.

“What! Hamil! Eomma jangan bercanda!”.

“Wae! Eomma hanya menebak, lagipula kalian sudah cukup lama menikah. Wajarkan jika eomma bertanya seperti itu”.

“Itu tidak mungkin eomma”.

“Kenapa tidak mungkin! Jangan bilang kalau kalian belum pernah melakukannya?”.

“Melakukan apa eomma?”.

“Kau tidak paham dengan omongan Eomma?”.

“Bagaimana aku bisa paham, Eomma bicaranya tidak jelas”.

“Aduh anak ini! Kau sudah bersuami tapi tidak paham juga”.

“Aku baru berusia 21 tahun. Selain itu, Eomma lah yang memaksaku menikah dengan Mr Baekhyun. Seharusnya dia jadi kakakku, bukan suamiku.”.

“Mianhaeyo”. Raut wajah nyonya Hwang menjadi sedih.

Yenni merasa bersalah melihat raut wajah mamanya. Dia lalu menghiburnya, “Sudahlah! Eomma jangan terlalu merasa bersalah, semuanya sudah terjadi. Kita tidak mungkin mengulangnya lagi kan. Anggap saja ini sebuah takdir. Jadi apa maksud perkataan eomma tadi”.

“Maksud eomma, melakukan hubungan suami istri. Apa kau paham”.

Yenni termenung, “Itu…”, Yenni tidak melanjutkan kata-katanya. Dia teringat dengan kejadian semalam.

“Kenapa diam, sayang?”.

“Sudahlah, eomma. Aku tidak ingin membahasnya”. Yenni lalu meninggalkan eommanya yang masih heran dengan sikapnya. Dia pergi ke kamarnya. Eommanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Nyonya Hwang hanya bertanya-tanya dalam hati mengapa putrinya bertingkah seperti itu. Apa mungkin Yenni memiliki masalah dengan Baekhyun. Dia jadi merasa bersalah karena sudah memaksanya menikah dengan Baekhyun. Seharusnya dia tahu kalau Baekhyun mungkin masih asing untuk Yenni.

§§§

Sudah sekitar 5 hari Yenni tingal dirumah eommanya. Dia hanya termenung mengingat kejadian malam itu. Dia merasa bersalah pada Baekhyun. Tidak seharusnya dia marah padanya. Dia sudah cukup sadar dengan perbuatannya, karena termenung selama 5 hari di rumah eommanya. Karena itu, dia memutuskan untuk kembali ke rumah Baekhyun. Menanti suaminya pulang. Dia lalu berpamitan pada eommanya.

Dia mencari eommanya yang ternyata sedang menonton TV. Segera saja dia menemui eommanya. “Eomma”, kata Yenni menyapa eommanya.

“Iya sayang. Ada apa? Duduklah!”.

“Aku mau pamit pulang, eomma”.

“Jinja!”.

“Ne eomma. Tidak seharusnya aku disini. Sekarang aku sudah memiliki suami. Bagaimanapun keadaanya aku harus selalu mendukungnya”.

“Kau benar sayang. Mau eomma antar?”.

“Boleh. Jika eomma tidak sibuk”.

“Tentu saja tidak sayang”.

“Baiklah, ayo eomma”. Mereka berdua akhirnya berangkat ke rumah Baekhyun.

————-

Mereka telah sampai di rumah Baekhyun. Yenni segera mengetuk pintu rumah itu. melihat hal itu, eomma Yenni heran. Bukankah Yenni bilang kalau Baekhyun sedang di Beijing, kenapa dia mengetuk pintu, batin eommanya Yenni. Lalu dia bertanya pada putrinya, “Sayang, mengapa kau mengetuk pintu? Bukankah kau bilang kalau Baekhyun sedang di Beijing. Memangnya ada orang di rumah ini!”.

“Tentu saja ada eomma. Dia pembantu kami”.

“Oh, ku kira kalian hanya berdua”.

“Tentu tidak eomma. Mana mungkin aku sanggup membersihkan rumah sebesar ini. Selain itu juga ada pak satpam”.

Eomma Yenni hanya mengangguk tanda dia sudah paham. Tak lama setelah itu, pintu rumah itu terbuka. Pembantunyalah yang membukakan pintu rumah itu. “Nyonya sudah pulang. Tuan bilang nyonya sedang ke rumah eommanya nyonya. Kau tahu nyonya, rumah ini sepi tanpa nyonya”, tutur pembantunya sambil mempersilahkan mereka masuk.

“Jeongmal!”, kata Yenni sambil tersenyum.

“Ne nyonya. Aku tidak bohong”.

“Oh ya ahjumma, kenalkan ini eommaku”, kata Yenni.

Eomma Yenni lalu berjabat tangan dengan pembantunya Yenni. Mereka lalu masuk ke ruang keluarga. Saat sampai di ruangan itu, langkah Yenni terhenti di depan sebuah foto. Itu adalah foto pernikahannya dengan Baekhyun. Dia melihat potret dirinya dengan senyum yang dipaksakan.

“Ahjumma, sejak kapan foto ini di pajang?”, tanya Yenni heran karena sebelum kepergiannya foto itu belum ada.

“Itu sudah 2 hari yang lalu nyonya. Tuan yang menyuruhku. Ow ya, apa nyonya tahu setiap hari tuan menelfon untuk menanyakan kabar nyonya. Dia pasti merindukan nyonya”, kata pembantunya.

“Jeongmal!”.

“Ne nyonya. Tuan bilang kalau nyonya tidak membawa ponsel, karena itu tuan menelfon di telfon rumah ini”.

Yenni lalu terdiam. Dia memang sengaja meninggalkan ponselnya, agar Baekhyun tidak bisa menghubunginya. Dia merasa bersalah. ‘Apa yang sudah aku lakukan, pasti dia sangat mengkhawatirkanku. Yeoja pabbo, tidak seharusnya kau melakukan itu’, batin Yenni. Lalu dia disadarkan oleh pembantunya.

“Nyonya baik-baik saja?”.

“Ah, ne ahjumma. Gwenchana. Aku mau ke kamar dulu. Tolong kau buatkan minuman untuk eomma”.

“Baik nyonya”.

Yenni segera menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya dan Baekhyun. Kamar itu sekarang sudah rapi. Terakhir kali yang dia ingat sebelum dia meninggalkan rumah itu, kamar itu masih berantakan dan Baekhyun masih tertidur di ranjangnya. Sekarang sudah sangat rapi dan seprainya juga sudah di ganti. Pasti pembantunyalah yang sudah merapikannya.

Dia lalu mencari poselnya, setelah ketemu dia melihat tulisan di layar ponselnya, ‘100 missed call dan 125 pesan masuk. Dia melihat semua panggilan yang gagal itu berasal dari Baekhyun. Setiap hari Baekhyun menelfon sampai 20 kali. Lalu dia melihat pesan masuk, dan semuanya berasal dari Baekhyun. Isi pesan itu rata-rata sama, yakni permintaan maaf atas kejadian malam itu yang tak disengaja. Yenni merasa sangat bersalah. Dia memutuskan untuk menjawab pesan itu.

‘I’m sorry too, Mr Baekhyun. Tidak seharusnya aku marah padamu. Anggap saja itu kecelakaan. Aku sudah memaafkanmu. Aku merindukanmu. Yenni’, itu pesan yang Yenni kirimkan untuk Baekhyun. Tak berapa lama kemudian pesan itu dibalas, ‘Thank you very much Miss Yenni. Aku akan menelfonmu’. Belum sempat Yenni membalas pesan itu, Baekhyun sudah menelfonnya. Yenni segera mengangkatnya.

“Yeobseyo”.

“Yeobseyo, Yenni”.

“Yeah, it’s me”.

“Syukurlah, kau tahu 5 hari ini aku hampir gila karena kau tidak mau bicara denganku”.

“I’m sorry. Aku tidak bermaksud seperti itu”.

“Ne, gwenchana. Aku tahu mengapa kau seperti itu. Seharusnya aku yang minta maaf, mianhae sudah melanggar janjiku. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku…”, Baekhyun belum melanjutkan kata-katanya, namun Yenni sudah menyelanya.

“Mr Baekhyun, bukankah tadi aku sudah mengirim pesan untukmu. Jangan bahas itu lagi, aku sudah memaafkanmu”.

“Ne. Bagaimana kabarmu?”.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”.

“Bukankah tadi sudah ku bilang kalau aku tidak baik-baik saja tanpamu”.

“Kau bercandakan!”.

“Tentu saja tidak. Aku serius Yenni. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, karena sudah mendengar suaramu”.

“Mr Baekhyun…”.

“Wae. Aku benar-benar serius. Ow ya, sepertinya aku tidak bisa pulang minggu ini. Perusahaanku belum stabil. Mungkin akan sedikit lama aku disini. Tidak apa-apakan nyonya Byun?”.

“Nyonya Byun. Maksudmu?”.

“Iya kau adalah nyonya Byun. Mulai sekarang kau harus mengganti nama belakangmu dengan Byun. Kau bukan lagi Yenni Wilson tapi Byun Yen Ni. Kau mengertikan nyonya Byun”.

“Bagaimana kalau aku menolaknya Mr Baekhyun”.

“Tidak ada penolakan”.

“Tapi”.

“Tidak ada tapi-tapian”.

“Iya baiklah!”.

“Manis sekali”.

“Apa kau benar-benar tidak pulang minggu ini?”.

“Bukankah tadi sudah ku bilang. Wae? Apa kau merindukanku? Ow benar, bukankah tadi kau bilang kalau kau merindukanku?”.

“Kapan aku bilang seperti itu?”.

“Apa kau lupa? Bukankan tadi pesanmu berisi seperti itu?”.

“Ah, itu hanya tidak sengaja?”.

“Akui saja nyonya Byun. Aku tidak akan marah, justru malah merasa sangat senang”.

“Baiklah, kau menang Mr Baekhyun. Jangan mengajakku debat lagi. Aku akui aku memang merindukanmu”.

“Nado. Aku harus menutup telfonnya. Sebentar lagi meeting akan dimulai. Nanti aku telfon lagi”.

“Ne, selesaikan saja dulu urusanmu. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Kesehatan itu sangatlah penting Mr Baekhyun”.

“Iya nyonya Byun. Kau perhatian sekali”.

“Itu karena aku mengkhawatirkanmu, Mr Baekhyun”.

“Iya, iya. I miss you nyonya Byun”.

“I miss you too”.

Baekhyun memutus sambungan telfonnya. Yenni merasa lega setelah meluruskan permasalahannya dengan Baekhyun. Dia masih teringat dengan pembicaraannya dengan Baekhyun. ‘Aku harus mengganti nama belakangku lagi. Padahal dulu nama belakangku Hwang, setelah diadopsi menjadi Wilson, dan sekarang aku harus menggantinya lagi dengan Byun. Oh my God’, pikir Yenni. Dia lalu teringat dengan eommanya, “Gee, kenapa aku bisa lupa, bukankah aku tadi bersama eomma. Dia pasti akan kesal, aku harus segera menemuinya”, Yenni lalu menemui eommanya.

Yenni bisa bernafas lega setelah tahu kalau eommanya masih disitu sedang menonton TV. Yenni lalu menghampirinya dan menyapa eommanya, “Hai, Eomma”.

“Kau lama sekali, sedang apa?”, tanya eommanya.

Yenni tersenyum, “Tadi Baekhyun menelfonku”.

“Pantas saja aku dicuekkan”.

“Eomma, bukan seperti itu!”.

“Iya, iya. Eomma paham. Sepertinya mama harus pulang. Di rumah tidak ada siapapun”.

“Iya hati-hati eomma?”.

Yenni mengantar eommanya sampai di depan rumahnya. Setelah memastikan kalau eommanya telah pergi, dia langsung masuk ke rumahnya.

 

-TBC-

 

Gimana, semakin seru atau tambah hancur? Tetap tinggalkan jejak. Thanks.

6 thoughts on “The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 6)

  1. Eaaaaa manis banget sihhh, kesambet apa itu si baek jadi manis gitu ? Dia suka ya sama yenni ? Ecieee kayaknya saling suka nihh, udahh gak malu bilang kangen, cepet pulang lu baek lama banget di beijing ntar istri lu diambil orang lagi wkwk

  2. Saya bingung mau kasih komentar apa……. krik krik krik krik
    Lanjut aja deh kak fighting, update nya jangan lama lama ya

  3. Jesh.. akhirnya masalah mereka terselesaikan. Duh aku tau Yenni pasti kesal dan marah sama Baekhyun karena saat Baekhyun mabuk malah nama Reni yang disebut bukan namanya.. ya pastinya wanita mana yang gak sakit dan terluka . Next chapternya kumohon jangan munculkan Renni lagi .. atau gak kalau dia masih ada buat Baekhyun menyadari perasaan yang sebenarnya sama Yenni dengan dikasih cobaan yang berat mungkin.

  4. yes…. akhirnya sekuel selanjutnya dipublish🙂 suka banget ama ff yang satu ini, seneng banget akhirnya baekhyun ama Yenni uda baikan,🙂

    Hwaiting buat authornya, jangan terlalu lama mempublish cerita berikutnya ya……

    gomawo, ceritanya bagus!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s