You Should Be Mine [Chapter 4]

Untitled

YOU SHOULD BE MINE

 

Tittle                           : You Should Be Mine

Author                                    : DarkEyes

Main Cast                   : Oh Sehun (EXO)

                                      Kim Hana (OC)

Additional Cast          : find it by yourself

Genre                          : romance

Rating                         : General

Length                                    : Chaptered

Disclaimer                   : I don’t own anything beside the story and OC. This pure my imagination. If there are similarity, it’s not intentional and I apologize. Casts belongs to God and their parents. Please don’t be a plagiator and SIDERS. HAPPY READING!

Pernah dipublish di https://choupang.wordpress.com

 

WARNING!!! TYPO EVERYWHERE!!

 

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3]

Sehun POV

 

Ting Ting Ting

 

Pagi yang cerah dengan suara burung yang berkicau indah seperti….. dentingan piring? “Aaakhh kenapa eomma berisik sekali. Apa dapur sekarang pindah ke lantai atas” ku tutup kepalaku dengan bantal, berharap bisa meredam suara bising itu.

 

Klantang klantang klantang

 

“Shit” aku mengumpat pelan lalu turun dari tempat tidurku, berjalan menuju pintu dengan maksud menegur eomma agar tidak berisik dan menggangguku. Ceklek. Bukan sosok eomma yang kudapati, tetapi sosok yeoja dengan kedua tangannya yang penuh memegang piring dan gelas. Ah aku lupa. Sekarang aku sudah tidak tinggal di rumah orang tua ku lagi.

 

PRAANNGGG!!!

 

“What the…. YA! Oh Sehun! Kau benar-benar mesum!” teriaknya sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan.

“Oh shit” tubuh bagian bawah yang hanya tertutup celana pendek tiga per empat paha dan dada yang terekspos lebar tanpa sehelai benang pun. Sialan. Aku melupakan kebiasaan tidurku yang hanya memakai celana pendek tanpa kaos.

“Ehem” aku hanya berdeham sekali lalu masuk lagi ke dalam kamar. Shit, kau telah mempermalukan dirimu sendiri Oh Sehun.

 

Hana POV

 

Tidak ada tempat tujuan lain selain kantin setelah merasa penat di ruang kelas. Tenaga yang habis setelah di kuras 3 jam lebih dengan deretan angka, bisa kembali pulih di sini. Hah. Aku paling benci dengan mata kuliah kalkulus.

“Kau belum menjelakan padaku kenapa tadi pagi kau terlambat? Apa Oh Sehun melakukan sesuatu padamu? Kau tahu kan. Hal itu” celoteh Na Young setelah kembali dari memesan makanan kami.

Aku hanya memutar bola mataku malas. “Imajinasimu semakin hari semakin liar Na Young-ah. Aku sedang tidak mau membahas namja itu” timpalku. Tiba-tiba seklebar bayangan tentang kejadian tadi pagi melambai-lambai genit di otakku. Errr… kalau di pikir-pikir lagi perkataan Na Young dulu ada benarnya juga. Sehun adalah namja yang nyaris sempurna, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini selain Tuhan. Dan dia…. Seksi. Blush. Pipiku memanas, mengingat itu pertama kalinya aku melhat namja dengan keadaan yang…. Ya seperti itu lah pokoknya.

“Ya! Kau sedang berpikiran kotor ya? Ngaku!” suara Na Young mengembalikanku berpijak di bumi.

“Ani. Kenapa kau menuduh orang seenak jidat. Kau pikir aku dirimu yang mempunyai otak super kotor” balasku ketus, tidak terima atas ‘tuduhan benar’ Na Young.

“Baiklah-baiklah. Jangan marah seperti itu. Aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong soal  Sehun, sepertinya dia sedang berjalan kemari bersama teman-temanya” ucap Na Young dengan tatapan lurus ke arah belakangku. Ku putar tubuhku mengikuti pandangannya. Dan ya, itu Sehun dan teman-temannya yang kalau tidak salah datang juga ke pertunangan kami.

Na Young menyenggol pelan lenganku. Dengan mukanya ia mencoba mengisyaratkan untuk menyapa Sehun yang sekarang sudah beberapa meter di balik punggungku. Aku menggeleng cepat. “Cepat lakukan. Dia sekarang sudah di belakangmu. Sehun Oppa annyeong!” mataku melebar menatap Na Young yang sekarang sedang menyuguhkan senyum lebarnya. Kang Na Young… kau benar-benar.

Ku tolehkan kepalaku ke belakang, dan wolah! Sehun sudah ada di sana. “Ya! Sehun-ah, kau tidak pernah bilang kalau Hana satu kampus dengan kita” ucap namja pendek di sebelah Sehun, yang kalau aku tidak salah ingat bernama KyungSoo.

“Apa kau sengaja melakukannya agar kami tidak bisa mengganggu dia? Hahaha” timpal namja berkulit hitam tan di sebelah KyungSoo.

“Ya! Ya! Sudah jangan menggoda Sehun lagi. Mungkin ini pertanda bahwa mereka memang benar-benar berjodoh” ucap namja lain di belakang Sehun. “Kenapa tidak ikut bergabung dengan kami saja. Bukankah itu akan lebih menyenangkan” aku hanya bisa membalas semua perkataan yang dilontarkan teman Sehun dengan senyuman kaku. Ku alihkan pandangan ku kembali ke Sehun. Hanya muka datar Oh Sehun yang ku temui, yang detik selanjutnya terukir senyuman atau lebih tepatnya seringai meremehkan lalu ia beranjak pergi tanpa seucap kata pun di susul teman-temannya yang mengekor di belakang. Apa dia baru saja mengabaikanku? Hah!

Aku akhirnya bisa kembali bernafas normal setelah kepergian Sehun dan teman-temannya, hingga tiba-tiba sebuah jus jeruk turun dari langit membasahi kepalaku. Na Young yang shok hanya bisa duduk kaku dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya.

1 detik

2 detik

3 detik

Aku masih linglung dengan hal yang barusan terjadi, hingga sebuah suara  menyadarkanku kembali ke dunia nyata. “Cih. Dasar wanita penggoda. Hal licik apa yang kau lakukan hingga Sehun Oppa mau bertunangan denganmu hah?” oh  ayolah, jangan bilang mimpi buruk ku akan terjadi secepat ini. Ku alihkan pandanganku ke pemilik suara tersebut, dan mendapati 3 yeoja sedang berdiri tak jauh dariku dengan senyum merendahkan.

“Ya! Apa yang sedang kau lakukan!” bentak Na Young tak terima atas perbuatan yeoja yang barusan menyiramku dengan jus jeruk.

“Kami hanya menghukum wanita jalang saja. Apa salahnya? Bukan kah begitu guys?” ucap yeoja berambut pirang diikuti anggukan dari 2 temannya. Oh ayolah, aku bukan yeoja yang gampang tertindas seperti ini.

“Ya! Apa hak kalian untuk menghukumku hah? Kau pikir aku mau dijodohkan dengan ‘oppa’ kalian? Tidak. Asal kalian tahu, aku tidak pernah mengiyakan tentang perjodohan ini. Dan kalau kau mau kau bisa menggantikan posisiku saat ini juga” ucap ku geram. Kini seluruh mata tertuju pada perdebatan kami. termasuk gerombolan Sehun yang duduk tak jauh di sana. Untuk saat ini persetan dengan rasa malu, yang jelas harga diriku jauh lebih penting dan aku tidak terima tertindas begitu saja.

“KAU…..” tangan yeoja itu terangkat hendak melayangkannya ke wajahku hingga seseorang menampis tangan itu kasar. “Aakkhh… kau beraninya…” yeoja berambut pirang itu tercekat, menyadari sosok yang telah menghentikan kegiatannya. “Oppa. A-aku hanya—“

“Dengarkan aku baik-baik Han Jae Shin. Aku tidak suka ada seorangpun yang mengusik ku atau mengusik hal-hal yang menjadi milikku. Ku harap otakmu bisa mencerna maksud perkataanku” manik mata Sehun menghujat ke mata yeoja itu, membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.

Sehun melangkah mendekatiku, lalu  menarikku pergi dari sana. Aku belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, hanya pasrah di tarik Sehun dan dibawa entah ke mana.

 

Author POV

 

Sehun membawa Hana ke tempat parkir mobilnya. Hana yang mulai sadar kembali, menghentakkan tangannya yang ditarik oleh Sehun. “Ya! Apa yang sedang kau lakukan!” sehun membalikkan badan dengan muka bingung. Apa dia baru saja membentakku? Batinnya.

“Menurutmu?” timpal Sehun.

“Demi Tuhan, aku yang sedang bertanya padamu Oh Sehun-ssi, kenapa kau balik bertanya?” balas Hana ketus.

Sehun tersenyum kecil. “Kau bertanya apa yang ku lakukan padamu?” ucap Sehun sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Hana mengangguk sebagai balasan.

“Dengarkan aku baik-baik. Aku telah menyelamatkan nyawamu. Itu berarti kau kau berhutang padaku. Dan kau harus membayar hutang itu suatu hari” Sehun terus berjalan mendekat hingga akhirnya tubuh Hana terpojok oleh mobil Sehun.

“Ya! Kenapa kau suka sekali memojokkan orang! Hutang katamu? Cih. Dia kan penggemarmu, jadi itu memang sudah menjadi tanggung jawabmu untuk menangani penggemarmu yang mulai liar Oh Sehun” cetus Hana berapi-api hingga membuat nafasnya naik turun tidak tentu.

Sehun menyondongkan tubuhnya agar sejajar dengan mata Hana, lalu menatap manik mata itu tajam, “Kau boleh berfikir sesukamu, tapi di mataku, itu tetaplah sebuah hutang yang harus kau bayar saat ku minta. Mau ataupun tidak mau” ucap Sehun dengan penekanan pada kalimat terakhirnya. Sehun melangkah mundur, lalu beranjak meninggalkan Hana.

“DASAR NAMJA PSIKOPAT!!!!” teriak Hana. Nafasnya naik turun, menahan semua luapan emosi ingin menghajar namja bernama Oh Sehun itu sampai babak belur. Kepalanya tiba-tiba menjadi pening, pandangannya mulai kabur. Hana bisa merasakan tubuhnya ambruk ke tanah. Dia melihat langkah seseorang mendekatinya sebelum semuanya menjadi gelap.

 

–*_*–

 

Hana mengerjapkan matanya pelan. Berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya di sekitar. Ruangan putih dengan bau obat-obatan yang tajam. Dimana ia sebenarnya. Ah apa aku pingsan tadi? Hana hendak bangun, tapi kepalanya masih pusing. Di tangannya tertancap selang infus. Apa ini di rumah sakit? Lalu ia menoleh, mencari seseorang yang setidaknya bisa ia tanyai, dan sosok ahjumma paruh baya yang tak asing tertangkap oleh matanya.

“Hana-ya, akhirnya kau sudah sadar. Apa kau sudah baikan nak? Apa masih ada yang sakit? Mau ku panggilkan dokter untuk memeriksamu lagi?” eomma Sehun membanjirinya dengan pertanyaan.

Hana tersenyum simpul sebelum menjawab, “Aku sudah tidak apa-apa ahjumma”

“Ya, kenapa memanggilku ahjumma, panggil aku eomma saja, kau kan akan jadi istri Sehun, berarti kau juga akan menjadi anak eomma” Hana tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah…. Eomma” Nyonya Oh tersenyum sembari membelai lembut rambut-rambut Hana.

“Ehmm.. eomma kenapa aku bisa di sini?” Tanya Hana.

“Kau pingsan di kampusmu, untung di sana ada Sehun yang bisa langsung membawamu ke rumah sakit” Yang membawanya ke rumah sakit, Sehun? Oh Sehun?

“Sehun membawaku ke rumah sakit” Tanyaku tidak percaya.

“Tentu saja. Kau pingsan di depannya. Kalau dia sampai hati tidak membawamu, ah anak itu benar-benar harus diberi pelajaran” jawab Nyonya Oh gemas.

“Lalu Sehun sekarang di mana?”

“Dia langsung ke perusahaan setelah membawamu ke ER (emergency room) karena investor tiba-tiba datang ke kantor untuk pembahasan lebih lanjut tentang produk yang sedang dikembangkan oleh Sehun. Makanya ia menelpon eomma untuk menemanimu di sini” Hana mengangguk-angguk paham. Sekarang ia merasa benar-benar memiliki hutang pada Sehun. Euuhh. Aku tidak suka punya hutang pada orang lain, apalagi pada namja itu, batin Hana.

 

Hana POV

 

            “Cha. Akhirnya selesai juga. Kuharap dengan ini hutangku bisa terbayar” aku melihat hidangan yang telah ku masak bersama eomma Sehun, mungkin lebih tepatnya dimasak oleh eomma Sehun dengan aku sebagai penggembira saja. “Setidaknya kau ikut membantu, walau hanya sebagai pengupas bawang” bukannya aku pemalas atau bagaimana, eomma Sehun tidak memperbolehkanku melakukan apa-apa selain mengupas bawang dengan alasan aku yang masih terlalu lemah setelah keluar dari rumah sakit -_-“

Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang menekan password pintu, lalu sosok itu berjalan masuk ke dalam. Sehun yang dibalut pakaian kantor dengan kemeja yang sudah digulung sesiku dan dasi yang sudah dikendurkan, tampak lebih tampan dan seksi dibandingkan penampilan kasualnya, yang aku yakini 100% bisa membuat yeoja-yeoja yang menyiramku dengan jus tadi siang mimisan dan pingsan seketika.

Aku menatapnya dengan senyuman lebar terukir di wajahku, “Sehun-ssi, apa kau sudah makan malam?” Tanya ku. Alis Sehun terangkat, Nampak bingung dengan pertanyaanku. “Tadi eomma mampir sebentar setelah mengantarkanku pulang kemari dan sempat memasak untuk  kita. Apa kau mau-“

“Tidak” Sehun melangkahkan kaki memasuki kamarnya. Euhh.. Kim Hana kau telah melakukan hal yang sia-sia saja, mengajak namja menyebalkan itu makan bersamamu? Jelas saja jawabnya tidak.

“Ingin ku lempar sepatu saja muka menyebalkannya itu” umpatku pelan. Akhirnya aku mulai memakan makanan di depanku yang sudah meraung-raung sedari tadi ingin segera dikunyah. Satu menit berlalu dan aku merasa bosan. Aku tidak pernah makan pagi dan malam sendiri, karena selalu ada Appa yang menemaniku. Meskupin beliau sangat sibuk setidaknya beliau selalu menyempatkan dua waktu itu untuk ku.

Aku melirik pintu kamar Sehun. Lalu tanpa ku sadari aku sudah melngkah mendekati pintu itu. Ku Tarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, “Kau hanya meminta bantuan untuk menemanimu makan malam. Hanya duduk dan menunggu. Bukan hal yang sulit bukan”

Tok tok tok. Aku mengetuk pintu itu. Tidak ada respon. Ku raih gagang pintu di depanku dan terbuka. Ku langkahkan kakiku memasuki kamar Sehun. “Wuah dia ternyata namja yang sangat rapi, bahkan kamarku tidak tertata serapi ini” ucapku kagum. Semua terorganisir dengan rapi bak ditata oleh organizer professional.

Kulangkahkan kaki ku ke rak buku tak jauh dari tempat tidur Sehun. “Aku tidak tau kalau namja seperti dia suka membaca buku” ku pandangi buku-buku Sehun yang sebagian besar buku biografi tokoh-tokoh terkemuka dunia tertata dengan sangat rapi berdasarkan alphabet nama pengarang mereka.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menoleh dan mendapati Sehun yang sudah terbalut dengan pakainan rumah dan rambut basah sehabis mandi. ”Aku memerlukan bantuanmu” ucap ku sembari menyunggingkan senyuman termanisku yang biasa ku gunakan untuk merayu appa. Aku harap senyuman ini juga berlaku untuk Sehun.

Sehun menatapku dengan raut bingung beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke ekspresi datarnya. ”Apa?” jawabnya pendek.

 

”Emm… Bisa kah kau menemaniku makan malam? Aku tidak terbiasa makan malam sendiri”

”Tunggu aku di sana” tidak ada penolakan? Wow ternyata senyuman ini sangat mujarab. Aku mengangguk tanda paham lalu melangkah keluar dari kamar sehun dengan gembira.

Beberapa menit kemudian aku sudah kembali menyantap makanan di meja makan yang sempat ku tinggalkan dengan Sehun yang sekarang menemaniku. Dia duduk di depanku dengan kedua tangan terlipat di dada dan kedua mata yang terpejam. Apa dia tidak ingin makan juga? ”Sehun-ssi. Apa kau sungguh tidak ingin ikut makan bersamaku? Ini masakan eommamu jadi aku yakin kau tidak akan terkena masalah dengan ini” ucapku mencoba menawarkan makan lagi ke Sehun.

”Aku tidak lapar” jawabnya pendek.

”Meski kau tidak lapar seharusnya kau tetap makan, kau akan terkena gangguan pencernaan jika makanmu tidak teratur seperti itu” timpalku mencoba menasehati. Kalau namja itu sampai sakit akibat melewatkan makan malamnya kan aku juga nanti yang akan repot merawatnya. Meskipun ya aku bisa meminta bantuan eomma Sehun untuk merawatnya. Tapi tetap saja aku yang lebih bertanggung jawab padanya karena aku yang tinggal serumah dengan namja itu.

”Aku sudah makan di luar” huh kenapa tidak bilang dari tadi, jadi aku tidak perlu bersusah payah merayumu makan malam segala.

”Melihat dari caramu makan, kupikir kau sekarang sudah baikan” suara baritone sehun mengalihkan fokusku dari piring. Kini namja itu sudah kembali membuka matanya dan mata itu sekarang sedang menatapku dengan tatapan tajamnya.

”Yah sepertinya begitu. Aku tidak terbiasa melewatkan sarapan pagiku, dan aku terpaksa tidak melakukannya tadi pagi karena ya… Kau tiba-tiba saja muncul… Dengan keadaan seperti itu yang …. Membuatku kaget” raut muka Sehun tiba-tiba menegang.

”Ku pikir kau sudah selesai dengan acara makanmu” ucap Sehun bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak pergi kembali ke kamarnya.

”Sehun-ssi” suaraku menghentikan langkah namja itu. Ia berhenti namun tak menoleh. Aku melanjutkan, ”terima kasih”. Sehun tidak menjawab, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

 

–*_*–

Mungkin aku sekarang bisa di bilang orang yang tak tau malu, aku tidak peduli. Manusia kan memang seharusnya hidup berdampingan sebagaimana hakikatnya sebagai makhluk sosial. Itu berarti meminta bantuan [lagi] itu di perbolehkan. Aku tidak ingin melewatkan sarapanku seperti kemarin dan harus berakhir di rumah sakit. Dan yaahh meminta Sehun menemaniku sarapan pagi bukan lah suatu tindak kejahatan bukan. Ayolah, apa menyuruh seseorang duduk dengan manis selama kurang lebih 15 menit tanpa melakukan apapun termasuk tindak kejahatan? Entah sejak kapan aku sudah berdiri di depan pintu kamar Sehun. Sedari tadi tanganku sudah gatal ingin mengetuk pintu coklat di depan ku. Tapi saat tanganku hendak menyentuh permukaan pintu, rasa ragu tiba-tiba menyelimuti diriku. Kalau kau seperti ini, aku bisa jamin kau akan terlambat di mata kuliah Prof. Choi yang sangat galak itu Kim Hana.

Tarik nafas…. buang. Okeh. Kuatkan tekatmu. Kau hanya meminta bantuan yang sangat sederhana seperti tadi malam. Bukan hal yang sulit bukan. Tanganku hendak menyentuh permukaan pintu di depanku, saat tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampilkan Sehun yang terbalut kaos putih polos, celana pendek selutut serta tidak ketinggalan rambut acak-acakan khas bangun tidur.

Sehun menatapku dengan air muka bingung. “Apa yang kau lakukan di depan kamarku?” Suara serak Sehun membuat nada bicaranya sedikit tidak jelas. Aku menggigit bibir bawahku sembari meremas-remas jari-jari tanganku. Oh ayolah Kim Hana, kemana semua kata-kata yang sudah kau siapkan sedari tadi? Apa di dalam otakmu sana sedang terjadi tsunami dadakan hah?

“Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, bisakah kau menyingkir, karna aku tidak bisa keluar karena mu” Sehun hendak keluar dari kamarnya melalui celah yang ada di sebelahku.

Aku mengikuti langkahnya sehingga menutupi kembali akses namja itu untuk keluar. “Mau sarapan bersama?” Akh Kim Hana, sungguh pertanyaan yang bodoh.

“Tidak” yap. Seperti jawaban yang sudah ku duga sedari tadi. Sehun beralih menuju sisi lain dan aku kembali mengikutinya. Sehun menarik nafas beratnya, menandakan emosinya sekarang sudah mulai menunjukkan kenaikan.

“Sebenarnya apa maumu?” Ucapnya ketus.

“Kalau kau tidak mau sarapan bersama, setidaknya temani aku. Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak terbiasa sarapan sendiri” namja itu kini sedang memejamkan matanya. Seolah berusaha meredam emosi yang hendak meluap. Huh dasar namja sensitif.

“Baiklah. Aku akan menemanimu sarapan, jadi cepat menyingkir dari jalanku” manik mata Sehun menghujat langsung ke mataku. Dan dengan refleks yang sedikit lambat aku mulai menggeser tubuhku ke samping. Memberinya akses untuk melangkah ke…. entah mana tujuannya. Yang terpenting sekarang aku tidak akan berakhir di rumah sakit lagi seperti kemarin.

 

Author POV

 

Sehun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, hendak mengambil laptop yang terakhir ia letakkan di meja sebelah tv. Ia harus segera mengecek email dari pattner bisnisnya kemarin. Semalaman suntuk Sehun terjaga, berkutat dengan semua dokumen-dokumen tentang produk baru yang sedang ia kerjakan. Rasa kantuk yang teramat berat sejak pukul 5 tadi sudah mencapai puncaknya saat ini. Ia ingin segera mengirim semua dokumen-dokumen menyebalkan itu ke sekretarisnya dan tidur. Tapi itu hanya rencana awalnya saja sebelum yeoja itu memintanya menemani dia untuk sarapan.

“Kim Hana. Kau begitu cerewet dan penuntut” batin sehun. Sehun bisa saja, menolak. Tapi ia berfikir ulang dan tidak ingin menjadi bulan-bulanan eomma nya untuk menjaga Hana di rumah sakit (lagi) karena ia melewatkan sarapannya lagi. Ayolah dia sudah sangat sibuk dengan semua urusan kantor, dan tidak ingin ada hal lain yang membuatnya semakin sibuk. Dia juga manusia biasa yang butuh instirahat bukan.

Sehun melangkahkan kakinya menuju dapur dengan laptop di tangannya. Di sana sudah ada Hana yang sedang sibuk berkutat dengan roti dan pisau selai di tangan. “Ada selai coklat, stroberi, kacang, dan bluberry. Kau mau yang mana?” Ucap Hana saat Sehun sudah duduk di depannya.

Tidak menggubris pertanyaan Hana, Sehun malah membuka laptopnya dan jari-jari besar tanganya mulai bergerak lincah di atas keyboard. “Huh. Apa kau pikir aku batu. Saat kau di tanya olah seseorang, setidaknya kau harus menjawab walau hanya satu kata. Kalau kau tidak menjawab it-”

“Kenapa kau begitu cerewet?” Ujar sehun dengan suara rendahnya. Kini Sehun sedang menatap Hana dengan mata elangnya yang tampak sayu, seolah mengatakan ‘aku sudah lelah, bisakah kau tidak banyak bicara?’ Seolah mengerti maksud sehun, hana hanya mengerucutkan bibirnya lalu kembali ke kegiatannya mengolesi roti.

Sudah lebih dari 15 menit Sehun berkutat dengan laptopnya. Kini dahi Sehun berkerut, hingga kedua alisnya nyaris bertemu. Seolah berfikir keras akan suatu hal. Hana tidak berani mengganggu keseriusan Sehun, dan hanya meletakkan roti yang sudah ia olesi dengan selai coklat di dekat tangan namja itu lalu beranjak pergi. Setidaknya ia masih tau terima kasih setelah meminta pertolongan.

 

–*_*–

 

“Aakkh…” hana merintih kesakitan. Sesuai dugaannya ia akan datang terlambat di kelas Prof. Choi. Dan demi Tuhan, ia sekarang bahkan bukan siswa SD lagi yang jika telat akan di hukum berdiri di depan kelas hingga selesai jam pelajaran. Kurasa Prof. Choi harus segera pindah untuk mengajar sekolah-sekolah dasar untuk menertibkan anak-anak sekarang yang semakin hari semakin tidak bisa dikendalikan.

“Kau memang tertarik dengan tantangan ekstrim. Aku baru tau itu” ucap Na Young sembari menempelkan koyo di betis hana.

“Maksudmu?” Hana bertanya bingung, tidak bisa menangkap arah pembicaraan Na Young.

“Ya maksudku kau sekarang jadi suka melakukan hal-hal yang ekstrim dan penuh tantangan. Pertama, kau berani menjadikan Oh Sehun suamimu yang notebane adalah ‘oppa’ hampir seluruh yeoja di universitas ini”

“Ralat. Dia bukan suamiku!”

“Bukan untuk sekarang, tapi ya untuk di masa depan. Yang kedua kau berani adu mulut di depan umum dengan salah satu yeoja di universitas ini. Dan yang ketiga kau berani datang terlambat di kelas Prof. Choi di mana bahkan anak-anak lain rela datang di pagi buta?” cerca Na Young.

Hana hanya mengangguk-anggukkan kepala, malas berdebat dengan Na Young karena sudah bisa ditebak pemenangnya siapa. Kalau di pikirkan lagi, ucapan Na Young ada benarnya juga. Kenapa ia jadi seberani ini? Apa ini imbas dari namja itu?

“Apa jadwalmu kosong akhir bulan ini?” Ujar Na Young yang tiba-tiba merubah arah pembicaraan.

Hana mengernyit pelan, “Ku pikir aku tidak ada acara akhir bulan ini. Memang kenapa?”

“Ani. Hanya saja aku ingin mengajakmu pergi camping bersama chanyeol oppa dan teman-temannya. Aku ingin sekali ikut tapi aku tidak mau menjadi yeoja satu-satunya di sana” jelas Na Young.

Aku mengangguk-angguk paham. “Tunggu. Kau bilang bersama chanyeol oppa dan teman-temannya. Berarti namja menyebalkan itu juga ikut? Aku tidak mau ikut”

“Aku sudah bertanya pada Chanyeol oppa, dia bilang Sehun oppa tidak ikut karena sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Jadi kau tidak perlu khawatri nona. Jadi bagaimana?” jelas Na Young. Kalau saja Oh Sehun juga ikut, terus apa bedanya aku keluar untuk bersenang-senang kalau tetap ada dia dipandangan mataku.

“Tunggu, seditaknya salah satu dari mereka pasti ada yang membawa pacarnya. Lagian kan ada chanyeol oppa yang akan mejagamu. Kenapa aku harus ikut” balas ku.

“Percayalah padaku bahwa mereka semua itu playboy cap kodok yang tidak suka berkomitmen sama sekali, kecuali chanyeol oppa dan mungkin juga suamimu itu”

Hana memutar bola matanya malas. Lama-lama ia akan muntah mendengar kata “suamimu” terucap dari mulut Na Young.

“Kenapa aku? Kau bisa mengajak adikmu ikut bersama” Ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk berpegian yang harus bermalam.

“Mengajak sih mulut ember itu? Oh ayolah, aku ingin camping yang romantis, bukan camping yang penuh dengan kata-kata iri dan menyebalkan darinya” Hana terkekeh pelan mendengar jawaban sahabatnya itu. Entah kenapa Na Young dan Sung Jin – adik laki-laki Na Young – tidak pernah bisa akur. Saat mereka bersama, pasti selalu ada perdebatan-perdebatan kecil yang terjadi yang menurut Hana sangat tidak penting untuk diperdebatkan. Sungguh kakak beradik yang aneh.

“Kau seharusnya bersyukur, setidaknya masih punya saudara yang bisa kau ajak berdebat kapanpun” timpal Hana. Hah… sebenarnya ia sangat iri dengan keluarga Na Young. Ia masih memiliki keluarga yang lengkap. Ayah, ibu, dan saudara. Yang selalu bisa ia temui saat kembali pulang ke rumah setelah penat dengan semua aktivitas seharian.

Okeh. Hana memang masih mempunyai appa yang selalu beusaha untuk meluangkan waktu bersamanya. Tapi, itu tidak sebanding bukan dengan sosok seorang ibu dan saudara. Oleh karena itu, ia suka sekali berkunjung ke rumah Na Young dan merasakan kehangatan keluarga Kang yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Berbagi cerita pengalaman hidup dengan Tuan Kang. Memasak bersama Nyonya Kang. Dan mendengarkan keluh kesah dari Kan Sung Jin. Aahhh… anak itu sudah Hana anggap seperti adik kandungnya sendiri.

“Ngomong-ngomong soal Sung Jin. Kupikir ia menyukaimu” ucap Na Young bergidik ngeri sembari menatapku.

“Semua orang juga tau, Sung Jin menyukaiku bahkan melebihi dirimu Na Young-ah”

“Bukan meyukaimu sebagai noonanya seperti ia menyukaiku, mungkin. Tapi menyukaimu lebih dari itu” ucap Na Young sembari melipat tangannya di dada.

“Jangan menghayal yang tidak-tidak. Mana mungkin ia menyukaiku lebih dari sekedar noonanya” balas Hana sambil mengibaskan tangan di depan muka Na Young.

Na Young merubah posisinya menghadap Hana dengan tangan kanannya menyanggah di atas meja, lalu melanjutkan perkatannya dengan muka serius. “Aku tidak sedang berhayal. Kau tau kan, Sung Jin itu orang yang ceria dan banyak omong?” Hana menganggukkan kepala setuju dengan pernyataan Na Young.

“Nah waktu aku kembali setelah dari pesta pertunanganmu, aku menunjukkan foto mu dan Sehun yang sedang bertukar cincin, dan kau tau bagaimana reaksinya?” Hana menggelengkan kepalanya dengan raut muka penasaran.

“Muka berseri-serinya langsung berubah gelap seperti dia melihat istrinya sedang berselingkuh di depan matanya” oh ayolah, apa tidak ada perumpamaan yang lebih baik daripada ini?

“Dan hanya dari itu kau menyimpulkan bahwa Sung Jin menyukaiku lebih dari sekedar noonanya?”

“Iya. Bukankah itu sudah jelas?”

Hana menjitak kepala Na Young. “Mana bisa kau menyimpulkan dengan begitu mudah  hal itu hah. Bisa jadi dia hanya marah karena tidak ku undang ke acara perunanganku sedangkan kau ku undang”

“Akh. Itu sakit tau. Lupakan soal Sung Jin. Jadi, apa kau mau ikut camping bersamaku?”

Hana berfikir sejenak. Ia sedang malas bepergian jauh dan mengharuskan bermalam seperti camping misalnya. Tapi disisi lain, dengan ikut camping ini setidaknya ia akan terbebas dari namja psikopat itu di rumah. Bukan ide buruk juga kan. Lagian namja menyebalkan itu sedang sibuk dengan urusan kantornya jadi tidak mungkin jika dia akan ikut bergabung juga di sana.

“Hmmm… baiklah. Aku ikut bersamamu. Setidaknya aku akan terbebas dari namja itu beberapa hari” balas Hana.

“Okeyy. Ku pegang ucapanmu. Kalau kau sampai berubah pikiran saat hari H aku bersumpah tidak akan mau menemuimu selama 1 semester” ucap Na Young sembari mengacungkan jari telunjuknya di depan muka Hana.

“Iya-iya. Aku tidak akan membatalkannya jadi singkirkan jarimu dari mukaku” balas Hana terkekeh geli. Mereka berdua bersenda gurau hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat.

“Waktunya pindah kelas. Kajja. Prof. Han tidak akan suka jika kita terlamabat datang ke kelas pentingnya”

 

–*_*–

 

“Aahhh… udara sore musim gugur yang manis” ucap Hana sembari melangkahkan kaki jenjangnya di tepi jalanan yang sudah mulai menggelap. Hari ini ia lebih memilih naik bus untuk pulang sembari menikmati udara musim gugur yang menusuk tulang. Jarak halte memang tidak jauh dari kampus sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit.

Ia biasa pulang menebeng mobil Na Young, tapi untuk kali ini sahabatnya itu sedang ada janji kencan dengan Chanyeol oppa dan ia tidak mau mengganggu acara mereka. Haahh… andaikan ada Kyuhyun oppa. Pasti ia akan menelpon najma itu untuk menjemputnya. Ngomong-ngomong soal Kyuhyun Oppa, kenapa namja itu belum menghubunginya sama sekali sejak kepergiannya beberapa hari yang lalu? Apakah begitu sibuknya hingga mengiriminya sms pun tidak sempat?

Buukkk

“Aaakkhh…” sebuah badan menubruk Hana dari belakang membuat keseimbangan tubuhnya goyah dan membuatnya mendarat sukses di tanah.

“Aahhh… appo” rintih Hana pelan sembari mengusap-usap tangannya yang lecet tergores aspal.

“Astaga. Maafkan aku nona. Aku tidak sengaja menabrakmu. Apa kau baik-baik saja?” Suara bass namja itu membuat Hana mengalihkan perhatian ke sosok yang sekarang sedang berjongkok di depannya.

Astaga, apa orang ini sedang dilanda badai berangin kencang sehingga membuat penampilannya kacau balau seperti ini? Batin Hana. Rambut acak-acakan, kemaja putih yang sudah kusut dan digulung sesiku ditambah dasi yang sudah dikendorkan dan sebuah jas yang menyampir manis di pundak kanannya.

“Ani. Aku tidak apa-apa” jawab Hana sembari berusaha kembali berdiri dibantu namja di depannya.

“Apa nona yakin tidak apa-apa? Kita bisa pergi ke rumah sakit jika memang perlu” ucap namja itu khawatir.

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka ringan jadi Anda tidak perlu sampai membawaku ke rumah sakit” ucap Hana.

“Ah… Syukur lah kalau memang tidak kenapa-kenapa” balas namja itu sembari menghembuskan nafas leganya.

“Ya. Anda bisa pergi sekarang Ahjussi” timpal Hana dengan senyuman tipis yang terukir di bibir mungilnya. Namja di depannya terdiam sejenak, seperti terkejut akan ucapan Hana sampai akhirnya ia mulai terkekeh pelan. Hana yang bingung hanya menatapnya dengan alis terangat. Cukup lama namja itu tertawa hingga ia kembali bersuara.

“Maafkan aku haha. Aku hanya tidak menyangka kau akan memanggilku ahjussi. Aku tidak setua itu nona” timpalnya dengan menyunggingkan senyum lebar dengan deretan gigi putihnya.

“Oh maafkan aku tuan” ia membungkukkan tubuhnya meminta maaf dengan tulus akan kesalahannya. Ah kenapa kau begitu tidak sopan Kim Hana.

“Ya tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kenapa kau bisa memanggilku Ahjussi” balasnya sambil menggosok-gosok lehernya yang tidak gatal.

“Ne. Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi aku minta maaf” namja itu hanya merespon dengan anggukan lalu Hana mulai melangkahkan kalinya kembali.

 

Hana POV

 

Tit tit tit

Ceklek

 

Sepi. Apa Sehun tidak ada di rumah? Ah masa bodoh dia mau ada di mana. Ku langkah kan kaki ku menuju dapur. Meskipun sekarang musim gugur dan udara di luar sana mulai dingin, tetapi berjalan sekitar 1 km bisa membuat haus juga. Ku tegak habis 1 botol air dalam sekali nafas. Aaahh… ini baru namanya surga.

Dan sekarang aku harus berfikir untuk makan malamku. “Hmm… coba kita lihat ada apa saja di dalam kulkas yang bisa ku olah menjadi makanan” ku ambil apapun yang tertangkap oleh kedua mataku. “Sup tofu, nasi hangat, dan ikan goreng bukan menu yang buruk kkk” ucapku dengan tangan yang terlipat di dada sembari menatap semua bahan di depanku.

Tanganku mulai bergerak lincah mengolah semua bahan yang ada. Bermodalkan panduan dari internet, sedikit pengalamanku memasak bersama Cho Ahjjumma dan lebih banyak insting. Aku memang bukan koki hebat, tapi aku berani jamin masakanku setidaknya masih bisa dimakan.

 

Tit tit tit…

 

Ah namja itu sudah pulang, batinku. Selang beberapa detik sosok Sehun sudah muncul dengan balutan pakaian kantornya. Mata elangnya menatapku penuh tanya. “Apa yang sedang kau lalukan?”

“Aku sedang yoga Sehun-ssi” jawabku gemas. Ayolah apa dia masih harus bertanya aku sedang apa hah. Tanpa merespon apapun, Sehun kembali melangkahkan kakinya.

“Stop!” Teriakku sontak mengentikan langkah namja itu. Sehun memutar tubuhnya kembali menghadapku. “Kau… masih ingat kan. Aku tidak bisa makan sendiri?”

“Aku sedang sibuk”

“Kau juga belum makankan? Aku memasak banyak untuk kita berdua” tawarku.

“Tidak” balasnya pendek.

“Tapi..”

“Kau bahkan bukan anak kecil yang harus disuapi lagi. Apa masalahnya dengan makan sendiri” balasnya dingin.

Kedua tanganku mengepal. Tidak terima akan ucapan Sehun padaku. Tarik nafas… buang. Sabarkan dirimu Kim Hana. Sabar. “Geure. Aku memang masih seperti anak kecil, jadi apa masalahmu tentang hal itu. Aku hanya meminta 15 menit saja dari waktu berhargamu itu tuan sibuk. Atau ya bisa ku jamin semua waktu sibukmu itu akan terisi dengan hadiah-hadiah kecil dariku” ucapku berkacak pinggang.

“Apa sekarang kau sedang mengacamku Nona Kim?” Sehun menatapku dengan seringai liciknya.

Oh tidak. Kenapa situasinya menjadi menyeramkan begini. “Y-ya. Bisa disebut seperti  itu. Jadi apa tanggapanmu?” Ucapku dengan nada menantang.

Sehun hanya mendengus kecil sembari seringai yang masih terukir dibibirnya. Tanpa merespon ucapanku, namja itu melangkahkan kaki menuju kamarnya.

“Apa dia pikir aku batu hah?” Sabarkan dirimu Kim Hana. Kau bukan batu. Kau hanya tinggal dengan sebongkah batu yang punya kemampuan berjalan.

 

Klontang klontang klontang

 

Aku sengaja membersihkan semua peralatan yang kugunakan memasak dengan asal-asalan sehingga menimbulkan banyak bunyi yang tercipta akibat benturan dengan bak pencuci. Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku Oh Sehun hahaha

“Apa kau sengaja melakukan semua itu?” Suara baritone dari arah belakang membuatku menoleh. Namja menyebalkan itu sedang berkacak pinggang sembari menatapku dengan muka merah padam.

“Mwo? Aku hanya membersihkan semua peralatan yang ku gunakan” ucapku manis.

“Dengan semua suara berisik itu? Aku sedang sibuk. Bisakah kau tenang sedikit?”

“Aku juga sedang sibuk. Kalo semua ini tidak ku bersihkan sekarang, semuanya akan mengering dan akan susah untuk dibersihkan” balasku kembali melanjutkan aktivitasku dan tetap menimbulkan suara-suara berisik itu. Kkkkk~ aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku Oh Sehun-ssi.

 

Grab

 

Tiba-tiba tangan Sehun menarik kedua tanganku dari belakang dan memutar tubuhku. Kini kami berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat dengan kedua tanganku yang terkunci oleh tangan besar Sehun. Sehun menundukkan kepalanya untuk mensejajarkan matanya dengan mataku. Aku bisa merasakan hembusan hangat nafas Sehun menyapu pipiku. Oh ini terlalu dekat.

“Bisakah kau menjauh-” sebelum aku selesai dengan ucapanku Sehun sudah memotong.

“Aku sudah pernah bilang, aku tidak suka dibantah” ucap Sehun menekankan setiap kata yang ia ucapkan.

Oh Kim Hana, kau tidak boleh terintimidasi dengan ucapan namja itu. “Mwo? Aku juga punya hak untuk menolak perintahmu. Dimana HAM yang membebaskan semua orang untuk bericara dan berpendapat? Dimana hak setiap orang untuk bebas dari diskriminasi? Dimana-”

“Cukup” lagi-lagi Sehun memoton ucapanku. “Aku di sini bukan untuk mendengarkan matapelajaran tentang HAM bodohmu itu. Aku sedang sibuk dan kau bersik seperti orang gila sehingga mengacaukan konsentrasiku. Tidak bisakah kau memberiku ketenangan?”

“Temani aku makan”

“Apa?” Sehun masih bingung dengan arah pembicaraanku yang berubah tiba-tiba.

“Temani aku makan jadi aku akan diam setelahnya” jawabku menekankan disetiap kata. Sehun kini memejamkan matanya. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Sehun terdiam cukup lama. Ayolah aku hanya mengajaknya makan di rumah, kenapa dia harus berfikir terlebih dahulu “Kalau kau tidak mau juga-”

“Aku belum menjawabnya bodoh” Sehun membuka kembali matanya. “Baiklah. Aku akan menemanimu. Dan kau harus menepati kata-katamu untuk tidak berisik setelahnya”

“Oke. Itu bukan hal yang sulit. Jadi bisakah kau sekarang melepaskan kedua tanganku dan menjaukan badanmu dariku karena udara di sini sangat sesak” seolah baru tersadar, Sehun sontak melepaskannya dan melangkahkan kakinya meninggalkanku.

“Aku menunggumu di meja makan” ucapku sedikit berteriak yang tidak direspon sama sekali olehnya. Dasar batu berjalan.

 

Author POV

 

Hana melirik Sehun disela-sela kegiatannya melahap makanan. Tatapan sarkatis dan sedikit kesal terpasang di muka cantiknya sedari namja itu duduk untuk menemaninya makan. Tunggu. Apa ini bisa dibilang menemani makan? Okeh secara garis besar memang ada Sehun di sana, besama Hana, untuk makan. Tapi maksud Hana dengan ‘menemani makan’ adalah mereka berdua sama-sama makan dan berbincang-bincang ringan walaupun cuma sekedar basa-basi belaka. Bukannya Hana makan dengan Sehun duduk di depannya yang super sibuk dengan jari-jari besarnya yang menari-nari di atas keyboard dalam bisu.

“Ah kalau begini apa bedanya dengan makan sendiri” gumam Hana sembari menghembuskan nafas beratnya.

“Lalu apa maumu” balas Sehun tanpa berpaling dari layar laptopnya sama sekali.

“Hanya makan malam yang hangat dan bersahabat” timpal Hana.

“Makan malam lah didekat microwave” hah! Hana sudah bisa menebak namja itu akan memberinya balasan yang tidak masuk akal.

“Yayaya. Terima kasih saran jeniusmu itu Oh Sehun-ssi” Sehun hanya membalasnya dengan angkatan bahu dan naikan alis. Sebenarnya dia itu arsitek apa aktor film bisu sih. Menjengkelkan!

Hari-hari berikutnya terus berlangsung begitu platonis. Makan pagi ditemani Sehun yang tertidur akibat begadang semalaman. Dan makan malam yang kembali ditemani oleh namja itu yang sibuk bercumbu ria dengan laptopnya. Tanpa ada obrolan yang berarti hanya sedikit kata-kata ejekan dan sindiran semata.

Untunglah siang hari Hana masih bisa merasakan suasana makan yang ‘hidup’ bersama Na Young dan kembali menyadarkannya bahwa ia hidup dijaman yang sudah modern dengan beribu bahasa tersebar di dunia.

“Jadi apa saja yang sudah kalian lakukan selama 3 minggu hidup bersama?” Otak penasaran Na Young tampaknya mulai bekerja, batin Hana.

“Menurutmu hal apa yang akan terjadi jika manusia dan sebongkah batu tinggal bersama” balas Hana balik.

“Hey setidaknya dia itu batu yang tampan dan seksi tau” timpal Na Young dengan mulut yang masih menguyah humberger.

“Setampan dan seseksi apapun, batu ya tetap batu Na Young-ah. Akh aku seperti kembali hidup di jaman batu” Na Young tertawa lepas mendengar tutur Hana. Ia masih tidak percaya dengan hal gila yang dialami sahabatnya itu 3 minggu belakangan.

“Baiklah-baiklah. Aku mengerti kondisimu yang memprihatinkan itu. Oleh sebab itu mari kita keluar untuk bersenang-senang” ucap Na Young penuh semangat.

“Bukan ide yang buruk. Baiklah, ayo kita pergi berbelanja woo…” raut muka Na Young tiba-tiba berubah. Kini matanya menyipit seolah menyelidiki sesuatu.

“Jangan bilang kau lupa dengan acara kita akhir bulan ini Kim Hana-ssi” Hana hanya balas menatap Na Young dengan muka bingung. Memang apa yang ia lupakan?

“Sudah ku duga kau akan lupa dengan acara camping kita” ucapnya melipat kedua tangan di dada dan menghempaskan dirinya ke sandaran kursi.

“Ya Tuhan. Aku baru ingat. Maafkan aku Na Young-ah. Baiklah, Aku akan ikut bersamamu daripada aku harus berdiam diri di rumah bersama sebongkah batu”

“Good. Aku akan menjemputmu di halte dekat apartement mu dan Sehun dan jangan membuatku menunggu Kim Hana” ucap Na Young dengan jari telunjuk mengacung di depan muka Hana.

“Seharusnya aku yang harus mengatakan kata-kata itu. Kang Na Young. Jangan membuatku menunggu!”

 

Hana POV

 

Yap. Seperti dugaanku sebelumnya bahwa yang akan menjadi ‘penunggu’ adalah aku. Dalam sejarah pertemanan kami, orang yang selalu datang terlambat tetapi mengacam orang untuk tidak datang terlambat adalah Na Young. Masih terniang jelas saat Na Young memberitahu ku prinsipnya tentang arti menunggu.

“Hana-ya. Dalam hidup ini kegiatan yang paling membosankan itu adalah menunggu. Oleh karenanya prinsipku adalah ‘lebih baik orang lain menunggu ku datang, daripada aku yang harus menunggu orang lain datang’ ”

“Termasuk aku?” Tanyaku”Yap. Tanpa terkecuali” balasnya manggut-manggut.

“Termasuk Chanyeol oppa juga?” Selidik ku

“Ani. Chanyeol oppa tidak termasuk”

“Heeii… kau begitu pilih kasih dengan sahabatmu sendiri. Memangnya siapa yang sudah lebih lama bersamamu” kritik ku tidak terima.

“Sudahlah terima saja nasib mu kawan. Hati nuraniku sudah memilih jalannya masing-masing hem” balasnya dengan muka yang menyebalkan dan cengiran kuda khas Na Young.

Tin tin tin

 

“Ya! Kim Hana! Apa yang sedang kau lalukan. Kita sudah terlambat. Cepat masuk” teriak Na Young dari balik kaca mobilnya yang sudah diturunkan setengah.

“Huh. Dasar jam karet. Aku sudah menunggumu disini sejam yang lalu. Kalau memamg terlambat itu murni 100% salahmu sendiri”

“Baiklah-baiklah. Semuanya salahku. Salahku. Yang salah-salah adalah milikku. Karenanya cepat masuk nona penggerutu” aku melangkahkan kaki menuju kursi penumpang di sebelah Na Young dan mobil Na Young pun mulai meluncur di jalanan.

 

–*_*–

 

Seperti kata pepatah di luar sana. Live is unpredictable. Kenapa tiba-tiba aku mengatakan istilah itu? Karena telah terjadi hal-hal yang di luar dugaanku di sini. Okeh mari ku sebutkan satu persatu.

Yang pertama, apa yang ada di benak kalian saat mendengar kata camping? Aku tidak tau pasti apa yang kalian pikirkan tentang camping, tapi yang aku pikirkan adalah mendirikan tenda, mencari kayu bakar, menyalakan api unggun dan masih banyak lagi diamana tidak lah jauh-jauh seperti dulu kau ikut pramuka.

Tetapi image camping di sini sunggung berbeda. Tidak ada tenda dan lain sebagainya itu. Yang ada adalah villa super megah yang berada di daerah pegunugan Gyeonggi-do dimana semua hal sudah tersedia.

Yang kedua, sepertinya aku baru menyadari bahwa aku telah tertipu oleh Kang Na Young. Okeh dia memang sudah mengatakan padaku bahwa hanya ada 2 yeoja yang ikut, yaitu aku dan Na Young dan sisanya adalah para namja playboy cap kodok. Tapi dia tidak mengatakan bahwa namja-namja playboy cap kodok itu benar-benar pemalas tingkat dewa. Oh God sepertinya aku datang ke sini bukan untuk berlibur, tetapi menjadi pembantu.

Dan yang ketiga, tujuan utamaku datang kemari adalah untuk melupakan sejenak hari-hari menyebalkanku hidup bersama sebongkah batu yang berprofesi menjadi arsitek sekaligus aktor film bisu. Tapi apa-apaan ini? Kenapa dia juga di sini sekarang? KENAPA?

“Kang Na Young kau harus menjelaskan padaku kenapa aktor ani Oh Sehun ada di sini sekarang? Kau mengatakan padaku namja itu tidak akan ikut dicamping ini karena sibuk dengan kantornya, lalu apa-apaan ini?” Geramku setelah menyeret Na Young menuju ke dapur.

“Maafkan aku Hana-ya. Aku juga tidak tau kalau Baekhyun oppa akan menipu Sehun oppa agar bisa ikut di camping ini. Aku dan Chanyeol oppa benar-benar tidak tau. Itu murni inisiatif Baekhyun oppa tanpa memberitahu kami semua. Kami juga tak kalah kaget saat mereka berdua keluar dari mobil tadi. Jeongmal mianhae hem?”

Aku menghembuskan nafas beratku. Mungkin kalian akan berfikir bahwa ini takdir, tapi untuk ku ini adalah bencana. Bencana yang akan membawaku menuju neraka. Kim Hana… welcome to the hell.

 

To Be Continue

 

Haallooooo… ketemu lagi sama author abal-abal ini setelah sekian lama berlalu hehehe ^^ *ditimpukin batu* maaf maaf maaf banget baru bisa update FF ini lagi setelah 6 bulan berlalu dan hasilnya yang sesuai ekspektasi aku dan mungkin kalian semua. Maaf banget kalo kalian nggak bisa dapet feel-feel mereka semua di chapter ini seperti sebelum-sebelumnya dan cerita yang terlalu panjang yang hampir menyentuh 6500 words, karena menurutku chapter ini…. ga seperti chapter-chapter sebelumnya. Apalagi konflik di awal-awal, duh ga banget sumpah, tapi aku udah ga tau mau diubah kayak gimana lagi jadi maafkan ya chingu hehehe

 

Aku harap kalian masih mau ngikutin cerita YSBM selanjutnya setelah baca chapter ini, dan mungkin aku baru bisa update chapter selanjutnya sekitar bulan juni setelah UN, SBMPTN, dan tes-tes yang lain sudah selesai karena aku ga mau entar jadi typo ngetik rumus-rumus kimia -_-“ kritik dan saran kalian akan sangat membantu buat aku. Terima kasih buat admin exofanfiction yang masih mau ngepost FF ku dan readernim sekalian yang mau meluangkan waktu baca FF ku *cium satu-satu* Papooii !!!

 

Salam hangat dari kimia!!!

9 thoughts on “You Should Be Mine [Chapter 4]

  1. lanjut kak, jgn lama” updatenya…
    aq suka bgt ma sifat sehun yg dngin dsini.
    dtunggu sweet moment antara sehun dan kim haya ya kak cz sejauh ini blum ada moment manis yg trcipta dr mereka brdua….
    moga di acara camping nanti ada deh sweet moment nya, jgn buat mreka terus”an brantem ya?🙂
    oke dtunggu next nya ^_^
    semangat🙂

  2. Wahahahaha,, nayoung orgnya kocak jg,, qu suka karakterny…
    Dgn adany camping ini, hana n sehun psti jd lbh dket lg…

  3. Wah suka sukamakin seru aja ceritanya.. btw semangat sbmptnnya yah thor.. mudah2 msk jurusan yang diinginkan. Lalu ff.a cepet update.. hehe ud gak sbar soalnya. Author-nim jjang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s