A forgotten life (chapter 4)

Eulseongulya

Married-life, fantasy, action,  AU(berganti sesuai chapter)

PG 15 (berganti sesuai chapter)

Length : chaptered

Murni didalangi oleh eulseongulya. Kesamaan bukanlah sesuatu yang disengaja. Alur cerita beserta ide-idenya milik saya,selebihnya adalah milik tuhan.

Akhirnya aku putuskan buat bikin FF chaptered ber-genre utama  married life +fantasy. Aku udah punya gambaran endingnya,jadinya aku berani buat.

NO PLAGIATOR
NO COPYCAT

Enjoy it,and please give me a comment(o^~^o)*bbuing-bbuing*. Hope you like it.

.
.
.
.

“Apa maumu?.” Seru Hae kyu.

“Singkat saja, membunuhmu.” Ujar Seon hwa seraya menghunuskan pedangnya kearah Hae kyu, tapi gadis itu masih bisa menghindar. Dengan martial arts yang ia sudah pelajari bertahun-tahun, Hae kyu dapat melawan Seon hwa. Namun Seon hwa juga tak kehabisan akal, ia pergunakan dengan baik pedangnya untuk melawan Hae kyu yang tanganya kosong.

.
.
.
.

      Pukulan Hae kyu lumayan juga, cukup membuat Seon hwa kewalahan dan kadang terkapar. Akan tetapi Seon hwa terus saja bangkit dan menyerang, ambisinya untuk membunuh Hae kyu teramat besar. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Itulah peribahasa yang menggambarkan Hae kyu saat ini. Sepandai-pandainya ia menghindar, akhirnya ia tertusuk juga. Seon hwa pun dapat dengan mudah menaklukkan Hae kyu setelah Hae kyu terluka. Seon hwa pun mulai mengarahkan pedangnya ke leher Hae kyu, tetapi tiba-tiba saja…,

-:-:-:-:–:—:—CHAPTER 4—:—:–:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Tiba-tiba api berwarna keemasan keluar dari tangan Hae kyu, Seon hwa pun menderita luka bakar yang cukup parah karenanya.

“K-kau, b-bagaimana bisa…,” ucap Seon hwa tergagap. Hae kyu pun juga menganga, bagaimana bisa ia mengeluarkan api, sedangkan ia bukan fire-woman?. Luka serius yang diderita Seon hwa membuat waktu kembali bergulir. Chanyeol langsung tertegun melihat mereka berdua, ia bingung tapi dia segera sadar bahwa ini pasti ulah Seon hwa.

“A-apa yang terjadi?.”

“Mati kauu…!” Seon hwa berseru lantang sambil menodongkan pedangnya kearah Hae kyu melihat Hae kyu mulai lengah. Hae kyu langsung menghindar dan memiting Seon hwa dengan jurus bela dirinya sehingga tangan Seon hwa hampir patah.

“Cukup, cukup…!, apa yang terjadi di sini?.” Chanyeol yang sama sekali tidak diacuhkan oleh kedua wanita itu langsung bertanya. Seon hwa semakin brutal dan tak terkendali, Chanyeol pun mulai campur tangan.

.
.
.
.

“Seon hwa, sadarlah!. Apa kau sudah gila?, apa yang kaulakukan?.”

“Persetan dengan apa yang aku lakukan, menyingkir!. Aku harus melenyapkan dia, jangan halangi aku!.” Seon Hwa membentak Chanyeol lengkap dengan matanya yang melotot. Mendengar ribut-ribut seperti itu, Baekhyun langsung masuk kedalam kamar. Tanpa ba-bi-bu, ia membawa Hae kyu kabur dengan cara menghilang. Chanyeol seperti orang linglung. Jelas saja jika tiba-tiba Hae kyu lenyap tanpa jejak yang tersisa seolah ditelan angin.

“Seon Hwa, apa yang engkau lakukan? Dimana Hae Kyu?. Apa yang kau lakukan kepadanya?.” Chanyeol melempari Seon Hwa berbagai pertanyaan yang intinya sama bertubi-tubi. Sungguh, saat ini Seon hwa ingin menangis. Kenapa Chanyeol lebih memperhatikan Hae Kyu daripada dirinya sekarang?.

“Ini menyakitkan.” Gumam Seon hwa sembari mengarahkan pedangnya ke Chanyeol.

“Kau ini apa-apaan?.” Tanya Chanyeol yang hanya dibalas tatapan penuh lara dari Seon hwa.

“Bunuh saja aku…,” pinta Seon hwa dengan nada memilukan.

“Aku tak tahan, Chanyeol. Berpuluh-puluh tahun aku mencintaimu apa adanya. Semua jengkal dari dirimu kucinta. Bahkan saat kau mengutarakan pengakuan menyakitkan bagiku, benci pun rasanya aku tak bisa. Tak bisakah kau mencintaiku, Chanyeol? Sedikit saja, aku mohon. Aku sadar, Chanyeol. Aku sadar kau tak pernah mencintaiku layaknya sepasang kekasih. Aku tahu kau hanya menyayangiku sebatas teman saja meski aku berstatus sebagai kekasihmu. Aku sadar kau tidak pernah mencintaiku. Aku tahu bahwa perasaanku bertepuk sebelah tangan selama ini. Aku yakin kau masih menyayangi Gu In young daripada aku. Sadarlah Chanyeol, sadar. Dia takkan ada untukmu lagi. Ia sudah menjadi milik pria itu, selamanya. Dulu aku sudah cukup senang, kau masih mau memerjuangkanku meski kau sudah dijodohkan dengan wanita itu. Kau memberiku banyak harapan untuk tetap bersama membangun cinta antara kita berdua. Namun kini, kau menghancurkan semua begitu saja. Kau bahkan lebih peduli pada gadis itu daripada keadaanku. Aku lelah, Chanyeol. Aku lelah menunggu cintamu. Aku membenci diriku, yang memusatkan hidupku hanya untukmu, untuk mencintaimu. Aku benci diriku, yang sama sekali tidak dapat membencimu walau kau telah banyak menyakitiku. Aku benci pada Tuhan yang telah menciptakanmu. Mengapa ia harus memertemukanku dengan kamu bila akhirnya begini? Aku benci semua ini. Aku benci! Huwaaaa…. hhhhaaaaa……” ucap Seon hwa panjang yang ditutup dengan tangisan keras yang memekakkan telinga. Chanyeol benar-benar tak tahu. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa dan mengatakan apa.

.
.
.
.

“Aku benci, kenapa aku harus dipertemukan dengan kamu jika akhirnya akan jadi seperti ini? Huaaa… pergi jauh-jauh! Enyahlah kau dari hidupku. Aku muak melihatmu lagi, Chanyeol. Aku ingin berhenti dari semua harapan kosong ini. Aku tahu, aku mungkin tak dapat hidup tanpamu dengan baik. Namun mungkin sekarang akan mulai aku coba. Aku benar-benar tak tahan, aku lelah dan bosan sengan hatimu yang terlalu sulit kuraih. Pergi saja kau ke neraka, dasar ba###an.” Seon Hwa terus saja merutuki Chanyeol. Aku tahu bagaimana rasanya, mungkin kau juga akan mengomel jika kau diberi harapan kosong oleh orang, persis semacam Seon Hwa.
.
.
.
.

Other side

“Oh ya tuhan. Yoo ji-ya, bagaimana bisa itu terjadi?.”Baekhyun berujar seraya memerban luka Hae kyu.

“Aku malas menjelaskanya.” Hae kyu malah menjawab pertanyaan Baekhyun yang mencemaskanya denagn sekenanya.

“Kau ini…,”

“Tadi ada seorang pengendali waktu yang hendak membunuhku. Aku melawan tapi ia memiliki senjata, sedangkan aku tidak. Ya beginilah jadinya.” Akhirnya Hae Kyu nenyahut pertanyaan Baekhyun dengan benar.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?.”

“Bisa ya?.” Hae Kyu menatap Baekhyun polos sambil berkedip-kedip seolah sama sekali tak tahu apa-apa.

“Kau lupa?. Sentuh saja orang yang ingin kau normalkan, dan ia akan bergerak normal meski lawan menghentikan waktu. Kau ‘kan pengendali waktu juga.”

“Oh, begitu.”

“Apa kau tak ingat siapa Chanyeol?.”

“Memangnya siapa dia?”

“Rupanya hanya aku saja yang ingat.” Baekhyun berucap sambil mendengus.

“Kau tahu, aku merasa jadi yang paling beruntung disini. Setidaknya, karena aku tidak kehilangan sebagian ingatan seperti kalian berdua. Rupanya segel itu memang sangat kuat dan beresiko, sampai-sampai Chanyeol tak mengingatku lagi.” Baekhyun berkomentar cukup panjang.

“Kau ini kenapa ngomongnya muter-muter gitu, sih? Aku gak mudeng!” Hae Kyu memprotes perkataan Baekhyun yang sama sekali tidak ia mengerti maksudnya.

“Sudahlah, kau tak perlu ingat ataupun mengetahui hal ini. Lagian juga tidak penting.”

“Aww…,jangan kencang-kencang pasang perbanya!”

“Makanya jangan kebanyakan bergerak! Sini mendekat, susah tahu merbanya kalau kamu jauh-jauhan gitu sama aku.” Baekhyun melotot garang, tidak mau disalahkan karena ia memang tidak salah.

“Iya-iya.” Hening, tak ada lagi pembicaraan antar mereka. Baekhyun masih memerban Luka Hae kyu dengan telaten, sedangkan Hae kyu masih sibuk memandangi pemandangan kota Seoul yang diguyur hujan. Bosan, Hae kyu mencari pemandangan lainya. Ia pun membuang pandanganya kearah Baehkhyun. Ya tuhan, imutnya dia saat sedang serius seperti itu.

“Kenapa memandangiku seperti itu?” tegur Baekhyun saat mendapati Hae kyu yang sedang menatapnya kosong, seperti memikirkan sesuatu yang entahlah, Baekhyun juga tidak tahu.

“Tidak apa, hanya saja kau terlihat tampan bila sedang serius seperti itu.”

“Kau baru menyadarinya? Tentu saja aku yang paling tampan, aku ‘kan suamimu.” Baekhyun tersenyum sok tampan, seolah ialah pria tertampan di muka bumi.

.
.
.
.

Mendengar perkataan Baekhyun, Hae kyu jadi mulai teringat Chanyeol. Sungguh ini hal yang terkonyol, bagaimana ia memiliki dua suami dalam waktu bersamaan seperti ini? Bagaimana bisa? Lalu, apa yang harus ia lakukan? Ia bukan wanita yang cukup serakah untuk memiliki dua pria sekaligus. Ia hanya butuh satu, yang dapat melindungi dan menyayanginya. Ia sebenarnya juga sedikit tidak peduli akan Chanyeol dan Baekhyun, wanita itu tidak memiliki perasaan apapun pada keduanya, kalau boleh jujur. Setidaknya, masih belum. Paling tidak untuk sekarang.

.
.
.
.

Wanita itu tidak peduli. Ia sama sekali bukan tipe-tipe wanita yang terlalu memikirkan pria, ia lebih suka memikirkan nasib anak malang yang terlantar daripada kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Ya, itulah Yoo ji. Lain Yoo ji, lain Hae kyu. Selama Yoo ji menjadi Hae kyu, ia berubah, bukan menjadi Yoo ji seperti seharusnya. Ia memikirkan semuanya. Ya, ia sangat peduli akan semuanya, sampai-sampai sosok Hae kyu dikenal tidak memiliki banyak teman karena kebiasaan buruknya, kebanyakan melamun dan merenung memikirkan semua masalah dari yang sepele hingga yang rumit sendirian.

.
.
.
.

Walaupun ia tidak terlalu peduli, ia harus tetap meluruskan semua ini. Ia tidak mau menjadi bahan gunjingan karena memiliki dua suami. Ia juga tidak mau orang-orang menatap rendah dan jijik padanya karena hal yang sama.

“Baekhyun-ah!” Hae kyu berseru, membuat sang empunya nama pun menoleh.

“Apa?” Baekhyun menjawab seruan Hae Kyu dengan tidak santainya.

“Menurutmu, aku harus menjadi Byun Yoo Ji atau Park Hae Kyu?”

“Aku? Aku sih lebih suka kau menjadi Byun Yoo Ji, menjadi wanitaku yang dingin tapi beraura keibuan. Namun jika kau lebih memilih menjadi Park Hae Kyu, itu tidak masalah. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Ini pasal hati, Yoo ji-ya. Kau tak dapat menentang apa yang diinginkan oleh hati nurani tulusmu. Aku harap kita bisa selalu bersama, terserah kau sanggup atau tidak, itu pengharapanku. Aku mencintaimu, hanya itu yang ingin kau tahu. Tak peduli kau menjadi siapapun, aku tetap menyayangimu.”

“Kau membuatku terharu, nyuplik dari film mana?”

Yaa Byun Yoo Ji, kau tak bisa romantis sedikit apa? Susah sekali tahu, mengungkapkanya.” Baekhyun mendesah kesal dan menatap malas Hae Kyu.

“Iya-iya, aku mengerti. Maaf Baekhyun-ah, aku belum bisa membalas perasaanmu.”

“Tidak apa, aku maklum.”

.
.
.
.

“Kalian disini rupanya… dari tadi aku mencari kalian kemana-mana,” gumam Kai begitu menemukan Baekhyun dan Yoo Ji.

“Ada apa, Kai-yah?” Baekhyun menyapa pria berkulit agak gelap itu.

“Aku dapat mengendus keberadaan kalian sedikit-sedikit dari dunia sihir abadi, kenapa kalian pergi-pergi? Disini tidak aman, tahu. Pokoknya kalian harus tetap disana. Jangan jauh-jauh dari si pria segel, mengerti?”

“Hei, kau berhutang penjelasan pada kami.” Baekhyun langsung merespon perintah Kai dengan penagihan penjelasan.

“Ba-baiklah, akan aku jelaskan,” Putus Kai kemudian.

“Ada seorang pria bertopeng beserta komplotanya yang mengincar Yoo Ji, mereka hendak membunuh Yoo Ji. Aku masih belum memastikan siapa dan apa alasan pria itu sampai-sampai berambisi membunuh Yoo Ji, tapi aku harap kalian terus berhati-hati,” papar pria berkulit secoklat es krim karamel kesukaan Hae kyu itu.

“Aku sudah meminta si pria segel itu untuk membantuku menjagamu, dan sialnya pria segel itu adalah Park Chanyeol.”

“Memangnya kenapa kalau Chanyeol?” tanya Hae kyu penasaran. Baekhyun pun menatap Kai, seolah memberi sebuah kode. Kai hanya bisa menganggukkan kepalanya.

“Anak kecil tidak perlu tahu. Ingat perkataan oppa ya, jangan jauh-jauh dari Chanyeol.”

“Apa? Anak kecil? Usia kita hanya terpaut 6 bulan, Kim Jong In. Jadi, kau tak perlu bersifat sok dewasa dihadapanku. Itu memuakkan.”

“Terserah padamu sajalah. Sekarang kembalilah kesana. Hati-hati, ya…”

“Daahhh….” Hae kyu pun melambaikan tanganya kearah Kai dan pergi menjauh. Baekhyun pun hendak ikut, tapi tiba-tiba Kai mencekal tanganya.

“Aku sudah memberi tahu Chanyeol semuanya.”

“Lalu?”

“Kau tidak perlu pura-pura. Aku sudah tahu.”

“Tentang apa?” Baekhyun mengernyitkan dahinya tanda ia keheranan sekaligus penasaran. Kai pun hanya menggenggam erat tanganya sendiri sembari menatap tanah dengan tajam.

“Kaauuu… benar-benar…”

.
.
.
.

Chanyeol Side…

Aku benar-benar bingung tentang perkataan lelaki berkulit agak hitam tadi. Siapa juga dia itu? Kok tiba-tiba saja muncul dihadapanku. Aku juga tidak mengerti, kenapa ia bersikap seolah sudah lama kenal aku.

FLASHBACK (Author POV)

Terlihat seorang pemuda tinggi yang sedang mengendus-ngendus sesuatu di rumah Chanyeol. Entahlah, kurasa ia bukan orang biasa. Tunggu, apakah ia orang gila?

.
.
.
.

Chanyeol yang terlihat kecapaian setelah menenangkan Seon Hwa yang terus mengamuk tidak karuan melangkahkan kakinya ke ruang santai. Pria itu mengucek-ucek dan mulai membulatkan matanya saat ia mendapati pemuda berkulit coklat eksotis sudah mendekatkan hidungnya ke wajah Chanyeol. Oh tidak, apakah pemuda itu hendak mencium Chanyeol? Ah, kurasa aku harus membenahi pikiranku dulu.

“Chanyeol?” sapanya memastikan.

“I-iya. Aku Park Chanyeol. Kalau boleh tahu, Anda siapa?”

“Ya tuhan, lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Baik? Aku merindukanmu!” Ucapnya sambil merengkuh Chanyeol dalam pelukanya saking senangnya bertemu Chanyeol. Chanyeol hanya bisa menatap bingung pria itu. Tunggu dulu, jangan bilang bahwa pria itu penggemar fanatik Chanyeol! Kenapa ia bertingkah seolah sudah kenal dan dekat dengan Chanyeol sejak lama? Apa Chanyeol pernah mengenalnya?

.
.
.
.

“Rupanya kau, si pria segel itu. Sungguh tidak kusangka. Sayang sekali, padahal aku suka phoenix-mu itu. Aku jadi tidak bisa melihatnya lagi, deh. Kau tahu, sepupuku sedang berada dalam bahaya sekarang. Ia butuh bantuanmu. Maukah kau membantuku untuk menjaganya?”

“Siapa?”

“Ah, aku bahkan lupa akan sifat pelupamu yang diakibatkan segel sialan itu. Hhh… sial. Kebetulan aku tidak membawa fotonya,” Ujarnya sedikit kecewa.

“Namanya Kim Yoo Ji, tapi nama marganya telah berubah jadi Byun sejak pria bernama Baekhyun itu menikahinya. Oh iya, ia juga memiliki nama china karena ia juga beretnis China. Namanya Xi Mei Han.”

“Yoo Ji? Baekhyun? Sepertinya tidak asing. Ciri-ciri wajahnya seperti apa?” tanya Chanyeol yang sebenarnya tak tahu seratus persen kemana arah pembicaraan ini dan apa maksud dari perkataan pria tersebut.

“Euum… wajahnya… ah, itu dia!” Seru Kai sambil menunjuk ruang keluarga Chanyeol ketika melihat foto pernikahan Chanyeol dan Hae kyu yang tertempel rapi di ruang keluarga.

“Hah? Maksudmu?”

“Itu dia, Kim Yoo Ji. Kau kenal dia rupanya. Hei tunggu, jangan bilang kau adalah suami manusia Yoo Ji yang kejam itu.”

“Sayangnya itu benar-benar aku.”

“Ah, aku ingat. Kau memang pria yang yang waktu itu. Kau membuatku kecewa, Chanyeol-ah. Kenapa kau tega? Menduakan istrimu seperti itu. Ah, aku nyaris lupa. Kau bahkan diduakan terlebih dahulu oleh Yoo Ji. Ah tidak, namanya disini adalah Hae kyu, ‘kan? Min Hae Kyu. Kuharap kau bisa menjaganya. Biar kuberitahu, ada pembunuh berdarah dingin nan licik yang sedang mengincarnya. Awalnya aku ingin ikut menjaganya, tapi aku terlanjur terlibat kontrak untuk memulai suatu proyek kerajaan yang tidak bisa ditinggalkan sembarangan. Jadi, aku tidak bisa berbuat banyak untuk menjaganya. Aku mohon bantuanmu,” jelasnya panjang lebar, sampai kuah dari mulutnya berkelana kesana-kemari. Tenang saja, Kai. Tanpa disuruh pun, Chanyeol akan melindungi Hae Kyu walaupun itu membutuhkan nyawanya.

FLASHBACK OFF (back to Chanyeol’s side)
.
.
.
.

Apa sih maksud dia? Membantunya menjaga Hae kyu? Memangnya Hae kyu kenapa? Apa ada kaitanya dengan hilang-munculnya dia secara tiba-tiba akhir-akhir ini? Pembunuh darah dingin? Chanyeol bahkan belum pernah menghadapi hal seperti itu seumur hidupnya. Setidaknya, itulah yang ia ingat.

“Berhati-hatilah pada suami Hae kyu, seorang pria bernama Baekhyun. Aku belum tahu pasti dia berpihak pada siapa.” Kepalaku juga pusing tentang hal itu. Pria yang bibirnya dicium vacum cleaner itu juga suami Hae kyu? Hae kyu menduakanku dong.

TINGGG TONGGG TAENGGG……….

Bel rumahku berbunyi, siapakah yang datang? Jangan-jangan pria yang tadi lagi? Apa ada yang tertinggal? Ah, daripada berspekulasi sembarangan mendingan aku lihat saja.

.
.
.
.

Rupanya itu eomma dan appa. Kenapa ya mereka kemari? Biasanya mereka sibuk dengan urusan bisnis masing-masing, kenapa mendadak kemari? Mereka bahkan tidak menelpon dahulu.

Eomma, appa, ada apa?”

“Lihat dengan siapa kami bertemu…,” ucap eomma antusias. Tiba-tiba Hae kyu menyembulkan diri dari belakang tubuh ibu dan ayah. Memang sih, tubuh Hae kyu bisa dibilang tinggi. Akan tetapi jika dibandingkan dengan keluargaku yang memang memiliki gen tinggi, Hae kyu masih kalah tinggi.

“Aku pulang,” ucapnya datar.

“Dimana ayah menemukanya?” tanyaku.

“Tadi kebetulan kami bertemu di apotik. Koi kesayangan ayah lecet, jadi kami menyempatkan diri sebentar untuk berkunjung ke apotik. Ibu dengar dari Hae kyu bahwa kau sakit, jadi kami sekalian membeli obat untukmu. Ini, minumlah.” ibu menyodorkan beberapa tablet obat kepadaku.

“Semoga cepat sembuh.” Beliau tersenyum lembut sembari mengusap rambutku penuh kasih.

“Hae kyu, dulu itu kenapa kau bisa menghilang seperti itu?” telisik ayah. Ya, itu pertanyaan yang sama yang ingin aku ketahui jawabanya. Hae kyu menggeleng, entah apa maksud dari gelenganya.

“Ya sudahlah, yang penting menantu cantik kita sudah kembali. Mumpung kau sudah pulang, kami akan mengadakan liburan bulan madu untuk kalian. Kalian belum pernah bulan madu, ‘kan? Pantas saja kalian belum juga memberi kami cucu. Kudengar, banyak pengantin yang memiliki bayi setelah mereka berbulan madu. Minggu depan kalian akan dipastikan berangkat. Tempat tujuanya adalah Hawai. Chanyeol, jangan memikirkan pekerjaan kantor ya saat di Hawai. Kami akan mengurusnya dengan baik.” Ibu berpesan padaku.

“Baik bu,” Jawabku singkat.

“Iya, ayah bisa mengurus semua untukmu. Pulanglah dengan kabar baik, ya. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk dapat segera melihat Chanyeol kecil.” Komentar ayah. Hae kyu hanya dapat tersenyum kikuk menanggapi komentar ayah, sedangkan aku hanya bisa mengusap tengkukku malu-malu. Bisa kubilang, membicarakan tentang keturunan dengan orang tua itu membuatku sedikit malu, entah apa alasanya.

HAE KYU P.O.V

Chanyeol berubah, entah apa sebabnya. Dia menjadi lebih hangat dan menyenangkan, tidak seperti  Chanyeol yang dulu. Rasanya seperti bukan Chanyeol saja. Pria itu membuatku cukup nyaman sekarang, membuatku sedikit banyak lupa akan perlakuan kasarnya di masa yang telah berlalu. Dia seperti orang lain, bukan Chanyeol yang kubenci setengah mati seperti dulu.

.
.
.
.

Aku menyukainya, membuat pilihanku semakin sukar saja. Aku benar-benar tak tahu harus memilih siapa. Aku tak mau gegabah dalam memilih salah satu dari mereka, karena akibatnya akan sangatlah signifikan dalam kehidupanku. Aku belum terlalu mengenal mereka. Ingatanku tentang Baekhyun sebelum ini sama sekali tak membekas dalam memoriku. Kelabilan Chanyeol juga membuatku sedikit sangsi untuk memilihnya. Ya tuhan, mengapa kau harus pertemukan aku dengan pria ini saat aku sudah memiliki Baekhyun? Membuatku pusing saja. Apakah pertemuanku denganya ini adalah sebuah takdir? Haruskah aku memilihnya?

.
.
.
.

Waktu bulan madu, kami benar-benar berdua, tidak ada tanda-tanda kehadiran Seon hwa maupun Baekhyun. Sebenarnya mereka berdua kemana? Aku benar-benar khawatir dengan Baekhyun, semenjak kami pulang dari apotik, aku belum melihatnya sekalipun. Aku sudah berusaha mencarinya kemana-mana, tapi hasilnya nihil. Wajar saja, dia ‘kan bisa menghilang. Kemana sebenarnya dia? Dia tidak apa-apa, ‘kan?

.
.
.
.

Bulan madu di Hawaii lumayan menyenangkan. Meskipun yang bisa kulihat hanyalah air laut, hamparan pasir pantai, dan bikini yang bertebaran. Chanyeol pasti senang, hitung-hitung untuk cuci mata. Kami tinggal sementara di rumah nenek Chanyeol yang sudah tidak berpenghuni. Ya, beliau sudah lama meninggal. Nenek Chanyeol pasti sangat menikmati pensiunya di rumah ini. Pemandanganya cukup indah, udara rumah ini juga sejuk walaupun terletak di dekat pantai yang memang terbilang panas.

.
.
.
.

Suatu hari, datanglah seorang gadis cantik bertubuh semampai dan berparas apik mendatangi rumah kami. Aku tak tahu ia masuk darimana malam-malam begini mengingat semua jendela dan pintu sudah aku kunci.

Oppa~~ I miss you so much.” Gadis itu langsung berlari ke pelukan Chanyeol dan berteriak senang saat pria bersuara bariton itu muncul dari balik pintu. Hei, siapa lagi ini?

________TBC_______

A/n : maaf jarang update, aku kalo ngetik lemot, hehehe…

Jujur aku agak galau pas mikirin kelanjutan nih cerita, kok kayaknya kurang seru, kurang panas, dan kurang gimanaa gitu. Nanti coba aku masukin genre criminal, adventure, psychology, mungkin gore, horror atau apa nanti biar lebih greget. Punya saran? Let me know please…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s