All-Mate911 (Chapter 7)

img_2531

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

 (dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-kita jiwa-jiwa tersesat yang menemukan satu sama lain-

 

“Oh, wow.”

Sena mendelik. “Apa? Ada yang salah?”

Chanyeol mematut penampilannya dari atas ke bawah, dan Sena nyaris menyesali pilihan gaunnya. Ia kehabisan ide, semua gaunnya lama dan membosankan, jadi ia memilih gaun pendek hitam tanpa tali dengan ikat pinggang emas. Karena lama memikirkan pakaian, Sena hanya punya waktu sedikit untuk menata rambutnya ke samping dan berdandan seadanya. Masalahnya, gaun ini sepertinya memendek tiga senti, mungkin lebih. Jangan-jangan menciut waktu terakhir dicuci. Atau Sena yang bertumbuh?

Syukurnya, Sehun pergi bekerja lebih awal hari ini dan belum pulang sampai sekarang. Tentu saja, kalaupun Sehun melihatnya, Sena yakin ia akan diam saja. Mereka masih belum bicara sejak pertengkaran beberapa hari yang lalu.

“Apa?” bentak Sena sekali lagi.

Nothing, Sir,” jawab Chanyeol.

Sena mencibir. “Pelafalan r-mu masih saja jelek seperti dulu.”

Chanyeol menyengir dan mengacungkan tanda V dengan tangan kanannya. Laki-laki itu kemudian membukakan pintu penumpang sebelah kanan untuknya, dan Sena memutar bola matanya sebelum naik ke mobil.

“Aku sedang memikirkan pujian apa yang harus kuberikan pada usahamu,” kata Chanyeol saat mereka sudah melaju di jalan.

“Ini bukan apa-apa. Aku tidak punya banyak waktu.”

“Jadi kau masih bisa lebih cantik dari ini? Kupikir aku akan sesak napas.”

Sena mengerutkan wajahnya dengan tampang idih-jijik-sekali dan Chanyeol tertawa melihatnya.

“Siapa temanmu yang menikah ini? Kau bilang kau tidak punya teman,” Sena bertanya.

Chanyeol mengambil kartu undangan yang diletakkannya di dasbor pada Sena dan menjawab, “Namanya Kim Junmyeon. Kami pernah satu universitas dan ayah kami punya hubungan kerja sama.”

Sena membolak-balik undangan di tangannya dan menggumam terkesan karena desainnya yang berkesan mahal. Namanya terasa familiar, entah ia pernah mendengarnya di mana. “Dia wakil pemimpin perusahaan ayahnya sepertimu? Anak tunggal atau punya saudara laki-laki?”

Chanyeol menoleh sekilas dengan alis bertaut. “Kenapa, kau sedang mencari calon potensial?”

“Calon potensial yang kaya.”

“Calon yang kaya dan tampan ada di sebelahmu.”

Sena pura-pura muntah. “Aku akan menikah denganmu saat kau berubah jadi bebek-bebekan karet yang bisa berbunyi.”

“Kwek kwek.”

“Cih.”

Chanyeol tertawa, dan Sena mau tidak mau ikut tertawa.

“Jadi, kau sudah berpikir ingin menikah?”

“Tidak,” jawab Sena, menggeleng-gelengkan kepala. “Aku hanya bercanda. Aku tidak punya niat menikah.”

“Kenapa?”

Sena mengangkat bahu. “Tidak ada alasan.” Ia menoleh pada Chanyeol dan balas bertanya, “Bagaimana denganmu, Park Sajangnim? Kau laki-laki, punya pekerjaan, punya uang, dan umurmu tahun ini… berapa, dua puluh delapan, kan? Kapan kau akan menikah?”

“Saat aku berubah jadi bebek-bebekan karet yang bisa berbunyi,” jawab Chanyeol santai.

Sena mengerjap, kemudian mendengus geli dan membuang pandangan ke luar jendela. “Lucu.”

“Memang. Seperti apa suami yang kau inginkan?”

Sena tidak ingat bagaimana awalnya mereka jadi membicarakan omong kosong ini, tapi ia memutuskan tetap bermain. Toh tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. “Kurasa dia hanya perlu kaya. Kaya dan bodoh. Nah, itu kombinasi yang bagus. Tapi tidak perlu.”

“Apanya?”

“Aku tidak akan menikah, jadi itu tidak perlu.”

“Kenapa kau tidak ingin menikah?”

“Kenapa kau ingin?”

Well, kenapa tidak?”

“Kenapa harus?”

“Jadi kau akan melajang selamanya?”

Sena bersedekap. “Apakah itu buruk?”

Chanyeol mengedikkan bahunya. “Kenapa hidup sendirian jika ada seseorang yang ingin menemanimu?”

“Aku cacat, oke? Siapa yang mau menikah dengan orang cacat?”

“Aku tidak keberatan.”

“Kalau begitu kau bodoh.”

“Kau bilang kau ingin seseorang yang bodoh dan kaya.”

Sena membuka mulutnya untuk membantah, tapi entah kenapa ia kehilangan amunisi kata-kata. Menyadari ia tidak bisa membalas, Chanyeol menyengir penuh rasa menang, yang membuat Sena ingin memukul hidung mancungnya.

“Aku tidak ingin bicara lagi,” kata Sena setengah menggerutu.

Sekitar setengah jam kemudian mereka tiba di gedung tempat pesta pernikahan diadakan. Setelah mengisi daftar tamu, ia dan Chanyeol memasuki aula besar bernuansa putih dan emas yang ramai dengan orang-orang berpakaian indah. Di panggung, si mempelai pria baru saja menyelesaikan sambutan untuk para undangan. Sena lega mereka sedikit terlambat, jadi ia melewatkan bagian-bagian yang membosankan.

Chanyeol mengambil dua gelas sampanye yang ditawarkan oleh pramusaji dan menyerahkan satu pada Sena. Mereka ikut mengangkat gelas bersama para tamu untuk melakukan toast dengan pengantin.

Chanyeol menyesap minumannya perlahan, lantas melongo ketika melihat Sena sudah menandaskan isi gelasnya. “Kau selalu minum seperti itu?”

“Eh, kurasa ya.”

“Seberapa banyak kau bisa minum?”

“Entahlah. Aku belum pernah mengetes batasku. Well, aku tidak mau mencoba. Mabuk itu tidak keren.”

“Tepat sekali.”

Beberapa orang menghampiri mereka untuk menyapa Chanyeol, dan Sena mendengar mereka berbasa-basi cukup lama, kemudian Chanyeol menarik Sena berkeliling untuk menghindari gerombolan orang ingin tahu lainnya sekaligus untuk mencicipi makanan. Malah, karena bosan, mereka memulai permainan menamai setiap kue di meja makanan penutup. Sena banyak tertawa; sepertinya karena alkohol membuat pikirannya lebih ringan dan segalanya dua kali lebih lucu.

Sena kemudian meninggalkan Chanyeol sebentar untuk pergi ke kamar mandi. Ketika kembali ke aula, ia melihat Chanyeol sedang mengobrol dengan si pengantin pria (Kim siapalah tadi namanya) dan istrinya. Sena sempat berpikir untuk menghampirinya, tapi urung karena ia tidak mengenal mereka. Jadi ia melangkah ke mini bar di pinggir ruangan dan mengambil gelas wine.

“Ryu Sena?”

Sena berbalik ketika mendengar namanya dipanggil (mengira itu Chanyeol, karena ia tidak berpikir akan bertemu orang lain yang mengenalnya di sini) dan langsung berhadapan dengan sepasang mata yang familiar. Detik berikutnya ia mematung, bukan karena berusaha mengenali mata itu—justru karena ia masih sangat mengenalinya meski sudah lama sejak terakhir kali melihatnya.

“Sena, benar?” Mata itu menyabit ketika pemiliknya tersenyum. “Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.”

Sena mengerjap-ngerjap. Ada sejuta perasaan beradu dalam kepalanya, tapi ia berhasil membuat dirinya tersenyum. “Lama tidak berjumpa, Minseok-ssi.”

 

***

 

Chanyeol menenggak gelas sampanye berikutnya sambil menunggu Sena. Matanya menemukan Junmyeon dan istrinya, Choi Soyeon menyapa para undangan. Chanyeol meletakkan gelas kosongnya dan menghampiri mereka.

Hyeong, selamat atas pernikahanmu.”

“Chanyeol-ah, kau datang!”  Junmyeon memeluk akrab bahu Chanyeol (ia tidak melihat tangan yang Chanyeol ulurkan untuk menyalaminya). “Terima kasih banyak.”

Setelah Junmyeon mundur, Chanyeol menyalami Soyeon dan mereka bertukar senyum. “Maaf karena aku tidak bisa datang pada acara-acara sebelumnya. Aku agak terlalu sibuk belakangan ini.” Bohong, tentu saja.

“Tidak apa-apa. Dana yang lenyap misterius dari akun perusahaan baru itu benar-benar membuat masalah besar. Aku juga hampir tidak—”

“Oh, demi dewa-dewi di surga,” Soyeon bersedekap dan memutar bola matanya, tanpa segan-segan menyela suaminya. “Bisakah kau tidak membicarakan pekerjaan di sini? Kau membuat sasak rambutku layu.”

“Maaf,” Junmyeon tersenyum kecil dan mengecup sekilas pipi Soyeon. “Mana Baekhyun-ie? Kau tidak datang dengannya, kan?” tanyanya dengan nada sok curiga.

Chanyeol tertawa hambar. Ya Tuhan. Pergi ke pesta berdua dengan Baekhyun adalah hal terakhir yang akan ia lakukan dalam hidupnya. “Tidak. Dia tidak bisa datang. Harus mengganti shift temannya di kelab.”

“Sayang sekali,” kata Junmyeon, tanpa mengurangi kebahagiaan di wajahnya. “Aku ingin mampir ke sana kapan-kapan, tapi—”

“Di antara segunung pekerjaan dan mengurus istri tercintanya, dia tidak akan punya waktu bermain lagi,” Soyeon melanjutkan untuk Junmyeon, seraya memberinya tatapan mengancam.

“Itu dia.” Junmyeon tertawa malu-malu. “Jadi, kau datang dengan siapa?”

“Temanku.” Tepat saat berkata begitu, Chanyeol menemukan Sena di dekat meja bar, sedang mengobrol dengan seseorang yang ia kenali sebagai sepupu Junmyeon, Kim Minseok. Sudah lama Chanyeol tidak bertemu dengannya. Terakhir yang ia tahu, Minseok berada di Beijing. Kapan laki-laki itu kembali ke Seoul?

Dan kenapa laki-laki itu mendekati Sena? Astaga, apa Chanyeol harus menempelkan stiker ‘do not disturb’ di dahi Sena agar orang-orang berhenti memerhatikannya?

Junmyeon menoleh ke arah pandang Chanyeol. “Gadis yang sedang bicara dengan Minseok hyeong? Tunggu, sepertinya dia tidak asing,” gumamnya, lalu menatap Chanyeol dengan alis berkerut. “Bukankah dia pacarnya Baekhyun? Song Ahyoung, kalau tidak salah. Dia datang ke pesta lajangku dulu.”

Ups.

“Bukan,” bantah Chanyeol. “Namanya Ryu Sena.”

“Benarkah? Tapi—”

“Banyak orang yang berwajah mirip,” sela Soyeon.

“Yah, memang, tapi…”

Chanyeol tidak memerhatikan Junmyeon karena ia masih memerhatikan Sena dan Minseok di sana. Mereka berdua sepertinya saling mengenal. Tapi kenapa ekspresi Sena terlihat aneh? Seperti… tidak nyaman. Khawatir. Apa pun itu, pokoknya sama sekali tidak bagus.

Hyeong, aku harus kembali padanya,” kata Chanyeol. Entah kenapa suaranya terdengar panik bahkan di telinganya sendiri. “Kita bicara lagi lain kali. Sekali lagi selamat.”

Tanpa menunggu respon Junmyeon, Chanyeol melangkah lebar menghampiri Sena dan langsung menempatkan satu tangannya di pinggang gadis itu dengan protektif.

Yep, penghargaan untuk penyelaan paling efektif pada Park Chanyeol.

“Sena-ya, kau menunggu lama di sini?”

Sena menoleh. Keterkejutan melesat di matanya, tapi ia tidak menampar tangan Chanyeol atau memukulnya, hanya menjawab dengan nada biasa, “Tidak juga.”

Chanyeol menatap Minseok seakan baru menyadari ia ada di sana. “Oh, Minseok Hyeong! Lama tidak bertemu. Kapan kau kembali dari Beijing?”

Minseok menjabat tangan yang ia ulurkan. “Sekitar dua bulan yang lalu.”

“Ini Kim Minseok hyeong, kakak sepupunya Junmyeon,” Chanyeol memberitahu Sena.

“Oh.” Sena mengangguk-angguk tanpa arti.

Chanyeol menatap mereka berdua bergantian, pura-pura bodoh. “Mungkin… kalian sudah saling mengenal?”

“Ya,” Minseok menjawab untuk mereka berdua.

Well, kebetulan sekali.” Chanyeol tersenyum lebar—terlalu lebar—dan menarik Sena lebih dekat padanya. “Sena ini pacarku.”

Kedua alis Minseok sedikit terangkat dan Chanyeol merasakan Sena tersentak. Tapi, yang mengejutkannya, gadis itu tidak berkata apa-apa.

“Kurasa sekarang sudah larut malam,” Chanyeol berkata pada Minseok, kemudian menoleh pada Sena. “Sebaiknya aku mengantarmu pulang sekarang.”

Larut apanya. Sekarang baru jam sebelas. Untuk ukuran normal, ini bahkan belum sore. Tapi ia melihat Sena mengangguk dengan tampang lega dan meletakkan gelas wine di tangannya ke meja bar, kemudian berkata pada Minseok, “Senang bertemu denganmu lagi, Minseok-ssi.”

“Aku juga,” balas Minseok.

Chanyeol menjabat tangannya sebelum mereka beranjak. Sena membiarkan tangan Chanyeol tetap di pinggangnya sampai mereka meninggalkan aula pesta.

Setengah perjalanan pulang berlalu dengan hening, jenis hening yang membuat Chanyeol merasa kursinya ditumbuhi paku, jadi ia memecahkan keheningan itu, “Ternyata aku bukan satu-satunya yang terpesona padamu malam ini.”

Sena tertawa hambar, kemudian bertanya, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Hubunganmu dengan Kim Minseok.”

“Aku lebih suka tidak membicarakannya.”

“Lalu untuk apa kau bertanya apa yang kupikirkan?”

“Oke, anggap aku tidak bertanya apa-apa.”

Chanyeol gantian mendengus. “Kenapa kau tidak mau membicarakannya?”

Ia mendengar Sena mendengus. “Itu cerita lama, Park Idiot.”

“Park Idiot juga cerita lama, tapi kau masih mengungkitnya setelah sembilan tahun.”

“Itu karena aku amat sangat membencimu,” balas Sena dengan nada menggerutu.

Well, kalau begitu mungkin aku harus bersyukur.” Chanyeol menoleh menatap gadis itu. “Jadi kau tidak melupakanku.”

Sena mengerjap, lalu membuang mukanya ke samping dan mendengus.

Sisa perjalanan berlalu dengan Chanyeol menatap lurus jalanan di depannya, dan Sena memalingkan wajah ke luar jendela.

 

***

 

Mereka tiba di tempat Sena dan tanpa berkata apa-apa, Chanyeol mematikan mesin dan keluar, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Sena.

Cheesy much,” dumalnya pelan sebelum turun.

Chanyeol menutup pintunya, tapi ia tidak menyingkir dari jalan Sena. Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat, membuat Sena refleks mundur dan punggungnya merapat pada sisi mobil, kemudian Chanyeol meletakkan kedua tangannya di bahunya, praktis menahannya di sana. Permukaan mobil yang menempel di pundaknya dingin, sementara telapak tangan Chanyeol hangat.

Bagus sekali. Sekarang jantung Sena bertingkah.

“Apalagi sekarang, Park Idiot?” Sena berusaha bersikap biasa, tapi suaranya terdengar gugup. Bagaimana tidak, Chanyeol berdiri terlalu dekat dengannya, tangannya memerangkap ruang geraknya, dengan kedua mata menunduk menatapnya. Perempuan mana yang tidak gugup dalam keadaan seperti ini?

“Seandainya aku menciummu sekarang, apa yang akan terjadi?”

Tanpa sadar, Sena meneguk ludah. “Kau akan pulang dengan rasa sakit karena aku akan menendang selangkanganmu, lalu meninju hidungmu dan meludahimu.”

Chanyeol mendengus pelan dan tersenyum. Sena bisa mencium aroma sampanye dari napasnya. “Kasar sekali.”

“Dari dulu aku memang terkenal sombong dan menyebalkan, ingat?”

“Tentu saja. Kau seseorang yang tidak mudah dilupakan.”

Sena menimbang apakah ia akan menganggap itu pujian atau bukan, tapi sebelum ia genap berpikir, Chanyeol menunduk lebih rendah dan melakukan apa yang sebelumnya ia katakan akan lakukan, dan Sena mengecap sisa sampanye dari mulut Chanyeol di ujung lidahnya saat laki-laki itu menekan bibir mereka.

Chanyeol menarik wajahnya untuk memiringkan kepala ke arah lain dan kembali menutup celah mulut Sena dengan pas, dan ciuman yang kedua ini tidak lagi terasa seperti sampanye, hanya bibir yang basah dan penuh. Sena memaksa matanya tetap terbuka, tapi pandangannya jadi berkunang-kunang, jadi ia memejamkannya. Dan ciuman itu ternyata terasa lebih baik dalam gelap karena panca indera lainnya lebih peka ketika ia tidak bisa melihat. Ujung hidung Chanyeol menyentuh pipinya dan hembusan napas yang hangat di wajahnya meyakinkan Sena kalau ini benar terjadi.

Bukan berarti ia menyukainya. Sama sekali tidak.

Chanyeol mengigiti bibir bawah Sena sedikit, lalu tiba-tiba ia berhenti dan menarik wajahnya lagi. Perkataannya berikutnya membingungkan Sena, “Kau belum melakukannya.”

“Apa?”

“Menendangku.”

Satu kata itu cukup untuk membuat Sena terbakar rasa malu. “Apa? Kau menunggu?” balasnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

Chanyeol mengangkat bahu, dan cengiran menggoda bermain di bibirnya yang mengilap. “Tidak juga.”

Sena mendorong Chanyeol menjauh dengan kedua tangan, tapi sepertinya ia tidak mendorongnya dengan seluruh tenaga. “Astaga, aku nyaris lupa betapa bencinya aku padamu. Sekarang aku ingat.”

“Aku pernah bilang kalau aku akan membuatmu menyukaiku,” kata Chanyeol, mengabaikan perkataannya sebelumnya. “Mungkin kau sudah mulai.”

“Mulai apa?”

“Menyukaiku.”

Sena bersedekap defensif dan tertawa sumbang. “Seakan itu bisa terjadi saja,” katanya ketus. Ia bermaksud beranjak dari sana, tapi Chanyeol meraih sikunya dan membuat Sena kembali menghadapnya.

“Apa kau membiarkan Kim Minseok menciummu seperti ini juga?” tanyanya.

Sena memutar bola matanya malas. “Kenapa kita kembali ke sana?”

“Ekspresimu aneh saat bicara dengannya. Seperti tidak nyaman, atau mungkin takut,” kata Chanyeol. “Apa yang terjadi pada kalian?”

Sena meluruskan tangannya dan mendesah berlebihan. “Aku pernah mencoba berpacaran dengannya dan hubungan kami tidak berhasil. Kau puas?”

Kedua mata Chanyeol membulat. “Berpacaran? Kau dan dia?”

“Bukan, aku dan kakeknya,” balas Sena. “Nah, karena kau sudah mendengar apa yang ingin kau dengar, aku permisi. Aku sudah lelah dan muak melihat mukamu.”

Dengan itu, Sena berbalik dan melangkah lebar. Ada sejuta pikiran beradu di dalam kepalanya. Entah kenapa angin malam jadi terasa lebih dingin dan napasnya sesak. Tidak nyaman.

Yang baru saja terjadi adalah bencana. Memang, Sena tidak balas mencium Chanyeol, tapi ia juga tidak mendorongnya, hal yang dalam keadaan normal pasti ia lakukan. Itulah masalahnya. Keadaannya tidak normal. Sena sadar ia merasakan sesuatu tadi. Sesuatu yang bukan benci.

Dan ia sama sekali tidak siap menerimanya.

 

***

 

“Baek? Baekhyun-ah? Kau di sana? Aku tahu kau di sana. Kau mengangkat teleponku. YA! JAWAB AKU!”

Terdengar gumaman sumpah serapah paling kasar ala pelaut sampai Baekhyun menyahut sebal, “Demi Tuhan, sekarang jam setengah lima pagi. Apa maumu?”

“Kau sedang apa?”

“Apalagi menurutmu, Jelek?” ulang Baekhyun. “Aku mengantuk. Kau mau bicara dengan dengkurku atau bagaimana?”

“Oke. Kau ingat Kim Minseok hyeong?”

Baekhyun menggumam-gumam lama di seberang sana. “Mantan DJ lepas di kelab, dada tegap, lengan kokoh, wajah es batu, sepupu Junmyeon-ie hyeong?”

“Iya.”

“Tidak ingat, sorry.”

Chanyeol memutar bola matanya dan mendengus. “Aku serius.”

Baekhyun tertawa. “Oke. Ada apa dengannya?”

“Aku bertemu dengannya di pesta semalam. Ternyata dia sudah kembali dari Beijing.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu?”

“Aku pergi ke pemberkatan pernikahan Junmyeon hyeong, aish. Sudah kubilang padamu, bergaullah, nerd.”

Well, terserah. Jadi, aku baru saja tahu kalau dia pernah pacaran dengan Ryu Sena entah kapan. Tidak masuk akal, kan? Kebetulan sialan macam apa ini? Di antara semua orang di dunia, Sena pernah pacaran dengan Minseok hyeong. Well, itu dulu, tapi tetap saja. Bisa kau cari tahu kenapa mereka berpisah?”

“Persetan, Park-keparat-Chanyeol. Kau mengganggu tidurku untuk omong kosong ini? Apa peduliku gadis incaranmu pernah pacaran dengan siapa?”

“Kau paling pintar ikut campur urusan orang lain dan mencari informasi. Ayolah.”

Baekhyun mendengus. “Apa yang akan kauberikan sebagai imbalan?”

“Eh… persahabatan yang bersih dan menyenangkan.”

“Aku tutup teleponnya.”

YA!” Chanyeol berseru pada ponselnya. “Oke, apa yang kauinginkan?”

“Rumah.”

“Yang benar saja.”

Baekhyun tertawa mengantuk, kemudian, “Sudahlah. Nanti akan kutanyakan padanya. Omong-omong, aku baru ingat. Apa kau tahu Tiffany juga sedang berada di Seoul sekarang?”

“Tiffany?” Kedua alis Chanyeol terangkat ketika mendengar nama itu. “Aku tidak tahu.”

“Yah, kupikir memang tidak. Bye.”

 

***

 

Sena tersentak bangun dari tidur karena suara heboh air dari kamar mandi. Kantuknya langsung lenyap meskipun ia baru tertidur sekitar dua jam. “Oh Sehun?” panggilnya. “OH SEHUN? HUNIBUNI!”

“AKU TIDAK TULI! BERHENTI BERTERIAK!”

Mendengar balasan Sehun membuat Sena dibanjiri rasa lega. Ia ingin melompat turun dari tempat tidur dan mendobrak pintu kamar mandi dan memiting leher Sehun (oke, mungkin tidak juga, karena ia sedang mandi), tapi sebelum ia sempat melakukannya, pintu kamarnya dibentang terbuka.

Jimin, tentu saja. Kedua mata gadis itu merah dan bengkak, rambutnya berantakan, dan Sena tahun kelegaan singkatnya berakhir.

Sena ingin berkata sinis, apalagi sekarang? tapi sesuatu dalam wajah menyedihkan Jimin membuatnya bertanya, “Ada apa denganmu?”

Jimin duduk di tepi tempat tidurnya (nyaris menduduki kaki Sena) dan Sena melihat garis bekas air mata di wajah Jimin. Mungkin baru menangis, atau malah sudah menangis semalaman. Apa pun itu, pasti buruk. “Luhan,” katanya.

“Dia tidak kecelakaan, kan?” tanya Sena was-was. Ia tahu Luhan pergi ke mana-mana dengan motor, dan laki-laki itu tidak pernah berkendara pelan.  Sena tahu, ia pernah diantar sekali, dan ia menolak mencoba lagi.

“Aku lebih suka dia kecelakaan daripada ini,” Jimin berkata getir, entah karena marah atau sedih.

“Apa yang dia lakukan?”

“Aku tidur di tempatnya semalam, lalu aku tidak sengaja melihat ponselnya,” Jimin cegukan sekali. “Aku membaca pesan singkat dari nomor tidak dikenal, pesannya bilang, ‘Oppa, terima kasih untuk kemarin malam. Kau yang terbaik. Ayo bertemu lagi lain kali. Nayoung.’ Saat aku bertanya pada Luhan siapa Nayoung, dia malah balik bertanya, ‘Siapa? Aku tidak kenal siapa pun bernama Nayoung’.”

“Bisa saja dia memang tidak kenal.”

“Tidak,” bantah Jimin berapi-api. “Saat aku menunjukkan pesan itu dan mendesknya, dia akhirnya mengaku pernah mengantar gadis itu pulang sekali. Sudah jelas, kan? Dia berbohong terlalu sering, mengira aku bisa terus dibodohi.”

Jimin menggosok matanya dengan punggung tangan. Tepat saat itu, pintu kamar mandi dibuka dan Sehun keluar, sayangnya sudah berpakaian lengkap, padahal Sena berpikir Jimin mungkin akan sedikit terhibur dengan pemandangan dada telanjang adiknya. Tapi kali ini Jimin bahkan tidak melirik, seakan tidak menyadari Sehun ada di sana. Jimin pasti benar-benar sedih.

“Aku bertaruh itu gadis yang dulu diciumnya,” desis Jimin. “Jalang keparat. Aku akan membunuhnya. Mereka berdua sekalian.”

Sena memijat pelipisnya. Astaga, ia sudah punya seribu masalah dan sekarang Jimin hanya membuatnya jadi seribu satu. “Han Jimin, jangan menarik kesimpulan sendiri. Belum tentu juga Luhan berbohong. Memang, dia banyak berbohong, tapi mungkin saja sekarang dia jujur. Orang bisa berubah.”

Kalimatnya terdengar seperti pernyataan palsu sebuah iklan televisi. Sena benar-benar tidak berbakat menghibur orang lain.

“Itu hanya ciuman,” Sehun tahu-tahu bergabung tanpa diminta.

Sena mengangkat wajah menatapnya. “Apa maksudmu ‘hanya’?”

“Zaman sekarang ciuman hampir tidak ada artinya. Semua orang bisa melakukannya dengan mudah,” jawab Sehun dengan nada sok tahu terbaiknya.

Sena merengut. “Tentu saja tidak. Kalau itu aku, aku hanya akan melakukannya dengan seseorang yang kusukai.”

Ciumannya dengan Chanyeol semalam terbesit kembali dan Sena merasa seperti ada yang meninju ulu hatinya. Ia bergidik. Tidak, yang semalam itu pengecualian. Tidak mungkin terjadi, dalam ribuan tahun, Sena menyukai Park Idiot.

Jimin di sebelahnya menangis lagi, dan Sehun menatap Sena dengan sepasang mata laser yang membuatnya salah tingkah, seakan laki-laki itu bisa membaca pikirannya. Lalu, Sehun menyambar ranselnya dan keluar tanpa berkata apa-apa.

Sena berpikir ia seharusnya mengejar Sehun dan mengajaknya berbaikan sekarang, tapi ia tidak bisa meninggalkan Jimin begitu saja di sini. Siapa tahu Jimin akan melompat bunuh diri. Lagipula, Sena masih bisa bicara dengan Sehun nanti malam setelah adiknya itu pulang kerja.

“Oke, Han Jimin, sekarang tenang. Berpikir positiflah. Belum tentu dia benar-benar berselingkuh di belakangmu.”

“Lalu apa maksud pesan itu?” tuntut Jimin. “Ramah-tamah? Bercanda? Jelas tidak.”

“Itu harus kau bicarakan berdua dengannya.”

“Dan kau akan bilang aku harus memercayai kata-katanya? Tidak. Aku tidak mau. Dia pembohong dan tukang selingkuh bajingan, titik.”

“Han Jimin, kau menatap bokong Sehun setiap ada kesempatan.”

Pernyataan itu membuat wajah Jimin merona hampir semerah kedua matanya. “Bagaimana itu bisa seimbang dengan apa yang Luhan lakukan padaku?” serunya melengking.

“Tentu saja tidak sama, tapi tetap saja, kalian punya masalah,” kata Sena datar. “Mungkin sudah saatnya kalian berpikir ulang tentang hubungan kalian.”

“Aku mencintainya!”

“Kalau kau benar-benar mencintainya, kau tidak akan tergoda postur model adikku tercinta, kau mengerti?” balas Sena. “Yang harus kau lakukan adalah temui dia, bicara dengannya baik-baik, dan cari jalan keluar yang paling tidak menyakitkan untuk kalian.”

Jimin berhenti menangis dan terpekus, kemudian menyedot ingus yang menyumbat hidungnya kuat-kuat. Suaranya seperti traktor di ladang. Sena lega Jimin sudah lebih tenang. Sekarang Jimin bisa meninggalkannya untuk berurusan dengan masalahnya yang lain.

Bukannya berterima kasih atas pencerahannya, Jimin malah berkata, “Kau begitu pintar soal ini, kenapa kau tidak berkencan seperti orang normal?”

Sena membuka mulut untuk mengusir Jimin dengan jengkel, tapi mendadak ia teringat pada Chanyeol, dan rasa tidak nyaman itu kembali. Ini harus berhenti. Tanpa berpikir, Sena mendapati dirinya menyahut, “ Apa kau punya teman laki-laki yang baik? Kenalkan padaku.”

Jimin melongo. “Apa?”

“Kau punya banyak kenalan. Cari satu yang kau rasa cocok denganku,” kata Sena datar.

“Kau serius?”

“Ya,” jawab Sena. “Aku sedang berpikir untuk mencoba.”

 

***

 

Sehun melemparkan ransel dari bahunya ke balik meja konter kafe keras-keras. Bunyinya mungkin seperti balita yang dibanting ke lantai, kalau memang pernah ada orang yang mencoba membanting balita.

“Astaga, Bro,” Kim Jongin, teman sesama karyawan parowaktunya, muncul entah dari mana dan mengeluh.

“Jangan panggil aku ‘bro’,” gerutu Sehun.

“Oke, Bro.”

Sehun tertarik untuk meraih ranselnya lagi dan melemparnya ke muka Jongin, tapi ia tahu tidak adil melampiaskan kemarahannya pada seseorang yang sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa, sementara Sehun sendiri tidak yakin ia marah pada siapa.

Pada Sena, yang katanya hanya akan mencium seseorang yang ia sukai?

Pada Park Chanyeol, yang mencium Sena begitu saja?

Kedua orang bodoh itu sama sekali tidak tahu Sehun ada di sana dan melihat mereka semalam. Dengan tidak sengaja, tentu saja. Kalau Sehun tahu ia akan melihat adegan itu, ia akan pulang lebih terlambat lagi. Atau tidak perlu pulang saja sekalian, selamanya.

“Jongin-ah,” panggil Sehun.

Ya, kau harus memanggilku hyeong! Aku lebih tua darimu tiga bulan.”

Sehun ingin mengacungkan jari tengahnya, tapi ia menahan diri dan sebagai gantinya tersenyum manis. “Oke, Hyeong. Kau punya ruang lebih di kamarmu? Aku ingin menumpang tinggal sementara.”

“Memang kenapa di tempatmu?”

“Tidak ada air.” Alasan bodoh.

Jongin berpikir sebentar sambil menggaruk belakang kepalanya. “Yah, boleh saja,” katanya. “Bagaimana dengan nuna-mu itu? Dia akan menumpang di tempatku juga? Karena, kau tahu, tempat tidurku cukup untuk berdua…”

Sehun memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Aku berdoa semoga suatu saat pikiran orang ini dibersihkan dari segala dosa.”

Jongin tertawa dan menimpuknya dengan kain lap. “Baiklah. Tapi kau membayar makan siangku hari ini dan besok, Bro.”

“Tidak masalah.”

Menghindar adalah tindakan pengecut, tapi Sehun tidak mungkin bisa melihat Sena tanpa mengingat kembali hal itu dan merasa sakit hati.

Mungkin sebenarnya ia hanya marah pada dirinya sendiri.

Kenapa, di antara semua orang di dunia, harus Ryu Sena?

 

=to be continued=

10 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 7)

  1. Akhirnyaaaaa ff yg di tunggu” update juga …
    Bikin makin penasaran,makin seru ..
    Kayanya makin complicated deh ..
    Ahhhh seruuuu ..
    sehun juga ketauan banget suka nya sama sena,,trus juga minseok oppa ..
    Kenapa dia tau” datengg,,trus trnyata dia mantan sena lagi,,apa yg sebenernya jadi masa lalunya senna sama minseok ?? Bikin penasaran dehhh ..
    Lanjut segera ya ka 😊😊 makasiii

  2. Hai thor new reader disini
    Izin baca dari chap 1 yaa
    Seru cerita,lucu dan dapat dipahamin.Apalagi ada unsur “sibling” keren dehh. 👊👊👊👊

  3. Wuaa daebak bgt nih cerita
    Kenapa trio bangsat selalu selalu buat greget
    Aahh sehunaa malang bgt disana thor
    Perlu aku jadi jodoh hatinya disana thor *ditimpukinsamaexo-l
    Wkwkwkkwkwkw

    Fighting thor!!
    Aku tunggu next chapter thor!!

  4. ya Sehuna malang benar nasibmu nak. tapi aku seneng chanyeol mau punya rival, seenggaknya jangan sehun rivalnya please. si ceye pasti cemburu banget liat sena mau punya pacar =)

  5. Well, pertemuan Sena dg sang mantan, chanyeol yg mengumbar gombalan ke sena, chanyeol yg mencium Sena, Dan Sena yg tak berkutik di buatnya, sehun yg cemburu Dan berakhir menjauh dr Sena, serta masalah percintaan jimin luhan yg complicated😂
    Part ini lengkap sekalii hoho
    Tp penasaran bgt, knp Sena sll bilang kalau dirinya cacat? Emg bagian mana dari dy yg cacat?
    Bukankah dy sudah smbuh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s