Chef D.O (Chapter 2)

kyungsoo-chef-poster

Author : Applexopie | Main Cast : D.O. Kyungsoo (D.O. EXO) | Oh Hani (OC/you)

Genre : Romance, Comedy

Rating : PG15

Length : Chaptered

Disclaimer : This fic real of my mind don’t claim as yours. This is just imagination

Blog pribadi : applexopie

Happy reading !!^^

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Setelah Manajer Cha mengatakan bahwa Hani sudah bukan pegawai Sunshine lagi, kini satu-satunya yang dipikirkan oleh Hani adalah minta maaf. Entahlah dia juga tidak yakin dengan keputusan itu.

“Minta maaf? Apa aku harus minta maaf ke chef gila itu?” gumamnya sambil menundukkan kepala menatap kedua ujung sepatunya. Hani sedang duduk di sebuah halte bus depan restaurant berinterior Italia-Korea itu.

“Apa boleh buat. Setidaknya kali ini aku akan sedikit merendahkan diriku supaya besok aku tidak perlu membaya tiga puluh juta won kepadanya.” tekadnya seraya berdiri dan mengeratkan celemek bertuliskan Sunshine Bakery yang masih melekat di tubuhnya.

Hani berjalan menyebrangi zebra-cross dan perlahan berjalan menuju restaurant itu. Ketika sampai, pak satpam yang sempat menyapanya itu kembali berjalan kearah Hani.

“Loh, kenapa datang lagi? Ada yang bisa saya bantu?” ucap pak satpam keheranan. Lelaki dengan seragam lengkapnya itu mulai memperhatikan Hani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apa yang incarnya? Tidak sopan.

“Saya ingin bertemu dengan pemilik restaurant ini.”

Setelah berkata seperti itu, raut muka pak satpam tampak ragu. Kemudian dia mengiyakannya. Hani dituntun kembali ke ruangan yang masih belum ia tahu apa namanya itu. Di sana, seorang pria dengan pakaian putih-putih sedang duduk di kursi kerjanya. Hani mengetuk pintu perlahan dan tidak mendapat jawaban. Akhirnya dia langsung masuk saja.

“Apa aku menyuruhmu masuk?”

“Kan kau tidak menjawab.” jawab Hani secara spontan dengan nada kesal kemudian dia meminta maaf.

“Ada apa lagi? Mau minta maaf?” tebak Kyungsoo yang langsung membuat raut wajah Hani terkejut. Hebat juga Chef ini.

“Anu sebenarnya hmm..” Hani bingung harus mulai bicara darimana. Akhirnya dia menyerah.

“Begini saja ya, aku ini bukan orang yang suka berbasa-basi jadi aku langsung saja. Aku datang ke sini hanya untuk meminta maaf. Maaf atas kebodohanku yang telah menyebabkan acaramu jadi gagal, memalukan, berantakan dan tidak sesuai dengan keinginanmu. Maaf untuk semuanya. Aku mohon maafkan aku dan jangan tuntut aku untuk membayar uang sebesar tiga puluh juta won. Aku sangat memohon padamu.” Hani mengucapkannya dengan sungguh-sungguh sambil membungkuk berulang kali.

Kyungsoo mendesis dan berdiri dari kursinya. Berjalan kearah Hani berdiri.

“Aku sangat menghargai permintaan maafmu. Yah jujur saja aku juga merasa bersalah karena sudah memintamu untuk membayar kerugian. Masalahnya adalah aku belum rela memaafkanmu begitu saja. Kau tahu kan betapa pentingnya acara peresmian ini?” Hani spontan mengangguk. Tentu saja dia tahu. Pengusaha mana yang senang jika acara bisnisnya berantakan? Setidaknya Hani menyesali kesalahannya itu.

Kyungsoo memperhatikan Hani dari atas sampai bawah. Hani yang kepalanya masih tertunduk itu masih bisa melirik-lirik.

“Aku tahu aku memang gadis yang kau ucapkan tadi. Aku memang orang kampung. Orang kampung yang baru saja kehilangan pekerjaannya karena kebodohannya. Aku akui itu.”

Kyungsoo masih membeku. Hani pun akhirnya menegakkan kepalanya yang ternyata jarak antara Kyungsoo dan dirinya sangat dekat. Hani memutuskan untuk menundukkan kepalanya lagi. Gugup mungkin.

“J..jadi bagaimana? Aku dimaafkan tidak? Aku harus merendahkan diri seperti apalagi?” suaranya bergetar karena ketakutan. Entahlah apa yang membuat Kyungsoo berdiri di dekat Hani begitu lama, sebuah senyum menghiasi wajah Kyungsoo. Tapi hanya sebentar saja, 0,2 detik mungkin?

“Aku punya penawaran.” Ujarnya sambil berjalan menjauhi Hani. Kini gadis itu bisa bernapas lega. Apa lagi maunya orang ini?

“Apa?”

“Kau sedang butuh uang, kan?”

Ucapan Kyungsoo seratus persen begitu akurat. Mendengar kata ‘uang’ membuat Hani tersentak. Bukan karena dia gadis yang gila akan kekayaan, tapi dia memang sedang butuh uang. Selain chef, apa dia juga peramal, ya? Wah daebak!

“Bagaimana kau tahu?”

“Kelihatan kok dari wajahmu. Wajahmu mengatakan bahwa hidupmu melarat. Aku benar lagi,kan?”

“Kurang ajar.” desis Hani sangat kecil. Si Kyungmoo Kyungsoon atau apalah namanya, pria ini pasti sudah banyak mematahkan hati para wanita. Mulutnya benar-benar minta dihajar.

“Sudahlah jangan berbasa-basi. Cepat katakan agar aku bisa mendapat maaf darimu dan keluar dari tempat ini. Masih ada lagi yang harus aku kerjakan tahu.” Kyungsoo berbalik badan dan menatap lurus ke mata Hani yang terdiam di sana sambil berkacak dada.

“Kau akan menjadi pegawaiku.”

***

“Iya, Bu. Jangan sampai kelelahan. Makanlah daging ikan yang banyak. Kalian kan nelayan. Jaga kesehatan. Aku akan mengirimkan kalian uang. Jangan telat makan juga. Oh, ingatkan itu juga pada Ayah.”

“Astaga..baiklah. Ibu akan menuruti permintaan putri Ibu. Ayahmu sedang di belakang mencuci tangannya. Dia baru pulang dari melaut. Kau juga jaga kesehatan. Jangan berusaha terlalu keras untuk mendapatkan uang. Kami-lah yang seharusnya memberikanmu kebahagian dan hidup yang layak. Maafkan—“

            “Tidak, Bu. Jangan bicara seperti itu. Sudah kewajibanku sebagai anak untuk membantu orang tuanya. Pokoknya aku akan berusaha yang terbaik. Inilah caraku untuk membalas budi kalian. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya. Aku sayang Ibu dan Ayah.”

Sambungan telepon terputus. Hani menjauhkan ponselnya dan menghapus air mata yang sedari tadi bergulir perlahan menuruni lekuk pipinya. Tenggorokannya terasa tercekat. Setidaknya inilah yang harus dilakukannya. Pria itu, bukan maksudku Chef itu memanglah tidak baik dan juga tidak jahat.

Buktinya dia memberi Hani pekerjaan sekarang. Meskipun Hani sendiri belum tahu harus bekerja di bagian apa, dia hanya menurut saja ketika Kyungsoo menyuruhnya keluar ruangan. Banyak karyawan berpakaian putih berlalu lalang dan menatapnya heran.

“Apa sih yang dilihat mereka? Apa aku sejelek itu?”

“Hey..kau yang di sana!!” ujar seseorang sambil berteriak ke arah Hani. Orang itu bukan Kyungsoo, siapa dia?

“Akhirnya aku bertemu dengan pengacau acara ini. Siapa namamu gadis kecil?” Gadis kecil katanya? Ya ampun, orang aneh apa lagi ini?

“Maaf, Tuan. Saya bukan gadis kecil.”

“Terserah aku mau memanggilmu apa. Kau tidak berhak protes. Kau tuli ya? Aku tanya siapa namamu?”

“Oh Hani.” Hani menjawab dengan kesal kemudian membuang mukanya.

“Ya ampun, apa begini caramu memperlakukan atasanmu?” Hani tersentak. Apa? Atasan?

“Apa? Apa maksudnya ‘atasan’?”

“Sepertinya kau belum diberitahu oleh Kyungsoo, ya?”

“Memang benar.”

“Perkenalkan namaku—“

“Ji Wook-ah, akhirnya kau datang juga.” Suara Kyungsoo memotong ucapan Ji Wook. Yah pria itu Choi Ji Wook. Ji Wook dengan sangat terpaksa harus membalikkan badannya dengan malas. Entahlah apa yang membuat dia mengajak Hani berkenalan.

“Permisi…Do Kyungsoo-ssi..boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Hani dengan suara pelan. Kyungsoo mengangguk sambil melirik Ji Wook yang sedang membuang mukanya. Ada yang tidak beres.

“Apa dia ini akan menjadi bosku? Atau semacam atasan begitulah? Apa benar?” setelah mendengar pertanyaan Hani, Kyungsoo langsung menatap Ji Wook. Matilah aku.

“Kau bilang begitu Ji Wook?”

“Hah? Hahahaha aku bilang begitu, ya? Yeah…sepertinya begitu.”

“Dia bukan atasanmu. Yang memberimu pekerjaan kan aku. Kenapa kau begitu tertarik sekali Ji Wook?”  Kyungsoo tertawa sambil menepuk bahu Ji Wook. Entahlah dibalik tawanya sungguh terdengar garing. Situasi ini sama sekali tidak lucu. Sungguh. Ji Wook menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu.

“Sudahlah, kau pulang saja sana. Dan kau ahh siapa namamu tadi?” Hani hanya menggeleng kepala melihat dua orang aneh di depannya ini. Ketika Kyungsoo bertanya, dengan cepat Hani menjawab.

“O-H H-A-N-I. Oh Hani.”

“Kau kira aku tidak bisa baca? Tidak perlu mengeja namamu.”

“Aku sangat kesal karena kalian berdua terus menerus menanyakan ‘siapa namamu?’. Apa aku harus  menulis namaku kemudian meletakkan note kecil dan menempelkannya di dahiku?”

“Idemu boleh juga.”

“Hm.Kyungsoo-ya aku rasa aku harus pergi dulu. Aku turut bersedih karena acara peresmianmu jadi kacau.” Ji Wook menekankan kata ‘kacau’ pada Hani. Punya dendam apa dia padaku?

“Sudah seharusnya kau pergi, sih. Besok aku akan menelponmu.”

Setelah Ji Wook pergi, kini hanya tinggal Kyungsoo dan Hani.

“Baiklah, kau belum tahu kan harus mengerjakan apa?” Hani mengangguk dan mengikuti Kyungsoo yang sudah mulai berjalan.

“Kau akan aku tempatkan di bagian desert making, bagaimana? Tapi sebelum itu, aku ingin mengujimu. Karena dari informasi yang aku dapat, kau cukup mampu membuat dessert.”

Hani menghentikan langkahnya. Kyungsoo pun ikut menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“Sebenarnya daritadi aku ingin menanyakan ini, bagaimana kau tahu kalau aku bisa membuat dessert? Kau ini penguntit atau apa sih?”

“Menurutmu darimana lagi aku tahu? Sudahlah, ayo ke dapur. Kau harus menunjukkan skill-mu.”

Hani memanyunkan bibirnya. Sudahlah toh juga tidak ada pilihan lain. Mau chef ini tahu apapun tentang Hani pun itu sama sekali tidak penting. Yang penting adalah Hani bisa mendapatkan uang dan mengirimnya ke orang tuanya.

Setelah itu, Kyungsoo langsung menyerahkannya pada Ye Hwa, salah satu making dessert juga untuk menjelaskan apa-apa yang harus diketahui oleh Hani. Kyungsoo tidak bisa membantu memberi pengarahan pada Hani karena salah satu pegawainya mengatakan bahwa ada tamu di ruang kerjanya.

Setelah keluar dari dapur dengan cepat Kyungsoo menuju ruang kerjannya. Ruang dimana tadi Hani di interogasi. Ketika sampai, matanya yang besar terbelalak setelah mengetahui siapa yang datang.

***

Suasana begitu menegang. Satu pun tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Dinginnya AC pun tidak dapat mencairkan suasana.

“Ada apa Ayah dan Ibu datang kemari? Bukankah sudah kubilang untuk tidak kemari?” suara Kyungsoo memecahkan keheningan.

“Bahkan di hari titik kehancuranmu saja kau masih bisa sombong.”

“Justru itulah kenapa Ayah malah datang pada saat hari kehancuranku? Aku tahu Ayah sama sekali tidak menyukai dengan jalan yang aku ambil ini, kan?”

“Jika saja kau menurut pada Ayahmu, Nak. Kita tidak akan jadi seperti ini.” Ibunya mulai bersuara. Kyungsoo menatap Ibunya dengan heran.

“Kita? Apa maksud Ibu? Ibu dan Ayah-lah yang membuat keharmonisan keluarga kita menjadi buruk seperti ini. Bukankah kalian memberikaku kebebasan dalam memilih hidup? Aku sudah menuruti permintaan kalian, namun apa yang terjadi sekarang? Perang dingin yang terjadi. Tidak bisakah kalian memberiku kebebasan?”

“Tutup mulutmu!” bentak Ayah Kyungsoo sambil menggebrak meja.

“Apa Ayah dan Ibu tahu? Di luar sana banyak orang-orang yang membicarakanku. Mereka mengatakan kalau aku hanya menumpang kekayaan pada orang tua, aku tidak mempunyai kemampuan, aku hanya benalu, bagaimana Ayah dan Ibu menanggapinya? Aku sudah lelah akan semua omongan mereka.”

“Kau tidak perlu pedulikan omongan orang yang tidak kau kenal!”

“Sudah kuduga Ayah akan bilang begitu. Maaf, tapi aku sama sekali tidak senang dan keberatan. Aku tidak ingin menjadi benalu. Aku bisa sukses dengan usahaku sendiri.”

“Lalu..apa yang bisa kau buktikan dengan ‘sukses’?? Apa ini yang kau maksud ‘sukses’??”

Kyungsoo terdiam. Apa dia baru saja kalah pada Ayahnya? Lagi? Ayah dan Ibunya kemudian langsung berdiri dan menatap putra satu-satunya mereka dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

“Ketahuilah, Ayah dan Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Jika kau masih tetap tekad dengan kemauanmu dan jalanmu sendiri, Ayah akan biarkan kali ini. Tapi kau tidak bisa menolak dengan yang satu ini. Ayah akan bersumpah jika kau menolak, maka Ayah akan hapus namamu dari kartu keluarga dan menganggapmu bukan lagi anak Ayah.” Kyungsoo terdiam. Seperti patung tak bergerak sama sekali. Kyungsoo mengusap wajahnya pelan kemudian memijit dahinya.

“Apa? Apalagi yang Ayah inginkan?”

“Kau harus menerima pertunangan dengan anak dari Perusahaan Kube.”

“Apaa!??”

***

Setelah diberitahu oleh Ye Hwa didapur, Hani sudah sedikit menguasai dan sudah dapat mengingat-ngingat tempat alat-alat memasak dan bahan makanan. Beberapa menit yang lalu Ye Hwa meninggalkan dia sendiri di dapur karena Ye Hwa menyuruhnya untuk membuatnyan sebuah desert, sebagaimana yang Kyungsoo perintahkan padanya tadi.

Sambil tangannya bekerja, pikiran Hani pun selalu tertuju pada Kyungsoo.

“Kalau dilhat-lihat, dia pria yang baik. Meskipun perilakunya sedikit kasar pada karyawan. Mungkin itu cara dia mendidik karyawannya.”

“Hey..kau.” suara seseorang mengejutkan Hani yang hampir saja menjatuhkan sendok yang dia genggam. Hani langsung menoleh ketika ada seorang pria mengenakan pakaian putih-putih. Sepertinya dia juga chef. Bukan Kyungsoo pastinya.

“Kau memanggilku?” tanya Hani sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kau pegawai baru, kan? Aku sudah memperhatikanmu dari jauh. Perkenalkan namaku Yoo Ji Hwan. Aku seorang sous chef di sini. Siapa namamu?” ujar pria bernama Ji Hwan itu dengan senyum yang manis. Hani merasa senang karena baru Ji Hwan-lah yang duluan mengajak berkenalan di hari pertamanya bekerja. Tentu saja Hani tidak menolak. Hani menjabat tangan Ji Hwan seraya tersenyum juga.

“Namaku Oh Hani. Pegawai baru yang dipekerjakan di bagian dessert making. Senang berkenalan denganmu, Sous Chef-nim.”

“Jangan panggil aku begitu. Panggil saja Ji Hwan. Kau pasti di suruh Kyungsoo chef-nim untuk membuat dessert, ya? Kalau ada kesempatan, boleh kan aku mencicipinya? Begini-begini aku juga jago memberikan saran dan kritikan masakan seseorang lho. Bagaimana?” Hani tak mampu menahan tawanya. Yah pria bernama Ji Hwan ini cukup percaya diri sekali. Mungkin karena jabatannya. Hani mengangguk.

“Tentu saja. Tapi masakanku masih bisa dibilang awam. Aku masih pemula, aku rasa seharusnya aku memang mendapat banyak masukan dari orang yang lebih berpengalaman, kan?”

“Wah asyik sekali ya kalian bicaranya?

 

TBC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s