Solar Twins (Chapter 1)

Solar Twins

 

Judul              : Solar Twins Chapter 1

Author            : parkhyera (AFF: parkhyera)

Genre             : family, angst, drama.

Length            : Chaptered

Rating             : 15+

Main cast        :

  1. Kim Jong In
  2. Park Hyera (OC)

Supporting Cast:

  1. EXO Member
  2. And many more

 

Disclaimer      : FF ini murni milik saya. Kesamaan ide cerita murni kebetulan belaka. FF terinspirasi oleh novel barat berjudul ‘Crossfire series’. Saya menghargai setiap komentar. Baik dari kritik dan saran akan saya tampung. FF ini sudah saya post di Asianfanfics dengan judul yang sama. Terima kasih ^^

 

Sinopsis:

Saat kau kecil, kau berpikir bahwa ibumu adalah orang yang paling baik yang pernah kau temui..

Namun bagaimana jika bahwa ibumu tak sebaik yang kau pikir?

Park Hyera berusaha menyangkal..

Namun ia tak bisa mengelak..

Ia lari dan bertemu dengan Kim Jong In..

Kim Jong In menyimpan banyak rahasia menyakitkan yang perlu diungkap..

Berdua mereka berusaha untuk menyelamatkan jiwa mereka yang tenggelam..

 

Park Hyera berusaha untuk tidak mengikuti jejak ibunya.

Kim Jong In berusaha untuk melawan trauma psikologis yang dideritanya.

 

 

 

 

Aku membenci tatapan mereka. Mata mereka seolah menembus seluruh sela tubuhku. Aku tak tahu mengapa mereka seperti itu. Kuakui aku memang tidak dapat membuat banyak teman, namun hari ini berbeda. Baik para murid perempuan dan laki-laki menatapku jijik.

Aku benci itu.

Mengambil beberapa baju di loker, aku segera melenggang pergi ke toilet. Setelah pelajaran fisik, akan ada pelajaran biologi. Tatapan itu tak pernah lepas. Aku tak punya teman dekat perempuan di sekolah ini. Kebanyakan dari mereka membenciku karena telah merebut kekasih mereka. Huh..

Apakah suatu kelebihan atau malah menjadi sebuah kekurangan. Akupun tak tahu. Mataku memiliki ‘aegyo sal’ dan ‘double eyelids’, tulang pipiku tinggi dan rahangku membentuk huruf V. Tinggiku 168 sentimeter dengan berat 45 kg. Kulitku pucat dengan rambut panjang lurus berwarna cokelat alami. Dengan kata lain, kalian bisa menyebutku cantik.

Ibuku memberikan semua kecantikannya padaku. Menumpahkan seluruh gen fisiknya padaku. Namun tidak untuk seluruh sifatku. Ibuku adalah orang yang pandai membuat teman, berkepribadian hangat dan lembut. Sedangkan aku? Aku adalah antonim dari seluruh kata sifat tersebut. Mungkin dari gen ayahku.

 

Aku juga tidak seberapa ingat bagaimana sifat ayahku.

 

Ibuku yang berhati hangat jatuh cinta dengan ayahku yang berhati dingin. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Kau tahu? Ayahku dan ibuku sebenarnya tak pernah menikah. Saat aku kecil, setiap hari Minggu seorang laki-laki yang mengaku sebagai ayahku datang ke rumahku membawakanku mainan atau makanan yang kusukai. Aku bertanya pada ibu mengapa ayah tidak tinggal bersama kami dan ibu bilang bahwa ayah bekerja sehingga beliau hanya bisa pulang setiap hari Minggu.

Usiaku lima tahun saat aku memiliki teman pertamaku. Namanya Kwon Si Ah. Dia empat tahun lebih tua dariku. Di siang hari, aku akan bermain dengannya di taman dari pukul 1 siang hingga pukul 4 sore. Ketika aku bercerita padanya tentang keadaan ayah dan ibuku, dia hanya mengangguk seolah mengerti. Namun keesokannya aku tak melihatnya di taman.

Keesokannya lagi aku bertemu dengannya. Aku menyapanya riang namun dia hanya bisa menangis. Aku bertanya mengapa dia menangis dan ingin memeluknya. Namun dia menolak untuk kupeluk. Dengan sesenggukannya dia berkata bahwa orang tuanya melarangnya untuk bermain lagi denganku. Dia juga berkata bahwa dia harus menjauhiku karena aku lahir dari seorang wanita perebut suami orang.

Anak kecil seusia lima tahun tentu tak mengerti apa maksudnya. Dua tahun berlalu dan barulah aku mengerti semua yang terjadi. Ayahku dan ibuku sebenarnya tidak pernah menikah. Aku hanyalah anak dari seorang wanita selingkuhan. Ketika usiaku delapan tahun, ayahku tidak pernah mengunjungiku lagi. Akupun tak ingin bertanya pada ibu pula karena saat itu yang ibu lakukan hanya minum minuman keras.

Kupikir dia mati..

Begitulah cerita keluargaku. Saat ini aku hidup dengan ibuku saja di apartemen yang cukup nyaman di daerah Seocho-dong. Ibuku bekerja sebagai pelayan di sebuah Bar. Ibu bekerja di malam hari hingga dini hari. Terkadang aku merasa iba dengan ibuku yang bekerja keras agar aku bisa bersekolah dan melanjutkan pendidikanku ke universitas.

Saat ini aku berada di tahun ketigaku di Seocho High School. Walaupun hanya ada aku dan ibuku, namun aku bahagia. Ibuku seperti malaikat dengan senyumnya yang menawan. Di usianya yang ke-38 tahun, ibuku masih memiliki tubuh yang terawat dan kulit yang kencang.

Namun hari ini seluruh opini itu hancur.

Kris, laki-laki tampan nan dingin itu mengaku telah tidur dengan ibuku. Kris, laki-laki tinggi itu telah menyebarkan berita bahwa ibuku adalah wanita yang dapat disewa. Kalian pasti tahu maksudnya. Dia mengatakan bahwa ibuku adalah pelacur. Dan itulah penyebab seluruh tatapan tajam tersebut mengarah kepadaku.

 

Tatapan tajam dan cibiran telah mengarah padaku selama seminggu ini di sekolah. Aku tak peduli. Toh tak ada bukti yang membuktikan bahwa Kris menyewa ibuku. Aku sendiri tak percaya bahwa ibuku adalah orang yang seperti itu. Pekerjaannnya sebagai pelayan bar memang tidaklah mudah. Ibuku mengakui bahwa ibu sering digoda oleh lelaki-lelaki nakal. Namun aku yakin ibuku bukanlah wanita yang dapat disewa.

Seorang lelaki dengan tubuh kecilnya berlari padaku. Luhan. Lelaki yang tengah aku kencani menghampiriku. Sebuah senyum manis terulas diwajahnya. Dia datang dengan tangan membawa telepon pintarnya.

“Hai..”, ucapnya.

“Hai..”, balasku.

“Kau ada waktu saat ini? Aku ingin berbicara sesuatu.”, tanyanya.

Selama seminggu ini memang Luhan seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin ini akibat dari seluruh rumor tersebut. Ia pernah menanyakan kebenaran dari rumor tersebut tiga hari yang lalu. Tentu aku menepisnya. Ibuku bukan wanita seperti itu.

Aku hanya mengangguk.

Dia memegang pergelangan tanganku dan mengajakku ke taman di belakang sekolah. Tempat ini cukup sepi mengingat saat ini hampir seluruh siswa telah pulang. Aku tinggal hanya untuk mencatat pelajaran fisika yang telah diberikan oleh Mrs. Bae.

Luhan dan aku telah berkencan selama satu tahun. Satu tahun lima bulan persisnya. Aku tak tahu apakah aku telah jatuh cinta padanya. Yang aku tahu aku menyukainya. Dia baik dan sering mengajariku pelajaran Sejarah. Nilaiku tidak terlalu bagus untuk pelajaran sosial. Begitupula kehidupan sosialku.

Tidak bagus.

Kami duduk disebuah bangku. Aku menatap wajahnya yang manis. Untuk beberapa detik kemudian kami terdiam. Menatap manik mata masing-masing.

“Hyera~ya, maaf.”, ucapnya pelan.

“Untuk apa?”, tanyaku. Masih menatap matanya.

“Kumohon kau bisa mengerti. Lihatlah ini.”, ucapnya seraya memberikanku ponsel pintarnya. Kuambil ponselnya.

Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Bibirku terasa kelu bahkan untuk membuka. Pun tak ada air mata yang keluar. Dunia serasa berhenti. Dadaku begitu bergemuruh seolah jantungku akan melompat keluar.

“Terima kasih, Luhan..”, ucapku sebelum aku berdiri dan pergi meninggalkannya.

Aku berbalik meninggalkannya.

 

Tak terasa air mataku menetes. Segera aku menuju ke toilet di bagian ujung lantai 1. Aku tak ingin air mataku dilihat oleh orang lain. Kutatap mataku yang sembab lewat pantulan kaca. Rasanya aku tak ingin memejamkan mataku. Hal tersebut akan membuatku ingat isi foto yang ditunjukkan Luhan di ponselnya. Aku hampir tak percaya dengan apa yang baru kulihat. Namun aku tahu bahwa itu adalah ibuku.

Ibuku yang tidur dengan Kris.

 

One thought on “Solar Twins (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s