The Lonely Kim Joon-Myeon

the lonely kim joon-myeon mwa

Title                : The Lonely Kim Joon-Myeon

Author            : AnaSophie

Genre             : Romance, Light Comedy

Length            : Oneshot

Main Cast      : SuHo (and the girl)

A/N                 : Hello! Its been a long time and I bring you something new, something fresh, something….gaje. lol. This fiction is all about Su-Ho. I mean, there’s only him and him lolz. Idk what to say. Enjoy!

Disclaimer      : I own the plot. Non of these are real. Kim Joon-Myeon belongs to me. Jk.

 

***

 

 

Seoul, current time

Hari ini Baek-Hyun kembali tenggelam ke dalam ponsel genggamnya. Kutebak, dia kembali mengirim pesan kepada Tae-Yeon noona seperti hari-hari lainnya. Mencoba mencari perhatiannya lagi kuduga. Beberapa hari lalu aku mendapatinya sedang tertidur dengan ponsel dalam genggaman tangannya.

Ralat, hampir setiap malam aku mendapati Baek-Hyun terlelap dalam posisi seperti itu. Mungkin aku harus menanganinya suatu hari nanti—ketika kegalauannya tak lagi terselamatkan. Nanti, mungkin.

Aku hanya mengedikkan bahuku tak peduli dan kembali membaca surat kabar yang sejak tadi belum berhasil merebut perhatianku secara sepenuhnya.

Kolom berjudul ‘Pemerkosaan kembali menghantui kota Seoul’ menarik perhatianku tepat sebelum Chan-Yeon berlari masuk ke dalam ruang tengah dengan wajah penuh semangat dan mata yang berbinar-binar. Deru nafasnya tak teratur, berhasil membuatku mengalihkan perhatian dari surat kabar dan menatap Chan-Yeol yang masih berusaha mengatur nafasnya.

“Han Cessa disini, Han Cessa disini. Se-Hun-ah, cepatlah kemari, Han Cessa disini!”

Ah, gadis itu.

Gadis bermata cokelat transparan yang telah merebut perhatian beberapa member dan mengaguminya seakan dia adalah wujud dari Dewi Yunani yang menjadi nyata. Baiklah, dia memang cantik—sangat cantik hingga berhasil membuat Kris dan Luhan terlihat seperti dua laki-laki bodoh yang bersedia menyerahkan seluruh nafas untuknya.

Sejak Luhan meninggalkan Korea, gadis itu sering datang kemari. Wajahnya selalu terlihat ceria dengan senyum yang sangat lebar. Kedatangan Cessa juga selalu memberi warna yang lebih di dalam dorm. Tetapi aku tahu, gadis itu datang kemari untuk mengisi ruang kosong di hatinya tiap kali dia merindukan Luhan.

Hal itu tertera jelas dibalik pandangan matanya.

“Apa kabar?”

Suara berat khas perempuan milik Cessa kini menyapa indera pendengaranku, sontak membuatku menengadahkan kepala ke samping kanan dan mendapati gadis berambut cokelat terang itu berdiri disana dengan penampilan yang sangat rapih.

Aku tak tahu merk apa saja yang dia gunakan hari ini, tetapi seperti biasa, Han Cessa selalu terlihat sangat cantik.

Oh baiklah, bahkan Baek-Hyun yang sejak tadi diam tanpa suara kini mengalihkan pandangannya dari ponsel genggam dan menyambut Cessa dengan mata yang berbinar cerah serta senyum super lebar tergambar diwajahnya.

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan tersenyum simpul. Benar bukan? Keberadaan Cessa selalu memberi warna lebih di dalam dorm.

“Merindukan seseorang?” tanya Kyung-Soo ketika Cessa melempar tubuhnya diatas sofa single. Aku bisa melihat gadis itu memutar bola matanya dengan malas dan melempar Kyung-Soo menggunakan bantal kecil yang seharusnya menjadi senderan tubuhnya.

Kyung-Soo hanya tertawa kecil dan mengacak-acakkan rambut cokelat terang milik Cessa. Rasanya kehadiran Luhan dan Kris bisa kembali kami dapatkan setiap kali Cessa datang untuk berkunjung.

Dia dan Kyung-Soo terlihat cukup dekat, mengingat sejarah singkat nan dramatis yang pernah terjadi diantara mereka berdua dua tahun lalu. Bukan sejarah yang indah. Jujur saja, sejarah itu bisa dikatakan sangat-sangat mengesalkan ketika aku harus menghadapi Kyung-Soo yang cukup depresi karena Na-Eun dan Luhan yang seperti mayat hidup karena mencampakkan Cessa.

Tak lupa dengan Kris yang seperti orang tolol karena harus kehilangan Cessa bahkan sebelum dia menyatakan cintanya.

Benar-benar sejarah yang tak terlupakan.

Aku kembali menghembuskan nafas panjang dan melipat surat kabar lalu meletakkannya diatas meja sebelum membuka obrolan dengan Cessa—yang kini dikelilingi seluruh member dan tertawa bersama.

Han Cessa adalah sosok yang sangat menyenangkan. Teman bertukar pikiran yang sangat baik, bisa dibilang. Gadis itu membuat Baek-Hyun mencurahkan seluruh isi hatinya tentang Tae-Yeon noona. Mungkin itu yang membuat kehadirannya bisa membuat Baek-Hyun mengalihkan matanya dari ponsel genggam.

Berbicara tentang perempuan selalu membawa pikiranku pada sosok seorang gadis di dalam pikiranku. Tidak, dia bukan kekasihku—aku tidak memiliki kekasih saat ini. Dia juga bukan gadis yang dekat denganku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui tentang hal ini.

Mereka bisa menganggapku gila jika aku memberitahu mereka tentang gadis ini.

Dia tak secantik Tae-Yeon noona ataupun Han Cessa. Rambutnya tak seindah rambut Yoon-A noona, kulitnya tak semulus kulit Irene, suaranya pun tak seindah suara Luna. Dia bukan bintang Korea ataupun member dari sebuah girlgrup. Dia juga bukan seorang trainee.

Dan lebih parahnya lagi, dia tak tinggal di Seoul, ataupun di Korea, tidak.

Aku belum pernah melihatnya secara langsung ataupun bertemu secara singkat dengannya. Sosial media mempertemukan kami—lebih tepatnya aku menemukannya di sosial media. Entah bagaimana caranya aku bisa menemukan akun instagram miliknya. Dia mengagumiku, satu hal yang sangat membanggakan, ohya, tentu saja!

Wajahnya cukup unik hingga berhasil menarik perhatianku begitu saja.

Dan sejak saat itu, aku memilih untuk berteman dengan ponsel genggamku ketika aku memiliki waktu luang hanya untuk mengecek akun sosial media apapun yang dia miliki. Ya, aku menemukan akun twitter, instagram, sesuatu bernama ask.fm, dan facebook miliknya. Dan masih banyak lagi.

Baiklah, aku terdengar seperti penguntit seram yang terkena penyakit kejiwaan. Aku sendiri sadar dengan hal itu, tentu saja. Mengikuti aktifitas seseorang yang tak kita kenali melalui sosial media pada setiap harinya bukanlah hal yang terdengar romantis, tetapi terdengar sangat menyeramkan.

Tapi, bukankah hal seperti ini yang diinginkan begitu banyak fangirl di luar sana? Diikuti oleh oppa secara diam-diam dan misterius karena dibatasi oleh kontrak agency juga segala titik bengek yang mengawasi kehidupan para oppa?

Kutebak, gadis ini akan merasa sangat beruntung jika dia tahu aku memiliki rasa tertarik padanya.

“Huahaha.”

Dan ruangan itu hening seketika. Sembilan pasang mata menatapku dengan tatapan heran, seluruh kepala yang ada disana kini melempar pandangan bingung kepadaku. Mataku berkedip beberapa kali sebelum membuka suara demi memecah suasana.

“Apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu?”

Hyung, apa yang kau tertawakan?” Kini bibirku yang terkatup rapat. Aku? Sial, sepertinya aku menyuarakan isi kepalaku dengan keras tadi. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku perlahan hingga sembilan pasang mata itu kembali sibuk dengan diri mereka masing-masing.

“Dia kesepian akhir-akhir ini.” Aku bisa mendengar suara Kai berbisik kepada Cessa. Nada suaranya seakan menyatakan bahwa aku membutuhkan seorang psikolog atau seorang psikiater karena aku mulai memiliki gangguan dengan kejiwaan.

Sial.

 

***

 

Seoul, 2017

Dong-Hae hyung sudah menyelesaikan masa pengabdiannya terhadap Negara. Beberapa hari lalu, kami semua menyambut kedatangannya dalam gedung agency. Dia terlihat lebih tampan dan gagah daripada dua tahun lalu. Wajahnya juga terlihat jauh lebih cerah dan berseri-seri.

Beberapa hari lagi, Chang-Min hyung dan Si-Won hyung juga akan menyelesaikan masa pengabdian mereka.

Mungkin sekarang sudah waktunya untuk aku memikirkan masa pengabdianku. Bagaimanapun, itu akan tetap terjadi bukan?

Udara kota Seoul hari ini terasa cukup dingin. Angin musim gugur menyapa permukaan wajahku, meniupkan angin segar membawa wangi dedaunan yang berguguran. Aku menyukainya, entah mengapa aku menyukainya.

Hari ini kami tidak memiliki jadwal. Dan disinilah aku sekarang, pinggiran kota Seoul dimana semua orang menginginkan quality time untuk diri mereka sendiri. Tidak, aku tidak sendirian. Byun Baek-Hyun berjalan tepat di belakangku dengan ponsel genggam yang menguasai seratus persen perhatiannya.

Ya, dia sedang menunggu pesan singkat.

Tidak, dia belum bisa melupakan Tae-Yeon noona.

Dan ya, dia sedang menunggu pesan singkat dari Tae-Yeon noona.

Berbicara tentang seorang gadis, aku masih menaruh rasa penasaranku pada gadis itu. Oh baiklah, gadis yang berhasil membuatku terlihat seperti seorang penguntit bodoh secara diam-diam. Satu-satunya hal yang dapat kubanggakan dari peristiwa ini adalah, betapa hebatnya aku dalam menyimpan sebuah rahasia seperti ini.

Tak pernah sekalipun aku menyinggung tentang dia dalam stasiun televisi. Atau bahkan di hadapan anggota EXO sekalipun, tidak. Tak seorangpun dari sekumpulan anak-anak idiot itu yang tahu tentang gadis itu.

Ya, aku masih mengikuti segala aktifitasnya di dalam sosial media.

Tidak, aku tak melakukannya akhir-akhir ini.

Sudah satu tahun berlalu sejak dia menutup segala sosial media yang dia miliki. Twitter, instagram, dan segala macam yang dia miliki. Tentu saja, aku kehilangan segala upaya yang aku miliki untuk mengetahui kabar mengenai gadis itu.

Aku tak tahu apakah dia masih bernafas atau tidak di luar sana. Aku tak tahu apakah dia berada dalam keadaan sehat atau tidak. Aku juga tak tahu apakah dia masih mengidolakan aku atau tidak. O-oh, yang terakhir itu adalah hal terpenting yang sudah sepatutnya aku ketahui.

Aku menghentikan langkah ketika mataku menemukan sosok seorang gadis bertubuh mungil berdiri tiga meter di depanku. Rambutnya yang digerai cukup acak-acakan dengan warna cokelat tua seperti kayu jati. Wajahnya terlihat cukup tegas mengingat dia memiliki tubuh yang lumayan mungil.

Dia disana.

Gadis sosial media itu secara ajaib berdiri tiga meter di hadapanku. Kulitnya kini terlihat jauh lebih cerah dan pipinya terlihat lebih tirus daripada satu tahun yang lalu. Rambutnya kini tampak jauh lebih indah daripada yang biasa kulihat di layar ponsel.

Otakku sedang memproses ide untuk menyapanya ketika seorang laki-laki bertubuh tinggi—yang sialnya lebih tinggi dariku, dengan rahang tajam serta senyum lebar datang menghampirinya.

Gadis itu tersenyum bahagia mendapati laki-laki itu kini ada bersamanya.

Tunggu—tunggu…

Bukankah itu…?

Hyung, bukankah itu salah satu anggota SEVENTEEN? D—ah sial aku lupa siapa namanya. Tunggu sebentar, tunggu—” Baek-Hyun menjentikkan jarinya tidak sabar. “—Ah! DK! Sedang apa mereka? Wah, apakah mereka berpacaran?”

Kini, gambaran yang kudapatkan sangat buruk. Laki-laki bernama DK itu kini tertawa lebar seraya mengacak-acak rambut gadisku dengan santai. Mereka terlihat akrab—sangat akrab. Kelewatan akrab, malah!

Rahangku mengeras dalam hitungan detik. Ada sesuatu yang bergemuruh di dalam hatiku—yang aku sendiri tak mengerti mengapa bisa seperti itu. Melihatnya akrab dengan seorang laki-laki yang lebih muda dariku berhasil membuatku merasa pusing.

Tunggu… Apa yang dilakukannya disini? Mengapa dia bisa bersama DK?

“Siapa gadis itu?” tanyaku kepada Baek-Hyun. Aku yakin dia mengenal gadis itu. Jaringan yang didapatkan oleh Baek-Hyun tak perlu diragukan lagi. Dia, Chan-Yeol, dan Chen merupakan biang gossip dimana aku bisa mendapatkan segala kabar berita dari dunia luar.

Baek-Hyun mendecak. “Aku tak tahu dengan jelas namanya siapa. Tetapi aku bisa memastikan bahwa dia adalah trainee PLEDIS.” Trainee. Itu menjelaskan mengapa dia memiliki hidung yang lebih mancung serta rahang yang lebih tegas sekarang. Hal itu juga menjelaskan mengapa dia memiliki kulit juga rambut yang jauh lebih indah.

PLEDIS. Ini juga menjelaskan mengapa dia bisa berdiri disana dan tertawa bersama DK. Aku mengerti sekarang, semua terlihat sangat jelas.

Alasan mengapa dia menutup seluruh sosial media miliknya juga kini sangat jelas di mataku. Dia selalu bercita-cita untuk menjadi seorang trainee. Setidaknya sekarang aku tahu bahwa dia baik-baik saja dan sedang dalam proses untuk menggapai mimpinya.

Dan satu hal yang lebih penting, gadis itu ada di Korea. Lebih dekat untuk kugapai.

Seulas senyum tergambar diwajahku. Ada satu perasaan bahagia yang melebur dalam tubuhku, mengalir dari ujung kaki hingga ujung rambut. Rasanya aku terlahirkan kembali dan memiliki alasan untuk tetap bernafas. Aku memiliki dia untuk mengisi waktu kesendirianku.

“Ayo pulang.”

 

***

 

Everyone loves bubble tea
Who doesn’t?
Even dr.Phill from
Crazy Ex Girlfriend loves bubble tea

 

***

 

Dia menyukai bubble tea.

Aku menyimpulkan hal tersebut ketika dia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kedai kecil yang menjual bubble tea lalu melangkah masuk kesana. Sayangnya, aku tak bisa membahayakan diriku dengan ikut masuk ke dalam sana. Aku hanya bisa menunggu di luar kedai, berdiri dibalik tiang listrik yang berdiri dua meter dari kedai tersebut.

Beberapa saat kemudian dia keluar dari sana dengan segelas bubble tea. Wajahnya terlihat sangat berseri-seri, membuatku semakin bahagia ketika melihatnya. Dia jauh lebih cantik daripada apa yang biasa kulihat di layar ponsel.

Dan saat ini aku memujanya lebih daripada saat ketika aku melihatnya di layar ponsel.

Kini dia berjalan dengan sepasang earphone di kedua sisi telinga nya sembari meminum bubble tea yang ada di dalam genggaman tangannya.

Aku tak memiliki keberanian untuk menghampirinya secara langsung, dan aku memutuskan untuk tetap berjalan sejauh lima meter dibelakangnya. Oh ayolah! Aku bukan seorang penguntit gila!

Dengan begini, aku juga melindunginya secara diam-diam.

Waktu luangku sering kuhabiskan untuk berjalan bersamanya. Ohya! Aku hapal jadwal yang dia miliki. Dan dia sangat suka berjalan-jalan di sepanjang kota Seoul dengan sepasang earphone. Aku? Mengikuti setiap langkahnya.

Aku tahu kapan dia akan kembali ke asrama. Aku tahu persis dimana dia tinggal dan jam berapa dia pulang. Aku tahu dia menyukai sushi, aku tahu dia menyukai milktea. Aku juga tahu dia sangat tergila-gila pada pemandangan sungai Han di malam hari.

Aku tahu dia menyukai sunset, aku tahu dia memakan buah apa saja setiap hari. Aku tahu dia baru saja menghabiskan 53.600 won untuk membeli buah-buahan. Aku juga tahu dia baru saja menghabiskan 250.000 won untuk membeli sebuah kemeja berwarna putih.

Aku tahu dia menghabiskan waktu dua jam empat puluh sembilan menit enam detik di dalam sebuah spa kemarin.

Oh tidak. Aku semakin terdengar seperti penguntit gila bukan?

Biasanya, ketika hal seperti ini terjadi di dalam drama picisan, tokoh utama perempuan akan membalikkan badannya kebelakang dengan wajah kaget luar biasa dan berteriak-teriak seperti orang gila. Lalu pemeran utama laki-laki akan muncul secara tiba-tiba menjadi sosok pahlawan bodoh untuk menyelamatkan tokoh utama perempuan.

Dan begitulah mereka berdua bertemu. Jatuh cinta. Berpacaran. Menikah. Dan memiliki anak. Happy ending.

Sontak aku menghentikan langkahku secara tiba-tiba. Berdiri dalam diam dan menatap gadis itu yang masih melanjutkan langkah kakinya bersama sepasang earphone di kedua sisi telinga nya.

Dia takkan berhenti dan memalingkan tubuhnya kan? Dia takkan berteriak seperti orang gila yang mengatakan bahwa aku adalah penguntit sinting yang mengikutinya kemanapun dia melangkah—KARENA AKU BUKAN!

Oke oke, baiklah Kim Joon-Myeon, kau harus meluruskan pikiranmu sekarang.

Aku kembali menatap ke sekelilingku, mencari tahu apakah ada seorang laki-laki muda nan tampan disini. Jawabannya, tidak. Di ujung sana terdapat sebuah tempat duduk yang diduduki kakek-kakek renta.

Di samping kanan jalan terdapat dua orang paman yang ada pada kisaran umur empat puluh tahun sedang merokok dan tertawa bersama. Baiklah, aku aman. Takkan ada pemeran utama laki-laki yang merebut peranku disini, karena aku-lah pemeran utama laki-laki dalam cerita kali ini.

Yang sialnya—tepat setelah aku memikirkan hal itu, sosok laki-laki dengan hoodie dan masker datang menghampiri gadis itu, mengacak-acakkan rambutnya lalu tertawa bersama. DK. Pasti dia.

Hal seperti ini sedikit menggangguku. Beberapa kali DK memang sering menjumpai gadis itu dan berjalan beriringan bagai sepasang kekasih. Well, mereka tidak berpegangan tangan. Tetapi melihat DK berjalan mengekor dibelakangnya dengan senyum tipis diwajahnya sedikit menggangguku.

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali dan menampar pipiku sangat keras. Sadarlah, Kim Joon-Myeon! Bahkan kau tidak memiliki keberanian untuk menyapanya dan memperkenalkan diri dengan baik dan benar.

Pemandangan yang kudapatkan kembali berubah. Kini DK sedang sibuk berbicara melalui ponselnya, terlihat sangat serius. Ya. Kau seharusnya melanjutkan promosi atau latihan, atau apapun itu. Bukan berdiri disamping gadisku dan tertawa lepas bersama. Aku tahu SEVENTEEN memiliki jadwal padat saat ini.

Tunggu sebentar—bukannya aku sendiri harusnya berada di dorm EXO? Oh sial. Baiklah DK, kau berhasil menemukan kelemahanku. O-oh, tidak. Kini aku merasa seperti orang sinting yang berbicara sendiri di dalam pikirannya.

Mataku menangkap DK yang kembali tertawa lebar lalu mengacak-acakkan rambutnya sebelum dia berjalan menjauh tanpa menatap kebelakang lagi. Sekelebat perasaan lega menghampiri seluruh rongga dada-ku, seakan aku baru saja menelan sebongkah makanan padat yang sejak tadi menghalangi saluran pernapasan.

Gadis itu kembali berjalan sendirian.

Entah mengapa, tapi aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sangat menikmati quality time yang dia miliki saat ini.

Aku juga menyukai quality time yang kumiliki saat ini. Berjalan dibelakang gadis itu dengan mantel dan topi yang hampir menutupi separuh wajahku. Ini adalah satu-satunya kegembiraan yang tersisa dalam diriku.

Dan hal yang tak pernah kuinginkan terjadi. Jalanan ini sangat sepi, hampir tak pernah dilewati kendaraan beroda empat. Well, aku belum menangkap sedikitpun bayangan kendaraan beroda empat sejak tadi.

Bagaikan adegan di dalam drama picisan, dalam satu kedipan mata sebuah mobil melaju mendekatinya, sementara tatapannya masih terpaku pada layar ponsel dan earphone yang digunakannya semakin membuat gadis itu tenggelam dalam dunianya sendiri.

Dan dalam satu helaan nafas, aku berlari menghampiri gadis itu, mendekapnya kedalam pelukanku, menariknya kearah pinggiran jalan yang lain agar mobil tadi tak bisa menyakiti satu orangpun diantara kita berdua.

Kita berdua kini terkapar diatas kerasnya aspal. Hal yang berhasil membuatku meringis tentu saja. Bubble tea yang tadi ada digenggaman tangannya kini melayang entah kemana.

Namun, tatapan mata cokelat gelap itu menatapku dengan tatapan penuh tanya, sedikit menyadarkanku.

Aku bisa merasakan detak jantungku yang kini berdegup lebih kencang daripada biasanya. Mungkin aneh jika aku meyakinkan diri bahwa itu adalah akibat dari mata cokelat yang untuk pertama kalinya menatapku dalam jarak sedekat ini.

Mungkin juga karena dia berada dalam dekapanku detik ini. Demi Tuhan, aku tak ingin melepaskannya begitu saja.

Tetapi satu hal membuatku tersadar dengan keadaan saat ini.

Sial, aku berada di posisi yang sama sekali tidak baik.

 

***

 

Love, kiss, and hug
AnaSophie
http://intoyourheaven.wordpress.com/

3 thoughts on “The Lonely Kim Joon-Myeon

  1. Salam kenal.
    Aku Reader baru yang baru aja menemukan sebuah ff yang menarik perhatian.
    Suka sama jalan ceritanya, tapi gantung gitu yaa endingnya??..
    Apa ini masih ada lanjutannya???

  2. Thor kenapa endingnya ngegantung •_•
    Ada sequelnya ga thor ?
    Haha.. Suho bener2 kaya sasaeng fans :v
    Seandainya aku ada posisinya cewek itu :V #bhaqs
    Keren thor ceritanya menarik,fresh banget
    Keep writing and hwaiting ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s