First Love – chapter 4

First Love – chapter 4

Author       : Mardikaa_94

Genre         : school life, romance, friendship

Length       : multi chaptered

Rating        : PG-13

Main Cast  : Song Chae Yoon (you), Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Byun Baekhyun

~happy reading~

“ah, sudahlah. Lupakan.”

“eeeh, apa-apaan? kau ini kenapa sih? Ayoo ceritakan padakuu.”

“sudah. Aku pulang.” Katanya sambil berlalu meninggalkanku yang masih melongo dengan ucapannya.

“yak! Kau tidak mau pulang?” tanyanya lagi.

“ah. Iya, mian. Kalau begitu aku duluan Chanyeol-ah. Anyyeong.”

Sekarang, kami berjalan kearah yang berlawanan. Chanyeol kearah kiri dari halte dan aku kearah kanan dari halte.

~000~

“Chae Yoon!”

“anyyeong, Sehun-ah. Kau menungguku, ya?”

“tentu saja. Ayo, kita masuk ke kelas.”

Sambil berjalan, aku dan Sehun asik mengobrol tentang bodohnya kami saat masih kecil dulu. Mengingat semua masa-masa kami yang bahagia dan tenang di Ulsan. Mengingat betapa bodohnya Sehun yang jatuh ke lumpur karena melihat ular yang sedang berjemur di pinggir sawah. Mengingat kenakalan kami yang mencuri mangga milik paman Kim. Dan, mengingat kecerobohan kami yang hampir terjun ke sungai yang dalamnya hampir 2 meter. Kalau tidak ada paman Oh, mungkin kami sudah berada di surga sekarang.

“yak! Yang punya ide seperti itu kan kau duluan, Oh Sehun!” kataku sambil menjitak kepala Sehun cukup keras.

“tapi kau mau kan? Lagipula saat itu memang kita sudah sangat lapar. Jadilah, ide nakal seperti itu muncul di kepalaku. Apa salah? Toh, yang penting tidak ketahuan dan perut kita kenyang.”

“tapi aku hampir mati karena jatuh dari pohon!”

“salah siapa ikut memanjat padahal tidak bisa memanjat. Kan aku sudah bilang biar aku saja yang memanjat dan kau tunggu dibawah, Song Chae Yoon.” Jawabnya sambil mengusap ujung kepalaku lembut.

“Chae Yoon-ah!” teriak seseorang dari kejauhan sambil berlari. Yang dipanggil hanya melihat dengan tatapan bingung.

“ada apa Baekhyun-ah?”

“apa kau sudah mengerjakan tugas dari Kim seongsaenim?”

“sudah, kenapa?”

“boleh aku lihat?”

“itu tugas mandiri dan sudah seminggu lalu Baekhyun-ah. Kemana saja kau sampai tidak mengerjakannya?”

“ayolah, kumohon.”

“tidak. Minta saja Jongin.”

“dia sakit.”

“kalau begitu, nanti kau harus berdiri di lapangan.”

“ya Tuhan, kenapa temanku ini jahat sekali.”

“bukan jahat Baekhyun-ah. Kalau jawaban kita sama, bisa-bisa aku ikut dihukum.”

“kita kan teman, kau tidak mau jadi teman seperjuanganku?”

“kalau menyangkut nilai, aku lebih memilih mundur jadi temanmu.”

“Sehun-ah. Cuma kau harapanku satu-satunya. Kumohon, bantulah aku dengan otak jeniusmu. Aku janji akan menuruti apa saja kemauanmu.”

“haha, tidak usah begitu Baekhyun-ah. Ini, ambillah bukuku. Kita kan beda kelas. Jadi tidak akan ketahuan.”

“haha terimakasih Tuhan. Karena kau sudah mempertemukan aku dengan orang jenius yang sudi berteman dengan orang sepertiku. Tidak seperti yeoja dihadapanku ini.”

“yak! Baekhyun! Maksudmu apa?”

“oh, kau merasa? Maaf kalau begitu, yeoja jahat.” Katanya sambil berlalu pergi.

“yak! Baekhyun! Mati kau!”

KRIING! KRIING!

“sudah bel. Aku kekelas dulu ya, Chae Yoon-ah.”

“ne Sehun-ah. Lagipula aku masih ada pekerjaan.”

“pekerjaan apa?”

“membunuh Baekhyun.”

“hahaha, baiklah kalau begitu. Semoga berhasil.”

Disaat aku sedang menghujani kepala Baekhyun dengan jitakan mematikan andalanku, Park Seongsaenim masuk kelas dan menghentikan kegiatanku—menjitak Baekhyun.

“maaf anak-anak. Sebelumnya saya ingin memberitahu bahwa minggu depan sekolah akan mengadakan liburan ke Pulau Nami. Kelompok boleh bebas dan anggotanya boleh dari kelas lain. Dan, harus ada perempuan maupun laki-laki. Info lebih lanjut bisa kalian lihat di mading saat istirahat. Sekarang buka halam 46 dan kerjakan sampai nomor 20.”

“kita harus mengajak Jongin, Sehun, dan Chanyeol! Bagaimana Chae Yoon-ah?”

“terserah kau saja. Asalkan aku tidak sendirian.”

“kalau begitu ajak saja aku!” teriak seorang yeoja yang mampu membuat kupingku dan Baekhyun pengang seketika. Suara cemprengnya ditambah teriakannya yang tepat berada di belakang kami, mampu membuat semua mata—termasuk Park seongsaenim melihat kearah kami.

“ah, mianhae, Park ssaem.” Katanya lagi. Sadar sudah diperhatikan banyak orang.

~000~

“yak! Kau mau kemana?” kata yeoja itu sambil menarik lenganku dan Baekhyun yang hendak ke kantin.

“menurutmu?” jawab Baekhun ketus.

“ke kantin.” Jawabnya lagi polos.

“anak pintar.” Kata Baekhyun sambil melepas tangan yeoja itu dan menarikku ke kantin.

“arrggh! Aku benci yeoja itu!”

“memangnya kenapa? Kelihatannya dia baik.”

“baik apanya? Dengarkan aku Chae Yoon-ah. Dia, Kim Nara, adalah yeoja paling menyebalkan dan aneh seantero dunia. Kau harus percaya padaku.”

“buktinya?”

“buktinya, dia selalu mengejarku padahal orang yang dia suka adalah Jongin. Dia selalu menyatakan perasaannya pada Jongin dengan cara yang benar-benar memalukan dan tentu saja mendapat penolakan dari Jongin. Dia selalu menaruh note yang bertuliskan ‘kau pasti akan menyukaiku suatu hari nanti’ di loker milik Jongin. Dia suka menghayal mirip dengan Taylor Swift dan bermimpi untuk menjadi penyanyi agar nyanyiannya bisa diiringi oleh tarian Jongin. Dia selalu saja mengikuti Jongin jika sedang bersamaku. Tapi anehnya, dia selalu menghindar jika ada Chanyeol. Aneh, kan?”

“yaa, memang aneh, sih. Tapi tidak ada salahnya jika mengajak dia agar sekelompok dengan kita. Aku juga ingin punya teman perempuan.”

“tapi kan—“

“Chae Yoon! Disini!”

Perkataan Baekhyun terpotong karena teriakan Sehun. Segera aku menoleh ke sumber suara dan mendapati sehun juga Chanyeol tengah menghampiri kami dengan sebuah brosur di tangan mereka. Sepertinya mereka habis dari madding. Melihat pengumuman tentang liburan ke Pulau Nami juga mengambil brosur pendaftaran.

Tak lupa ku sunggingkan senyum manis kepunyaanku. Menatap dua namja didepanku secara bergantian. Tapi lebih kearah Chanyeol. Mencoba bersahabat mungkin. Tapi nihil, namja dingin itu malah mengalihkan pandangannya. Seolah muak melihatku karena kejadian kemarin malam.

“ini untukmu. Tulis namamu dan juga kelasmu.” Seketika ucapannya membuyarkan lamunanku. Membuatku kembali ke dunia nyata bahwa sekarang Chanyeol sedang menyodorkan sebuah kertas putih dengan ekspresi dingin kepunyaannya.

“ah, gomawo.”

“jadi, siapa saja anggota kelompok kita?” Baekhyun membuka percakapan seputar liburan. Dan hanya dijawab oleh ekspresi ‘tidak tahu’ dari yang ditanya.

“oh ayolah, Chae Yoon. Kalau kau perempuan sendiri, tidak masalah, kan?” tanyanya lagi. Kali ini mendapat tatapan tajam dariku tentunya.

“sudah kubilang, ajak aku.” Oh, ternyata yeoja itu kembali. Kim Nara. Gadis yang menurut Baekhyun ‘aneh’.

“yak! Sejak kapan kau disini?”

“sejak kapan ya?” balasnya dengan wajah sok berpikir sambil memamerkan aegyo yang menurutku sama sekali tidak imut seperti kebanyakan orang.

“aarrgh! Sudahlah. Hentikan.”

“kau sungguh mau ikut?” tanyaku hanya untuk membuat suasana kembali tenang. Daripada harus mendengar dua manusia bertengkar karena hal kelewat sepele.

“iyap. Sangat sangat mau.”

“baiklah, ayo kita tulis namamu di brosur kelompok ini.”

“mwo?!?! Tidak tidak tidak! Jangan Chae Yoon-ah. Aku tidak mau!”

“aish, kenapa ribut sekali, sih. Sudahlah Baekhyun, tidak apa-apa. Anggap saja dia tidak ada.” Akhirnya pertengkaran yang lumayan sengit itu dibubarkan oleh Sehun.

“Tuhan, tolong kuatkan batinku.”

~000~

Akhirnya hari yang dinanti tiba. Hari dimana aku dan lima temanku akan menginap di Pulau Nami selama seminggu. Apalagi ini musim dingin. Sangat menyenangkan, bukan? Hari ini kami akan berangkat menggunakan bus pukul delapan. Jadi kami harus berkumpul bersama masing-masing kelompok pukul tujuh. Tidak terlalu pagi. Tapi terlalu dingin di pagi musim salju.

Setelah selesai mandi, segera kubuka lemari pakaian dan mulai memilih baju apa yang akan ku kenakan. Setelah sibuk berkutat—atau lebih tepatnya mengobrak-abrik lemari, aku mengenakan celana panjang warna hitam, dengan atasan kaus panjang putih polos, dengan luaran rompi wol yang cukup tebal berwarna-warni dengan motif abstrak. Dan untuk luarannya aku memilih mantel dengan warna senada. Sneakers, syal, dan kupluk warna senada pula. Berlebihan memang, tapi aku tidak kuat dingin. Memang sangat menyebalkan.

Setelah barang-barang yang harus dibawa sudah siap, aku langsung menuju halte bus dengan berjalan sekitar sepuluh menit. Menikmati dinginnya udara pagi seoul saat musim salju. Melihat jalanan kota seoul yang mulai dipenuhi oleh salju yang turun kemarin malam. Serta menunggu lampu untuk pejalan kaki menjadi warna hijau.

Dan sekarang, aku sudah berada di depan gerbang sekolah. Mataku yang sedari tadi sibuk mencari seseorang—atau lebih, mulai lelah karena yang dicari tidak ketemu. Aku mendesahkan nafas berat. Kusenderkan tubuhku yang mulai pegal karena harus menggendong tas yang cukup berat ke tembok disamping gerbang. Kulirik jam tangan yang melingkar manis ditanganku. Jam setengah delapan rupanya. Apa mereka belum datang? Apa mereka berkumpul di suatu tempat? Tapi tidak mungkin, kami sudah janjian untuk berkumpul di depan gerbang sekolah. Jadi, dimana mereka?

Bus yang akan kami tumpangi akhirnya datang tepat jam 07.45. tapi, batang hidung anggota kelompokku belum juga kelihatan. Sampai terdengar suara Do seongsenim yang menyuruh kami untuk berbaris dengan kelompok masing-masing, mereka belum kelihatan. Tuhan, tidak mungkin kan mereka mati disaat yang bersamaan?

Disaat aku sibuk berkutat dengan layar handphone-ku, terdengar suara langkahan kaki seseorang—tidak, lebih tepatnya banyak orang. Apa itu mereka? Karena penasaran, kutengokkan kepalaku menghadap gerbang sekolah. Begitu juga dengan orang-orang yang mendengar langkah kaki itu. Dan ternyata benar saja, di ujung gerbang dapat kulihat seorang namja bertubuh kecil berteriak dengan napas tak beratur.

“maaf kami terlambat!”

Disusul dengan empat orang lainnya tepat di belakang Baekhyun. Terlihat seorang perempuan yang berlari dengan tingkah bodoh dan wajahnya yang pucat, sedang melihat tangannya yang digenggam oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu tetap focus pada penglihatannya—menatap jalanan. Meski rasanya muak ditatap terus menerus oleh perempuan yang tangannya ia genggam agar mau berlari lebih cepat.

Tapi, mataku terpaku saat melihat dia. Tubuhku kaku hanya untuk bergerak seinci. Lidahku kelu hanya untuk menelan ludah. Hanya karena melihat laki-laki yang sekarang sudah berada tepat didepanku dengan napas tak beraturan. Jantungku berdegup sangat cepat kala mata kami bertemu. Ditambah senyumnya yang mampu membuat jantungku meledak. Oh ya, jangan lupakan bahwa ini adalah pertama kalinya aku melihat dia tersenyum dengan wajah penuh keringat yang otomatis membuat rambut dan poninya basah.

“maaf, aku terlambat.”

Ya Tuhan, dia tampan sekali.

“yak. Kau tidak apa-apa, kan?” oh astaga. Dia menyadari jika aku sedang memperhatikannya.

“ah, kenapa kalian terlambat? Tidak tahukah kalian jika aku menunggu kalian sampai rasanya mau jantungan karena kalian tidak kelihatan secara bersamaan?!” langsung kuubah raut wajahku menjadi semarah yang aku bisa. Menyembunyikan rasa malu karena tertangkap basah sedang melamun memperhatikannya.

“ceritanya panjang—ah bukan, sangat panjang.” Kini semua anggota kelompokku melihat kearah Nara. Apalagi Baekhyun yang menjawab dengan tatapan kebencian-yang-amat-dalam.

“baiklah anak-anak, daripada nanti kita terlambat, lebih baik kita berangkat sekarang. Masing-masing kelompok diharapkan menunjuk satu ketua untuk memimpin kelompok, melindungi anggota, dan menjadi tanggung jawab jika terjadi sesuatu pada kelompoknya. Setelah selesai, silahkan naik ke bus dan utamakan perempuan terlebih dahulu. Laki-laki membantu perempuan membawa tasnya. Dan sekarang, selamat berlibur.” Ujar Do seongsaenim yang langsung disambut suka cita oleh semua murid. Selanjutnya, masing-masing kelompok sibuk memilih siapa ketua kelompok, begitu juga dengan kelompokku. Tapi bedanya, jika kelompok lain membicarakannya secara baik-baik, berbanding terbalik dengan kelompokku.

“baiklah, kita adakan votting saja, bagaimana?” usulanku yang ternyata langsung disambut oleh anggukan setuju dari semua anggota. Kecuali satu orang yang menggeleng cepat dan langsung berceloteh ria dengan nada yang sedikit manja—lebih tepatnya menjijikan mungkin.

“tidak, tidak, tidak. Pokoknya, yang jadi ketua harus Jongin Oppa. Iya kan, oppa?” apa? Oppa? Oh mungkin dia ingin mengakhiri hidupnya sekarang dengan berkata seperti itu sambil bergelayut manja di lengan kekar milik Jongin.

Sementara yang melihat hanya memasang ekspresi geli yang seolah berkata ‘astaga Jongin, kalian sangat menjijikan’. Dan yang diperlakukan seperti itu langsung menepis dan menghindar untuk bersembunyi di belakang punggung milik Sehun. Menampilkan tatapan death glare kepunyaannya untuk Nara.

“yak! Apa-apaan kau ini! hentikan perlakuan dan omonganmu Kim Nara! Dan jangan pernah memanggilku oppa karena umur kita sama!”

“apa salahnya memnaggilmu oppa? Sebentar lagi kau akan menjadi namjachingu-ku.” Semua yang mendengar langsung melongo bak sedang dihipnotis, apalagi yang diajak bicara. Serasa dunia sedang menertawakan dirinya Karena disukai oleh yeoja seperti dia. Dan yang bicara seperti itu hanya memasang tampang innocent.

Karena suasana sudah berubah menjadi—ya, kau tahu apa. Segera aku berusaha mengembalikan topic semula. Berdehem sebentar, lalu melanjutkan pembicaraan.

“jadi, siapa yang kau pilih, Jongin-ah?”

“jelas aku pilih yang paling jenius diantara kita.”

“kalau kau?”

“aku ikut Jongin.” Ok, dia kembali seperti semula. Dingin.

“kau? Baekhyun-ah?”

“sudahlah Chae Yoon. Kita sama-sama tahu siapa yang akan jadi ketua.” Cibir Baekhyun sambil melirik mengejek kearah sehun. Sementara yang dilirik malah menamplkan wajah ‘ada apa? Aku?’.

“baiklah, ayo kita naik bus!”

Selama diperjalanan, kami menghabiskan waktu untuk bercanda, mengobrol, bahkan bergosip tentang Kyungsoo. Namja yang kejeniusannya jauh diatas rata-rata. Bahkan jauh melebihi Sehun. Yang digosipkan mempermalukan keluarga Do hanya untuk melepaskan hasrat yang bersarang di pikiran kotornya. Menghamili yeoja polos dibawah umur yang mempunya badan—kau tahu apa maksudku, dan pergi tanpa kata maaf setelah melakukan perbuatan bejatnya. Keluarga sang yeoja jelas tak terima. Mereka mengadukan Kyungsoo ke pengadilan, namun ayah Kyungsoo yang notabene adalah pengusaha kaya raya dengan segudang keangkuhan yang rela mengorbankan apapun asalkan harga dirinya tidak dipandang rendah dimata orang lain, memberikan uang sebanyak yang dia punya kepada keluarga sang yeoja yang ternyata hanya keluarga seorang petani desa untuk mencabut tuntutannya. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Sekarang Kyungsoo sudah mendekam di penjara, dengan perjanjian bahwa anak sang yeoja dan Kyungsoo akan dipenuhi kebutuhannya sampai lulus kuliah. Dan sekarang, ayah Kyungsoo mungkin sedang menangis meratapi nasib bahwa dunia sudah memandang rendah dirinya. Perusahaannya menurun begitu drastis. Banyak karyawan yang berhenti dan memilih untuk bekerja di tempat lain, daripada harus luntang-lantung di kantor dengan bayarang kecil.

“tapi, kalau boleh jujur, aku kasihan padanya.”

“biarkan saja dia seperti itu! Sewaktu sekolah dia juga tidak pernah meminjamiku PR. Hanya dengan berkata ‘dasar bodoh. Begini saja kau tak bisa?’ dia selalu berkata seperti itu saat aku ingin meminjam PR-nya.” Jelas Baekhyun dengan berapi-api. Merasa dendamnya terbalaskan Karena sekarang giliran dia yang bisa tertawa di atas penderitaan Kyungsoo.

“sudahlah tidak usah dipikirkan. Bagaimana kalau sekarang kita menyusun kegiatan untuk liburan nanti?” usul Sehun seraya mengeluarkan note dan pulpen dari tasnya.

“pokoknya aku ingin makan marshmellow di depan api unggun.”

“kebiasaanmu masih sama saja, Chae Yoon-ah.” Usapan lembut sukses mendarat dikepalaku kala Sehun melakukannya.

Sesampainya disana, kami langsung meminta kunci kamar karena badan kami serasa mau patah karena harus duduk di bus lumayan lama.

“kenapa Cuma satu?!” pekikan Baekhyun mampu membuat kami semua bergidik ngeri kala melihat raut wajah namja itu—mengerikan.

“ya, kata Kim seongsaenim tiap kelompok satu kamar. Tapi tenang saja. Ada pembatas antara laki-laki-dan perempuan.” Kini giliran sang pemimpin kelompok yang menenangkan.

“astaga, mimpi apa aku semalam? Kenapa aku harus sekamar dengan yeoja gila seperti dia?” curhat Jongin yang terdengar seperti rengekan.

“gwenchana, Jongin-ah. Anggap saja aku tidak ada. Dengan melihat wajahmu saja aku sudah bahagia.”

~000~

Malam hari sudah menyapa langit Pulau Nami. Kami semua sekarang sedang berkumul di tanah lapang yang indah jika dilihat saat terang. Bernyanyi sambil bersenda gurau di depan api unggun. Setiap kelompok harus menampilkan sesuatu yang menarik. Bisa dibilang, ini adalah sebuah perlombaan.

“apa yang akan kita tampilkan?” celetukan Baekhyun mampu membuat seluruh raut wajah kami berubah menjadi ‘apa ya?’.

“aha! Bagaimana jika Chanyeol bermain gitar dan… siapa yang bisa bernyanyi disni?”

“Chae Yoon bisa!”

“yak! Sehun! Aku tidak bisa! Apa-apaan kau ini!”

“kenapa? Dulu saat kita mau tidur kau selalu bernyanyi agar aku cepat tidur, bukan?”

“itu kan dulu. Jauh berbeda dengan sekarang.”

“menurutku kau sama saja.” Kalau ditanya apa kelemahanku, bisa dipastikan adalah senyum teduh Sehun. Senyumannya selalu mampu membuatku percaya dan menuruti perintahnya. Dan sialnya, sekarang dia sedang mengeluarkan senjata andalannya itu.

Menghela napas panjang dan agak kasar, aku melanjutkan, “baiklah, aku mau.”

“bagus! Baiklah, mungkin sekarang—.”

“ok, sekarang kita harus melihat penampilan dari kelompok  di bawah pimpinan Oh Sehun!” semua orang sekarang sukses membuat suara gaduh. Pasalnya, kelompokku yang memang beranggotakan ‘namja populer’ sebentar lagi akan melakukan pertunjukan. Yang mana, bagus tidaknya tidak akan bepengaruh pada suara gaduh yang ditimbulkan oleh para yeoja. Mereka hanya sibuk berteriak karena terpana melihat penampilan namja itu—kau tahu siapa.

Segera kulangkahkan kakiku menuju tempat duduk yang disediakan khusus oleh panitia, diikuti Chanyeol yang sedang sibuk mengatur kunci gitarnya. Jantungku berdegup kencang, kala semua mata sedang menatap kearah kami. Kulihat Sehun disana, yang sedang mengepalkan tangannya diudara dan berteriak ‘fighting!’ ke arah kami.

“kau siap?”

“iya, ayo kita mulai.”

 

TBC

 

Waah, maaf ya kalo yang ini nggak jelas. Ini terakhir bagian CHAE YOON POV. Selanjutnya bakal masuk ke inti cerita. Dan  pake AUTHOR POV. Maaf banget kalo kalian kecewa sama chapter yang ini. Selanjutnya aku usahain yang terbaik.

Hope you like it! Sorry for typos, and thank you for reading my fanfic! See you soon, guys! Bye, bye~~

-istri Sehun, tunangan Chanyeol-

 

 

 

 

One thought on “First Love – chapter 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s