The Pain Of Love

The Pain Of Love

The Pain Of Love

Disclaimer :

Fanfiction ini murni dari otak author sendiri! Tanpa campur tangan siapapun!

No Plagiat! Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, trims ^^

Author :

Littlechick / Sherly Irawati

(www.sherlyirawati99.wordpress.com)

Cover by :

Littlechick / Sherly Irawati

Cast :

Oh Sehun

Kim Yeri

Other Cast:

Park Hana

Han Seulgi

(selebihnya bisa ditemukan dalam cerita)

Genre : Hurt, Angst, Romance, Friendship, School Life

Length: One-Shoot

Rating : PG-15

Summary :

“When you know what love is, then you know what pain is as well.”

-Happy Reading-

 

Seorang gadis berusia 19 tahun itu kini sedang memperhatikan layar laptopnya. Jurusan yang gadis itu ambil adalah Jurusan Sastra. Impiannya adalah untuk menjadi seorang penulis yang dapat mengambil hati para pembacanya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi gadis itu tetap berkutat dengan laptopnya. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar gadis itu. Seketika gadis itu menutup layar laptopnya dan menoleh kearah pria yang masuk kedalam kamarnya itu.

 

“YA! OH SEHUN! Kau masuk ke kamar wanita seenak jidatmu!”

“Toh kita sudah sering bersama. Sembilan belas tahun apa masih kurang?”

“Cih! Kau mengganggu konsentrasiku saja.”

“Entah kenapa aku merasa ceritamu itu tidak selesai-selesai.”

“Itu karena kau selalu mengganggu konsentrasiku Oh Sehun!”

“Apa karya seorang Kim Yeri akan terkenal nantinya? Sulit dipercaya.”

“YA!!!”

 

Orang tua mereka saling bersahabat sehingga anak-anak mereka pun saling bersahabat. Kim Yeri dan Oh Sehun sudah bersama sejak mereka lahir. Sehun selalu menemani Yeri, bahkan Sehun tahu kalau Yeri ada penggila novel. Setiap minggu Yeri selalu mengajak Sehun untuk menemaninya membeli novel terbaru.

 

Bagi Yeri, novel adalah perasaan dari penulis yang tak dapat diungkapkan secara langsung. Maka dari itu ia ingin menjadi seorang penulis yang menginspirasi banyak orang bahwa sebenarnya kehidupan itu tidaklah sepenuhnya indah.

 

Yeri sedang menulis apa yang ada di pikirannya di sebuah buku pada saat jam istirahat. Jam istirahatnya ia habiskan hanya di dalam kelas. Han Seulgi, sahabatnya selalu membawakan minuman atau makanan ringan untuk Yeri.

 

“Apa yang sedang kau tulis?”

“Entahlah…. Mungkin perasaanku saat ini.”

“Kau jatuh cinta?”

“Tidak bisa di bilang seperti itu juga sih.”

“Kau bahkan mempunyai banyak bahan untuk dijadikan sebuah cerita.”

“Yeri-ya,” lanjut Seulgi.

“Apa?”

“Oh Sehun akhirnya menembakku! Aku tak tahu kalau perasaanku terbalaskan.”

 

‘Sehun bahkan tidak pernah menceritakan tentang perasaannya padaku. Dan kenapa hatiku sakit. Sehun bahkan lebih memilih Seulgi daripada dirinya.’

 

“Yeri-ya.” Seulgi menyadarkan Yeri dari lamunannya.

“Ah selamat Seulgi-ah! Perjuanganmu selama ini tidak sia-sia.”

“Gomawo…. Aku tak menyangka sahabat kecilmu bisa mencintai seseorang sepertiku. “

“Siapapun bisa mencintaimu, termasuk kekasihmu itu.” Yeri hanya tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan untuk tersenyum.

 

Yeri sendiri tidak tahu kalau ia mencintai sahabatnya sendiri. Dan bodohnya ia berpikir bahwa Sehun juga mencintainya. Ternyata 19 tahun pun masih kurang untuk membuat Oh Sehun jatuh cinta pada dirinya. Tapi kenapa harus Seulgi? Kenapa harus sahabatnya sendiri? Yeri dan Sehun selalu pulang kuliah bersama. Keadaan sangat sunyi di dalam mobil Sehun.

 

“Kim Yeri?” Sehun membuyarkan lamunan Yeri.

“Ah ne?”

“Apa yang sedang kau pikirkan? Tumben sekali kau menjadi pendiam. Biasanya kau akan memintaku pergi ke suatu tempat.”

“Ah tidak apa-apa. Hanya memikirkan bagaimana kelanjutan cerita yang harus kubuat. YA! Oh Sehun kau bodoh atau bagaimana? Sekarang kau sudah memiliki kekasih. Seharusnya kau sedang pergi bersama Seulgi.”

 

‘Aku memikirkanmu Oh Sehun bodoh!’

“Kau sepertinya perlu ke psikiater karena cerita-cerita karanganmu itu. Kau menyuruhku pergi dengan Seulgi sedangkan aku harus mengantarmu pulang!”

“Cih dasar tak ikhlas!”

 

Setelah mengantar Yeri pulang, mobil Sehun berbalik arah. Yeri sudah menduga bahwa Sehun akan mengajak Seulgi pergi. Sepertinya ia harus membiasakan diri tanpa seorang Sehun. Ia membanting tubuhnya pada sebuah sofa.

 

“Kim Yeri! Kau makan siang dulu!”

“Aku sedang tidak mood eomma….” Ny. Jung memperhatikan anaknya yang sepertinya memang tidak dalam kondisi yang baik.

“Kau kenapa eoh?”

“Aku jatuh cinta eomma.”

“Mwo? Apa eomma salah dengar?”

“Aku serius!!”

“Ah arraseo…. Kau jatuh cinta dengan siapa?”

“Dengan sahabatku sendiri. Oh Sehun.”

“Lalu kenapa kau lesu seperti itu?”

“Dia sudah bersama Seulgi sekarang. Kenapa harus Seulgi! Kenapa harus sahabatku juga!”

“Sepertinya bagus untuk dijadikan sebuah cerita pada novelmu.”

“Eomma…. Aku sedang serius.”

“Ah ne eomma!” lanjut Yeri.

“Apa?”

“Bolehkah saat aku semester enam pindah ke Amerika?”

“Lalu bagaimana dengan novelmu? Apa kau tidak ingin menerbitkannya?”

“Tentu saja aku mau! Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku. Aku akan mengirimkan karyaku pada penerbit sebelum aku berangkat ke Amerika.”

“Apa alasanmu ingin bersekolah di Amerika?”

“Alasanku? Sepertinya aku belum mengarang alasan yang bagus,” ucap Yeri dengan bercanda. Sedangkan Ny. Jung hanya berdecak melihat tingkah putrinya.

 

Alasan? Yeri sendiri tidak tahu apa alasannya untuk pindah sekolah ke Amerika. Yeri kembali mengetik kelanjutan novelnya. Biasanya saat ia sedang mengetik, Sehun selalu datang dan mengganggu konsentrasinya. Tapi hari ini berbeda. Yeri merasa kesepian. Ia harus terbiasa dengan keberadaan Sehun.

 

‘Kau terlalu mengharapkannya bodoh!’

 

*

*

*

*

Pagi-pagi sekali Yeri sudah bangun. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi kuliah. Hari ini Yeri memiliki jadwal kuliah pagi. Bahkan sangat pagi. Ia meraih kunci mobilnya dan mengendarainya. Hari ini ia akan membiasakan diri tanpa Oh Sehun dan juga tanpa Seulgi. Semester lima sudah tiba. Dimana para mahasiswa akan memilih jalur dari jurusannya tersebut. Seulgi memilih jalur sastra umum sedangkan Yeri memilih sastra Inggris. Ia sudah cukup memahami sastra Korea sehingga ia memilih sastra Inggris untuk dipelajari selanjutnya.

 

Ia hanya duduk dan melamun. Hingga sebuah suara menyadarkan Yeri dari lamunannya.

 

“Anyeong Kim Yeri.” Yeri menatap gadis culun yang sedang mengajaknya bicara.

“Kau Park Hana?” Gadis culun itu hanya menganggukan kepala.

“Ada apa? Tumben sekali kau menyapaku.”

“Eumm…. Itu karena kau selalu bersama dengan Seulgi atau Sehun.”

“Ah mian. Kau benar.”

“Aku hanya ingin menyadarkan kau yang sedari tadi sedang melamun.”

“Ah gomawo….” Hana hanya tersenyum.

“Bisakah kita menjadi teman sekarang?” tanya Hana dengan ragu-ragu.

“Tentu saja Hana.” Yeri tersenyum kearah Hana.

“Tapi apa alasanmu ingin berteman denganku?”

“Eum? Itu karena kau mau berbicara denganku. Selain itu….”

“Selain itu?”

“Kau sepertinya memiliki banyak masalah. Kau hanya melamun daritadi, aku rasa kau butuh teman untuk berbagi. Aku tahu kau kesepian karena jadwalmu terpisah dengan Seulgi.” Yeri hanya tersenyum sinis.

“Selain itu aku juga akan pindah semester depan.”

“Kemana?”

“Amerika. Sebelumnya aku akan mengirimkan karyaku pada sebuah penerbit. Kau jangan lupa membelinya nanti ya.”

“Tentu saja. Yeri-ah?”

“Ne? Apa ada masalah?”

“Bisakah kau mengajariku cara berdandan?”

“Kau sedang jatuh cinta?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena wanita akan melakukan apapun saat ia sedang jatuh cinta. Termasuk tipe orang sepertimu. Aku akan mengajarimu.Pulanglah bersamaku.”

“Gomawo….”

 

Sepertinya Yeri tidak akan kesepian. Hanya saja ia takut jika Hana akan menyakitinya juga. Tapi ia berusaha untuk berpikir positif. Ia akan menambahkan tokoh Hana pada karyanya. Yeri pulang bersama Hana. Ia berpas-pasan dengan Seulgi dan Sehun. Saat Seulgi dan Sehun akan menyapanya, Yeri berjalan melewati mereka. Hatinya berusaha menahan sakit. Hana hanya mengikuti Yeri dari belakang dan melihat sikap Yeri terhadap Seulgi dan Sehun.

 

Hanya keheningan yang memenuhi mobil Yeri. Hana ingin berbicara tapi ia takut membuat Yeri marah. Saat sampai di rumah, Yeri langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Hana mengucapkan salam pada Ny. Kim.

 

“Anyeong Ahjumma,” sapa Hana manis sambil membungkukan badannya.

“Sepertinya wajahmu tidak asing.”

“Aku Park Hana Ahjumma.”

“Omo! Bagaimana kau bisa bertemu dengan Yeri lagi?”

“Hobi kita membuat kita bertemu kembali. Tapi Yeri sama sekali tidak mengingatku.”

“Nanti ia akan mengingatmu kembali. Dia sedang patah hati.”

“Park Hana.” Yeri memanggil Hana yang sedang asik berbicara dengan eommanya.

“Ah ne. Aku akan naik sekarang.” Ia membungkukan badan pada Ny. Kim lalu berjalan menuju kamar Yeri.

 

Yeri benar-benar mengajarinya cara berdandan. Wajahnya kini benar-benar berubah. Tapi perubahannya itu membuat Yeri seperti mengenali wajahnya.

 

“Wajahmu tidak asing bagiku.”

“Apa kau hanya mengingatku sebagai Nana saja?” tanya Hana ragu-ragu.

“YA!! Kau benar-benar Nana?” Yeri masih tidak percaya kalau sahabatnya itu sekarang bersama dengannya lagi.

“Nana yang selalu muncul saat kau bertengkar dengan Sehun. Sepertinya kejadian saat awal kita bertemu terulang kembali. Kau mencintai Sehun kan? Dan kau sedang menghindarinya karena kau melihat Sehun berpacaran dengan Seulgi, sahabatmu sendiri.”

“Kau itu selalu lari dari kenyataan,” lanjut Hana. Yeri memeluk Hana sambil menangis.

“Sebelum membahas Sehun, aku ingin bertanya padamu. Selama ini kau kemana?”

“Aku? Maaf aku meninggalkanmu. Padahal kita baru bersahabat 1 minggu. Saat itu aku pindah ke Jepang. Perusahaan appaku kan berada di Jepang. Karena usiaku masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian di Korea, jadi eomma sama appa membawaku ke Jepang. Saat lulus SMA aku meminta eomma sama appa untuk membiarkanku tinggal di Korea. Mereka mengijinkanku dan sekarang aku tinggal bersama Lee ahjumma.”

“Lalu apa yang membuatmu culun seperti ini eoh?!”

“Itu karena aku patah hati. Sudahlah lupakan. Aku sudah membuang jauh-jauh pria itu dari hatiku. Dan kau melamunkan Sehun saat pagi tadi?”

“Heum….”

 

Tok… Tok… Tok…

 

“Permisi Nona.”

“Ne Han ahjumma. Ada apa?”

“Sehun mencarimu.”

“Ne?” Yeri menatap Hana.

“Temui dia. Aku pulang dulu. Ini sudah jam 5 sore. Eomma akan datang ke apartemenku jam 7. Jadi aku harus pulang. Anyeong,” ucap Hana berlalu. Ia juga membungkukan badan pada Ny. Kim dan juga Sehun. Yeri akan mengejar Hana tapi ia ditahan oleh Sehun. Sehun mengajaknya pergi ke suatu tempat.

 

“Temani aku mencari hadiah untuk Seulgi.”

“Ne?”

“YA! Apa kau lupa dengan ulang tahun sahabatmu sendiri?”

“Ah iya lusa!”

“Apa kau ada masalah?”

“Tidak.”

“Aku sahabatmu! Setidaknya kau menceritakannya padaku.”

“Aku sudah menceritakan pada sahabatku, Hana. Dan kau juga tidak menceritakan padaku kalau kau menyukai Seulgi.”

“Hana? Itu karena aku tidak mau kau mengatakan hal aneh pada Seulgi.”

“Yap! Dia juga sahabatku waktu kecil selain kau. Cih.”

“Terserah kau saja.”

 

‘Dia bahkan tak peduli denganku sekarang cih.’

 

Yeri menemani Sehun yang memilih kalung untuk Seulgi. Yeri melihat ke bagian gelang. Ia memilih gelang dengan hiasan bintang untuk Seulgi. Ia juga memilih sebuah gelang dengan hiasan hati untuk Hana. Ia pun membayar apa yang ia pilih tadi. Sehun juga sudah selesai memilih. Ia berjalan menuju sebuah toko yang membuat miniatur dari clay. Ia memesan sebuah miniatur dirinya dan Sehun. Ia akan mengambilnya minggu depan. Setelah selesai, Sehun menawarkan Yeri ke suatu tempat. Tapi Yeri menolaknya.

 

“Aku ada kuliah pagi Sehun. Bahkan jauh lebih pagi dari kalian.”

“Baiklah. Kita pulang.”

 

Saat sudah sampai, Yeri menitipkan sesuatu pada Sehun.

 

“Bisa kau titipkan bungkusan ini pada Seulgi? Pastikan dia membaca pesannya juga.”

“Kenapa kau tidak memberikan pada orangnya secara langsung?”

“Jadwalku terlalu padat. Aku bahkan harus menyelesaikan ceritaku sebelum semester 6.”

“Ah selain itu. Jangan lupa untuk menjemput dan mengantar Seulgi pulang,” lanjut Yeri.

“Apa kau inginku jemput besok?”

“Gomawo. Tapi kau sudah tidak perlu melakukan itu mulai besok. Aku selalu pulang bersama Hana. Aku membawa mobil sendiri dan juga aku akan pulang lebih sore. Anyeong.” Yeri pun meninggalkan Sehun yang hanya melihatnya dengan bingung.

 

Yeri menghindar dari Sehun dan juga Seulgi. Setiap Sehun mendatangi rumahnya, Yeri selalu berkata ia tidak ingin di ganggu. Saat Seulgi ingin berbicara Yeri selalu mengatakan berbagai alasan. Seulgi bahkan belum membuka bungkusan yang Yeri berikan padanya melalui Sehun.

 

Saat Hana sedang menuruni tangga tiba-tiba Seulgi melewatinya dan tidak sengaja menabraknya. Hana yang kehilangan keseimbangan pun jatuh dan tak sadarkan diri. Yeri yang sedang mencari Hana melihat ada kerumunan mahasiswa disana. Ia melihat ada Seulgi dan juga Sehun. Saat ia melihat siapa yang jatuh, ia langsung berlari menuju ketempat dimana Hana terjatuh. Ia melihat Seulgi yang sedang menangis. Mata Yeri menatap Seulgi dengan tajam.

 

“Kenapa Hana bisa seperti ini?!”

“Maaf Yeri-ya… Aku tidak sengaja menabraknya,” ucap Seulgi sambil menangis.

“Kau lihat sekarang Hana tak sadarkan diri karena kau!” Seulgi tersentak saat Yeri membentaknya. Sehun juga terkejut melihat Yeri yang seperti ini.

“Kim Yeri! Bagaimana bisa kau membentak sahabatmu sendiri eoh?!” Yeri hanya menatap Sehun dengan raut kebencian. Ia benci saat Sehun tidak bersikap adil seperti ini. Semua yang ada disana mengerti perasaan Yeri. Yeri terkenal cukup ramah walaupun jarang berinteraksi dengan mereka.

“Tolong bantu aku membawanya ke mobilku,” ucap Yeri meminta tolong pada yang lain.

 

Yeri hanya memandangi Hana yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Tanpa terasa air matanya terjatuh. Ia mengingat kembali saat Sehun jauh membela kekasihnya dibandingkan dengan sahabatnya. Tiba-tiba jari-jari Hana mulai bergerak. Matanya mulai membuka secara perlahan. Mata Hana menangkap sosok Yeri yang tengah menangis.

 

“Yeri-ya…,” sontak Yeri langsung melihat kearah Hana yang kini sudah sadar. Yeri langsung menekan tombol yang ada di tembok rumah sakit itu. Dalam beberapa saat, seorang dokter dan seorang suster datang dan memeriksa keadaan Hana.

“Keadaannya baik-baik saja, hanya perlu istirahat yang banyak. Ia sudah bisa pulang 2 hari kedepan.”

“Ah ne terima kasih.” Dokter beserta suster itu pun keluar.

“Lee ahjumma sedang dalam perjalanan kesini.”

“Ah ne…. Gomawo.”

“Untuk apa?”

“Karena kau peduli dan sudah membawaku kesini. Dan meninggalkan kelas untuk menemaniku disini.”

“Aku juga berterima kasih padamu karena mau menjadi sahabatku dan pendengar yang baik.”

“Kenapa kau menangis Yeri-ah?”

“Ah tidak apa-apa kok.”

“Bohong. Kau tidak bisa membohongiku Kim Yeri.”

“Mian. Hanya saja sikap Sehun membuatku sakit.”

“Lupakan dia.”

“Ne?”

“Kau hanya akan merasakan sakit jika kau mengingatnya terus-terusan.”

“Pulanglah…. Selesaikan novelmu dan beristirahatlah. Aku akan merindukanmu,” lanjut Hana.

“Maaf aku tidak bisa menemanimu besok dan mungkin beberapa tahun kedepan. Tapi aku akan berusaha untuk terus menghubungimu. Ah iya. Ige.” Yeri memberikan sebuah kotak yang berisikan gelang yang ia beli saat menemani Sehun.

“Apa ini?”

“Sebuah gelang. Pakailah gelang itu. Mungkin dengan gelang itu kau akan selalu mengingatku.”

“Tentu saja. Gomawo.”

“Ne…. Aku akan menunggumu sampai Lee ahjumma datang.”

 

Beberapa saat akhirnya Lee ahjumma datang. Lee ahjumma berterima kasih pada Yeri. Kemudian Yeri memeluk Hana dan menangis. Ia tidak tahu kalau ia akan meninggalkan sahabatnya yang sedang sakit.

 

“Kita pasti bertemu lagi. Anyeong.”

 

Yeri pun meninggalkan Hana yang masih menangis karena Yeri akan pergi ke Amerika besok. Sebelum pulang, Yeri mampir ke toko miniatur itu untuk mengambil pesanannya. Kemudian ia menuliskan beberapa pesan. Miniatur itu untuk Sehun. Ia mengendarai mobilnya tepat di depan kediaman Sehun. Ia menitipkan miniatur itu pada seorang satpam yang menjaga kediaman keluarga Oh. Yeri pun mengendarai mobilnya kembali menuju rumahnya. Ia melanjutkan ceritanya. Kini cerita itu sudah selesai dan tinggal ia terbitkan. Tapi ia merubah pikirannya. Ia hanya mengirimkan ceritanya itu pada email Hana. Dan ia menuliskan beberapa pesan.

 

Dear, Hana.

 

Aku harap kau membacanya. Aku tidak bisa menerbitkannya. Jadi aku hanya ingin kau membacanya. Aku harap novelku ini bisa menemani hari-harimu yang membosankan di rumah sakit.

 

Yeri pun menekan tombol send.

 

Hari keberangkatannya pun tiba. Ia benar-benar akan meninggalkan Seoul. Ia akan melupakan segala kenangannya bersama Sehun.

 

To : Hana

Aku boarding sekarang! Jangan lupa buka emailku^^ Anyeong~

 

Sent.

 

*

*

*

*

 

Tring~

 

Suara ponsel Hana berbunyi. Hana pun membukanya.

 

From : Yeri

Aku boarding sekarang! Jangan lupa buka emailku^^ Anyeong~

 

Email? Seketika Hana mengambil laptopnya dan membuka emailnya. Ada satu pesan masuk yang berasal dari Yeri. Hana pun membukanya. Betapa terkejutnya Hana membaca penuturan Yeri.

 

Dear, Hana.

 

Aku harap kau membacanya. Aku tidak bisa menerbitkannya. Jadi aku hanya ingin kau membacanya. Aku harap novelku ini bisa menemani hari-harimu yang membosankan di rumah sakit.

 

‘Bagaimana bisa dia tidak menerbitkan novelnya padahal dia selalu menghabiskan waktunya untuk mengarang.’

 

“Ahjumma….”

“Bisakah aku pulang hari ini?” lanjut Hana.

“Dokter tidak mengijinkanmu.”

 

Tok… Tok…

 

Lee ahjumma pun membuka pintu kamar rumah sakit itu. Hana mendapati Seulgi dan Sehun sedang berjalan kearahnya.

 

“Maafkan aku Hana,” ucap Seulgi sambil menangis.

“Aku tak apa-apa kok. Ah apa kau sudah membuka kotak yang diberikan Yeri?”

“Aku sudah membukanya. Sekarang ia dimana?”

“Di dalam pesawat.”

“Maksudmu?” tanya Sehun.

“Dia berangkat ke Amerika pagi ini.” Seulgi dan Sehun terkejut. Pantas saja Yeri menuliskan bahwa ia tidak bisa bersama dengan mereka berdua lagi.

“Aku bahkan belum meminta maaf padanya,” ucap Sehun penuh penyesalan.

“Apa yang kau lakukan padanya?”

“Aku membentaknya saat ia membentak Seulgi. Pada saat kau jatuh dan tak sadarkan diri.”

“Pantas saja ia menangis saat menemaniku.”

“Dia hanya belum bisa mengontrol emosinya saat bersamamu Sehun-sshi,” lanjut Hana lagi.

“Kau bahkan jauh lebih mengerti Yeri dari pada aku Hana-sshi,” ucap Seulgi.

“Karena keadaannya sama saat aku bertemu dengannya pertama kali.”

“Maksudmu?” ucap Sehun dan Seulgi nyaris bersama.

“Kau akan tahu nanti saat aku akan menerbitkan novel karangan Yeri. Jadi aku tak berniat untuk memberi tahu kalian sekarang.”

“Bukankah dia akan menerbitkannya?”

“Dia mengurungkan niatnya. Tapi aku tak ingin usahanya sia-sia. Aku akan menerbitkannya saat aku keluar dari rumah sakit ini. Aku bahkan tidak bisa menemaninya ke bandara.” Kini bulir-bulir air mata jatuh dari mata Hana. Seulgi juga menangis. Ia bahkan tak pernah bersama dengan Yeri lagi.

“Dan kalian akan tahu alasan Yeri menghindari kalian.”

*

*

*

*

 

Sudah lima tahun semenjak Yeri meninggalkan Korea. Bahkan ia terlalu sibuk dengan hobi barunya hingga ia hanya menghubungi Hana sekali dua kali melalui sebuah aplikasi bernama Line. Setelah pindah ke Amerika, Yeri belajar menjadi seorang fashion designer. Brand-nya pun cukup terkenal hingga Korea. Angela Sugar adalah fashion brand rancangan Kim Yeri. Kini ia akan menginjakan kaki lagi pada Negara kelahirannya, Korea Selatan. Ia mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan para fashion designer terkenal se-Korea Selatan.

 

“Kim Yeri!” Yeri langsung melihat ke arah pemilik suara.

“Park Hana!” Yeri lari kepelukan Hana.

“Kau belum memberiku alasan kenapa kau kembali. Kim Yeri answer me!”

I comeback as the founder of Angela Sugar*.”

“Kau benar-benar wanita sukses! Bahkan karya buatanmu menjadi buku best seller di toko buku.”

“Aku bahkan belum menerbitkannya.”

“Kau tidak pernah membuka emailmu sama sekali?”

“Aku terlalu sibuk dengan fashion brand-ku.”

“Kau benar-benar! Pantas saja tak pernah ada fanmeeting dengan penulis buku The Pain Of Love.”

“Aku yang menerbitkannya Yeri-ah. Sekitar tiga tahun yang lalu,” lanjut Hana.

“YA!! Kau benar-benar.”

 

Akhirnya mereka mengangkat kaki dari bandara itu. Yeri meminta Hana untuk mengantarnya sesuai dengan alamat yang diberikan. Mereka pun sampai didepan sebuah rumah yang cukup besar.

 

“Yeri-ah.”

“Kita bicara didalam saja.”

“Ah ne….”

 

*

*

*

*

 

“Park Hana kau mengajakku kemana?Bukankah kau sudah tahu bahwa aku–” Hana menarik Yeri untuk masuk ke sebuah restoran.

“Seseorang ingin bertemu denganmu. Tenanglah, biar mereka aku yang urus. Aku akan mengajaknya kesini tepat waktu. Sekalian kita makan bersama.” Hana memutuskan kata-kata Yeri. Yeri hanya menghela nafas kesal.

“Chaaa… Kau duduk disini. Sebentar lagi ia akan datang. Ia yang memaksaku untuk mengajakmu kesini. Aku tinggal dulu ya. Anyeong,” ucap Hana. Hana berlalu pergi untuk menjemput seseorang.

“YA!!”

“Kim Yeri-sshi?” ucap seorang pria yang menggunakan masker dan kacamata hitam sontak membuat Yeri terkejut.

“Bolehkah aku meminta tanda tanganmu di novel ini?” Pria itu memberikan Yeri sebuah novel dan sebuah ball point. Novel itu adalah novel karangan Yeri. Dengan senang hati Yeri memberikan sebuah tanda tangan di buku itu.”

“Rasa sakit juga bisa datang karena cinta ya? Bahkan sampai saat ini aku merasa menyesal pada wanita yang menulis cerita ini?” Pria itu kemudian membuka masker dan kacamata hitamnya. Yeri terkejut melihat pria yang berada di depannya itu.

“Oh Sehun.”

“Mian. Aku sudah membentakmu, mengabaikanmu, dan menyakiti hatimu. Sembilan belas tahun waktu yang cukup lama untuk saling mencintai, tapi maaf aku tidak menyadari kalau kau mencintaiku.”

“Sudahlah Sehun. Tidak ada yang perlu disalahkan lagi,” ucap Yeri.

“Karanganmu sangat indah. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa kita sudah bersahabat selama itu.”

“Kita akan tetap bersahabat Sehun-ah.”

“Sembilan belas tahun kita sudah saling mengenal dan selalu bersama. Apakah aku tidak bisa menjadi lebih dari seorang sahabat?” tanya Sehun.

“Bukankah kita sudah bahagia dengan jalan kita masing-masing? Kau bersama Seulgi dan aku–“

“Aku putus dengan Seulgi. Ternyata perasaan kami tidak lebih dari seorang sahabat.”

“Tapi tetap saja aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

 

Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan suasana canggung dari Sehun dan Yeri.

 

“Maaa… Maaa…” Seorang anak perempuan yang masih kecil berjalan ke arah Yeri. Seorang pria yang cukup tinggi berjalan bersama Hana menuju meja Sehun dan Yeri.

“Kau ingin tahu alasannya? Aku sudah menikah dan aku sudah memiliki seorang anak.”

“Kenalkan suamiku Sehun-ah. Dia adalah Park Chanyeol. CEO dari Park Corporation. Dan anak perempuanku, Park Nari. Aku dan Chanyeol menikah empat tahun yang lalu, setahun kemudian kami di berikan sebuah momongan. Kini Nari sudah berusia satu setengah tahun.” Sehun hanya tersenyum sinis.

“Jadi kau sudah berbahagia semenjak pindah ke Amerika.”

“ Bukan hanya bahagia, tapi aku menemukan profesiku yang sesungguhnya. Aku menjadi seorang fashion designer dengan brandAngela Sugar’.”

“Aku harap kita tetap bersahabat Sehun-ah. Dan juga kau Hana-ya,” lanjut Yeri.

“Tentu saja Yeri-ah,” ucap Hana dan Sehun nyaris bersamaan. Yeri kini berada di sebelah suaminya yang sedang menggendong anaknya.

 

Sehun hanya bisa merelakan Yeri. Merelakan sahabat kecilnya bahagia dengan orang lain. Membiarkannya menikmati kebahagiaannya dengan keluarga kecil yang ia miliki. Sehun sudah cukup menyakiti hati Yeri selama ini. Andai saja ia menyadarinya dari awal. Mungkin saja Yeri sudah menjadi miliknya. Tapi takdir berkata lain. Ia bahagia bukan bersama dirinya melainkan bersama orang lain.

 

The Pain Of Love adalah buku karangan Yeri yang dibuat sesuai dengan kehidupan yang selama ini Yeri jalani. Bagaimana perasaannya terhadap Sehun dan juga bagaimana ia menemukan sahabat terbaiknya, Park Hana. Buku itu juga menceritakan rasa sakit yang selama ini Yeri rasakan saat mengetahui Sehun menjalin hubungan bersama Seulgi. Dan buku itu juga menceritakan bagaimana bahagianya Kim Yeri bersahabat dan menghabiskan waktu bersama Sehun. Tapi kini buku itu hanya sebuah masa lalu yang pahit. Masa lalu yang menyakitkan hanya karena cinta. Lembaran baru itu mungkin saja tidak tertulis tapi lembaran baru itu membuat kebahagiaan Yeri yang sebenarnya terwujudkan.

 

‘Aku mencintaimu Kim Yeri. Semoga kau bahagia.’

‘Aku juga masih sedikit mencintaimu Oh Sehun. Terima kasih kenangan manis yang pernah kau berikan selama ini.’

-The Pain Of Love End-

*Angela Sugar : ini adalah salah satu brand fashion yang ada pada sebuah anime berjudul Aikatsu! ^^ Karena namanya imut makanya aku tertarik menggunakannya sebagai nama brand fashionnya Yeri.

5 thoughts on “The Pain Of Love

  1. aaaah….nyesek….
    mewek gue,, kirain bkalan happy end dgn sehun.
    tp ya sudahlah, pnyesalan mmang slalu dtg di akhir😦

  2. Yaah sayang banget yeri sama sehun gabisa bersama 😞
    Padahal ekspektasinya mereka bs bersatu, tp apa daya kalau penulisnya berkata lain 😂
    But so far, ceritanya menarik. Seharusnya ini d buat chapter, biar feel naik turunnya bs lbih kerasaa heheh
    Tp bagus kok! Well done😊

  3. Wah sy terhuraaaa bcanya…cinta pertama mmg jarang yg berhasil *curhat*
    syukurlah yeri bsa move on🙂
    ending yg berbeda..sgt suka!
    Keep writing author!

  4. Waah.. Keduanya sama2 ngerasain sakit hati ya thor :v
    Endingnya nggak terduga thor😀
    Sehun yang tabah ya nak :’V pasti nyesek banget tuh si sehun
    Keren thor ^^ keep writing and hwaiting ne😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s