All-Mate 911 (Chapter 8)

img_2531

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

 (dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-semua manusia yang hidup selalu berubah pikiran-

“Anak sialan itu benar-benar…” Sena mendumal rendah seraya berderap menuju kafe. Dua hari terakhir, Sehun tidak bisa dihubungi. Ponselnya aktif, tapi ia tidak menjawab telepon. Belum lagi, Sena menyadari tidak ada satu pun barang-barang Sehun tertinggal di kamarnya. Jelas si jelek itu memang sengaja pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Kalau ibunya sampai tahu, Sena pasti mati.

Sena melewati pintu kafe dan mendapati tempat itu nyaris dipadati seluruhnya oleh gadis-gadis. Ia baru ingat, malam ini jadwal tampil Luhan dan bandnya.

Sena berjalan ke ruangan di dalam kafe. Selain Luhan, semua anggota band ada di sana, sedang sibuk dengan instrumen masing-masing dan berlatih sendiri dalam diam. Ketika Zitao mengangkat wajah dari bass-nya dan melihat Sena di ambang pintu, alih-alih menyapanya seperti biasa, ia berdiri dari sofa dan menghampirinya.

“Lu-ge di halaman belakang. Dia sedang menyedihkan sekali, suasana jadi tidak bagus. Kau bisa bantu dia?” bisik Zitao kaku, lalu menambahkan sesuatu dalam bahasa Mandarin yang tentu saja tidak Sena pahami, tapi melihat wajahnya, mungkin maksudnya ‘aku sudah mencoba, tapi tidak berhasil’.

Sena mengangguk. Zitao menepuk bahunya, lalu Sena beranjak ke halaman belakang.

Baiklah, sebenarnya bukan halaman. Pintu belakang kafe terbuka ke arah jalanan sempit yang gelap dan agak berbau tidak sedap karena di sanalah tempat sampah kafe, butik, dan restoran-restoran berada. Sena melihat Luhan duduk di tangga, mengepulkan asap dari sebatang rokok. Baiklah, urusan Sehun bisa menunggu sebentar. Ia mendekat dan duduk di sebelahnya. “Hei.”

Luhan tersentak kecil dan menoleh. “Oh. Hei.”

“Aku sudah dengar soal kau dan Jimin,” Sena tidak pernah bagus berbasa-basi, jadi ia langsung saja. “Omong-omong, bisa kau buang itu? Mengganggu pernapasanku.”

“Maaf,” Luhan melempar rokoknya ke jalan. Baranya padam dalam genangan air kotor.

“Bukankah kau sudah berhenti merokok?”

“Tadinya.”

“Karena Jimin tidak lagi berada di sekitarmu untuk mengomel, kau mulai lagi.”

Luhan tidak mengiyakan maupun membantah pendapat Sena. Selama beberapa saat mereka duduk diam, lalu Luhan sendiri yang menyentuh topik itu, “Aku tidak tahu apa saja yang Jimin ceritakan padamu, tapi keadaannya tidak seperti yang dia bayangkan.”

Sena menatapnya. “Ceritakan.”

“Gadis itu, Dayoung, Dahyun, siapalah namanya.” Luhan berdecak, berhenti berusaha mengingat. “Dia salah satu penonton yang datang ke pertunjukan band. Satu malam setelah pertunjukan, dompetnya hilang di kafe, jadi dia tidak bisa pulang. Saat itu sudah tengah malam dan bus terakhir sudah lewat. Aku menawarkan untuk mengantarnya. Benar-benar hanya itu.”

“Dari mana dia tahu nomor ponselmu?”

“Aku meminta nomornya lebih dulu. Kubilang padanya aku akan mengabarinya kalau dompetnya ditemukan. Yah, lalu dompetnya ketemu dan aku meneleponnya agar dia datang mengambilnya. Itu hanya pesan terima kasih. Aku tidak menduga Jimin akan membacanya dan meledak sebelum aku sempat menjelaskan apa-apa.”

“Siapapun akan begitu jika mencintai seseorang seperti dia mencintaimu. Dia marah karena dia takut kehilanganmu.” Entah kenapa, Sena mendadak teringat pada Sehun karena perkataannya sendiri. “Kenapa kau tidak menemuinya saja?” tanyanya.

“Kupikir dia butuh waktu untuk berpikir. Dia tidak akan mau mendengarkanku sekarang, saat dia sedang benar-benar marah.” Luhan merogoh saku jinsnya dan mengeluarkan bungkus rokok, tapi saat tidak sengaja melirik Sena, ia seperti baru ingat dan kembali menyimpannya. “Aku akan menunggu sampai dia mau bicara padaku. Saat itu, aku baru bisa menjelaskan padanya.”

Sena mengerjap. Benar juga. Jimin tidak mau mendengarkan Luhan, sama seperti Sehun tidak mau mendengarnya sekarang.

“Kau mau ke mana?” Luhan mendongak dan bertanya ketika ia melihat Sena berdiri.

“Pulang.”

Luhan mengerjap-ngerjap. “Kau bukan datang untuk menonton bandnya?”

Sena mencibir. “Aku mencari Sehun, tapi sekarang aku tahu di mana dia. Terima kasih.”

“Terima kasih kenapa?”

Sena ingin menepuk-nepuk puncak kepala Luhan, tapi karena laki-laki itu lebih tua darinya, mungkin hal itu akan dianggap tidak sopan, jadi ia membatalkannya dan hanya menyengir. “Senang bicara denganmu. Sampai jumpa.”

Sena berbalik. Di panggung, Kris, Yixing, dan Zitao sudah bersiap-siap. Tanpa menyapa mereka, Sena berjalan diam-diam melewati meja-meja dan keluar dari kafe.

Sena merogoh ponsel dari saku jinsnya dan mengirim tiga pesan singkat berurutan pada Sehun.

Kau sedang marah, kan?

Aku yang salah. Aku minta maaf.

Cepat pulang kalau kau sudah tidak marah dan bicara denganku, oke? Nana love Hunibuni~

Lalu satu pesan singkat pada Jimin.

Aku bersumpah seandainya bokong Luhan tidak rata, aku akan berkencan dengannya saja. Dia benar-benar KEREN grrr

 

***

 

“Yo, Pork Dumbyeol,” Baekhyun bersiul dari ujung lain telepon itu.

“Kau sudah bertanya padanya?” tanya Chanyeol.

So rude,” gerutu Baekhyun. “Bukankah kau seharusnya basa-basi menanyakan kabarku dulu atau apa? Foreplay itu penting. Pantas saja kau tidak punya pacar.”

Chanyeol mendesis jengkel, “Aku sedang di tengah-tengah rapat, tidak ada waktu mendengar lelucon mesummu. Cepat katakan.”

“Jadi,” Baekhyun sengaja berdeham-deham lama, membuat Chanyeol gatal ingin menjitak seseorang, “mereka berpisah sekitar tiga tahun yang lalu. Ryu Sena yang meminta berpisah. Menurut Minseok hyeong, hubungan mereka rumit karena Sena sangat tertutup. Mereka pergi berkencan dan bercinta seperti pasangan-pasangan biasanya, tapi Minseok hyeong sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kehidupan gadis itu.”

“Bagaimana mereka berkenalan?”

Baekhyun mendengus panjang. “Kau tidak menyuruhku bertanya itu sebelumnya. Syukurnya aku pintar, jadi ini dia. Mereka bertemu di sebuah kafe tempat Minseok hyeong pernah ikut kursus barista. Ryu Sena adalah pramusaji di sana. Mereka berkencan selama hampir setahun. Oh, satu lagi. Kau akan senang sekali mendengar informasi ini.”

Chanyeol tidak optimis dengan kesempatannya, tapi ia tetap bertanya, “Apa?”

“Minseok hyeong sepertinya masih menyukai Sena-mu.”

Nah.

“Kalau instingku benar—dan aku selalu benar—Sena juga masih menyukai Minseok hyeong.”

“Kau tidak pernah bertemu dengannya, dari mana kau bisa tahu?” balas Chanyeol cepat. Baiklah, itu tidak benar. Baekhyun pernah bertemu Sena sebagai orang lain, tapi itu tidak masuk hitungan.

“Kalau begitu kenapa kau tidak mengajak Sena ke kelab minggu depan untuk memastikan aku benar atau tidak?”

“Bagaimana bisa?”

“Minseok hyeong akan ada di sana, jadi mereka bisa bertemu.”

“Hmm. Tidak, terima kasih. Aku tidak mau memastikan apa-apa.”

“Astaga,” dari nadanya, Chanyeol bisa membayangkan Baekhyun sedang memutar bola matanya, “jangan bertingkah seperti ayah protektif. Dan kau benar-benar harus datang. Tiffany akan ada di sini juga. Ini akan sangat seru. Seperti reuni para mantan pasangan.”

“Akan kupikirkan nanti,” sahut Chanyeol malas. “Sekarang aku harus kembali bekerja.”

Ia memutus sambungan dan menjejalkan ponselnya kembali ke saku dalam jas. Ia mau saja mengajak Sena pergi dengannya. Masalahnya, gadis itu menghindari teleponnya sejak pesta malam itu. Dan Chanyeol tidak yakin apa sebabnya.

 

***

 

Jam sibuk siang ini sudah lewat dan kafe kembali sepi. Sehun menghabiskan sisa waktu shift-nya sambil memainkan online game lewat ponsel di balik meja konter sendirian. Jongin sedang mengepel lantai dapur. Kira-kira setengah jam kemudian, pintu kafe terbuka dan ia melihat Han Jimin melangkah masuk, langsung berjalan ke arahnya.

“Satu ice americano,” gadis itu memesan, lalu, “Hai. Apa kabar?”

“Baik,” jawab Sehun singkat sementara kedua tangannya bergerak mengambil gelas plastik dan meracik kopi. “Bagaimana denganmu? Nuna.” Ia menambahkan panggilan itu belakangan karena ia menimbang-nimbang dulu apakah perlu bersikap sopan.

“Sama,” balas Jimin singkat. “Bagaimana kabar Sena?”

“Aku tidak tahu,” Sehun memutuskan menjawab jujur. “Aku belum pulang seminggu ini.”

“Benarkah?” Jimin bertanya dengan nada terkejut, tapi ekspresi wajahnya tidak berubah. “Sena tidak bilang apa-apa padaku. Kalian sedang bertengkar?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin menginap di rumah teman.”

“Begitu.” Jimin menerima kopinya dan membayar dengan uang pas, kemudian menyesap minumannya sedikit lewat sedotan. “Hei, boleh minta sirup gula?” tanyanya.

Sehun mengulurkan tangan untuk mengambil botol sirup, tapi Jimin menyela, “Biar aku sendiri saja,” lalu berjalan ke balik meja konter. Sehun melihat gadis itu menuangkan sirup ke dalam kopinya, dan dalam hati membatin, seharusnya Jimin memesan ice syrup. Bukan americano namanya kalau gulanya sebanyak itu.

“Ini cukup,” kata Jimin setelah setakar gula yang sepertinya bisa menyebabkan diabetes. “Thanks, boy.” Ia menepuk pundak Sehun sebelum keluar dari meja konter dan duduk di meja terdekat.

“Bukankah band Luhan tidak tampil malam ini?” tanya Sehun berbasa-basi.

“Aku tidak datang untuk menonton band, hanya untuk bertemu Luhan. Aku perlu bicara dengannya dan kami berjanji bertemu di sini,” kata Jimin seraya mengecek jam tangannya. Lantas ia teringat sesuatu. “Oh, omong-omong, apa yang salah dengan Ryu Sena?”

“Ada apa dengannya?” tanya Sehun cepat.

Jimin mengangkat bahunya acuh. “Bukan hal penting, aku hanya terkejut dia mau berkencan seperti orang normal, sekali dalam hidupnya,” jawabnya sambil lalu. “Aku mengatur kencan buta untuknya dengan temanku malam ini.”

Sepasang mata Sehun melebar. “Kencan buta?”

Jimin mengangguk. “Dua tahun aku melihatnya bekerja menemani orang di sana-sini, tiba-tiba dia bilang tertarik untuk mencoba berkencan sungguhan dengan pria baik-baik. Dasar sinting.”

“Demi Tuhan, kapan dia akan mulai bersikap dewasa?” gerutu Sehun dalam napasnya. Ia melepas apron pramusajinya dan melemparkannya sembarangan ke sudut.

“Kau mau ke mana?” tanya Jimin ketika melihat Sehun berderap melewati mejanya. Sehun tidak menjawabnya, tapi Jimin menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas, kemudian berdecak. “Apa hanya aku yang merasa Ryu Sena dalam masalah?”

 

***

 

Pintu dibanting terbuka dan Sena terkesiap. Ia menoleh dalam satu sentakan, lantas sepasang matanya melebar. “Astaga, Oh Sehun!”

Sehun, alih-alih menyapanya atau semacamnya, hanya berkata dengan nada kesal, “Yang benar saja. Kencan buta? Apa kau sudah hilang akal?”

Sena tertawa datar dan mengangkat cermin di tangannya, sekali lagi menatap wajahnya yang sudah dirias. Ia sudah memakai gaun selutut semi-formal dan siap berangkat. “Kau pulang hanya untuk mengomeliku?”

Sehun tidak menjawabnya. “Jangan pergi.”

“Apa yang salah dengan berkencan?” tanya Sena.

“Kau benar-benar tidak tahu atau memang bodoh?” Sehun balas bertanya kasar. “Aku tahu operasi itu mengganti tulang belakangmu dengan pena besi, tapi aku tidak tahu mereka juga mengganti otakmu dengan kepala udang.”

Sena membuka mulut untuk membalas, tapi nada dering ponselnya yang tergeletak di tepi tempat tidur menyela. Ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya, tapi Sehun lebih cepat dan ponselnya sudah berada di tangan laki-laki itu dalam kurang dari sedetik. Sehun menatap nama yang muncul di layar, kemudian menyentuh ikon jawab dan mengaktifkan pengeras suaranya.

Sepasang mata Sena melebar ketika suara berat Chanyeol terdengar dari ujung lain sambungan, “Sena-ya. Astaga. Akhirnya kau jawab juga teleponmu. Ke mana saja kau? Kau marah padaku atau apa?”

Sehun dan Sena bertatapan, dan Sehun berkata, “Gara-gara si brengsek ini, kan?”

“Halo? Sena-ya? Kau di sana? Halo? Siapa ini?”

Sena melompat dari tempat tidur dan merebut ponselnya dari tangan Sehun, kemudian cepat-cepat memutuskan sambungan. Suara Chanyeol menghilang dalam sekejap. “Ini tidak ada hubungannya dengan siapa pun,” katanya.

“Apa pun yang kau lakukan, semua akan berakhir sama seperti dulu, kau tahu?” kata Sehun rendah. “Kau akan jatuh cinta—”

“Tidak,” potong Sena.

“—terlalu dalam dan terluka,” Sehun melanjutkan seolah Sena tidak mengatakan apa-apa. “Tidak ada yang namanya akhir bahagia, jadi hadapi saja selayaknya orang dewasa, tidak bisakah kau?”

Sena menyambar tas tangan mungilnya dan menjejalkan ponselnya ke dalamnya. “Aku sudah terlambat. Sampai jumpa nanti malam,” ia berkata tanpa menatap Sehun, kemudian memakai sepatu haknya dan meninggalkan kamarnya.

Sehun ingin berlari dan menyeret Sena kembali ke sini, tapi ia tahu itu tidak ada gunanya. Bukan ia yang bisa menghentikan gadis itu.

Pandangannya tanpa sengaja menemukan ponsel kerja Sena yang setengah terkubur di bawah bantal. Sehun mengambilnya dan menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya ia menghela napas menyerah dan menggumam, “Aish, masa bodohlah,” lalu keluar untuk mengikuti Sena.

 

***

 

Chanyeol duduk sendirian di ruang kantornya dan menatap ponsel yang ia letakkan di atas meja menghadap ke arahnya. Ia sudah mencoba menelepon Sena beberapa kali lagi, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Chanyeol merasa mengenal suara yang berbicara di telepon tadi (suara yang, kalau ia tidak salah dengar, menyebutnya brengsek), sayangnya ia tidak bisa mengingat di mana pernah mendengarnya.

Langit di luar jendela kantor sudah gelap sempurna dan Chanyeol lapar, tapi ia tidak merasa ingin makan. Ia hanya meletakkan dagunya di atas meja dan menatap layar ponselnya lamat-lamat, mencoba menggunakan kekuatan pikirannya untuk membuat benda itu melakukan keajaiban.

Tentu saja itu tidak mungkin. Karena itulah Chanyeol terkejut saat tiba-tiba layar ponselnya menyala dan menunjukkan panggilan masuk dari aplikasi All-Mate atas nama Song Ahyoung. Selama sedetik, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Baru detik berikutnya ia buru-buru menyambar ponselnya dan menjawab, “Ryu Sena, apa yang terja—”

Suara di seberang sana menyela dan tidak memberinya kesempatan membuka mulut. Chanyeol mendengarkan, dan kemudian ia membeku.

“Di mana dia sekarang?”

Laki-laki itu memberitahunya. Chanyeol memutus sambungan dan berdiri, langsung menyambar kunci mobil dan jasnya, kemudian melesat keluar dari kantornya.

Chanyeol menginjak pedal gas dalam-dalam menuju restoran yang disebutkan laki-laki di telepon tadi dan tiba dalam dua puluh menit yang terasa sangat panjang. Tanpa menghiraukan penjaga pintu, pramusaji yang terkesiap kaget melihatnya, ia menerjang masuk dan menolehkan kepalanya ke kiri-kanan dengan cepat untuk mencari Sena.

Ia menemukan gadis itu duduk berhadapan dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu (kurus, mata besar, rambut ditata rapi, tidak menarik) mengatakan sesuatu sambil tersenyum dan Sena tertawa mendengarnya, dengan jenis tawa ramah yang tidak pernah ia tunjukkan pada Chanyeol sebelumnya, dan Chanyeol merasakan nadi di lehernya berdenyut keras sampai membuat kepalanya pening.

Sebelum Chanyeol sempat berpikir, kakinya lebih dulu berderap lebar-lebar menghampiri mereka, dan sebelum satu pun dari mereka sadar apa yang datang, Chanyeol menyambar tangan yang Sena letakkan di pangkuannya dan menarik gadis itu berdiri.

Yep, satu lagi penyelaan dramatis oleh Park Chanyeol.

Sena terkesiap ketika melihatnya. “Ya, apa yang kau lakukan di sini?”

Laki-laki itu ikut berdiri dan menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan bingung. “Ada masalah?” tanyanya, ragu.

Tanpa repot-repot menjawab pertanyaan Sena mau pun menjelaskan sesuatu, Chanyeol menatap langsung ke arah laki-laki itu dan berkata setegas dan sejelas mungkin, “Ya, ada. Gadis ini adalah milikku dari ujung rambut sampai, eh—” ia menoleh sekilas pada Sena, lalu menunjuk batas pinggangnya dengan tangannya yang lain, “—sini. Bagian pinggang sampai ujung kakinya sedang kuusahakan, tapi akan kupastikan tidak akan makan waktu lama, jadi tidak perlu repot-repot.”

Lalu Chanyeol menarik Sena pergi, diiringi pasang-pasang mata yang terkesima mengikuti mereka.

 

***

 

Hak sepatunya yang runcing berkeletak-keletuk seiring jantung Sena yang berdebar cepat. Sebagian karena ia terkejut dengan kemunculan sok keren Chanyeol, sebagian lagi karena ia takut jatuh dan mencederai dirinya sendiri karena berjalan terlalu cepat dengan sepatu berhak tinggi.

Chanyeol membukakan pintu mobil untuknya dan mendorong—praktis melemparnya—ke dalam, lalu membanting pintunya dan berjalan memutar ke kursi pengemudi.

“Apa-apaan ini?” tuntut Sena.

“Tanya dirimu sendiri,” balas Chanyeol dan menoleh menatapnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Tatapan Chanyeol membuat Sena gugup. Saat gugup, ia entah jadi sangat pendiam atau tidak bisa berhenti merocos. Yang terjadi kali ini ternyata yang kedua. “Sejak kapan apa yang kulakukan jadi urusanmu? Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini? Dan apa maksudmu, ‘gadis ini adalah milikku’? Aku ini manusia yang bebas. Tidak ada bagian dari diriku yang dimiliki siapa pun, oke?”

“Kalau kau bukan milikku, lalu apa? Kita sudah berciuman.”

“Zaman sekarang ciuman hampir tidak ada artinya. Semua orang bisa melakukannya dengan mudah.” Ironis sekali, sekarang Sena menggunakan pendapat Sehun yang sebelumnya ia bantah sebagai argumennya.

“Lalu apa yang berarti? Kencan? Tidur bersama? Tinggal serumah? Ayo kita lakukan semuanya, kalau begitu.”

Sena tercenung mengira telinganya rusak. “Apa?”

Chanyeol menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Aku ingin kau bicara dan tertawa hanya denganku. Aku tidak suka memikirkan kau melihat orang lain. Aku ingin kau memikirkan aku, dan hanya aku. Aku ingin menjadi sesuatu yang berarti untukmu.”

“Itu…” Sena meneguk ludah. “Tidak masuk akal.”

“Itu masuk akal,” balas Chanyeol. “Karena aku menyukaimu.”

Sena tidak lagi mengira telinganya rusak, telinganya memang rusak. “Apa?”

“Aku menyukaimu.”

“Kenapa?”

Chanyeol tertawa pelan. “Apanya kenapa? Aku menyukaimu begitu saja, apakah harus ada alasannya?”

Sena membuka dan menutup mulutnya dengan bingung. Tidak ada satu pun kata yang mencuat dari otaknya.

“Aku serius.”

Tapi untuk apa Park Idiot menyukainya? Laki-laki itu punya segalanya, Sena tidak punya apa-apa.

“Ryu Sena?”

“Aku—aku harus kembali,” hanya itu yang bisa Sena katakan sebelum turun dari mobil. Udara di luar terasa panas dan pengap dan membuat napasnya berat. Ia berusaha berjalan dengan cepat, tapi satu kakinya tidak sengaja menyandung kaki lainnya dan jatuh dengan suara pekikan kecil.

Lucu sekali, ia baik-baik saja berlari dengan sepatu ini tadi, tapi sekarang berjalan saja tidak becus.

Sena mendengar suara pintu mobil dibuka dan langkah-langkah lebar mendekat, lalu Chanyeol menekuk lutut di hadapannya dan bertanya, “Kau tidak apa-apa?”

Wajah Sena memanas, padahal ia pikir tidak bisa lebih panas lagi. Ia menggeleng, lalu buru-buru mengangguk dengan linglung. Chanyeol membantunya berdiri dan Sena pikir ia harus mengatakan sesuatu. “Kau, tidak bisakah kau… tidak menyukaiku?”

Chanyeol menunduk menatapnya, dan Sena tidak bisa tahu apa yang laki-laki itu pikirkan dari tatapannya.

Ia melanjutkan dengan gelagapan, “Aku—aku tidak bisa balas menyukaimu—tidak, aku tidak membencimu lagi, kurasa, tapi—maksudku, kupikir itu tidak adil—”

Chanyeol melepaskan pegangannya, dan Sena merasa sedikit kehilangan. “Apa kau baru saja menolakku?” tanya Chanyeol datar. “Wah, sakitnya.”

Sena menggigit bibir bawahnya dan menggumam, “Maaf.”

Kemudian Chanyeol tersenyum lebar. “Tidak apa-apa, kau tidak perlu balas menyukaiku. Tapi kita masih bisa berteman, kan?”

Sena menatapnya dengan perasaan lega dan mengangguk dengan seulas senyum kecil. “Yah… tentu saja.”

“Bagus. Karena aku hanya punya kau.” Chanyeol menyilangkan tangan di dada dan mengernyitkan dahinya. “Well, kurasa ada satu lagi, tapi dia brengsek.”

“Kau juga menyebalkan, jadi kalian cocok,” komentar Sena.

“Kau menaburkan garam di atas luka.”

Mereka tertawa, sedikit canggung, tapi mungkin keadaan akan jadi lebih baik nanti. Kemudian Sena mengatakan bahwa ia harus kembali ke dalam (ada laki-laki yang harus ia sembah untuk minta maaf—yeah, karena Chanyeol—dan semoga saja laki-laki itu belum pergi) dan Chanyeol berkata sampai jumpa, tapi ketika Sena memutar punggungnya dan berjalan, Chanyeol memanggil namanya lagi.

“Kau tahu, aku memang tidak akan memaksamu, tapi tidak ada yang tahu apakah kau akan berubah pikiran. Manusia tidak pernah konsisten, kau tahu?”

Selama sesaat Sena tidak mengerti apa yang Chanyeol bicarakan, lalu ia melajutkan.

“Mungkin saja besok, atau lusa, atau entah kapan, kau akan menyukaiku.”

Sena tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangkat bahu dan kembali berbalik.

Memang benar, manusia tidak pernah konsisten dan selalu berubah pikiran. Lalu bagaimana jika besok, atau lusa, atau entah kapan, Sena akan menyukai Chanyeol, tapi saat itu Chanyeol tidak lagi menyukainya? Apa yang harus ia lakukan?

 

***

 

Sehun duduk sendirian kursi besi di halte bus yang dingin.

Yah, sebenarnya tidak. Di sebelah kiri dan kanannya ada sepasang kekasih yang sama-sama menunggu bus. Ada satu pasangan lagi yang berdiri di tepi trotoar. Sehun hanya menghela napas melihat mereka semua. Rasanya seakan-akan seluruh kota Seoul sedang meledeknya dengan menunjukkan bahwa semua orang sedang berbahagia, hanya ia sendiri yang tidak.

Sehun bertanya-tanya apakah Park Chanyeol berhasil tiba tepat waktu, dan apakah Chanyeol melakukan hal yang benar, misalnya menerobos masuk ke restoran itu dan menyeret Sena pergi dari sana. Karena itulah yang akan ia lakukan seandainya ia adalah Chanyeol.

Sayangnya, ia adalah Sehun yang tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa mengikuti Sena dan melemparkan kewajiban pada orang lain.

Sehun menghela napas sekali lagi dan menggumam pelan sehingga hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya, “Setidaknya aku melakukan sesuatu untukmu.”

Bus baru saja tiba, ketiga pasangan itu beranjak masuk dan meninggalkannya, kali ini benar-benar sendirian. Sehun menatap bus itu pergi dengan tatapan nelangsa. Ia menggunakan semua uang di sakunya untuk naik taksi mengikuti Sena. Ia pikir tindakan itu keren, seperti di film-film. Sayangnya, baru saja ia sadar dompetnya ada di saku celana jinsnya, dan sekarang ia masih memakai seragam kafe.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang bagaimana caranya pulang?

 

***

 

“Ryu Sena, apa yang terja—”

“Kau tahu kenapa dia menghindarimu? Kau membuatnya takut. Dia tidak bisa membencimu yang sekarang. Jika dia tidak bisa membencimu, dia akan menyukaimu, dan dia sama sekali tidak siap. Dia pernah jatuh cinta dan terluka, jadi dia mencoba lari sebelum terlambat dengan bertemu orang lain dan mungkin melakukan hal-hal bodoh lainnya. Sekarang, apakah kau akan membantunya atau tidak?”

“Di mana dia sekarang?”

“Dia punya janji makan malam dengan seseorang. Aku akan mengirimkan posisinya. Kau punya waktu setengah jam. Jika kau terlambat, aku janji aku akan membunuhmu saat kau mencoba menemuinya lain kali.”

Sehun memutus sambungan dan menatap layar ponsel kerja Sena, lalu menggumam, “Ini pengorbanan terakhirku, dasar kucing tua. Kali berikutnya, aku tidak akan peduli kau gantung diri atau terjun ke sungai.”

 

=to be continued=

 

Lol this chapter was a mess -w- kurasa aku kena writer’s block. Ahahahahahaha…….ha. Oke. Ehem. Maaf untuk membuang-buang waktu kalian membaca ini😄 #plakplak

 

See you againn~~~

Rin

13 thoughts on “All-Mate 911 (Chapter 8)

  1. aaaaa ga bisa ga suka sama sehun. such a true gentleman. dia lebih mendahulukan keselamatan sena dibanding ngeduluin perasaan sukanya ke sena❤

  2. Oh well, Dan ternyata itu alasan Sena sll bilang dy cacat?
    Krn tulang punggungnya yg d ganti?
    Tp bukankah hal itu jg msh bs d buhkan? Sena kn mash muda 😞
    Chapter ini memberikan sedikit pencerahan ttg pertanyaan2ku hehe
    Tp aku suka sh, Sena akhirnya mulai membuka hati hhihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s