My Beautiful Seducer (Chapter 2)

1453860962307_mh1455242335772

My Beautiful Seducer Chapter 2

 

Author : Angel Devilovely95 (@MardianaSanusi)

Cast : Oh Sehun & Im Neyna (OC)

Other Cast :

Kim Jongin

Lee Kurumi (OC)

Park Hyejin (OC)

Genre : Romance

Rating : 18 or Mature

Length : Chaptered

Disclaimer : Kalau belum baca Teaser monggo baca dulu ya ^^

Warning you may be bored! Chapter ini panjang banget dan gak dibagi kaya chapter sebelumnya!

Also posted on my WP (https://angeldevilovely95.wordpress.com/)

 

[Teaser][#1A][#1B]

 

 

“Baby sitter bukan baby sitere! Pengucapanmu salah Neyna-sshi!” Dasar perfeksionis. Kebiasaanya mengoreksi pelafalan mahasiswanya saat mengajar rupanya terbawa saat menghadapi Neyna. Alih-alih meremehkan asumsi konyol Neyna—tidur dengannya, jadi pacarnya, jadi simpanannya, dan jadi istrinya—Sehun yang tadinya menyeringai licik kini justru memasang tampang kesal.

“Aaah baby sitter.” Neyna kali ini mengucapkannya dengan benar, tapi ekpresi gadis itu terbilang datar seperti sedang kebingungan—kontras dengan keberhasilannya. “Ahjussi.” Neyna mengigit bibir bawahnya, lalu menelengkan wajahnya. “Baby sitter itu apa?”

 

BANG. Sehun tertohok. Neyna tidak tahu arti baby sitter? Gadis itu idiot atau hilang ingatan sih? Hah keterlaluan! “Ya! Kau bodoh sekali sih! Masa baby sitter saja tidak tahu. Baby sitter tergolong kata paling mudah dalam bahasa Inggris. Kau seharusnya sudah belajar kata semudah itu sejak kelas 4 SD. Kalaupun kau lupa pelajaran bahasa Inggris kelas 4SD, kau kan pasti pernah mendengar kata itu lagi di SMP atau di SMA Neyna-sshi!” Maki Sehun sambil mencubit pipi Neyna dengan tangan kanannya.

 

“Akhh…Akkhh…Aku benar-benar tidak tahu arti baby sitter. Aku tidak lulus SD Ahjussi. Aku bahkan hanya sekolah sampai kelas 3 SD…Akhh sakit Ahjussi tolong lepaskan eoh…”

 

Sehun terbelalak kaget dan sontak melepas cubitannya “Kau benar-benar tidak lulus SD? Kau tidak bercanda kan?” Sehun menatap Neyna lekat-lekat, menunggu penjelasan gadis itu. Demi apapun, ia tidak percaya di jaman modern seperti sekarang ini dan di Negara maju seperti Korea Selatan, ada gadis semuda Neyna yang bahkan hanya sekolah sampai kelas 3 SD. Huh tidak masuk akal! Sungguh, ia benar-benar akan mencubit pipi Neyna lebih kencang kalau sampai gadis itu bergurau.

 

“Aku tidak bercanda Ahjussi. Aku sangat serius.” Neyna berjalan dua langkah lebih maju hingga jaraknya dengan Sehun kini hanya tinggal sepuluh senti. Detik berikutnya Neyna menggenggam tangan Sehun yang terkulai, melingkarkannya di pinggangnya, lalu mendekap punggung tangan Sehun dengan tangan kirinya agar lingkaran tangan Sehun tetap melekat erat di pinggangnya. Neyna melancarkan aksinya dengan hati-hati, seperti pencopet kelas kakap yang mengendap-ngendap saat sedang mencuri dompet korban incarannya.

 

“Memangnya kenapa kau sampai tidak lulus SD? Kemana orang tuamu? Apa mereka tidak membiayai pendidikanmu?” Sehun nampak terlarut dengan topik seputar pendidikan Neyna sampai tidak sadar kalau Neyna sudah bertindak nakal dengan tangannya.

 

Neyna tiba-tiba menunduk dan melepaskan dekapan tangannya di punggung tangan Sehun, membuat Sehun yang baru menyadari tindakan nakal Neyna—setelah tangannya terlepas begitu saja dari pinggang Neyna—akhirnya mendengus. “Saat usiaku 8 tahun, Appaku dipecat lalu Appaku meminjam uang dengan Song Ahjumma sebesar 100 juta won untuk membuka usaha. Tapi Appaku ternyata ditipu orang dan akhirnya kabur meninggalkanku dan Eommaku. Mendengar berita itu, Eommaku sangat syok sampai Eommaku terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal.” Neyna menautkan kedua tangannya di depan perut sambil mengigit bibir bawahnya, sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak mengalir. Well, meskipun ia menangis saat ini, Sehun mungkin tidak akan memarahinya kalau matanya sembab seperti halnya Song Ahjumma. Tapi tetap saja ia tidak boleh menangis, apalagi di saat pertanyaan Sehun belum terjawab sepenuhnya. Masih terus menunduk, Neyna akhirnya menghela nafas panjang.

 

“Sejak saat itu, Song Ahjumma mengajakku tinggal bersamanya agar aku bisa mencicil hutang Appaku dengan mengurus semua pekerjaan rumahan seperti bersih-bersih dan memasak. Karna hutang Appaku sangat banyak, Song Ahjumma juga menyuruhku untuk berlatih menari setiap hari sebelum akhirnya aku bisa menjadi penari di Club. Jujur saja aku tidak keberatan melakukan itu semua, tapi dengan begitu tentunya aku jadi tidak punya waktu untuk sekedar pergi ke sekolah Ahjussi. Dan sebenarnya Song Ahjumma melarangku sekolah karna menurutnya aku hanya akan menambah hutang Appaku.”

 

Sehun terkesiap. Tidak pernah sekalipun terbesit di benaknya kalau Neyna yang selalu ceria dan selalu bertingkah seakan tidak memiliki beban hidup ternyata hidup semenderita itu. Putus sekolah hanya karna masalah hutang piutang Appanya benar-benar keterlaluan menurutnya. Mucikari sialan itu sudah mengeksploitasi Neyna terlalu jauh, ia jadi merasa kasihan pada Neyna.

 

Tanpa sadar, Sehun menempatkan salah satu tangannya di puncak kepala Neyna, hendak mengelus puncak kepala gadis itu. Tapi belum sempat melancarkan aksinya, Sehun sudah lebih dulu menyadari tindakan spontannya. Sehun yang punya gengsi setinggi langit tentu enggan berlaku manis pada Neyna. Alih -alih mengelus puncak kepala Neyna, Sehun malah mengacak-ngacak rambut Neyna sampai membuat sebagian rambut panjang Neyna menutupi wajah gadis itu.

 

“Ahjussi… Kenapa kau mengacak-ngacak rambutku?” Neyna mendongak, lalu menangkap tangan Sehun yang masih saja mengacak-ngacak rambutnya.

 

Sehun buru-buru menarik tangannya, lalu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal “Ada kotoran dirambutmu.” Jawabnya asal.

 

Kesedihan Neyna seketika lenyap, perhatian Sehun yang sampai rela membersihkan kotoran di rambutnya telah mampu membuat suasana hatinya kembali membaik. Masih dalam keadaan berantakan dengan rambut yang menutupi wajahnya, Neyna tersenyum tipis dan akhirnya memeluk Sehun. “Ahjussi terimakasih sudah membersihkan kotoran di rambutku eoh. Kau perhatian sekali padaku.”

 

“Ya!” Sehun melepaskan paksa tautan kedua tangan Neyna di pinggangnya, lalu memundurkan tubuhnya tiga langkah dari hadapan Neyna “Cepat rapikan rambutmu! Kau terliat seperti hantu Neyna-sshi!” Titahnya ketus.

 

Neyna tidak mengindahkan titah Sehun. Gadis itu malah mempertahankan wajahnya yang tertutup rambut, menelengkan kepalanya, kemudian berjalan perlahan dengan gerakan pura-pura terseok mendekati Sehun sambil meregangkan kedua tangannya kedepan seperti zombie. “Ahjussi…Ahjussi…Hihihihi.” Neyna terkikik, nada suaranya dibuat semenyeramkan mungkin berusaha menakut-nakuti Sehun.

 

“Haish apa-apan kau ini? Aku tidak takut dengan hantu tahu!” Sehun hanya diam di tempat, malas meladeni ledekan Neyna.

 

“Tentu saja kau tidak takut Ahjussi—” Neyna menghentikkan aksinya, kemudian mengibaskan rambutnya ke belakang seperti bintang iklan Shampo“—karna hantunya secantik aku. Benarkan Ahjussi? Hehe.” Seakan tidak puas menjahili Sehun, Neyna pun mengecup pipi Sehun dan akhirnya mencubit gemas pipi Sehun dengan kedua tangannya.

 

“Hentikan!” Sehun melepaskan tautan tangan Neyna di pipinya, kemudian membopong tubuh Neyna.

 

“Ahjussi kita akan bercinta eoh?” Tanya Neyna saat Sehun membawanya kembali ke kamar pria itu.

 

“Tidak!” Sehun menolak dengan tegas, nyaris sinis. Rahang pria itu mengeras, kentara sekali kalau saat ini dia sedang tidak mau diajak bercanda oleh Neyna. Sehun terlanjur tersulut emosinya, dia tidak kenal kompromi dan akhirnya membanting tubuh Neyna di ranjangnya. Neyna tersungkur, sedangkan Sehun hanya diam di posisinya, berdiri angkuh di depan ranjang dengan tampang kesalnya.

 

“Damn!” Sehun tiba-tiba mengumpat. Rok dress Neyna tersingkap hingga celana dalam gadis itu terekspos. Bokong sintal Neyna dalam balutan celana dalam pun akhirnya tak terelakan dari pandangannya. Posisi Neyna yang tertelungkup pasrah di ranjang sialannya ikut-ikutan memperparah keadaan. Sehun mulai kualahan, libidonya mulai meningkat. Tatapannya mulai menggelap, terbalut nafsu.

 

He absolutely wants to fuck her hard right now! From that position doggy style is a must!

 

Pria itu menjilat bibir bawahnya dan bergerak menghampiri Neyna. Baru satu langkah, Sehun justru berhenti. Pria itu jelas-jelas mulai hilang kendali dan nyaris menerkam Neyna. Ini bukan dirinya, ini bukan kebiasaanya. Sehun menggeleng dan akhirnya menggeram “Neyna-sshi rapikan rok dressmu dan duduklah!”

 

“Eum.” Neyna merapikan rok dressnya dan akhirnya duduk di ranjang.

 

“Neyna-sshi aku belum menjawab pertanyaanmu tentang arti baby sitter, jadi aku ingin kita serius kali ini.”

 

“Baiklah Ahjussi.”

 

“Ok, Neyna-sshi baby sitter itu artinya pengasuh anak. Aku membelimu untuk melayaniku, tepatnya untuk menjadi pengasuh anakku.”

 

“Hah? Pengasuh anak? Ahjussi sudah punya anak? Itu artinya Ahjussi… Ahjussi sudah punya istri kan?” Neyna mendekap mulutnya, sorot mata gadis itu nampak kecewa. Bukan karna pernyataan Sehun yang akan menjadikannya baby sitter, tapi lebih kepada asumsinya sendiri, terlebih pada asumsinya kalau Sehun sudah beristri.

 

“Aku memang sudah punya anak, tapi aku belum punya istri Neyna-sshi. Lagipula kenapa memangnya? Kau keberatan menjadi pengasuh anakku?”

 

Neyna menghela nafas lega dan akhirnya tersenyum tipis. Ia benar-benar senang karna ternyata asumsinya melenceng. “Aku tidak keberatan sama sekali Ahjussi.” Ucap Neyna, lalu tersenyum lebar “Aku malah senang karna aku suka sekali dengan anak kecil. Aku pasti bisa menjadi pengasuh yang baik untuk anakmu Ahjussi. Apalagi Ahjussi belum punya istri. Jadi mungkin saja kan Ahjussi akan tertarik padaku, lalu menjadikanku istrimu suatu saat nanti hehe.” Neyna berucap dengan nada yang manja. Gadis itu akhirnya kembali menjadi gadis yang jahil dan centil, terlebih dari cara dia mengerling jahil pada Sehun setelahnya.

 

“Jangan menghayal yang tidak-tidak Neyna-sshi! Aku tidak akan tertarik padamu, apalagi menjadikanmu istriku! Tidak! Tidak mungkin!”

 

Bukannya balik marah, Neyna malah tersenyum cerah. Dari cara Sehun bertindak, gadis itu tahu kalau Sehun adalah pria yang kaku dengan gengsi setinggi langit, jadi ia tidak heran kalau Sehun sampai menolak pernyataanya mati-matian seperti itu. Masih terus mempertahankan senyumannya, Neyna beranjak dari ranjang. Gadis itu menghampiri Sehun, mendempetkan tubuhnya pada tubuh Sehun, dan akhirnya mengecup leher Sehun tepat di tahi lalat pria itu. “Jangan berbicara seperti itu Ahjussi. Kau bisa menyesali perkataanmu nanti.” Bisik Neyna lagi-lagi dengan suara yang manja sambil mengelus-elus dada bidang Sehun.

 

Oh Shit! Kejantanannya mulai berkedut. Bulu kuduknya meremang. Sehun merasa kini tubuhnya lemas seperti baru saja disengat listrik. Sentuhan Neyna telah berhasil membuainya—terutama kecupan gadis itu di lehernya. Neyna benar-benar mengerikan! Dengan sisa tenaganya, Sehun akhirnya mendorong tubuh Neyna sampai membuat tubuh mungil Neyna kembali tersungkur ke ranjang. “Aku…Aku tidak akan menyesali perkataanku Neyna-sshi!” Sergah Sehun sedikit terbata lengkap dengan suaranya yang agak parau, jelas sekali kalau pria itu masih lemas dengan aksi nakal Neyna.

 

“Baiklah, terserah padamu saja Ahjussiku yang tampan.” Neyna melayangkan flying kiss pada Sehun dan terkekeh senang setelahnya. Sedangkan Sehun yang digoda seperti itu hanya bisa mendengus sebal sambil melayangkan tatapan tajamnya pada Neyna.

 

“Oh, ya Ahjussi tadi kau mengatakan kalau kau punya anak tapi kau belum punya istri kan?”

 

“Iya. Kenapa?”

 

“Kenapa bisa seperti itu? Bukankah pria tidak bisa melahirkan eoh? Tapi kenapa kau bisa punya anak padahal kau belum punya istri Ahjussi?”

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar “Pria memang tidak bisa melahirkan Neyna-sshi!” Jawabnya ketus. “Dan kenapa aku bisa punya anak padahal aku belum punya istri itu karna anak yang aku akui sebagai anakku sebenarnya bukan anak kandungku Neyna-sshi. Dia anak mendiang sahabatku, Chanyeol dan Hyera. Kedua sahabatku meninggal karna kecelakaan tiga jam yang lalu saat perjalanan ke Busan. Dalam kecelakaan maut itu, ternyata Hyejin anak mereka yang baru berusia lima bulan selamat dan tidak terluka sama sekali. Karna Chanyeol dan Hyera sama-sama yatim piatu dan tidak memiliki kerabat dekat yang bisa diandalkan, jadi akulah yang akan bertanggung jawab pada Hyejin. Aku yang akan menjadi orang tua Hyejin. Aku yang akan membesarkan Hyejin.”

 

“Ahjussi baik sekali.” Puji Neyna sungguh-sungguh. Sehun dengan segala tingkahnya yang terkesan dingin ternyata memiliki hati yang benar-benar baik. Well, mana ada pria lajang semuda, setampan, dan sekaya Sehun mau membesarkan anak orang lain. Meski Hyejin adalah anak sahabatnya sekalipun, Sehun kan bisa saja menitipkan Hyejin di panti asuhan. Tapi Sehun justru ingin mengurusnya, membesarkannya.

 

“Ahjussi…Aku kasihan pada Hyejin… Hyejin mirip sepertiku, sama-sama ditinggal oleh orang tuanya. Aku yakin Hyejin pasti sedih. Hyejin pasti kesepian. Hyejin pasti saat ini sedang menangis.” Ucap Neyna dengan raut wajah yang murung. “Tapi dari tadi aku tidak mendengar suara tangisan anak kecil di rumah ini.”Neyna celingak-celinguk, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Hyejin “Hyejin dimana Ahjussi?” Tanyanya penasaran.

 

“Hyejin saat ini ada di rumah sakit. Saat aku ke rumah sakit untuk melihat keadaannya, Hyejin memang sedang menangis. Hyejin menangis bukan hanya sedih karna ditinggal orang tuanya tapi juga karna kehausan. Setelah Eommanya meninggal, Hyejin tidak bisa minum ASI lagi jadi para suster memberikannya susu formula. Tapi Hyejin terus-terusan memuntahkannya karna mendiang Hyera selalu memberikan ASI pada Hyejin. Agar Hyejin tidak kehausan lagi—” Sehun menyeringai, lalu kembali bersidekap “—aku ingin kau yang memberikan ASI untuk Hyejin Neyna-sshi.”

 

“A-aku?” Pekik Neyna terbata, saking syoknya.

 

“Iya. Kau. Kenapa? Kau keberatan huh?!”

 

Neyna menggeleng cepat “Aku tidak keberatan Ahjussi karna menurutku menyusui adalah tugas yang mulia untuk seorang wanita. Aku hanya kaget saat tiba-tiba kau menyuruhku menyusui Hyejin—” Neyna terdiam sambil mengigit bibir bawahnya, ada keraguan pada ekspresi wajahnya, kontras dengan ekspresi wajah gadis itu yang terkesan serius saat melontarkan kalimatnya barusan. Lain dengan Neyna, Sehun justru menunduk dan tersenyum samar. Pria itu rupanya ingin menyembunyikan kenyataan bahwa dia terkesan dengan pemikiran bijak Neyna, diluar dari fakta bahwa Neyna memiliki latar belakang yang buruk sebagai penari telanjang dan kerap bertingkah kekanakan.

 

Neyna menghela nafas dalam-dalam, setelah itu menatap Sehun lekat-lekat. “—padahal aku belum pernah hamil, aku juga belum pernah melahirkan sebelumnya, dan usiaku juga baru 17 tahun Ahju—”

 

Sehun sontak mendongak dan terbelalak “Apa? Usiamu baru 17 tahun?” Sehun berteriak dengan sangat kencang sampai membuat Neyna terlonjak kaget.

 

“I-iya…Usiaku baru 17 tahun Ahjussi. Dua hari yang aku aku baru ulang tahun.”

 

“Astaga!” Sehun mengerang sambil mengusap wajahnya kasar. Sumpah demi apapun, ia rasanya ingin melabrak Song Ahjumma sekarang juga, mengembalikan Neyna pada mucikari sialan itu, dan membenturkan kepalanya karna sudah begitu bodoh. Ya. Bodoh. Sehun mengakui kalau dia begitu bodoh karna tidak menanyakan usia Neyna terlebih dulu pada Song Ahjumma ataupun pada gadis itu sebelum membawanya kemari.

 

Seharusnya ia curiga pada penampilan Neyna sejak gadis itu tampil tanpa makeup untuk pertama kalinya setelah mandi beberapa saat yang lalu. Seharusnya juga ia curiga pada kelakuan Neyna yang begitu polos dan kekanakan. “Haish menyebalkan!” Umpat Sehun membatin. Nasi sudah menjadi bubur, ia sudah membeli Neyna, ia juga sudah tidak punya waktu untuk mencari korban lain. Lagipula belum tentu ada gadis lain yang rela menyusui Hyejin seperti Neyna.

 

Sehun mengembuskan nafasnya kasar dan memijat pelipisnya pelan, berusaha menenangkan dirinya. “Usiamu baru 17 tahun, apa kau yakin bisa mengurus anak kecil? Apa kau juga yakin bisa menyusui Hyejin huh?!”

 

“Aku suka sekali anak kecil Ahjussi, aku juga pernah melamar jadi guru TK, tapi aku tidak pernah diterima hanya karna aku tidak punya pendidikan yang tinggi. Tapi walaupun aku selalu gagal jadi guru TK, aku bisa jamin aku bisa mengurus Hyejin dengan baik Ahjussi. Dan eumm…” Neyna mempoutkan bibirnya sejenak, lalu menghela nafas pelan “—Soal menyusi Hyejin sebenarnya aku tidak terlalu yakin aku bisa melakukannya karna seperti yang aku katakan sebelumnya… Usiaku baru 17 tahun dan aku juga belum pernah hamil ataupun melahirkan sebelumnya Ahjussi.”

 

“Dari artikel yang pernah aku baca, kau tetap bisa menyusui meskipun kau belum pernah hamil ataupun melahirkan sebelumnya. Soal bagaimana caranya ASI bisa keluar dari dadamu, nanti aku akan tanyakan pada Jongin. Dia sepupuku, dokter anak di rumah sakit tempat Hyejin berada. Jadi mulai sekarang kau tidak perlu khawatir lagi.”

 

Neyna seketika mengangguk, seperti biasa anggukan sok paham. “Ahjussi…Ahjussi coba perhatikan dadaku. Dadaku terbilang besar untuk menyediakan ASI yang banyak untuk Hyejin. Hyejin pasti tidak akan pernah kehausan lagi benarkan Ahjussi?” Ucap Neyna antusias sambil memegang dadanya sendiri dan tersenyum cerah pada Sehun.

 

BLUSH. Pipinya sontak memerah. Sehun buru-buru memalingkan wajahnya dan meneguk salivanya susah payah. “Haish! Gadis bodoh! Dadamu memang besar, tapi kenapa harus dipegang segala sih!” Keluh Sehun membatin. Sehun menggeram, kemudian menghembuskan nafasnya kasar “Mungkin!” Jawabnya ketus.

 

Masih memalingkan wajahnya, Sehun melirik sekilas ke arah Neyna, mengecek posisi tangan gadis itu. Ketika Neyna sudah tidak memegang dadanya lagi, Sehun pun akhirnya kembali menoleh ke depan, kearah Neyna. “Kenapa kau tidak tahu malu sekali sih?! Aku kan pria. Kau tidak seharusnya memamerkan dan memegangi dadamu seperti tadi di depanku Neyna-sshi!”

 

Neyna terkekeh sambil berjalan mendekati Sehun. Dengan sigap, Neyna berjinjit, mengalungkan tangannya di leher Sehun, lalu mengecup pipi pria itu “Ahjussi…kau tergoda ya melihat dadaku? Benarkan?”

 

“A-aku tidak te-tergoda!” Sehun menggeram. Shit! Gagap terus. Gagap terus. Kenapa dia jadi gagap terus-terusan sih? Menyebalkan! Sehun menghentakkan kakinya kesal, lalu melepaskan paksa tautan tangan Neyna di lehernya. Mendapati Neyna yang malah terkekeh, Sehun yang memang sudah kesal celakanya jadi tambah kesal. Pria itu akhirnya membopong tubuh mungil Neyna dan berjalan tergesa keluar kamar.

 

“Aku bukan pelawak, jangan tertawa terus Neyna-sshi!” Bentak Sehun kesal sambil memukul pelan bokong Neyna.

 

“Aaahh Ahjussi kau sudah berani menyentuh bokongku. Kau nakal…. Nakal.” Neyna memukul-mukul manja punggung Sehun dan akhirnya tertawa semakin geli.

 

“Diam!” Sehun berteriak kali ini, membuat Neyna sontak membekap mulutnya dengan kedua tangannya. “Kita akan ke rumah sakit menyusul Hyejin Neyna-sshi! Jadi kita tidak punya waktu untuk bercanda lagi. Mengerti?!”

 

“Ah begitu… Baiklah aku mengerti Ahjussiku yang tampan.”

 

“Hmm..” Sehun berdehem dan memutar bola matanya malas, enggan menganggapi kecentilan Neyna.

 

“Ahjussi rumahmu kenapa sepi sekali?” Tanya Neyna setelah berhasil keluar rumah sambil celingak-celinguk mengecek sekitar rumah Sehun. Dari mulai ia datang ke rumah Sehun sampai sekarang ia akan pergi, rumah Sehun nampak sunyi senyap seperti tidak ada kehidupan. Benar-benar seperti rumah kosong.

 

“Ini sudah jam setengah sebelas malam, jadi tentunya rumahku sepi Neyna-sshi.” Sehun menurunkan Neyna dan mengeluarkan kunci mobilnya “Sebenarnya ada tiga pelayan di rumahku, tapi jam segini mereka tentunya sudah tidur.” Sehun berjalan ke pintu mobil, setelah itu menyender di badan mobil dengan satu tangannya bertumpu di atap mobil.

 

“Selain para pelayan, kau tinggal dengan siapa lagi Ahjussi?” Tanya Neyna menyelidik seraya berjalan menghampiri Sehun.

 

“Tidak ada.”

 

“Orang tuamu tidak tinggal di rumah ini?”

 

“Tidak, mereka tinggal terpisah setelah bercerai. Eommaku tinggal di Jepang, sementara Appaku tinggal di Amerika.” Jawab Sehun santai dengan tampang datarnya, seakan tidak terbebani sama sekali dengan polemik keluarganya.

 

Neyna memandang Sehun dengan tatapan iba, lalu mengusa-usap bahu Sehun “Ahjussi sudah jangan bersedih eoh. Aku tidak bermaksud menying—”

 

“Perceraian hal yang biasa, jadi aku tidak sedih Neyna-sshi!” Sergah Sehun ketus, lalu menyingkirkan tangan Neyna dari bahunya. “Ah ya.” Sehun menepuk dahinya pelan seperti baru mengingat sesuatu. “Untung kau membahas tentang penghuni rumah ini…” Sehun berdehem dan bersidekap “Neyna-sshi mulai hari ini kau akan tinggal di rumahku.”

 

“AAAAA daebak! Terimakasih Ahjussi!” Neyna meloncat-loncat kegirangan sambil tersenyum lebar. Harapannya benar-benar terkabul. Ia akhirnya bisa tinggal di rumah sebesar ini lengkap dengan pemiliknya yang tampan.

 

“Ya! Ya! Sudah jangan meloncat-loncat seperti itu!”

 

“Eum.” Neyna mengangguk patuh dan berhenti meloncat-loncat sesuai instruksi Sehun. Gadis itu masih tersenyum lebar, kemudian menggulung ujung rambutnya berulang-ulang.

 

“Satu hal lagi… Aku akan memberikan uang saku untukmu setiap minggu.”

 

“Gaji?”

 

Sehun menggeleng “Uang saku. Kata gaji terlalu berat untuk gadis seusiamu.” Ucapnya tegas, lebih ke arah mengoreksi penggunaan diksi Neyna.

 

“Terimakasih Ahjussi. Kau baik sekali.”

 

Sehun hanya mengendikan bahunya acuh, lalu menekan tombol otomatis di kunci mobilnya “Aku bukan supirmu, aku tidak mungkin membukakan pintu mobil, memakaikan ataupun melepaskan sabuk pengaman untukmu terus-terusan. Jadi sekarang kau harus belajar cara membuka pintu mobil, memakai sekaligus melepas sabuk pengaman Neyna-sshi!”

 

“Siap Ahjusiku sayang.”

.

.

.

.

.

“IN…IN?” Gumam Jongin sambil terus memperhatikan bordiran bertuliskan ‘IN’ di sapu tangan pemberian Neyna. “Apa ini inisial namanya ya? Apa dia yang menjahit sendiri tulisan ini?” Jongin kembali bergumam, jemarinya bergerak meraba-raba bordiran di sapu tangan berwarna pink itu. Meski sudah beberapa kali ia memperhatikan sapu tangan pemberian Neyna, tapi entah kenapa ia tidak pernah merasa bosan.

 

Ia malah kecanduan untuk terus-terusan mengutak-atik sapu tangan Neyna yang sebenarnya biasa saja. Dari bahannya jelas-jelas terbuat dari kain perca, tidak bermerk, tentunya murah atau malah Neyna tidak membelinya tapi membuatnya sendiri dari potongan baju bekas, modelnya juga biasa dan bisa dibilang tidak ada modelnya—sama saja seperti sapu tangan pada umumnya. Kalau diperhatikan lebih jeli benang bordiran bertuliskan ‘IN’ seperti benang murahan, tipis dan bukan terbuat dari benang emas.

 

Semuanya serba biasa tapi Jongin tidak memungkiri kalau sapu tangan pemberian Neyna kini menjadi mainan favoritnya. Ya…Bagaimana tidak? Seharian ini Jongin bahkan sudah mencuci sapu tangan Neyna lima kali, mengeringkannya, menyimpannya, lalu memperhatikannya lagi seperti orang gila.

 

“Aku harap kita bisa bertemu lagi seperti yang kau katakan sebelumnya…” Ucap Jongin penuh harap masih dengan senyum di wajahnya. “Aarrghh tapi kapan?” Jongin tiba-tiba mengerang dan mengacak rambutnya frustasi.

 

“Kalau besok aku menunggunya di depan Gedung Senam di jam yang sama seperti saat aku bertemu dengannya, apa dia akan muncul? Lalu apa yang akan aku lakukan kalau aku bisa bertemu dengannya? Apa aku akan mengajaknya berkenalan? Apa nanti dia mau berkenalan denganku?” Jongin meletakkan sapu tangan Neyna di meja, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia bisa gila kalau terus-terusan memikirkan gadis itu. Jongin menghela nafas berat dan akhirnya menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerjanya, berusaha meredam segelintir rasa penasarannya tentang Neyna.

 

BIP…BIP….BIP

 

Suara deringan handphone miliknya tiba-tiba menggema, membuat Jongin mau tidak mau menegakkan tubuhnya. Jongin mengeluarkan handphonenya dari saku jas dokternya sebelum akhirnya melihat nama penelfon. “Sehun?” Jongin mengerutkan dahinya saat nama ‘Sehun’ muncul sebagai penelfon di layar handphonenya.

 

“Untuk apa dia menelfonku? Tumben sekali.” Jongin menghela nafas pelan, kemudian mengangkat panggilan telfon dari Sehun. “Sehun-ah…Ada apa? Tumben sekali kau menelfonku.”

 

“Aku butuh bantuanmu.”

 

“Bantuanku?”

 

Aku ingin kau kosongkan jadwalmu sekarang juga, terutama ruanganmu. Aku sudah ada di parkiran rumah sakit Wooridul Spine. Kira-kira sepuluh menit lagi, aku akan tiba di ruanganmu.”

 

Baru saja Jongin ingin menanggapi ucapan Sehun, tapi Sehun dengan semena-menanya sudah lebih dulu mematikan panggilan telfonnya. Jongin menghela nafas panjang dan akhirnya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, memaklumi tingkah semena-mena sepupunya itu.

.

.

.

.

.

Setelah melepas seat bealt miliknya, Sehun bersidekap, lalu menoleh ke arah Neyna, mengecek apa gadis itu bisa melepas seat bealtnya sendiri seperti yang sudah dia ajarkan sebelumnya. Seketika Sehun menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai saat mendapati Neyna berhasil melepas seat bealt miliknya.

 

“Ahjussi aku berhasil melepas sabuk pengaman ini.” Neyna tersenyum bangga dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Sehun sambil mengelus-elus dada bidang pria itu.

 

Sehun menggeram dan menggerakan lengan atasnya sampai membuat kepala Neyna lengser dari bahunya. Tangan Neyna yang masih saja bergerak nakal di dadanya ia tepuk pelan, tapi dasar Neyna. Gadis itu bukannya menyingkirkan tangannya, tapi malah terkekeh dan semakin antusias mengelus dada Sehun, perut, sampai akhirnya hampir menyentuh kejantanan Sehun.

 

“Ya!” Sehun sontak berteriak dan mencubit pipi Neyna. “Kau rupanya tambah nakal Neyna-sshi!! Apa yang ingin kau pegang hah?! Apa?!”

 

“Akh…akh… Aku hanya ingin memegang itu…” Neyna mengarahkan telunjuknya dan mengendikkan dagunya ke arah kejantanan Sehun. “Kejantananmu terlalu menyembul Ahjussi. Tanganku jadi gatal untuk tidak mengelusnya.”

 

Sehun mendelik “Dasar mesum!!!” Teriaknya kesal. Sehun melepas cubitannya di pipi Neyna dan beralih mengusap wajahnya kasar.

 

“Ahjussi… kejantananmu ternyata besar sekali haha.”Ucap Neyna antusias sambil menoel lengan Sehun. “Aku pernah dengar dari Jina eonni. Kalau pria menggunakan minyak pelumas khusus untuk mempebesar kejantanannya. Ahjussi kau juga pakai kan? Mengakulah Ahjussi eoh…eoh hehe.” Neyna mencubiti pinggang Sehun seakan memaksa Sehun untuk mengiyakan pertanyaanya.

 

Sehun kembali menggeram dan mencengkram pergelangan tangan Neyna, sontak membuat cubitan Neyna di pinggangnya terhenti. “Kau sudah keterlaluan! Kau harus diberi pelajaran gadis centil!” Ucap Sehun membatin. Sehun menyeringai, lalu mendorong Neyna sampai membuat tubuh mungil gadis itu terpojok di jendela mobil. Buru-buru Sehun mendempetkan tubuhnya dan menghimpit tubuh Neyna. “Aku tidak pernah pakai minyak pelumas khusus atau apapun itu untuk memperbesar kejantananku, karna sebenarnya kejantananku sudah besar dari dulu Neyna-sshi.” Bisik Sehun seduktif dengan suara beratnya, membuat Neyna bergidik dan diam tak berkutik.

 

“Kalau kau macam-macam denganku, meraba-raba tubuhku atau menggodaku lagi. Kau akan rasakan bagaimana kejantananku yang besar ini menyerang kewanitaanmu. Mengerti?!” Ancam Sehun sambil menatap Neyna tajam. Sungguh ia benci sekali mengatakan kata-kata kotor seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Neyna sudah terlalu nakal. Gadis itu sudah menggodanya terlalu jauh.

 

Neyna mengigit bibir bawahnya. Ia tidak menyangka Sehun bisa bertindak dan berkata nakal seperti itu. Tatapan tajam serta ekspresi Sehun yang tengah kesal saat ini bukannya terlihat mengerikan, tapi malah terlihat sexymenurutnya. Alhasil bukannya menangis atau menunduk ketakutan, Neyna justru mengelus pipi Sehun dengan satu tangannya yang terkulai, lalu mengecup pipi pria itu. “Ekspresi Ahjussi saat ini benar-benar sexy.”

 

Sehun mendelik “K-kau me-menggodaku lagi!” Bentaknya terbata. “Kau…kau tidak takut dengan ancamanku huh?!”

 

Neyna menggeleng “Aku tidak takut Ahjussiku sayang, aku malah senang.”

 

“Senang?”

 

Neyna menangguk “Eum.” Jawabnya, lalu tersenyum cerah “Karna kalau ancamanmu benar-benar terjadi, itu artinya aku akan jadi milik Ahjussi seutuhnya. Setelah itu, Ahjussi akan menikahiku hehe.” Neyna terkekeh, kemudian mencubit gemas pipi Sehun.

 

“Oh Shit!” Sehun berteriak kesal sambil menjauhkan tubuhnya dari tubuh Neyna dan kembali duduk di jok mobilnya. Sudah susah payah ia merelakan harga dirinya untuk mengancam Neyna dengan kata-kata kotor yang sebenarnya dia sendiri jijik untuk mengatakannya. Tapi semuanya gagal total. Ancamannya tidak mempan sedikitpun dan malah membuat Neyna kegirangan. Sehun memijat pelipisnya dan menghembuskan nafasnya kasar. “Aku tarik kembali ancamanku. Anggap aku tidak pernah mengancamu Neyna-sshi.”

 

“Hehe tapi aku sudah terlanjur mengingatnya Ahjussi.”

 

“Pura-pura saja kau lupa. Susah sekali sih!!” Bentak Sehun kesal. “Sudah jangan tertawa terus. Lebih baik kau keluar dari mobil Neyna-sshi!”

 

Neyna mengangguk, lalu keluar dari mobil begitupun dengan Sehun yang juga keluar dari mobil. “Cepat ikuti aku!” Titah Sehun tegas yang langsung ditanggapi anggukan patuh oleh Neyna. Sehun pun akhirnya berjalan santai menuju lift di ujung area parkiran. Tanpa basa-basi, Sehun lantas menekan tombol ‘lt9’ di badan lift. Tidak ada satu menit, akhirnya lift pun terbuka, Sehun kemudian masuk ke dalam lift diikuti Neyna.

 

“Ahjussi… Ahjussi Anna dan Cristien Greye berciuman saat lifte sedang sepi seperti ini. Apa kita juga akan meniru mereka eoh?” Neyna mengapit lengan Sehun sambil tersenyum cerah dan menatap Sehun dengan tatapan penuh minat, seakan berharap adegan ciuman kontroversial Anna dan Christian Grey di lift dalam film FSOG terjadi padanya.

 

Sehun menyentil pelan dahi Neyna, setelah itu melepas paksa tautan tangan Neyna di lengannya. “Bukan Christien Greye, tapi Christian Grey! Haish seharusnya aku membetulkan pelafalanmu saat di ruang karaoke!” Sehun mengerang, nampak menyesal tidak membetulkan pelafalan Neyna saat di ruang karaoke. Pertanyaan dan tuduhan Neyna yang mengiranya ‘suka bermain kasar seperti si Christian Grey’ saat itu lebih dulu mengambil alih atensinya, membuatnya tersulut emosi sampai lupa membetulkan pelafalan Neyna.

 

“Kau juga seharusnya mengucapkan lift bukan lifte!”

 

“Christian Grey, lift, lalu apalagi Ahjussi?”

 

“Selanjutnya….”Sehun bersidekap, lalu membungkukan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Neyna “Jangan membayangkan yang tidak-tidak Neyna-sshi. Kita tidak akan berciuman seperti pasangan gila itu!” Sehun menyentil pelan dahi Neyna dan akhirnya menegakkan tubuhnya kembali.

 

“Hah pasangan gila?”

 

“Ya. Mereka memang pasangan gila bukan? Mana ada pria segila si Christian Grey yang tega menyiksa pasangannya hanya untuk kepuasan seks. Dan mana ada wanita yang mau disiksa oleh si gila Grey itu huh?!”

 

Neyna menggeleng cepat, menangkis persepsi Sehun “Apa kau lupa kau kan pernah bilang kalau kau juga suka bermain kasar seperti Christian Grey Ahjussi? Dan saat itu aku juga bilang kalau aku bersedia untuk disiksa olehmu. Bukankah itu artinya kau juga gila Ahjussi? Dan aku hampir gila seperti Anna. Benarkan?”

 

“Ya! Kau menyebut dirimu hampir gila atau gila sekalipun aku tidak perduli! Asal jangan menyebutku gila Neyna-sshi! Apalagi menyamakan aku dengan si gila Grey! Tidak! Aku tidak sudi!” Sehun berteriak kesal, seakan tidak terima dikatai gila oleh Neyna.

 

“Ahjussi kau sudi atau tidak, aku tetap menganggapmu sama gilanya dengan Christian Grey hehe. Sudah jangan kesal seperti itu. Aku tetap akan menyukaimu tampan.” Neyna menggelitik dagu Sehun sejenak sebelum akhirnya memeluk Sehun dan mengecup dada bidang pria itu.

 

“Ya! K-kau nakal sekali sih! Kau selalu saja menggodaku. Kau senang ya menggodaku? Senang?!” Sehun melepas pelukan Neyna, lalu mencubit pipi Neyna dengan kedua tangannya.

 

Neyna meringis dan malah terkekeh “Eoohhhh.” Ucapnya antusias.

 

“Dammit you little devil!!” Omel Sehun membatin. “Haish!” Sehun menggeram dan akhirnya mencubit pipi Neyna lebih kencang, membuat Neyna meringis semakin histeris. Tanpa Sehun sadari, lift yang ditumpanginya sudah terbuka. Dua Ajumma yang menunggu di luar lift, memandang Sehun dengan tatapan mengintimidasi seolah-olah Sehun pelaku penganiayaan anak di bawah umur.

 

“Agasshi baik-baik saja?” Pekik salah satu Ahjumma dari luar lift, membuat Sehun akhirnya tersadar dan melepas cubitannya di pipi Neyna.

 

Neyna mengusap-usap pipinya, lalu menggeleng “Aku tidak baik-baik saja Ahjumma.” Ucapnya jujur dengan tampang polosnya, membuat kedua wanita paruh baya yang ada di luar lift mendelik dan langsung masuk ke dalam lift, lalu memukuli lengan Sehun.

 

“Dasar kasar. Bagaimana bisa kau tega menyiksa gadis di bawah umur huh?!” Omel salah satu Ahjumma sambil terus memukuli lengan Sehun.

 

“Ahjumma… Ahjumma aku tidak menyiksanya.” Bela Sehun yang justru membuat Ahjumma yang satunya semakin kencang memukuli lengannya.

 

Neyna menatap panik ke arah Sehun dan dua wanita paruh baya tersebut. “Aah…Bagaimana ini?” Neyna bergumam pelan dan akhirnya memekik kencang “Ahjumma dia suamiku! Dia mencubitku tadi karna gemas padaku. Hanya itu.” Sehun terbelalak, hendak protes tapi Neyna langsung menghalaunya dengan memeluk tubuh pria itu. Kedua Ahjumma itu pun akhirnya berhenti memukuli lengan Sehun dan menatap Sehun-Neyna dengan tatapan curiga.

 

“Jadi kalian suami istri?” Tanya salah satu Ahjumma pada Sehun dan Neyna.

 

Neyna mengangguk “Eum.” Tandasnya, lalu tersenyum tipis pada kedua Ahjumma itu dan terakhir pada Sehun.

 

Sehun mendengus kesal dan akhirnya tersenyum terpaksa “Ahjumma kami pergi dulu.” Ucapnya sinis. Sehun kemudian membalas pelukan Neyna dan berjalan tergesa membawa Neyna keluar dari lift. Ketika pintu lift tertutup, Sehun melepas pelukannya di tubuh Neyna dan melepas tautan tangan Neyna di tubuhnya. “Dasar pembohong!” Omel Sehun ketus, lalu berjalan meninggalkan Neyna.

 

“Ahjumma tadi terus saja memukuli lenganmu, jadi aku terpaksa berbohong Ahjussi.” Neyna berjalan tergesa mengejar Sehun, lalu mengapit lengan pria itu, membuat Sehun akhirnya menghentikkan langkahnya. “Lenganmu pasti sakit. Maafkan aku Ahjussi.” Ucap Neyna penuh penyesalan sambil mengelus-elus lengan Sehun.

 

Sehun hanya diam, membiarkan Neyna mengelus-elus lengannya. Well, lengannya memang sakit tapi sebenarnya hanya sedikit. Ia hanya ingin membiarkan Neyna menebus kesalahannya. Melihat Neyna yang kini sibuk mengelus lengannya dengan tampang serius, tanpa sadar Sehun tersenyum samar. “Gadis centil ini ternyata tambah cantik kalau sedang serius.—pikirnya. Sehun tiba-tiba memejamkan matanya, lalu mengerang saat menyadari apa yang baru saja ia pikirkan. Dia pasti sekarang sudah gila karna terus-terusan digoda Neyna.

 

“Lenganku sudah tidak sakit.” Sehun menghempaskan tangan Neyna yang ada di lengannya dan akhirnya kembali berjalan.

 

“Benarkah Ahjussi?”

 

“Hmm.”

 

“Haah syukurlah.”

 

Sehun hanya mencebikkan bibirnya acuh. Pria itu kemudian menghentikkan langkahnya tepat di depan ruangan Jongin, membuat Neyna juga ikut menghentikkan langkahnya. Tanpa mengetuk pintu, Sehun langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan Jongin bersama dengan Neyna yang masih setia mengekor di belakangnya.

 

“Jongin-ah..” Panggil Sehun sambil celingak-celinguk, mencari keberadaan Jongin yang tidak terlihat di ruangan berdominasi putih tersebut. Mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, Sehun akhirnya berjalan menuju kamar mandi di ruangan tersebut. Neyna tentunya yang selalu mengekor di belakang Sehun juga ikut berjalan ke kamar mandi.

 

“Jongin-ah…” Panggil Sehun sesampainya di depan pintu kamar mandi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.

 

“Jongin-ah…” Panggil Neyna sambil mengetuk pintu kamar mandi setelah Sehun, membuat Sehun menatap malas ke arahnya “Jangan meniruku!” Ucapnya ketus.

 

Bukannya mengangguk patuh seperti biasanya, Neyna justru terkekeh dan semakin antusias memanggil Jongin sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.

 

“Ya! Kau! Berisik tahu! Jangan menged—” Omelan Sehun terpotong saat Jongin akhirnya membuka pintu kamar mandi.

 

DEG

 

Jongin membulatkan matanya, tubuhnya menegang mendapati gadis yang membuatnya gila seharian ini berdiri tepat di hadapannya. Neyna yang masih mengingat wajah Jongin juga ikut membulatkan matanya, tapi hanya sejenak. Gadis itu lebih memilih tersenyum manis, lalu melambaikan kedua tangannya. “Oppa…”

 

“Oppa?! Kau memanggilnya Oppa?! Kau mengenalnya huh?!” Sehun mendelik ke arah Neyna. Pria itu terlihat penasaran sekaligus jengkel dengan panggilan mesra yang disematkan Neyna pada Jongin.

 

“Agashi… Kita bertemu lagi.” Jongin menepuk halus pundak Neyna sambil tersenyum kikuk, seketika mengalihkan perhatian Neyna hingga tidak sempat membalas pertanyaan Sehun.

 

“Eum.” Neyna mengangguk dan membalas senyuman Jongin dengan senyuman manis seperti sebelumnya.

 

“Lagi?! Sebenarnya ini pertemuan kalian yang keberapa huh?! Kalian sebelumnya pernah bertemu dimana?” Sehun menatap Jongin dan Neyna bergantian, meminta penjelasan lebih pada kedua orang di hadapannya yang sebenarnya lebih tertuju pada Jongin.

 

“Ini pertemuan keduaku dengan Oppa ini. Sebelumnya Oppa ini pernah bertemu denganku tadi sore di depan gedung senam Ahjussi.”

 

Jongin seketika mendelik “Ahjussi? Kenapa Aggashi ini memanggilmu Ahjussi? Oh ya kenapa kau datang bersamanya? Di jam selarut ini pula? Kalian saling mengenal?” Jongin mencecar Sehun dengan pertanyaannya yang terdengar retoris. Tidak ada titik ataupun koma, Jongin berbicara sangat cepat bagaikan kereta super cepat. Pria itu rupanya baru sadar bahwa Neyna datang bersama Sehun dan kerap memanggil Sehun dengan sebutan ‘Ahjussi’.

 

Neyna hanya melongo. Kebiasannya menyela perkataan orang lain seketika gugur. Sementara Sehun mendesis, setelah itu menghembuskan nafasnya kasar “Gadis ini menilaiku sudah tua jadi dia memanggilku Ahjussi. Haish! Padahal kau dan aku seumuran, tapi dia memanggilmu Oppa dan malah memanggilku Ahjussi. Menyebalkan!”

 

“Aahaha jadi kalian seumuran?”

 

“Hmm.” Sehun mendengus sebal yang malah membuat Neyna terkekeh geli.

 

“Lalu?” Jongin tidak terkekeh sama sekali, tersenyum pun tidak. Pria itu memasang tampang serius seakan lebih tertarik dengan penjelasan Sehun yang belum selesai.

 

“Aku baru bertemu dia malam ini di suatu tempat, aku melihat dia memasang tampang memelas jadi aku memungutnya.” Sehun berucap santai yang justru cenderung asal. “Chanyeol dan Hyera meninggal beberapa jam yang lalu, Hyejin anak mereka selamat. Jadi aku akan mengangkat Hyejin sebagai anakku. Dan gadis ini akan jadi baby sitter untuk Hyejin.”

 

Sadar bahwa Jongin akan bertanya lagi padanya, Sehun pun mencondongkan tubuhnya ke arah Jongin. “Kalau kau punya pertanyaan lain, tanyakan padaku saja jangan coba-coba tanyakan pada gadis ini.Dia hanya akan memberikan informasi yang tidak valid padamu. Aku punya janji dengan suster untuk menjemput Hyejin. Jadi aku pergi dulu.” Sehun berbisik sepelan mungkin, setelah itu membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan.

 

Jongin mengeryit, sementara Neyna berlari mengejar Sehun “Ahjussi tunggu aku.”

 

Sehun yang baru membuka pintu, akhirnya menoleh pada Neyna “Kau tunggu disini. Jangan ikut! Aku hanya pergi sebentar!”

 

“Aaah Ahjussi tapi aku ingin ikut…”

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar “Sudah aku bilang aku hanya pergi sebentar! Aku akan kembali ke sini bersama Hyejin! Mengerti?!”

 

Neyna mempoutkan bibirnya sejenak dan akhirnya mengangguk lesu. “Jongin-ah aku titip sebentar gadis ini!” Titah Sehun tegas, kemudian benar-benar pergi meninggalkan ruangan Jongin.

.

.

.

.

.

“Aggashi kemarilah.” Jongin tersenyum lembut sambil mengibaskan satu tangannya, meminta Neyna untuk menghampirinya.

 

Neyna menurut. Gadis itu membalas senyuman Jongin dan berjalan menghampiri pria itu. “Oppa jangan panggil aku Aggashi lagi, panggil aku Neyna-ya saja eoh.”

 

“Namamu Neyna?”

 

Neyna mengangguk dan tersenyum cerah “Eum.. Namaku Neyna. Im Neyna.”

 

“Aah ternyata inisial ‘IN’ di sapu tangan yang kau berikan padaku kepanjangan dari namamu.”

 

“Eum.”

 

Jongin menghela nafas lega, akhirnya rasa penasarannya pada bordiran bertuliskan ‘IN’ yang ada di sapu tangan Neyna terjawab. Terlebih ia kini bisa berkenalan dengan Neyna, tanpa harus repot-repot memikirkan sekelumit cara yang memusingkan.

 

“Aku masih menyimpan sapu tangan darimu.” Jongin mengeluarkan sapu tangan pemberian Neyna dari saku jas dokternya dan menunjukkannya pada Neyna.

 

“Wah sapu tangan ini sudah bersih Oppa. Noda kopi yang sempat berceceran di sapu tangan ini bahkan sudah tidak ada lagi.” Neyna tersenyum senang sambil menyentuh sapu tangan yang ada di telapak tangan Jongin.

 

“Aku mencucinya lima kali Neyna-ya.”

 

“Apa?” Neyna memekik, terlampau kaget dengan pengakuan Jongin. Ia tidak menyangka sapu tangannya di perlakukan seistimewa itu oleh Jongin. Padahal jelas-jelas sapu tangan itu hanya terbuat dari bahan bekas sobekan bajunya.

 

“Aku hanya ingin sapu tangan pemberianmu benar-benar bersih dari noda kopi.” Jongin berdalih sambil tersenyum kikuk. Mencuci sapu tangan pemberian Neyna lima kali tentu karna dia terlalu senang dengan sapu tangan itu, jauh dari pernyataannya menyangkut noda kopi. Akan tetapi, Jongin lebih memilih berbohong. Jujur, dia belum siap ditertawakan oleh Neyna kalau sampai gadis itu tahu alasan yang sebenarnya. “Sapu tangan ini kau yang membuatnya sendiri Neyna-ya?”

 

Neyna lagi-lagi mengangguk “Eum. Aku membuatnya sendiri Oppa. Aku juga yang menjahit inisial namaku sendiri hehe.”

 

“Kau hebat sekali.”

 

“Terimakasih Oppa.” Neyna menoel singkat pipi Jongin, membuat Jongin terkesiap dan akhirnya tersenyum samar. Jantungnya sudah tidak bisa diajak kompromi, pipinya juga pasti sudah merona. Jongin tidak bisa berbuat lebih selain menghela nafas berkali-kali.

 

“Oppa sepupu Sehun Ahjussi yang asli?” Neyna menatap Jongin lekat-lekat dengan tampang polosnya.

 

Jongin seketika terkekeh, lalu duduk di sofa “Iya. Aku sepupu Sehun yang asli. Seratus persen asli.” Jongin sepertinya sudah mengenyahkan kecanggungannya pada Neyna. Tentunya berkat tampang polos dan kalimat lucu yang dilontarkan Neyna.

 

Neyna yang merasa pertanyaanya belum sepenuhnya terjawab akhirnya ikut duduk di sofa, di samping Jongin. “Oppa tapi berbeda dengan Sehun Ahjussi.”

 

“Berbeda? Maksudmu masalah kulitku dengan Sehun?” Jongin sepertinya mengerti arah pembicaraan Neyna. Gadis itu pasti akan menyinggung masalah perbedaan kulitnya dengan Sehun. Dia tahu betul itu.

 

“Bukan hanya itu.”

 

“Lalu?”

 

“Oppa terlihat lebih muda dari Sehun Ahjussi, Oppa juga memiliki sifat yang jauh lebih lembut dari Sehun Ahjussi.” Ucap Neyna sambil mengelus lengan atas Jongin.

 

Jongin mengerutkan wajahnya sambil mengigit bibir bawahnya, nampak larut dengan elusan Neyna. Dia hampir mengerang, tapi harus urung saat pintu ruangannya menjeblak, menampilkan sosok Sehun serta Yuri—suster yang sempat menunjukkan ruangan khusus bayi—dengan Hyejin yang masih saja menangis di gendongannya.

 

“Apa yang kau lakukan?” Sehun mendelik ke arah Neyna, meminta penjelasan lebih dari apa yang baru saja dilihatnya.

 

“Aku hanya memuji Jongin Oppa.” Neyna menghampiri Sehun, lalu menoel dagu pria itu.

 

“Memuji kenapa harus mengelus lengan Jongin segala sih?! Kau ternyata centil tidak padaku saja huh?!” Sehun berdecak sebal dan bersungut-sungut tidak jelas. Entah kenapa ia tidak suka kalau Neyna bertingkah centil pada Jongin, dan bukan padanya. “Haish kenapa aku harus kesal begini sih?” Umpat Sehun membatin. Ini pasti karna Neyna terbiasa mengodanya? Jadi dia merasa terabaikan? Hah entahlah.

 

“Aku hanya mengelus lengan Jongin Oppa Ahjussi, tidak lebih. Sudah jangan cemburu eoh.” Ucap Neyna sambil mengelus pipi Sehun. Ok, sebenarnya bukan Sehun yang patut cemburu disini, tapi Jongin. Jongin nampak mendengus dan menatap kedekatan Sehun-Neyna dengan tatapan tidak suka, curiga lebih tepatnya.

 

“Aku tidak cemburu!” Sehun menyingkirkan tangan Neyna dari pipinya dan terus saja cemberut.

 

“Baiklah, baiklah.” Neyna tersenyum manis dan mengelus-elus lengan Sehun sebelum akhirnya beralih pada Hyejin. “Jadi kau yang namanya Hyejin eoh?” Masih terus tersenyum manis, Neyna mengelus-elus pipi gembul Hyejin, lalu meraih satu tangan Hyejin dan menggoyangkannya pelan, membuat Hyejin yang tadinya menangis kini cekikan.

 

“Iya, dia Hyejin.” Jawab Sehun ketus, mewakili Hyejin.

 

“Nya…Nyah…Nyahhh… mmah…cacaahh…mmmaah…” Hyejin masih saja cekikikan sambil mengoceh. Bayi lima bulan itu nampak sangat menyukai Neyna bahkan sampai mengedip-ngedipkan matanya manja ke arah Neyna.

 

“Ahjussi sepertinya Hyejin menyukaiku.” Neyna tersenyum senang tanpa menoleh sedikitpun pada Sehun. Sehun lagi-lagi merasa terabaikan, tapi ya ia tidak menampik kalau sekarang ia senang melihat Hyejin berhenti menangis dan nampak sangat menyukai Neyna.

 

“Senyumanmu sangat manis Neyna-ya. Salah satu alasan Hyejin menyukaimu pasti karna senyumanmu.” Jongin berbicara sambil berjalan santai dan tersenyum lembut. Pria itu sepertinya sudah jengah duduk sendirian hanya menatap kemesraan Sehun dan Neyna.

 

“Cih pujianmu berlebihan sekali Jongin-ah!” Gerutu Sehun membatin. Sehun mencebikkan bibirnya dan memutar bola matanya malas. Dari gerak-geriknya, Sehun jelas-jelas jengkel dengan pujian Jongin yang menurutnya berlebihan.

 

“Oppa terimakasih.” Neyna terkekeh senang dan menepuk pelan lengan atas Jongin sesaat setelah Jongin berdiri di sampingnya, membuat Sehun seketika mendelik dan mendegus sebal.

 

“Hyejin-ah apa benar kau menyukaiku karna senyumanku? Karna senyumanku sangat manis?” Neyna menoel-noel hidung Hyejin, lalu menggelitik pelan perut buncit Hyejin.

 

“Aaah nyaah nyahh tcah tcahh.” Seakan mengerti dengan pertanyaan Neyna, Hyejin mengangguk-angguk sambil mengoceh dan terkekeh kegelian.

 

“Wajahmu sangat cantik seperti boneka Neyna-ya. Hyejin mungkin menganggapmu adalah boneka.” Jongin memuji lagi, kali ini sembari menelengkan wajahnya dan menatap Neyna hampir tanpa berkedip.

 

Neyna hanya bisa tersenyum cerah sambil mengelus-elus pipi gembul Hyejin. Sementara Sehun lagi-lagi mencebikkan bibirnya dan memutar bola matanya malas. Kesal sendiri melihat Neyna di puji pria lain tentunya aksi yang abnormal. Ia sadar betul itu. Tapi ia juga tidak bisa mengontrolnya. Baru beberapa jam ia putus dengan Kurumi, baru beberapa jam pula ia bertemu dengan Neyna. Meski hanya selang beberapa jam, celakanya ia merasa sudah lama putus dengan Kurumi dan sudah lama mengenal Neyna sampai bisa merasa sekacau ini.

 

Ia bukan pria yang cepat jatuh cinta atau cemburuan, hell no! Itu bukan gayanya! Saat berdua saja dengan Neyna, gengsinya yang terbilang sangat tinggi memang lebih dominan, tapi saat ada saingan—pria lain, Jongin— entah kenapa ia jadi bertingkah seperti orang gila seperti ini. Ia tidak tahu apa yang menimpanya saat ini. Ia tidak mungkin jatuh cinta pada Neyna secepat ini kan? Tidak. Tidak mungkin. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis prasangkanya barusan. Jongin yang melihat Sehun menggeleng berkali-kali sambil memandangi Neyna dengan tatapan intens nampak mengernyit dan memicingkan matanya, nampak curiga dengan tindak tanduk Sehun saat ini.

 

“Uuh Hyejin ingin eonni menggendongmu sayang?” Tanya Neyna saat Hyejin mengulurkan tangannya seperti minta digendong. Neyna terkekeh senang melihat tingkah lucu Hyejin. Bayi berusia lima bulan itu bahkan mengepakkan kedua tangannya berkali-kali, seperti mendesak Neyna untuk cepat-cepat mengendongnya.

 

“Sudah cepat gendong Hyejin!” Titah Sehun sambil bersidekap.

 

“Eum.” Neyna menunduk sopan dan tersenyum tipis pada Yuri sejenak seperti meminta izin pada suster berperawakan gempal tersebut. Yuri balas tersenyum, dan akhirnya menyerahkan Hyejin pada Neyna.

 

“Kau ternyata berat Hyejin-ah hehe.” Ucap Neyna setelah Hyejin berada di gendonganya.

 

“Kyahh kyaah mmmhhh cacahhh caaah.” Hyejin tersenyum cerah dan menggesek-gesekan kepalanya manja di tengkuk Neyna, kelihatan sekali kalau Hyejin senang bisa digendong oleh Neyna.

 

“Kau lucu sekali Hyejin sayang.” Neyna mengelus rambut Hyejin berkali-kali, lalu mengecup puncak kepala Hyejin. Melihat adegan itu, Sehun dan Jongin serempak menjilat bibir bawahnya. Kedua pria itu bertingkah seakan-akan ingin menggantikan posisi Hyejin. Sehun yang sudah biasa dielus dan dicium oleh Neyna bahkan tidak bisa mengendalikan tindakan spontannya. Sedangkan Jongin yang baru mendapatkan elusan ringan dan belum pernah mendapatkan kecupan dari Neyna kini nampak menerawang, seperti sedang berfantasi liar tentang Neyna.

 

“Cacacahh…nyaah…nyaah…” Celotehan Hyejin tidak sehisteris sebelumnya. Celotehan Hyejin kali ini terdengar pelan seperti gumaman. Hyejin mulai menyenderkan kepalanya di bahu Neyna dan memainkan rambut panjang Neyna, mengulung-gulungnya berkali-kali. Matanya mulai sayup-sayup dan akhirnya Hyejin pun menguap.

 

“Hyejin-ah kau mengantuk sayang? Ottokhae? Kau kan belum minum susu eonni sayang.”

 

“Susumu?” Jongin menaikkan sebelah alisnya dan menatap Neyna dengan tatapan menyelidik seperti meminta penjelasan perihal kalimat yang baru saja dilontarkan gadis itu.

 

“Iya, Oppa. Susuku. A.S.I.” Ucap Neyna penuh penekanan.

 

“ASI? Kau akan memberikan ASImu untuk Hyejin?”

 

“Eum.”

 

Jongin memicingkan matanya dan mengendikkan dagunya ke arah Sehun, meminta penjelasan lebih pada Sehun. “Ok, begini…..Mendiang Hyera selalu memberikan ASI pada Hyejin, jadi saat Hyejin diberikan susu formula, dia selalu memuntahkannya. Agar Hyejin tetap bisa minum ASI, aku menyuruh gadis ini untuk memberikan ASInya pada Hyejin.” Jelas Sehun santai.

 

Jongin mendegus, lalu menghela nafas panjang “Pertama, berapa usia Hyejin?”

 

“5 Bulan.” Jawab Sehun singkat.

 

“Kalau begitu Hyejin muntah saat diberikan susu formula bukan karna mendiang Hyera selalu memberikannya ASI. Hyejin muntah karna dia sebenarnya masih dalam usia membutuhkan ASI eksklusif, dimana Hyejin seharusnya memang hanya minum ASI tanpa minuman atau makanan pendamping apapun.”

 

Jongin melirik sekilas ke arah Neyna, kemudian menghembuskan nafasnya kasar “Kedua, aku yakin Neyna belum pernah hamil ataupun melahirkan sebelumnya, jadi kau tidak bisa seenaknya menyuruhnya menyusui Hyejin Sehun-ah.”

 

“Aku sudah membeli gadis ini, jadi aku punya hak untuk menyuruhnya menyusui Hyejin. Lagipula dia bersedia untuk menyusui Hyejin.” Sehun berbicara seperti tengah membentak Jongin, raut wajahnya terlihat kesal, jelas sekali tidak terima dengan asumsi Jongin tentang keputusannya menyuruh Neyna menyusui Hyejin.

 

“Membeli?”

 

Sehun hanya mengangguk, lalu melirik ke arah Hyejin “Hyejin sudah mengantuk, jadi sebaiknya kau cepat beritahu aku bagaimana caranya ASI bisa keluar dari dada gadis ini Jongin-ah.”

 

“Tahap ASI keluar dari payudara seorang wanita yang belum pernah hamil atau melahirkan sebelumnya sebenarnya membutuhkan waktu yang agak lama Sehun-ah, sekitar dua minggu sampai satu bulan menggunakan metode terapi hormon. Tapi dalam kasus yang satu ini—”

 

Jongin berdecakdan mengusap wajahnya kasar. Sungguh, ia menentang keras keputusan Sehun. Ia enggan membiarkan Neyna menyusui Hyejin. Tapi ia juga belum tahu solusi lain di luar keputusan anarkis Sehun saat ini. Ia belum tahu bagaimana caranya agar Neyna tidak jadi menyusui Hyejin. “—ASI bisa keluar dengan cepat, menggunakan metode pijatan pada payudara dan rangsangan pada putting susu dalam ritme yang kasar, kemudian dilanjutkan dengan stimulasi mekanik menggunakan pompa ASI.”

 

“Baiklah. Cepat lakukan!” Sehun berjalan santai ke arah meja kerja Jongin, lalu duduk menyender di pinggir meja tepat setelah melontarkan perintahnya.

 

“Eum…” Seperti tidak kenal takut, Neyna yang seharusnya bergidik ngeri setelah mendengar pejelasan terakhir Jongin, kini justru terlihat bersemangat dan lebih memilih berjalan menghampiri Sehun.

 

“Ayo cepat lakukan Ahjussi.” Ucap Neyna sambil menggoyang-goyangkan lengan Sehun.

 

Jongin mendelik begitu juga dengan Sehun. “Bukan aku yang akan memijat dadamu! Tapi kau..” Sehun melepaskan tautan tangan Neyna sambil mengendikkan dagunya ke arah Yuri… “Kim Yuri-sshi.” Ucap Sehun sambil mengeja tulisan nama ‘Kim Yuri’ di name tag jas suster yang dikenakan Yuri.

 

Jongin mendegus kesal. Sehun memang menolak untuk memijat dada Neyna, tapi Sehun seharusnya menunjuk dia, bukan Yuri. Disini dialah dokternya, bukan Yuri. Lagipula metode pijatan laktasi ASI seharusnya dilakukan oleh pria. Sehun memang tidak tahu informasi yang satu itu, makanya Sehun bisa asal memerintah Yuri. Itu memang salahnya tidak memberitahu Sehun lebih awal, tapi ya biarkan saja Yuri juga pasti akan memberitahu Sehun. Lihat saja…

 

“Maaf Tuan, saya tidak bisa melakukan pijatan laktasi karna metode itu harus dilakukan oleh pria.” Benar dugaan Jongin, Yuri menolak perintah Sehun. Biarpun tadi sempat kesal, Jongin kini tersenyum tipis. Jongin sepertinya senang dengan kemungkinan bahwa nantinya dialah yang akan memijat dada Neyna.

 

“Sebelumnya kau memberikan diagonis yang salah padaku. Kau bilang Hyejin muntah karna dia lebih sering diberikan ASI oleh mendiang Hyera sampai dia tidak bisa minum susu formula, tapi nyatanya Hyejin memang masih dalam usia membutuhkan ASI eksklusif. Dan kali ini kau memberikan diagnosis lainnya kalau hanya pria yang bisa melakukan pijatan laktasi. Hah kau pikir aku percaya pada diagnosis asal-asalanmu Yuri-sshi?!” Bentak Sehun seraya menatap Yuri dengan tatapan nyalang.

 

Sehun kelihatan marah. Pria itu menggeram berkali-kali dan tetap memandang Yuri dengan tatapan mematikannya padahal jelas-jelas Yuri sudah menunduk ketakutan. Hyejin yang tadinya mengantuk bahkan menangis seolah terkejut dengan nada suara Sehun yang kelewat tinggi barusan. Tidak ada yang bisa Neyna lakukan saat ini selain mengecupi puncak kepala Hyejin sambil mengelus-elus lengan Sehun, membuat Jongin yang melihatnya iri bukan main.

 

“Seorang suster memang tidak seharusnya melakukan diagnosis…” Ucap Jongin sambil menghampiri Sehun, Neyna lebih tepatnya. “Tapi diagnosis Yuri yang terakhir itu benar Sehun-ah.” Jongin tersenyum tipis, yang sebenarnya lebih kelihatan seperti senyum yang dipaksakan. “Tenaga pria jauh lebih besar dari wanita, pijatan laktasi ASI tentunya akan berhasil kalau pria yang melakukannya.” Jongin yang kini berdiri di samping Neyna berucap sambil mengelus punggung Hyejin, membuat Hyejin merasa nyaman dan akhirnya berhenti menangis.

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, menyingkirkan tangan Neyna, dan akhirnya bersidekap. “Kalau begitu kau saja yang melakukannya Jongin-ah.” Ucap Sehun ketus, kemudian menoleh ke samping, membuang muka. Jujur saja ia tidak rela membiarkan Jongin memijat dada Neyna, tapi ia juga enggan merelakan dirinya memijat dada Neyna. Alasannya simple, malas dan lagi-lagi karna gengsi.

 

“Baiklah.” Jongin tersenyum cerah, dengan senang hati ia melakukannya.

 

“Ahjussi bukan kau yang memijat dadaku?” Neyna mempoutkan bibirnya, nampak kecewa dengan keputusan Sehun.

 

“Tidak.” Tolak Sehun tegas tanpa menoleh sedikitpun. “Jongin seorang dokter, dia pasti lebih ahli.”

 

“Aaah begitu ya..” Neyna mengangguk sok paham, lalu tersenyum cerah. “Kalau begitu Oppa ayo cepat, pijat dadaku.” Ucap Neyna antusias yang langsung membuat Jongin tersenyum senang, sedangkan Sehun? Dia mendegus kesal.

 

“Neyna-ya serahkan Hyejin pada Yuri dulu eoh.” Ucap Jongin lembut, tapi sarat akan rasa antusias di dalamnya.

 

Neyna mengangguk “Hyejin-ah eonni ingin memeras susu yang banyak untuk Hyejin dulu eoh. Kau dengan suster Yuri dulu ya sayang.” Ucapnya sambil mengelus pipi Hyejin. Jongin seketika terkekeh, kalimat Neyna terdengar lucu dan terkesan sangat polos. Ia menggeleng berkali-kali, nampak terkesan dengan kepolosan Neyna, kontras dengan Sehun yang justru kelihatan jengkel. Jengkel dengan kenyataan bahwa Jongin kelihatan tertarik pada Neyna. Well, Sehun sebenarnya sempat melirik sekilas sebelum akhirnya kembali membuang muka.

 

Sebelum menyerahkan Hyejin pada Yuri, Neyna mengecup puncak kepala Hyejin. Baru sempat menjauhkan Hyejin dari tubuhnya, belum sempat menyerahkan Hyejin sepenuhnya pada Yuri. Hyejin sudah lebih dulu protes. “Ang Ang Angghhhh…” Hyejin menggeleng, bibirnya melengkung kebawah, kaki mungilnya bergerak menendang-nendang, tangannya bahkan melingkari leher Neyna, jelas sekali dia tidak mau diserahkan pada Yuri.

 

“Hyejin-ah eonni nanti akan menggendongmu lagi sayang.” Neyna kembali mengelus pipi gembul Hyejin dan akhirnya melepaskan tautan tangan Hyejin di lehernya. Ia sebenarnya tidak tega melihat Hyejin merengek seperti ini, tapi ya mau bagaimana lagi? Hyejin harus minum susunya sebelum bayi itu tertidur. Dengan terpaksa Neyna akhirnya menyerahkan Hyejin pada Yuri, lalu menggandeng lengan Jongin. “Ayo Oppa. Cepat peras susuku.”

 

Hyejin tentunya menangis dan Sehun tentunya semakin jengkel. Mendapati Neyna menggandeng lengan Jongin dan akan melakukan adegan erotis dengan pria lain membuatnya harus berdecak sebal berkali-kali. Tapi memang dasar Sehun, pria itu tetap mempertahankan gengsinya, tidak bergeming sedikitpun dari posisinya—masih saja duduk diam di meja kerja Jongin—tanpa mencegah Neyna dan Jongin yang kini mulai berjalan menuju ranjang pasien di ruangan Jongin.

 

“Neyna-ya silahkan duduk.” Ucap Jongin sambil mengulurkan satu tangannya, mempersilahkan Neyna duduk di ranjang pasien.

 

Neyna mengangguk, melepaskan tautan tangannya di lengan Jongin, kemudian duduk di ranjang. “Oppa duduklah juga.” Neyna tersenyum tipis dan menepuk-nepuk kasur, mengajak Jongin untuk duduk di sampingnya.

 

“Baiklah, tapi aku tutup tirai ini dulu hmm…” Sembari memegang tirai di sisi ranjang pasien, Jongin balas tersenyum. Jujur ia gugup, tapi ia lebih memilih bersikap sesantai mungkin. Tanpa basa-basi lagi, Jongin akhirnya berjalan seraya menarik tirai hingga akhirnya ranjang pasien tertutupi tirai bergambar sungai Mississippi tersebut.

 

“Cih ditutup segala! Aku juga tidak mau melihat adegan erotis kalian tahu! Aku tidak tertarik!”—Gerutu Sehun membatin. Sehun berdiri, menggeram sejenak, dan akhirnya berjalan, berniat meninggalkan ruangan Jongin.

 

“Neyna-ya…Oppa buka resleting dressmu eoh.” Pinta Jongin tepat setelah mendudukan tubuhnya di samping Neyna. Neyna hanya mengangguk, lalu bergerak memunggungi Jongin, mempersilahkan Jongin untuk membuka resleting dressnya. Sementara Sehun yang baru sampai di ambang pintu kembali menggeram.

 

“Oh dammit!!” Gumam Sehun kesal sambil menendang pintu. Sekuat apapun ia menahan gengsinya, ternyata ia tetap tidak bisa menahan emosinya. Ia tidak bisa membiarkan Neyna dan Jongin melakukan adegan erotis. Ia tidak tahu alasan kenapa ia jadi kesal begini, tapi yang jelas ia tidak sudi. Ia tidak rela. Sehun mengacak rambutnya sejenak sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Jongin dan Neyna.

 

“Stop it Jongin-ah!” Titah Sehun tegas ketika tiba di hadapan Jongin dan Neyna. Sehun langsung menyingkirkan tangan Jongin di dress Neyna, sontak membuat kegiatan Jongin membuka resleting dress Neyna terhenti.

 

“Ahjussi… Ada apa?” Neyna menatap Sehun lekat-lekat, penasaran dengan tindakan tiba-tiba Sehun.

 

“Ya, ada apa Sehun-ah?” Jongin tersenyum tipis, nada bicaranya barusan terdengar datar, nyaris dingin. Satu alisnya yang menukik, mengisyaratkan kalau sebenarnya dia kesal, terganggu lebih tepatnya. Tapi senyumannya menutupi kekesalannya, membuat Sehun yang sepupunya sekalipun terkecoh dengan emosi yang tengah melandanya.

 

“Biarkan aku yang melakukannya.” Sehun mengibaskan satu tangannya, mengisyaratkan Jongin untuk menyingkir. Jongin menurut, pria itu mau tidak mau berdiri dan membiarkan Sehun menggantikan posisinya, duduk di samping Neyna.

 

“Ahjussi yang akan memijat dadaku?”

 

“Hmm.”

 

“Asaa…Yeyey…” Neyna menyenderkan kepalanya di bahu Sehun, lalu menggesekan kepalanya manja sambil tersenyum cerah.

 

“Sial!Apa hubungan kalian sebenarnya?!” Umpat Jongin membatin. Jongin mengepalkan tangannya di samping tubuhnya sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat, takut-takut umpatannya keluar begitu saja. Mendapati Sehun mulai menyingkirkan kepala Neyna dari bahunya, Jongin pun kembali tersenyum tipis. Sehun terkenal dengan gengsinya, tapi ia tidak peduli itu. Ia hanya peduli kalau sekarang Neyna tidak lagi bermanja-manja dengan Sehun.

 

“Kenapa kau tiba-tiba ingin melakukannya? Kenapa kau tiba-tiba ingin menggantikanku?” Tanya Jongin santai, tapi terkesan retoris.

 

“Hyejin anakku sekarang, jadi sebagai Appanya aku harus bertanggung jawab penuh. Aku harus pastikan sendiri kalau ASI untuk Hyejin keluar dari dada gadis ini.”

 

“Aah…begitu.” Jongin tersenyum lembut, kemudian menunduk. Perlahan seringaian menggantikan senyuman lembutnya, bukan seringaian licik, tapi seringaian mengerikan yang sarat akan amarah di dalamnya. Jongin marah, Jongin tidak terima apapun alasan Sehun, tapi dia tidak mungkin marah-marah di depan Neyna. Dia adalah pria yang lembut, semua orang tahu itu, termasuk Neyna. Jadi sekesal apapun ia sekarang, lebih baik ia sembunyikan rapat-rapat.

 

Jongin kemudian menghembuskan nafasnya kasar, mendongak dan kembali tersenyum lembut. “Ok, Sehun-ah sekarang kau bisa meneruskan kegiatanku membuka resleting dress Neyna, setelah itu kau harus membuka bra yang Neyna kenakan. Aku akan memberikan instruksi selanjutnya dari meja kerjaku.” Bisik Jongin yang langsung membuat Sehun meneguk salivanya kepayahan.

 

Jongin tahu libido Sehun meningkat karna instruksinya, maka dari itu ia berdehem, bermaksud menyembunyikan geraman kesalnya.Tidak mau berlama-lama di hadapan Neyna dan Sehun, Jongin akhirnya tersenyum tipis sejenak pada Neyna, lalu berjalan ke meja kerjanya.

 

“Ahjussi, Jongin Oppa tadi bicara apa?” Tanya Neyna menyelidik.

 

“Bukan urusanmu.” Sehun menyentil pelan dahi Neyna, lalu menyeringai “Aku akan mulai membuka dressmu, jadi duduklah yang benar!” Bisiknya otoriter, tapi malah terdengar sangat sexy.

 

Bulu kuduknya seketika meremang, jantungnya berdetak tak karuan, pipinya memanas. Neyna mengigit bibir bawahnya dan bergerak kikuk memunggungi Sehun. Gugup bukan main, itulah yang ia rasakan saat ini. Tidak biasanya ia gugup seperti ini, apalagi saat bersama Sehun. Tangan Sehun yang kini bergerak menurunkan resleting dress yang ia kenakan, justru membuatnya semakin gugup.“Ommo… bagaimana ini? Ahjussi mulai menelanjangiku…” Ucap Neyna membatin. “Tenanglah Neyna-ya. Tenang. Kau cantik, tubuhmu juga bagus, Ahjussi pasti menyukainya.”—pikir Neyna, berusaha mensugesti dirinya.

 

Well, bukan hanya Neyna yang gugup disini, Sehun juga. Pria itu bahkan harus meneguk salivanya dan menjilat bibirnya berkali-kali. Resleting dress Neyna yang menjuntai sampai pinggang akhirnya berhasil dia buka sepenuhnya. Sehun buru-buru menyibakkan rambut Neyna hingga rambut panjang Neyna terjuntai kesamping, lalu melepas pengait bra Neyna dengan tergesa, cenderung tidak sabaran. Punggung mulus Neyna yang mulai terekspos benar-benar seperti oasis ditengah tugas menyessakkannya. Kejantanannya yang sudah mengeras dari tadi seakan berkedut. Antara sesak dan nikmat.

 

Sehun mulai tersulut nafsu setannya dan mungkin mulai hilang akal. Pria itu mengelus punggung Neyna sambil satu tangannya menurunkan bagian atas dress Neyna sampai batas perut. Detik berikutnya, Sehun memajukkan tubuhnya, hingga tubuhnya kini berdempetan dengan Neyna. Tangan kanannya kini mulai melingkari perut Neyna, sedangkan tangan kirinya menarik kasar bra Neyna. Neyna terkesiap, tapi ia lebih memilih diam. Ketika bra yang dikenakannya dilempar asal ke lantai oleh Sehun, Neyna pun akhirnya menoleh “Ahjussi…kenapa kau melem—”

 

“Ughh diamlah.” Sehun mendesah, suaranya terdengar serak lantaran nafsunya sudah membumbung. Sehun kemudian menggesekkan hidungnya di pipi Neyna, mengecup, menjilat, dan melumatnya rakus.

 

“Aahh Ahjussi… ” Neyna ikut mendesah, membuat Sehun semakin nafsu dan semakin brutal menjamah pipinya.

 

“Sehun-ah kau sudah berhasil membuka bra Neyna?” Jongin berteriak, wajahnya kelihatan kesal. Suara kecupan dan desahan dari balik tirai terdengar menjijikan, membuat emosinya yang sempat stabil kembali tersulut.

 

Sehun menggeram dan akhirnya berhenti menjamah pipi Neyna. Sumpah demi apapun, ia terganggu dengan teriakan Jongin. Tapi ia lebih terganggu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Belum pernah ia hilang kendali seperti tadi, dan Neyna berhasil membuatnya berubah menjadi pria gila sekaligus mesum. Meski begitu, ia bisa bernafas lega sekarang. Bersikap agresif sedikit pada gadis secentil Neyna ternyata tidak buruk! Look! Dia tidak lagi gagap. Itu nilai plus diantara sepersekian hal yang menyesakkan sebenarnya. Tapi ya… it’s quite nice…

 

“Tampangmu saat ini benar-benar jelek!” Ejek Sehun sambil mencubit pipi Neyna.

 

“Ahjussiii…” Neyna mempoutkan bibirnya, lalu menangkap tangan Sehun. Dengan sigap Neyna kembali menoleh dan mengecup punggung tangan Sehun “Ckck Ahjussi tadi kau benar-benar seperti Christan Grey, kasar, sexy dan mudah hilang kendali.” Ucapnya manja, lalu kembali menciumi punggung tangan Sehun.

 

Sehun tidak protes. Tidak juga menarik tangannya. Sehun membiarkan Neyna menciumi punggung tangannya dan hanya memutar bola matanya malas. “Jongin-ah setelah melepas bra, apalagi yang harus aku lakukan?”

 

“Kau bisa langsung melakukan pijatan laktasi ASI. Caranya simple, pertama kau harus menempatkan kedua tangannmu di dinding payudara Neyna, kemudian memijatnya dengan gerakan melingkar. Kedua, sesekali kau harus menekan dan menarik putting Neyna. Dan terakhir, kau harus melakukannya dengan kasar dan teratur selama sepuluh menit.” Jelas Jongin setengah berteriak hampir seperti memaki.

 

“Baiklah.” Tanpa sadar Sehun menjilat bibir bawahnya, jelas sekali kalau dia sebenarnya antusias. Pria manapun pasti antusias kalau ada di posisinya, apalagi… “Damn!” Sehun seketika mengumpat. Dada Neyna benar-benar berisi, padat, dan menggiurkan. Sehun rupanya baru sadar, lantaran sejak tadi ia terlalu fokus menciumi pipi Neyna. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari Neyna meski sedang duduk seperti ini luar bisa memudahkan dia melihat lekuk dada Neyna. “Sial! Usianya baru 17 tahun, tapi dia sudah sesexy ini.” Keluh Sehun membatin. Sehun mengerang, pikirannya benar-benar kotor sekarang! Terlebih kejantanannya mulai kembali berkedut. Ia tidak boleh hilang kendali lagi. Tidak. Tidak boleh!

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, lalu menjauhkan tangannya dari perut Neyna. “Sudah hentikan!” Titah Sehun sambil menyentil pelan puncak kepala Neyna.“Tanganku sudah basah karna liurmu gadis centil!”

 

Neyna menghentikkan ciumannya di punggung tangan Sehun, lalu beralih mengusap-usap punggung tangan Sehun. “Tenagaku sudah penuh, ini aku kembalikan tanganmu Ahjussi hehe.” Neyna menghempaskan tangan Sehun begitu saja dan mengerling jahil pada Sehun.

 

“Ya!” Bentak Sehun kesal.

 

“Ya!” Sahut Neyna sambil terkekeh, meledek Sehun.

 

“Haish kau senang sekali meniruku!”

 

“Haish kau senang sekali meniruku!”

 

Hah! Menyebalkan! Neyna malah mengulang kalimatnya lagi. Sehun mendesis sebal dan akhirnya meremas kasar dada Neyna, sontak membuat Neyna berhenti tertawa.

 

“Akhh…”

 

“Tidak ada lagi bercanda, ini saatnya aku memijat dadamu Neyna-sshi.” Bisik Sehun tegas tepat di telinga Neyna. Neyna hanya meringis, sementara Sehun harus menghembuskan nafasnya kasar. Meski ia terbuai dengan dada berisi Neyna, sayangnya kali ini ia tidak bisa menuruti nafsu setannya. Sangat menyesakkan memang, tapi mau tidak mau ia harus tahan. Sesuai instruksi Jongin, Sehun yang sempat meremas asal dada Neyna, kini mulai memijat dinding payudara Neyna dengan gerakan melingkar, teratur dan kasar. Sehun juga menekan dan menarik putting Neyna hingga membuat putting Neyna mengeras.

 

“Akkkh Ahhh Ahjussi.” Neyna meringis dan mendesah di saat yang bersamaan lantaran pijatan Sehun terasa perih sekaligus nikmat.

 

“Jangan berteriak seperti itu Neyna-sshi!” Bentak Sehun sambil terus memijat dada Neyna.

 

“Aku-akuh akhh tidak bisa Ahjussi…”

 

Sehun menggeram, lalu menghentikkan pijatannya di dada Neyna. Buru-buruSehun mengangkat tubuh mungil Neyna dan mendudukannya di pangkuannya. Sehun kemudian memutar tubuh Neyna hingga kini Neyna duduk menyamping. “Neyna-sshi diluar ada Jongin, suster Yuri dan Hyejin yang masih saja menangis. Kalau kau berteriak seperti tadi, mereka akan terganggu. Begitu juga denganku.” Ucap Sehun sambil menekan pelan pipi Neyna berkali-kali dengan telunjuknya.

 

“Maaf… maafkan aku Ahjussi. Aku janji aku tidak akan berteriak lagi.”

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Neyna “Aku tidak percaya.” Tandasnya sinis. Tanpa menunggu tanggapan Neyna, Sehun langsung mengecup bibir Neyna, menghisap, dan melumatnya rakus sambil kedua tangannya memijat kasar dada Neyna.

 

“Mpph…mmhh…” Neyna terbelalak kaget. Ia tidak menyangka Sehun akan menciumnya, apalagi sampai sebrutal ini. Meski begitu, ia tidak memungkiri kalau sebenarnya dia senang. Ia rela ciuman pertamanya direnggut paksa oleh Sehun. Sensasi aneh akibat ciuman Sehun luar biasa menyenangkan sekaligus menegangkan, meletup-letup hingga membuat adrenalinnya begitu terpacu.

 

Sehun menyeringai di sela-sela kegiatannya mendapati Neyna tidak lagi berteriak. Neyna terlihat menikmati ciuman darinya, terlihat dari lenguhan tertahan dan kelopak mata gadis itu yang mulai terpejam. Sehun merasa bangga telah membuat Neyna tidak berdaya, tapi disisi lain ia harus merasa prihatin dengan kondisi kejantanannya. Kejantanannya semakin mengeras, berkedut, dan sesak, nafsu setannya juga mulai sulit dikendalikan.

 

Bibir ranum sekaligus dada berisi Neyna sungguh nikmat, Sehun yang awalnya berniat mengendalikan nafsu setannya justru mulai hilang kendali lagi. Pria itu mengigit bibir bawah Neyna sampai membuat bibir Neyna akhirnya terbuka. Sehun yang sudah terbawa nafsu, kemudian melesakkan lidahnya ke mulut Neyna. Lidahnya bergerak membelit lidah Neyna, menghisapnya, dan mengadunya.

 

“Hah… eugghh…aahh.”

 

Desahan Neyna memperparah libidonya. Sambil terus memijat dada Neyna, Sehun pun akhirnya melepas ciumannya di bibir Neyna, kemudian beralih mengecup, menjilat, dan melumat leher Neyna dengan agresif, hingga beberapa kissmark miliknya tercetak jelas di sana.

 

“Aakh… aah…Ahjussi …” Neyna meringis dan mendesah manja, seakan merajuk Sehun untuk terus menyentuhnya.

 

Sehun memelankan lumatannya, lalu beralih melumat daun telinga Neyna, membuat Neyna menggeliat kegelian. Seolah mengerti, Sehun berhenti menjamah daun telinga Neyna dan akhirnya kembali menjamah bibir Neyna. Neyna terus meringis dan mendesah tak karuan, sedangkan Sehun semakin larut menjamah bibir dan dada Neyna.

 

“Maaf Tuan, ini sudah lebih dari sepuluh menit.” Ucap Yuri setengah memekik.

 

Sehun sontak menghentikkan kegiatannya di bibir dan dada Neyna. Pria itu menggeram, lalu kembali mendudukan Neyna di ranjang—menyingkir dari pangkuannya “Haish baiklah silahkan masuk Yuri-sshi.”

 

“Ahjussi…Tadi itu ciuman pertamaku.” Neyna tersenyum malu-malu, kemudian mengecup pipi Sehun. “Terimakasih eoh. Aku senang Ahjussi yang menciumku.”

 

“Begitukah?” Sehun menyeringai sambil mencubit pipi Neyna. Entah kenapa ia jadi gemas dengan kepolosan Neyna.

 

“Eum.”

 

“Ck dasar centil!” Sehun hanya berdecak pelan, tidak memaki dengan nada tinggi seperti biasanya. Pria itu kemudian menyentil pelan pipi Neyna dan akhirnya berdiri.

 

Tepat setelah Sehun berucap, Yuri pun datang bersama Hyejin dengan pompa ASI elektrik di gengamannya. Yuri tersenyum tipis pada Neyna, lalu mendudukan Hyejin di ranjang “Nona, mari saya pasangkan pompa ASI eoh.”

 

“Iya, silahkan eonni.” Neyna tersenyum lembut sambil satu tangannya mengelus puncak kepala Hyejin, membuat Hyejin berhenti menangis dan mulai mengoceh tidak jelas.

 

Tanpa basa-basi Yuri lantas mengelap payudara Neyna dengan washlap, lalu memasangkan pompa ASI di payudara Neyna. “Akhh…” Ringis Neyna saat pompa ASI mulai bekerja.

 

“Nona tahan eoh…”

 

“Eum..” Neyna mengangguk lesu, sementara Sehun memandang Neyna sambil mengerutkan dahinya, jelas sekali kalau dia sebenarnya khawatir.

 

Ketika ASI Neyna menetes di tabung pompa ASI elektrik, Yuri pun melepas pompa ASI di dada kiri Neyna dan beralih memasangkannya di dada kanan Neyna. Neyna mengigit bibir bawahnya, satu tangannya mencengkram seprai, sedangkan tangan lainnya terus mengelus puncak kepala Hyejin.

 

“Ok, sudah selesai Nona, ASI Anda berhasil keluar lagi.” Ucap Yuri sambil melepas pompa ASI di dada Neyna saat ASI Neyna kembali menetes. Yuri kemudian menggendong Hyejin dan menidurkan Hyejin di pangkuan Neyna, membuat Neyna sontak menyanggah kepala Hyejin menggunakan lengannya.

 

“Anda bisa mulai menyusui Hyejin Nona.” Ucap Yuri sambil tersenyum lembut.

 

Neyna mengangguk, lalu mengelus pipi gembul Hyejin “Hyejin-ah sekarang Hyejin bisa minum susu eoni hmm.” Neyna menoel sejenak bibir Hyejin dan akhirnya mengarahkan dadanya ke mulut Hyejin. Hyejin yang memang sudah kehausan (dan kelaparan—berkat fakta baru yang diungkap Jongin) langsung menyesap ASI yang keluar dari putting Neyna.

 

“Hyejin-ah minum yang banyak eoh.” Ucap Neyna antusias sambil mengelus puncak kepala Hyejin.

 

Oh Shit. Sehun mengerang. Nafsu setannnya mulai bangkit lagi hanya karna melihat Neyna menyusui Hyejin. “Kenapa aku jadi mesum begini sih?” Keluh Sehun membatin. Sehun mengusap wajahnya kasar, lalu menghela nafas berat “Neyna-sshi aku keluar dulu.” Ucapnya, kemudian berjalan tergesa.

.

.

.

.

.

“Jongin-ah apa yang kau lakukan disini?” Sehun menghampiri Jongin yang tengah menyender di dinding sambil meremas sapu tangan Neyna.

 

“Aku baru saja menerima telfon Sehun-ah.” Jongin tersenyum tipis, tapi terkesan dipaksakan. Pria itu berbohong. Sebenarnya tidak ada yang menelfonnya. Jongin muak akibat suara kecupan dan desahan menjijikan di dalam ruangannya. Ia tidak tahan makanya ia ada disini, di depan ruang kerjanya. “Apa ASI Neyna berhasil keluar?”

 

“Iya.”

 

“Bagaimana kabar Kurumi?”

 

“Terakhir kali aku melihatnya, dia baik-baik saja.” Jawab Sehun acuh.

 

“Kau masih berpacaran dengannya?” Tanya Jongin menyelidik.

 

“Tidak.”

 

Jongin seketika terbelalak. Tangannya bergerak gusar meremas-remas sapu tangan Neyna. “Kenapa kau putus? Apa karna Neyna?”

 

“Tidak, bukan karna Neyna. Aku putus karna Kurumi yang memutuskanku. Dia sudah muak denganku.”

 

“Hmm begitu..” Jongin terlihat sedikit lega karna ternyata bukan Neyna penyebab kandasnya hubungan Sehun dan Neyna. “Lalu apa kau punya hubunga spesial dengan Neyna?”

 

“Tidak ada.”

 

“Benarkah? Tapi kenapa Neyna terlihat sangat manja padamu?”

 

“Gadis itu hanya baby sitter yang aku beli di Ellui Club. Dia sangat manja padaku hanya karna dia senang aku sudah membelinya. Tidak lebih.”

 

“Kau membelinya di Club? Kau tidak bergurau kan?” Tanya Jongin setengah berteriak.

 

“Aku tidak bergurau. Aku memang belum bilang kalau aku membelinya di Club, tapi aku kan sudah bilang kalau aku membeli gadis itu.” Sehun mendengus, kelihatan sedikit jengkel.

 

“Aku…aku kira kau membelinya dari penyedia jasa baby sitter. Bukan di Club Sehun-ah.” Jongin menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu kelihatan frustasi dengan fakta mengenai Neyna yang diungkap Sehun barusan. “Apa Neyna pelacur?”

 

“Bukan. Neyna bukan pelacur. Dia penari telanjang yang hampir saja dijadikan pelacur hanya karna masalah hutang Appanya. Aku membelinya memang karna aku membutuhkan Neyna untuk menyusui Hyejin, dan kebetulan sekali gadis itu sedang dilelang.”

 

Jongin mengerang, lalu memijat pelipisnya pelan “Berapa kau membelinya?” Tanyanya retoris.

 

“3 Milyar won.”

 

“Serahkan Neyna padaku, aku akan membelinya dua kali lipat!”

 

 

 

TBC

 

 

Ok di chapter ini baru ketauan yah kalo Neyna itu gak ngerti bahasa Inggris. Pas GPS Sehun bilang kalo bentar lagi mereka bakal sampe di RS Woridul di chapter 1B itu kan pake bahasa Inggris, nah si Neyna mah diem diem aja, dia gak tau Sehun mau bawa dia kemana, ya soalnya dia emang gak ngerti apa yang diomongin tuh GPS hehe^^

 

Regards

 

Angel Devilovely95

 

15 thoughts on “My Beautiful Seducer (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s