The Pulchra Bridge [Chapter 4]

The Pulchra Bridge [Cover]

a fanfic by bubblecoffee97 (drixya)

 

Cast(s) : Lee Aeri, Oh Sehun, Luhan and find by yourself

Genre : Fantasy & Romance || Rating : T || Length : Chaptered

 

Summary : Hidup seorang Aeri layaknya berada dalam neraka. Ia tak pernah berpikir bahwa kehidupannya akan berubah begitu ia melewati sebuah jembatan sulur. Jembatan Pulchra.

 

Disclaimer

Casts belong to God. I just own the storyline. If you’re a plagiarist, please be proud of yours.

And this fanfic also published on another blog. Thanks to AXyrus for the beautiful poster.

Previous : Prolog || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

 

*****

Semilir angin bertiup dengan tenang, membelai permukaan kulit seorang gadis. Gadis berparas rupawan yang tengah memejamkan kedua kelopaknya, menikmati hembusan angin yang seolah menggoda untuk larut dalam lelap. Perasaan tenang menyergap jiwa ketika menyelami sensasi alam Krasivyy Garden. Begitu kelopak matanya membuka, bunga warna-warni bermandikan sinar mentari pagi yang hangat menghadiahinya pemandangan menakjubkan.

Tak henti hatinya bersyukur dapat menikmati keindahan sebuah taman yang belum pernah disambanginya sebelum ini. Serta perasaan berterimakasih pada dua pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya memenuhi benaknya. Jika saat itu mereka tak menemukan dirinya, mungkin ia tak ‘kan pernah berdiri di sini dan merasa sebahagia ini.

“Kau senang?”

“Kau bercanda? Aku sangaaatt senang! Rasanya sudah lama aku tidak melihat pemandangan seindah ini,” ucap Aeri.

Sudut bibir Luhan yang sedari tadi membentuk senyum semakin tertarik ke atas mendengar nada riang gadis di sisi kiri. Jantungnya berdesir mengetahui Aeri begitu bahagia seakan kebahagian yang gadis itu rasakan turut menjalar perlahan ke tiap sudut hatinya. Ia meraih lengan Aeri dan membawanya memulai tur kecil, melihat lebih dekat hamparan sukma penuh warna cerah di hadapan mereka.

Aeri terdiam begitu Luhan mengenggamnya tapi juga tak menolak. Ia membiarkan pemuda itu menuntunnya berkeliling taman karena seperti ucapan Luhan hari lalu, ia mempercayainya maka Aeri pun mempercayai Luhan. Di sisi kiri serta kanan jalan berhias bebatuan pualam itu terbentang bunga berbagai warna serta jenis.

Sesekali jemarinya menyentuh kelopak bunga yang ia lewati. Tak terbesit olehnya untuk memetik salah satu karena tak ingin mengambil risiko jikalau hal itu dilarang di sini. Terlebih rasanya amat sayang jika harus melukai tanaman-tanaman indah tersebut hanya karena keinginannya ntuk memiliki sesaat.

“Kau ingin tahu lebih banyak tentang Omorfi, kan?”

Gadis Lee mengangguk sebagai jawaban. Ia mengikuti langkah Luhan pada sebuah pohon besar yang nampaknya telah berusia ratusan tahun. Mereka duduk di sana, bersandar pada batang kokoh pohon. Aeri memanjangkan kaki jenjangnya yang tertutup gaun panjang yang ia kenakan. Gaun kuning cerah yang tampak serasi dengan hijau rerumputan dibawahnya.

“Jadi, apa yang ingin kau tahu?”

Raut Aeri berubah bingung, sibuk berpikir apa yang sekiranya ingin ia tahu tentang Omorfi. Sebab sebelum ini ia tak memikirkan lebih jauh apa yang ingin diketahuinya. Sejauh ini ia hanya merasa perlu informasi mengenai tempat dimana ia berada saat ini. Luhan terkekeh tanpa suara melihat bagaimana ekspresi kebingungan Aeri yang tampak lucu dan menggemaskan dalam satu waktu.

“Bagaimana kalau ‘tempat apa ini sebenarnya’?” tanya Aeri seketika. Luhan terlihat tidak begitu terkejut mendengar pertanyaan yang Aeri ajukan. Karena pertanyaan semacam itu ia yakini pastinya akan Aeri luncurkan.

“Ini kerajaan Omorfi. Kerajaan yang terbentuk ratusan tahun lalu setelah pecahnya peperangan Cross,” jelas Luhan singkat. Jawaban yang sayangnya tak begitu memuaskan bagi si gadis.

“Peperangan apa? Lalu apa ini di Eropa? Australia? Asia?”

Luhan tersenyum, “Sepertinya kau sangat ingin tahu, ya? Baik, akan ku jelaskan. Omorfi bukan di tempat-tempat yang tadi kau sebut dan juga bukan di dunia yang sama dengan dari mana kau berasal,” Aeri terpaku mendengarnya, “Ya, Aeri. Kau berada di dunia yang berbeda saat ini. Tapi jangan khawatir, kau masih hidup karena ini bukan surga. Dan perang Cross yang ku maksud adalah perang antara Mediocris dan Neraida, dua kaum terkuat di dunia ini.”

Setelah keterpakuan sedikit sirna karena Luhan menjelaskan bahwa dirinya bukan berada di surga, kini ia kembali bertanya soal nama kaum yang tadi si pemuda sebutkan. Ternyata masih ada istilah asing yang baru didengarnya saat ini.

“Mediocris adalah kaum yang dianugerahi kekuatan putih dan Neraida, kaum berkekuatan hitam. Mereka berperang untuk menunjukkan siapa yang terkuat tapi pada akhirnya kehancuran yang mereka dapat. Lalu para Fata, kaum yang awalnya tak dianggap karena tidak memiliki kekuatan special, membangun lagi puing-puing kehancuran itu dan berdirilah kerajaan ini. Hukum alam memang berlaku, kan?” Luhan bercerita sambil menerawang. Membayangkan bagaimana keadaan kerajaan ini sebelum terbentuk. Kehancuran dimana-mana karena keserakahan mereka yang merasa dirinya terkuat, tak terkalahkan. Yang dengan keegoan mereka, nyawa banyak orang seakan tak berarti apapun.

“A-Apa kaum Mediocris dan Neraida masih ada?” tanya Aeri. Tiba-tiba ia merasa gugup mengetahui kerajaan dimana ia berada, dahulu terbentuk karena sebuah kehancuran.

Senyum maklum tercetak di wajah Luhan, ia cukup mengerti bagaimana perasaan Aeri saat ini. Mengetahui bahwa tempat yang beberapa hari sebelumnya ia kagumi ternyata memiliki sejarah yang agak mengerikan tentu sedikit banyak meningkatkan kekhawatirannya.

“Mereka masih ada hingga sekarang, tapi tak punya lagi kekuatan karena perang itu. Dan mereka tinggal di pinggiran kerajaan, jauh dari sini. Mereka memilih memisahkan diri sejak Feya yang memimpin kerajaan,” terang Luhan. Tanpa sadar Aeri menghela nafas lega. Setidaknya ia tak perlu lagi merasa khawatir akan kembali terjadi peperangan, pikirnya.

“Sekarang biar ku tebak, Feya itu pasti seperti keturunan raja, kan?”

“Hm, pada masa sekarang bisa dibilang begitu. Tapi dahulu, Feya adalah sebutan untuk para Fata yang berperan sebagai pelopor pembangunan kerajaan. Itulah mengapa Feya mendapat kepercayaan serta kehormatan untuk memimpin Omorfi.”

“Jadi, kau dan keluargamu adalah keturunan Feya?”

Luhan terdiam sesaat sebelum menjawab, “Ya, begitulah. Bagaimana kalau kita kembali sekarang?” Aeri mengiyakan ajakan Luhan. Pun teringat ia belum memberi tahu Miyoon akan pergi ke Krasivyy karena saat ia bangun pagi tadi, tempat tidur Miyoon telah kosong.

***

“Aku belum melihat Luhan pagi ini. Apa kau tahu dimana dia, Sehun?”

Sehun menggeleng, ia memang tidak tahu keberadaan sang kakak yang belum terlihat sejak sarapan tadi. si penanya yang tak lain ialah sang Vasilissa yang juga ibu dari dua bersaudara tersebut menampakkan raut keheranan. Belum pernah sekalipun putra sulungnya bersikap seperti hari ini, seolah menghilang di telan bumi.

Sepasang ibu dan anak itu tengah berjalan di halaman belakang. Merupakan kebiasaan bagi sang Vasilissa berkeliling istana di pagi hari. Ia senang melihat keadaan di Das Schloss secara langsung. Memantau kegiatan para pekerja serta berinteraksi dengan mereka pun merupakan hal yang menyenangkan baginya. Sedang sang putra, Sehun, sekedar menemani ibunya selagi tak ada tugas yang diberikan sang ayah untuk sementara ini.

Sementara mereka berbincang santai seraya menuju dapur istana yang berlokasi di sudut kiri belakang istana, dua muda-mudi berjalan berlawanan arah dari gerbang halaman belakang. Sehun yang sempat menoleh tentu menyadari keberadaan mereka, tidak dengan sebaliknya.

“Bu, ku rasa aku tahu Luhan hyung dimana,” ujar Sehun tanpa melepaskan tatapannya.

Sang ibu turut menghentikan langkahnya dan mengikuti arah pandang Sehun, mengernyitkan dahi mendapati Luhan bersama seorang gadis yang belum pernah dilihatnya. Keduanya tampak tertawa saat membicarakan sesuatu, tak menyadari ada yang memperhatikan.

Mereka baru tersadar saat sudah berpapasan. Luhan tersenyum manis dan menyapa sang ibu dan adiknya seperti biasa. Sedangkan si gadis membungkuk serta menyapa dengan nada gugup yang amat ketara, terlebih Sehun menatapnya dengan tatapan yang tak ia mengerti.

“Jadi, siapa gadis cantik yang bersamamu ini, Luhan?” Jessica, sang Vasilissa, tersenyum lembut menatap gadis yang ia maksud dan Luhan secara bergantian.

“Ini Lee Aeri, Bu. Gadis yang diselamatkan Chanyeol dan Sehun,” jelas Luhan, ia sempat melirik Sehun sekilas. Vasilissa mengangguk paham, ia memang sudah mendengar perihal seorang gadis yang dibawa si bungsu namun belum sempat melihatnya langsung karena kemarin kondisi kesehatannya sedang tak begitu baik hingga mengharuskannya istirahat selama sehari.

“Luhan, apa Aeri ini…” Vasilissa menggantungkan kalimatnya untuk melihat ekspresi Luhan yang hanya mengangguk tanda apa yang ingin ia tanyakan memang benar adanya. Aeri keheranan melihat sang Vasilissa dan Luhan yang seakan tanpa bicara pun dapat mengerti satu sama lain lewat tatapan.

“Nah, Aeri, maukah kau menemaniku minum teh?” tawar Jessica.

Aeri menoleh pada Luhan, meminta persetujuan pemuda itu karena ia sedang bersamanya. Dan tentu saja Luhan mempersilahkan Aeri pergi bersama Jessica. Dua wanita berbeda generasi itu pun melangkah menjauh hingga hanya tersisa kakak beradik .

“Apa yang ibu dan hyung maksud tadi?” tanya Sehun memecah keheningan setelah ibunya dan Aeri jauh dari pandangan.

“Seperti yang sudah kau tahu, Sehun.”

“Bahwa dia adalah seorang Neraida?”

Luhan mengangguk meski tatapan kosongnya masih mengarah pada jalan yang tadi dilewati Aeri dan Vasilissa. Tanpa memperhatikan raut keraguan yang terpampang jelas di wajah Sehun. Meski Sehun memang sudah mengira hal itu yang dimaksud ibunya tadi, entah mengapa ia tidak begitu yakin. Firasatnya mengatakan bahwa ada hal lain yang disembunyikan mereka berdua.

Namun ia berusaha mengenyahkan pikiran tersebut karena sesuatu lain mendesak untuk ditanyakannya sejak ia melihat sang kakak tampak begitu bahagia bersama Aeri tadi.

Hyung, apa kau menyukainya?”

Secara reflek, Luhan menoleh, menatap Sehun dengan pandangan menilai yang belum pernah Sehun lihat. Hingga setelah beberapa detik dalam keheningan, Luhan tersenyum simpul sambil berucap santai, “Menurutmu?”

Sejurus kemudian berjalan meninggalkan Sehun bersama pikiran yang kembali memenuhi benaknya.

***

Dentingan sendok beradu dengan cangkir terdengar di suatu sudut bangunan kokoh utama Das Schloss. Gula yang semula berupa butiran perlahan larut dalam cairan pekat yang menguarkan aroma menenangkan. Yang sayangnya tak setenang hati salah satu wanita di ruangan tersebut. Aeri beberapa kali membetulkan posisi duduknya, terlihat mencari posisi nyaman yang nyatanya tengah berusaha menutupi rasa gugup.

Di sebrangnya, ialah pendamping hidup sang pemimpin kerajaan, tak ada alasan bagi Aeri untuk tak merasa gugup duduk berhadapan dengan wanita nomor satu di Omorfi. Belum lagi sang Vasilissa masih betah tak bersuara semenjak ia memfokuskan diri meracik teh untuk mereka. Gerak tangannya tampak terampil, meyakinkan Aeri bahwa pastinya ibu dua anak itu sudah terbiasa menyiapkan tehnya sendiri.

“Ini teh untukmu,” ujar Jessica. Tangannya menyajikan satu cangkir di hadapan yang lebih muda, mempersilahkan Aeri untuk menikmati sajian tersebut. Aeri mengangguk sebagai tanda terimakasih lalu menyesap teh yang tersaji dengan khidmat. Gadis Lee bisa merasakan hangat minuman tersebut menjalar ke tubuhnya, mengurangi sedikit kadar kegugupannya.

Jessica meletakkan kembali cangkir yang isinya tinggal setengah di atas tatakan kecil, “Aku selalu senang memiliki teman untuk minum teh.”

“Saya juga senang menerima jamuan anda, Yang Mulia.”

“Jangan terlalu formal, Aeri. Kau bisa memanggilku ‘Ibu’, anggap saja aku orang tuamu selama kau di sini.”

Mendengar itu, Aeri dapat merasakan perasaannya menghangat entah untuk keberapa kalinya semenjak ia berada di dunia asing ini. Ia merasa amat tersanjung dengan kalimat yang Jessica lontarkan.

“Sejak dulu, aku berharap memiliki seorang putri. Tapi sayangnya…penyembuh kerajaan mengatakan aku tak bisa mengandung lagi karena kondisi fisikku.” Jessica menatap jendela di sisi kirinya sendu. “Aku turut sedih mendengarnya, Ya—maksudku, Bu,” Aeri buru-buru membenarkan. Aeri belum terbiasa menyapa wanita dihadapannya dengan panggilan tersebut. Dan dilihat dari ekspresi Jessica, ia tampak memakluminya.

“Setidaknya aku masih memiliki dua anak lelaki yang sangat ku sayangi. Dan sekarang ada dirimu. Apa tidak masalah jika aku menganggapmu seperti putriku sendiri?”

Gadis Lee terpaku. Belum sampai sejam ia bertemu dengan wanita dihadapannya ini namun beliau telah menganggapnya sebagai anak. Entah bagaimana lagi Aeri harus bersyukur merasa dikelilingi orang-orang yang peduli dan menyayanginya.

“Aku justru akan sangat senang, Bu.”

Jawaban Aeri tak elak menyeruakkan perasaan bahagia di sudut hati sang Vasilissa yang langsung berdiri dan mendekap Aeri sebagai bentuk kebahagiaan serta terimakasihnya. Seperti sebuah mimpi, ia dapat memiliki seorang putri meski bukan anak yang lahir dari rahimnya. Pun Aeri begitu tenang berada dalam dekapan sesosok wanita yang memintanya memanggil ‘ibu’. Sosok yang setahun belakangan teramat ia rindukan.

Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Aeri, sudah lama ia tak merasakan pelukan seorang ibu. Dan kini ia bisa merasakannya lagi, seolah kesedihan yang ia simpan sendiri selama ini menguap begitu saja.

“Terimakasih, Aeri,” bisik Jessica.

***

Miyoon tengah berjalan tergesa di salah satu koridor istana. Tadi salah satu pelayan memberitahunya bahwa Aeri tengah bersama sang Vasilissa di ruang baca istri raja tersebut. Saat ia kembali ke kamar untuk memberikan sarapan pada Aeri, ia tak menemukan gadis itu di kamarnya maupun di tempat lain yang pernah di kunjungi Aeri. Ia sempat berpikir apakah gadis itu kembali ke dunianya atau diculik oleh orang tak dikenal. Sampai berita tadi datang ia belum bisa bernapas lega.

Vasilissa Jessica memang terkenal akan keramahan serta kebaikan hatinya namun itu tak mengurangi perasaan khawatir di benak Miyoon, mengingat Aeri belum tahu banyak mengenai Das Schloss beserta hal-hal lain seputar kerajaan. Khawatir bila sang Vasilissa menanyakan banyak hal pada Aeri lalu gadis itu tidak dapat menjawabnya.

“Oh, hai, Miyoon!”

Miyoon sempat melompat mundur karena terkejut mendengar sapaan itu. Terlalu sibuk berpikir membuatnya tak sadar bahwa ia telah berada tepat di depan ruang baca dimana Aeri dan Vasilissa baru saja menutup pintu dibelakang mereka.

“Ya ampun, Aeri!” Miyoon segera memeluk Aeri dengan erat, “Kau membuat jantungku mau copot saking khawatirnya!”

Begitu pelukan tersebut terlepas, Aeri berkata dengan nada menyesal, “Maaf membuatmu khawatir, Miyoon. Kau tidak ada di kamar sewaktu aku bangun, jadi aku memutuskan pergi padahal aku belum memberitahumu.”

“Tidak apa-apa, yang terpenting kau baik-baik saja.”

“Seharusnya aku yang meminta maaf disini karena aku-lah yang mengajak Aeri,” ujar Vasilissa membuat Miyoon tersadar bahwa ada sosok istri Vasilias di antara mereka. Segera saja ia membungkuk hormat dan meminta maaf karena ketidak sopanannya.

“Aeri telah bercerita padaku tentangmu. Kurasa Aeri benar kalau kau memang teman yang baik,” puji Jessica. Kedua pipi Miyoon merona mendengar pujian yang seorang Vasilissa lontarkan padanya tanpa lupa berucap terimakasih atas pujian tersebut.

“Bu, sepertinya aku harus kembali bersama Miyoon.”

Jessica mempersilahkan Aeri beserta Miyoon untuk mengundurkan diri. Ia tersenyum memandang punggung gadis yang telah mencuri perhatian hati keibuannya sejak pertama kali melihat gadis itu.

***

“DEMI APAPUN, AERI! ITU KEREN!”

Secara spontan Aeri menutup kedua telinganya mendengar pekikan Miyoon. Ia tengah menceritakan kegiatannya hari ini dari mulai kepergiaannya ke Krasivyy Garden bersama Luhan sampai pertemuan dengan Vasilissa ketika tiba-tiba saja Miyoon memekik diakhir cerita.

“Vasilissa menganggapmu putrinya?! Oh, kau memang cocok menjadi Printesa!” seru Miyoon seraya menatap Aeri penuh kekaguman tanpa berhenti mengelap salah satu jendela di ruang musik. Ya, mereka memang sedang menjalankan tugas untuk membersihkan ruangan tersebut. Walau sebenarnya Miyoon yang mendapat tugas itu sedang Aeri tidak karena ia dianggap sebagai tamu khusus di istana tapi Aeri bersikeras membantu Miyoon.

“Aku juga senang ketika mendengarnya,” sahut Aeri tapi wajahnya menampilkan yang berbanding terbalik.

Miyoon yang menyadari hal itu pun menjadi heran, “Tapi kenapa kau terlihat tidak senang?”

Aeri menghela napas pelan, “Aku tidak mengerti mengapa Prionsa Sehun masih bersikap dingin padaku? Bahkan tadi sewaktu kami bertemu dia menatapku dengan pandangan yang—entahlah aku tidak paham apa artinya.”

“Tenanglah, Aeri. Dia tidak membencimu, mungkin dia hanya belum terbiasa dengan keberadaanmu,” ujar Miyoon menenangkan. Aeri mengangguk lesu lalu kembali fokus menghilangkan debu yang menempel di piano. Berbeda dengan hatinya yang fokus untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Sehun memang tak membencinya.

To be continued…

 

drixya’s chat!

Hola~ Apa kabar yang di sana? Masihkah inget sama fanfic ini? Semoga masih, tapi kalo udah lupa boleh baca ulang chap sebelumnya kok, hehe. Maaf ya karena lagi-lagi late update. Aku sempet kehilangan feel sama TPB makanya jadi males buat ngelanjutin. Tapi setelah aku banyak belajar lagi dari author senior dan baca komentar kalian di chap lalu, semangat aku untuk nulis jadi muncul lagi. Dan inilah hasilnya. Ya walau mungkin emang ngga sebagus author lain, hehe.

Jadi, makasih untuk kalian yang mau baca terlebih meninggalkan jejak di kolom komentar. Buatku, komentar dari kalian itu bener-bener penyemangat yang ampuh untuk nulis. Thanks a lot! ♥♥♥ Oya, sedikit pemberitahuan aja, sekarang aku udah ganti penname jadi ‘drixya’ ^^

Last, wish y’all enjoy this fanfic! See you on next chap~

5 thoughts on “The Pulchra Bridge [Chapter 4]

  1. kak dsini dikit bgt sih moment sehun-aeri???
    bnyakin moment mereka brdua dong kak,,
    itu sehun kyk’nya cmburu ya mlihat kdekatan luhan dan aeri….
    aq brharap sehun bisa sama aeri nantinya🙂
    oh iya ditunggu lanjutan ceritanya ya kak, jgn lama” updatenya oke!!!
    semangat terus kak cz ini bgus dan keren bgt ceritanya ^_^

  2. Qu hnya bsa brkomntar,, klo skrg khdupn aeri jauh lbh baik drpd dbumi, itu mnrut qu hehehe
    jd, apkh trsesat krn mlintasi jmbatan adlh sbuah anugerah ataukh malapetak?? Jwbnnya qu gk tau, tp klo d liat c, itu sbuah anugerah utk aeri…
    Smngatttt lnjuut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s