You and I – Blind Date (Chapter 2)

IMG_20160307_182445

You and I – Blind Date (2)

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

~happy reading~

Seorang laki-laki tampan berbalut kemeja putih dengan kancing yang sudah terbuka dibagian atasnya dan dasi yang berantakan memasuki sebuah Bar didaerah Gangnam. Tersenyum samar saat salah seorang pelayan disana melambaikan tangan menyambut kedatangannya.

“sedang stress, Tuan Park?” laki-laki dengan tubuh mungil yang sekarang sudah berdiri tepat didepan Chanyeol itu menopang dagu dengan satu tangannya sambil menaikkan sebelah alis. Sudah terlalu hapal jika saat Chanyeol stress,tempat inilah pelariannya.

“iya. Aku muak dengan sekretaris sialan itu.”

“Minri?”

“siapa lagi! Astaga, emosiku benar-benar diujung tanduk. Jika dia bukan seorang perempuan, kupastikan tulangnya patah dibagian kaki dan tangan.” Chanyeol mengusap wajahnya kasar, seraya menenggak wine yang berdiri tepat didepannya.

“memangnya masalah apa?”

“dia mencuri uang perusahaan.”

“astaga, dia pintar sekali.”

“Baekhyun, sekali lagi kau memujinya, akan kubuat kau dipecat dari tempat ini.”

“cih, kau hanya menggertak.”

Baekhyun kembali meninggalkan Chanyeol, dia terlalu sibuk hanya untuk mendengarkan curhatan Chanyeol. Lebih baik melihat wanita cantik dengan mini dress yang tersenyum menggoda kearahnya. Selagi asik melihat pemandangan yang ada, Baekhyun teringat satu hal. Satu hal yang mungkin bisa membantu Chanyeol agar sahabatnya itu tidak memilih Bar sebagai pelariannya.

“hei, Chan. Kenapa kau tidak ikut kencan buta saja?”

“apa?”

“ya, umurmu sudah hampir dua puluh tujuh tahun, dan kau masih belum mempunyai pasangan. Aku hanya khawatir jika kau—ya—kau tahu apa maksudku.”

“kau sendiri?”

“aku akan mencari pasangan saat aku sukses sepertimu.”

“aku datang ke sini bukan untuk itu.”

“ayolah, satu kali saja. Aku punya kenalan wanita cantik. Aku yakin kau akan menyukainya.”

“bagaimana kalau tidak?”

Baekhyun mendengus kasar, kesal dengan sikap Chanyeol yang seperti ini. Selalu enggan jika berbicara masalah wanita. Selalu tidak peduli jika ada banyak wanita cantik yang mengantre untuk mendapatkan hatinya. Selalu menjadi sosok dingin tak berperasaan di depan wanita manapun. Padahal, niat Baekhyun hanya untuk mengenalkan. Mereka berdua hanya perlu berkenalan, berbasa-basi sebentar, lalu bertukar nomor telepon. Selebihnya mungkin mereka bisa berpisah atau jalan-jalan sebentar. Tidak sulit, kan?

“kau harus mau. Aku tidak mau tahu.”

“terserah.”

~000~

Lelah. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan raut wajah wanita itu. Ini sudah larut malam, dan file-file sialan itu masih menunggunya dari atas meja. Dia mendengus kasar, mengusap pelan wajahnya yang sudah kelewat lusuh. Kopi panas yang tadi dipesannya masih mengeluarkan asap putih, tanda kopi itu baru saja tiba. Merasa lelah, dia beristirahat sejenak. Mengecek HP-nya, lalu membaca pesan singkat yang mampu membuat alisnya bertaut.

Besok ke apartemenku jam sepuluh, ya. Tidak ada penolakan. Selamat malam sayang. Semangat!

 

Minsoo.

“apa-apaan?”

~000~

“kenapa lama sekali, sih? Kau tidak tahu jam berapa sekarang ini?”

“masih bagus aku datang. Sekarang, apa maumu?”

“astaga, wajahmu benar-benar kusut. Semalam kau pulang jam berapa?”

“jam tiga pagi.”

“ya Tuhan. Sebanyak itukah?”

“itu karena kau yang tidak mau membantuku.”

Minsoo hanya bisa tersenyum, kalah telak dengan sahabatnya sendiri. Tidak, mungkin lebih tepatnya atasan barunya. Semenjak Chae Yoon pindah ke Korea, perusahaan turun temurun keluarga Song sudah dijatuhkan kepada tangan wanita itu. Sehingga, CEO Crown Corp sekarang adalah Chae Yoon.

“tunggu disini, akan aku buatkan teh.”

Chae Yoon merebahkan punggungnya yang pegal keatas sofa empuk berwarna pastel milik Minsoo. Terlalu lelah karena pekerjaannya semalam. Dia memejamkan mata sejenak. Menikmati harumnya ruang tamu dan merdunya music klasik yang setiap hari menggema di ruangan itu.

“kau mau temani aku belanja tidak?”

Minsoo mendudukkan dirinya di kursi kecil seberang Chae Yoon. Berbicara hati-hati sembari menaruh dua cangkir teh. Yang diajak mengobrol justru tidak bergeming sama sekali. Membuat lawan bicaranya geram dan akhirnya sedikit berteriak.

“ya! Kau mau tidak?”

“tidak.”

Satu kata yang keluar dari bibir manis atasannya itu makin membuat emosi Minsoo naik ke permukaan. Tapi, sebelum mengeluarkan sumpah serapahnya, dia ingat sesuatu. Jadi dia urungkan dulu niatnya itu. Meminum sedikit tehnya, lalu melanjutkan dengan nada sabar kepunyaannya.

“kumohon, sekali saja.”

Kali ini, wanita itu mengangkat tubuhnya, memasang ekspresi marah dan terkejut, yang membuat Minsoo berulang kali meneguk salivanya.

“jadi kau menyuruhku kesini hanya untuk menanyakan itu?” yang benar saja. Siapa yang tidak kesal saat kau merasa benar-benar lelah, dan tetap pergi ke apartemen temanmu hanya umtuk menemaninya belanja?

Senyum memohon terlukis jelas dibibir Minsoo. Wanita bermarga Son itu harus sedikit mengeluarkan jurus andalannya agar rencananya berhasil. Tapi, Chae Yoon sudah terlalu hapal dengan aksi konyol wanita dihadapannya. Dengan rambut kusut dan mata hitam, Chae Yoon bangkit dari sofa empuk itu dan berjalan menuju pintu apartemen Minsoo. Sedikit mempercepat langkahnya kala mendengar panggilan Minsoo yang ditujukan untuknya. Tanpa menoleh, Chae Yoon berucap yang mampu membuat bulu kuduk Minsoo meremang. Mematung di tempatnya, dan membiarkan Chae Yoon pulang dengan tenang.

“selangkah lagi kau melangkah, kupastikan meja sekretarisku bukan atas namamu lagi.”

~000~

“maafkan aku, aku gagal membujuknya.”

“ya! Kau tahu? sepanjang hari tadi, aku dimaki dan dibentak olehnya.”

“aku sungguh-sungguh minta maaf, bagaimana perasaanmu kalau kau diancam akan dipecat?” Minsoo kembali menenggak minuman berwarna coklat dihadapannya dalam sekali tenggak. Terlalu pusing memikirkan nasib sahabatnya. Apalagi dengan kejadian kemarin, pasti hubungannya dengan Chae Yoon tidak akan baik senin nanti.

“baiklah. Kita usahakan lain kali saja.”

~000~

Chanyeol mengusap pelan wajahnya yang kusut. Terlalu muak dengan pekerjaannya yang seperti ini. Dia ingin sekali jalan-jalan mengitari kota Seoul. Sesekali merasakan terik matahari dan sesaknya bis umum. Belum selesai membayangkan kehidupannya yang bebas, seseorang diluar sana mengetuk pintu ruang kuasa Chanyeol.

“masuk.”

“Tuan, ada yang ingin bertemu denganmu.”

“siapa?”

Belum sempat pria paruh baya yang menjadi bawahannya itu menjawab, seorang wanita cantik sudah menyembul keluar dari balik punggung lelaki paruh baya itu. Berlari dengan semangat ke arah Chanyeol. Sambil merentangkan tangannya yang mungil, wanita itu meneriakkan nama Chanyeol dengan manja. Yang malah membuat chanyeol memutar bola matanya malas. Dia lupa kalau hari ini wanita itu pulang dari Jepang.

“Chanyeol Oppa. Aku sangat merindukanmu.”

Wanita itu memeluk Chanyeol erat. Sedangkan chanyeol hanya memberi isyarat agar pria paruh baya di ujung sana segera pergi meninggalkan mereka berdua. Dengan malas, Chanyeol melepas pelukan wanita itu. Menangkup kedua bahu wanita cantik didepannya, lalu mengucapkan sesuatu dengan senyum palsu andalannya.

“kumohon jangan ganggu pekerjaanku. Kita bisa mengobrol nanti sampai kau puas. Tapi, lebih baik sekarang kau pulang. Beristirahatlah, kau pasti lelah. Aku juga merindukanmu, Choi Yonggi.”

“benarkah? Kalau begitu aku akan kerumah Oppa. Membantu ibu memasak makan malam.” Senyum Yonggi makin lebar. Matanya berbinar menampakkan kebahagian yang jelas dia rasakan sekarang.

“eoh, kau akan diantar supirku sampai rumah.”

Yonggi tersenyum lalu membungkuk dan mengucapkan salam perpisahan. Melambaikan tangan, lalu menghilang dibalik pintu kaca didepan chanyeol. Chanyeol kembali duduk di kursi kuasanya. Sibuk memikirkan rencana untuk kembali mengusir wanita itu dari hadapannya.

~000~

Chanyeol berjalan santai menghampiri seorang gadis cantik yang sedang menikmati indahnya salju yang berjatuhan di musim dingin. Tersenyum manis saat gadis itu berpaling dan menatapnya dengan senyuman. Chanyeol segera menghampiri gadis pujaannya itu. Tapi seketika itu juga senyum Chanyeol hilang bersamaan dengan air mata yang menetes dari mata gadisnya.

“kau kenapa? Kau baik-baik saja?”

Gadis itu tidak menjawab apapun. Hanya terdengar isakan kecil dan deru napasnya yang tak beraturan. Tangannya sibuk mengusap kasar air mata yang terus mengalir melewati pipinya yang mulus dan pucat.

Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi, yang dia tahu hanyalah gadisnya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Chanyeol melangkah mendekati gadisnya. Tangannya terangkat hendak merengkuh tubuh mungil kekasihnya. Tapi pergerakannya terhenti saat gadisnya malah menjauh. Terus seperti itu sampai Chanyeol berhenti melakukan kegiatannya. Pikiran kalut mulai memenuhi otaknya.

“ayo putus.”

“apa?”

Chanyeol benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa gadisnya memutuskan hubungan secara sepihak tanpa Chanyeol ketahui apa sebabnya. Namun, hati chanyeol sakit mendengar gadisnya mengucapkan kata-kata itu. Chanyeol melangkah sekali, begitu juga gadisnya. Tapi, arah mereka berlawanan. Yang satu kedepan dan yang satunya menghindar kebelakang. Chanyeol semakin tidak mengerti. Apa salahnya? Bukankah kemarin hubungan mereka baik-baik saja?

“ada apa denganmu?”

“aku—aku hanya ingin kita putus.” Gadis itu menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang sembab dibalik syal tebal yang membungkus rapat lehernya.

Chanyeol mendengus kasar. Membuang wajah tampannya kesembarang arah. Menahan amarah yang sudah muncul ke permukaan. Matanya mulai panas dan berair. Tidak sudi meninggalkan gadisnya seperti ini. Ini adalah cinta pertamanya. Haruskah berakhir seperti ini?

“tidak masuk akal.” Hanya itu yang dapat Chanyeol keluarkan dari bibirnya yang bergetar. Mengepalkan tangannya agar tidak memeluk gadis cantik dihadapannya. Menahan air mata yang siap meluncur membasahi pipinya.

“aku lelah! Aku lelah menjadi pacarmu, Chanyeol-ah!”

Gadis itu makin terisak. Membuat Chanyeol tidak tahan dan segera memeluk gadis cantik itu. Yang dipeluk hanya berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang dia punya. Jelas jika gadis itu yang kalah. Akhirnya, dalam beberapa menit, keheningan menyelimuti mereka. Sampai gadis itu melanjutkan kalimatnya.

“tidak bisakah kita menjadi teman? Setidaknya, aku ingin melihat wajahmu setiap hari.”

“apa yang kau bicarakan?”

“kumohon, lakukan permintaanku kali ini.”

Chanyeol melepas pelukannya. Menatap lekat mata bulat hitam favoritnya. Mengisyaratkan agar gadis pujaannya itu menjelaskan apa yang dia maksud. Tapi nihil. Yang Chanyeol dapat hanya gelengan kecil dan isak tangis yang mulai pecah.

“ayolah, ceritakan padaku. Kalau begini, aku tidak ingin putus denganmu. Aku janji, setelah kau menjelaskan semuanya. Kita akan menjadi teman.” Senyum tenang menghiasi wajah tampan Chanyeol. Mengusap pelan pipi gadis itu yang basah dan pucat akibat air mata yang mengalir.

“Choi Yonggi. Dia—dia mengancamku.” Gadis itu membuka sedikit baju dibagian lengan dan kakinya. Menampakkan luka lebam kebiruan yang besar dan banyak. Matanya kembali menteskan air mata. Takut kalau Chanyeol akan marah dan menolak untuk putus. Gadis itu sudah lelah. Semenjak dia dan Chanyeol berpacaran, dia selalu diganggu, diusili, bahkan dibully sampai seperti ini. Dan itu semua akibat Choi Yonggi. Seseorang yang menggilai Chanyeol sepenuh hati. Rela melakukan apa saja asalkan Chanyeol jatuh kepelukannya. Dan Chanyeol membenci gadis bernama Choi Yonggi.

“kumohon, ayo kita putus, Chanyeol-ah.”

~000~

“kau sungguh-sungguh bersedia?”

“iya. Cepatlah. Waktuku tidak banyak.”

“sebentar.”

Baekhyun meninggalkan Chanyeol dibelakang sana. Mengambil smartphone hitam dari balik saku celananya, lalu dengan cekatan mengetik sebuah nomor dan menempelkannya tepat didepan telinga.

“ada apa?”

“apa temanmu ada waktu?”

“entahlah, dia selalu sibuk.”

“ayolah, ini kesempatan emas kita.”

Seseorang diseberang sana menghela napas panjang. Mengumpulkan sederet keberanian untuk melakukan tugasnya dengan baik.

“baiklah. Akan aku usahakan.”

~000~

Dengan keberanian seadanya, Minsoo mengetuk ruang CEO kantornya. Berharap jika Chae Yoon ada didalam dan sudi menerima kehadirannya. Karena sudah mengetuk beberapa kali dan tidak ada jawaban, Minsoo mencoba membuka sedikit pintunya dan mendongak melihat keadaan didalam. Terlihat jika disana, didepan computer yang masih menyala, Chae Yoon tertidur dengan tangan yang masih memegang sebuah pena. Minsoo masuk kedalam ruangan sahabatnya. Memastikan bahwa Chae Yoon hanya tertidur, tidak—ya, kalian sudah tahu apa maksudnya.

Minsoo menghempaskan badannya yang lelah karena harus berjalan seharian dengan high heels setinggi sepuluh senti ke sofa putih di dekat meja kuasa Chae Yoon. Mengatur rencana apa yang masuk akal agar Chae Yoon mau mengikutinya tanpa tahu apa maksud sebenarnya. Dan tanpa sepengetahuan Minsoo, Chae Yoon dengan mata panda-nya sedang mengamati gerak gerik sekretarisnya itu.

“apa yang kau lakukan?”

Minsoo hampir terjungkal kala melihat wajah Chae Yoon yang lebih mirip gelandangan. Bagaimana tidak, rambut berantakan, make up yang sudah hilang separuhnya, mata hitam, wajah kusut, dan baju yang sangat berantakan. Cukup untuk mendeskripsikan bagaimana lelahnya Chae Yoon saat ini.

“hei, kalau ada orang bertanya itu dijawab, bukan ketakutan seperti itu.” Chae Yoon mulai membenarkan penampilannya. Sambil melirik Minsoo, dia mengambil kotak make up-nya.

“umm, ah, ini, kau mau menemaniku makan siang di restoran depan butik itu?”

Chae Yoon melihat sekilas jam tangannya. Menimbang perkataan Minsoo barusan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang Chae Yoon memang sangat kelaparan. Tapi, setelah matanya menatap file-file itu, dia menggeleng cepat. Menolak permintaan Minsoo mentah-mentah.

“ayolah, biar itu aku yang kerjakan.”

“cih, sudah berapa kali kau mengatakan itu, Son Minsoo?”

“kali ini aku bersungguh-sungguh!” mungkin sepertinya kali ini Minsoo sangat bersemangat, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi diudara. Menghampiri Chae Yoon yang hanya menaikkan sebelah alisnya dengan tangan terkepal didepan dada.

“baiklah.”

Tak sampai sepuluh menit, dua wanita cantik itu sudah berdiri menatap restoran ramen terenak didaerah itu. Minsoo tersenyum bahagia. Dia lalu mengambil smartphone-nya, dan mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang. Setelah selesai dengan perkerjaannya, dia kembali melirik Chae Yoon dan butik yang berada tepat didepan kedai itu bergantian. Akal sehatnya mulai bekerja dengan baik disaat yang tepat.

“ramai sekali.”

“kau benar. Bagaimana kalau kita masuk kedalam butik itu?” Minsoo mulai menjalankan misinya yang kedua. Membuat penampilan sahabatnya jauh dari kata gelandangan.

Chae Yoon melihat butik itu sekilas. Lalu kembali melihat kedai ramen itu. Dengan cepat, Chae Yoon menggeleng. Cacing diperutnya sudah melakukan demo besar-besaran agar diisi makanan.

“tidak, aku lapar.” Belum sempat Chae Yoon melangkah, Minsoo dengan tidak sopannya langsung menarik lengan Chae Yoon dan menariknya kearah butik.

“ya! Lepaskan, Minsoo! Aku lapar!”

“astaga! Baju itu cantik sekali!” Minsoo lagsung menyambar sebuah dress ungu yang panjangnya sebatas lutut, dengan ukuran pas bodi, dan lengan pendek yang sangat cantik. Tidak menggubris penolakan Chae Yoon barusan. Tekatnya sudah bulat, kali ini, misinya harus berhasil.

“coba kau pakai.”

“kenapa aku? Kan tadi kau yang mengajakku ke sini.”

“ayolah, badanku terlalu besar untuk dress ini.”

“badanmu kurus Minsoo.”

“kalau begitu badanmu lebih kurus.” Minsoo menarik paksa lengan Chae Yoon, memanggil beberapa petugas agar membantu Chae Yoon memakai dress-nya, kembali mengacuhkan penolakan mentah-mentah Chae Yoon.

Selang beberapa menit, Chae Yoon keluar dari balik tirai butik itu. Terlihat cantik dengan dress yang melekat sempurna di badannya yang ramping. Kaki jenjangnya makin terekspos kala high heels sepuluh senti menghiasi kaki-kakinya yang putih. Minsoo tersenyum puas. Membanggakan selera pakaiannya yang bisa dibilang modern.

“baiklah, ayo kita makan.” Minsoo segera mengeluarkan kartu kredit-nya, membayar dress cantik yang sekarang sudah melekat di tubuh Chae Yoon.

Chae Yoon masih melongo ditempatnya, memikirkan apa maksud perbuatan sahabatnya. Sementara Minsoo hanya tersenyum puas sambil menarik lengan Chae Yoon menjauhi butik. Chae Yoon tergagap saat orang-orang memperhatikannya takjub. Dia baru sadar bahwa dress itu masih menggantung di tubuhnya. Cepat-cepat dia tahan langkah kaki Minsoo, memperhatikan penampilannya lalu menarik lengan minsoo dan mendekatkan bibirnya pada telinga Minsoo.

“aku masih memakai dress ini. Kau sengaja mau mempermalukanku, ya?”

“tidak. Lihat, orang-orang terpukau pada penampilanmu.”

“ayo ke butik. Aku ingin ganti baju.”

“ya, hargai apa yang sudah aku berikan.”

“apa aku yang minta?”

“sudah, pakai saja. Kalau dandananmu seperti tadi, kau lebih mirip gelandangan ketimbang CEO perusahaan.”

Chae Yoon mendengus sebal. Selalu kalah bila adu argument dengan Minsoo. Didepan sana, Minsoo memamerkan senyum kemenangan dan jari tangan yang membentuk ‘ok’ pada seorang laki-laki. Memberikan kode bahwa hari ini mereka berhasil menjalankan misinya.

“ya! Son Minsoo! Tunggu aku!”

Entah Chae Yoon yang tidak sadar atau memang dia terlalu polos untuk menyadari bahwa meja yang sekarang dia tempati sudah dipesan sebelumnya. Buktinya, restoran ini sangat ramai. Tapi, kenapa dia bisa mendapat meja dekat jendela tanpa hambatan?

“kau ingin pesan apa?”

“astaga Chae Yoon-ah, maaf, aku lupa jika aku punya janji dengan seorang teman. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sendiri? Biar tugasmu aku yang kerjakan. Kau tenang saja.” Minsoo langsung bangkit dan meninggalkan Chae Yoon sendiri, sebelum sempat mendengar persetujuan sahabatnya. Senyum kembali terpatri dibibirnya. Kala melihat seorang laki-laki yang berdiri tak jauh didepannya.

“bagaimana?”

“beres.”

~000~

Selera makan Chae Yoon sudah hilang menguap diudara. Terlalu malas melihat daftar makanan lezat didepan matanya. Dia alihkan pandangannya keluar jendela. Berharap menemukan sesuatu yang mampu menaikkan moodnya. Tapi, sedang asik melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang, sebuah tangan menepuk pundaknya pelan.

“Chae Yoon-ssi?”

“Chanyeol-ssi?”

Entah ini kebetulan atau takdir Tuhan, tapi Chanyeol merasa benar-benar beruntung. Meskipun orang yang dia tunggu bukan Chae Yoon, setidaknya dia bisa melihat wajah wanita cantik itu lagi.

Chanyeol tersenyum, sedangkan Chae Yoon melongo terkejut. Lalu berdiri dan membungkuk kaku pada Chanyeol. Chanyeol yang baru menyadari penampilan Chae Yoon, membulatkan matanya sempurna. Memuji ciptaan Tuhan yang satu ini didalam hati.

“boleh aku duduk? Orang yang aku tunggu belum datang dan sudah tidak ada bangku kosong.”

“eoh, silahkan.”

Mereka berbincang bersama. Sesekali tertawa ketika Chanyeol menceritakan sebuah lelucon. Layaknya dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Chanyeol senang, begitupula Chae Yoon. Dia senang, karena moodnya melonjak naik ke permukaan. Melupakan kejadian Minsoo yang meninggalkannya sendiri. Dia malah bersyukur karena ada Chanyeol disini. Setidaknya dia tidak harus membicarakan seputar dunia fashion. Bahkan, Chanyeol lupa jika dia ada janji bertemu.

“astaga, sudah jam tiga sore. Selama itukah kita mengobrol?” Chae yoon berucap dengan sudut mata yang berair karena terlalu banyak tertawa.

Chanyeol memasukkan suapan terakhirnya sebelum menjawab sambil melihat jam tangannya, “eoh, kau benar. Astaga, aku sampai lupa waktu.”

“kalau begitu,” Chae Yoon bangkit dari tempatnya, mengelap mulutnya dan merapikan penampilannya. Chanyeol ikut berdiri sambil tersenyum, “aku permisi dulu.”

“mau aku antar?”

“ah, tidak usah. Kantorku ada didepan blok ini.”

“baiklah kalau begitu.”

Chae Yoon meninggalkan Chanyeol dengan senyuman. Senyuman yang mampu membuat detak jantung Chanyeol terpacu dengan cepat. Dia tersenyum, memegang dadanya yang kembali memberontak. Sampai sebuah suara membuyarkan kebahagiannya.

Bagaimana kencannya? Kau suka?

 

Baekhyun.

“apa?”

 

TBC

Holla! Bagaimana? Maaf ya kalau yang ini kepanjangan. Sampe 14 halaman loh :v

Aku ada pertanyaan nih. Tolong dijawab yaa.

  1. Kalian pengennya Minsoo dipasangin sama Kai, Sehun, atau Baekhyun?
  2. Kalian mau ff ini ada NC atau ngga?

Udah segitu aja dulu. Like and comment jangan lupa yaa.

Hope you like it! Sorry for typos and thankyou for reading my fanfic!

Annyeong!

 

-istri Sehun, tunangan Chanyeol-

8 thoughts on “You and I – Blind Date (Chapter 2)

  1. Annyeong Reader baru maaf baru bs meninggalkan jejak di chap ini … Minsoo sama baek aja kayaknya mereka cocok trus ff ini jangan ada Nc nya kakak author soalnya aku masih di bawah umur dan mungkin jg ada reader yg lain sama kyak aku …. Next ditunggu^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s