And Then…

672e3c0b36d08f86ef53c57fa6c9ca28

And Then…

Pairing of Lay and Rae (OC)

Presented by deera

Genre : Romance, Sad | Length : 785 words | Rating : General

deera says: Haaaiii aku kembali fuuh setelah mendata sekian banyak author dan reader yang mendaftar xoxoparty *hoho* dan mencari nafkah *halah* akhirnya sempet menamatkan satu judul kkk~~ Oiyaa mengingatkan ya, hari ini terakhir submit untuk xoxoparty2016 loh, hayoo mana suaranya deadlinerss haha

Apakah kita masih satu?

Bertemu lagi dengan mantan kekasih sama sekali bukan ide yang menyenangkan bagi siapapun sepertinya, apalagi jika kau belum bisa melupakannya dan kenangan itu seperti menghantuimu: selalu berada dimana-mana saat kau pergi ke semua tempat. Termasuk gadis ini. Rae paham benar dengan konsep bumi itu bulat dan ia berputar, juga bahwa dunia itu sempit hingga bisa saja dalam kemungkinan sekecil apapun ia akan bertemu lagi dengan Lay.

Hanya ada satu nama lelaki di hidupnya. Hanya Lay.

Jadi jangan tanyakan bagaimana detik ini Rae terpaku menatap pasangan mata sendu itu mengintip dari balik kaca yang menutupinya dan bibir sedikit terbuka. Keduanya sama-sama takjub.

Tahunan dilewati tanpa berkabar satu sama lain bukan berarti Rae lantas berhenti. Dan Lay membuat asumsi-asumsi di dalam kepalanya tentang apa yang kini dilakukan gadis di hadapannya ini—dengan titel ‘yang pernah begitu disayanginya’—sampai ia benar-benar berbeda. Meski begitu, Lay masih bisa mengenali Rae dalam sekali pandang.

Rae dan rambut panjang begelombang melewati bahu dengan ombre blonde-merah muda, bulu mata panjang dan riasan mata cukup tebal, pipi merona dan bibir dipoles merah marun. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang kontras dengan warna wajahnya yang pucat. Sepatu boot sepergelangan kaki dengan tali-temali rumit. Dan kacamata bening di batang hidungnya.

Sungguh, Rae di dalam ingat Lay adalah Rae yang masih mengenakan kacamata namun dengan bedak tipis di wajahnya yang sudah pucat. Ia memoles bibirnya dengan warna senada—cokelat muda, membuat tone-nya semakin memudar namun menawan. Rambut sebahu yang dipotong lurus berwarna asli cokelat itu entah kini dimana.

Namun Rae masih memikat. Seperti ada sesuatu yang menghangat di dalam dada Lay—mungkin itu sebentuk rindu yang terbekukan lalu akhirnya luluh dan mencair. Ia ingat bagaimana ia jatuh cinta dengan Rae bukan karena banyak hal, hanya tatap mata misterius itu membuatnya ingin jatuh berulang kali dan semakin dalam.

Keduanya membisu untuk beberapa waktu. Hingga Rae tak sadar ia memalingkan wajah karena haru. Ah, ia kembali menjadi gadis cengeng dan penuh drama. Dan itu bisa dilakukan hanya oleh lelaki dengan rambut hitam ikal ini.

Perjumpaan yang romantis selalu diidamkan Rae. Misalkan saja tiba-tiba Lay meneleponnya, menanyakan kabar, dan mengajaknya makan malam di lantai teratas sebuah hotel berbintang. Lalu keduanya menghabiskan malam dengan aliran cerita yang tak mengenal ujung. Lalu mungkin berakhir hingga pagi berbalut selimut.

Semuanya runtuh ketika hari dimana kemungkinan terkecil itu datang.

Sore ini, Lay kehabisan zuccini dan stok pasta di dapur hingga ia memacu mobilnya ke swalayan yang cukup jauh dari kompleks apartemen. Ia lantas tertarik dengan tumpukan semangka yang katanya baru datang pagi ini dan sedang memilih-milih satu untuk dibawa pulang. Lay ingat seseorang sangat menggilai semangka.

Sedang Rae merasa perlu membeli perlengkapan pribadinya, seperti peralatan mandi, pembalut, dan sedikit makanan ringan. Mata bulatnya berbinar-binar bahagia kala melihat setumpuk semangka di konter buah. Rae menyukai semangka.

Siapa yang tahu, di sanalah mereka bertemu. Hanya beberapa langkah lagi mereka tiba di hadapan satu sama lain.

Lay sedang menimbang-nimbang akan bicara apa. Kakinya seakan ingin berlari ke tempat Rae sedang menyusut ujung matanya dengan jari telunjuk. Sekedar menenangkan seperti memeluk dan memberi usapan di kepalanya, mungkin.

Wajah Rae berusaha tersenyum dan baik-baik saja. Ia menoleh lagi, memandangi wajah tirus yang dirindukannya. “Tidak kusangka kita bertemu lagi seperti ini.”

Suara serak yang didengar Lay sama sekali tidak terdengar seperti Rae. Oh, kemana Rae yang itu, yang membuatnya nampak bodoh karena jatuh cinta seperti tahunan lalu?

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Lay memuaskan penasarannya.

Cinta semasa sekolah yang bersemi menggebu seperti pasangan remaja lainnya tetiba menghampiri ingatan Lay. Bagaimana ia sungguh menyukai kepolosan Rae yang bersikap malu-malu dan wajar. Rae yang dengan anggunnya membacakan puisi di hari sastra menyita seluruh perhatian Lay yang membawakan musikalisasi puisi dengan gitar akustiknya.

Mereka bilang, Rae dan Lay adalah lirik dan musik yang kemudian menjadi sebuah lagu yang indah.

Mereka bilang, Rae dan Lay adalah dua orang yang diciptakan untuk menjadi satu.

Dan mereka bilang…..

Dan mereka bilang…..

Rae mengendikkan bahu. “Aku membuat baju untuk orang-orang pakai. Mungkin salah satunya milikmu.” Ia menunjuk Lay dengan dagunya. “Lalu apa kau masih dengan gitarmu?”

“Sesekali. Aku punya sekolah musik kecil untuk anak-anak. Dan beberapa kali memproduseri penyanyi baru.”

Kali ini Rae sungguhan kagum. Bagaimana seseorang konsisten dengan apa yang disukainya dalam waktu yang lama. Sebetulnya Rae juga begitu. Dia hanya bisa mencintai satu orang saja untuk waktu yang bisa saja menjadi selama-lamanya.

“Kau sudah…, melupakan puisi?” Lay bertanya lagi, dengan nada ragu.

“Itu hanya kebiasaan masa sekolah dulu—sudah lama sekali berlalu.” Bohong.

“Kukira kau akan menulis buku atau apa…, Rae-ssi.”

“Menulis saja tidak bisa membuatku bisa membeli semangka sebanyak yang aku mau…, Lay-ssi.”

“Aku ingat kau sangat menyukai semangka.”

“Aku tersanjung karena kau mengingatnya.”

“Ya…, karena anakku juga menyukainya.”

Kita pernah satu.

Dan apakah kita masih satu?

deera says again: ini dibuat untuk meramaikan hari jadi oppars. EXO sarangahaja!!!

5 thoughts on “And Then…

  1. Salam kenal🙂
    Simple dan ngena bgt ceritanya. Nyesek juga pas endingnya huhuhu
    Ditunggu cerita” EXO lainnya hehehe
    Maaf pendek aja, ga tau mau comment apa lagi
    Keep writing🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s