he Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 7)

 

poster 7&8

Tittle            : The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 7)

Author       : Dwi Lestari
Genre         : Romance, Marriage Life

Length        : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Yenni Wilson / Hwang Yen Ni (Yenni) | Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Support Cast :

Hwang Re Ni (Reni), Byun Seo Hyun (Seohyun), Song Hen Na (Henna), Do Kyung Soo (Kyungsoo), Park Chan Yeol (Chanyeol), Xi Lu Han (Luhan)

Disclaimer           : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note       : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning               : Typo bertebaran

The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 7)

Sudah sekitar satu bulan Baekhyun tidak pulang. Walau begitu, setiap hari Baekhyun selalu menelfon Yenni. Hal itu membuat mereka tidak terlalu rindu. Setiap hari pula mereka saling menanyakan kabar dan juga bersenda gurau yang kadang diselingi dengan perdebatan kecil. Seperti orang yang baru saja memiliki seorang kekasih. Hari demi hari mereka lalui dengan gembira.

Kini Baekhyun telah pulang dari Beijing. Dia tidak memberitahukan pada Yenni tentang kepulangannya. Dia ingin memberi kejutan sekaligus balas dendam karena dulu Yenni juga pernah melakukannya. Seperti perkiraannya, Yenni angat terkejut saat tahu Baekhyun telah datang. Mereka saling melepas rindu. Baekhyun juga membawakan oleh-oleh untuk Yenni. Yenni sangat senang melihat hal itu. Mereka kini terlihat seperti seorang suami dan istri sungguhan.

Har-hari berikutnya mereka lalui dengan bahagia. Baik Baekhyun maupun Yenni mereka saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mereka juga saling memahami satu sama lain. Seperti pasangan pada umumnya, kadang mereka bertengkar kadang mereka terlihat mesra.

Seperti biasa, pagi ini Baekhyun berangkat ke kantornya. Dia diantar Yenni sampai ke depan pintu rumahnya. Entah mengapa pagi itu perasaan Yenni tidak enak. Dia seperti merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa mereka. Namun dia berusaha berfikir positif, mungkin itu hanya perasaannya saja.

Baekhyun kini sudah sampai di kantornya. Perasannya juga tidak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi, namun dia menepis pemikiran itu. Dia lalu melakukan pekerjaannya seperti biasa. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Di layar ponsel itu tertulis nama Henna, yang tak lain adalah sekretarisnya sendiri. ‘Untuk apa dia menelfonnya lewat ponsel, bukankah lebih mudah jika dia menemui ke ruangannya langsung’, pikir Baekhyun. Dengan heran, Baekhyun mengangkat panggilan itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi yang pasti, setelah Baekhyun menutup telfon itu, dia segera meninggalkan kantornya.

Baekhyun pergi sendiri dengan mobilnya. Dia menuju ke taman kota. Setelah memarkirkan mobilnya dia segera mencari seseorang. Dia melihat kesana kemari untuk mengetahui keberadaan orang tersebut. Setelah melihatnya, Baekhyun segera menemuinya. Dengan nafas yang terengah-engah dia mendekati orang itu. Orang itu tengah duduk menghadap ke arahnya, dia tersenyum saat sudah tahu kalau Baekhyun telah datang.

“Oh, kau sudah sampai sajangnim”, kata orang itu.

“Sudahlah, tidak usah berbasa-basi. Sekarang apa yang kau inginkan?”.

“Tenanglah sajangnim. Bukankah kau baru datang, duduklah dulu”.

“Tidak perlu! Dimana adikku?”, kata Baekhyun sedikit kesal pada orang itu.

“Dia di tempat yang aman”.

“Jika sampai terjadi sesuatu pada adikku, aku tidak akan pernah memaafkanmu”.

“Baiklah, jika kau memang ingin adikmu selamat, kau harus melakukan sesuatu untukku?”.

“Melakukan apa?”.

“Pertama, kau temuilah istrimu dan bilang padanya kalau kau ingin berpisah dan mengakhiri hubungan kalian”.

“Shireo. Neo michoso?”.

Orang itu malah tersenyum, “Ne, aku memang sudah gila. Dan kaulah yang sudah membuatku gila. Apa kau benar-benar tidak ingin melakukannya?”.

“Ani, sudah ku bilang aku tidak mau”.

“Geurae! Aku akan pastikan kau tidak akan pernah bisa melihat adikmu lagi”, kata orang itu. Lalu orang itu menelfon seseorang. “Baiklah apa pesan terakhirmu untuk oppamu? Kau bisa berbicara langsung padanya”.

Orang itu lalu menyerahkan ponselnya pada Baekhyun. Dari ponsel itu terdengar suara adiknya Baekhyun.

“Baekhyun oppa tolong aku. Aku takut sekali oppa”, kata Seohyun diseberang sana.

“Seohyun, apa kau baik-baik saja?”.

“Aww…. jangan, aku mohon. Jangan lakukan itu, oppa tolong aku!”.

Belum sempat berkata apapun, ponselnya telah diambil oleh orang itu. “Sudah cukup! Bagaimana sajangnim, apa kau setuju dengan permintaanku”, kata orang itu pada Baekhyun. Dia tersenyum penuh kemenangan, dia tahu kalau Baekhyun tidak akan menolak permintaannya.

Baekhyun membuang nafasnya dengan berat. Dia sangat bingung harus memilih yang mana, semunya akan menyakitinya. Jika dia tidak setuju dengan permintaan orang itu, maka adiknyalah yang menjadi korban. Namun, jika dia menyetujui permintaan orang itu, maka hubungannya dengan Yenni akan berakhir. Dengan terpaksa Baekhyun memilih jalan kedua, dia tidak ingin melihat adiknya mati, meski dia tahu dia akan kehilangan Yenni. “Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu. Asal kau janji mau melepaskan adikku?”.

“Itu, bisa diatur, sekarang kau harus menemui istrimu”.

“Sekarang!”.

“Tentu saja, kapan lagi? Sebagai bukti aku akan ikut denganmu!”.

Mereka berdua lalu pergi dari taman itu untuk menemui Yenni. Baekhyun menyetir dengan kecepatan sedang, dia juga memilih jalan memutar yang lebih jauh untuk sampai ke rumahnya. Sebenarnya orang itu tahu kalau Baekhyun sengaja melakukan itu, namun dia hanya diam saja. Dia tahu Baekhyun hanya mengulur waktu.

Namun pada akhirnya mereka sampai juga di rumah Baekhyun. Baekhyun segera mengetuk pintu rumahnya. Pembantunyalah yang membukakan pintu rumah itu. Baekhyun langsung bertanya pada pembantunya dimana Yenni. Setelah tahu dimana Yenni, Baekhyun dan orang itu langsung menemui Yenni.

Yenni tengah asyik menyiram tanaman di belakang rumah itu. Melihat Baekhyun datang, Yenni langsung menghentikan pekerjaannya. “Kau sudah pulang”, tanya Yenni.

“Ne”, jawab Baekhyun singkat.

“Cepat sekali”, Yenni lalu menoleh pada seseorang yang datang bersama Baekhyun. “Kau kan Henna?”, tanya Yenni.

“Ne, dia sekretarisku. Yenni, ada yang harus kita bicarakan, tapi tidak disini”. Baekhyun langsung menarik tangan Yenni. Dia membawa Yenni ke kamarnya. Disitulah Baekhyun mengatakan apa yang diperintah Henna. Rasanya sangat berat dia melakukan itu, namun Baekhyun tidak bisa berbuat apapun selain menurutinya. Ini demi keselamatan adiknya. Hubungannya dengan Yenni bisa dijelaskan nanti. Yang terpenting sekarang bagi Baekhyun adalah adiknya harus tetap hidup. ‘Mianhae Yenni, aku akan jelaskan nanti. Aku janji’, pikir Baekhyun.

Setelah mendengar perkataan Baekhyun, Yenni tidak bisa berkata apapun. Dia hanya bisa membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya. Yenni segera pergi dari rumah itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Baekhyun tadi. Hal itu sangat menyakiti hati, jiwa, maupun perasaannya.

Melihat Yenni pergi, Henna tertawa puas. Tak lama setelah itu Baekhyun datang menemuinya. “Bagus sekali sajangnim, kau berhasil membuat istrimu menangis”.

“Diam kau! Sekarang aku sudah menuruti permintaanmu. Dan sekarang kau juga harus melepaskan adikku!”.

“Tidak semudah itu, masih ada yang harus kau lakukan lagi. Itu baru yang pertama. Besok temui aku di kafe Buyong jam satu tepat. Tidak ada kata terlambat, terlambat sedikit kau pasti tahu akibatnya. Selamat siang tuan Baekhyun. Sampai bertemu besok”. Tepat setelah berkata seperti itu, Henna pergi meninggalkannya. Dia pergi dari rumah itu.

“Sial!”, Baekhyun beteriak kencang setelah kepergian Henna. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia lalu menghubungi seseorang, entah siapa orang itu.

§§§

Yenni kini telah sampai di rumah mother and dady nya. Dia masih menangis ketika sampai disana. Saat betemu mothernya, dia langsung memeluknya dengan erat.

“Darling, why are you cry?”, tanya mothernya.

“Hiks..hiks…. Mom, bawa aku pergi dari sini Mom. Please!”.

“Calm, darling. Shit down. You must tell me, your story. Why?”, mothernya menghapus air mata Yenni. Dia masih menangis.

“You have some problems with Baekhyun?”.

Yenni hanya menggeleng.

“So, why are you cry?”.

“He was not need me. We were break up, mom. Hiks..hiks”.

“What! Break up! Are you seriuos, darling?”, kata mothernya tidak percaya.

Yenni lalu mengangguk. Mothernya lalu memeluknya. “Bawa aku pergi dari sini, Mom”, kata Yenni pada mothernya.

“But, why you break up with he?”.

“At first, he don’t love me, Mom. He just love Reni. He know if Reni just bad girl, but he still love her. And he say if he cann’t life without love”, Yenni masih menangis saat menceritakan hal itu.

“Yes, darling.  I understand. We leave tomorrow”, kata mothernya.

“Thank you, Mom”.

“Okay. Don’t cry darling”, kata mothernya sambil mengahapus air mata Yenni, “ Now, you must packed your things”.

“For what, Mom. I wantn’t back to his home”.

“Take rest, darling!”.

“Yes, Mom”. Yenni lalu menuju kamarnya. Dia masih termenung mengingat kata-kata Baekhyun.

Flash back

“Yenni, mianhae. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita!”.

“Maksudmu apa Mr Baekhyun, aku tidak mengerti”.

“Aku ingin mengakhiri hubungan kita. Kau tahukan, kalau sejak awal aku tidak mencintaimu. Aku sudah berusaha Yenni, tapi tetap saja aku tidak bisa. Hanya Reni yang ada dihatiku. Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh tak bisa hidup tanpa cinta. Karena itu, sebelum kita saling menyakiti perasaan kita, aku ingin mengakhiri sandiwara ini. Aku harap kau mengerti”.

“Kenapa kau baru bilang sekarang. Lalu kau anggap apa aku selama ini?”.

“Chingu, aku hanya menganggapmu sebagai chingu. Seperti yang kau bilang waktu itu. Kita hanya chingu, tidak lebih”.

“Chingu”, hati Yenni hancur mendengar pernyataannya Baekhyun. Dia hanya dianggap teman. Lalu untuk apa Baekhyun menyurunya mengganti nama belakangnya. Yenni lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia kini menangis.

Baekhyun mendekatinya dan memegang pundak Yenni. “Mianhae, Yenni-ya”, Baekhyun bermaksud memeluknya, namun tangan Yenni segera menepisnya dia lalu berlari keluar dari rumah itu.

Flash back end

“You heartless Mr Baekhyun. I hate you. Setelah apa yang kita lewati bersama. Heartless. Kau…..”, Yenni tak bisa melanjutkan kata-katanya. Air matanya kini telah membasahi pipinya. Kini Yenni hanya duduk termenung di tepi ranjangnya. Tatapan matanya kosong. Dia bahkan seperti orang yang tidak pernah merasakan kebahagiaan.

§§§

Seperti perjanjian kemarin, kini Baekhyun telah sampai di kafe Buyong. Dia sengaja datang lebih awal. Dia lalu masuk dan duduk di salah satu meja dekat jendela. Dia lalu ditawari oleh pelayan agar memesan makanan, namun dia menolak. Karena dia menunggu seseorang, dia akan memesan makanan setelah orang itu datang.

Tak berapa lama kemudian, ponselnya berdering lalu dia mengangkatnya. Entah siapa yang menelfonnya, yang pasti Baekhyun terlihat bahagia, dan dia menyuruh orang itu untuk menemuinya di kafe itu. Baekhyun lalu menutup telfonnya. Tak lama setelah itu, Henna datang. Dia melihat Baekhyun tengah duduk disalah satu meja. Segera saja dia menemui Baekhyun.

“Annyeong sajangnim. Kau sudah lama?”.

“Belum, baru sekitar 15 menit”.

“Kau bahkan datang lebih awal”.

“Tentu saja. Sekarang katakan apa maumu?”.

“Tenanglah sajangnim. Kita baru saja bertemu. Kita pesan makanan atau minuman saja dulu”.

“Tidak usah, aku masih kenyang”.

“Baiklah, langsung saja. Kau ingin adikmu selamat bukan?”.

“Tentu saja”.

“Kalau begitu kau harus menandatangani ini?”. Henna lalu menyerahkan map yang tadi dibawanya.

“Apa ini?”.

“Bacalah?”.

Baekhyun lalu membaca isi map itu. Dia terlihat terkejut melihat isi map itu. “Ini surat pemindahan kepemilikan perusahaan. Apa kau gila. Kau ingin aku menyerahkan perusahaanku padamu. Jangan harap”.

“Itu semua terserah padamu sajangnim. Kau mau melihat adikmu mampus atau kau serahkan perusahaanmu!”.

“Aku tidak akan membiarkan keduanya terjadi”.

“Jeongmal! Kau tak akan bisa sajangnim. Kau harus memilih salah satu”.

“Tentu aku bisa”.

“OK, kita lihat saja”.

Henna lalu menelfon seseorang. Belum sempat dijawab, ponselnya sudah diambil oleh seseorang.

“Kau mau menelfon siapa nona?”, tanya orang yang mengambil ponselnya.

“Kau….!”, kata Henna.

“Ne, ini aku Kyungsoo. Dan ini Seohyun”.

“Bagaimana bisa kau menemukannya?”.

“”Itu mudah saja nona”.

“Tidak mungkin”. Henna lalu berniat kabur, namun Kyungsoo berhasil menangkapnya.

“Kau mau kemana nona? Kita belum selesai”.

Seohyun segera menemui kakaknya.

“Baekhyun oppa”, Seohyun lalu memeluk Baekhyun.

“Seohyun, kau baik-baik saja?”, Baekhyun melepas pelukan Seohyun.

“Ne oppa, aku baik-baik saja. Syukurlah Kyungsoo oppa menyelamatkanku”.

Baekhyun lalu menemui Henna. Dia masih meronta karena Kyungsoo memegangnya dengan erat, “Lepaskan aku”. Tak lama setelah itu datanglah polisi dan menangkapnya. Henna lalu diborgol tangannya. Dan polisi itu juga bilang kalau orang suruhan Henna sudah ditangkap.

“Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu Henna. Kenapa kau lakukan ini padaku. Kita sudah lama saling mengenal, bahkan aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Kenapa kau setega ini?”.

“Kau ingin tahu! Itu karena aku membenci keluargamu. Karena appamu lah appaku jatuh bangkrut dan terkena serangan jantung lalu mati. Dan setelah itu, eommaku menjadi gila. Aku benci melihat keluarga kalian bahagia. Sementara aku, aku harus berjuang agar tetap hidup. Dan satu hal lagi, akulah yang sudah menghasut Reni agar dia pergi bersama Luhan. Sialnya, malah adiknya yang menggantikannya. Aku ingin membuatmu dan keluargamu malu. Karena itulah aku memintamu berpisah dengan Yenni. Aku benci kalian semua. Aku benci”. Henna langsung dibawa polisi pergi dari kafe itu. Baekhyun masih termenung mencerna kata-kata Henna. Dia lalu teringat Yenni. Dengan segera Baekhyun berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan dia langsung mencari Yenni. Kyungsoo dan Seohyun lalu mengikuti Baekhyun.

 

~~~TBC~~~

 

Gimana readers, seru gak? Tetap komen ya. Setelah ini end. Thanks.

3 thoughts on “he Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s