The Beginning Was…

cef905b7d7b1de9cffec7b674328527b

The Beginning Was…

Pairing of Lay and Rae (OC)

Presented by deera

Genre : Romance, School life | Length : 1194 words | Rating : General

Stories : And Then…

Saat kau dan aku masih hanya ‘kau’ dan ‘aku’

Keduanya populer dengan jalan yang berbeda.

Rae adalah siswi dengan kemampuannya berkata-kata lewat tulisan. Rae terpikat dengan sastra. Dan akan terus begitu—setidaknya sampai ia lulus sekolah dan menghilang tak berkabar. Ia begitu dielukan dengan kepiawannya menyusun kalimat, membuat orang awam jatuh cinta dengan pemilihan kata-kata sempurna dan menyentuh. Rae pintar membuat cinta lewat tulisannya.

Lay adalah siswa otak kanan yang tampan. Ia dicintai banyak gadis karena ia jago bermain gitar: tipikal-cowok-populer-sekolahan. Namun ada yang lain dari diri Lay. Ia tidak suka keramaian, ia tumbuh bersama sunyi dan kesendirian. Petikan senar dan suara gemelisik angin menjadi favoritnya. Itu mengapa di saat anak-anak lain sibuk bermain basket di lapangan ketika istirahat, lelaki ini naik ke atap sekolah bersama gitarnya.

Dan di sana, keduanya bertemu, saat Rae menyelinap turun dari atap setelah menyelesaikan latihan membaca puisi untuk kompetisi dan Lay yang akan berdiam diri di atap selama satu jam untuk menghabiskan waktu makan siangnya.

“Di atas panas sekali,” Rae memulai sebelum Lay sempat berpikir untuk bicara, “hati-hati. Anginnya juga kencang.”

Gadis itu menuruni tangga dan menghilang di koridor menuju kantin. Ia sudah sering dengar rumor tentang  siswa gitaris itu—begitu Rae menyebutnya, karena ia kesal kenapa nama mereka mirip. Lelaki itu sering menjauhi keramaian dan menyendiri, katanya memang sifatnya seperti itu. Dia tidak antisosial karena dia punya banyak teman sebaya yang mengelilinginya. Tapi kadang, seseorang juga jengah dan butuh ruang untuk sendiri.

Tapi saat itu, Lay merasa tidak ingin sendirian. Maka ia kembali ke lantai sebelumnya, menuruni tangga dengan kecepatan super, dan mengejar gadis yang masih berjalan pelan beberapa langkah di depannya kini.

Mereka kini berhadapan. Dengan napas terengah, Lay mengatur kalimatnya yang berbunyi seperti tawaran menarik di telinga Rae. “Maukah kau menemaniku?”

Kedua tangan Rae bersidekap. “Tapi tidak di atap.”

“Lalu dimana?”

“Di kantin.”

“Oh, aku tidak bisa main gitar di kantin, Nona.”

“Hei! Aku punya nama, jangan memanggilku nona.”

Lay menegakkan punggung dan tersenyum sekilas. Ia menggosok-gosokkan tangannya sebelum menyembunyikannya di balik saku celana. “Aku tahu namamu tapi aku takkan memanggilmu dengan itu.”

“Kenapa begitu?”

“Karena nama kita mirip. Aku merasa sedang memanggil namaku sendiri. Ah, untung saja kita tidak sekelas. Itu akan merepotkan.”

“Hm…, menarik. Kita punya pemikiran yang mirip?”

“Hah?”

“Kau dan aku sama-sama berpikir kalau nama kita mirip. Bukankah itu kebetulan yang tidak disengaja?”

Keduanya bertatapan lama, bersahut-sahutan membalas ucapan satu sama lain. Bertukar pembicaraan seperti pertama kali—dan memang itu yang pertama bagi mereka walaupun mereka mengenal satu sama lain. Bagaimana mungkin ada orang di sekolah ini yang tidak mengenal mereka, termasuk diri mereka sendiri.

“Kita sama-sama populer.”

“Yeah, kau benar-benar menganggap dirimu itu terkenal.”

“Karena semua orang membicarakan aku. Dimanapun di sekolah ini. Atau kau.”

Sekarang mereka mencari-cari apalagi yang mirip di antara mereka. Mengada-ada yang memang sudah ada dan baru menyadarinya. Lalu tertawa dengan separuh berat tubuh menyender di dinding yang berhadapan di bawah tangga menuju atap. Memegangi perut sampai terbungkuk karena lelucon yang lucu.

Mereka adalah dua orang yang terhisap dalam dunia yang mereka saja yang tahu. Dan hebatnya, mereka sama-sama menyukainya.

“Jadi kapan kau akan menemaniku main gitar, Nona?” tanya Lay sambil menyeka ujung matanya yang gatal karena kebanyakan menyipit. “Bagaimana kalau sore ini di Alessa Cafe?”

Bola mata Rae memutar jenaka. Rupanya lelaki ini menggodanya—bahkan berani mengajaknya jalan di hari pertama mereka bicara. “Kenapa harus di sana? Kau mengajakku kencan, Tuan Muda?”

Lay tertawa tertahan. “Kalau kau menganggap itu kencan, baiklah.”

“Astaga, kau benar-benar tak pandai merayu.”

“Tapi kau mau, kan?”

Tawa Rae menjelma menjadi cibiran yang membuat Lay gemas. Rae melipat tangan di depan dada dan mengangguk samar. Jentikan jari Lay terdengar berikutnya—sangat antusias. Keduanya lantas berpisah di persimpangan koridor karena satu jam berlalu begitu cepat. Dan jangkar waktu kembali melempar mereka kepada kenyataan yang sesungguhnya.

Seperti kisah Peterpan dan Wendy.

Tidak bisakah arti satu adalah kau dan aku?

Buku bersampul kulit dengan pengait cokelat menyembul dari ransel biru tua milik Rae, menarik perhatian Lay saat keduanya duduk di sebuah taman dekat Alessa Cafe yang letaknya di seberang. Lay mengeluarkan gitarnya dan mulai menyetel kunci. Rae baru saja tiba dengan dua ice cofee di tangan.

“Jadi ini…, Alessa Cafe? Versi outdoor ya?” sindir Rae.

Lay hanya mengangkat sebelah bibirnya sambil sibuk memutar-mutar kunci dan memetik senar. Sesekali ia mendekatkan telinga ke benda kayu itu untuk mendengar seksama suara yang dihasilkannya.

“Kita akan ke sana sebentar lagi,” Lay mengangkat wajah dan memeluk gitarnya, lalu sebelah tangannya menunjuk buku kulit itu, “apa itu buku puisimu?”

Rae mengikuti arah telunjuk Lay mengarah. Ia menjulurkan lengan dan mengeluarkan buku itu dari ranselnya. “Iya. Kau mau lihat?” Rae menyerahkannya ke pangkuan tangan Lay. “Siap-siaplah terpesona dengan tulisanku.”

Halaman pertama dibukanya. Kertas itu berbau seperti Rae, manis dan menyenangkan. Ujung-ujung bukunya sudah keriting, mungkin terlalu sering dibuka-buka. Tulisan tangan Rae sangat mencerminkan dirinya: bulat, kecil, dan rapi. Tanpa sadar, Lay menyuarakan suaranya dan dibalas desisan sebal dari gadis itu.

“Maksudku bukan karena pipimu tembem, Nona.”

Rae merengut lagi. Ah, gadis itu benar-benar…, Lay tak sadar dengan pikirannya saat ini. Tapi ia tak berhenti tersenyum melihat Rae merajuk. Ia tertarik untuk membaca barisan kalimat yang tertera di halaman pertama. Lalu seperti ikon lampu muncul di kepalanya, Lay meletakan buku Rae di sisi bangku yang kosong—di tengah-tengah keduanya—lalu memangku gitar dan mulai memetik beberapa nada.

Let me be the light for your way

Oh, it would be so nice if we together today

Stand right trough the storm

And hugging back each other to keep warm

In this middle of the night

Don’t be scare, just hold my arms tight

I’m closer than your vein

I will ease all your pain

Away…

Far… far away

 

Lay mengangkat kepalaya menatap Rae yang tak henti takjub. Tulisannya digubah menjadi lagu indah yang baru saja selesai dinyanyikan Lay dengan merdu. Perlu beberapa detik yang menyadarkan Rae kalau lagunya sudah selesai dan lantas ia bertepuk tangan heboh.

“Kau memang sangat pantas menjadi populer dengan kejeniusanmu,” puji Rae benar-benar tulus.

“Itu karena tulisanmu memberiku ide. Lagipula rimanya bagus, jumlah katanya serasi, sangat mudah untuk membuatnya menjadi lagu.” Kali ini gantian Lay yang memuji kemampuan Rae.

“Kau bercanda, Tuan Muda. Itu tulisan biasa.”

“Kalau begitu, kau juga bercana, Nona. Itu cuma genjrengan asal.”

Keduanya tertawa dan saling membalas memuji lalu merendahkan diri. Dari tempat mereka duduk, Allesa Cafe mulai terlihat ramai pengunjung karena hari semakin gelap. Lay menatap Rae yang sedang memandang ke arah yang sama.

“Kau masih ingin pergi ke sana?” tanya Lay.

Rae menoleh cepat. “Bukankah tadi kau yang mengajakku ke sana?”

Lay mengangkat bahu. “Aku belum punya cukup modal untuk mengajakmu kencan di sana. Setidaknya, Alessa Cafe benar-benar terlihat dari sini bukan?”

Sebelah tangan Lay terangkat untuk mengacak puncak kepala Rae. “Lain kali kau akan aku ajak kencan di tempat yang lebih oke.”

“Aku tidak yakin, Tuan Muda. Lagipula siapa yang mau berkencan lagi denganmu?!”

“Kau yakin tidak mau? Tempatnya sangat menarik; dekorasi dan pemandangannya bagus—kau pasti suka.”

“Dimana itu?”

“Atap sekolah—hei! Kau mau kemana? Atap sekolah bukan ide yang buruk kan? Kau bisa melihat langit luas. Nona!! Tunggu aku!”

Saat kau dan aku masih hanya ‘kau’ dan ‘aku’

Tidak bisakah arti satu adalah kau dan aku?

Menjadi satu, mengentas ‘kau’ dan ‘aku’ menjadi kita

4 thoughts on “The Beginning Was…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s