Drama Not Either

fb9e4518b5afbd6b38297b2dbffb24f8

Drama Not Either

Pairing of Kai and You

Presented by deera

Genre : Fluff | Length : 1577 words | Rating : Teen

Another Kai’s stories : Secret Rendezvous

deera says : kembali lagi dengan oneshot aheeey 😀

Sebut saja itu Kai, yang menjadi sahabatku sejak tahun-tahun lalu. Yang kemudian menjadi panutan bagiku yang tidak punya kriteria sosok untuk dikagumi. Yang selalu membantuku, memperhatikanku dari sisi yang tak pernah orang lain pikirkan, juga satu-satunya yang membuatku menangis di bahunya.

Kalau kemudian Kai menjadi tambatan hati, aku rasa itu sesuatu yang wajar saja.

Kai, dengan segala karisma yang dimilikinya—juga julukan prince charming yang digandrungi banyak pihak—ibaratnya, siapa yang tidak mau untuk sekedar berpapasan dengannya? Sambil menunduk, mereka tersenyum malu-malu saat lengannya bersisian persis denganmu. Setelah Kai berlalu, seketika mereka histeris dengan wajah merah seperti tomat.

Aigo. Walaupun aku menyukainya, seingatku, aku tidak pernah mengalami fase itu. Karena sejak awal, aku dan Kai memang kenal sebagai teman. Aku tidak ditakdirkan untuk menjadi fans-nya yang diam-diam mengintip di balik pilar gedung kuliah yang berseberangan dengan lapangan basket saat Kai latihan. Aku juga tidak ditakdirkan untuk jadi pemuja rahasianya yang mengirimkan surat dengan amplop merah jambu yang diselipkan di loker.

Perasaan ini tumbuh sewajarnya, tanpa ada proses yang dibuat-buat. Biarpun terkadang, kesenangan itu kelewat batas sampai membuatku tidak fokus, bahkan membuatku menabrak dinding sesaat setelah lelaki itu membawakan barang-barang berat yang kubawa sendirian.

Aku tahu, itu cuma hal kecil. Tapi karena itu Kai, hal biasa pun bisa jadi tidak biasa. Bukan biasa-biasa lagi, tapi menjadi luar biasa.

“Lihat apa?”

Kepalaku yang semula tengadah menantang langit langsung menoleh ke arah sumber suara. Tepat di sebelah telingaku, berbisik lembut seperti gemelisik angin yang meniup pelan. Segurat wajah itu muncul, dan hey, langit sore, kamu punya saingan sekarang.

“Hm?” gumamku tidak siap. Sedikit gelagapan, seperti biasa. Penyebabnya hanya satu: degupan jantung yang mendadak berantakan karena kedatangannya yang kebanyakan tiba-tiba. “Lihat langit,” jawabku.

“Kenapa kau senang sekali dengan langit? Aku sering sekali menangkap posisimu sedang lihat-lihat ke atas—seperti sekarang.” Bicaranya teratur seperti di dialog dalam film. Kai…, kenapa bisa begitu tenang seperti ini? Sedang aku selalu kehilangan kata-kata yang pada akhirnya membuat kesal sendiri. Malah terkadang, berujung malu tak karuan.

Kai memang menjadi nano-nano dalam hari-hariku.

Aku segera menurunkan pandangan, menoleh ke arah lain biarpun sebenarnya memandanginya jauh lebih indah dari apapun termasuk langit saat ini. Senyum lagi-lagi tersemat di sudut bibirku tiap kali kita duduk bersebelahan seperti ini.

“Coba saja kamu perhatikan. Langit sedang bagus-bagusnya jam segini.”

“Bosan.” Kai mendengus malas. Tangannya terjulur ke belakang, menumpukan tubuhnya di sana. “Gitu-gitu aja. Beda sih, kamu kayaknya udah fanantik banget.”

Celetukan macam itu kembali menarik lengkung bulan sabit di atas daguku. Kai yang sangat spontan dan apa adanya…, entah mengapa bisa membuatku begitu jatuh cinta.

Kuberanikan melirik ke arahnya. Aku tahu, pasti kamu lelah. Seharian diam di studio membuat tanganmu dipenuhi cat warna-warni bekas melukis. Kadang, di telunjuk, jari tengah, dan ibu jarimu terdapat cekungan hasil menekan pensil saat membuat sketsa berlembar-lembar. Tapi sinar wajahnya tetap bercahaya, seperti bintang yang takkan kehilangan cahayanya. Biar saja cahayanya kecil, tapi ia akan terus bersinar sampai nanti.

Kai adalah bintang. Dan aku adalah penikmat bintang.

Layaknya bintang, seolah ia dekat. Tapi bahkan, aku tak dapat menjamahnya dengan tanganku. Sesuatu yang indah selalu jauh. Atau, sesuatu yang bagus, biasanya sudah ada yang punya.

“Hari ini aku ngelukis langit. Buat kamu tuh, besok tinggal ambil di studio,” katanya tiba-tiba. Aku terdiam mendengar itu. Tak bisa sedikit pun aku berpaling. Sepertinya, udara pun sulit masuk ke paru-paruku.

“Ah,” ia melanjutkan, “kalau mau ambil sekarang juga boleh. Kayaknya studio belum dikunci,” ia menoleh dengan tatapan bertanya, “sekarang aja?”

Aku mengerjap berkali-kali, meyakinkan kalau ini nyata. Tahun-tahun kemarin, jangankan membicarakan langit—ah, aku baru sadar, tadi dia mengungkitnya—membuatkan satu lukisan untukku saja dia tidak pernah. Bagaimanapun aku memohon, meminta, dia tidak pernah membuatkan. Dan hari ini—dia bilang apa tadi? Dia melukis langit—untukku? Langit—hal yang paling kusuka?

“Aku nggak salah denger?” tanyaku meyakinkan.

Kai justru menoyor jidatku sampai aku terpental ke belakang. “Hari ini aku lagi baik mau ngelukis buat kamu.”

Kuelus jidatku yang terasa berdenyut. Lebih daripada itu, sepertinya aku bisa merasakan bahwa denyutnya seirama dengan nadiku. “Kesambet apaan kamu?” tanyaku lagi.

“Entahlah.” Kai menekuk lutut. Lalu tengadah. Kemudian menunjuk langit dengan telunjuk kanan. “Sirik sama dia karena jadi favorit kamu.”

Aku menelan ludah lalu berkedip sekali. Tatapku tak beranjak selangkah pun darinya. Anak ini benar-benar kerasukan sesuatu. Aigo, atau mungkin hari ini Jumat kliwon ya, jadi ada setan baik yang memeluknya sekarang—oh no, bayangan film Coming Soon terbayang di benakku saat si Nenek menempel di punggung si tokoh pria.

“Atau mungkin…,” ia memberi jeda sedikit. Kini matanya menerawang gelisah, entah melihat apa, “kesambet cupid.”

Sontak, aku menahan napas. Beberapa detik, sampai rasanya sesak sendiri. Gelagapan, aku meraih oksigen dengan menghirup udara banyak-banyak sampai dadaku naik turun.

Selama aku mengenalmu, kita tidak pernah membicarakan hal-hal seperti ini—cupid? Oh ini suda menjurus terlalu jauh.

Terkadang, respon seperti ini kuanggap terlalu berlebihan. Dulu, setelah dua bulan tidak bertemu karena libur panjang, lalu mendengar Kai berkata, ‘Kangen ya, berjalan-jalan denganmu di Hongdae’ sampai membuatku tidak tidur semalaman dan ini salah satu masalah yang serius, bukan hanya perumpaan atau bualan. Tapi…, kali ini, sepertinya wajar kalau aku sampai lupa cara bernapas. Besok-besok, kalau dia mengungkit ini lagi saat aku sedang makan, mungkin aku akan lupa bagaimana caranya makan.

Tapi tampaknya, aku terlalu tinggi. Kalau aku berpikir bahwa Kai sedang bicara tentang ‘kita,’ seharusnya mungkin dari dulu. Tapi bisa jadi, ia memendamnya, seperti perasaan Shone terhadap Nam di A Crazy Little Thing Called Love, di mana Shone baru mengatakannya di saat mereka akan berpisah. Nanti, kamu akan bilang, ‘Tanpamu, rasanya di sini sedikit sepi dan gelap’, seperti yang dikatakan Rain dalam drama Full House.

Dulu aku pernah berpikir untuk berhenti. Ya sudah, sampai di sini saja. Rasanya sudah terlalu jauh aku berangan-angan dan terlalu jauh jarak aku untuk sampai ke hatinya. Aku tidak pernah berharap kalau suatu hari Kai akan bilang, ‘Aku harap, kamu tidak menyerah menyukaiku’ seperti dialog Jung Yong Hwa di drama Heartstring.  Karena jujur saja, aku selalu takut. Kalau nanti rasa ini terlalu besar sampai aku tidak bisa mengendalikan, sampai nanti mungkin aku jadi gila. Dan secara tidak sadar, bisa saja aku mengatakan apa yang kupendam selama ini. Hal yang paling tidak kuinginkan adalah saat mungkin saja Kai akan menjawab, ‘Jangan jatuh cinta padaku’ seperti di drama Rooftop Prince yang membuat tokoh wanitanya menangis berhari-hari.

Aigo, otakku sudah dipenuhi drama! Jelas-jelas, yang seperti itu hanya ada di drama, di balik layar televisi. Dengan Kai? Oh, fantasiku sudah berlebihan!

“Hey!” Kai menepuk tanganmu tepat di depan wajahku. Hal itu benar-benar ampuh, membuatku bangun. “Mikir apa kamu? Mikir jorok ya?”

“T-ti-tidak!” jawabku terbata.

Ah, ini sudah tidak akan benar. Aku tidak ingin lagi-lagi mempermalukan diri di depannya. Segera kubereskan barang-barangku dan bergegas pergi. Biar saja Kai akan berteriak memanggilku kembali, aku ingin enyah dari sana. Situasinya benar-benar tidak tepat sekarang.

“Hey, hey, mau ke mana?” tanyanya bingung.

Baru dua langkah, ia menyergap lenganku. Menarikku mundur lalu berdiri di hadapanku. “Ini yang paling aku tidak suka darimu. Kau sering tiba-tiba beres-beres barang lalu pergi begitu saja tanpa alasan.”

Aku menunduk. Kai masih saja mengungkit ini. Lalu dia pikir, aku harus bagaimana saat salah tingkah karena dirinya? Aku harus bertahan membiarkan wajahku semakin merona dan menjadi bahan olokanmu? Kemudian ditertawai olehmu?

Mianhe.”

 

Kai berdiri di depanku sambil berkacak pinggang. Lalu geleng-geleng kepala. Sejurus kemudian, karena aku sudah semakin meringkuk seperti anak kucing, ia menurunkan tanganmya, mendekatiku, dan mengelus puncak kepalaku.

“Apa begitu susahnya kau diam di sampingku?”

Tubuhku menegak. Usapan di kepalaku pun mendadak berhenti. Lagi-lagi aku lupa bernapas. Kupegang erat tumbler silver untuk membantuku tetap menjejak bumi. Aigo, apalagi ini? Kenapa aku merasa….

“Aku mungkin tidak bisa seperti cita-citamu tentang lelaki romantis dalam  ratusan drama yang kau tonton. Aku tidak bisa bicara dengan kata-kata  puitis, sepertimu. Hanya satu pertanyaan: apa itu susah sekali untukmu diam di sebelahku, di sini, menemaniku sampai lelahku hilang? Dan kamu bahkan masih bisa memandangi langit yang katamu bisa membuat damai.

“Sambil melihat senyummu yang membuatku tenang. Aku hanya minta itu kok. Susah ya?”

Matanya berputar resah. Kai mengelus tengkuk belakang kepalanya dengan bahasa tubuh yang sama sekali baru. Kai hari ini benar-benar membingungkan.

“Jadi…,” aku menempelkan tangan di kedua pipi. Dingin sekali rasanya. Kegugupan menjalar di sekujur kulit yang juga tertiup angin malam yang mulai masuk ke sela antara kita. “Maksudnya…, kamu mau di sini terus? Sampai malam?”

Sekarang matanya membulat dan mulutnya terbuka setengah. Wajahbt tampak lucu dan pipinya yang tirus menggembung karena ia meniupkan udara ke dalamnya, kemudian menghembuskannya dengan keras. Kai terlihat kesal—lagi-lagi ia menempelkan kedua tanganmu di pinggang.

“Kepalamu terlalu penuh dengan hal-hal terlalu romantis, jadi kalimat paling sederhana seperti ini saja kau tidak paham. Sekarang kau bayangkan: apa kau pernah lihat dengan matamu sendiri saat lelaki menyatakan cintanya di depan air mancur sambil ciuman bermenit-menit? ” teriaknya sedikit bernada frustasi.

“Ini bukan drama! Ini aku sama kamu. Ini kenyataan!”

Lagi-lagi aku menunduk sambil menenggelamkan jemariku ke saku jaket. Brrr—dinginnya mulai keterlaluan. “Mian.”

Akhirnya—mungkin saking kesalnya—Kai melangkah pergi dari sana. Jalannya yang cepat membuatku sulit mengejar. Kai sekarang sudah lima langkah mendahuluiku. Aku perlu berlari kecil untuk menyamakan langkah kita.

Saat aku sedang konsentrasi mengatur langkah, tiba-tiba aku menubruk punggungnya. Ia berbalik, kemudian berjalan ke sampingku. Kai memperlambat tempo, menyeimbangkan dengan kakiku yang berlangkah pendek.

Di akhir pendaratan mentari tepat pada senja menawan, di perbatasan siang dan malam, langit gelap mulai menyelimuti angaksa raya.

Aku juga bisa merasakan tanganmu yang melingkar erat di pinggangku.

Hangat. Hangat sekali.

deera says again : aww!!

Iklan

17 thoughts on “Drama Not Either

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s