Werewolf (Chapter 12)

Title : Werewolf [Chapter 12]

Author : gabechan (@treshaaruu)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (on going)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin (OC), Wu Yifan (Kris), Oh Sehun

Support Cast : Ken (VIXX), Suho (EXO), Xiumin (EXO)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

 

Haiii! Gabechan kembali setelah hiatus yang sangaaaaaat lama hihihi. Ampuni aku karena updatenya lama bangeeet. Semoga chapter ini memuaskan yaaa. Kalau lupa sama ceritanya silahkan klik link yang ada di bawah ini hehe. Untuk update chapter selanjutnya aku ga bisa janji bakal update cepet karena sebulan lagi aku UAS dan pastinya tugas bejibun menantii~

So, happy reading!!

Chapters:

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 |

Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

 

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

 

 

Sangat sulit berlari di atas permukaan tanah tak rata yang dipenuhi semak serta akar-akar pohon, terlebih ketika kau hanya memakai sandal. Ya, sandal. Selama pelarian ini, Hyejin hanya sibuk memaki Sehun karena memberikan sandal jepit sialan itu. Ia bahkan tak peduli seberapa sering lengannya tergores semak-semak tajam, paru-parunya yang terasa terbakar, ataupun kedua telapak kakinya yang mulai terasa perih. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah menghajar Sehun.

“Tetap berlari, gadis bodoh!” seru Sehun yang berlari tak jauh darinya, “Pikiran jahatmu mengganggu konsentrasiku!”

 

Sialan.

 

“Berhenti memanggilku bodoh, bodoh!” Sehun hanya bisa tertawa kencang mendengar teriakan marah Hyejin.

Sementara itu, Chanyeol memperlambat larinya sehingga ia bisa berlari di samping Sehun, dan tampak acuh terhadap cekcok kecil antara Sehun dengan Hyejin. Lelaki itu lebih mencemaskan peluang hidup-mati mereka saat ini.

Ketika berada di samping Sehun, Chanyeol bertanya dengan nada cemas, “Seberapa dekat mereka?”

“Mereka terlalu cepat, aku tidak bisa membaca pergerakannya.”

Dari kejauhan, Hyejin bisa melihat anggukan kecil Chanyeol. Gadis itu tak habis pikir bagaimana kedua makhluk itu bisa berbicara sambil berlari, seolah-olah hal itu tidak perlu dipertanyakan.

Di menit selanjutnya, Hyejin mulai merasa pusing. Ia merasa tubuhnya mulai melayang (baca: kehabisan tenaga). Bahkan untuk bicarapun ia tak mampu. Kecepatan larinya melambat dan membuat jaraknya dengan kedua makhluk itu terpaut jauh. Satu pertanyaan muncul di otaknya: Mengapa Chanyeol tidak menggunakan teleportasi? Lebih hemat waktu, benar kan?

Tubuhnya makin lelah dan rasanya ia bisa terjatuh kapan saja. Walaupun begitu, Hyejin masih sempat untuk memaki kedua manusia serigala di depannya ini. Mereka bisa saja, kan, dengan mudah menggendongnya? Atau setidaknya gunakanlah salah satu kekuatan supernatural sehingga mereka tak perlu berlari seperti ini. Ia pun mungkin bisa terhindar dari segala halusinasi yang sekarang mulai dilakukan saraf-saraf otaknya. Tunggu… halusinasi?

 

“Hyejin… Lee Hyejin…”

 

Hyejin menoleh ke kiri dan kanannya, mencari sumber suara. Gadis itu menggelengkan kepala dan meyakinkan dirinya bahwa itu hanya suara angin. Tubuh lelahnya mulai menghasilkan halusinasi suara. Namun Hyejin tetap berlari. Ia ingat perkataan Sehun tentang hutan ini, “Jangan biarkan apapun mengganggu konsentrasimu atau kau akan menjadi gila.”

Well, Hyejin tentu saja tidak mau menjadi gila.

 

“Apa kau tidak lelah?”

 

“Berhentilah sebentar.”

 

“Kau tidak takut? Mereka akan datang!”

 

“Kau siap menerima kematianmu?

 

“Mati! Kau akan mati!”

 

“Mati! Mati! Mati! MATI! MATI!!”

 

“ARRRGGHHH HENTIKAN! HENTIKAN!”

Kepala Hyejin berdenyut nyeri. Pandangannya mengabur dan tampak berputar-putar. Suara-suara teriakan terus muncul di kepalanya dan semakin keras. Ia memukul-mukul kepalanya, berusaha untuk tetap sadar walaupun rasa pusing luar biasa tak bisa ia tahan lagi. Gadis itu berlari sambil terhuyung-huyung dan terjatuh dengan keras di dekat sebuah pohon tua. Ketika membuka mata, entah apa yang merasukinya, tangannya bergerak untuk mengambil sebuah batu di dekatnya dan mengarahkan batu itu ke kepalanya.

 

GREPP.

 

“Kau ingin mati?!” Chanyeol berteriak pada Hyejin dan segera menyingkirkan batu itu dari genggamannya.

Dilihatnya kedua mata Hyejin yang dipenuhi air mata. Perasaannya tercampur aduk bahkan ia tak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan gadis itu. Chanyeol memang sudah menyadari hal aneh semenjak Hyejin mengalami mimpinya yang terakhir. Hyejin seperti seseorang yang linglung, kadang pandangannya tak terfokus dengan baik. Seolah-olah seseorang sedang mencoba mengambil alih diri Hyejin.

“Sehun, lihat pikirannya.”

Sehun menggeleng, “Aku seorang pembaca pikiran, ingat? Aku tidak bisa melihat apa yang mereka pikirkan, aku mendengar apa yang pikiran mereka katakan.”

Chanyeol mengeratkan cengkeramannya pada kedua bahu Hyejin. Apalagi sekarang? Mengapa Kris memilih untuk menyerang gadis ini? Kalau hal ini terus terjadi, segala rencana yang telah ia dan Sehun susun akan gagal. Hyejin adalah sasaran empuk yang mudah diserang kapanpun.

Tunggu. Diserang…?

 

“Sehun  

“Aku tahu. Seseorang mencoba menyusup ke dalam pikirannya. Ia sedang mencari sesuatu.”

“Atau sedang memasukkan sesuatu ke dalam pikirannya,” tambah Chanyeol.

“Kris tidak mungkin melakukan hal ini dengan tangannya sendiri. Ia tidak punya kekuatan seperti ini,” Sehun berjongkok di sebelah Hyejin, menyentuh pelan pelipis gadis itu.

Suara-suara teriakan parau langsung menyerang kepala Sehun dan membuatnya yakin ini ulah salah satu suruhan Kris. Ia sengaja menyerang yang terlemah diantara mereka, sehingga rencananya akan lebih mudah berjalan. Sehun kemudian memutuskan untuk menatap mata Hyejin dan langsung tahu apa yang ingin gadis itu katakan.

“Kita tidak akan selamat.”

Dari semua hal yang pernah menimpanya, inilah yang paling merepotkan. Mereka harus melarikan diri, sekaligus menyelamatkan nyawa.

“Bawa Hyejin pergi, pastikan gadis itu tidak mengalami hal seperti ini lagi,” ucap Chanyeol.

Sehun berdiri dan menatap Chanyeol curiga, “Kau mau apa?”

“Aku akan berada di sini sebentar.”

Sehun menggangguk dan bersiap menggendong Hyejin di punggungnya ketika ia menyadari sesuatu. “Chanyeol  

Chanyeol menoleh, “Aku akan memutus telepati jika kau ingin membunuhnya, sehingga kau ikut mati juga.”

Sehun mendecih, “Berhati-hatilah. Mereka lebih berbahaya dari yang kau pikirkan.”

“Aku tahu.”

______

 

“Berhenti.”

Sehun meringis, “Kenapa kau memukulku?!”

“Berhenti!” Hyejin menendang-nendang dan terus memukuli punggung Sehun agar lelaki itu menurunkannya, “Turunkan aku!”

Dengan sekuat tenaga, Hyejin mendorong tubuh Sehun sehingga ia akhirnya terlepas dari gendongannya. Sehun yang jatuh tersungkur langsung bertindak cepat ketika dilihatnya Hyejin mulai bertingkah aneh. Gadis itu berlari ke arah semak-semak, berteriak frustasi seperti sedang mencari sesuatu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku… aku melihat mereka! Di sini.. mereka tadi ada di sini! Kau lihat, kan? Tapi mereka menghilang. Aku harus mencari mereka! Oh Sehun, cepat bantu aku!”

Sehun terlihat kebingungan, “Apa yang kau bicarakan? Tidak ada siapapun di sini!”

Hyejin menggeleng dan tetap masuk ke dalam semak-semak itu. Sehun terus mengikuti Hyejin di belakangnya sampai mereka tiba di sebuah bukaan lainnya. Hyejin mulai meracau tak jelas dan berteriak. Matanya bergerak-gerak liar dan terus menatap pada semak-semak di sekeliling mereka. Sehun yang tak mengerti apa yang terjadi pada gadis itu akhirnya mencengkeram kedua lengannya dan meraung keras.

“Dengar, gadis bodoh. Kalau kau terus bertingkah seperti ini kita tidak akan selamat. Chanyeol sedang menyediakan waktu di sana agar aku bisa membawamu ke tempat aman. Kau bisa membahayakan nyawanya juga saat ini. Apa kau tidak mengerti?”

Sehun menenangkan dirinya, sehingga perubahan pada wajahnya bisa kembali seperti semula. Napasnya memburu dan amarahnya hampir di luar batas kendali, tetapi ketika ketakutan Hyejin dirasakannya, Sehun menghela napas. Harus dengan lembut Oh Sehun, harus dengan lembut, batinnya.

“Ti, tidak.. tidak bisa.. Kita harus mencari mereka dulu.. Mereka tersesat..” Hyejin kembali meracau.

Mereka? Mengapa Hyejin selalu menyebut kata itu? Sehun sama sekali tidak mengerti. Ia yakin Hyejin sedang berhalusinasi seperti sebelumnya. Oh, tunggu. Mereka… jangan bilang…

Hyejin mulai menangis, “Ibu.. dan Kyungsoo.. Mereka ada di sini. Aku melihatnya…”

Entah mengapa Sehun merasa sesak di dadanya.

Rasa bersalah merasuki tubuh Sehun. Lelaki berambut pirang itu hanya berdiri di sana dengan pandangan kosong dan kedua tangan yang bergetar. Ia telah hidup cukup lama sebagai manusia serigala dan tak mengenal adanya penyesalan. Ia memang tidak membunuh kedua orang itu, namun entah karena ia sudah terlalu lama bergaul dengan gadis bodoh itu atau memang ia terlalu berperasaan, Sehun merasa bersalah sekaligus menyesal.

Dengan ragu-ragu, Sehun mendekat pada Hyejin dan mengguncang pelan bahunya. Ditatapnya kedua mata beriris coklat itu dalam-dalam, mengekspos semua ingatan akan ibunya dan Kyungsoo, juga ketakutan gadis itu. Sehun berusaha memahaminya.

“Lee Hyejin, sadarlah. Mereka sudah tidak ada,” Sehun menghela napas, “yang kau lihat adalah halusinasimu saja. Mereka tidak nyata.”

Halusinasi.

Halusinasi.

Halusinasi.

Harus berapa kali Hyejin mendengar kata itu? Semua pertahanan diri yang Hyejin bangun untuk menerima kenyataan pahit itu pun runtuh. Semua rasa takutnya membuncah keluar dan akhirnya ia menangisi dirinya. Menyadari betapa menyedihkannya seorang Lee Hyejin saat ini.

 

“Kalau begitu, apa kau nyata, Oh Sehun?”

 

_____

 

 

Setelah menyelesaikan tugasnya (menenangkan Hyejin dengan kekuatan healingnya, mengumpulkan dedaunan kering, lalu membuat kembali selubung transparan di sekitar bukaan), Sehun memutuskan untuk beristirahat di atas cabang pohon terdekat. Ia tak mau ambil pusing jika saja terjadi serangan atas karena, jujur saja, hal itu pasti bisa membuatnya kewalahan. Karena ia tahu, mengambil resiko sebagai seorang pengkhianat takkan membuat hidupnya tenang. Ia akan selalu dibayangi dengan perasaan cemas, menunggu waktu ketika kematian sudah tak terelakkan.

Sehun menyandarkan kepalanya pada batang pohon di belakangnya dan memejamkan mata. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya, merasakan alirannya. Ada suatu hal yang selalu mengganjal di benaknya sejak Kris menawarkan bantuan untuk pencariannya. Ia sendiri tidak tahu apapun tentang masa lalunya, bahkan tentang apa yang ia cari selama ini. Sehun yakin Kris menyembunyikan suatu fakta yang jika ia ketahui, hal itu entah bisa menjadi keuntungan baginya atau malah membahayakannya. Mungkin karena itulah, Kris selalu menahannya ketika ingin menggunakan kekuatannya. Angin dan pikiran. Kombinasi yang cocok menurutnya. Apa yang perlu ditakuti?

Dan satu memori ini.

Dalam memori yang tersisa terkait masa lalunya, Sehun bisa mengingat tentang pepohonan. Semua tentang tumbuhan. Dalam memori itu, Sehun seolah berada di antara pepohonan rindang. Warna hijaunya membuat hatinya damai. Seluruh indranya terfokus pada bunyi alam dan aliran angin yang berhembus pelan. Memori ini lebih seperti sebuah visi. Ia bisa merasakan dirinya benar-benar berada di sana.

Lalu, apakah pencariannya ini berhubungan dengan visi yang dilihatnya itu? Petunjuk yang Kris berikan (setelah Sehun melakukan pekerjaan kotor lelaki itu) terlalu sedikit. Ia tidak mau kembali pada lelaki itu hanya karena pencarian bodoh ini. Ia bahkan tidak mengerti seberapa pentingnya pencarian ini baginya.

 

KREEK.

 

Sehun segera membuka mata dan bersiap menyerang ketika didapatinya Chanyeol duduk di ujung batang pohon, mematahkan ranting yang menusuk perutnya.

“Aku tidak bisa mencari tempat lain untuk   ughhh   mencabut ranting sialan ini tanpa membangunkan gadis bodoh itu.”

Sehun melirik ke bawah dimana Hyejin sedang tertidur akibat cairan yang diminumnya tadi. Tapi dari seluruh pohon yang ada di hutan ini, kenapa Chanyeol harus memilih pohon ini juga?! Hah, Sehun hanya bisa menelan kekesalannya. Ia baru saja tenggelam dalam pemikiran yang cukup mendalam tadi.

“Perlu bantuan?”

Chanyeol menggeleng, “Akan sembuh beberapa saat lagi. Tidurlah, aku akan berjaga.”

“Lihat siapa yang berbicara. Kau lupa? Kekuatanmu ini mulai melemah.” Sehun duduk di samping Chanyeol sambil mengarahkan kedua tangannya pada luka di perut lelaki itu. Cahaya transparan perlahan keluar dari kedua tangannya dan beberapa detik setelahnya, luka Chanyeol perlahan-lahan mulai menutup.

“Apapun yang kau lakukan, aku masih tetap tidak mempercayaimu. Jangan berharap aku akan berterimakasih setelah ini,” ucap Chanyeol dingin.

Sehun mengangkat bahu dan kembali berdiri, berusaha bersikap acuh, “Aku melakukan apa yang kupikir seharusnya kulakukan. Lagipula, aku tidak pernah memintamu mempercayaiku. Keberadaanku di sini hanya sementara, sampai aku mendapatkan apa yang kucari. Sekarang aku hanya sedang berusaha bertahan hidup dengan mengikuti perkataanmu.”

Dengan begitu, Sehun melompat turun, meninggalkan Chanyeol di sana yang sedang merenungi apa yang baru saja didengarnya.

 

_____

 

 

“Kami tidak bisa menemukan mereka.”

Seorang lelaki berbalut coat hitam memasuki ruangan dengan terengah-engah, berdiri di dekat pintu. Tangannya yang bergetar berusaha ia sembunyikan. Wajah yang terlihat kelelahan dan urat-urat di sekitar pelipisnya yang menegang menunjukkan bahwa ia telah berhasil menyelesaikan tugasnya.

Lelaki itu kembali berucap, “Tapi seperti yang kau minta, aku berhasil memasuki pikiran gadis itu.”

“Lalu?” Kris menoleh, menunggu jawaban dari lelaki di hadapannya.

“Kau bisa memasuki alam bawah sadarnya, terutama ketika ia sedang bermimpi. Jika kau meminta, aku bisa memanipulasi pikirannya juga.”

Satu-dua langkah diambilnya. Kris menghampiri lelaki bercoat hitam itu sambil tersenyum. Aura di sekelilingnya tampak tak semenyenangkan senyumannya.

“Jangan bertindak gegabah, Ken. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Untuk selanjutnya, Suho dan Xiumin akan mengambil alih.”

“Tunggu!” Ken mengepalkan jemarinya, “Bagaimana dengan balas dendam yang kau bicarakan itu? Kau sudah lupa dengan apa yang dialami Hyuna?!”

“Percayalah padaku, kau bisa membalaskan dendammu sebentar lagi.”

Kris berlalu meninggalkan ruangan dengan langkah tegasnya, tidak menghiraukan gertakan gigi lelaki berambut kecoklatan itu. Ken berusaha menahan amarahnya yang memucak dan menelan kembali makian yang ingin dilontarkannya pada Kris.

 

_____

 

 

“Lihat dirimu. Apa yang kau lakukan di sana?”

Chanyeol meringis, menahan perih pada perutnya yang terluka, “Tersandung, lalu ranting ini menusuk perutku. Kau pikir apa lagi yang kulakukan?!”

Setelah menambahkan dedaunan kering di sekitar Hyejin dan meletakkan beberapa ranting ke dalam api unggun, Sehun duduk tak jauh dari Chanyeol, memerhatikan betapa mengerikannya luka di perutnya. Kemampuan memyembuhkan dirinya agak lambat, tentu saja. Chanyeol mulai kehilangan kekuatannya. Well, satu masalah lagi yang belum terselesaikan.

“Berapa orang? Tiga? Lima? Sepuluh?”

“Apa?”

Sehun menaikkan alis, “Yang kau musnahkan tadi.”

“Dua puluh. Aku tak habis pikir darimana Kris merekrut mereka,” jawab Chanyeol. Lelaki itu sekarang sedang berusaha menggunakan kekuatannya untuk menciptakan api, namun gagal karena api yang dihasilkannya terlalu kecil dan langsung mati tertiup angin.

“Tentu saja ia berhubungan baik dengan banyak orang dan berhasil mencuci otak mereka semua,” ucap Sehun sinis, “Termasuk kau dan aku.”

“Mereka semua sangat bugar dan memiliki kekuatan yang unik. Kita sudah kalah sejak awal.”

Mendengar kata kalah membuat darah Sehun naik. Entah kenapa Sehun kali ini membenci kata itu. Memang sejak awal ketika ia menentukan pilihannya, Sehun sudah tahu keadaan akan serumit ini. Namun ia sudah berjanji pada dirinya untuk bertahan sampai ia berhasil menemukan apa yang ia cari. Setidaknya kali ini ia tidak menyerah sebelum mencoba.

Sehun menghasilkan topan mini di sekelilingnya, bermain-main dengan itu. “Mungkin kau harus mengubah cara berpikirmu. Kau terlalu sering berpikir untuk menyerah. Benar, kan?”

Chanyeol diam saja. Ia ingin sekali menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat karena memang itulah kebenarannya. Chanyeol ingin menyerah saja. Melihat keadaan saat ini, mereka memang sudah kalah. Mereka hanya melarikan diri dari kenyataan.

“Ken.”

Chanyeol menoleh, “Apa?”

“Kalau kau ingin menyelamatkan Hyejin, bunuh Ken. Lelaki itu yang membuatnya seperti orang kesetanan.” Sehun menghentikan kegiatannya dan menatap Chanyeol, menunggu reaksinya.

“Maksudmu memanipulasi pikirannya? Membuatnya gila?”

Sehun mengangguk dengan wajah serius, “Lebih buruk lagi, mengambil alih tubuhnya. Menjadikannya boneka. Kau mengerti maksudku, kan?”

“Ya.”

 

_____

 

[To be Continued]

Please give your comment and like! Thank you for reading!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “Werewolf (Chapter 12)

  1. penggambaran masih apik seperti biasanya.
    jujur sebenarnya udah lupa jalan ceritanya tapi tetap aja masih senang bacanya karena suka dengan penggunaan tata bahasa dalam penggambaran setiap karakter dan suasana 🙂
    tapi kurang panjang untuk masa penantian release setiap part nya 😦

  2. Woaahhh… Neomo daebaek!
    Sdh lama aku mengotak-ngatik mr. Google utk menemukan alur FF yg seperti ini.
    And.. Finally i got that here!
    Sorry, bru komen. Czz… Aku sangat penasaran utk membacanya smpai ke chapter ini.

    Please TBC Authornim.
    Hwaiting! ^^

  3. ahhhh aku makin suka sama ff ini… lanjutan ff nya jangan lama lama yah thor.. ga sabar ni.. kayanya ken juga udah mulai geram dengan sifat seenaknya kris… apa mungkin nanti ken juga akan berpaling dari kris dan bergabung dengan chanyeol& sehun…??? ahhh kasian hyejin, dia keliatan strees banget.. untung ada sehun yg bisa membuat dia merasa tenang walaupun cuma sementara… aku senang karna lama” sehun benar” beubah menjadi pria yg lebih baik.. dia bahkan rela mengontrol mati”an amarahnya saat bersama hyejin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s