12 Drabble Of SEHUN – 9th : Love Light

9th - Love Light

Title : 12 Drabble Of SEHUN – 9th : Love Light

Author : Marie Rose Jane (@janeew_)

Genre : Fluff

Length : Drabble

Rating : PG 16

Cast : Oh Sehun & Jang Surin (OC)

 

Hello! Pasti bingung ya dengan judul ff yang satu ini? Jadi sebenernya ini adalah project ulang tahun Sehun dari http://ohmarie99.wordpress.com yang berjudul “12 Drabble Of SEHUN”

Ya, ff ini adalah salah satu dari 12 drabble fanfiction yang hanya dapat kamu baca selengkapnya di wordpress pribadi saya yaitu http://ohmarie99.wordpress.com

Jika kamu penasaran dengan 11 cerita lainnya, langsung aja yuk mampir ke wordpress saya! Jangan lupa tinggalin jejak kalian disana ya untuk mengapresiasi project ini! (Karena saya buatnya juga gak mudah, jadi sebagai pembaca yang baik, yuk coba belajar buat mengapresiasi tulisan yang udah kamu baca dengan meninggalkan komentar kamu!)

Sekarang, ayo langsung aja kita baca ff ke-9 dari project ulang tahun Sehun by Oh Marie, “12 Drabble Of SEHUN – 9th : Love Light”

Enjoy!

 

**

Jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas lewat lima, membuat kantuk kedua pasangan suami istri yang kini tengah terbaring di kasur berukuran double king size sambil menonton televisi bervolume tidak terlalu besar itu mulai menguap secara bergantian. Pekerjaan yang mereka lewati seharian penuh berhasil membuat tubuh mereka benar-benar merasa lelah dan butuh istirahat. Kalau saja keduanya tidak sepakat untuk menonton film dan sekedar mengobrol untuk bertukar cerita mengenai hari yang telah mereka lewati itu, mungkin sedari jarum jam masih diam di angka sepuluh, mereka sudah larut dalam alam bawah sadar masing-masing, menyelami mimpi yang kemudian akan berakhir ketika alarm mereka yang seringkali mereka sebut pengganggu itu berteriak-teriak memaksa mereka untuk bangun guna menyuruh mereka kembali melakukan kegiatan serupa, kegiatan yang persis akan apa yang sudah mereka lewati hari ini.

 

“Aku mengantuk sekali.” Sang istri yang diketahui bernama Surin itu kembali menguap membuat laki-laki berambut hitam pekat dengan model spike yang berada disebelahnya turut melakukan hal serupa. “Matamu sampai berkaca-kaca seperti itu. Baiklah nyonya Oh, sekarang sudah saatnya kita tidur.” Laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu menaikan selimut yang menutupi setengah tubuh mereka menjadi sebatas bahu, lalu membetulkan bantal kepalanya, mulai mencari posisi tidur yang tepat.

 

Surin yang kini sudah menemukan posisi yang paling nyamannya itu kemudian menekan tombol merah pada remot televisi yang kebetulan ada di antara bantal kepalanya dan bantal kepala Sehun untuk mematikan layar televisi tersebut. Setelah layar televisi tersebut mati, mereka berdua langsung bertatapan, seolah baru ingat akan sesuatu. Surin menghela napas seraya memutar bola matanya, malas. Surin tahu dengan pasti apa maksud dari tatapan mereka sekarang ini.

 

“Tidak lagi, Oh Sehun.” Ujar Surin sementara Sehun kini sudah memeluk tubuh Surin. Bantal guling yang dipeluk Surin kini menjadi pembatas diantara mereka. “Ayolah Oh Surin, memangnya kau tidak kasihan dengan suamimu yang sudah lelah banting tulang seharian penuh ini? Hari ini aku banyak menggambar design bentuk bangunan dan aku benar-benar lelah.” Sehun mengecupi puncak kepala Surin sementara yang dikecupi langsung menahan wajah sang pengecup dengan telapak tangannya. Sehun tidak menyerah dan kini ia malah mulai mengecupi telapak tangan Surin membuatnya langsung terkena pukulan di kepala oleh Surin.

 

“Memangnya kau pikir aku tidak lelah? Hari ini adalah hari pembagian rapor dan aku harus bertemu banyak orangtua untuk memberikan laporan hasil nilai anak mereka selama satu semester itu. Aku juga sangat lelah, Oh Sehun. Jadi, tidak untuk kali ini.” Surin berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Sehun, namun laki-laki itu mengunci tubuh Surin dengan kakinya yang panjang. Surin hanya menghela napas kemudian berusaha untuk menemukan posisi paling nyamannya sementara Sehun masih memeluknya.

 

“Kalau seperti ini, aku tidak bisa tidur. Kau mau melihat arsitek handal sepertiku ini tertidur saat rapat bersama kolega kerjaku esok hari?” Sehun masih belum menyerah sementara Surin berdecak. “Jangan manja. Aku sudah mematikan televisi dan berarti ini saatnya giliranmu untuk mematikan lampu, Oh Sehun!”

 

Sehun langsung memandang wanita kesayangannya itu dengan tidak terima. “Kalau begitu peraturannya, lebih baik dari tadi saja aku mematikan televisi agar aku tidak harus repot-repot bangun dari kasur yang nyaman ini untuk mematikan lampu, Oh Surin!” Surin mendengus sementara Sehun kini mencubit satu pipi Surin membuat sang empunya hanya menghela napas lalu menatapnya garang.

 

“Tidak ingatkah kau siapa yang kemarin mematikan lampu? Sekarang itu giliranmu, Sehun-a!” Surin langsung membalas Sehun dengan juga mencubit pipi laki-laki itu membuat Sehun akhirnya menyerah. “Aish, ini benar-benar menyebalkan.” Dengan gerakan yang malas dan terpaksa, Sehun turun dari kasurnya dan Surin kemudian berjalan lesu ke arah saklar lampu yang letaknya dekat pintu utama kamar tersebut.

 

“Tolong sekalian matikan lampu meja itu.” Surin menunjuk lampu meja yang berada tepat di sebelah kasur mereka, atau lebih tepatnya, berada tepat di sebelah kiri Surin jika saja wanita yang kini masih tertidur pada posisi semulanya yaitu menghadap ke sisi Sehun, mau berguling sedikit untuk mencapai lampu meja tersebut. Meskipun jarak Surin akan lampu yang berada di sebelahnya itu cukup jauh mengingat ukuran kasur mereka adalah double king size, dimana mereka memang dengan sengaja memilih ukuran kasur yang besar tersebut karena mereka berdua adalah tipe orang yang tidak bisa diam ketika tidur, setidaknya jarak Surin dan lampu itu tidak sejauh jarak Sehun sekarang ini dengan lampu tersebut. Sehun yang baru saja akan menaiki kasur itu setelah ia mematikan lampu kamar mereka, langsung mengurungkan niatnya dan hanya memandang Surin dengan tidak terima setelah mendengar perintah Surin barusan.

 

“Lampu meja itu bahkan berada tepat di sisi kasurmu dan kau dapat mematikannya sendiri dengan hanya berguling sekitar tiga kali untuk mencapai lampu tersebut. Mengapa aku harus repot-repot berjalan ke meja kecil itu hanya untuk mematikan lampu tersebut?”

 

“Memangnya kau tidak lihat aku sudah dalam posisi yang benar-benar nyaman? Kalau aku berguling untuk mematikan lampu meja itu, aku tidak akan mendapatkan posisi nyaman ini lagi!” Seru Surin seraya menaikan selimutnya dan menggeliat nyaman sementara Sehun tertawa meledek.

 

Sehun segera menaiki kasur mereka dan menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh Surin itu dalam hitungan detik membuat Surin langsung berseru kesal. Sehun dengan sengaja meletakan selimut tebal itu ke sebelah kanannya, berusaha menjauhi jangkauan Surin dari selimut tersebut. “Baiklah, aku akan tidur tanpa selimut. Karena aku sudah mengalah, agar lebih adil sebaiknya kau segera mematikan lampu itu karena aku benar-benar malas berguling untuk meraih lampu tersebut. Posisiku saat ini sudah benar-benar nyaman.” Surin kini kembali memeluk gulingnya dan berusaha memejamkan matanya sementara Sehun sudah menatap Surin dengan tidak percaya.

 

Sehun segera berguling ke arah Surin lalu ia menjadikan kedua tangannya menjadi tumpuan tubuhnya sementara kini posisi Sehun sudah berada tepat diatas tubuh Surin. Surin terbelak menatap Sehun yang kini tengah tersenyum jahil itu. Surin ingin menyingkirkan tubuh Sehun dari hadapannya namun usahanya tidak membuahkan hasil karena Sehun sudah benar-benar mengunci tubuh mungil Surin dengan tubuhnya yang jauh lebih besar itu. Pembatas mereka sekarang ini hanyalah bantal guling yang dipeluk Surin.

 

“Ini, aku beritahukan padamu bagaimana caranya berguling yang baik sambil tetap mempertahankan posisi yang nyaman.” Ujar Sehun sementara Surin tidak berkedip sama sekali. Surin langsung menaikan bantal guling yang dipeluknya untuk menutupi seluruh wajahnya ketika ia merasakan Sehun malah dengan perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Surin. “Aku bersumpah, Oh Sehun! Matikan saja lampu itu dan kembalilah ke posisimu semula!”

 

Sehun terbahak kemudian berguling ke sebelah kiri Surin lalu segera menekan tombol pada lampu meja tersebut dan seketika suasana kamar menjadi sangat gelap gulita. “Apa aku harus berguling lagi untuk dapat kembali ke tempatku semula?” Tanya Sehun dengan nada jahil membuat Surin langsung berguling menjauh dari Sehun, namun sebelum sempat Surin melakukan hal tersebut, Sehun sudah lebih dulu menahan tangannya, membuat Surin kembali ke posisinya semula. Dengan gerakan cepat, Sehun kembali menempatkan dirinya diatas Surin. Surin dapat melihat senyuman Sehun meskipun suasana kamar benar-benar gelap. Mungkin karena bantuan dari sinar bulan yang masuk menerobos gorden jendela besar kamar mereka, pikir Surin. Surin mati-matian menahan detak jantungnya ketika Sehun menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Surin berkali-kali.

 

“Mulai sekarang, aku bersedia mematikan lampu sebelum kita tidur asalkan lampu meja yang berada di sisi kasurmu itu kau nyalakan.” Sehun tertawa sementara Surin masih bersusah payah untuk menetralkan detak jantungnya yang benar-benar seakan ingin keluar dari tempatnya itu.

 

“Selamat tidur, nyonya Oh.” Sehun mengecup dahi Surin, lama. Sehun berguling ke sisi tempat tidurnya lalu membiarkan Surin menatapnya tanpa berkedip. Sehun memejamkan matanya seraya tersenyum, masih merasakan kedua mata Surin yang tetap betah memperhatikannya. “Ada apa?” Tanya Sehun dengan senyuman yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

 

“I-itu, tolong ambilkan selimut yang berada disebelahmu.”

 

“Aku kan sudah mengajarimu cara berguling yang baik. Sekarang, cobalah untuk mengambil selimut ini.” Sehun berujar jahil dan sedetik kemudian Surin sudah menyentil dahi laki-laki itu dengan keras membuat sang empunya menjerit kesakitan. “Ya sudah, aku akan tidur tanpa selimut!” Seru Surin kemudian memeluk gulingnya dan memejamkan kedua matanya. Sehun tertawa kecil kemudian segera menyelimuti Surin dan dirinya sendiri dengan selimut yang berada di sebelahnya.

 

Sehun menaikan selimut tersebut sebatas bahu Surin. Ia dapat melihat senyuman yang terulas di wajah istrinya itu, membuatnya langsung membentuk lengkungan serupa. Setiap hari, Sehun dan Surin memang selalu akan berdebat mengenai siapa yang harus mematikan lampu kamar. Dan bagi Sehun maupun Surin, mungkin tragedi ‘perang lampu’ hari ini adalah yang paling seru dari ‘perang lampu’ yang sebelum-sebelumnya. Bahkan, di dalam hati Sehun maupun Surin sekarang ini terbesit sebuah ide untuk menyalakan dua lampu meja yang berada disisi mereka masing-masing sebelum akhirnya tragedy ‘perang lampu’ itu kembali terjadi esok hari.

 

“Selamat tidur, Oh Surin. Aku menyayangimu.” Sehun mengecup bibir Surin singkat kemudian langsung memunggungi wanita kesayangannya itu, takut-takut Surin akan menyentil dahinya lagi akibat tingkah jahilnya barusan. Bertolak belakang dengan pikirannya barusan, kini Sehun malah dapat merasakan Surin memeluk tubuh Sehun dari belakang seraya membenamkan wajahnya pada punggung Sehun yang lebar.

 

“Selamat tidur, Oh Sehun. Aku juga menyayangimu.”

 

-FIN.

 

Jadi, gimana? Semoga kalian suka ya! Sekali lagi, ff ini adalah salah satu dari 12 drabble yang udah saya post di wordpress pribadi saya dalam rangka merayakan ulang tahun Sehun! Project ini saya beri judul “12 Drabble Of SEHUN”.

Jika kamu penasaran dengan 11 cerita lainnya, langsung aja yuk mampir ke wordpress saya! http://ohmarie99.wordpress.com Jangan lupa tinggalin jejak kalian disana ya untuk mengapresiasi project ini! (Karena saya buatnya juga gak mudah, jadi sebagai pembaca yang baik, yuk coba belajar buat mengapresiasi tulisan yang udah kamu baca dengan meninggalkan komentar kamu!) Terima kasih banyak!

Last but not least, I just want to say happy birthday to my dearest, Oh Sehun.

 

 

 

 

3 thoughts on “12 Drabble Of SEHUN – 9th : Love Light

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s