All-Mate911 (Chapter 9)

All-Mate911

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

 (dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-saat aku dan kau bersama dan tertawa-

Sebenarnya pengakuan itu tidak benar-benar mengejutkan, Sena berpikir sambil berjalan ke sisi kamarnya dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut. Maksudnya, Chanyeol pernah menciumnya tanpa alasan yang jelas. Itu berarti sesuatu, kan?

Laki-laki memang aneh, Sena melanjutkan sambil berbalik punggung dan berjalan kembali ke sisi lain kamarnya. Mungkin Chanyeol hanya terpesona sesaat padanya karena ia luar biasa cantik (yang benar saja).

Dari dulu si Park Idiot itu memang sinting, batin Sena jengkel dan kembali ke sisi sebelumnya. Kemungkinan besar ciuman waktu itu hanya untuk mengganggunya.

Iya, kan? Sena berhenti sejenak di tengah-tengah ruangan dengan kedua tangan berkacak pinggang. Jadi pernyataannya tadi itu apa?

“Ah, gila.” Sena berdecak dan mendudukkan dirinya di tempat tidur sambil bersedekap. Mereka tidak pernah berteman, bahkan sejak SMA. Sena membenci si idiot dan ia yakin perasaan itu berlaku balik arah.

Memang, ada kalanya Sena mengganggap Chanyeol lumayan, tapi hanya itu.

Sena segera menggeleng-geleng mengusir pikiran itu dan berdiri, langkahnya berdentum-dentum di sekitar kamarnya. Lumayan apanya? Chanyeol hanya sedikit terlalu tinggi dan kebetulan mendapat gen wajah yang bagus berkat DNA dan—

Pintu terbuka menyentakkannya hingga melompat. “Astaga!”

Sehun di balik pintu mengerutkan dahinya curiga sebelum menutup pintu di belakangnya. “Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tampangmu aneh begitu?”

“Berdiri,” jawab Sena seadanya. “Kau sendiri pergi ke mana? Bukankah sudah kubilang—”

“Minggir,” Sehun memotong dan berjalan melewatinya, langsung menghempaskan punggung ke  tempat tidur dan menghela napas keras-keras. “Sial. Aku lelah. Aku berjalan sangat jauh untuk mendapat tumpangan pulang. Astaga.”

“Ke mana kau pergi?”

“Omong-omong…” Alih-alih menjawab, Sehun merogoh sesuatu dari sakunya dan melemparkannya ke arah Sena dengan kecepatan mengagumkan.

Sena nyaris melewatkan benda itu, tapi syukurnya refleksnya cukup bagus. “Ya! Bukankah ini ponselku? Di mana kau mengambil ini?” tanyanya dengan nada menuduh. Kemudian ia sadar. “Oh, jadi kau yang memanggil si idiot itu? Demi Tuhan, Oh Sehun, aku akan—”

“Lebih baik dia daripada orang lain, dasar bodoh,” lagi-lagi Sehun memotong perkataannya. “Setidaknya aku tahu bagaimana menemukan si Park Chanyeol ini. Kalau dia mematahkan hatimu, aku akan mematahkan batang lehernya.”

Sena mengerjap-ngerjap, kemudian mendengus datar. “Kau tidak akan mematahkan lehernya karena aku tidak punya apa pun untuk dipatahkan olehnya.”

Sehun menghela tubuhnya duduk dengan susah payah seakan-akan seluruh beban dunia ada di pundaknya. “Kapanpun kau bersikap seperti itu, Ryu Sena, aku tahu kau sebenarnya khawatir.”

Sena membuka mulut untuk menyangkal, tapi Sehun lebih cepat melanjutkan perkataannya.

“Kau tahu, kurasa si tolol itu benar-benar peduli padamu. Tidak ada salahnya memberinya kesempatan.”

Sena memutar bola matanya. “Kau bahkan tidak mengenal Chanyeol, kenapa tiba-tiba kau mendukungnya?”

“Aku hanya berusaha membantumu.”

“Membantu apa?”

“Lihat jam berapa sekarang? Pantas saja aku mengantuk.”

Ya! Itu tempat tidurku, tidurlah di lantai!”

Sehun kembali berbaring dan memunggunginya.

“Setidaknya ganti pakaian dan cuci mukamu,” gerutu Sena. Sehun hanya mengangkat satu tangannya dan mengibas-ibaskannya untuk menyuruh Sena diam. Ia menghela napas dan duduk di tepi tempat tidurnya. “Baiklah,” katanya menyerah. “Kau tidur di sana. Aku tidur di bawah.”

Nuna.”

Sena yang baru saja akan berdiri kembali mundur. “Apa?”

“Aku akan pindah ke tempat temanku mulai besok.”

Sena menoleh. “Kenapa?”

“Karena kau tidak suka melihatku berkeliaraan tanpa kaus dan aku belum mau pulang ke rumah,” kata Sehun dengan suara seperti teredam oleh bantal. “Jadi, agar aku bisa tetap memantau perkembanganmu, aku akan tinggal di tempat temanku saja.”

Sena terdiam sedetik, kemudian ia merengut. “Memantau perkembangan? Kau kira aku tanaman kacang hijau? Tutup mulut, dasar sial.”

Sehun tertawa pelan, lalu ia kembali duduk dan merentangkan kedua tangannya.

“Apalagi sekarang?” tanya Sena.

“Peluk aku.”

Sena menatap Sehun seakan-akan laki-laki itu gila. “Apa?”

“Lakukan sajalah,” gerutu Sehun. “Aku sedang butuh dihibur oleh seseorang dan kau satu-satunya makhluk hidup di sini.”

Sambil mendumal sebal, Sena bergeser lebih dekat untuk memeluk Sehun, dan detik berikutnya ia seperti tenggelam di antara lengan yang panjang dan dada bidang. Sehun bertumbuh dengan kecepatan mengerikan sejak memasuki usia puber, tapi Sena tidak ingat sejak kapan tubuhnya jadi sangat laki-laki. Maksudnya, aneh kan, ia sama sekali tidak menyadarinya? Mungkin Sena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri selama ini.

Ya, Hunibuni.”

Aish, berhentilah memanggilku dengan nama sialan itu.”

“Itu kan keren. Nana dan Hunibuni terdengar seperti tokoh dalam seri Sesame Street.”

Sehun melepaskan pelukannya dengan wajah memerah. “Kau sungguh sinting, aku tidak mengerti bagaimana bisa ada seseorang tertarik padamu,” gumamnya.

Sehun mungkin sudah dewasa, tapi Sena tetap mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut laki-laki itu, membuatnya merengut sebal. Hanya saja, kali ini Sena menambahkannya dengan mencondongkan tubuh dan mengecup dahinya sekilas. “Yeah, aku juga cinta padamu, Little Hun,” katanya dan tertawa. “Selamat tidur.”

Sena berdiri dan mengambil kasur lipat untuk dirinya, tidak terlalu memerhatikan bahwa Sehun tidak ikut tertawa bersamanya, atau bahwa laki-laki itu menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

Mungkin ada lebih banyak lagi hal yang tidak akan Sena sadari.

 

***

 

“Maaf, Kawan, kau harus cari teman lain untuk pergi minum denganmu malam ini. Aku ada urusan lain,” Jimin menolak di ujung lain sambungan telepon tanpa sedikitpun kesan menyesal.

“Kalau yang kau maksud urusan adalah janji dengan Luhan, aku akan membunuhmu,” gumam Sena.

“Hmm. Yeah, sayang sekali, tentu saja Luhan. Memangnya siapa lagi?”

Sena menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berisik. “Jadi kau sudah kembali ke ranah percintaan panas dengan si bokong rata dan melupakan sahabat baikmu. Baiklah, aku mengerti. Mulai sekarang kita putus.”

Jimin tertawa culas. “Oke, gadis tua.”

“Sial kau.”

Jimin tertawa lebih keras. “Omong-omong, bagaimana kencanmu? Good or great?”

Perkara good date dan great date ini lelucon di antara Jimin dan Sena. Menurut pendapat mereka (pendapat Jimin tepatnya, karena Sena nyaris tidak pernah berkencan selama mereka saling mengenal), good date berakhir setelah makan malam, sedangkan great date berakhir setelah sarapan.

Karena Jimin bertanya, Sena berasumsi teman kencannya semalam tidak membocorkan soal Chanyeol menyabotase acara mereka pada Jimin. Itu bagus. Tapi berhubung makan malam semalam berakhir sebelum waktunya, Sena tidak yakin kencannya termasuk kategori yang mana. Ia menggumam lama sebelum menjawab, “Eh… enough?”

“Kau benar-benar payah,” balas Jimin, dan Sena bisa membayangkan gadis itu memutar bola matanya. “Walaupun kau tidak tertarik padanya, setidaknya kau harus berterima kasih dengan meneleponnya atau mentraktirnya makan siang sebagai sopan santun sebelum mencampakkannya. Apa kau tidak pernah belajar etika dasar berkencan? Pantas saja kau tidak punya pacar.”

“Tutup mulut, Han Jimin.”

Hening.

“Jimin-ah?”

“Apa?”

“Kenapa kau diam saja?”

“Katamu aku harus tutup mulut.”

Sena menghela napas. “Sudahlah, aku mau tidur saja. Tampar bokong rata Luhan untukku. Sampai nanti.” Tanpa menunggu respon, Sena memutus sambungan dan melempar ponselnya sembarangan di atas tempat tidur. Ini malam pertama Sehun benar-benar pindah, dan ia sudah merasa sepi. Sena mencoba meneleponnya tiga kali sebelum ini, tapi Sehun sengaja menolak panggilannya. Sena jadi ingat ia tidak bertanya apakah Sehun tinggal bersama teman perempuan atau laki-laki.

Seandainya Sehun pulang ke rumah dengan berita bahwa ia akan jadi ayah, Sena pasti mati.

Memang berat punya adik laki-laki.

Baru saja Sena akan mulai mendaftar apa saja beban yang ia miliki sebagai seorang kakak, ponsel yang sempat ditelantarkannya berdering. Ia menyambarnya secepat kilat, dan nama kontak Chanyeol muncul di layarnya.

“Apalagi yang dia inginkan,” gumam Sena sebelum menyentuh ikon jawab dan berkata tanpa minat, “Apa?”

“Hei. Kau sedang apa?”

“Mencoba tidur.”

“Berhasil?”

“Kalau iya, kita tidak akan melakukan percakapan omong kosong ini. Apa maumu?”

“Yah. Coba keluar sebentar dari kamarmu. Ada sesuatu yang menarik.”

“Apa? Gerhana bulan?”

“Bahkan lebih baik lagi. Cepatlah, sebelum hilang.”

Sena menghela tubuhnya malas membuka pintu dan menyeret kakinya ke koridor di depan. Ia mendongak pada langit gelap yang tidak berbintang. “Tidak ada apa-apa di langit, dasar idiot,” gerutu Sena pada ponsel di telinganya. “Kalau kau pikir ini lucu, aku sedang mengantuk dan tidak ada niat meladeni—”

“Siapa yang membicarakan langit?”

Sena terlonjak kaget sampai nyaris menjatuhkan ponselnya, karena suara itu bukan berasal dari ponselnya, tapi nyata di dekatnya. Ia menoleh pada sumbernya dengan satu sentakan. “Ya, Park Idiot!”

Chanyeol menurunkan ponsel dari telinganya dan menyengir lebar, mempertunjukkan sebaris gigi putih dan rapi. Di satu bahunya, sebuah ransel yang tampak berat menggantung rendah.

Setelah mengatasi keterkejutannya, Sena menegakkan punggung dan berkacak pinggang. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau pergi berkemah atau merampok rumah seseorang?”

“Tidak dua-duanya. Boleh aku masuk ke dalam?”

“Kalau kubilang tidak?”

“Aku akan, hmm, mengemis-ngemis?”

Sena memutar bola matanya, bahunya merosot menyerah. “Baiklah.”

Chanyeol mengikutinya ke dalam seperti anak anjing. Sena berbalik setelah menutup pintu dan mendapati Chanyeol sudah mendudukkan dirinya bersila di lantai dan mengeluarkan isi tasnya. Tiga bungkus besar keripik kentang, sekotak chocopie, sebungkus biskuit Oreo, satu cup es krim ukuran seliter, laptop, dan beberapa DVD film. “Kau punya sendok?” tanyanya sambil mengacungkan es krim.

Sena menyerahkan satu sendok padanya.

“Kenapa hanya satu? Kau tidak mau makan?”

“Aku sedang diet.”

“Untuk apa? Bagiku kau sudah sempurna.”

Sena mengerutkan wajahnya seakan-akan ia akan muntah. Chanyeol hanya tertawa, lalu meraih tangannya dan menariknya untuk duduk di sebelahnya.

“Jadi apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sena.

“Aku pulang kantor lebih awal dan besok libur. Aku tidak punya teman, dan kau tidak punya teman. Sempurna. Kita bisa maraton film bersama.”

Sena memicingkan matanya curiga. “Kau yakin hanya itu tujuanmu?”

Chanyeol meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada dengan ekspresi terluka. “Asal kau tahu, aku mungkin terlihat liar, tapi sebenarnya aku ini laki-laki yang baik dan bersih.”

Well, sebenarnya kau tidak terlihat liar.”

“Lalu?”

“Kau terlihat seperti idiot.”

“Masa bodohlah.”

 

***

 

Chanyeol menyetel DVD seri pertama film Star Wars, yang tidak pernah Sena tonton sama sekali, jadi ia tidak tertarik. Tapi hanya dalam beberapa menit, fokus Sena sudah menempel di layar, sementara tangan dan mulutnya bekerja sama menghabiskan isi sebungkus keripik kentang.

“Aku lapar,” kata Chanyeol tanpa menoleh dari film.

“Kenapa tadi kau tidak beli tteokbokki sekalian?” balas Sena.

“Lupa. Kau mau pergi membelinya sekarang?”

“Kenapa aku?”

“Kau bilang filmnya tidak seru.”

Sena berdecak. “Makan ini saja.” Ia menjejalkan sekepal keripik kentang pada Chanyeol.

Selama satu setengah jam lebih, mereka menghabiskan camilan dan menonton nyaris tanpa bertukar percakapan, kecuali saat Sena bertanya apa yang terjadi di dalam film. Chanyeol menyodorkan sesuap es krim dan Sena menerimanya tanpa sadar.

“Kau bilang kau sedang diet.”

“Diamlah.”

Seri pertama dilanjutkan ke seri kedua. Selama itu mereka duduk bersebelahan dalam diam. Kadang ketika salah satu bergerak, lutut mereka bersentuhan tapi tidak ada yang mendorong untuk menjaga jarak. Di sela-sela film, Chanyeol melontarkan lelucon yang tidak lucu dan Sena tertawa.

“Sebenarnya, aku senang kau datang,” Sena mengaku tanpa aba-aba. “Sepi sekali tadi di sini karena adikku baru pindah dari sini.”

“Adikmu?”

Sena mengangguk. “Namanya Sehun.”

Chanyeol mengingat-ingat sejenak. “Laki-laki yang dulu itu datang saat aku mengantarmu pulang?”

“Yep.”

Well.” Chanyeol mengangkat bahu dan menyeringai. “Baguslah kalau dia pindah dari sini.”

Dahi Sena terlipat. “Apa? Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Jadi kau ingin aku datang lagi besok?”

Sena mendengus. “Tidak, terima kasih. Aku akan mencari teman lain. Aku sudah bosan melihat wajahmu selama dua hari berturut-turut.”

“Oke. Jangan teman laki-laki.”

“Ha-ha,” Sena tertawa hambar, tapi tidak membalas apa-apa.

Seri ketiga sudah memasuki pertengahan dan Sena mengantuk. Ia meraih bantal dari tempat tidur dan meringkuk miring di lantai dengan mata terpejam. Chanyeol, menjadi si penggangu yang biasa, menyenggol-nyenggol pundak Sena setiap setengah menit sambil memanggil, “Sena-ya. Sena-ya. Sena-ya.”

“Astaga. Apa?” tanya Sena kesal.

“Jangan tidur. Aku masih di sini.”

“Lalu?”

“Nanti kau tidak sadar kalau aku melakukan sesuatu padamu.”

Sena mendengus dan sengaja memejamkan matanya. “Masa bodoh. Aku mengantuk.”

“Sungguh? Kalau begitu aku akan menciummu.”

“Coba saja.”

“Aku benar-benar akan menciummu.”

“Silakan. Bibirku tidak ke mana-mana.”

“Aku akan menghitung sampai tiga. Satu…”

“Dua.”

Ia mengintip dan melihat Chanyeol mencebik dengan kedua telapak tangan bersedekap. “Yah, kalau begitu tidak seru lagi.”

Sena tertawa. “Aku yakin kau akan menemukan hal lain untuk menggangguku, Kawan.”

 

***

 

Sena yakin ia tertidur di lantai, tapi esok paginya (atau siang, lebih tepat) ia terbangun di atas tempat tidur, kedua kaki mengepit buntalan selimut dan bantalnya entah ke mana. Secara otomatis matanya melihat sekitar dan menemukan ia hanya sendirian. Kamarnya berantakan—seperti biasa—tapi diperparah dengan sampah bungkus makanan ringan. Chanyeol tidak ada di mana-mana. Si idiot itu melarikan diri sebelum beres-beres rupanya.

Sena berbaring dulu di sana selama beberapa menit untuk mengusir kantuk, dan hal pertama yang dilakukannya sebelum menyikat gigi dan mandi adalah mencari ponsel. Sedihnya, ponsel kerjanya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada orang lain yang kesepian di belahan dunia ini. Kedua, ponsel pribadinya mati. Ia lupa mengisi baterainya semalam.

Sena berdiri dan berjalan terseok-seok mencari kabel pengisi baterai, lalu menyambungkannya dengan ponselnya. Ia menunggu sampai jaringannya aktif dan sebuah pesan video dari Chanyeol membuat ponselnya berdering. Sena menatap pesan itu dengan dahi berkerut karena, demi Tuhan, mereka kan baru saja bertemu? Untuk apa Chanyeol mengiriminya pesan video? Seolah-olah Sena mau menghabiskan waktunya yang berharga untuk menatap muka si idiot itu.

Begitu Sena membuka video berdurasi kira-kira satu menit itu, wajah Chanyeol memenuhi sebagian besar layar. Laki-laki itu menoleh kiri-kanan untuk mengecek penampilan wajahnya, merapikan rambut, kemudian dengan suara beratnya berdeham-deham sok seperti seorang rapper sedang memperkenalkan diri, “Ehem. Ehem. Tes. Satu dua yo yo di sini Park-Keren-Chanyeol, yo.”

“Apa-apaan,” gumam Sena jijik.

Kemudian layarnya dijauhkan dan Sena terperangah melihat dirinya sendiri yang sedang tertidur meringkuk di lantai, memeluk bantal.

Chanyeol meliput langsung dari kamar Ryu Sena. Yah, kurasa ini kamar, meskipun sekarang keadaannya seperti tempat pembuangan sampah. Tapi lupakan saja. Nah, ini si pemilik kamar, sedang tidur. Baru kali ini aku melihatnya begitu tenang. Saat sadar, dia selalu terlihat seperti ingin memukulku. Tidakkah itu menyebalkan?

Chanyeol mendekatkan kamera padanya di lantai dan Sena membelalakkan matanya karena, euh, demi segalanya yang suci, wajahnya benar-benar gendut. Lebih parahnya lagi, ia bisa melihat mulutnya sedikit terbuka. Sena nyaris akan menutup layar video itu saking malunya, tapi ia  menahan diri karena suara Chanyeol masih ada di latar belakang.

Bagaimana? Dia imut sekali, ya kan? Yo, Sena-ya. Lihat ke sini, yo~

Jari telunjuk yang tentu saja jari Chanyeol terulur entah dari mana dan mencolek-colek ujung hidung Sena di dalam video yang bahkan tidak bergeming sedikit pun. Ia mendengar suara cekikikan Chanyeol yang menyebalkan. Kemudian kamera dijauhkan darinya dan wajah tersenyum lebar Chanyeol kembali memenuhi layar.

Yap, ini dia kenang-kenangan malam pertama kami.

“Malam pertama apaan,” sahut Sena nyaris seketika. “Kubunuh kau nanti.”

Sampai di sini, Park Chanyeol pamit undur diri. Dan, Sena-ya, kalau kau melihat ini: aku merindukanmu! Bye bye!

Chanyeol menyengir tolol dan melambai-lambaikan satu tangannya dengan heboh, lalu video itu berakhir.

Sena mencabut kabel pengisi baterai di ponselnya dan meneleponnya kurang dari dua detik. Tanpa membiarkan Chanyeol menyapa di ujung lain telepon, Sena menyembur, “Siapa yang memberimu izin merekamku saat sedang tidur, Idiot?”

“Bagaimana, ya?” balas Chanyeol, terdengar sama sekali tidak terkejut dengan reaksi Sena. “Aku tidak bisa menahan diri. Kau cantik sekali saat tidur.”

Sena bergidik. “Apa kau harus membuat segalanya terdengar mesum?”

Chanyeol hanya tertawa. “Kapan-kapan, ayo kita pergi berlibur tiga hari ke pegunungan. Aku akan membuat lebih banyak video. Aku ingin tahu apakah kau bernyanyi saat mandi—”

Sena menyentuh ikon di layar ponsel untuk memutus sambungan dengan kekuatan lebih dari yang dibutuhkan. “Dasar sinting,” gerutunya sebal. “Dan aku tidak bernyanyi saat mandi.”

Tapi, ia tidak bisa menahan senyum. Park Chanyeol memang idiot terbesar di dunia dan Sena berjanji dalam hati akan mencekiknya dalam tidur suatu hari nanti.

 

***

 

Chanyeol memutar-mutar gelas bubble tea-nya sambil sesekali mengangkat kepala menatap jalanan di depan pintu kafe yang terbuka. Kafe bubble tea ini salah satu yang paling populer di daerah Hongdae dan pengunjungnya selalu ramai. Setelah hampir lima belas menit, ia melihat laki-laki tinggi, laki-laki yang sama yang pernah dilihatnya dulu, dan ia melambaikan tangan untuk menarik perhatiannya. Laki-laki itu melangkah santai ke arah mejanya dan langsung duduk di hadapannya.

“Kau Sehun, kan?”

Laki-laki itu mengangkat bahu. “Kalau aku tidak salah ingat, benar.”

Kesan pertama Chanyeol adalah Sehun seperti versi laki-laki Ryu Sena, hanya jauh lebih tinggi.

“Bagaimana kau bisa menghubungiku?” tanya Sehun.

“Aku meminta nomormu dari Sena.”

“Tidak mungkin dia memberikannya begitu saja.”

Oke, memang tidak. Chanyeol bisa dibilang ‘mencuri’nya dari ponsel Sena saat gadis itu sedang tidur semalam. Tapi syukurlah ia tidak perlu mengakui dosanya, karena seorang pramusaji menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan minuman Sehun.

“Aku ingin bertemu denganmu untuk bilang terima kasih,” kata Chanyeol, dengan gesit mengganti topik pembicaraan. “Untuk yang waktu itu, karena membantuku menemuinya.”

“Aku tidak melakukannya untukmu, jadi lupakan saja,” balas Sehun ringan.

“Yah…” Oke, Chanyeol harus mengatakan apa lagi?

Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Chanyeol merogoh ponselnya dan melihat nama kontak Sena muncul di layar. Ia menerima telepon itu, tapi belum sempat membuka mulut, Sena sudah lebih dulu berseru, “Siapa yang memberimu izin merekamku saat sedang tidur, Idiot?”

Chanyeol tidak bisa menahan senyum. “Bagaimana, ya? Aku tidak bisa menahan diri. Kau cantik sekali saat tidur.”

Euh. Apa kau harus membuat segalanya terdengar mesum?”

Chanyeol tertawa. Ia bisa membayangkan tampang kesal Sena saat ini. Pasti sangat lucu kalau ia bisa melihatnya langsung. “Kapan-kapan, ayo kita pergi berlibur tiga hari ke pegunungan. Aku akan membuat lebih banyak video. Aku ingin tahu apakah kau bernyanyi saat mandi—”

Teleponnya diputus. Chanyeol menurunkan ponsel dan terkekeh.

“Kau menginap di tempatnya semalam?”

Baru ia ingat Sehun masih ada di sana. Dan, oh, tatapan matanya. Seandainya sorot mata punya kekuatan laser, Chanyeol mungkin sudah terbelah jadi delapan atau lebih. “Eh, itu, y-ya. Tapi kami hanya menonton film dan dia ketiduran. Aku bersumpah aku tidak melakukan apa-apa.”

Sehun menyipitkan mata padanya selama beberapa detik, kemudian hanya menggumam, “Terserahlah,” dan menyeruput bubble tea cokelat-nya.

Chanyeol menghela napas perlahan. Oh, ini mulai menyeramkan.

“Apa pekerjaanmu?” mendadak Sehun bertanya.

“Aku, mm,” selama sedetik Chanyeol lupa apa pekerjaannya, “aku mengelola perusahaan ayahku.”

“Kau punya rumah sendiri?”

“A-ada apartemen. Aku tinggal sendiri di apartemen.” Chanyeol meneguk ludah. Kenapa pembicaraan ini membuatnya gugup? Bahkan hari pertamanya bekerja di kantor saja tidak membuatnya setegang ini.

“Sudah berapa lama kau menemui Sena?”

“Eh, sejak kami SMA atau sejak kami bertemu lagi?”

Ketika mendengar SMA, dahi Sehun berkerut seakan ia mencium sesuatu yang tidak enak. Chanyeol punya perasaan Sehun tahu tentang masa lalunya dan Sena. “Sejak bertemu lagi.”

“Eh…” Chanyeol berpikir sebentar. “Sekitar tiga bulan?”

Sehun hanya mengangguk-angguk, lalu menyeruput sisa bubble tea di gelasnya dengan cepat.

“Kau mau lagi?” Chanyeol menawarkan.

Sehun menggeleng. “Kalau kau sudah selesai bicara, aku harus kembali ke tempat kerja.”

“Di mana kau bekerja?”

“Kafe.”

“Omong-omong, berapa umurmu?”

“Dua puluh satu.”

“Benarkah?” Chanyeol mengerjap terkejut. “Kupikir kau seumuran denganku.” Lalu, ia menyadari sesuatu. “Ya, kenapa sejak tadi kau bicara banmal padaku?”

“Aku bicara banmal pada ayahku juga,” balas Sehun dengan nada menantang. “Memangnya kau mau apa? Aku menyembah-nyembah kakimu?”

Chanyeol berdecak-decak kagum. “Bisa kulihat kenapa kau dan Sena bersaudara.”

“Bukan saudara kandung,” ralat Sehun, bersungut-sungut. “Kami tidak punya hubungan darah.”

“Itu bukan kejutan. Kalian sama sekali tidak mirip. Tapi kurasa bersaudara tidak harus punya hubungan darah, ya kan?”

Sehun menatapnya sedetik, kemudian memalingkan wajah dan mendengus, “Sesukamulah.”

Chanyeol membayar tagihannya dan mereka meninggalkan kafe itu. Di depan, Sehun mendadak menegurnya, “Oi, Hyeong, punya rokok?”

Chanyeol terkesima, pertama karena Sehun memanggilnya kakak, kedua karena pertanyaannya. “Kau merokok?”

“Memangnya kau tidak?”

Chanyeol menggeleng tegas. “Apa kau tidak tahu kalau sebatang rokok mengurangi umur—”

“Iya, iya, paham,” sela Sehun seraya memutar bola matanya. “Tidak bibi, Sena, sekarang kau. Huh.”

Ya, Sehun-ah!” Chanyeol berseru pada Sehun yang sudah lebih dulu beranjak dari sana. “Ayo bertemu lagi kapan-kapan. Hyeong akan mentraktirmu bubble tea lagi! Dan berhenti merokok atau aku akan mengadukanmu pada Sena!”

Sehun hanya melambaikan satu tangannya acuh tanpa berhenti atau menoleh.

Jadi begini rasanya punya adik.

 

=to be continued=

Uwaaaaah. Udah sampai chapter 9. Ga berasa~ (berasa banget sih sebenernya lol) Oke. Ehem. Chapter ini kayaknya sekadar filler(?) karena minggu ini bukan minggu yg baik buatku. Haha. Semoga masih oke, walaupun aku nggak yakin juga. Yeah. Sampai jumpa minggu depan!

XOXO, Rin

10 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 9)

  1. Whuuaa makasih kak, akhirnya di post juga 😊 meskipun cuma filler, tetep keren maksimal kak. Ditunggu next chap nya 😍😍😍 ngga sabar hehe

  2. Aku jadi kepikiran gimana endingnya nanti ..
    Gimana sehun ???
    Trus hubungannya chanyeol dan sena,jadi nya mereka nikah/ending pas pacaran aja ???
    Ayo ka di terusin lagi makin lama makin seru ceritanya

  3. cerita’ny jd tambah seru thor..di chapter ini gy adem ayem ja nue cerita’ny nggk ada msalah yg rumit…tapi masih penasaran sie, apakah sehun bisa melupakan rasa suka’ny sama ‘nuna tercinta’ny’ setelah insiden kecupan sena di dahi sehun?? wah..waah jd penasaran nih, ditunggu ya thor next chapter’ny…gomawo^^

  4. Pcy i love youuuu, wkwkwkwk
    Sehun ngegemeain banget siiiih sumpah deeeeh, pcy tunggal ya? Gitu amat, pdahal sehun cuek, hahahaha

  5. kayaknya sehun uadah mulai relain sena sma chanyeol deh hehehe sehun memang cocok diacungin jempol
    chanyeol sma sena tambah sweet ajah deh
    di tunggu next nya

  6. waaaa aku suka karakternya sehun. dia sena versi cowok. hehehe. aku juga suka karna dia dewasa, bisa nerima keadaan kalo dia itu cuma adeknya sena meskipun bukan adek kandung. dia sayang sama tulus banget ke sena. aku juga suka banget liat interaksi dia sama si ceye calon kakak ipar. wkwkwk. semoga endingnya sehun juga bisa ketemu cewek yang baik ya banghun. wkwkwk. keep writing ya kak. ff nya daebak! =)

  7. Cieee chanyeol menginap ciee :p
    Hahha
    Lucu banget dah mereka berduaa hihi
    Suka suka
    Itu sehun lagaknya udah kaya bapak yg ngintrogasi pacar dr anak perempuannya haha serem gila sampe nanya kerjaan Dan rumah segala.
    Haha sehun sehun..udah kamu sama aku aja *eh 😄😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s