Well-Paid

9761c7d415c4e94b2665dd40c4cc5bde

Well-Paid

Pairing of Jongdae (EXO Chen) and Eunhee (OC)

Presented by deera

Genre : Romance, Sad | Length : 668 words | Rating : General

deera says : Maaf-keun aku yang ngga konsisten bikin cast hehe ^^

Hutangku lunas ya?


“Hutangku lunas ya?” Jongdae mengatakan itu sambil terengah. Air mata Eunhee tak berhenti disusuti oleh jari-jemari Jongdae yang terbaring lemah dengan dada naik turun mengatur napas yang mulai tersendat. Garis wajah yang sejatinya tak berubah sama sekali—setelah puluhan tahun sejak pertama kali Eunhee melihat Jongdae remaja di antara anak-anak berseragam putih-abu lainnya.

Karismatik, membawa Eunhee berpaling dan memantapkan hati untuk terus memandangi Jongdae yang kali itu terlalu sederhana untuk dikagumi. Eunhee tak bisa lupa hari itu, yang setiap hari dibahas bersama dengan lelakinya sambil menikmati segelas teh untuknya dan kopi rendah gula milik Eunhee sendiri. Kalau harus dikatakan indah, mungkin pertemuan itu adalah takdir yang manis bagi mereka berdua yang disatukan oleh banyak kebetulan.

Dialah cinta pertama. Dan pasti menjadi terakhir.

Kata orang, cinta pertama susah dilupakan.

Kata orang, cinta pertama adalah yang paling berkesan.

Kata orang, cinta pertama adalah yang paling berharga.

Kata orang, cinta pertama akan diingat selamanya.

Bagi Jongdae, cinta pertama adalah Eunhee. Satu. Jodohnya sampai mati.

Jemari mungil Eunhee—yang masih saja mungil biar waktu mengupas habis elastisitas kulitnya—tak berhenti menggenggam kesepuluh jemari Jongdae yang besar-besar. Kehangatan yang biasanya menenangkan kini diganti oleh rasa dingin dan takut. Ditambah, menegangkan. Detik-detik seperti ini yang paling dibenci oleh Eunhee. Yang kata orang, terakhir. Yang kata mereka, bahwa Eunhee akan kehilangan Jongdae. Gadis itu berusaha mendoktrin dirinya sendiri untuk tidak memercayai semua itu.

Senyum yang sama tersemat di lengkung tipis bibirnya yang pucat. Ujung telunjuk Jongdae menyentuh sudut mata gadisnya. Membelainya lembut, seolah berusaha mengusir semua kesedihan yang menggelayutinya saat ini.

Eunhee semakin tak bisa menahan tumpahan tangis yang sedari tadi ditahan. Didengarnya Jongdae bicara, “Aku selesai membayar hutangku, Sayang.”

“Tidak pernah ada hutang di antara kita,” sahut Eunhee memelas.

Lagi-lagi lelaki itu menyentuh pipi gadisnya dengan seujung kukunya yang terasa beku. “Aku pernah berjanji akan mencintaimu sampai aku mati. Itu hutangku saat aku menikahimu.”

Eunhee membenamkan wajahnya dalam genggaman tangan Jongdae yang membuka di atas selimut. Bisa dirasakannya denyut keduanya berdetak bersama dari kulit yang semakin tipis seiring usia. Selang infus menancap sadis di sana, membuat Eunhee selalu ingin menangis ketika menatapnya.

“Aku bahagia sekali bisa melunasinya,” kata Jongdae lirih.

“Aku lebih bahagia karena diizinkan bertemu denganmu saat hari pertama sekolah dulu, saat nilaimu yang cemerlang membuatmu naik ke podium. Dan, kurasa, oh, sepertinya aku menyukai lelaki ini.”

Tawa renyah menguar dari celah dua bibir Jongdae. “Aku lebih bahagia lagi, sewaktu kudapatkan nomor telepon rumahmu. Aku ingat bagaimana aku gugup hanya menekan nomornya saja, dan yang mengangkat ternyata ayahmu.”

“Tapi tentu saja aku yang paling bahagia. Terutama saat kau melamarku di tengah-tengah ramainya Hongdae lalu menciumku di sana.”

“Kata siapa? Tentu aku yang paling bahagia. Apalagi saat kutahu kau sedang hamil anak pertama kita, my little Kim Eundae yang sudah memberiku cucu kembar yang lucu-lucu.”

Dikecupnya pipi Jongdae sekilas. “Kita sama-sama bahagia, Sayang.”

Lelaki itu tertawa. Menertawai sikap tidak mau kalah yang mereka punya. Menertawai kenangan yang selalu ada di sekeliling keduanya, yang melekat kuat di langit-langit ingatan yang memudar sejak dua tahun ke belakang. Di saat sepasang renta ini mulai selalu membicarakan masa lalu, di saat mereka mengingat semua hal manis yang pernah dialami, Eunhee semakin yakin kalau keduanya memang ada untuk satu sama lain.

Mencintaimu menjadi tujuan hidupku. Menjadi takdir yang tidak bisa dipungkiri. Dan aku bersyukur untuk takdir yang satu itu. Jongdae tak pernah berpikir bahwa mencintai Eunhee adalah hadiah kecil yang diberikan Tuhan di sepanjang usia hidupnya.

Hatimu menjadi satu-satunya tempatku berlabuh. Dan aku tidak menyesal telah memberikan semua yang kupunya untuk kau milikki. Separuh kehidupan Seo Eunhee dihabiskan untuk mencari sosok satu-satunya yang menjelma menjadi Kim Jongdae. Lalu sisanya untuk mencintai dan menghormat lelaki yang menjadi teman hidupnya untuk berbagi keluh dan canda bersama.

“Hutangku lunas. Karena aku sudah mencintaimu sampai akhir. Sampai aku mati.” Jongdae tersenyum dalam lelapnya hingga tak pernah Eunhee lihat lagi kehadirannya dalam setiap pagi saat membuka mata.

Hati kecil Eunhee berdoa dengan tetesan air mata mengiringi kepergian Jongdae. Beri dia kebahagiaan di sisi-Mu, Tuhan, sebagaimana dia telah membahagiakan hidupku sampai detik ini kehilangannya.

13 thoughts on “Well-Paid

  1. Huaaaa…. So sweet banget thor :’)
    Seneng banget ya kalo punya pasangan kayak jongdae ^^
    Feelnya dapet banget
    Great job!
    Keep writing and hwaiting ya thor ^^

  2. ide cerita yang menarik, tema nya juga keren tinggal kerapian kalimat aja (beberapa). aku juga masih belajar dan grammar yang kamu pake bisa jadi referensi nih hehe.
    ketimbang sedih malah ngerasa bahagia karena happy end menurutku, betapa jongdae benar-benar menepati janjinya. terus semangat kawan!!
    sekalian promo, baca cerita aku juga ya,🙂

  3. no friggin waaaay ceritanya sedih tapi so sweet dan aduh settingnya dibikinnya mereka udah di usia lanjut ya? biasanya cerita cinta kan selalu digambarkan yg sosoknya masih muda gitu. dan hutangnya itu ternyata. ternyata itu maksudnya T.T aduh aki jongdae
    suka banget sama ceritanya! keep writing!

  4. maaf sebelumnya, aku reader baru disini 😁😁
    ceritanya keren thor, tentang kesetiaan dua sejoli lanjut usia 😁
    aku cuma mau koreksi aja, maaf bukan maksud menggurui, nyatanya aku juga masih belajar. Itu yang kata ‘gadis’ sebaiknya diganti ‘wanita’
    soalnya setting cerita disinikan udah usia lanjut, lagian kata ‘gadis’ iti digunakan untuk wanita usia muda dan maaf, belum pernah melakukan ‘itu’
    tapi untuk cerita ini, kan mereka ceritanya udah nikah, apalagi udah ada cucu, jadi lebih baik dan memang harusnya menggunakan kata ‘wanita’ 😁😁
    maaf jika coment ini sangat panjang dan menggurui 😁
    keep writting thor 😁

    1. Hehe as expected, ternyata ada yg ngeh. Itu memang sengaja kok, buat Jongdae-ceritanya-Eunhee bakal selalu jadi ‘gadis’-nya so I italized the word. But after I posted this, I realized I missed some words so for that I apologize 😅 trims sudah peka ya sini ketjup 😚

      1. haha, aku sampe gak ngeh klo kata gadis itu sebenernya di italic 😁😁
        this is an amazing created, you’ve an amazing idea btw 😁
        keep writting thor 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s