You and I – First Meet (Chapter 3)

img_2738

You and I – First Meet (3)

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

Stories        : You and I – Zing (chapter 1) | You and I – Blind Date (chapter 2)

~happy reading~

Chanyeol berjalan tergesa memasuki sebuah Bar tempat Baekhyun biasa bekerja. Tanpa aba-aba dan membalas sapaan Baekhyun, dia duduk disalah satu kursi didekat meja.

“ada apa?” Baekhyun tersenyum, sembari menuangkan wine untuk Chanyeol.

“tawaranmu masih berlaku?”

“tawaran apa?” Baekhyun memasang tampang innocent. Pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Chanyeol. Sedikit menggoda Chanyeol disaat seperti ini sangat menyenangkan.

“sialan. Ini serius.”

“kau sungguh-sungguh bersedia?”

“iya. Cepatlah. Waktuku tidak banyak.”

“sebentar.”

Baekhyun pergi menjauhi Chanyeol. Dapat dilihat jika saat ini dia sedang menelepon seseorang.

~000~

Biar kalian tahu sedikit tentang Choi Yonggi. Dia adalah wanita cantik kaya raya dengan harga diri diatas rata-rata. Pintar dan bertalenta. Banyak pria diluar sana yang mati-matian memperebutkan cintanya. Tapi, Choi Yonggi hanya mencintai Park Chanyeol. Dia bahkan rela melakukan apa saja asalkan Chanyeol bertekuk lutut dihadapannya. Rela mengemis cinta dari seorang idiot macam Chanyeol. Pertemuan pertamanya bermula saat keluarga Park dan Choi makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Kala itu Chanyeol memakai celana jins hitam dengan kaus hitam dan luaran kemeja yang lengannya digulung sesiku. Rambut yang dibiarkan tidak terurus dan sepatu kets mampu membuat seorang Choi Yonggi langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi saat mereka bermain bersama, rasa itu kian tumbuh di hati Yonggi. Dia bersumpah jika suatu hari nanti, dia akan menikah dengan Chanyeol.

Awalnya Chanyeol menganggap jika Yonggi adalah anak yang manis. Tapi semua itu sirna kala Chanyeol tahu sifat asli gadis bermarga Choi itu. Dia membentak seorang kurang mampu yang sedang meminta belas kasih Yonggi. Dia juga hampir membuang anak kucing kecil yang malang ke dasar selokan. Memarahi supirnya karena terlambat menjemputnya di musim panas. Dan Chanyeol yakin, dia bersifat layaknya gadis kecil polos baik hati hanya didepan matanya.

Tujuh tahun mereka bersama, dan Chanyeol makin membenci Yonggi. Dia sangat bersyukur kala Yonggi akan pindah ke Paris saat SMA. Dan melanjutkan kuliahnya disana. Bagi Chanyeol, itu adalah suatu nikmat luar biasa yang dikirimkan Tuhan untuknya.

Tapi, hari ini, dia kembali dari Jepang. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Paris, Yonggi berlibur ke Jepang selama tiga bulan. Chanyeol senang, setidaknya tiga bulan lagi tidak ada manusia bernama Choi Yonggi di hidupnya.

~000~

Baekhyun kembali menghampiri Chanyeol. Tersenyum manis saat sebuah setelan jas tergantung ditangannya.

“pakai.”

“a—“

“sekarang.”

Chanyeol mengambil malas setelan jas yang diberikan Baekhyun. Berjalan gontai kearah toilet pria. Tanpa pernah tahu bahwa dibelakang sana, Baekhyun sedang menampakkan senyum kemenangannya saat membaca sebuah pesan singkat.

 

Cepatlah. Kami sedang berada dibutik. Mungkin sepuluh menit lagi selesai.

 

Minsoo.

Tak sampai sepuluh menit, Chanyeol menyembul keluar dari toilet pria dengan celana bahan hitam, kemeja putih dengan rompi abu-abu tua dan jas warna senada. Oh, jangan lupakan rambut hitamnya yang dibiarkan sedikit berantakan.

Bisa bayangkan betapa tampannya Chanyeol sekarang?

“woah,” Baekhyun menghampiri Chanyeol. Mulutnya sedikit terbuka dan tangannya bertepuk keras. “kau tampan sekali.”

~000~

Mereka kini sudah berada di dekat sebuah rerstoran ramen. Chanyeol yang baru selesai memarkirkan kendaraannya, dan hendak keluar dari mobil, terhenti saat satu tangan menahan pergerakannya.

“tunggu sebentar.” Baekhyun pergi meninggalkan Chanyeol. Lebih dulu keluar mobil untuk memastikan sesuatu yang tidak diketahui Chanyeol.

Tak lama, Baekhyun kembali dan mengetuk kaca mobil, “ayo keluar.”

Kini mereka sudah berada tepat didepan restoran. Sekali lagi, Baekhyun mengamati pakain Chanyeol. Persis seperti ibu-ibu yang sedang mendadani anaknya sekolah.

“sekarang masuklah. Dia akan tiba sekitar lima menit lagi.”

“hmm, aku harus apa?” Chanyeol menggaruk sedikit tengkuknya. Menampilkan senyum tolol khas dibibirnya.

“Demi Tuhan Park Chanyeol! Kau tidak tahu harus apa didalam sana? Kau tampan dan dulu punya banyak pacar. Dan sekarang kau malah seperti orang tolol yang baru pertama kali berkencan?” Baekhyun mendengus. Mengusap wajahnya frustasi. Hilang akal pada sahabatnya sendiri. Kenapa manusia didepannya ini begitu bodoh.

“yaa, itu kan dulu. Aku benar-benar tidak tahu harus apa.” Lagi-lagi Chanyeol tersenyum. Menampakkan sederet giginya yang putih dan rapih.

Baekhyun menghela napas panjang. Sedikit mengusap wajahnya, lalu menjawab, “kau hanya perlu menyapa dan berbincang layaknya teman. Oke?”

Chanyeol hanya manggut-manggut. Mengedarkan pandangannya ke lain tempat. Sebelum sempat menjawab, Baekhyun menyerobot, “cepat masuk. Aku frustasi dekat-dekat denganmu.”

~000~

Chanyeol mengedarkan pandangannya, mencari meja kosong untuk ditempati dua orang, namun matanya berhenti bergerak kala melihat seorang perempuan dengan rambut coklat tua kemerahan duduk memunggunginya. Dia tersenyum, merasa mengenali perempuan didepannya. Tanpa aba-aba, dia langkahkan kakinya yang jenjang, bersiap menghampiri perempuan itu.

Setelah dirasa cukup dekat, dia tepuk bahu wanita itu pelan.

“Chae Yoon-ssi?”

“Chanyeol-ssi?”

Chanyeol tertawa dalam hati. Melihat ekspresi terkejut Chae Yoon benar-benar membuatnya gemas. Dengan canggung, Chae Yoon bangkit, membungkuk lalu tersenyum pada Chanyeol.

Oh Ya Tuhan. Jantung Chanyeol makin berulah kala matanya menangkap pakaian Chae Yoon. Dress itu membuat tubuh chae yoon makin terekspos dan membuat jantung Chanyeol hampir mencelos jatuh kedepan.

Ya Tuhan, dia cantik sekali.

“boleh aku duduk? Orang yang aku tunggu belum datang dan sudah tidak ada bangku kosong.”

“eoh, silahkan.”

Tidak ada salahnya bukan menunggu seseorang sembari menikmati pemandangan indah seperti ini?

~000~

Chanyeol melirik sekilas jam dipergelangan tangannya. Sudah jam tiga sore dan wanita yang ditunggunya belum juga datang. Entah bagaimana, tapi Chanyeol berharap wanita yang ditunggunya itu tak akan pernah datang.

Mungkin dia sibuk. Yah, semoga saja begitu.

“astaga, sudah jam tiga sore. Selama itukah kita mengobrol?” akhirnya Chae Yoon berucap dengan air mata disudut matanya. Sembari melihat jam tangannya, dia terkekeh pelan.

Chanyeol yang baru akan menghabiskan makannya, sedikit tersedak lalu melihat jam tangannya, “eoh, kau benar. Astaga, aku sampai lupa waktu.” Bohong. Dia sama sekali tidak lupa waktu. Dia malah berharap jika waktu berhenti untuk sesaat. Memberi izin padanya untuk menatap lebih lama ciptaan Tuhan satu ini.

Chae yoon memasukkan beberapa barangnya kedalam tas kecil, lalu tersenyum pada Chanyeol,  “kalau begitu,” Chae yoon bangkit, sedikit merapikan tata rambutnya lalu melanjutkan, “aku permisi dulu.”

Chanyeol ikut berdiri dari tempatnya duduk. Tersenyum membalas perkataan Chae Yoon, “mau aku antar?” meski sudah tahu apa jawabannya, Chanyeol hanya bisa berusaha.

Chae Yoon tersenyum, sedikit menggerakkan tangannya, “ah, tidak usah. Kantorku ada didepan blok ini.”

Sudah kuduga.

“baiklah kalau begitu.”

Chae Yoon kembali tersenyum, lalu meninggalkan Chanyeol sendirian. Tanpa pernah tahu jika dibelakang sana, Chanyeol sedang memegang dadanya yang berulah karena senyumnya.

 

Bagaimana kencannya? Kau suka?

 

Baekhyun.

“apa?”

~000~

Minsoo melihat Chanyeol didepan sana. Lalu matanya beralih menatap Baekhyun yang sudah melambaikan tangannya.

“astaga Chae Yoon-ah, maaf, aku lupa jika aku punya janji dengan seorang teman. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sendiri? Biar tugasmu aku yang kerjakan. Kau tenang saja.” Tanpa aba-aba, Minsoo tahu apa yang harus dilakukannya. Dia segera pergi meninggalkan Chae Yoon. Didepan sana, seorang lelaki yang sudah menjadi sahabatnya tersenyum menyambut kedatangannya. Mereka saling menyatukan tangannya lalu tertawa.

“bagaimana?”

“beres.”

Minsoo masih memperhatikan Chae Yoon dengan senyuman. Tidak sadar jika saat ini Baekhyun sedang memperhatikannya lamat-lamat.

“mau jalan-jalan?” Baekhyun masih menatap Minsoo lekat. Bibirnya terangkat kala Minsoo balas menatapnya.

Minsoo mengangguk mantap, “ayo. Aku juga lapar.”

“tapi, kutraktir di kedai yang murah saja, ya.”

“apapun, Tuan Byun!” Minsoo menyengir. Membuat mata sipitnya melengkung cantik. Baekhyun hanya terkekeh dan mengacak pelan rambut panjang Minsoo.

~000~

Dengan cengiran dibibirnya, Chanyeol memasuki Bar tempat Baekhyun bekerja. Mempercepat langkahnya agar bisa cepat-cepat memeluk sahabatnya.

“Baekhyun-ah!”

Baekhyun melirik sekilas. Melengos malas menatap laki-laki didepannya. Tangannya terlipat didepan dada. Memutar bola matanya malas, sudah tahu apa yang akan dilakukan Chanyeol.

“a—“

“kenapa kau tidak bilang kalau teman kencan butaku Chae Yoon?” Chanyeol sedikit berteriak, membuat Baekhyun menjauhkan sedikit telinganya.

“Demi Neptunus, suaramu kencang sekali.”

“ya. Jawab pertanyaanku.”

“iya. Memang kenapa?” dengan malas Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol. Sembari menuangkan wine digelas untuk Chanyeol.

“aku hanya ingin mengucapkan terimakasih.”

“ha-nya.” Baekhyun membuat tanda kutip dengan kedua tangannya.

Chanyeol tersenyum, tapi tetap memutar kedua bola matanya, “kau mau apa?”

~000~

Minsoo mempercepat langkah kakinya, takut terlambat pada rapatnya yang pertama. Ini adalah kali pertamanya menghadiri rapat penting tanpa Chae Yoon. Sudah jam delapan lewat empat puluh lima menit, dan rapat penting itu akan dimulai pukul Sembilan. Salahkan Baekhyun yang kemarin mengajaknya jalan-jalan sampai larut dan minum di Bar tempat Baekhyun bekerja shift malam.

Sedikit kelegaan adalah, pemilik perusahaan yang akan mengadakan rapat merupakan sahabat Chae yoon. Dengan demikian, mungkin keterlambatannya bisa dimaafkan.

Selang beberapa menit, dia sampai didepan gerbang perusahaan ternama itu. Gedungnya menjulang tinggi. Bergerak dibidang pertambangan. Mobil-mobil mewah berjejer rapih di tempat parkir. Design gedungnya setara dengan hotel berbintang.

Tak menggubris indahnya gedung itu, Minsoo sibuk berlari mencari sebuah lift.tanpa disadari, lantai di gedung itu licin dan minsoo yang sedang mengenakan high heels setinggi sepuluh senti itupun tergelincir dan berhasil menabrak seseorang didepannya.

Hari yang sial.

“oh, maafkan aku. Aku sedang terburu-buru.” Minsoo membantu laki-laki didepannya membereskan file-file yang berjatuhan.

“tidak apa-apa. Santai saja.” Laki-laki itu tersenyum. Membuat Minsoo sedikit gugup.

Laki-laki ini sebetulnya tampan, rahangnya tegas dan senyumnya menawan. Tapi pakaiannya terlalu biasa. Bisa ditebak bahwa dia mungkin hanya pegawai magang atau staff rendahan.

Mereka memasuki sebuah lift secara bersamaan. Hanya ada mereka berdua. Dan Minsoo sibuk membereskan penampilannya. Kesan pertama itu yang terbaik. Benar begitu?

“mau menghadiri rapat penting, ya?” suara berat pria disampingnya mampu menghentikan pergerakan Minsoo yang sedang memoles bibirnya dengan lipstick merah gelap.

“eoh. Ini adalah rapat pertamaku.” Minsoo tersenyum. Kembali gugup saat senyum itu tertuju padanya.

Lucu sekali.

~000~

Lima menit lagi rapat akan dimulai. Dan Minsoo sudah siap dengan segalanya. Dia terus meyakinkan diri sendiri kalau semuanya pasti berjalan lancar. Optimis adalah kunci keberhasilannya.

Pintu mulai terbuka. Minsoo yang sedang menyeruput sedikit tehnya tersedak kala melihat seseorang yang menyembul dari balik pintu.

Pria yang tadi dia jumpai di lift.

Adalah pemilik perusahaan?!

Pakaiannya berubah drastis. Tatanan rambutnya jauh lebih rapih ketimbang saat bertemu dengan Minsoo di lift. Oh Ya Tuhan, jadi tadi dia sudah menabrak seorang pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya?

Pria itu tersenyum. Melihat tingkah Minsoo yang mencoba mengalihkan pandangannya. Minsoo gugup. Pertahanan optimistiknya hancur begitu saja. Minsoo hanya bisa menggigit ujung bibirnya. Berharap dia melupakan kejadian sebelumnya.

“perkenalkan, namaku Oh Sehun. Pemilik perusahaan Oh Company. Perusahaan kami bergerak dibidang pertambangan…”

~000~

“baiklah, rapat kali ini cukup sampai disini. Terima kasih atas kerja samanya.” Sehun tersenyum, merapikan file-nya, lalu berdiri meninggalkan ruang rapat.

“Oh Sehun-ssi.”

Sehun tersenyum. Berbalik menatap mata sipit wanita didepannya.

“ada yang bisa kubantu, Minsoo-ssi?”

“ehhm, itu. Aku—aku ingin minta maaf soal—yang di—lift.” Minsoo menundukkan kepalanya. Sedikit meremas ujung bajunya.

Sehun tersenyum, gemas melihat wajah Minsoo yang memerah. Ide gila terlintas diotaknya, “aku maafkan. Tapi ada syaratnya.”

Minsoo mendongak. Matanya sedikit melebar, “syarat—apa?”

“ayo makan bersama.”

~000~

“rupanya sahabatku ini sudah menjadi pria sejati.” Chanyeol terkekeh geli. Memperhatikan Baekhyun yang sedang sibuk memilih jejeran kalung cantik nan mahal.

Baekhyun menjawab tanpa menoleh, terlalu sibuk dengan kalung-kalung didepannya, “aku memang seorang pria.”

“kalung itu untuk siapa? Aku tidak pernah tahu kau memiliki seorang pacar.”

“bukan pacar, tapi seorang sahabat.”

“sahabat yang diam-diam kau cintai?” Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun, sedikit menggoda sahabatnya itu sangat menyenangkan.

Wajah Baekhyun sedikit memerah, tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol, dia menyodorkan dua kalung tepat didepan Chanyeol, “lebih bagus yang mana?”

Chanyeol menunjuk sebuah kalung berwarna putih dengan liontin berlian cantik berwarna ungu. Sedikit tersenyum saat Baekhyun mengangguk setuju.

“aku ambil yang ini.”

~000~

“jadi, kau temannya Chae Yoon?” Sehun berucap sembari menyeruput bubble tea yang tadi dia pesan, Minsoo mengangguk lalu tersenyum.

“eoh, kami bertemu saat penyerahan jabatan.”

Sehun manggut-manggut. Kembali menyeruput bubble tea-nya lalu menjawab, “kau punya pacar?”

UHUK!

Minsoo tersedak, bahkan minumannya tumpah berantakan.

Dan Sehun tertawa karena itu.

Dia lalu mengambil beberapa tissue, mengelap mulut Minsoo dan membantu memanggil pelayan untuk mengelap minuman yang tumpah. Minsoo diam ditempat. Mengamati dengan seksama kala mata Sehun beradu dengan matanya. Bibir itu melengkung lagi, kali ini disertai dengan kekehan kecil, yang malah membuat jantung Minsoo berdegup tak karuan.

“sebegitu susahnya kah menjawab pertanyaanku, Nona Son?”

Minsoo mengerjap, sadar dari lamunannya sendiri, “tidak. Hanya saja—“

“kau mengira jika aku mengajakmu kencan, begitu?”

Tepat sasaran, Oh Sehun.

Mata Minsoo membulat sempurna, alisnya terangkat dan tawa canggung terdengar dipendengaran Sehun. Tangannya bergerak cepat, “tidak, bukan begitu. Maksudku—kita baru kenal tadi pagi, dan kau sudah bertanya soal pribadi.”

“kalau begitu maafkan aku.”

Hening. Yang satu sibuk mengatur detak jantungnya, dan yang satu lagi sibuk mengatur cara menggoda wanita didepannya.

Minsoo menoleh saat sebuah suara terdengar di telinganya, “ada apa?”

Diujung sana, Chae Yoon menarik napas panjang, “aku baru tahu rapat ada yang selama ini.”

“o—oh ini,” Minsoo melirik Sehun sekilas, “aku sedang makan siang bersama Sehun.”

“benarkah? Kena—“

“ya, apa salahnya jika kami makan bersama, kututup, ya.” Sehun menyodorkan smartphone yang barusan dia rebut dari Minsoo, tersenyum saat Minsoo melongo dan beberapa kali mengedipkan matanya.

“aku bosan. Ayo, kita ke taman.”

~000~

“issh, apa-apaan dia, memutuskan telpon begitu saja.” Chae Yoon menggosok rambutnya, kembali melihat tumpukan file yang akan dikerjakan Minsoo.

“cih, dia tidak akan mengerjakannya.”

Chae yoon kembali duduk di kursi kuasanya. Menatap jengah dokumen sialan yang setiap hari menjadi santapannya. Dia melihat pemandangan yang terjabar luas dibalik kaca bening disampingnya. Tersenyum saat membayangkan masa-masa indah yang dulu dijalaninya. Kembali mengingat kenangan lama saat ia masih bersekolah di Paris. Dan dia teringat akan seseorang. seorang sahabat yang menjadi penyelamat selama dia menetap di Paris.

Dia mengambil smartphonenya, mengetik sebuah nomor lalu menempelkannya tepat didepan telinga. Tersenyum saat panggilannya dijawab oleh seberang sana.

“lama tak bertemu, Choi Yonggi.”

~000~

“kau suka sekali es krim, ya?”

Minsoo mengangguk, menjilat es krim yang tertinggal di sudut bibirnya.

“eoh, sangat sangat suka. Kalau kamu suka apa?”

“aku? Hmm,” Sehun sedikit menerawang, memikirkan apa makanan favoritnya, “mungkin, bubble tea?” Sehun sedikit memiringkan kepalanya, tersenyum saat Minsoo mengangguk dan tersenyum kearahnya.

“itu juga enak. Dan aku menyukainya.” Minsoo tersenyum, kembali mengayunkan kakinya yang tergantung di atas ayunan kayu.

Aku lebih suka matamu yang melengkung saat bibirmu tersenyum.

Mereka menghabiskan sore di taman itu, berbagi cerita dan kebahagiaan hingga malam menjemput.

 

TBC

Karena ada yang bilang Minsoo sama Baekhyun dan Sehun, jadi aku bikin Minsoo ketemu sama Sehun dan jadi sahabatnya Baekhyun.

Kabar baiknya adalah, fanfic ini NGGAK AKAN ADA ADEGAN NC.

Hope you like it! Sorry for typos, and thankyou for reading my fanfic! See you soon, guys. Bye, bye~~

Comment dan like aku tunggu ya. Karena satu like dan comment dari kalian sangat membantu menaikkan mood author dalam melanjutkan fanfic.

Gomawo~~

 

-istri Sehun, tunangan Chanyeol-

 

 

 

 

 

Iklan

6 thoughts on “You and I – First Meet (Chapter 3)

  1. Uh… bahagianya habis ketemu chae yoon 🙂 kkkk…
    Next thor… dipanjangin lagi dong thor biar tambah seru.. Jangan kelamaan updatenya yakk thor ^^
    Fighting thor !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s