PROMISE (약속) (Chapter 1)

Poster Promise (약속)

Tittle                : PROMISE (약속)
Author             : Dwi Lestari
Genre              : Romance, Friendship

Length             : Chaptered

Rating             : PG 17+

Main Cast        : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Channyeol)

Support Cast   : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast.

Disclaimer       : Alur dan ceritanya murni buatan saya.

Author’s note  : Jika ada kesamaan nama, tokoh, alur dan lainnya itu hanyalah unsur ketidaksengajaan. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Typo bertebaran

 

PROMISE (약속)

 

CHAPTER 1

“Minnie, aku harus pergi ke Amerika”, kata seorang anak laki-laki kepada seorang gadis kecil yang tengah duduk di bangku taman. Dia berkata sambil mebelakangi sang gadis. Anak laki-laki tersebut tidak sanggup menatap langsung ke sang gadis. Dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan gadisnya.

“Tapi kenapa Mikky? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Tapi kenapa sekarang kau akan pergi? Hikz…hikz”, kata sang gadis sambil menangis. Anak laki-laki itu segera menoleh dan memeluk gadisnya.

Uljima, aku janji saat dewasa nanti aku pasti akan datang kembali kesini dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”, kata anak laki-laki tersebut. Gadis kecil itu segera melepaskan pelukannya.

“Apa kau janji?”, kata sang gadis.

Ne, aku janji. Tunggulah saat dewasa nanti, aku pasti akan menjadi namja yang mengagumkan untukmu”, kata sang namja. Dia menghapus air mata gadisnya.

“Baiklah. Akan aku pegang janjimu”, gadis itu berkata sambil tersenyum.

Namja kecil itu mengeluarkan sebuah kotak berlapis beludru berwarna hitam. Dia segera membuka kotak tersebut. Dia mengambil benda yang ada dalam kotak tersebut dan memakaikannya ke leher sang gadis. “Kau harus selalu memakai kalung ini. Jika nanti aku kesini, aku pasti akan langsung mengenalimu karena kalung ini. Kau juga harus tumbuh menjadi yeoja yang manis dan baik. Kau ingat itu, jangan pernah melepaskannya apalagi menghilangkannya”, kata sang namja kecil.

“Em. Kalungnya indah sekali”, kata sang gadis.

“Kalung ini hanya ada satu di dunia ini. Dan akulah yang mendesainnya”.

“Benarkah! Tapi kenapa bulannya yang di dalam bintang?”.

“Itu karena kau menyukai bulan dan aku menyukai bintang. Bintang itu akan melindungi sang rembulan seperti aku melindungimu”.

“Ow”.

“Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Minnie. Tunggulah aku pasti akan datang”.

“Em, hati-hati Mikky. Aku pasti akan merindukanmu”.

Namja kecil itu mencium kening sang gadis sebelum dia berlalu meninggalkannya. Gadis kecil itu hanya termangu menatap kepergian namja kecilnya.

Elena POV

Aku membuka mata saat sinar matahari bersinar menyilaukan mataku. Dan itu membuatku terbangun dari mimpiku. Mengapa aku bermimpi seperti itu. Aku yakin jika gadis kecil itu aku, dan siapa sebenarnya Mikky. Kenapa aku tidak ingat. Apa mimpi itu nyata? Dan hal yang paling ku benci adalah aku tidak menemukan jawabannya.

Aku melirik orang yang masih terbaring di sampingku. Dia bahkan masih memelukku. “Kau adalah orang pertama yang tidak berhasil aku taklukkan. Malah aku yang takluk padamu”, kataku dalam hati. Ya, inilah pekerjaanku. Menghibur para namja yang membutuhkan. Tapi selama aku menjalani pekerjaanku, belum pernah ada yang tidak takluk padaku. Dan namja yang masih tertidur inilah yang pertama.

Ku dengar dia adalah pewaris tunggal dari S&C Group, sebuah perusahaan ternama yang bergerak dalam segala bidang. Hanya industri musik yang tidak mereka dirikan. Mulai dari mall, hotel, stasiun TV, Radio, Makanan dan masih banyak lagi. Dia juga terkenal dingin dan pendiam. Yah, dia memang sangat dingin. Seperti semalam, aku masih ingat bagaimana dia memperlakukanku.

Flash back

Aku masih sibuk merias diriku di ruang rias khusus untuk para penghibur di klub ini. Tiba-tiba saja Sehun datang dan memberitahuku jika ada yang memesanku.

Noona, kau sudah datang. Ada yang memesanmu hari ini”, kata Sehun.

Nugu?”.

“Pewaris tunggal S&C Group. Park Chanyeol”.

“Kenapa aku. Bukankah masih ada Shandy dan Wendy”.

“Kau lupa jika kaulah yang paling mahal diantara kami semua. Tentu dia akan memilihmu Elena”, kata Wendy.

“Iya, Wendy benar. Kau selalu mendapatkan orang-orang kaya dan terkenal. Bahkan Kim Joon Myun pemilik Jeguk Group pun pernah memesanmu. Dan sekarang pewaris tunggal S&C Group. Jangan lewatkan kesempatan itu Elena”, kata Shandy.

“Tapi aku dengar dia sangat pendiam dan dingin. Tak kusangka dia juga akan memesan seorang pelacur. Ternyata dia juga sama saja. Semua orang kaya itu sama, hanya menghamburkan uang dan memesan gadis jika mereka membutuhkan pelayanan. Apa mereka tidak punya keinginan untuk menikah?”, kata Wendy.

“Untuk apa menikah. Jika mereka menikah mereka akan memiliki tanggung jawab menghidupi istrinya. Mungkin jika istrinya baik tidak akan jadi masalah. Tapi jika istrinya berkelakuan buruk, tentu hartanya akan habis untuk foya-foya. Itu yang pernah Kim Joon Myun katakan padaku. Karena itu dia belum menikah di usianya yang hampir menginjak 30”, kataku sambil menyelesaikan riasanku. “Sehun-ah, dimana dia sekarang?”.

“Di sudut ruang VVIP sebelah timur. Dia bersama dua sahabatnya. Dia juga memesan dua wanita lagi. Kalian berdua bisa menemui mereka juga”, kata Sehun.

“Siapa temannya itu?”, kata Wendy bersemangat.

Molla”, kata Sehun.

Aish, apa kau benar-benar tidak tahu?”, kata Shandy.

“Ah, aku tahu salah satu dari mereka. Kalau tidak salah dia adalah putra pemilik Shang Hai Group dari China, Zhang Yi Xing”.

“Wow, baiklah. Kau bisa keluar sekarang. Kami akan segera datang”, kata Wendy.

Sehun segera meninggalkan kami dan kembali ke pekerjaannya. Aku menggambil nafas sejenak, menata hati dan fikiran. Entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku merasa sedikit gugup. Tidak biasanya ku seperti ini. Tuhan semoga hari ini tidak akan timbul masalah.

Setelah merasa penampilanku sempurna aku melangkah menuju tempat yang disebutkan Sehun tadi, sudut ruang VVIP sebelah timur. Shandi dan Wendy mengikutiku dari belakang. Aku mengambil nafas sejenak sebelum aku membuka pintu ruangan tersebut.

Ruang itu sudah penuh dengan pengunjung kelas VVIP. Aku segera mencari namja yang dimaksud Sehun tadi. Setelah menemukan kami bertiga menghampiri mereka. Mereka tengah sibuk mengobrol sambil menikmati minuman mereka. “Selamat Malam tuan-tuan”, sapaku dengan nada yang ku buat semanis mungkin.

Mereka bertiga menoleh ke arah kami. “Kalian sudah datang. Duduklah!”, kata salah seorang dari mereka. Wendy dan Shandy segera duduk diantara mereka. Aku masih berdiri menatap mereka. Menghafal setiap raut wajah mereka. Karena memang sebenarnya aku tidak tahu yang mana yang bernama Park Channyeol. Pabbo! Itulah bisa aku katakan pada diriku sendiri.

“Kenapa kau masih berdiri, duduklah! Apa kau yang bernama Elena?”, kata seorang yang kurasa paling tampan diantara mereka. “Park Channyeol-ssi?”, tanyaku. Dia mengangguk, segera saja aku duduk disampingnya. Dia masih sibuk dengan minumannya.

“Wow, jadi kau yang bernama Elena. Tepat seperti yang dikatakan orang-orang. Kau sangat sempurna. Sayang kau bukan miliku malam ini. Suatu saat aku pasti akan memesanmu”, kata orang menyuruh duduk kami tadi.

“Kau bisa memilikiku malam ini tuan Zhang”, kata Wendy.

“Kau mengenalku. Bukankah tadi kita belum berkenalan?”, katanya lagi.

“Tentu. Siapa yang tidak mengenal anda tuan Zhang Yi Xing. Putra pemilik Shang Hai Group”, kata Wendy. Tapi mungkin dia salah, karena aku benar-benar tidak mengenalnya. Sekarang aku baru tahu siapa putra pemilik Shang Hai Group. Dia cukup manis, dan sangat jelas kalau dia bukan orang korea.

“Kau benar nona. Siapa namamu?”, kata dia lagi.

“Wendy”, kata Wendy.

“Wendy, nama yang manis semanis orangnya”, katanya lagi.

“Kau memang pandai merayu Lay”, kata pria yang lain. Setelah berkata seperti itu dia meneguk habis minuman yang ada diatangannya. Tapi kenapa dia memanggilnya dengan sebutan Lay. Ah, mungkin itu nama akrabnya. Tapi siapa dia, sepertinya wajahnya tidak asing.

“Itu memang benar Chen. Benarkan sayang!”, kata Yi Xing sambil memeluk Wendy. “Geureom”, kata Wendy dengan nada manja.

‘Chen’, apakah mungkin dia? Omo! Aku hanya bisa menelan salivaku. Ini memang benar-benar dia, Kim Jong Dae. Namja yang sudah mengacaukan hidupku. Karena dialah aku harus bekerja seperti ini. Kenapa aku harus bertemu dia lagi. Sial! Pantas saja perasaanku tidak enak sejak tadi.

“Bukankan sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu. itu hanya panggilan dari yeoja pabbo yang sudah membuat hidupku kacau. Benarkan Elena?”, kata Chen, dia lalu menoleh ke arahku.

Aku hanya tersenyum mengejek. Ternyata dia mengenaliku. “Jika menurutmu begitu, pikirkan sesuka hatimu”, kataku. Aku lalu mengambil segelas wine dan meminumnya.

“Kau mengenalnya, Jongdae?”, tanya Chanyeol.

Eoh, dia teman SMA ku”, kata Chen.

Jinja?”, tanya Lay dengan nada tidak percaya.

Eoh”, kata Chen.

“Apa dia sudah terlihat secantik ini, saat masih SMA?”, tanya Lay bersemangat.

“Em, tapi sekarang dia 10 kali lebih cantik dari terakhir kami bertemu”, kata Chen.

Gojima. Sejak kapan kau menyebutku cantik?”, kataku dengan anda tidaksukaku.

“Sedalam apa hubungan kalian, Elena?”, tanya Chanyeol sambil membelai wajahku.

“Tidak sedalam itu, Park Chanyeol-ssi. Kami hanya teman sekelas sejak pertama masuk SMA”, kataku. Lalu aku mengalungkan tanganku ke lehernya.

“Lalu siapa yang dimaksudnya sebagai yeoja pabbo itu?”, tanya Chanyeol lagi.

Wae? Apa itu membuatmu penasaran tuan Park?”, tanyaku.

Eoh, dia tak pernah menceritakan kisah asmaranya. Setidaknya aku harus tahu sedikit tentang sahabatku ini”, kata Chanyeol. Dia lalu mencium pipiku.

“Bagaimana ini tuan Kim. Apa yang harus akau katakan pada sahabatmu ini?”, aku melepaskan tanganku dari leher Chanyeol lalu menoleh ke arah Chen.

“Katakan sesukamu. Aku tidak peduli. Ayo sayang kita ke lantai dansa”, kata Chen. Dia berdiri dan menarik tangan Shandy. “Ne”, kata Shandy setuju. Dia segera membawa Shandy meninggalkan kami.

“Apa dia marah?”, tanya Wendy.

Ani. Dia memang begitu”, kata Lay.

“Ow”, kata Wendy mengangguk paham.

“Kau bisa menceritakannya sekarang. Kurasa dia tidak akan marah”, kata Chanyeol.

Ne, kau bisa menceritakan sedikit tentangnya kepada kami. Dia selalu tertutup dengan masa lalunya”, kata Lay.

Ne, aku juga penasaran. Bagaimana mungkin kau berteman dengan pewaris tunggal World Hotel”, kata Wendy yang juga ikut penasaran.

“Bagaimana jika aku menolak?”, kataku.

“Elena. Ayolah?”, kata Wendy.

Wae? Kenapa kau jadi yang memohon, Wendy”, tanyaku.

“Bukan hanya dia yang penasaran kami juga”, kata Lay.

“Baiklah! Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, sejak kapan kalian mengenalnya?”, tanyaku.

“Sejak kami masuk ke Harvard University”, kata Chanyeol.

“Jadi dia pindah ke Amerika setelah kejadian itu”, kataku.

“Kejadian apa?”, tanya Lay.

“Dia dihianati oleh yeojachingunya. Ku dengar dia sangat marah saat itu. Dan setelah itu dia tidak pernah datang ke sekolah. Kata teman-teman yang lain dia sudah pindah, tapi mereka tidak tahu dia pindah kemana”, kataku panjang lebar.

“Pantas saja dia selalu seperti itu. Dia tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seorang yeoja”, kata Chanyeol.

“Mungkin dia masih mencintai yeoja itu. Ku dengar yeoja yang menghianatinya adalah cinta pertamanya. Bukankah cinta pertama sulit dilupakan?”, kataku lagi.

“Ah, kau benar nona. Cinta pertama memang sulit dilupakan”, kata Lay setuju dengan perkataanku.

“Siapa yeoja itu?”, tanya Chanyeol penasaran.

Mianhae, aku tidak bisa memberitahukannya pada kalian. Itu privasinya. Kau bisa menanyakan sendiri padanya nanti”, kataku.

Ara”, jawabnya sedikit kecewa. Dia kemudian meneguk winenya.

“Baiklah jika kau tidak mau menceritakannya! Sebaiknya aku ke lantai dansa. Kajja sayang”, kata Lay sambil menarik tangan Wendy. Mereka menyusul Chen ke lantai dansa.

“Kau tidak ingin berdansa tuan Park”, tanyaku.

Ani, aku masih ingin disini”, katanya.

“Baiklah, kau mau minum lagi?”, tanyaku.

Eoh”, jawabnya.

Aku menuangkan wine ke gelasnya, dia meminumnya dengan perlahan. Ya dia yang lakukan hanyalah membelai rambutku sambil menikmati minumannya. Dia tidak seperti pelangganku yang lain, dia tidak terburu-buru melakukan sesuatu yang kadang membuatku muak dengan pekerjaan ini. Aku mencoba merayunya, namun tidak berhasil. Namja ini benar-benar dingin. Bagaimana mungkin di tidak terpengaruh sama sekali dengan rayuanku. Sial! Dia hanya memandangku dan membelai rambutku.

“Sejak kapan kau bekerja seperti ini?”, tanyanya memulai pembicaraan lagi. Suaranya sangat lirih, hingga aku hampir tak mendengarnya karena suara alunan musik yang sangat keras di ruang itu. Jika aku tidak menanyakan kembali aku tidak bisa tahu apa yang dia bicarakan.

“3 tahun yang lalu, sejak appa menjualku pada Kim ahjussi pemilik Empire Night Club ini”, jawabku.

“Kau dijual?”, tanyanya memastikan.

Eoh”, jawabku.

Wae?”, tanyanya lagi.

“Haruskah aku menjawabnya?”.

“Jika kau memang tidak ingin menjawab, kau tidak perlu menjawabnya. Kau pasti memiliki kenangan buruk tentang itu”.

“Kau memang benar tuan Park, kenangan itu sangat-sangat buruk”.

“Minumlah, lupakan semua masalahmu. Bersenang-senanglah denganku malam ini”.

“Seharusnya aku yang bilang seperti itu padamu tuan Park”.

Dia hanya tersenyum dan memberiku segelas wine. Aku segera meminumnya. Yang kami lakukan hanyalah minum. Aku bahkan sudah mulai mabuk. Dan sebelum aku benar-benar mabuk, dia mengajakku pergi meninggalkan ruang itu. Dia mengajakku ke kamar khusus untuk pelanggan yang ingin menghabiskan malamnya dengan pasangannya. Kamar-kamar itu berada di lantai 3 dari bangunan ini. Dia menopang tubukku dan membantuku berjalan, karena aku memang benar-benar sudah mabuk. Dia menidurkanku ke ranjang. Dan setelah itu, kurasa dia benar-benar meniduriku.

Flash back end

Apa dia benar-benar meniduriku. Aku benar-benar tidak ingat. Tapi kenapa aku tidak merasakan sesuatu yang aneh. Apa karena aku mabuk, hingga aku tak mengingatnya. Jika dia tidak melakukan sesuatu, mana mungkin kami tidak memakai pakaian saat ini. Hanya selimut tebal, yang menutupi tubuh polos kami. Belum sempat pertanyaanku terjawab, aku merasa mual. Segera saja aku pergi ke kamar mandi. Aku memutahkan semua isi perutku.

Setelah merasa sedikit lega, aku mengambil pakaianku dan mengenakannya. Aku pasti akan sakit setelah ini, mengingat semalam aku meminum wine terlalu banyak. Aku menulis sesuatu sebelum aku meninggalkan Park Chanyeol sendirian. Mianhae tuan Park, kau pasti sudah tidak membutuhkanku sekarang.

Aku berjalan menyusuri tangga menuju lantai dua tempat kami merias diri semalam. Aku berjalan sempoyongan, karena efek dari meminum wine semalam. Aku selalu sakit jika aku meminum terlalu banyak wine. Sebenarnya dokter sudah melarangku, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin mengecewakan pelangganku. Aku memang memiliki alergi terhadap alkohol.

Kepalaku benar-benar pusing sekarang. Aku hampir jatuh jika tidak ada yang menangkapku. Aku melihat ke arah orang yang telah menangkap tubuhku. Aku tersenyum kepadanya. “Sehun-ah”, hanya itu yang bisa ku katakan pada orang itu. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, karena tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Elena POV end

***

Chanyeol POV

Aku membuka mata setelah sinar matahari menyilaukan mataku. Aku melirik kesamping tempatku terbaring. Yeoja itu sudah pergi, padahal aku belum membayarnya. Aku segera mengambil pakaianku dan mengenakannya. Aku melihat secarik kertas di atas nakas samping ranjang. Aku segera mengambilnya. Mungkin ini tulisan tangan yeoja itu.

‘Mianhae Park Chanyeol-ssi, aku pergi tanpa berpamitan dengan anda. Aku hanya merasa tidak enak badan, setelah semalam aku mabuk berat. Ku harap anda tidak marah.’

Elena.

‘Bagaimana mungkin aku bisa marah. Kau sudah menemaniku semalaman’, batinku. Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 7, sial aku kesiangan. Jika sampai eomma tahu kalau aku tidak pulang semalam, pasti dia akan memarahiku. Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan tempat itu. Aku tidak ingin terkena omelan wanita tua itu.

Setelah sekitar 20 menit menyusuri jalan, aku telah sampai di rumahku. Aku disambut oleh pelayan rumahku. Dia membawakan tasku. “Nyonya sudah menunggu anda sejak 30 menit yang lalu tuan”, katanya.

“Dia sudah datang sepagi ini”, tanyaku.

Ne”.

“Dimana dia sekarang?”.

“Di kamar anda tuan”.

Aku segera menuju kamarku. Aku membuka pintu dan memeriksa ke dalam kamarku. Dia berdiri menghadap jendela dan melihat ke arah luar. Dia menyadari kedatanganku dan segera menoleh. “Darimana semalam kau tidak pulang Park Chanyeol?”, tanyanya langsung pada intinya. Wanita ini selalu to the point.

Wae? Tentu untuk urusan bisnis”, jawabku asal.

“Kau bahkan pulang lebih awal kemarin. Sekretarismu bilang kau sudah tidak ada jadwal kemarin. Apa kau pergi ke club lagi?”, dia bisa menebaknya dengan tepat.

Aku mendekatinya dan memeluknya, ku rasa dia akan luluh dengan cara seperti ini. “Eomma, ayolah. Aku hanya butuh hiburan. Selain itu, Yi Xing juga berkunjung ke Korea kemarin. Dia memintaku untuk menemaninya, aku tidak mungkin menolaknya”, kataku sambil mencium pipinya.

“Kau memang selalu bisa membuatku tak bisa marah padamu. Mandilah, aku menunggumu di meja makan”, dia melepaskan pelukaanku dan meninggalkan kamarku. “Ara”, jawabku sebelum dia menutup pintu kamarku. Hampir setiap pagi dia selalu ke rumahku jika appa tidak ada di rumah. Dia tidak suka makan sendirian, itulah alasannya.

Segera saja aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Rasanya sangat segar. Setelah aku siap dengan pakaian kantorku, aku menuju meja makan untuk menemui eommaku. Aku segera bergabung dengan eommaku. Aku duduk berhadapan dengan eommaku. Aku memulai sarapanku dengan eommaku.

Eomma. Besok aku akan ke Tongyeong”, kataku.

“Untuk apa?”, tanya eomma.

“Hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Eomma, ini sudah lama sejak kita pindah ke Amerika”.

“Kau ingin menemui yeoja itu?”.

Eoh”.

“Terserah kau saja, asal kau bahagia”.

Gomawo eomma”.

“Sampaikan salamku untuk direktur Kim”.

Aku lalu tersenyum, “Tentu”. Kami segera mengakhiri sarapan kami. Setelah itu, aku berangkat ke kantor seperti biasa. Mengelola perusahaan yang appa percayakan padaku.

Chanyeol POV end

*** TBC ***

 

Annyeong semuanya, saya kembali lagi dengan ff baruku. Selamat membaca, semoga suka. Mian jika ceritanya gj. Maklum masih belajar. Jangan lupa tinggalkan jejak. Jadilah pembaca yang baik. Terima kasih……

 

Salam hangat: Dwi Lestari …

4 thoughts on “PROMISE (약속) (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s