Wave Find Beach (Chapter 10)

mn

Wave Find Beach (Chapter 10)

Author : Afrannonymous

| Park Chanyeol – Oh Sehun – Lee Soonji – Ma Jinhwa |

| Chaptered || Friendship – Family – Drama || PG -17 |

You should read :

Chap 1 | Chap 2| Chap3| Chap 4| Chap 5|

Chap 6| Chap 7| Chap 8| Chap 9|

 

NOTE :          First, please forgive me T.T. Maapin saya soalnya ni ff hampir                                  punah dari peradaban tanpa ending yang jelas. Alhamdulillahnya                                     saya masih diberi kesadaran untuk menamatkan ff absurd ini :))                           Dan, ini adalah nama pena baru yang akan saya gunakan dalam                             jangka waktu lama (semoga). Oh ya, ff ini juga udah dipublis di                              wp pribadi. Singkatnya (tanpa cuap-cuap nggak penting lagi xD)                                   enjoy this fanfic with a glass of ice water (sapa tau ntar darah                              tinggi baca storylinenya yang makin nggak jelas. Hee..hee..)

 

 

Warning!! DON’T LIKE, DON’T READ…….

<EXO ♥ JJANG>

 

 

 

 

 

Preview

“Jin jin, ini kau kan?”

“Hemm…hemmm…hemm…”

Kumohon mengertilah ucapanku.

“Heemm…hemm..”

Aku butuh bantuanmu.

“Percaya padaku, Soonji –ya. Aku akan baik-baik saja, kau akan baik-baik saja, dan Jinhwa akan baik-baik saja, kita semua akan baik-baik saja.”

Lihat saja, akan kubuat mereka menyesal seumur hidup, para pecundang yang bersembunyi di balik topeng sampahnya itu.

“Chanyeol –ah, kenapa kau belum kembali?”

Tidak, justru kau sedang tidak baik-baik saja. Kumohon matikan teleponnya, Soonji –ya, kumohon.

“Ya, kau hanyalah sampah masyarakat!! Sampah yang bahkan lebih busuk dari sampah yang sesungguhnya.”

“Kalau kau macam-macam, pisau ini tanpa ragu menembus kulitmu.”

Jinhwa menelan ludahnya takut. Si pria lalu menggiring Jinhwa keluar ruangan dengan ujung pisau kecil yang berjarak satu senti tepat dari punggung gadis itu.

<EXO ♥ JJANG>

            Chapter 10

            04.21 pm KST.

Dengan posisi masih tengkurap sebab tak mampu bangkit, Chanyeol melenguh kesakitan dengan tangan kirinya memegang perutnya yang terluka, menghalau pendarahan supaya tidak semakin parah, sedang tangan kanannya menekan-nekan tombol ponselnya. Dia butuh bantuan seseorang, dan orang yang sedari tadi bersemayam di benaknya sebagai harapan adalah….

‘Oh Babo’.

Chanyeol menelepon seseorang dengan nama kontak tersebut.

JS Entertainment, 04.21 pm KST.

‘Drtt…drtt…’, Sehun yang tengah memejamkan mata menikmati musiknya, merasakan sesuatu bergetar dalam saku blazernya. Dia mengalungkan headphone ke leher kemudian meraih ponselnya. Saat membaca nama kontak ‘Park Idiot’ pada layar, Sehun mendecih dan kembali memasukkan ponselnya ke saku, tak menghiraukan panggilan tersebut. Lelaki itu pun memindahkan headphonenya dari leher ke telinga dan meningkatkan volum lagunya.

04.22 pm KST.

“Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Your number calling…”

Chanyeol mendecak karena yang menjawab panggilannya malah operator. Dia pun kembali memencet ‘call’ pada kontak Sehun.

Di lain tempat, tampak Sehun yang tak mempedulikan getaran di sakunya. Dia benar-benar tak sudi berurusan dengan Chanyeol. Apalagi semenjak kejadian perkelahian mereka berdua, Sehun selalu menghindar dan menjaga jarak dari Chanyeol. Bahkan jika boleh Sehun ingin pindah kelas, sayangnya sekolah tidak mengizinkan bila tak ada alasan kuat dibaliknya.

Chanyeol hampir putus asa, dia telah membuang banyak waktu hanya untuk menelepon makhluk angkuh itu. Namun, hanya Sehun yang bisa Chanyeol harapkan. Kemudian dengan rasa sakit yang kian menerjang dan darah yang terus keluar hingga sedikit menciptakan genangan, Chanyeol berusaha mengirimi Sehun sms. Sayangnya, di saat Chanyeol mulai mengetik, tangannya terlampau lemas untuk digerakkan, dan itu membuat waktu berharganya berlalu tanpa arti. Akhirnya dia mencoba untuk menelepon Sehun lagi.

Kumohon angkatlah.

            Chanyeol’s House, 04.27 pm KST.

            Lee Soonji sedari jam empat lalu hanya duduk risau di sofa ruang tamu dan kadang mondar-modar menunggu Chanyeol yang tak kunjung datang. Dia menautkan jari-jemarinya yang dingin dan sesekali menyebulinya.

‘Srek…srek. Drap…drap’. Soonji menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara barusan.

“Chanyeol –ah?” Dia melangkah mendekati gorden dan membukanya sedikit guna mengintip keadaan luar.

Namun, bukan Chanyeol yang tertangkap maniknya, melainkan komplotan penjahat yang hendak membunuhnya. Dengan cepat, Soonji menutup gorden dan berbalik. Jantungnya berdegup kencang, dia sangat ketakutan. Segera saja dia berlari ke loteng, bersembunyi di sana.

04.30 pm KST.

            Jinhwa baru keluar dari kamar mandi yang kumuh karena dia memang kebelet buang air kecil. Ia tak menyangka bahwa menempuh perjalanan dari ruangan tadi menuju kamar mandi memakan waktu sepuluh menit begitu mengecek arlojinya, sementara tujuh menit sisanya dia gunakan di kamar mandi untuk sekadar BAK dan cuci muka. Melihat pria dewasa yang cukup menjaga jarak, selepas keluar Jinhwa pura-pura jongkok untuk membetulkan tali sepatu, padahal diam-diam dia memungut sebuah batu yang tergeletak begitu saja. Kemudian ia berdiri dan berjalan dengan wajar, barulah saat si pria bersiap menodongkan pisau kecilnya, Jinhwa melemparkan batunya dan mendarat keras tepat di ujung kelopak mata pria tersebut.

“Argghh!!” erang si pria menurunkan pisau kecilnya seraya menutup sebelah matanya.

Tanpa membuang kesempatan Jinhwa pun melarikan diri sekuat tenaga.

“Ya neo!!! Haisshh…”, si pria mengejar dengan kepala pusing yang tiba-tiba menyerang.

04.32 pm KST.

            ‘Drtt…drtt…’, ini sudah kali kesepuluh Sehun merasakan getaran pada sakunya. Karena jengah dengan tatapan aneh peserta lain sebab dia membiarkan ponselnya bergetar hingga memecah konsetrasi mereka, Sehun pun mengalah. Dia melepas headphonenya, mengambil ponselnya di saku lalu menerima panggilan dengan malas.

“Mwo? Mau menawariku masuk timmu? Aku kan…”

“Soonji…”, lirih suara di seberang sana.

“Soonji?”

“Rumahku…”

“Hah? Apa hubungannya rumahmu dengan Soonji?”

“Bahaya…”

“Apa? Apa maksudmu? Bicara yang jelas, Park! Apa Soonji dalam bahaya?”

‘Tut…tut…tut…’, sambungan terputus.

“Jangan tutup teleponnya. Ya, Park Chanyeol! Ya, idiot!!” teriak Sehun tidak pada tempatnya. Sekarang semua mata memandang tajam ke arahnya.

Apa maksudnya? Apa Soonji dalam bahaya? Apa dia ada di rumah Chanyeol dan sedang dalam bahaya? Bukannya minta maaf, Sehun malah bergelut dengan pikirannya sendiri.

Apa yang Soonji lakukan di rumah Chanyeol? Mereka tadi bahkan tak masuk. Jika Soonji dalam bahaya kenapa bukan dia saja yang menolongnya? Kenapa harus meneleponku? Dan kenapa aku? Aku dan dia bahkan sudah seperti musuh bebuyutan. Arrghhh!! Apa yang sebenarnya terjadi? Sehun mengacak rambutnya frustasi.

Dia pun beranjak dari duduknya berniat menuju rumah Chanyeol. Perasannya tak enak, dia mengkhawatirkan Soonji sekarang. Namun…

“Untuk peserta nomer 18 diharap bersiap-siap”, ujar petugas audisi yang menjaga ruang tunggu.

Sehun bimbang, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia teringat syarat yang diajukan pria paruh baya padanya.

FLASHBACK.

“Aku menyetujui permintaanmu, Sehun –ssi. Tetapi aku punya syarat yang harus kau patuhi.”

“Syarat? Baiklah. Memang apa syaratnya?”

“Kalau kau lolos audisi, aku akan mendapukmu menjadi special trainee dengan waktu debut kurang dari satu tahun, tapi, kalau kau gagal atau malah tak hadir saat audisi maka kau akan didiskualifikasi. Anganmu menjadi idola akan pupus. Karena setelah didiskualifikasi, kau tak akan diterima di agensi mana pun.”

“Anda mengancam saya?”

“Ha…ha… siapa yang mengancammu? Bukankah aku bilang ini adalah persyaratan?”

Sehun mengepalkan sebelah tangannya, “Baiklah. Saya terima syarat anda.”

END FLASHBACK

Sehun mencengkeram kuat ponselnya, giginya bergemelatuk. Dia harus memilih, namun pilihan itu harus tepat. Antara harus mengubur ambisinya, atau malah membiarkan seseorang yang diam-diam dia suka terluka. Sehun tak tahu, dia bingung, dia depresi. Dia tak mungkin melewatkan kesempatan ini, sebab inilah yang selalu diperjuangkannya. Namun, bahaya adalah sesuatu yang buruk. Bahaya bisa berarti kehilangan nyawa. Sehun juga tak mungkin mengabaikan Soonji begitu saja.

“Sekali lagi, untuk peserta nomer 18 diharap bersiap-siap.”

Akhirnya Sehun memilih duduk kembali ke kursinya, dia menyangga kepalanya yang mendadak migrain.

Maafkan aku, Soonji –ya.

04.33 pm KST.

“Uhuk..uhuk..”, Chanyeol terbatuk, wajahnya kian pucat. Dia berharap Sehun segera pergi menolong Soonji. Entah mengapa, Chanyeol merasa Sehun ada perasaan lain terhadap Soonji. Dia tak tahu keyakinan itu berasal dari mana, hanya hatinya saja yang dapat memahaminya. Itulah sebenarnya alasan dasar Chanyeol menghubungi Sehun walau dia tahu Sehun tak menyukainya. Chanyeol percaya pada Sehun karena dia yakin Sehun tak akan membiarkan Soonji dalam bahaya. Namun, benarkah pikiran Chanyeol ini tak salah?

Seusai memejamkan mata sejenak, Chanyeol memandang jalan sunyi yang dapat dia jangkau.

Soonji –ya, maafkan aku.

Aku tak berada di sampingmu saat kau membutuhkanku.

Aku tak bisa melindungimu saat kau dalam bahaya.

Aku tak bisa menepati janjiku untuk tak membiarkanmu terluka.

Aku payah, Soonji –ya.

Aku memang bodoh.

Aku memang Park yang idiot.

Kumohon maafkan aku.

Semilir hembusan angin menggoyangkan beberapa helai rambut Chanyeol. Mata lelaki itu pun mulai lelah untuk selalu terbuka, dia merasa masa penghakimannya akan segera tiba.

Chanyeol’s House, 04.36 pm KST.

            Soonji meringkuk di sudut ruangan sambil menangis dalam diam dan menutupi kedua telinganya. Para penjahat itu telah berhasil masuk dan mengobrak-abrik seluruh isi rumah megah Chanyeol untuk menemukan Soonji yang memang belum tertangkap basah. Soonji sudah sangat paranoid. Dia terbayang-bayang akan malaikat maut yang siap sedia mempertemukannya dengan sang ajal.

“Chanyeol –ah…”, lirihnya dengan gemetar dalam tangisan.

“Tolong aku….”, dia melirik kanan-kiri dengan mata tajam yang ketakutan.

“Datanglah, Chanyeol –ah…”

‘BRAK!’ terdengar pintu yang didobrak paksa.

“Chanyeol –ah… tolong”, Soonji mengeratkan tangannya pada telinga, dia menunduk dan memejamkan matanya rapat-rapat.

“Aku akan dibunuh, aku akan mati”, dan Soonji sudah seperti orang tidak waras. Dia seakan kehilangan akal sehatnya akibat rasa takutnya yang dahsyat.

JS Entertainment, 04.36 pm KST.

“Untuk nomer 18 silahkan menuju ruang audisi”, ujar petugas, namun tak ada yang kunjung masuk padahal peserta nomer 17 telah keluar sambil menekuk mukanya.

“Sekali lagi, untuk nomer 18 silahkan memasuki ruang audisi”, tetap sama. Lalu petugas pun mengecek pesertanya.

“Apakah yang bernomer 18 ada di sini?”

Sontak para peserta menggeleng, gelengan dengan ambigu, tanda ‘tidak’ dan tanda ‘tidak tahu’.

Sementara itu tampak seseorang berseragam sekolah tengah berlari kencang mengarungi kota yang padat. Dia tak mengacuhkan apa pun. Dalam sistem sarafnya hanya rumah Chanyeol tujuannya. Ternyata akal dangkalnya terkalahkan oleh suara hati yang syahdu.

Di sisi lain, Jinhwa juga tengah berlari kencang dengan beberapa pria yang mengejarnya. Gadis itu sesekali menengok ke belakang.

Jinjja! Kenapa aku harus berlari seperti ini? keluh Jinhwa dengan rasa lelah yang meranggas.

04.46 pm KST.

            Kaki Sehun membawanya ke jalanan lengang yang bertempat di sekitar komplek rumah Chanyeol, tempat yang cukup jauh bila diukur dari rumah Chanyeol sendiri dan panti asuhan kediaman Sehun. Ia heran, karena keadaan sepi ini sangat ganjil baginya. Ayunan kaki panjangnya terhenti. Hazelnya menyipit mendapati sesosok remaja lelaki yang tergeletak bersimbah darah beberapa meter di depannya. Barulah matanya membulat ketika menyadari sosok itu merupakan Chanyeol. Cepat-cepat dia menuju ke sana. Setibanya di sebelah Chanyeol, dengan sedikit cemas Sehun lekas mendekatkan satu jarinya di bawah hidung lelaki itu, mengecek napasnya yang ternyata putus-putus. Sehun bergegas mengambil ponselnya dan menelepon ambulan. Setelah itu dia membalik tubuh Chanyeol secara perlahan. Dia melepas blazernya, dan menggunakannya untuk menutup luka Chanyeol di bagian perut, ditambah dia juga melepas dasinya dan menalikan dasi tersebut ke tubuh Chanyeol dengan maksud agar blazernya merekat dengan luka Chanyeol. Mengamati kondisi Chanyeol yang mengenaskan serta mengingat apa yang Chanyeol ucapkan lewat telepon, Sehun mulai dapat menyimpulkan beberapa kemungkinan. Yang terbersit di otaknya yaitu,

Ini percobaan pembunuhan. Kalau ini kasus pemalakan atau pengeroyokan, tidak mungkin Soonji yang sepertinya tidak bersamanya dan –mungkin- sedang di rumah Chanyeol ikut menjadi sasaran. Ini pasti ulah orang yang mengenal mereka berdua, orang yang sepertinya menaruh dendam pada Chanyeol dan Soonji, batin Sehun tenggelam dalam analisis amatirnya.

Barulah sekian detik berikutnya dia menyadari sesuatu yang sangat penting.

Soonji.

Sehun pun kembali menelepon, kali ini yang ditujunya adalah nomer polisi. Beruntunglah dia ingat alamat rumah Chanyeol yang tak sengaja dibacanya saat mengisi lembar identitas diri di hari menjelang ujian.

“Yeoboseyo.”

“Saya Oh Sehun, saya melaporkan adanya tindak percobaan pembunuhan. Tolong segera datang ke alamat……….”

‘Klik’.

Seusai menelepon Sehun hanya mampu bernapas lega saat dikejauhan terdengar suara sirine ambulan.

Park Chanyeol, kau berhutang padaku.

            04.46 pm KST.

            Kini Jinhwa melewati sebuah jembatan gantung di mana di bawahnya terhampar sungai besar yang mengalir cukup deras. Tanpa diduga kakinya terjerat tali sepatunya yang mulai lepas, akibatnya dia terjerembab dan membuat headsetnya terlempar keluar dari saku blazer, sebagian kabel headset tergantung, hampir jatuh ke dalam sungai. Segera Jinhwa menjangkau headset tersebut, sayang seribu sayang, tiba-tiba headset itu terjatuh, mungkin karena beban yang tergantung lebih berat dari pada yang masih berada di tepi jembatan. Jinhwa tercekat, hadiah dari Chanyeol telah lenyap. Masih dalam fase shock, dia pun bangkit dan melongok ke bawah sambil memegangi pembatas jembatan, meratapi headsetnya yang raib berbaur dengan arus air sungai. Dan tanpa diminta, percakapannya dengan Chanyeol berbulan-bulan lalu terngiang….

“Sebenarnya….. aku pernah berharap agar diculik. Bukan tanpa alasan. Aku pernah mengalami masa sulit, di mana semua masalah datang dan hanya menumpuk tanpa ada solusi. Yang kulakukan saat itu hanya mampu melarikan diri. Aku takut, dan aku merasa sendiri, begitu kesepian. Saat itulah aku ingin sekali diculik, kemudian berharap mereka menjualku pada orangtua yang baik dan cukup harta, di mana orangtua baru tersebut membawaku tinggal di kota yang makmur. Di kehidupan baruku, lahirlah aku yang lain. Aku yang pintar dalam pelajaran dan pintar dalam bersosialisasi. Aku yang kesampaian untuk jadi trainee dan akhirnya debut menjadi artis besar. Aku yang lain yang memiliki hidup lebih baik dari ini, aku yang lain yang tak harus menelan kecewa saat telah bersusah payah, aku yang lain yang selalu kuimpikan. Chanyeol –ah, bagaimana jika…. seandainya….keinginanku itu dikabulkan oleh Tuhan?”

Lalu terdengar suara rem yang berdecit.

“Apa semua yang sampai sekarang kau miliki tidaklah cukup? Ibu yang baik, harta yang cukup, sekolah yang berjalan lancar, dan sahabat yang menemani. Kau anggap apa semua itu? Hanya angin lalu kah?”

“Itu harapanku sejak dulu, Chanyeol –ah. Bila Tuhan mengabulkan, kupikir aku akan senang. Dan soal yang kau sebutkan barusan…. Mianhae, bagiku itu belum cukup”.

Dan terdengar suara sepeda yang dijatuhkan sengaja.

“Sekarang jawablah dengan jujur, benarkah semua ini belumlah cukup bagimu?”

Jinhwa hanya mengangguk.

“Gotjimal! Benarkah kau akan senang jika harapanmu itu terwujud?”

Jinhwa kembali mengangguk.

“Gotjimal, Jin jin. Kau bohong! Benarkah sampai detik ini kau bahkan masih mengharapkan hal itu?”

Jinhwa terdiam, hanya isakan yang keluar dari mulutnya.

“Hanbonman, kumohon katakan berdasarkan apa yang kau rasakan. Benarkah kau ingin terlahir kembali dan rela melupakan semua yang telah kau alami?” obsidian Chanyeol memerah menahan amarah sekaligus kesedihan.

Jinhwa menunduk guna menghindari tatapan Chanyeol, dia menarik napas lalu menjawab, “Mianhae, aku memilih ‘ya’ untuk pertanyaan terakhirmu.”

Kaki Jinhwa rasanya lunglai, dia pun mengeratkan pegangan tangannya pada pembatas jembatan. Air mata jua menggenang di pelupuk matanya.

Tak kusangka sebagian doaku dikabulkan. Bahkan kenangan dari Chanyeol tak berbekas.

Hati Jinwa bagaikan tercabik sembilu, mengakibatkan luka menganga yang diameternya tak terhingga. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.

‘Drap…drap…drap…’. Dengan perasaan sedih yang menggelayut, Jinhwa memutar tubuhnya dan melepas pegangannya pada jembatan, di depan sana berdirilah para pria yang tiba-tiba mencari masalah dengannya.

“Apa, hah?!” teriak Jinhwa emosi. Gara-gara para pria badung itu dia kehilangan barang berharganya.

“Kenapa berhenti? Aku kan tak sedang lari, jadi tangkap saja!!” tantang Jinhwa dengan air mata yang terus menetes.

“Apa?! Cepat ke mari!! Kalian mau menangkapku kan? Atau… kalian berniat membunuhku?”

Dan seorang pria yang dandanannya menyerupai bos besar –dan sebut saja dia bos besar- menyembul dari balik pria-pria lain. Dia langsung mengarahkan moncong pistol ke arah Jinhwa, tepatnya dia mengincar bagian kepala.

“Ya, aku memang ingin membunuhmu”, ujar bos besar dengan tatapan merendahkan.

“Neo….”, gumam Jinhwa tak percaya. Dialah orang yang membekapnya, orang yang dikenalnya.

“Apa kabar, sahabat adikku?” tanyanya dengan senyum palsu yang sebenarnya mengerikan.

<EXO ♥ JJANG>

TBC ^^

 

 

 

3 thoughts on “Wave Find Beach (Chapter 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s