Are You Happy? chapter 4

Are You Happy? chapter 4

Cast :

  1. Oh Sehun
  2. Xi Luhan

Genre : Yaoi, Romance, School

Author : @leedonghyunn

“If you could read my mind, you’d be in tears..”

Seoul, 2015

Pukul 5.25.

Dan mata Luhan masih terbuka lebar tanpa sedikitpun tanda-tanda ia akan lelah dan mengantuk dalam waktu dekat. Yah, bagaimana ia bisa tidur setelah semua kegilaan ini? Meski ia tak pernah mengakuinya, bertemu dengan Sehun seperti ini adalah sesuatu yang selalu diam-diam ia inginkan dan muncul dalam doa-doanya. Namun setelah kejadian tadi; punggung dan mata yang dingin, serta ciuman singkat yang memberikan begitu banyak curahan perasaan itu, apa yang harus ia lakukan?

Apa yang harus ia lakukan, saat sentuhan singkat Sehun pada pundaknya dan bibir Sehun di bibirnya, masih terasa sangat jelas bahkan sampai detik ini? Bagaimana bisa air matanya tak henti-hentinya memaksa keluar meski selalu saja ia hapus dengan cepat?

Mereka boleh berkata segala perasaan ini bukanlah hal yang baik, tapi ini nyata. Segala perasaan yang mereka miliki, itu semua begitu nyata dan begitu menyedihkan..

Dan perlahan, Luhan bangkit dari kasurnya, mengganti bajunya asal dan berjalan keluar. Tiba-tiba saja ia teringat pada Eomma-nya dan betapa banyak hal yang dapat dilakukannya untuk wanita yang paling disayanginya saat ini; daripada ia hanya memikirkan hal-hal seperti ini. Namun baru saja beberapa detik saat ia merasa lebih tenang, tiba-tiba satu wajah itu muncul di hadapannya; ia sedang terduduk di depan pagar rumahnya. Oh Sehun.

Luhan terdiam. Dan Sehun berbalik. Dan mereka saling bertatapan dengan mata yang saling berbicara. Mereka terdiam seperti itu lama, sampai akhirnya Sehun berbicara.

“Aku butuh bicara denganmu sekali lagi.”

Luhan (masih) terdiam beberapa saat, sambil berusaha menahan degup jantungnya yang rasanya terlalu kencang bunyinya, sampai-sampai ia jadi malu.

“Tapi aku harus pergi.. mm.. Eomma.. aku ha..”

“Aku ikut. Kemanapun.” Dan Luhan tak dapat berkata-kata lagi.

+++

Pukul 7.25

Duduk di taman yang sangat sepi berdua seperti ini di pagi hari ternyata bisa menjadi sangat menegangkan rupanya. Luhan tak mengetahui fakta ini sebelumnya.

“Jadi…”

Deg.. deg… deg….

“Sedang memikirkan nasib menyedihkan bunga-bunga di taman ini yang begitu tak berdaya meski mereka hidup dan bernyawa?”

Dan Luhan hanya dapat melihat Sehun lurus. Sehun balas menatap Luhan dengan senyum kecil di bibir dan matanya. Luhan tersenyum kecil.

“Sudah berapa lama itu?” ucapnya sambil mengalihkan pandangan pada rumput-rumput liar yang tampaknya tak begitu terawat di depannya. “Lagipula, di sini hanya ada rumput.”

Luhan tak sadar kalau Sehun masih terus menatapnya lurus, sampai Sehun berbicara, “Aku ingat. Sekecil apapun itu, aku ingat.”

“Semakin aku berusaha melupakan, semakin banyak yang teringat. Apa yang bisa kulupakan?” ucap Sehun lagi masih sambil menatap Luhan lurus. Luhan terdiam.

“Sudah 4 tahun, Luhan-ah. Empat tahun aku hidup tanpa kebahagiaan.”

“Carilah kebahagiaan itu, Hun, tanpa perlu memikirkan perasaanku. Bukankah itu yang kulakukan saat aku pergi meninggalkanmu?” ucap Luhan dengan suara yang sangat pelan.

Sehun menggeleng pelan. “Bahagia itu harus bersama denganmu, Xi Luhan.”

Kini Luhan yang menggeleng, tapi ia tak berkata apa-apa.

“Apa hidupmu bahagia di sana? Meninggalkanku begitu saja tanpa memikirkan perasaanku, kau bahagia melakukan semua hal itu?”

“Kau tahu perasaanku, Hun.”

“Perasaan? Yang mana?”

“… Aku..menyayangimu.”

“Kalau benar apa yang kau katakan, maukah kau beritahu aku apa yang membuat kau tiba-tiba memutuskan hubungan kita dan pergi begitu saja?”

Luhan terdiam. Sehun akhirnya menyerah.

Sambil menghela nafas panjang, ia berkata, “Kau tak bisa. Ada apa sebenarnya, Han-ah?”

Belum sempat Luhan membalas, tiba-tiba ponsel Sehun berbunyi. Sebuah panggilan.

Wae, Soojin-ah?…. Ya, aku bisa menjemputmu. Tunggu saja… NeBye..”

Dan Sehun kembali mengalihkan perhatiannya pada Luhan setelah ia mematikan panggilan itu secepatnya. Ia hanya menatap wajah Luhan tajam, membuat Luhan salah tingkah.

“Xi Luhan… apa kau masih cemburu melihatku berbicara dengan gadis lain?”

“….” Luhan tak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Sehun benar-benar menyerangnya.

“Kalau kejadian itu tak pernah ada, apa sekarang segalanya akan baik-baik saja?”

+++

Seoul, 2010

Seperti biasa, hari Rabu adalah hari dimana Luhan, Chanyeol, dan Jongdae untuk berkumpul bersama. Minggu ini, mereka berada di rumah Chanyeol untuk, seperti biasa, melakukan kegiatan laki-laki sejati yang sangat dibenci Luhan. Tapi demi nama persahabatannya dengan dua laki-laki aneh ini, ia rela-rela saja untuk diajak menonton film yang intinya itu-itu saja; setan muncul dengan suara yang tiba-tiba menjadi 3 kali lebih kencang dari sebelumnya, dan fakta menyedihkannya, tetap saja ia takut meski ia tahu ceritanya hanya itu-itu saja.

Tapi kali ini, ada yang lebih mengkhawatirkan Luhan daripada setan-setan yang akan ditemuinya tak lama lagi. Ia tak menemukan Sehun di sudut manapun di rumah ini.

“Yeol-ah, mana Sehun?” ucap Jongdae tiba-tiba, membuat Luhan langsung melebarkan telinganya, berniat menguping sambil berakting seakan ia sedang fokus dengan handphone-nya.

“Pergi. Sama Soyul.”

Soyul?

“Soyul? Hoobae yang super manis itu??” ucap Jongdae setengah histeris.

“Sstt.. Kau tak perlu banyak berharap, dia menyukai Sehun.”

Luhan menatap Chanyeol lurus. “Kok kamu tahu?”

“Dia menelpon terus ke rumah, katanya Sehun nggak balas SMS dan telepon di ponselnya, sampai satu rumah kerepotan. Akhirnya aku paksa Sehun mengajak ia pergi jalan daripada menganggu kehidupan satu rumah mengangkat telepon darinya.”

Luhan terdiam, entah apa nama perasaannya saat ini. Tapi ia tak sedang bahagia.

+++

Luhan sedang berjalan sambil menendang kerikil-kerikil kecil di jalan saat Sehun muncul dengan sepedanya.

Mwohae?” tanya Sehun tiba-tiba, membuat Luhan sedikit melonjak. Sehun terkekeh.

Ya! Bagaimana bisa kau muncul tanpa suara seperti itu?” ucap Luhan dengan wajah cemberut, entah apa yang membuatnya seperti itu, bahkan ia sendiri tak mengerti.

“Tanpa suara? Bukankah kau yang terlalu asik menendang kerikil-kerikil tak bersalah itu sampai tak mendengar suara sepedaku? Dasar aneh..” Rasanya Luhan sudah bosan mendengar hinaan itu, makanya ia hanya terdiam. Kemudian tanpa menunggu jawaban Luhan, Sehun melanjutkan ucapannya, “Ayo naik.”

“Kemana?” tanya Luhan sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Naik saja.” Luhan menatap Sehun lurus, Sehun balas menatapnya lurus sambil tersenyum, membuat Luhan tak punya pilihan lain selain naik dan menuruti keinginan Sehun. Senyuman itu memiliki kekuatan yang besar dalam diri Luhan, sungguh.

Saat sepeda sudah berjalan, Luhan bertanya lagi. “Mau kemana kita?”

Sehun terkekeh. “Bantu aku mengerjakan tugas, Han.”

Luhan mengernyit. “Tugas apa?”

Sehun terkekeh lagi. “Tugas untuk membuat orang yang duduk di belakangku ini bahagia.”

Dan tak ada yang dapat dilakukan Luhan selain terdiam, terpaku. Bahkan ia tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini, meski hatinya sudah bergerak terlebih dahulu dari otaknya. Dan Luhan bersyukur mereka sedang naik sepeda saat ini, karena dengan begitu, ia tak perlu sibuk menyembunyikan senyum lebar di wajahnya yang membuat pipinya sampai sakit dibuatnya.

“Terus, bagaimana caranya?” tanyaku pada akhirnya.

“Hmm.. Dengan menemaniku makan malam?”

Luhan tertawa kecil. “Bilang saja kau lapar..”

Sehun ikut tertawa. “Iya, tapi aku lapar sekaligus ingin membuatmu bahagia.”

Luhan tertawa kecil lagi, pipinya semakin panas.

Perasaan apa ini?

Ia tak ingin saat ini berakhir..

+++

Dan kini mereka tiba di sebuah taman yang luas dengan beberapa pedagang kaki lima di pinggir taman, Luhan masih tersenyum kecil.

Hot dog di sini benar-benar enak, loh.” seru Sehun sambil mengulurkan tangannya yang mengenggam selembar uang pada ajummeoni penjual hot dog yang hanya tersenyum kecil. Luhan sendiri sudah memegang semangkuk tteokbokki di tangannya.

Setelah hot dog yang kata Sehun benar-benar enak tersebut selesai dibuat, mereka berjalan pelan menyusuri taman sambil mencari tempat yang paling nyaman untuk diduduki.

“Dari mana kau tahu tempat ini?” tanya Luhan.

“Dulu aku tinggal di dekat sini. Sebelum eomma menikah lagi.” Luhan mengangguk-angguk.

“Apa ini sesuatu yang tak seharusnya dibahas bersama seorang sepertiku?”

Sehun menoleh sejenak. “Memangnya seorang sepertimu itu orang yang bagaimana?” ucapnya sambil duduk di rerumputan yang dekat dengan sebuah danau dan dinaungi sebuah pohon besar. Aku mengikutinya.

“Yah, seseorang yang kau kenal belum terlalu lama..?”

Sehun hanya mengangguk-angguk. “Wae?” tanya Luhan.

“Hmm.. jadi aku hanyalah seorang seperti itu bagimu.

Luhan terdiam. “Ani..”

“Lalu?”

“Memangnya aku ini orang yang seperti apa bagimu?” Luhan balik bertanya.

Sehun terdiam sejenak. Ia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. “Kau itu.. seseorang yang padanya aku ingin bercerita banyak hal.. dan aku ingin menghabiskan waktu bersama..? Pokoknya, kau itu orang aneh yang menyenangkan, Xi Luhan-ssi.” Dan Sehun terkekeh pelan.

Dan Luhan menatap Sehun lurus, seakan terhipnotis.

Tidak, ia tidak sedang terhipnotis. Ia hanya sedang terpesona.

“Oh Sehun…” ucap Luhan pelan sambil terus menatap Sehun lurus.

Wae?”

….

“Boleh tidak aku menyukaimu?”

Dan mereka berdua terdiam lama.

Bagi Luhan, karena ia terus memaki dirinya sendiri atas perkataan gila barusan.

Bagi Sehun, karena kata-kata tersebut sukses membuat seluruh tubuhnya lemas. Dan jantungnya menggila.

Dan waktu seakan berhenti untuk mereka berdua.

Dan saat Sehun tiba-tiba mendekatkan wajahnya sampai bibir mereka bertemu, mereka masih tetap terdiam seribu bahasa. Hanya tubuh mereka yang berbicara, dengan degap jantung yang seakan saling berbicara dan bersahutan.

Dan saat Sehun tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan Luhan yang masih terpana, degap jantung tersebut masih saja saling bersahutan dari kejauhan.

+++

Pukul 3.25.

Dan mata Luhan masih terbuka lebar tanpa sedikitpun tanda-tanda ia akan lelah dan mengantuk dalam waktu dekat. Segala kegilaan barusan menimbulkan ribuan pertanyaan di hatinya.

Dengan semua kegilaan yang telah terjadi ini, Luhan memutuskan untuk bangun dari kasurnya dan turun ke bawah untuk membuat susu coklat hangat. Namun saat ia melewati jendelanya yang tak tertutup, ia melihat sesuatu. Atau tepatnya, seseorang. Di depan gerbangnya, terduduk.

Dan ia langsung tahu siapa itu. Dan tanpa ia sadari, kakinya sudah berjalan cepat menuju tempat seseorang itu berada. Dan saat ia membuka pintu, orang itu menoleh dengan wajah yang tampak tak biasa. Dan mereka saling bertatapan, dengan tatapan sejuta kata, sejuta perasaan.

Tapi, seberapa banyakpun kata yang ingin mereka ucapkan, mereka berakhir hanya berdiri berhadapan, terdiam, selama beberapa saat, sebelum akhirnya seseorang itu, Sehun, membuka mulutnya dengan suara bergetar.

“Bantu aku, Xi Luhan.”

Luhan terdiam. “Bantu apa, Oh Sehun?”

Sehun menatap Luhan lurus. Dan lama.

Kemudian secara tiba-tiba, ia mengulurkan tangannya melewati sela-sela pagar dan meraih tangan Luhan, lalu mengenggamnya, dan menarik lengannya menuju dadanya. Luhan hanya dapat melebarkan kedua matanya, hal ini bahkan tak ada dalam prediksinya.

Sehun menatap Luhan lurus, dengan tangan Luhan di dadanya. Dan Luhan merasakannya.

Ia merasakan detak jantung yang sama keras dengan miliknya.

Dan saat Sehun melepaskan tangannya, Luhan berharap dalam hati hal itu tak pernah terjadi. Ia ingin selamanya merasakan Sehun. Merasakannya sedalam-dalamnya.

Kemudian Sehun membuka mulutnya dengan suara yang sangat pelan, namun merasuk dalam tubuh Luhan bagai mantra. “Aku mencintaimu, Xi Luhan.”

Ini magis. Ini bagaikan sihir, Oh Sehun..

“Aku tak mau mengakuinya, tapi hatiku sudah meneriakkannya dengan jelas, kan?”

….

“Lalu, Soyul bagaimana?”

Sehun terdiam.

“Apa hatimu juga meneriakkan dengan jelas padanya?”

Sehun masih terdiam. Luhan ikut terdiam.

Namun beberapa saat kemudian, Sehun terkekeh. Luhan menatapnya bingung.

“Pacarku rupanya cemburuan, yah? Bahaya nih..”

Dan Luhan terdiam.

Ia bahkan tak tahu lagi sejauh mana Sehun akan mengejutkannya…

Tapi tetap saja, ia suka.

Bersama dengan Sehun, segalanya terasa baru, dan hangat.

Dan ia suka perasaan itu..

+++

Seoul, 2015

“Kalau kejadian itu tak pernah ada, apa sekarang segalanya akan baik-baik saja?”

Luhan menatap Sehun lurus, bibirnya terkatup namun matanya mengatakan ribuan kata-kata yang tak terucap dari mulutnya.

Sehun balas menatap Luhan lurus, namun yang ada di matanya hanyalah ribuan teriakan kesedihan yang tak ada habisnya.

Dan itu menghancurkan hati Luhan sehancur-hancurnya.

“Karena kalau begitu, aku lebih memilih untuk mencintaimu diam-diam tanpa pernah mengatakan yang sebenarnya.”

Ya Tuhan, bagaimana mereka sampai menjadi seperti ini?

‘Sudah seberapa jauh aku menghancurkanmu, Oh Sehun?’

+++

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s