Moving On

e0101909579f42e01e84aa59687a5783

Moving On

Pairing of Park Chanyeol and Kim Seonna (OC)

Presented by deera

Genre : Marriage Life | Length : oneshot | Rating : 17+

deera says : ini pertama kalinya mengambil genre marriage life dan maaf rating-nya langsung tinggi hehe ^^

Tetaplah tinggal: kau dan aku

Dihitungnya lagi jumlah seri Fairytale miliknya yang sedang dimasukkan teratur dalam sebuah kotak. Setelah mantap, ia menumpuk bagian atasnya dengan koleksi action figure anime yang dimasukan dalam dus-dus kecil sehingga rapi saat disusun. Dengan lakban bening, Seonna merekatkan sisi penutup kotak dan membubuhi tulisan ‘koleksi’ dengan spidol berwarna hitam.

Ini adalah kotak yang kesekian—ia tidak ingat berapa. Di sudut ruangan, kotak-kotak lain sudah ditaruh dengan rapi dan tersusun—siap dibawa kapan saja. Seonna memindahkan kotak koleksi agar bergabung dengan yang lainnya—supaya tidak ada yang tertinggal.

Pandangan mata cokelat-kehijauannya beralih pada sebuah figura di sisi kanan tempat tidur ukuran besar yang bersprei putih gading. Ia meneguk ludah, berpikir saat pertama kali pindah ke apartemen ini, memasang fotonya dan Chanyeol di bingkai silver itu dengan sebuah tangga lipat, dan bercinta sampai pagi setelah seharian megurus kepindahan.

Hari itu, tepat satu hari setelah mereka mengucap janji setia sampai mati. Dan hari ini, ribuan hari telah berlalu dan segalanya terjadi begitu cepat. Seperti potongan-potongan ingatan yang tak cocok, Seonna menemukan dirinya tersesat dalam kehidupan barunya. Dan tentu dengan beberapa masalah.

Chanyeol datang dari arah pintu kamar yang terbuka begitu saja, sedikit terkesiap melihat Seonna tengah berdiri bersidekap memandangi foto pernikahan mereka—di saat Chanyeol masih dua-empat dan Seonna dua-tiga. Kehadiran Chanyeol di sana rupaya disadari oleh wanita yang hanya setinggi dadanya, membuat tubuh kecilnya dengan mudah berlindung di balik rengkuhan lelaki itu. Keduanya berdiri berjauahan di tempat yang hampir bersih itu, kecuali dengan bekas-bekas debu akibat barang yang sudah diangkut.

“Apa barang-barangmu sudah selesai dikemas?” tanya Chanyeol akhirnya memecah jeda. Dari sudut matanya, dilihatnya Seonna menggaruk dahi tapi gesture itu menandakan bahwa ia berada dalam posisi tak yakin.

Dan lantas, Seonna menarik sudut bibirnya samar. “Belum semua. Apa kau sudah? Barangmu lebih banyak dari milikku. Apa kau perlu bantuan, Chan?”

Mendengar Seonna memanggilnya begitu, masih ampuh membuat debar tak tentu di balik tulang rusuk Chanyeol. Dadanya berdesir lembut dan ia tak ingin kehilangan perasaan itu terlalu cepat.

“Bolehkah? Aku kesulitan mengatur barang-barangku supaya mudah ditemukan. Kau pandai membuat sesuatu lebih mudah bukan, Na-ya.” Chanyeol menyebutkan nama kecil Seonna di akhir kalimatnya yang membuat wanita itu berjengit dengan alis yang terangkat.

“Tak apa. Barangku tinggal sedikit lagi.”

Chanyeol meninggalkan kamar itu lebih dulu, menuju ruang kerjanya di pojok apartemen, dekat pintu kaca menuju balkon. Tirainya yang tersingkap menampakkan warna langit yang cerah dan matahari belum terlalu tinggi.

Seonna berjalan dalam diam mengikuti langkah Chanyeol dan tiba di ruangan tiga kali empat yang biasanya dipenuhi alat-alat musik. Ketika biasanya ia membuka pintu, ruangan itu selalu berbau seperti Chanyeol—aroma kopi dan mint yang disukainya. Di balik pintu, Chanyeol meletakan keyboard dan gitar yang terhubung dengan seperangkat komputer untuknya merangkai nada. Tepat di siku ruangan, Chanyeol meletakan meja pinus tanpa pelitur yang dibiarkan kosong—tempat Chanyeol menulis lirik. Dan di sebelahnya ada sebuah sofa—Seonna ingat mereka juga pernah bercinta di sana, di pagi buta saat Chanyeol terlalu larut dengan pekerjaan dan membuat Seonna tidur sendirian semalaman.

Sekarang ruangan itu nyaris bersih. Tinggal kertas dan buku-buku referensi yang disusun acak di lemari. Pernah sekali Seonna menawarkan diri untuk merapikannya, tapi Chanyeol memilih membiarkannya saja, toh dia sudah hafal dimana letak buku-buku itu. Membuatnya teratur justru akan merepotkan.

“Kau bisa mulai dengan semua ini.” Chanyeol menunjuk tumpukan buku yang tak karuan dengan wajah semu. Ia merasa malu karena dirinya se-kacau­  ini dalam mengorganisir sesuatu, termasuk perasannya yang tak tentu saat ini.

“Memang hanya tinggal ini sepertinya.” Seonna mengulung lengan kemejanya hingga siku dan menampilkan garis panjang di sana, bekas luka yang tidak bisa hilang dan Chanyeol tahu persis letaknya, tepatnya kapan, dan cerita di baliknya. Sesuatu berdenyut marah di balik diri Chanyeol dan ia tidak suka dengan itu.

Seonna mengangkat wajahnya, mendapati Chanyeol tengah memandang ke arahnya. “Kau bisa membawa foto yang ada di kamar, Chan. Aku bereskan ini dulu.”

Chanyeol mengangguk pasrah. Ia kembali ke kamar yang semula milik mereka berdua dan berjalan pelan ke depan foto itu dipasang. Lelaki jangkung itu ingat bagaimana pertama kali ia memandagi paras polos Seonna di pentas seni sekolah gadis itu.

Seonna kelas tiga dan Chanyeol baru saja lulus. Seonna tujuh belas dan Chanyeol delapan belas saling balas menatap saat berpapasan di koridor ruang ekshibisi dekat toilet. Saat Chanyeol selesai bersiap untuk naik panggung dengan band yang digawanginya bersama teman-temannya dan Seonna masih dengan euforia berlebih karena lukisannya masuk pameran.

“Apa yang membuatmu begitu senang, Nona?” Chanyeol menyuarakan pikirannya yang terlempar ke sepuluh tahun yang lalu, seperti sapaannya yang pertama pada Seonna saat itu.

“Rasanya seperti menang lotre: keberuntungan dan sedikit takdir membuatnya manis.”

“Apa kau bicara tentang aku? Karena kau bertemu denganku?”

“Mungkin. Lukisanku akan ikut pameran—itu keberuntungan. Bertemu denganmu—itu takdir.”

Chanyeol meringis saat keping memori itu menelusup begitu saja, seperti angin yang mudah terhirup. Setiap sudut rumah ini terasa seperti nostalgia. Semua berdenyut sama: kenangan mereka bertahun-tahun hidup bersama. Tidak mudah untuk pindah begitu saja, meninggalkan segalanya hingga tak bersisa.

Ia kembali dipaksa untuk mengingat saat pertunjukkan band-nya berakhir dan matanya menatap lagi dua binar hijau-kecokelatan yang menontonnya dari radius aman. Gadis itu tidak ikut maju ke depan panggung dan melompat bersamaan dengan yang lain. Ia hanya melipat dua tangannya di depan dada dan sesekali menggigit bibir—setidaknya itu yang Chanyeol ingat saat sepanjang pertunjukkan karena matanya hanya melihat ke arah sana.

Semesta benar-benar sedang mengajaknya bercanda. Wajah itu ada dimana-mana saat Chanyeol memutuskan untuk menganggap lalu saja pertemuan itu—karena setelah pertunjukan berakhir dan ia mencari gadis itu, tak ditemukannya kemanapun ia berkeliling. Ia beralih masuk ke ruang ekshibisi, mengitari ruanga, dan mendapati sebuah lukisan langit kosong. Hanya biru saja dan gores-gores putih yang nampak seperti bercak awan yang abstrak. Dilihatnya nama pelukis itu: Kim Seonna. Dan ia ingin mempercayai bahwa Kim Seonna adalah gadis itu.

“Kita sangat sering berpapasan, Nona.”

“Berhubung ini dekat dengan rumahku dan sekolahku, apa yang kau lakukan? Kau menguntitku?”

“Apa kau keberatan?”

“Kurasa…, tidak juga.”

Chanyeol mengambil tangga lipat di balik pintu kecil yang menyimpan segala macam perkakas dan membawanya kembali ke kamar. Ia mulai menaiki satu persatu anak tangga untuk mencapai figura itu dan melepasnya dari pengait dengan hati-hati.

“Ayo kita menikah, Na-ya.”

“Apa kau tidak bisa lebih romantis, Chan?”

“Kau ingin aku melamarmu sambil berlutut? Atau menyembunyikan cincin di dalam makanan penutupmu? Atau sambil menciummu di tengah keramaian?”

“Ide bagus. Kau bisa melakukan ketiganya.”

“Maaf, tapi aku sudah menghancurkan fantasimu tentang prosesi lamaran yang…, menjijikan seperti itu.”

Seharusnya Chanyeol melakukannya, untuk membuktikan kalau dia benar-benar jatuh dalam cinta yang diberikan Seonna, supaya akhirnya gadis itu tidak pernah meragukannya. Karena dengan bodohnya, gadis itu menerima lamaran sederhana Chanyeol dan terjebak dalam hari-hari yang dirasa semakin berat.

Lelaki itu sibuk dengan pekerjaan—seharusnya ia bersyukur karena suaminya menjadi jauh lebih baik dalam karir dari sebelumnya. Namun hal itu menjadi bumerang yang kemudian membunuh Seonna pelan-pelan. Chanyeol tahu saat wanita itu menyusut air mata di balik punggungnya. Ia juga sempat mencuri dengar Seonna berkata tentang ‘lelah’ dan ‘rindu’ tiada henti, yang justru membuatnya pening.

Seharusnya Chanyeol menunjukkan kalau ia benar-benar membutuhkan Seonna dalam setiap bahagianya dan juga keluhnya. Seharusnya Chanyeol tidak melupakan saat pertama memandang gadis itu di keramaian dan hanya dia yang terlihat di sana dengan kesederhanaan yang rupawan.

“Chan-ie, aku berhenti melukis. Aku ingin jadi istri yang baik untukmu.”

Seonna bahkan menanggalkan mimpinya demi Chanyeol.

“Chan-ie, aku sudah selesai merapikan buku-bukumu.” Suara itu membuyarkan tatapan kosong Chanyeol yang tengah memandangi foto yang kini tergeletak di atas kasur.

Seonna mengikuti arah pandang Chanyeol saat lelaki itu justru menatapnya sejak ia datang di sana. Matanya membulat kaget. “Itu berdebu sekali, Chan. Jangan ditaruh di atas kasur!” langkah Seonna berderap, mendekat ke arahnya. Dengan cekatan, lengan mungil Seonna mengangkat figura dan menyandarkannya di dinding.

Sedang Chanyeol membeku. Mengingat-ingat bagaimana ia begitu mencintai wanita itu dan tak ingin kehilangannya. Dan semua yang seharusnya Chanyeol lakukan—yang tak pernah dilakukannya di masa lalu—ia ingin melakukannya sekarang, agar wanita di hadapannya ini tahu seberapa besar Chanyeol tak ingin kehilangannya.

Yang tersisa kini hanya suara decap yang gelisah. Tubuh mereka berhimipit ke dinding kosong di dekat pintu. Suara orang lalu lalang di ruangan lain sungguh mengganggu—mungkin jasa mover yang disewa untuk membantu kepindahan mereka sudah datang. Tapi tidak sekarang. Tidak sampai Chanyeol selesai menunjukkan kepada Seonna seberapa ingin ia tetap tinggal.

Kaki kecil Seonna menginjak milik Chanyeol dan lengannya memijat lembut bahu bidang yang menekannya semakin ke sudut. Setelah sebelah tangan Chanyeol sigap menutup pintu dan menguncinya—dengan tanpa melepas pagutan mereka—ia menambah kecepatan sesapnya. Chanyeol masih ingin memilikinya, menghakimi seluruh raga dan pikirnya.

“Kau punya bentuk leher yang bagus, Sayang. Kau sebaiknya memaki pakaian dengan kerah tinggi ya, kalau pergi keluar. Aku tidak ingin lelaki lain melihat milikku yang satu ini.”

Ia mengecupnya dan mengulang belasan kali hingga wanita itu menjambak rambutnya dan menenggelamkan wajah di balik bahunya.

“Apa yang selama ini kau makan, Na­-ya? Kenapa pinggangmu bisa sekecil ini?”

Ia mengangkat sebelah kaki Seonna untuk melingkari tubuhnya dan memudahkannya memasuki wanita itu. Chanyeol tergesa. Ia menarik napas panjang dan bergerak berlawanan dengan Seonna. Seluruh tubuhnya gemetar hebat kalau saja ia tidak bertumpu pada dinding di belakang tubuh Seonna.

“Kau memiliki wangi seperti cat minyak yang manis , Na­-ya.”

Ia tak berhenti menciumi bahu Seonna setelah pakaian wanita itu koyak tak beraturan. Ia juga mengeup puncak ceruk gelap yang masih tertutup sempurna. Dan tanpa Seonna sadari jemari-jemari besar milik Chanyeol mulai menggelitik bagian perut dan bawah pinggangnya.

“Chan—ah….” Seonna memanggilnya dalam nikmat.

“Jangan terlalu keras, Sayang. Banyak orang di luar.”

“Lagian kau—uh, melakukannya di saat—uh, kau menyiksaku, Chan—ah.”

“Apa? Kau ingin bilang apa, Na-ya? Hm?” Chanyeol menggodanya dengan menempelkan hidung dan dahi mereka sebelum mengecup kembali bibir Seonna.

Seonna berusaha menggapai tangan Chanyeol dan menahannya sebentar untuk benar-benar menyelesaikan kalimatnya. “Kau melakukannya di saat kita sedang beres-beres untuk pindah rumah! Kau gila, Park Chanyeol! Dan aku tidak kalah gila karena menikahimu.”

“Wow, itu kalimat yang cukup romantis.” Dan Chanyeol kembali mengecup Seonna dalam-dalam, berharap wanita itu menangkap maksud dan pesannya yang tersimpan rapat dalam setiap sentuhannya. Bahwa Chanyeol sungguh mencintainya.

Luka di tangan Seonna didapat saat memasang foto pernikahan mereka. Sejak saat itu, Chanyeol tidak ingin membuat Seonna bekerja apapun yang berat. Itu sebabnya Seonna selalu mengeluh ‘lelah’ karena bosan seharian tidak ada kegiatan dan berakhir dengan ‘merindukan’ Chanyeol.

Apalagi dengan aktivitas bekerja tanpa ampun khas Chanyeol. Seolah tujuh hari seminggu dan 24 jam sehari masih kurang.

Pekerjaan memang nomor satu, tapi rumah adalah satu-satunya tempat untuk pulang, begitu prinsip Chanyeol. Ia memang urakan dan tidak romantis sama sekali—Seonna pun mengakui itu. Tapi selarut apapun Chanyeol selesai bekerja, ia memilih untuk pulang.

Lelaki itu berkali-kali mendengar Seonna mengeluh tentang hari kerja yang tanpa libur, jam kerja yang tidak manusiawi, dan sebagainya. Berulang kali juga Chanyeol memberitahunya bahwa itu bukan salah perusahannya—itu murni dedikasi Chanyeol kepada musik yang membuat Seonna selalu merasa diselingkuhi.

Yang Chanyeol lakukan hanya diam dan mengangguk patuh pada setiap omelan Seonna dan tahu persis sebenarnya wanita itu mengkhwatirkan dan merindukannya. Ia balik membalas kalimat-kalimat Seonna dengan kecupan-kecupan hangat di setiap malam di sekujur tubuh wanita itu.

Seonna sering menangis diam-diam kalau Chanyeol jatuh sakit. Chanyeol tahu semuanya, karena ia segera terbangun saat mendengar isakan pelan dari Seonna yang meringkuk sambil menggamit lengannya.

Jadilah lelaki itu terpikir sebuah ide yang cemerlang. “Sebentar lagi—tunggulah sedikit lagi sampai aku cukup tinggi untuk bisa membawa semua pekerjaanku ke rumah,” janji Chanyeol di suatu malam.

Seonna justru merengut. “Percuma kalau kau di rumah dan tidak boleh diganggu.”

“Kata siapa? Aku selalu suka kalau kau yang mengganggu.”

Tapi kenyataannya tidak begitu. Hampir dua tahun Seonna bertahan dengan rutinitas menunggu-Chanyeol-pulang-larut-malam-sampai-ketiduran-di-sofa hingga akhirnya lelaki itu naik jabatan dan bisa bekerja dari rumah. Dan sudah setahun lebih kini Seonna harus terbiasa dengan rutinitas bercinta-dimana-saja-yang-Chanyeol-suka-dan-bagaimanapun-posisinya. Ini menyulitkan.

Baru seminggu lalu, ide untuk pindah rumah ini dicetuskan oleh Chanyeol sendiri karena ia merasa perlu suasana baru. Dan tentu spot-spot baru yang lebih luas untuk berlaku romantis kepada wanitanya—sepertinya mencoba di dalam air dalam kolam renang itu ide yang bagus, dan kepala Chanyeol langsung dihadiahi pukulan oleh Seonna setelah menyuarakan pikiran mesumnya.

Setelah empat tahun tinggal di apartemen yang Chanyeol beli sebelum mereka menikah, akhirnya ia memutuskan untuk pindah. Mereka akan tinggal di landed house di bilangan Dongdaemun yang lebih besar dan tentu dengan kolam renang, seperti keinginan Chanyeol.

Dengan pikiran dan semangat yang segar, Chanyeol berharap ide akan mengalir dengan mudah memasukinya dan melahirkan karya-karya jenius andalanya. Dan lagi, menyambut kedatangan penghuni kecil di keluarga mereka.

10 thoughts on “Moving On

  1. padahal udah ada yang nunggu du luar apartemen nya eh chanyeol masih aja sempet2n gitu apa gak malu kalau sampai kedengeran dari luar😀

  2. Wwoooww gua kira ini cerita tentang perceraian yang dimana suaminya gak mau kalo pernikahannya berakhir eleh mba aku ke kecoh ini wkwkwkwk….

    oke bagus ini ff meskipun ratenya adult tapi ini bukan yang seronok yes ini ringan dan saya suka saya suka hehehehe….

    XOXO 😘😘

    1. Memabg begitu tadinya, mau dibuat tentang ‘separation’ tapi di akhir proses malah belok jd cukup ‘pindah rumah’ wkwk kamu menangkap maksudnya dengam baik 😂
      Thankyou sudah baca 😘

  3. hahaha misleading judulnya. eh tapi gak juga ding. masyarakat kita saja yg terlalu berorientasi dgn pindah hati waktu denger moving on *apa
    jadi ini fluffy sekali dan–pertamanya–juga misleading, kyk seolah2 tuh mereka yg udah mau cerai aja, seperti komenter di atas bilang, tapi makin ke bawah, konfliknya aka angstnya kabur… dan eaaaa fluff. ya sudah
    dan hahai adegan ‘ehem’nya lumayan. agak merinding juga jadinya. ff nc jarang yg rapi sih ya.
    overall aku suka tapi saran aja, gesture itu bisa dicari padanannya di bahasa indonesia gak? habis nanggung sih yg lain udh bahasa indonesia tiba2 kesisipan ini, coba diganti jadi ‘sikapnya’ or something.
    saran aja sih ini
    dan aku menangkap typo, ati2 ya ^^
    keep writing!

    1. Wkwk pertama nulis ini lsg judul duluan: ‘separated’. Bla bla nulis kok kayaknya pingin bikin happy-end haha jadilah di tengah di buat ‘moving on’. Konsep ‘pindah’ sendiri kan macam2 haha. Tapi ini nc nya level cupu sih haha apa berlebihan ya?
      Soal diksi, ya aku memang ga ada kosakata lain yg enak dilafalkan selain gesture wkwk baiklah nantu kucari.
      Semua saranmu kuterimaaa terima kasih banyak 😘😘

  4. Ini masih ada nextnya kan. Soalnya kalau nggak dilanjutin agak ngegantung 😀
    chanyeol mah nggak liat situasi dulu kalau mau romantisan sama istrinya 😯 pak yang diluar rumah baru chanyeol barangnya taruh depan dulu ya soalnya yang punya rumah lagi sibuk di dalem dan nggak bisa diganggu 😂😂😂

  5. haii aku pembaca baru
    seru juga cerita, penggunaan kata2nya itu loh pas aku suka
    si chanyeol masih sempet2nya aja mau pindahan dan udh ada orang yg mau ngangkitin barang2nya padahak loh ckckc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s