The Gray Autumn (Chapter 10)

The Gray Autumn (Chapter 10 -END-)

 

The Gray Autumn – Part.10 (END)

 

By : Ririn Setyo

 

Song Jiyeon || Oh Sehun

 

Genre : Romance ( PG – 16)

 

Length : Chaptered

 

FF ini juga publish di blog pribadi saya

http://www.ririnsetyo.wordpress.com

 

“Aku ingin berhenti, sebelum semua dendam ini semakin membuatku tersesat.”

Jongin terdasar dari semua lamunannya, nafasnya tersengal, rasa sakit kian menusuk jantungnya, menyayat tiap sudutnya hingga Jongin merasa mati rasa, merasa jika semua ini tidak akan pernah selesai jika belum semua nyawa melayang. Nyawa dari orang-orang yang telah menghancurkan Kim Jongin, bocah laki-laki yang ramah dan bersahaja, menghilang seiiring dengan dendam yang semakin membumbung tinggi tanpa pernah ada celah untuk kembali. Jongin meraih ponselnya yang bergetar dari dalam kantong jas, sebuah nama dari seseorang yang sejak awal ikut dalam permainan takdir yang diciptakannya, seseorang yang dia temukan susah payah di benua Amerika. Seseorang yang hingga saat ini Jongin percayai, mempunyai tujuan yang sama dengan dirinya.

“Hello, Kim Jongin.”

“Kris?”

Ah, langsung saja. Ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Tentang?”

Jongin bersandar, sejujurnya dia agak malas mendengarkan Kris.

“Sebuah fakta yang aku lupa katakan padamu.”

“Maksudmu?”

“Sejujurnya… aku tidak pernah membenci ayahku, sebanyak yang kau pikirkan, Jongin.”

“Apa?”

“Yah, awalnya aku memang membencinya, aku ingin menghancurkannya, seperti yang kau sarankan padaku, tapi tetap saja, tidak pernah terlintas di benakku untuk membunuhnya. Kau menyekap ayahku, kau menyiksanya…,”

“Ayolah, Kris, jangan berpikir untuk menjadi anak baik seperti kakakmu. Oh Junseok bajingan, dia pantas mati.”

“Tapi sayangnya aku sudah berjanji pada ibuku, untuk tidak membenci ayahku dan memaafkannya, sama seperti Sehun yang sudah berjanji pada ibunya. Ah, aku benci ketika aku terlihat seperti Sehun.”

Kris tertawa sumbang di ujung sana, Jongin geram bukan kepalang.

“Kris dengarkan aku…,”

“Aku sangat menyayanginya dan kesalahanmu adalah kau terlalu percaya padaku. Kim Jongin, kau lupa jika di dunia ini tidak ada pertemanan?”

Kris tertawa lagi di ujung sana, sedangkan Jongin terkejut, dia terbelalak. Seketika alarm bahaya berdengung di otaknya, dia tahu apa yang sebentar lagi terjadi.

Welcome to hell, Kim Jongin.”

“SIAL!!! HENTIKAN MOBILNYA!!!”

Jongin berteriak, sang supir segera menginjak rem dalam-dalam, tapi terlambat, bom yang Kris pasang di bawah mobilnya justru aktif saat mesin mobil berhenti.

~000~

Kris menutup sambungan telepon, dia bersiul, berjalan santai memasuki rumah besar Oh Sehun. Puluhan pelayan berjejer, membungkuk hormat, Kris geming, dia terus melangkah. Kris menarik kedua sudut bibirnya, menatap Xiumin yang perlahan turun dari anak tangga lantai dua, pria itu tersenyum seraya membungkuk hormat pada Kris.

“Selamat datang, Tuan Muda Duizhang, senang bisa bertemu anda lagi.”

Kris tersenyum samar pada Xiumin, pria yang menjadi orang kepercayaan Oh Sehun. Lee Xiumin adalah seorang penembak jitu, salah satu agen rahasia yang dia pekerjakan untuk melindungi Sehun.

“Apa tembakanmu kali ini tidak meleset, Xiumin?”

“Tentu Tuan Muda, seperti yang anda inginkan. Aku berhasil menghalaunya, peluru itu hanya sedikit melukai bahu.”

Kris menyeringai, dia terlihat sangat puas.

“Lalu dimana dia?”

“Disini.”

Kris berbalik, seorang pria keluar dari salah satu ruangan. Wajahnya lebam, darah bahkan masih mengotori kemeja yang dia kenakan. Dia berjalan tertatih mendekati Kris, lalu seringai kemenangan sama-sama terlukis di wajah dingin mereka berdua.

Welcome back, My brother.”

Pria itu tidak menjawab, dia hanya menarik salah satu sudut bibirnya.

“Apa kau sudah membereskan tikus kecil itu, Kris.”

Kris mengangguk. “Tentu Sehun, kau tenang saja. Ah, seharusnya sejak awal kita membunuhnya. Aku heran kenapa kau rela babak belur seperti ini, Hun? Padahal kita bisa melenyapkannya hanya dalam sekali tebas.”

Sehun melingkarkan tangannya di pundak Kris, luka-luka di tubuhnya membuat Sehun sulit berdiri tegak. Kris memapahnya hingga duduk di sofa panjang ruang depan, dia memerintahkan Xiumin untuk menghubungi dokter.

“Bukankah rasa bahagianya lebih terasa saat kita menang, justru ketika musuh kita merasa dialah pemenangnya?”

Kris tertawa, dia sangat bangga dengan semua kelicikan Oh Sehun, pria itu benar-benar kakaknya.

“Jiyeon pasti akan terpuruk sekarang, lalu Jongki akan merasa sangat bersalah, lalu… boom… dia tamat, Kris, seperti yang kau inginkan.”

“Wanita yang malang.” Kris tersenyum dingin.

“Dan juga bodoh.” Sambung Sehun.

Mereka sama-sama tertawa. Sehun dan Kris sepakat bekerja sama, setelah tahu Jongin menyekap ayah mereka. Sehun meminta Kris mengambil alih semua saham yang sudah dirampas Jongin dan mencari tahu dimana Jongin menyekap ayah mereka. Dengan bantuan Xiumin mereka merombak rencana kejam mereka pada Jongin dan Jongki, Sehun memanfaatkan rasa benci Kris pada Jongki, karena Jongki ayahnya membuang Kris ke panti asuhan. Sehun berjanji akan membantu Kris membalaskan dendamnya pada Jongki jika dia bersedia menghianati Kim Jongin. Sekejam apapun mereka berdua, Oh Junseok tetaplah menjadi orang yang paling mereka berdua sayangi di dunia ini.

Bukankah daun yang jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya?

~000~

Jiyeon duduk mematung di atas ranjang pasiennya, tetesan cairan infuse terlihat masih mengaliri urat nadi demi menopang asupan ion yang nyaris tak ada di tubuhnya. Jiyeon tidak makan apapun sejak dua hari lalu, dia pingsan lalu dilarikan ke rumah sakit. Mata bening Jiyeon bengkak, perih, tiap kali dia mencoba untuk sekedar mengerjap. Dia sangat pucat, pandangannya kosong, dia terus menggumamkan nama Sehun sejak dua hari lalu, gumamam terasa begitu pilu untuk di dengar.

“Oh Sehun.”

Tangan pucat Jiyeon yang membeku bergerak pelan menyentuh cincin cantik yang masih melingkar erat di jari manisnya, cincin pengikat pada sosok pria yang begitu di cintainya, pria yang menyerahkan hidupnya untuk melindunginya dari Jongin yang brengsek. Sehun mencintainya, jauh lebih besar dari yang pernah Jiyeon bayangkan sebelumnya. Jiyeon kembali terisak, menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki yang terlipat. Terbersit rasa sesal yang perlahan menyelinap di dalam hatinya, memaki diri sendiri yang selama ini tak pernah menyadari pesakitan yang berusaha Sehun sembunyikan darinya, tidak pernah menyadari tatapan cinta Sehun, atau pun kala pria itu menyelamatkan hidupnya berkali-kali.

“Maafkan aku, Sehun. Maafkan aku Sehun Oppa.”

~000~

Jongki memandang layar ponselnya, sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal baru saja masuk ke dalam inbox ponselnya.

 

Song Jongki, apa kau masih ingat dengan semua kekejaman masa lalumu?

 

Jongki menggelengkan kepalanya, tak ingin mengingat kisah kelamnya di masa lalu. Yang Jongki tahu Kim Jonghyun sudah mati tiga belas tahun lalu, bunuh diri di dalam rumah besarnya bersama wanita yang menawarkan cinta padanya dalam hubungan yang tak biasa. Sedangkan putranya ditemukan mengapung di kolam renang dan dibawa pergi oleh seorang kerabat mereka ke Jerman. Setelah itu Jongki tidak mengetahui berita apapun lagi tentang penerus Kim tersebut.

Sedangkan Oh Junseok, yang Jongki tahu sahabatnya itu pergi menutup diri saat sang istri meninggal karena ulah perselingkuhan yang tak bisa diterima oleh wanita yang dicintainya itu. Mengubah Junseok yang ramah menjadi dingin dan workaholic, sejak saat itu Jongki tidak pernah tahu lagi kabar dari sahabatnya itu, sahabat yang tahu segala hal busuk yang pernah Jongki lakukan di masa lalunya yang kelam.

Lalu Kim Jongin? Siapakah laki-laki itu sebenarnya?

Hanya kebetulankah jika pria itu, memiliki nama yang sama dengan putra Kim Jonghyun yang seharusnya menjadi suami Jiyeon saat ini? Anak laki-laki yang sudah Jongki lupakan sejak puluhan tahun lalu, bahkan sudah ikut terlupakan di memori Jiyeon yang kala itu sempat menangisi anak sabahatnya itu. Jongki mengenyampingkan pesan singkat itu, dia harus ke rumah sakit, dia mencemaskan Jiyeon.

~000~

Jongki memasuki ruang perawatan Jiyeon, matanya seketika berembun, dia menatap Jiyeon yang tidur dalam posisi tertelungkup. Jongki duduk di tepian ranjang, dia menyesal sudah membuat putrinya terpuruk, tapi dia juga tidak ingin Jiyeon tahu semua kekejamannya dimasa lalu dan memilih mengikuti apa yang Jongin inginkan. Jongki terlalu takut Jiyeon dan Jieun membencinya, dia benar-benar tidak tahu bagaimana meneruskan hidup jika dua wanita itu meninggalkannya. Jongki berpikir dia akan bisa membuat Jiyeon kembali bangkit, bukankah Sehun adalah sosok antagonis yang Jiyeon benci? tapi sayangnya, Jongki tidak pernah tahu jika Sehun sudah menceritakan semuanya pada Jiyeon.

Benang ingatan itu kembali menarik Jongki, dia kembali terngiang dengan semua hal yang dia bahas bersama Jongin sebelum dia menembak Sehun. Pada akhirnya dia harus membayar semua yang dia lakukan bersama Junseok di masa lalu.

“Aku ingin memberitahumu tentang sebuah rahasia menantumu, Tuan Song.”

“Kim Jongin, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maksudku apa di masa lalu kita pernah bertemu?”

“Tidak! Kenapa?”

“Hanya bertanya.”

“Aku dibesarkan di Jerman bersama keluargaku, sekitar lima tahun lalu aku baru kembali ke Korea.”

Jongki terdiam sesaat, mengacak memorinya guna menemukan penggalan kisah lama yang mulai usang termakan usia. Jerman? Bukankah itu juga menjadi negara, tempat Kim Jongin yang dikenalnya tinggal menetap.

“Orangtuamu?”

“Sudah meninggal sejak aku berusia sebelas tahun, kecelakan maut merenggut mereka tepat di depan mataku.” Jongin tersenyum menatap wajah kalut Jongki. “Ada apa Tuan Song, kenapa kau terlihat sangat tertarik pada kisah keluargaku?”

Jongki tergagap sesaat. “Tidak ada hanya—-“ Jongki bangkit dari posisi duduknya, menatap sekali lagi sosok Jongin yang terlihat juga sudah beranjak dari sofa yang di dudukinya. “Hanya saja— kau mengingatkanku pada sosok putra temanku.”

Jongin tersenyum samar, menegakkan tubuh tingginya seraya melafalkan rentetan kalimat yang membuat Jongki memaku, tak bergerak hingga Jongin kini berdiri tepat di depan wajahnya.

“Ya kau benar sekali Song Jongki, aku adalah Kim Jongin yang kau maksud, anak laki-laki dari teman dekatmu yang kau hianati.” Jongin tertawa sumbang mendapati Jongki yang diam, bergulat dalam rasa terkejut yang tak pernah Jongki sempat duga sebelumnya.

“Seharusnya Jiyeon menggunakan marga keluargaku sekarang, benar begitu ‘kan Song Jongki? Tapi kau membuatnya melupakanku, kau laki-laki biadap yang berkedok sebagai ayah yang sempurna bagi Jiyeon. Menjijikkan!”

Jongki menatap Jongin yang menatapnya tajam, nafas laki-laki itu naik turun menahan luapan emosi yang sudah tertahan terlalu lama. Dia menatap pria yang sudah tumbuh menjadi sosok pria kejam yang bahkan tak dikenalinya sedikit pun, Jongki terlihat menertawakan dirinya sendiri karena tak menyadari semua itu dari awal.

“Apa yang kau inginkan dariku, Kim Jongin?”

“Kematian! Sama seperti kau yang merampas paksa nyawa ayahku, karena penghianatan murahan yang kau lakukan bersama sabahatmu dan ibuku.”

Jongki terkekeh dengan tepukan samar dari kedua tangannya yang terlihat sedikit gemetar, menggeleng pelan dalam anggukan kepala yang membuat emosi Jongin kian tersulut tak tertahan.

Ah! Kau ingin membalasku rupanya. Kau pikir salahku jika ibumu lebih memilihku, dari pada ayahmu? Kau pikir salahku jika akhirnya perusahaan ayahmu tumbang di tangan Oh Junseok?” Jongki menatap dingin sosok Jongin yang sudah mengepalkan tangannya kuat, matanya berkilat kemerahan menahan amarah yang kian memburu detak jantung.

“Lakukan apa yang bisa kau lakukan untuk membalasku, Jongin.”

“Dengan senang hati!” sosok kejam Jongin tersenyum tenang. “Aku akan mengatakan semua kebusukanmu pada istri tercintamu dan tentu saja pada putri tersayangmu, Song Jiyeon. Bagaimana? Apa itu terdengar menarik?”

“Kau—-“

Jongki merasa jika jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, merasa rahangnya mengatup rapat hingga mencuatkan tulang pipinya yang tegas. Jongin tahu pasti Jongki sangat takut jika semua kekejiannya di masa lalu, terbongkar dan diketahui oleh istri dan putrinya. Masa lalu yang sudah Jongki kunci rapat-rapat, tanpa kesempatan untuk dibuka dan kembali ke permukaan. Tidak, Jongki tidak akan membiarkan itu terjadi, ditinggalkan oleh istri terlebih oleh Jiyeon adalah ketakutan terbesar Jongki, melebihi rasa takutnya pada malaikat maut yang akan mencabut nyawanya suatu hari nanti.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Jongin tersenyum dalam kemenangannya, merasa puas karena rencananya untuk menghancurkan Jongki secara perlahan baru saja di mulai, tanpa pernah Jongki sadari sedikit pun.

“Bunuh Oh Sehun di depan putrimu.”

Sementara itu Kris berjalan tenang menyusuri koridor rumah sakit, hari ini dia ingin mengunjungi Jiyeon. Kris juga ingin melihat Jongki, dia sudah tidak sabar untuk melanjutkan rencananya, rencana yang bahkan tidak diketahui Sehun. Kris berdiri di depan pintu kaca ruang perawatan Jiyeon, dia menyeringai melihat Jongki yang duduk mematung di depan Jiyeon. Wanita itu terlihat seperti mayat hidup, duduk diam dan hanya menangis, Kris yakin jika sebentar lagi, Jiyeon akan gila. Kris membalikkan badan ketika Jongki keluar dari ruangan Jiyeon, lalu dengan tenang dia masuk ke ruangan itu ketika Jongki sudah menjauh.

Jiyeon yang duduk bersandar di atas ranjang tampak menegakkan tubuhnya seketika, menatap seorang laki-laki yang baru saja menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Laki-laki itu sangat tinggi, mungkin lebih dari 188 centimeter. Wajahnya tampan namun sangat kaku, kulitnya putih pucat, senyumnya dingin nyaris mengerikan, berjalan tenang hingga berdiri di sisi ranjang. Jiyeon mengerjab merasa belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya, namun belum sempat Jiyeon meneruskan prasangkanya, laki-laki itu sudah duduk di tepian ranjang, menyeringai dingin yang terlihat kejam.

“Sudah merasa lebih baik, Kakak Ipar?”

“Siapa kau?”

Kening Jiyeon mengeryit saat laki-laki itu justru tertawa terbahak.

“Aku adik suamimu, Oh Sehun. Ah, dia bukan lagi suamimu bukan? Aku dengar, dia sudah mati, benar begitu?”

Cih! Kau pikir kau bisa membohongiku? Sehun tidak punya adik,”

“Sayangnya dia punya, aku. Kris Duizhang.”

“Apa?”

“Aku tidak akan meyakinkanmu tentang hal ini, Sehun memintaku untuk menjagamu selama dia tidak ada,”

“Sehun?”

Kris menegakkan punggungnya, memajukan wajahnya dan memaksa Jiyeon untuk menatap lekat ke arahnya. Laki-laki itu menajamkan pandangannya, hingga Jiyeon mau tidak mau mengikuti keinginan Kris. Entahlah Jiyeon hanya merasa dia perlu mendengarkan Kris, dia ingin mengetahui apa yang Kris tahu tentang Sehun.

“Sehun masih hidup, jadi berhentilah bersikap seperti orang gila, Jiyeon.”

“Ap—-apa? Apa aku harus mempercayaimu?”

“Terserah, aku tidak peduli. Aku tidak akan mengulang kata-kataku, terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti berhentilah menangis dan jadilah wanita yang kuat, kakakku membutuhkan wanita yang kuat dan tidak lemah sepertimu.”

“Aku bukan wanita yang lemah.”

“Kalau begitu lawan aku.”

Kris memukul kepala Jiyeon dengan kuat. “Yak!” Jiyeon berteriak.

Kris kembali memukul kepala Jiyeon. “Hentika….” ucap Jiyeon terpotong.

Lagi Kris memukul kepala Jiyeon. “Aku bilang….”

Tepat saat Kris ingin kembali memukul kepala Jiyeon, wanita itu mengepalkan tangannya dan menghantam wajah Kris hingga laki-laki itu mengaduh disela-sela tawa sumbangnya.

Auuww, lumayan.” Kris mengusap wajahnya yang sedikit nyeri, menatap Jiyeon yang memandang muak ke arahnya, nafas wanita itu memburu, tangannya masih mengepal kuat.

“Dengar, aku memberimu pilihan. Ayahmu atau Sehun.”

“Ap…apa?”

“Di dunia ini penuh dengan pilihan, jika kau menginginkan Sehun kau harus pergi dari ayah dan ibumu, tapi jika kau menginginkan orangtuamu, maka kau tidak akan pernah melihat Sehun lagi, sampai kapanpun.”

Kris membalikkan tubuhnya, berjalan keluar dari ruangan Jiyeon, meninggalkan Jiyeon yang terjerambah dalam gamang tak berperi di belakang sana.

~000~

Hi Sweet Heart.”

Kris melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang gadis yang sedang asik di depan meja kompor, gadis itu terkesiap dan membalikkan tubuhnya. Gadis bersurai jingga menyala itu tampak tidak berhasil untuk berucap meski hanya satu kata, ketika Kris tiba-tiba mengecup lembut bibirnya.

“Kris, bisakah kau tidak membuatku terkejut?”

Kris menggeleng. “Sayangnya tidak bisa, Minra.”

Minra memutar bola mata, dia kembali terkejut ketika Kris mengangkat tubuhnya untuk duduk di meja makan depan meja kompor. Minra termangu, dia sudah lupa dengan ramen yang tengah mendidih di dalam panci. Kris meletakkan kedua tangan di antara tubuh ramping Minra, dia sedikit membungkuk hingga tubuh mereka sejajar.

“Ada apa?”

Minra bertanya, dia merasa ada yang tengah disembunyikan Kris darinya. Meski hubungan mereka baru satu tahun (sejak Sehun mengenalkan Minra pada Kris) tapi Minra lumayan hafal dengan apa yang tersirat dari air muka yang ditunjukkan Kris.

“Apa aku pria yang sangat kejam?”

“Apa?”

“Menurutmu… aku pria yang seperti apa?”

Kris memandangi Minra, dia ingin sekali gadis yang dia cintai itu membelanya. Dia mulai takut jika selama ini dia sudah kelewat batas, dia tidak ingin lagi menghabisi nyawa orang-orang yang telah menyakitinya, ibunya dan keluarganya. Kris ingin berhenti, dia ingin memulai kehidupan baru bersama Minra, Sehun, dan ayahnya di sebuah negara jauh dari Seoul.

“Kau bukan laki-laki yang baik, kau hanyalah seorang laki-laki yang sangat mencintai keluarganya.”

“Dan juga mencintaimu.”

Minra tersenyum, dia mengusap wajah Kris lalu mencium kening pria itu.

“Aku lelah, Minra. Bisakah aku berhenti?”

“Tentu saja.”

Minra menarik bahu Kris lalu memeluknya erat, dia mengusap bahu dan punggung pria itu, berusaha menyalurkan dukungan untuk pria kejam yang Minra tahu sejujurnya adalah pria rapuh. Minra tahu Kris membenji Junseok sebanyak Kris menyayangi ayahnya itu, dia tahu Kris menyesal karena telah menghancurkan perusahaan ayahnya demi membalas dendam. Minra sering melihat Kris menangis ketika dulu dia belum bisa menemukan ayahnya yang disekap Jongin, Minra tahu jika Kris sangat menyayangi keluarganya, termasuk Oh Sehun.

“Aku baru saja bertemu Jongki di rumah sakit, dia terlihat terpuruk, dia terlihat sangat menyesal karena telah menyakiti putrinya. Aku juga merasa… Sehun terluka.”

Hemm… aku juga merasa begitu, Sehun… tidak baik-baik saja, benar ‘kan?”

“Aku ingin semuanya kembali baik-baik saja, bisakah?”

Minra mengeratkan pelukannya, dia mengusap bahu Kris yang mulai gemetar.

“Aku ingin ayah memaafkanku, aku akan mengembalikan semua saham yang sudah aku rampas dari perusahaannya. Aku ingin Sehun kembali tersenyum, aku tahu jika dia terluka sebanyak luka yang aku tanggung.”

Kris merasa matanya kian basah, pelukan Minra semakin erat, Kris merasa sedikit lega, gadis itu masih bersedia berdiri di sisinya. Kris menarik napas panjang, dia mengurungkan niat hati untuk menghancurkan Jongki, dia bisa memastikan jika keadaan Jiyeon akan segera pulih setelah semua fakta terkuak.

“Aku ingin berhenti, sebelum semua dendam ini semakin membuatku tersesat.”

Yah, tentu. Semuanya sudah berakhir, hemm? Besok, kita pergi dari Seoul. Kau setuju?”

Kris mengangguk, dia mengeratkan pelukannya di tubuh Minra. Kris memutuskan untuk melepaskan semua dendam yang hampir saja membunuhnya.

~000~

EPILOG

1 Year Later

Wangi hembusan angin musim semi menyambut wajah pucat Sehun, pria itu masih geming dalam gulungan mega yang berarak tenang di atas hamparan biru yang menaunginya. Sejak satu jam lalu, Sehun hanya duduk bersandar, di atas yarch mewah keluarganya, saat ini dia dan keluarganya berada  di laut Mediterania, mereka hendak berlayar ke Prancis. Kris muncul dari tangga lantai bawah, dia memandang Sehun dengan seringai dingin di ujung bibir. Keadaan telah berubah, Oh Junseok sudah kembali, pria paruh baya itu kembali memimpin perusahaannya di Georgia. Junseok memutuskan untuk membawa Kris dan Sehun bersamanya, mereka bersama-sama membangun kembali perusahaan. Kris sangat bahagia, impiannya selama ini akhirnya terkabul, Sehun bahkan menyambut keputusan ayahnya dengan sangat baik.

Kris duduk di samping Sehun, dia mengikuti arah pandang Sehun saat ini.

“Bulan depan, aku dan Minra akan menikah.”

Sehun diam saja, Kris tertawa pelan.

“Minra ingin sekali kau juga menikah, Sehun.”

“Aku sudah menikah.”

Ah, iya aku lupa. Tapi… dimana kakak iparku ya?”

Kris terkekeh lagi, Sehun meliriknya dingin.

“Sudah satu tahun, apa kau tidak ingin mengunjunginya?”

“Dia sudah memutuskan untuk memilih orangtuanya ketimbang diriku, jadi… aku sudah tidak punya hak untuk mengacaukan kehidupanya.

“Benarkah? Tapi sepertinya, kau belum bisa melupakan wanita bodoh itu, benar ‘kan?”

“Diamlah, Kris.”

“Aku benar ‘kan?”

“Brengsek! Bisakah kau diam, Kris? Ya Tuhan… aku tidak bisa membayangkan bagaimana Minra akan menghabiskan sisa hidupnya kelak, kau seperti perempuan.”

Kris terbahak-bahak, dia benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa. Minra datang bersama nampan dengan gelas berisi wine, dia menyerahkan masing-masing untuk Kris dan Sehun.

“Ayah ada di Paris, dia bilang kita harus mengunjunginya terlebih dahulu, baru kita boleh jalan-jalan.”

Minra bersandar di bahu Kris, dia melirik Sehun yang tampak tidak bersemangat.

“Aku dengar, Jiyeon kini memimpin perusahaan ibunya. Dia melanjutkan hidup dengan sangat baik, tidak sepertimu, Sehun.”

Sehun mendengus kesal. “Kalian berdua menyebalkan.”

Sehun meletakkan gelas di lantai yarch, bermaksud untuk ke bawah, menjauh dari Kris dan Minra yang menertawakannya. Namun langkah Sehun tertahan, di kejahuan terlihat helicopter yang mengarah ke yarch mereka. Sehun melirik Kris, lalu kembali melihat helicopter.

“Apa kita kedatangan tamu?”

“Bukan tamu.” Jawab Kris, dia berdiri, Minra juga ikut berdiri.

“Tapi sebuah hadiah.” Timpal Minra, wanita cantik itu sudah tersenyum lebar, helicopter semakin mendekat.

“Hadiah?”

Yap, hadiah pernihakan dari kami berdua untukmu, Sehun.”

Hey, jangan meledekku, aku sudah membeli satu pulau di Bahamas untuk kalian sebagai hadiah.”

Kris tertawa tanpa bisa ditahan, dia merangkul bahu Minra, mengajak gadis itu untuk menjauh. Kris menepuk pundak Sehun ketika dia melewati pria itu, suara gemuruh dari baling-baling helicopter mulai memekakkan telinga.

“Aku harap setelah ini kau bisa kembali tersenyum, Oh Sehun.”

Kris tersenyum lebar, lalu meninggalkan Sehun begitu saja. Helicopter berhasil mendarat, pintunya perlahan terbuka, Sehun terlihat malas menunggu siapa yang akan turun dari dalam helicopter. Sehun mengumpat, dia menduga jika Kris dan Minra menyewa pelacur untuk menemaninya. Namun Sehun terperanjat, dugaannya salah, dia beku, kakinya lemas, mulutnya terbuka, Sehun bahkan tidak sempat untuk berkedip ataupun menarik napas.

Seorang wanita cantik dalam balutan dress putih bahan ringan baru saja turun, menatap Sehun bersama senyum manis yang terlihat masih sama dengan apa yang terekam di otak Sehun. Perlahan wanita itu mendekat, menyisakan jarak dua langkah dari Sehun yang masih memaku.

“Kau?”

“Sehun Oppa, aku merindukanmu.”

Sehun masih diam ketika wanita itu menarik bahunya, memeluknya sangat erat. Angin musim semi menyapa mereka, menerbangkan helaian panjang surai hitam yang terasa masih sama lembutnya di jari-jari Sehun yang mulai bergerak, balas memeluk sosok wanita yang begitu dirindukan Sehun.

Sehun tahu jika dia adalah sosok licik nan kejam, dia tahu jika selama ini dia sudah terlalu sering mempermainkan kehidupan orang lain demi kepentingan orang-orang yang dia sayangi. Namun Sehun tahu jika dari semua kekejaman itu ada satu hal paling jujur yang tidak bisa dia abaikan, sebuah rasa tulus yang memenangkan seluruh hati dan hidupnya. Sehun mungkin saja sudah berbohong terlalu banyak, tapi untuk perasaannya pada wanita yang masih memeluknya itu, Sehun tidak bisa berbohong.

“Kau tidak merindukanku, Sehun?”

Lamunan Sehun berantakan, tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, rangkulan lengannya pun kian erat. Dalam senyum yang terluas kian lebar, Sehun menjawab pertanyaan wanita itu, jawaban paling jujur yang Sehun punya, jawaban yang datang dari dalam hatinya.

“Aku sangat merindukanmu, Oh Jiyeon.

~THE END~

 

Iklan

8 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 10)

  1. Akhirnya Sehun dan Jiyeon bisa bersama dan Jiyeon bangkit dari keterpurukan. Lebih baik kan daripada membalas dendam . Hidup tak tenang dihantui dengan penyesalan yang sangat besar. Next story Jiyeon and Sehun kutunggu ya . Fighting ne

  2. Akhirnya jongin die karena bom yg dipasang kris… Q baru sadar ada jiwa tertukar antara real m fanfiction yang paling tua jadi adik trus maknae jadi kakak 😊😀… Dan berakhir juga happy ending jiyeon m sehun bersama lagi… 😊 ditunggu klo ada sequelnya

  3. jongin mati? kena bom lg…daebak…
    ini bner2 penghianatan berlapis2…kasihan jongin jg c kl kyk gni…
    tp ywd lah yg pnting sehun ma jiyeon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s